. Kamu Cantik Hari Ini Part 16 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 16

0
257
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 16

“Beruntung ya Rosi. Sudah ada abang, malah diterima lagi di keluarga abang.” Kata Via disaat kami makan. Aku yang menceritakan semua yang aku alami selama 3 hari dikampungku.
“Bang ngerasa ini andil Bella yang banyak.”
“Via sih nganggap gitu juga. Tapi Via penasaran sih, apa iya Rosi berubah.”
“Gak tau juga sih Vi. Tapi semoga aja ya.”
“Amiiiinnnn…”
“Bang, cariin Via cowok kek abang dong.”
“Hahahaha.. emang gak bisa nyari sendiri?”
“Susaaahhhh.. yang kek abang itu langka?”
“Emang kok abang jadi patokan?”
“Hahahaha… kalau gak ada Bella mah, Via mau mau aja rebutan sama Rosi.”
“Hahahahaa… segitunyaaa…”
“Itu si Andre kosong. Dan suka tu sama kamu.”
“Males… Bang Andre mah gak serius. Karna itu Via nyari yang kek abang.”
“Haaa? Emang serius dari mana coba ?”
“Itu hatinya masih kecantol sama kak Afni, walau sudah ada Rosi.”
“Hahahaha.. sok tau kamu.”

Kami tertawa sambil menyantap makanan kami. Aku yang tumben-tumbenan memesan nasi padang yang kebetulan bersebelahan dengan kedai bakso yang dimakan Via, entah emang masih kerasa suasana kampung, atau setelah mendapatkan bm dari Rosi tadi.

“Udah pulang, malah makannya nasi padang.”
“Hahahah.. kepengen aja”
“Emang disana gak ada ya? Padahal disana lebih enak disbanding sini lho, kan dari asalnya langsung.”
“Iya Vi, tapi gimana lagi, udah pesan Rosi sih tadi?”
“Haaahh?? Uhhhhuuuukkk uhhhhuuuuukkkk uhhhhuuuukkkk”
“Kamu itu kebiasaan, makan jangan cepat-cepat, minum noh.”
“Siapa yang cepat-cepat. Via terkejut tau.”
“Hahahaha…. Iyaaa.. bang juga terkejut kok tadi dapat bm.”
“Mana sini liat, mana?”
“Nih….”
“Kok belum dibalas?”
“Gak tau mau dibalas”
“Nih, udah Via balesin. Hahahaha”

“Iya Bund, ini lagi makan nasi padang. Bunda juga jangan lupa makan, habis ngantor ayah langsung ke sana ya bund. Love You.”

“Hahahaha… ada ada aja kamu Vi.”
“Via mau ngeliat reaksinya Rosi bang. Kan Via tau siapa Rosi juga. Cuek minta ampun tobat gimana ya.”
“Hahahaha..”

Via satu fakultas sama kami. Walau bukan satu jurusan. Tapi ia mengenal Via, karena Rosi junior yang ia pegang dikala Via menjadi panitia MOS. Dengan kecuekan Rosi, semua panitia tau dengan Rosi. Aku dan via beda setahun. Karena Via anak yang pintar, ia dahulu menamatkan studinya dibanding aku dan Andre. Dan disaat ia tamat, langsung diterima di sini. Wanita Idaman pokoknya.

“Yuk bang, ntar telat.”
“Iya, lagian cowok kamu udah nanyain.”
“Siapa?”
“Andre”
“Hahahaha.. salam balik ya ke mas Andrenya”
“Alangkah bahagianya Andre dengar dipanggil mas.”
“Hehehehe”

