. Kamu Cantik Hari Ini Part 13 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 13

0
257
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 13

“Ayaaaaahhhhh…. Sehari tadi Bella senang. Bisa jalan-jalan lihat binatang, naik gajah, ngasih makan rusa. Bella mau kita sering-sering ke sini ya yah.” Kata Bella disaat ia hendak tidur. Seperti biasa, Bella tak bisa tidur kalau tidak dielus-elus kepalanya. Jika aku bisa, akulah yang mengelus manjanya. Kalau aku sibuk, ataupun gak bisa ke rumah Rosi, Rosilah yang menggantikanku. Sekarang, bukan di rumah Rosi, tetapi rumah orang tua ku. Ku lihat amak dan abak mengerti. Kami semua sedang istirahat di ruangan tengah yang biasanya kami tempatkan untuk berkumpul. Hanya Rosi yang berada di kamar Uni Ana dahulu dan selama disini ia tempati, mempersiapkan pakaian untuk kepulangan esok.
“Insyaallah ya sayang. Ntar kalau ayah bisa libur lagi, kita kesini liat oma sama opa ya nak.”
“akhirnya Bella punya kakek nenek ya yah.”
“Hmmmm….. Bella sayang oma sama opa?”
“Sayang yah, kan oma sama opa sayang ke Bella.”
“Kalau gitu, Bella jadi anak yang pintar ya nak. Doain selalu oma sama opa sehat selalu yaaa.”
“Iya ayaahhh..”
“Sekarang Bella tidur ya, bsok kan kita pagi ke Bandaranya.”
“Iya ayah. Bella ke kamar dulu ya.”. sembari berdiri menghentikan aktivitas rutin yang didapatnya.
“Iya nak, baca doa ya.”
“Iya ayah… omaaaa… opaaaa… Bella tidur dulu ya. Malam omaaa… opaaaa”

Bella meminta izin ke amak dan abak. Abak dan amak pun bergantian mencium kepala Bella. Sekarang tinggal aku, dan orang tuaku di ruang tengah. Aku sempatkan mengurut kaki abak. Dan amak pun menyiapkan kopi untuk kami berdua. Amak tahu, kalau sudah mengurut abak, abak biasanya mengajak aku main gitar di teras. Walau sebelumnya amak mengingatkan kalau aku besok akan berangkat, jadi jangan terlalu malam. Aku memainkan lagu-lagu kesukaan abak, yaitu lagu lawas dan lagu minang.

Setelah beberapa lagu yang aku mainkan sambil menikmati kopi buatan amak. Aku berhenti dan menceritakan semuanya apa yang terjadi sama aku dan Rosi. Ayah menjadi pendengar yang baik saat itu. Ia tahu kalau aku kenal Rosi disaat Rosi ditinggal Ibunya selamanya, dan ayahnya yang meninggalkan ia dengan adek-adeknya di kota.
“Ingek pasan abak samalam. Abak bisa manarimo Rosi kalau ang alah bisa bana manarimonyo. Jan masih ado Afni disiko.” (Ingat pesan abak semalam, abak bisa menerimanya kalau kamu sudah 100 persen menerimanya. Tidak seperti sekarang yang masih ada Afni dihatimu.) kata ayah sembari menunjuk dadaku dengan telunjuknya.
“Iyo abak. Makasih bak.”
“Saran abak, kalau bisa apo yang urang tw ang masih samo Afni, ang jaleh an, jadi ndak manyakik an hati Rosi. Beko inyo terlalu cinta, malah lain nan di dapek e.” (Saran abak, sebaiknya apa yang masih beredar tentang hubungan kamu sama Afni, luruskan. Kasihan Rosi kalau dengar hal itu. Dia sudah terlalu cinta, tetapi hal yang sebaliknya yang ia dapatkan)
“Iyo bak. Insyaallah”

“Payuaaangg.. payuaaanggg kuniaaangg.” Syair ayah kembali mengajakku bernyanyi lagu minang dari Ucok Sumbara Pintak Kapayuang Kuniang.

Buhua mati nan kito buek
Masih tajalin areeekkkk
Kini hanyo tingga bakehhhh
Tarimolah kandak rang tuo,
sananglah barumah tanggooo
Jan dibuang aiaaa matooo
Isuaakkk bilo ado suratan tangan,
denai manarimooo

Kamipun kembali terhanyut dalam nostalgia yang kami nyanyikan sembari petikan gitarku.

****

“Omaaaa…opaaaa.. Bella pergi dulu yaaaa….”
“Iya Bella, Bella sering sering liat opa sama oma yaaaa.” Kata abak.
“Insyaaallah opaa..”
“Jangan lupa sholat dan doa ya nak.” Kata amak mengingatkan Bella.
“Beres oma. Bella gak lupa kok. Makasih ya omaaaa”
“Tante Anaaaa, om Fahrrriiiii, makasih banyak yaaaaa.”
“Iya nak. Tante sayang sama Bella kok.”
“Ini untuk adek, uang tabungan kakak lho.” Kata Alya mengasih boneka Pinguin.
“Dari abang juga dek.” Kata Aldi tak mau kalah.
“Makasih banyak kakak, abaaanngggg.”
Aku senang melihat Bella bisa mengambil hati keluargaku. Semua keluargaku sayang ke Bella.