****

“Ayah, besok ayah kerja?” Tanya Bella disaat aku mengelus elus kepalanya.
“Iya nak. Kenapa?”
“Bella besok mau makan siang sama ayah dan bunda. Tadi udah sama bunda. Besok sama ayah dan bunda lagi ya”
“Insyaallah ya nak. Kalau kerjaan ayah udah kelar cepat, ayah ke sekolah dan jemput bunda ya.”
“Serius ayah?”
“Iya.. emang tadi makan siang bareng bunda?”
“Iya ayah, Bunda tadi masak di rumah, lalu bawa makanan ke sekolah”
“Haaah? Masaakk??”
“Iya ayah, enak kok. Dan Bunda tadi bilang, kalau bunda ingin makan siang bertiga sama ayah.”
“Hmmmm… emang Bunda Masak apaan nak?”
“Tadi sih ayam goreng krispi gitu yah. Enaakkk”
“Berarti senang dong dimasakin Bunda..”
“Senang kali yah.. sampai sampai makannya banyak tadi tuh yah” kata Rosi tiba tiba masuk ke kamar Bella.
“Ehhh… sejak tadi?”
“Iyaaa.. dengar semua kok.”
“Nguping gak baik lo”
“Ngegunjing juga gak baik lho.”
“kan ngegunjing orang yang abang dan Bella sayang. Ya kan nak?”
“Cieeee… hahaha”
“Udah bisa cieee cieee ini anak Ayah, siapa yang ngajarin nak? Sini ayah hukum.” Kataku sambil menggelitik Bella….
“Hahahahaha.. udah yaaahh udaaahhh.. ampuuunnnn.”
“Udah yah, ntar Bellanya ngompol lagi.” Kata Rosi menyuruhku berhenti
“hahaha.. udah sana ke WC dulu, buang air dulu, baru bobok.” Kataku menyuruh Bella untuk membuang air sebelum tidur.
“Iya ayah.. gak usah temani ya Bund, Bella udah gede” katanya melarang Rosi yang berniat menemaninya ke WC yang berada di luar kamar tersebut.

“Makasih yah Bund. Udah buat Bella senang hari ini.” Kataku sambil merangkul dan mencium Rosi.
“Ehhh.. Ehh.. Iya yah.” Katanya dikarenakan pangkulanku cepat dan erat ditambah dengan panggilan “Bund” itu perdana aku ucapkan padanya.
“Hahaha.. kok jantungmu berdebar debar?”
“Beda bang,….”
“Kok abang lagi?”
“eh.. Beda yah.. ini rasanya lembut dan manissss… makasih ya yah udah sabar.”
“Iya sayang. Ayah sayang sama Bunda dan Bella kok.”

“Ciiieee.. ayah bunda pelukan.”
“Sini nak.” Kata Rosi
Bella langsung berlari mendekati kami dan akupun memberi ruang untuk Bella di tengah tengah pelukanku yang erat ke Rosi.
“Masih lama yah? Bund?”
“Udaaahhh.. ini ayah lepas… Bella tidur lagi ya nak. Baca doa.”
“Iya ayaaahhh.. bundaaaa… night yah, bund.”

Akupun dan Rosi bergantian mencium kening Bella. Setelah itu, aku meninggalkan kamar Bella disaat Bella ditidurkan sama Rosi. Ya, Rosi sangat menyayangi adeknya itu, karena sesuai pesan almarhumah ibunya, untuk merawat Bella dengan tangannya sendiri, bukan diasuh oleh tante- tante Rosi.

Aku menuju ruang tengah untuk menghisap rokokku. Aku tak mau merokok di depan Bella, jadi selama ia masih bangun, aku tak merokok dan menyimpan rokokku. Aku memandang foto besar di atas TV yang berisikan, aku, Bella dan Rosi.

“Kapan kesini neng?” Tanya satpam yang menjaga rumah di tengah tengah kebun ini.
“Barusan pak. Papa mana?”
“Ada di dalam. Gak ke dalam dulu neng?”
“Gak ah. Males.”
“Ini si kasep cowoknya ya neng”
“Iyaaa… Rosi pergi dulu ya pak. Ntar nginap disini kok.”

“Cowok? Maksudnya?”
“Iyain aja lah bang. Ntar banyak Tanya tu bapak-bapak”
“Hmmm.. kita kemana?”
“Kalau gak mau ikut, sana ke rumah, biarin aku sendiri.”
“Ehhh.. iya deh.. aku ikuttt”
“Kalau ditanya papa, jawab aja abang tu cowok aku ya.”
“Kok?”
“Udaaahhh… ikuti aja. Katanya mau maaf dari aku.”
“Oke lah”

“Ngerokok lagi” kata Rosi mengagetkanku. Ada dua hal yang buat aku kaget, pertama aku kembali kea lam nyata, bukan masa lalu. Kedua, aku kaget dengan dilarangnya aku kali ini ngerokok. Gak seperti biasanya ia melarangku merokok seperti itu. Dejavu. Aku pernah mendapatkan larangan yang tulus seperti ini. Iya, Afni yang sering melarangku.
“Bisa gak ngerokok?” Tanyanya yang sedikit melihatkan kemarahannya.
“Iyaaa.. ini ayah matikan.”
“Jangan manggil ayah, kalau rokok yang mematikan untuk kami aja masih menyelimuti kami.”

Bersambung

Daftar Part

div style=”height: 500px; overflow: auto;”>

Cerita Terpopuler