“Abaaakkk… amaaakkkk… Rosi pulang ya. Makasih udah nerima Rosi dan Bella.”
“Iya naaakkk.. udah jangan nangis, jaga Bella ya.” Kata amak mengusap air mata yang keluar dari mata Rosi.
“Iya maaakk.. Bella kangen mamaaaa..”
“Sini peluk amak.. amak juga ibu kamu nak.”
“Hiikkksss Hikkkksss” aku terisak melihat Rosi.
“Abak minta tolong jagain Indra ya nak. Dia itu belum bisa mengatur makannya.Oh iya, lebaran besok ke sini aja, bawa adik lelakimu juga.”
“Iya abak. Makasih ya bak.” Kata Bella mencium tangan kedua orang tuaku.

Disaat aku meminta izin ke abak dan amak, Rosi meminta izin dan terima kasih ke Uni Ana dan Uda Fahri, Alya dan Aldi. Uni Ana kulihat menangis sambil memeluk Rosi. Uni Ana menghapus air mata di pipi Rosi.
“Baaakk.. Maaakkk… Indra baliak dih. Makasih mak, bak. Oh iya, abak jan acok berang-berang, minum ubek jan lupo. Beko sakik baliak abak.” (Baakk.. Maaakkk.. Indra berangkat dulu ya. Teerima kasih Mak, bak. Bapak, jangan sering marah-marah, obat jangan lupa dimakan, biar abak gak sakit lagi.)
“Iyo nak, jaga diri ang dih. Bella Rosi iyo lo.” (Iya nak, jaga dirimu, Bella dan Rosi)
“Siap bak”
“Di dalam kardus itu, sudah amak masukkan rending yang amak pesan di rumah makan Gon Raya, sama oleh-oleh. Karakkaliang, Sanjai, Randang Bareh dan Galamai juga.” Kata amak menerangkan isi kardus dengan bahasa Indonesianya.
“Mantang-mantang guru, jo anak surang bahasa Indonesia jo baru.” (Mentang-mentang guru, bicara sama anak sendiri juga bahasa Indonesia) kata abakku.
“Bialah bak.” (Biarlah bak) kata amak.
“Makasih mak.. hehehehe”
“Amak gak sempat masak, jadi gak apa kan Rendang itu. Itu Rendang kedua yang kamu suka kan”
“Gak mak, yang paling enak itu rendang buatan amak. Tapi itu nomor 3 kok mak, setelah rending uni.”
“Hahahahaha”

Amak dan Abak tertawa mendengarkanku. Aku pun pamit sama uni Ana dan uda Fahri juga keponakanku.
“Jago Rosi jo Bella dih.”(Jaga Rosi sama Bella) kata Uni Ana
“Siap Uni. Makasih ya uni.”
“Tu oto ko baa ni? Da?” (Trus mobil ini gimana uni? Uda?) tanyaku.
“Baok se lah lu, latak an se di parkiran, beko ado anggota uda disinan mambaok kamari. Inyo kebetulan pulang tugas dari Kendari.” (Bawa aja dulu, parkirkan aja di parkiran, nanti sudah ada anggota Uda yang membawa ke sini. Kebetulan ia pulang tugas dari Kendari). Jawab uda Fahri menjelaskan mobilnya yang aku bawa ke bandara. Memang Uda Fahri bekerja di kepolisian Resort Bukittinggi, jadi banyak link yang membuatku sedikit nyaman jika pulang kampung seperti ini. Aku pun langsung menggendong Bella sambil meninggalkan rumahku. Rosi dan Bella yang duduk di depan, disampingku melambaikan tangan kepada keluargaku.
“Dadaaaaaaa omaaaaa.. opaaaa… tanteeee.. oooommmm… abaaaangggg.. kaaakkkkkaaaaakkkk.. makasih yaaaaaa.”

****

“Yah, bagus yah kampung ayah. Sering sering ya yah, kita pulang kampung.”
“Iya nak. Udah foto-fotonya? Kita harus cepat ke bandara lho. Lumayan jauh juga.” Kataku mengingatkan Bella untuk bergegas ke bandara. Sekarang kami berada di Lembah Anai, air terjun terletak di tepi jalan Padang-Bukittinggi dengan indahnya yang aku janjikan ke Bella 2 hari yang lalu. Sudah selama 20 menit, Rosi dan Bella menikmati alam yang indah ini sambil mengabadikannya.
“Iya nak, udahan ya. Kan kasihan ayah nyetir sendiri nanti ke Padang nya. Masih jauh ya yah ya?” Tanya Rosi, aku tak lantas menjawab hal itu, karena aku terkejut dengan sikap Rosi akhir-akhir ini. Barusan, Rosi memanggil diriku didepan adiknya panggilan ayah yang sangat tulus kurasa.
“Ayah kok diam?” Tanya Rosi lagi.
“eh.. gak… abang menikmati alam ini aja.. tadi nanya apaan?”
“Masih jauh gak bandaranyaaa.”
“Lumayaan sekitar 1 jam lebih lah”
“udahan yuk nak, kasihan kan 1 jam lebih ayah nyetir sendiri nanti. Bunda juga gak pandai nyupir nak.”
“Iya Bunda.”

Aku gendong Bella menuju mobil karena jalan yang lumayan rumit dan licin dikarenakan lembabnya suhu disini. Rosi yang disebelahku menggandengkan tangannya ke lenganku. Aku yang mendapati perlakuan Rosi sekarang, merasa tambah heran. Belum pernah aku mendapati hal ini dari Rosi. Semoga benar, ranah minang ini mengubah sedikit karakternya.

“Uda Ade… Uda Ade kan?” teriak seorang pria pengamen mendekatiku. Aku yang tidak mengingatknya, bingung mengingat siapa pria ini.
“Lupo Uda jo awak?” (Lupa Uda sama aku?).
“Maaf, iyo da. Lupo awak.” (Maaf uda, lupa aku.)
“hahaha. Lah lamo ndak sobok, lupo uda wak jo awak. Ba uda lo nyo ka awak.”( hahahaha. Sudah lama tak jumpa, lupa uda sama aku. Malah manggil uda pula)
“maaf yo.”
“Iko awak da.. Dika, pengamen yang uda tolong waktu dikompas preman di palintasan rel batang anai mah da.” (Ini aku da. Dika, pengamen yang pernah uda tolong disaat dipalak preman di Perlintasan rel kereta api Batang Anai, suatu daerah di jalan raya Padang-Bukittinggi)
“Astaghfirullah… lupo uda diak.. lah barubah ban amah.” (Astaghfirullah. Maaf uda lupa dek. Seoalnya sudah berubah total)
“Ndak baa do da. Iko anak uda? Sihaik uni?” (Gak apa uda. Ini anak uda? Uni sehat?) Tanya Dika ke Rosi. Rosi yang gak ngerti dengan pertanyaan Dika, hanya mengerutkan dahinya ke arahku. Dan Bella memelukku sangat kuat. Kurasa detak jantungnya yang berdegup kencang. Aku rasa ia takut dengan penampilan Dika. Membawa gitar, wajah penuh dengan brewok dan rambut gimbal. Dan berpenampilan seperti anak reggae. Wajar Bella takut pikirku.
“Hahahah.. uni ndak urang awak. Baru sakali lo ka siko.” (hahahaha.. uni bukan orang minang. Baru kali ini pula ke sini.)
“Ohhh.. maaf da.. wak sangko, iko uni yang dulu samo jo uda.” (Ohhh.. maaf da.. kirain ini Uni yang bersama uda dulu disaat menolongku.)

“Maaf kakak, Dika gak tau kalau kakak bukan orang minang.” Kata Dika sambil garuk garuk kepala. Entah itu karena salah tingkah atau belum keramas. Rosi yang masih agak risih, hanya senyum seadanya.
“Uda Ade ini mempertaruhkan nyawanya untuk menolong Dika kak. Uang Dika dirampas oleh preman di Batang Anai setelah Dika ngamen dan turun dari bus disana kak. Uda Ade menolong Dika mengambil uang dika dari 2 orang preman itu kak. Disaat uda Ade beristirahat di kedai dekat sana bersama temannya kak. Dika kira itu kakak. Maaf ya kak.” Terang Dika.
“Iya… gak apa kok” jawab Rosi seadanya.

Aku ingat, aku disaat itu bersama Afni. Aku yang pergi ke Padang, menggunakan sepeda motorku untuk Bimbel, karena hanya di ibukota Sumatera Barat inilah ada Bimbel itu beristirahat sebentar di Batang Anai sambil makan buah manggis yang sedang musim saat itu. Afni. Untung saja Dika mengatakan “teman” bukan “pacar”. Mungkin Dika juga tidak tahu.

“Ayo yaaaahhh…” rengek Bella yang sudah mulai rishi tingkat tinggi.
“Dik, uda pai lu dih. Uda nio ka Jakarta kini. Takuik talaik. Elok elok se iduik dih.” (Dik, uda pergi dulu ya. Uda mau berangkat ke Jakarta. Takut terlambat. Kamu baik baik hidup yah.)
“Iyo da… dadah adek… hati hati ya kak.” Kata Dika kepada Bella dan Rosi. Bella tidak menanggapinya, karena Bella sudah mengganti rishi dengan ketakutan. Rosipun hanya menjawab dengan senyuman seadanya. Memang, kalau tidak mengingatnya, aku juga was was dengan penampilannya sekarang. Sungguh berubah, semoga sifatmu tidak berubah dik.

“Ndak usah bayia parkir lai da. Baok se lah. Iko daerah Dika mah.” (Gak usah bayar parkir Uda. Lanjut saja. Ini daerah kekuasaan Dika kok) kata Dika disaat aku hendak memberi uang jasa parkirku. Dan betul, tukang parkirpun gak mau menerima uang yang kusodorkan.
“Makasih diak ha.” (Makasih banyak Dik)
“Iyo daaaa…. Samo samooo.. elok elok yo daaaa.” (Iya daaa.. sama-samaa. Hati hati ya daaa..)

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler