. Halaman yang Hilang Part 4 | Kisah Malam

Halaman yang Hilang Part 4

0
241

Halaman yang Hilang Part 4

Meninggalkan Rumah

—-POV WINRY—-

Tubuhku yang letih membutuhkan penyegaran. Selesai mandi kuambil novel berjudul Deception Point di rak. Kemudian beranjak ke atas tempat tidur dan memposisikan tubuhku senyaman mungkin dengan duduk bersandar di kepala ranjang, menarik selimut panjang menutupi sebagian besar tubuhku lalu melanjutkan membaca novel karya Dan Brown ini.

Beberapa menit membolak balikan lembar demi lembar halaman novel tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku begitu kaget saat pintu itu terbuka. Astaga aku lupa mengunci pintu kamarku lagi, pikirku. Kukira Bi Tati yang masuk, tapi aku salah. Ternyata Dion yang merupakan kakak tiriku tiba-tiba masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ataupun memberi peringatan kalau dia akan masuk. Aku sedikit kesal dengannya, bagaimana jika dia masuk saat aku sedang ganti pakaian?.

Kalau boleh jujur aku tidak begitu dekat dengannya. Dia juga tidak begitu dekat dengan Mama, walaupun mama tetap berusaha baik kepadanya. Aku berpikir kalau sebenarnya dia tidak setuju papanya menikah dengan mamaku.

“What?” Tanyaku padanya saat dia duduk di tepian ranjang di sebelahku. Aku tidak perlu berbasa basi denganya atau tanya baik-baik maksud kedatangannya. Karena dia juga tidak ada itikad baik masuk ke dalam kamar seorang cewek. Dia masih diam sambil menatapku.

Tanpa menjelaskan maksud kedatangannya, tiba-tiba dia mengusap rambutku dengan tangannya. Aku yang tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan langsung menepis tanganya itu.

“Apa-apaan sih?” bentakku padanya. Sekilas aku merasakan aroma alkohol saat tangannya mengusap rambutku.

Kemudian dia membuatku terkejut dan begitu ketakutan saat tiba-tiba dia membekap mulutku dengan tangannya yang besar itu. Lalu dengan cepat dia naik ke atas ranjang dan merangkak di atas tubuhku kemudian menindihku. Aku meronta, aku berusaha mendorong tubuhnya tapi tanganku yang kecil tidak akan bisa mendorong tubuhnya yang lebih besar dari tubuhku.

Tangannya yang lain mulai mengusap dan menekan payudaraku lalu tangannya itu menyusup melalui bagian bawah kaosku. Aku bisa merasakan telapak tangannya mengusap kulit perutku lalu disana tangannya menyentuh dan meremas dengan kuat bra yang menutupi payudaraku. Aku semakin ketakutan dengan semua yang dia lakukan, aku tidak bisa meronta ataupun berteriak meminta pertolongan.

Tangannya yang besar meremas dengan kuat payudaraku yang kecil sesekali mencubit ujung payudaraku dengan kasar. Ahhhh rasanya sakit sekali. Kemudian dia melepaskan dekapan tangannya di mulutku, dan berusaha mengecap bibirku dengan sangat rakus. Beberapa kali aku bisa menghindari bibirnya, namun pada akhirnya dia berhasil mendaratkan mulutnya tepat di mulutku.

Dion semakin menggila saat berhasil mendapatkan bibirku dengan mengecap setiap sudut bibirku dengan ganas. Kurasakan dia sedang berusaha memasukkan lidahnya, tapi aku berusaha menutup bibirku rapat-rapat. Tidak berhasil memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, Dion yang seperti sedang kerasukan iblis itu kini berusaha menarik celana pendek yang kupakai sampai ke bawah kaki. Sementara aku hanya terdiam lemas melihat dia sedang berusaha menanggalkan celanaku. Aku ingin mencegahnya tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.

Kenapa aku diam saja ? Aku seperti tidak bisa menggerakkan tangan ataupun seluruh tubuhku lagi, padahal tadi aku berusaha sekuat tenaga berontak agar bisa lepas dari cengkramannya. Kenapa? aku tidak menginkan ini.

Melihat tidak ada perlawanan dariku, lalu dengan mudahnya dia melucuti satu persatu pakaian dan bra yang menutupi payudaraku. Kini aku sudah setengah telanjang di atas tempat tidur hanya menyisakan celana dalam menutupi bagian paling sensitif dari tubuhku, diatas tubuhku Dion menatap tubuh telanjangku liar seperti serigala yang akan memangsa buruannya. Dan aku masih tidak bisa menggerakkan tubuhku, bahkan aku tidak bisa mencegah saat Dion mulai melumat satu persatu ujung payudaraku secara bergantian.

“engnghhhhh ahhh”

Aku mendesis dan mengerang ketika merasakan lidahnya yang basah memainkan puting payudaraku. Aku semakin kebingungan, kenapa aku bisa mengerang tapi aku tidak bisa meminta pertolongan atau melakukan perlawanan?. Seolah tubuhku memang mengingkan ini, menerima apapun yang dilakukan Dion pada tubuhku padahal pikiranku sama sekali tidak mengharapkannya. Puas menjilati payudaraku, Dion mengarahkan wajahnya ke wajahku lagi lalu mencium bibirku, bahkan tanganku dengan sendirinya membimbing wajahnya itu untuk mencium bibirku. Kami berciuman sangat panas, saling menghisap dan melumat bibir satu sama lain. Rasanya, ahh aku tidak mau merasakan bibirnyaplisss stopppp. Kuraskan Dion menekan nekan tubuhnya yang kekar ke tubuhku dengan begitu antusias yang merupakan sebuah sinyal kuat kalau dia sangat ingin menyetubuhiku.

Beberapa menit kemudian setelah puas berciuman Dion menegakkan badannya lalu melucuti satu satunya kain yang masih menutupi tubuhku. Kemudian dia melebarkan kakiku dengan kedua tangannya lalu menatap milikku begitu intens dan tersenyum senang seperti telah menemukan harta karun yang sangat berharga. Kemudian dengan cepat dia mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya.

Aku tau apa yang dia akan lakukan kepadaku, dan itu membuatku begitu takut tapi aku tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegahnya. Aku ingin menangis tapi tidak setetespun air keluar dari mataku. Aku sempat berpikir kenapa dia nekat melakukan ini kepadaku? Meskipun aku bukan saudara kandungnya. Kenapa dia dengan mudahnya melakukan hal se-sakral ini kepada sembarang orang? Apakah karena alkohol? Atau memang sudah insting seorang cowok yang ingin segera mendapatkan kepuasan kapanpun mereka sedang bergairah? Walaupun dengan cara paksa seperti yang akan Dion lakukan kepadaku. Tapi tubuhku tidak merasa dipaksa olehnya, rasanya seperti tubuhku daritadi sangat menikmati segala yang dilakukan Dion pada tubuhku bahkan kurasakan basah diantara pangkal pahaku akibat rangsangan yang daritadi dia lancarkan pada tubuhku.

Aku menikmatinya? Aku menginginkannya? Aku mengharpakan dia untuk… … TIDAKKKKK, AKU MASIH BELUM INGIN MELAKUKANNYA. APALAGI DENGAN COWOK SEPERTI DIA. Aku berteriak di dalam hati, kemudian memejamkan mataku saat Dion baru saja selesai melepaskan semua pakaiannya. Kurasakan tangan Dion menyentuh kedua pahaku untuk membuka kakiku lebar-lebar. Aku benar-benar tidak bisa menghadangnya.

Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat besar masuk dan berhasil menembus punyaku dengan sangat kasar.

AAAAHHHHHHH SAKITTTT HENTIKAN HENTIKAN” teriakku. Aku merasakan sakit yang teramat sakit pada punyaku. Pertama kalinya aku merasakan sakit yang begitu luar biasa pada tubuhku. Rasanya seperti sedang dikuliti hidup-hidup. Aku sampai mencengkaram sprei dengan kuat.

“AHHHHHHHHHH PLEASEEE STOPPPPPP SAKITTTTT

Fuckkk sempit banget. kamu masih perawan?, kenapa gak dari dulu aku menikmati tubuhmu.” Ucap Dion. Aku melihat darah segar keluar dari area kewanitaanku.

“Hentikan please, kamu menyakitiku” pintaku.

“Menghentikan kenikmatan ini? aku akan menghentikannya setelah kamu melayaniku berkali-kali malam ini sampai aku bosan, aku tidak peduli dengan rasa sakit yang kamu rasakan,” Astaga. Kenapa dia sejahat ini kepadaku? Dia tidak hanya menyiksa tubuhku, tapi juga menyiksa batinku.

Saat aku sedang merasakan sakit yang luar biasa pada area kewanitaanku, Dion semakin kesetanan menghentak tubuh kecilku dengan tubuhnya yang besar sambil melenguh merasakan nikmatnya penetrasi yang kata kata orang adalah surga Dunia.

Dion semakin menyikasku dengan menggerakkan penisnya dengan cepat tanpa ampun. Membuatku semakin merasakan sakit dan perih menjadi satu, rasanya sampai mau pingsan. Tubuhku yang daritadi tak bisa kugerakkan kini semakin melemah akibat merasakan sakit di satu titik bagian tubuhku.

MAMAA TOLONGGG. Ucapku dalam hati.

Seperti sebuah aliran listrik yang mengaliri tubuhku, aku bisa merasakan kendali atas tubuhku lagi. Aku melihat novel yang tadi kubaca diatas tempat tidur. Segera kuraih dan kupukulkan buku novel setebal 556 halaman itu ke kepalanya Dion. Dia langsung merasakan kesakitan di kepalanya, walapun rasa sakitnya tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang baru saja kualami.

“Bangsatt” Umpatnya,

Kemudian kudorong tubuhnya dengan kuat sampai dia terdorong kebelakang. Kugunakan kesempatan ini untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi karena sakit yang kurasakan di pangkal pahaku, aku tidak bisa langsung berdiri dan berlari begitu saja. Aku hanya bisa merangkak di atas tempat tidur bermaksud untuk turun. Namun saat sedang berusaha merangkak turun sampai ke tepi ranjang, dari belakang Dion mencengkram kakiku seperti serigala yang tidak ingin kehilangan buruannya. Kurasakan perih di pergelangan kakiku karena cengkaramannya itu sangat kuat. Tubuhku terhempas tengkurap diatas ranjang, kemudian dia membalikkan tubuhku dan bersiap untuk menindihku lagi. Amarah Dion terlihat begitu jelas, bahkan kedua matanya berubah menjadi merah menyala. Astaga, Aku semakin bingung dan ketakutan melihat wajahnya yang menyeramkan. Dia terlihat seperti monster.

Sebelum dia mendekapku lagi, kutahan tubuhnya dengan kedua telapak kaki dan kudorong sekuat mungkin tubuhnya sampai dia terhempas ke belakang. Kudengar teriakan yang sangat menyeramkan ketika tubuhnya terhempas. Bersamaan dengan itu tubuhku terjatuh ke bawah tempat tidur akibat doronganku yang begitu kuat sampai aku tidak bisa menahan keseimbangan.

BRUGHHHHHH

“Auwww”

Rasa Sakit di lenganku terasa saat tubuhku terhempas ke lantai kamar. Anehnya rasa sakit yang kurasakan di pangkal pahaku hilang. Pakaian yang tadi kukenakan juga masih melekat pada tubuhku. Hah?. Kemudian dengan perlahan dan was was aku mengintip ke atas tempat tidur, tidak ada apa-apa disana. Tidak ada Dion atau monster apapun itu namanya. Di atas tempat tidur hanya ada novel yang tadi kubaca.

“Mimpi?”

Aku pasti ketiduran saat tadi sedang membaca novel. Seketika kuhempaskan tubuhku lemas diatas ranjang setelah menyadari semua kegilaan tadi hanya terjadi di mimpiku. Kemudian beranjak ke kamar mandi di dalam kamarku. Membilas beberapa kali wajahku dengan air dan memukul wajahku pelan dengan kedua telapak tanganku sambil melihat pantulan wajahku di cermin wastafel. Masih terbayang dengan mimpi yang barusan kualami.

it just a dream, really a bad dream” ucapku lirih. Tapi Kenapa aku bisa mimpi bersetubuh dengan Dion? Sepertinya aku harus menghentikan kebiasaanku yang iseng streaming hentai, terutama yang bergenre Rape.

Astaga, tak seharusnya aku mengatakan hal semacam itu kepada kalian.

Aku tau apa yang ada di pikiran kalian setelah mengetahui rahasia kecilku. Terserah kalau kalian menilai dan menyebutku sebagai cewek mesum. Tapi yang jelas Aku bukanlah cewek sempurna. Asal kalian tahu, tak sedikit cewek yang suka nonton film porno. Miranda juga sering memaksaku untuk nonton film panas korea bersama dikamarnya.

Terkadang aku iseng streaming hentai di sela-sela menunggu proses download serial anime terbaru selesai. Dan terkadang aku sengaja streaming hentai hanya untuk merasakan sensasinya melihat adegan yang dilakukan para karakternya yang kemudian membantuku untuk. oke cukup, sepertinya aku terlalu banyak mengumbar privasiku kepada kalian. Kita harus berhenti membicarakan tentang hentai atau film dewasa, karena Aku bukan tipe orang yang suka mengumbar aib, masalah, ataupun hal-hal pribadi yang sensitif kepada orang lain. Dan Please, jangan kasih tau kepada siapapun tentang rahasia kecilku ini. Oke?

Kemudian aku kembali ke tempat tidur, waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Kuraih handphoneku diatas meja belajar disamping tempat tidur lalu kutuliskan pesan untuk seseorang.


 

Hai
lagi ngapain?

 


Dia pasti akan membalas pesanku, karena hanya dia satu-satunya orang dunia ini yang akan membalas pesanku selarut ini. Kemudian kutaruh novel yang tadi kubaca ke tempat asalnya, mematikan lampu kamar dan kembali lagi ke atas tempat tidur. Tidur miring memeluk guling kesayanganku kemudian berusaha memejamkan mata. Dan benar saja, tak lama kemudian dia membalas pesanku, lalu kami saling berbalas pesan.


 

Hai
lagi ngapain?

Hai, ini sedang nyiapin presentasi.
Can’t Sleep?

Aku baru saja terbangun
Apakah aku mengganggumu?

senangnya jadi orang
pertama yang kamu pikirkan
Saat kamu terbangun dari tidurmu.

Sebaiknya Jangan terlalu bahagia dengan itu !!
bisa membuatmu gagal fokus,
akan menghancurkan presentasimu
Di depan dosen

gagal fokus karena kamu?
banyak quotes mengatakan untuk
“fokus pada hal yang paling penting”
Itu yang sedang kulakukan. Cz masa depanku
tidak hanya berfokus pada karir dan pendidikan

Coba katakan hal itu kepada orang tuamu
Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka

Wkwkwk hororr.
Btw, Apa kabar
bintang-bintang malam disana?

Masih bersinar,Tapi kali ini begitu indah
Sudah lama aku tidak melihat
Pemandangan seindah ini

 


Padahal belum tentu langit malam ini sedang penuh dengan bintang. Seharusnya kubuka jendela kamarku untuk memastikannya tapi tidak kulakukan. Aku bisa menjawab pertanyaannya seperti itu karena tadi siang di kampus aku melihat bintang di balik kacamata yang dipakai Kak Rega. Terasa begitu hangat dan menenangkan saat menatapnya, keindahannya membuatku ingin berlama-lama memandangnya, perasaan yang sama kurasakan ketika aku memandang dan mengagumi Bintang. Karena telah banyak cerita yang kurangkai bersama malam dan bintang, aku begitu bahagia bisa melihatnya lagi melalui Kak Rega.

Tak terasa pikiranku melayang di keheningan kamarku yang gelap. Semakin kubenamkan wajahku pada guling di dekapanku dan memeluknya dengan erat sambil membayangkan sedang memeluk seseorang. Beberapa saat kemudian aku semakin larut dalam hayalan. Membayangkan bibirnya yang basah menyapu leher dan dadaku. Tiba-tiba aku mempunyai keinginan untuk meraba payudaraku sendiri. Tanganku sudah berada disana untuk menuruti keinginan yang mendesak di pikiranku sambil membayangkan jari jemarinya yang hangat meraba-raba payudaraku. Aku begitu menikmati sensasi sentuhan dan belaian tanganku pada payudaraku sendiri.

Tak kuhiraukan suara nada pesan masuk di handphoneku yang berbunyi beberapa kali. Fantasiku semakin liar, tubuhku semakin memanas padahal di dalam kamarku sangatlah dingin. Jantungku semakin berdegup dengan cepat. Sambil terpejam dan menggerakkan tanganku sendiri aku membayangkan tangannya meremas kuat kedua payudaraku untuk menaikkan gairahku lalu dia berkata kalau sangat menyukai bentuk payudaraku meskipun tidak seranum payudara cewek kebanyakan. Kemudian kubayangkan tangannya itu menelusuri setiap inchi kulit perutku, lalu turun membelai pahaku dengan lembut dan kemudian membayangkan tangannya memegang penuh punyaku, lalu jari tengahnya masuk ke dalam…..

“Acchhhh Seniorrrr…”

Aku tak kuasa menahan erangan keluar dari mulutku tatkala jari-jariku mengusap punyaku sendiri di balik celana dalamku sambil menyebut orang yang daritadi ada di hayalan dan fantasiku yang liar.

.

.

.

.

.

.

KEESEOKAN HARINYA

—-POV REGA—-

Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya Rein menyapaku saat aku terbangun dari tidur. Aku tidak mendapati tubuh seksi kakakku diatas tempat tidur. Padahal semalam sebelum aku akhirnya bisa memejamkan mata, terakhir kali kulihat dia tidur pulas disampingku. Dengan langkah yang gontai karena masih mengantuk, aku turun ke lantai bawah. Mbak Tina memberitahu kalau Rein sedang berenang saat aku bertanya padanya. Kemudian aku pun menuju ke bagian belakang rumah untuk bertemu dengan Rein. Semenjak hubungan kami kembali seperti dulu, aku selalu merasa ingin terus bersama raganya entah itu sebelum tidur ataupun saat aku terbangun dari tidur. Aku pasti selalu mencarinya saat dia tidak ada disampingku.

Sesampainya di belakang rumah aku baru menyadari ternyata Matahari sudah cukup tinggi. Astaga, siang sekali aku bangun. Tapi meskipun sudah cukup siang, tapi aku masih begitu mengantuk sampai menguap beberapa kali. Di belakang rumah aku duduk di sebuah kursi di dekat kolam renang sambil melihat kakakku berenang dari ujung ke ujung dengan begitu cepat. Tak berselang lama dia menyadari kehadiranku kemudian dia berenang menuju ke tepi kolam untuk naik ke permukaan.

Mata kami bertemu. Kemudian mataku tak kuasa dipaksa untuk menelusuri tubuhnya yang dibalut oleh bikini warna putih favoritnya. Lekuk tubuhnya yang indah terlihat begitu jelas. Cowok manapun yang memandang Rein pasti langsung jatuh cinta melihat keindahan tubuhnya yang seksi. Bahkan temanku Billa, dia cewek tapi dia sange melihat tubuh kakakku. Tidak ada yang bisa menahan daya tarik seksual dari tubuhnya yang sempurna.

Saat ini Rein sedang mengeringkan badannya dengan handuk yang sudah tersedia di tepi kolam lalu dia berjalan ke arahku. Tidak mempedulikan bikininnya yang basah, dengan manjanya dia duduk menyamping di pangkuanku.

Tanganku menopang tubuhnya dengan memeluknya. Membelai lekukan pinggulnya yang masih terasa basah.

tidurmu lama sekali Dek” Ucapnya “tapi kamu masih saja terlihat mengantuk. Sana Mandi !!” matanya mengamati wajahku.

“Aku baru bisa tidur menjelang subuh Rein”

“ngapain aja? Ngeliatin aku tidur? Atau semalem masih kurang? kenapa kamu tidak membangunkanku?”

Aku menatap wajahnya dan tersenyum. Aku tidak akan pernah meraasa cukup melakukan dengannya. Aku selalu merasakan sensasi yang berbeda jika bercinta dengan Rein. Karena aku menyayanginya, dan dia begitu menyayangiku. Tidak ada yang lebih indah selain mencapai puncak kenikmatan bersama cewek yang paling kusayangi di dunia ini. Apalagi sudah cukup lama kami tidak melakukannya. Membuatku ingin melakukan dengannya lagi. Lagi dan lagi. Tapi apakah dia merasakan hal yang sama? Haruskah aku bertanya padanya?

“Yap. aku tidak bisa tidur karena tetekmu ada di depan wajahku” Tidak, aku tidak berani bertanya padanya. Apalagi disaat-saat seperti ini, dimana semuanya baru saja kembali seperti dulu antara aku dan dia. Aku tidak ingin merusak momen ini , aku takut dia merasa kalau aku hanya menginginkan tubuhnya.

Bohong!!” Serunya, Rein menatapku “pasti ada yang menggangu pikiranmu. Dulu aku pernah bilang, jika kamu ada masalah, ceritakan padaku !! kalau ada yang mengganggu pikiranmu, beritahu aku !!. Jangan kamu pendam sendiri Dek”

“enggak Rein,, aku bener-..”

“Ada seseorang yang sedang kamu pikirin” Ucapnya memotong ucapanku “Dan kayaknya,,,, aku tahu siapa dia” Ucapnya padaku.

Eh,, aku ga mikirin siapa-siapa. Aku beneran tidak bisa tidur, aku juga tidak tau kenapa”

Rein masih menatapku tajam selama beberapa saat.Sepertinya Dia masih tidak percaya denganku.

Jika kamu benar-benar tidak bisa tidur, mungkin karena semalam ada seseorang yang sedang memikirkanmu, memimpikanmu”

“hmm? Siapa?” tanyaku.

“tau’ !! dia mungkin” Ucap Rein sambil melihat ke arah belakangku. Aku mengikuti arah dia memandang, disana kulihat Mbak Tina datang menghampiri kami.

Mbak Tina membawa jus yang terbuat dari campuran beberapa jenis buah-buahan yang selalu Rein minum tiap pagi. Katanya sih, itu Jus untuk menjaga bentuk tubuhnya yang indah.

Saat Mbak Tina menaruh minuman itu diatas meja dekat kami, Rein semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Satu lengannya merangkul pundakku, kemudian dia menyandarkan kepalanya dengan rambut yang masih basah itu ke dadaku. Seolah dia ingin menunjukkan ke Mbak Tina kalau aku ini miliknya, jangan coba-coba merebutku darinya. Rein masih curiga kalau aku sering main-main dengan Mbak Tina dibelakangnya.

Aku menangkap lirikan mata Mbak Tina kepadaku setelah menaruh minuman itu di meja. Kemudian dia meninggalkan kami. Aku masih mengamati langkah Mbak Tina menuju ke dalam rumah. Apa maksud lirikannya tadi? Apakah dia masih ingin aku untuk membantunya melampiaskan nafsunya yang gede? Tidak, Aku tidak mau lagi melakukan dengannya, karena dia sudah punya suami di Desa dan Rein pasti sangat marah kalau tau aku bercinta lagi dengan Mbak Tina.

Tiba-tiba memori saat aku “main-main” dengan Mbak Tina merasuk ke dalam otakku, terbayang tubuh bugil Mbak Tina saat aku dan dia bercinta di kamar bunda dan Papa.

Penisku menegang membayangkan itu. Kecuali, Mbak Tina memintanya dengan cara mengancamku lagi seperti dulu, aku tidak bisa menolaknya dan terpaksa harus kuturuti kemauannya. Shit, apa yang sedang kupikirkan? Kenapa aku malah berharap Mbak Tina mengancamku lagi. Aku harus berhenti membayangkan tubuh Mbak Tina atau berhenti mengingat kejadian itu. Suatu saat nanti, aku akan menceritakan kepada kalian kejadian dengan Mbak Tina.

Mbak Tina sudah masuk ke dalam rumah. Saat aku menoleh Rein dia memandangku dengan tatapan mata yang tajam dan sangat menyeramkan. Gawat, berapa lama tadi aku memandangi Mbak Tina?

“Sange Lihat Mbak Tina? Iya ? Pengen? Hmmm?”, dia tersenyum, tapi dengan raut wajah yang menyeramkan.

“hah? Engg,,engg..ggak kok, ga mungkin aku.. ” aku berusaha mengelak.

“bener?”

“iya beneran Rein”

“ Lalu ini apa namanya kalo gak sange? Hah?”

Ucapnya sambil dia meremas penisku yang sedang menegang dengan sangat kuat.

“AAAUUWWWWW ADUHHHH ADDUHHH REEEINN AMPUNN. AMPUNNNN SAKITT” Gila sakit banget, sadisnya keluar ni cewek.

“Kamu bener-bener gak bisa dipercaya” Ucapnya setelah akhirnya melepaskan penisku ”aku yakin ada apa-apa diantara kalian” Mukanya terlihat sangat bete. Lalu dia meminum jus yang dibawakan Mbak Tina tadi.

Aku tidak berusaha mengelak ataupun menjelaskan lagi kepada Rein. Aku takut salah bicara ataupun keceplosan yang bisa membuatnya semakin marah, yang ada nanti dia malah memotong penisku.

“untungnya sebentar lagi kamu segera meninggalkan rumah ini, aku jadi ga terlalu khawatir kamu ada apa-apa dengan Mbak Tina. Ah tapi tapi, belum tentu kamu akan lebih baik jika tinggal bersama temen-temenmu, ahhhh Fuckkk kenapa aku jadi khawatir dengan keputusanku.”

Rein masih ngomel-ngomel gak jelas sambil galau dengan keputusannya untuk membiarkanku tinggal di tempat kos bersama teman-temanku. Aku sudah memutuskan untuk menyetujui rencana Rein itu setelah aku bicara dengan Bunda. Bicara tentang hal itu, Siang ini aku dan Rein akan mengunjungi dan melihat rumah yang rencananya akan aku tinggali.

“Oiyah Rein, jam berapa nanti kita kesana?” tanyaku padanya.

“Kamu sendiri yang akan kesana, aku gak ikut!!“ jawabnya singkat dengan muka yang masih bete.

“Astaga, kamu masih marah? Aku beneran gak ada apa-apa dengan Mbak Tina”

“aku ada janji dengan temenku, jadi, aku gak bisa menemanimu” Ucapnya.

“hahhh? Siapa? Cowok?”

“Kalau iya kenapa? kamu cemburu lagi kayak kemaren??”

Eh? gawat. Terakhir kali aku mempertanyakan padanya tentang cowok yang sedang bersamanya, Rein membuatku harus merasakan rasanya menginap di Rumah Sakit selama beberapa minggu. Tapi percuma juga aku tanya-tanya hal pribadinya, dia tidak akan memberitahuku.Yang ada dia akan membalikkan semua pertanyaan kepadaku.

“padahal kamu yang ngerencanain ini, Yaudah mending dibatalin aja rencana itu” ucapku kecewa.

“Gausah manja deh, kamu tinggal dateng ngelihatin rumahnya, kamar-kamarnya, fasilitasnya, suasananya. Apa susahnya sih?” Ucapnya “cocok atau enggak kamu dengan rumah itu, segera beritahu aku. karena sesuai kesepakatan, hari ini juga papa akan membayar sewanya untuk satu tahun pertama. Oke??”

Padahal dia sudah janji akan selalu menemaniku sampai semester baru dimulai. Seperti yang kubilang tadi, aku ingin terus bersama raganya karena itu yang membuatku bahagia. Aku merasa tidak lengkap saat aku tidak bersamanya. Hufftt, kenapa aku jadi se-egois ini? rasanya seperti dejavu ketika aku merasa Rein sudah tidak mempedulikanku lagi. aku harus segera sadar kalau dia punya kehidupan dan dunianya sendiri aku tidak boleh egois menginginkan dia selalu ada untukku.

“Dekkk?”

“iya iya, nanti aku akan kesana” jawabku dengan nada masih kecewa.

Satu jam lagi, Pak Gunawan temennya Papa akan menunggumu disana, sebaiknya kamu segera bersiap-siap, pake aja mobilku !!”

“hmm? Lalu kamu?”

“Biar nanti aku naik Taxi, kamu lebih membutuhkannya untuk mencari alamat rumah itu. Tapi berjanjilah kamu tidak akan menabrakkan mobilku lagi”

“hehe, i..iya” Padahal bukan aku yang menabrakkan mobilnya.

“Satu lagi” Ucapnya sambil mengubah posisi duduknya, kini dia duduk dipangkuanku dengan menghadapku sambil kedua lengannya merangkul leherku “seandainya kamu benar-benar jadi meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama temen-temenmu, berjanjilah untuk tidak– ”

Aku tau apa yang akan dikatakan Rein, kupotong ucapannya “aku tidak akan tinggal bersama mereka Rein, kamu tidak perlu khawatir. Kalau perlu aku tidak akan tinggal bersama siapapun dan tidak perlu meninggalkan rumah ini”

Rein menggelangkan kepalanya pelan. “Aku tidak ingin kamu merasa sendirian lagi Dek, aku tidak ingin melihat kamu menderita seperti kemarin. tinggalah bersama teman-temenmu. Tapi aku sangat berharap kali ini kamu benar-benar memilih siapa temanmu, teman yang tidak akan membawamu ke dalam keburukan.

Dia seringkali berkata seperti itu kepadaku. Aku paham siapa yang dia maksud dengan teman yang membawaku ke dalam keburukan. “sebenarnya, aku berpikir untuk mengundurkan diri dari keanggotaan HIMA” Rein terkejut dengan ucapanku, kemudian dia tersenyum.

“Aku senang mendengarnya, dan aku akan sangat senang jika itu benar-benar terjadi. Percayalah, jika kamu meninggalkan orang-orang yang salah, hal-hal baik akan segera terjadi kepadamu”

Aku tau Rein sangat tidak suka aku bergaul dengan mereka dan berkali kali memintaku untuk menjauhi mereka. Karena memang berteman dengan mereka lah yang menjadi awal mula aku terjerumus ke dalam kegelapan. Jiwaku yang masih sangat labil akibat masih belum bisa merelakan kepergian seseorang yang kucintai membuatku sangat mudah terpengaruh untuk melakukan hal-hal negatif. Bersama mereka, aku melakukan segala cara untuk bisa melupakan kesedihanku.

Beberapa minggu dirawat di rumah sakit membuatku sadar kalau selama itu aku menjadi bukan diriku sendiri. Yang paling tidak bisa kulupa adalah tangisan Rein saat aku dirawat intensif. Dia begitu sedih melihat keadaanku saat itu. Aku merasakan betapa hancur hatinya melihat kondisiku. Sekarang aku berjanji untuk merubah hidupku menjadi lebih baik lagi demi diriku sendiri dan juga demi kakakku yang sangat kusayangi. Aku tidak ingin melihat orang yang paling kusayangi sedih dan menangis lagi, terlebih lagi menangis karena ulahku sendiri.

Setelah berdamai dengan Rein. Rencanaku berikutnya adalah menarik diri dari pengaruh negatif dan meninggalkan lingkungan pergaulan yang buruk. Untuk itu aku memutuskan mengundurkan diri keanggotaan HIMA atau menjauhi beberapa orang anggota HIMA. Aku akan mencoba minta pendapat Luna tentang rencanaku itu. Karena tidak semua anggota HIMA berperilaku buruk.

“Dek.” Rein mendekatkan wajahnya dengan wajahku “bukankah sudah waktunya kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu nyaman untuk mengeluarkan semua unek-unekmu? Bukan seseorang yang hanya kamu jadikan tempat untuk mengeluarkan cairan dalam tubuhmu sepanjang malam. Bukan juga seseorang yang kamu ajak bertelanjang ria di dalam rumah setiap hari”

Sial, Rein mengejekku. Padahal hanya sekali dia memergoki aku berkeliaran di dalam rumah sambil telanjang bersama seorang cewek.

Maksudku, bukankah Sudah saatnya kamu mencintai lagi?. Temukan seseorang yang mencintaimu apa adanya, bukan seseorang yang ingin kamu menjadi seperti apa yang dia inginkan”

Seseorang juga pernah mengatakan hal yang sama kepadaku. Menyuruhku membuka hati untuk suatu hubungan yang baru.

Apa perlu aku membantumu mencarikannya?” tanya Rein “Aku tau kamu lebih tertarik dengan cewek yang lebih dewasa, Aku punya banyak teman yang cantik di asrama dan tentunya mereka cewek baik-baik tidak seperti—“

“Apakah ada diantara mereka yang seperti kamu?” Kupotong lagi ucapannya.

Dia langsung terdiam mendengar pertanyaanku. Mata kami saling memandang selama beberapa saat kemudian dia berdiri. Lalu tanpa berkata apapaun dia berjalan meninggalkanku menuju ke dalam rumah.

Tidak, di dunia ini kurasa tidak akan menemukan cewek lain sepertimu Rein.

Rein, sebenarnya aku ingin tau

Masih adakah cinta didalam hatimu untukku?

.

.

.

—-POV REIN—-

Barusan Rega memberi kabar kalau dia jadi menempati rumah itu, padahal tadi dia bilang tidak suka dengan rumahnya. Apa yang membuatnya berubah pikiran begitu cepat? Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku masih kepikiran apa yang dikatakan Rega tadi dirumah.

Apakah ada diantara mereka yang seperti kamu?

Meskipun sudah beberapa jam berlalu tapi pertanyaan Rega tadi masih terngiang di kepalaku. Cukup lama aku memikirkannya sambil duduk termenung didalam sebuah café yang ada di pusat kota. Aku masih tidak mengerti Kenapa dia bertanya seperti itu saat kusarankan dia mencari seseorang untuk dia cintai lagi.

Bodoh. Kamu benar-benar bodoh Dek.

Tak berselang lama sebuah mobil baru saja memasuki halaman parkir café ini. Aku bisa melihatnya dengan jelas karena dinding depan café ini seluruhnya berupa kaca. Kemudian seseorang yang daritadi kutunggu kedatangannya keluar dari mobil mewah itu. Lalu dia berjalan memutari mobil mendekati pintu pengemudi, bersamaan dengan itu perlahan kaca jendela pintu mobil itu terbuka pelan. Lalu dia memasukkan kepalanya ke dalam mobil melalui jendela yang terbuka. Meskipun samar-samar karena cahaya matahari, melalaui kaca depan mobil aku bisa melihat dia dan pengemudi itu mengecup bibir beberapa kali.

Kenapa dia tidak melakukan itu saat masih di dalam mobil tadi sih?

Beberapa saat kemudian mobil itu pergi meninggalkan tempat ini. Dengan wajah yang ceria, orang yang daritadi kutunggu kedatangannya itu berjalan masuk ke dalam café. Dia melihatku, dan langsung menghampiriku.

“Sorry I’m late” ucapnya merasa bersalah lalu duduk diatas sofa di sebelahku.

Dia adalah Melly, salah satu sahabat baikku sejak SMA dulu. Aku yakin kalian sudah mengenalnya saat aku menjadikannya sebagai kado ulang tahunnya Rega. Akhir-akhir ini aku dan Melly sering bertemu. Uhmm sebenarnya aku yang memintanya untuk menemuiku. Aku butuh dia untuk mencurahkan segala kegelisahanku dan menceritakan semua masalah yang terjadi antara aku dan Rega. Karena dulu beberapa kali Melly sering bertemu dengan Rega untuk dijadikan sebagai obyek Fetish-nya yang suka bercinta dengan cowok yang sedang diikat atau cowok menidurinya saat dia terikatDia bilangnya cuma beberapa kali main-main dengan adikku, tapi aku tidak tahu berapa banyak yang tidak dia katakan padaku saat aku tidak tinggal dirumah. Meskipun hubungan mereka Cuma sekedar pelampiasan nafsu, tapi Melly pasti sedikit banyak tau tentang Rega dan cara berpikirnya. Terkadang aku meminta pendapatnya untuk bagaimana seharusnya aku bersikap kepada Rega.

“aku gak lihat mobilmu diluar. Kamu sudah lama menunggu?” Tanya Melly.

“Hampir dua jam. Menurutmu?”

“hahaha dari dulu kamu memang ga suka basa basi” Jawab Melly sambil dia menjulurkan tangannya ke atas bermaksud untuk memanggil pelayan café.

“Kenapa aku harus melakukan hal yang penuh dengan kepalsuan seperti itu? kenapa ga langsung to the point?” Seorang pelayan café mendatangi meja kami.

“Amanda sayang,, basa basi itu penting untuk mempererat sosial antar masyarakat” Ucapnya setelah memilih menu yang akan dia pesan kepada pelayan café.

“Jadi itu yang selama ini kamu pelajari di jurusan bahasa dan sastra? Mempelajari cara orang berbicara satu sama lain? Boring !!” Balasku.

“Bukan cuman mempelajari tata berbicara, disana aku belajar tentang menulis, kajian puisi, fonologi, morfologi. menurutmu itu membosankan?” Tanya Melly.

“Sangat membosankan dan gak penting” ucapku “Kamu yakin ga salah jurusan?? emang masih kurang dari sejak SD belajar Bahasa? kalau lulus mau jadi apa? Mau kerja apa? Dimana??”

Diberondong pertanyaan seperti itu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya langsung terlihat suram. Aku sih yakin dia tidak terlalu bermininat dengan jurusan apapun yang dia ambil. Yang penting dia masih bisa kuliah sambil tetap bekerja menjadi cewek panggilan.

Hal itu dia lakukan semata-mata hanya untuk uang. Bagi semua orang yang kenal dan tau dengan pekerjaan Melly. Mereka taunya Melly menggunakan uang itu hanya untuk bersenang-senang dan memang Melly sengaja ingin semua orang menganggapnya seperti itu. Padahal sebenarnya, dia menggunakan sebagian besar uangnya untuk keluarganya dan untuk masa depan adik-adiknya. Dia pernah berkata kepadaku kalau akan terus menekuni pekerjannya sampai dia memastikan tabungannya cukup untuk masa depan adik-adiknya. Aku sangat salut dengannya, rela berkorban demi keluarganya.

Meskipun Melly adalah seorang cewek panggilan. Tapi dia termasuk cewek panggilan yang “berkelas”. Dengan wajah cantik, warna kulit yang putih bersih dan tubuh sempurna, dia memasang tarif yang cukup tinggi kepada pelanggannya yang ingin menikmati tubuhnya dan merasakan kenikmatan seksual bersamanya. Dia juga selektif dalam memilih pelanggannya. Kebanyakan yang menjadi pelangganya adalah para ekspatriat asing atau eksekutif muda lokal berwajah tampan dan berkantong tebal. Dia tidak akan melayani pelanggan yang sudah tua ataupun dia rasa tidak menarik untuk dilihat. Tak peduli berapapun dia akan dibayar, dia pasti akan menolak tawaran yang tidak sesuai dengan kriterianya.

“karena kamu terlambat datang, kamu yang bayar minumanku” ucapku padanya.

“Loh? Loh? Hufftt Iya..iya..aku yang akan bayarin minumanmu. Jadi temen perhitungan banget sihhh,,!! padahal kamu yang mengajakku kesini” Mukanya terlihat semakin bete. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya.

“Tadi yang mengantarmu kesini, pasti dia orang yang selama ini kamu ceritakan” Tanyaku. Dia pernah mengatakan kalau sedang jatuh cinta dengan salah satu pelanggannya.

“kok tau?” tanya dia heran.

“Karena aku melihat apa yang kalian lakukan sebelum kamu masuk kedalam`” Dan dia tidak akan seperti itu kepada semua pelangganya.

Aahhhh,, kamu melihatnya?” Ucapnya sambil memegang lenganku “iya itu dia orangnya..Bener kan yang aku bilang? uda tampan, keren, masih muda, selain itu, dia romantis banget” Melly terlihat senang dan ceria saat membicarakan orang itu.

“Sayangnya Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari sini” jawabku.

“yaaaahh, besok besok aku kenalin deh. kamu tidak akan percaya dengan apa yang tadi kami lakukan.” Ucapnya.

“apa? Kali ini kamu yang diborgol?” jawabku asal. Aku masih tidak habis pikir, emang Apa enaknya sih pake diikat ikat gitu?. Melly menggelengkan kepalanya.

“tadi dia mengajakku bercinta di atas tempat tidur yang biasa digunakan bersama dengan istrinya. Dia mengajakku kerumahnya saat istrinya sedang bekerja. Gila banget kan? Aku belum pernah merasakan sensasi seperti tadi, jantung berdebar, adrenalin meninggi karena was-was dan takut jika seketika istrinya pulang. Tapi nikmatnya,, hmmm gak bisa aku jelasin deh rasanya, enak banget pokoknya. Aku tidak akan menolak jika besok dia mengajakku kesana lagi”

Astaga, aku sampai benar benar tidak percaya mendengar mendengar penjelasannya. Apalagi dia tidak sedikitpun merasa bersalah. Apakah dia samsekali gak mikirin bagaimana perasaan istri orang itu?

“kok bisa sih? Dari sekian banyak pria, kenapa Kamu harus jatuh cinta dengan pria yang sudah beristri?.” Ucapku.

Amanda.. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. karena rasa itu datang sendirinya secara tidak terduga dalam diri kita” ucapnya.

Tapi apapun alasannya, itu adalah pilihannya dan aku tidak ingin terlalu mencampurinya. Dia sudah cukup dewasa untuk mengerti resiko mencintai dan menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Mungkin dia pernah melakukan hal ini sebelumnya? Secara dia pasti sudah sering mendapatkan pelanggan pria yang sudah beristri. Sebagai teman, aku tidak akan menghakiminya. Tapi aku akan terus mengikuti sampai sejauh mana kisah cinta terlarang ini akan bertahan. Aku hanya berharap Melly tidak telalu serius dengan hubungannya itu. Aku khawatir pria itu sengaja menjalin hubungan dan mengobral kata cinta kepada Melly hanya untuk sekedar menidurinya tanpa dia harus membayar. Tapi aku tidak enak hati mengatakannya kepada Melly, aku takut dia akan tersinggung dengan kekhawatiranku yang belum tentu benar. Apalagi dia terlihat begitu mencintai pria itu.

“kamu harus hati-hati Mee.. sepintar-pintarnya dia menyembunyikanmu dari istrinya. Cepat atau lambat kalian akan ketahuan. Kamu harus– “

“Stop!! Cukup sampai disitu” Serunya, memotong ucapanku “Amanda !!, aku tau kok apa yang aku lakukan. Dari dulu aku tau apa yang aku lakukan. Aku bisa jaga diri, Kamu jangan terlalu khawatir. Oke?” ucapnya. mengusap lenganku. Aku mengangguk pelan.

“sekarang kembali ke alasan kenapa kamu mengajakku kesini. kamu sudah bicara dengan Rega?? Dia baik-baik saja kan? Kalian sudah berdamai?” Tanya Melly.

Ya” ucapku pelan “dia baik-baik saja kok, bahkan sejauh ini dia semakin membaik daripada sebelumnya. Semua kembali seperti dulu lagi antara aku dan dia, kami bercanda lagi, makan bersama lagi, dan kami…” Kuhentikan ucapanku, Kami juga tidur bersama lagi, hal yang tidak mungkin kukatakan kepada Melly, atau kepada siapapun. “kami menghabiskan waktu bersama sama lagi”

“bener kan? Kamu tuh yang terlalu mengkhawatirkannya. Menangis dan kebingungan hanya karena dia pergi bersama teman temannya ke Bali, bahkan sampai kamu ingin menyusulnya kesana,, menurutku itu terlalu berlebihan, untung aku melarangmu untuk menyusulnya saat itu.” ucapnya.

“Jika kamu jadi aku yang punya adik seperti dia, aku yakin kamu akan selalu khawatir padanya, apalagi setelah yang dia lakukan selama ini”

“Manda, kita berdua tau kenapa dia seperti itu, dia mengalami tahun-tahun yang berat setelah kehilangan– ” Melly tidak melanjutkan kalimatnya “Sorry” imbuhnya.

“Dia seperti itu karena kehilangan Alexa, dan Alexa pergi karena salahku. kamu tidak perlu ragu mengatakannya.” Ucapku “Dulu sebelum Alexa pergi, Rega melihatku seperti seorang kakak yang selalu dia kagumi, tapi, setelah kepergian Alexa. Saat Rega menatapku, aku selalu merasakan kekecewaan dalam dirinya, aku merasa kalau dia menyalahkanku atas apa yang terjadi kepada Alexa

Melly mengusap lenganku “Itu sama sekali tidak benar, Rega gak akan berpikiran seperti itu, berhentilah menyalahkan dirimu.”

Memang seperti itu kenyatannya. Jika seandanya hari itu Alexa tidak mendorongku, jika aku tidak bertengkar dengan Galih dan jika aku tidak egois memendam kebencian yang salah kepadanya. Alexa masih akan ada di Dunia ini dan Rega tidak perlu merasakan penderitaan kehilangan Alexa. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah kepada Rega dan juga Alexa. Dan aku akan terus merasakannya sepanjang hidupku sebagai pengingat tak berhujung bahwa aku yang telah memisahkan cinta mereka disaat mereka saling mencintai.

“heiii..” Ucap Melly, berusaha mengalihkanku dari pikiranku sendiri “Ceritakan keadaan Rega saat ini”

“meskipun keadaan sudah kembali seperti dulu, tapi aku masih sering mendapati dia melamun, tenggelam dengan pikirannya sendiri. Dan dia masih belum mengatakan apapun yang ada dipikirannya siapa yang sedang dia pikirkan, padahal dulu dia selalu berbagi apapun kepadaku.”

“setiap orang punya rahasia yang tidak ingin mereka katakan. Beri dia waktu untuk menenangkan diri ! aku yakin dia akan kembali sepenuhnya menjadi Rega yang menyenangkan dan menyebalkan seperti dulu lagi” Ucap Melly.

Mendengar ucapannya membuatku tersenyum karena memang itu yang aku harapkan. Berharap Rega kembali seperti dulu lagi. Kembali menjadi Rega yang menyenangkan, menyebalkan, menggemaskan dan penuh kasih sayang. Aku akan berusaha memastikan dia agar tidak jatuh lagi ke dalam lubang kegelapan yang sama. Untuk itulah aku membutuhkan bantuan Melly.

“Aku membutuhkan bantuanmu Mee !!. Tolong kamu awasi Rega selama dia di kampus, tidak perlu terlalu dekat, cukup katakan padaku siapa-siapa saja yang sedang bersamanya.”

Meskipun Rega sudah bilang kalau dia akan mengundurkan diri keanggotannya di Organisasi. Tapi aku masih khawatir Rega masih dekat dengan mereka. Sebenarnya, aku hanya mengkhawatirkan satu orang diantara mereka yang bisa membuat Rega kembali menjadi monster.

“Astaga. Kamu serius? Itu sama saja kamu masih belum percaya kepadanya, Kalau Rega sampai tahu, dia akan sangat marah kepadamu dan,,dan hubungan kalian akan berantakan lagi. .Sudahlah, Jangan terlalu posesif padanya, Dia juga punya keinginan untuk kebebasan.” Ucap Melly yang tidak setuju dengan niatku.

“Menurutmu apa alasanku memutuskan utuk tinggal di asrama dua tahun lalu.? Padahal seharusnya aku tidak perlu tinggal disana. Aku memberikan dia kebebasan agar dia tidak terlalu terlalu bergantung kepadaku. Dan lihat kan apa yang terjadi saat dia kuberi kebebasan?” ucapku.

“Benarkah itu alasanmu meninggalkannya sendirian di rumah? Atau alasan sebenanya kamu meninggalkannya itu adalah untuk menghindarinya, karena kamu.. masih mencintainya?”

Aku langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan Melly. Ada apa dengan hari ini? kenapa semua orang bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tidak bisa kujawab dengan mudah. Meskipun aku tidak ingin mengakuinya tapi aku khawatir jika yang dikatakan Melly adalah memang alasan sesungguhnya aku meninggalkan Rega. Kukira aku akan bisa mencintainya hanya sebagai adikku seperti yang pernah kukatakan padanya. Tapi aku menyadari perasaan yang pernah ada tidak bisa menguap begitu saja di udara. Saat aku tidak menahan perasaan ini lagi aku menghindarinya, pergi darinya. Aku akan terus melakukannya saat perasaan itu menguat, bukan hanya untuknya tapi demi menjaga hatiku sendiri.

Huftt, kenapa aku tidak bisa menghilangkan persasaan ini? ternyata benar yang dikatakan Melly, Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta.

.

.

.

.

3 JAM SEBELUMNYA

—-POV REGA—-

Tidak membutuhkan waktu lama, hanya setengah jam perjalanan dari Rumah aku sudah tiba di depan sebuah rumah sesuai dengan alamat yang diberikan Rein. Mencari alamat rumah ini ternyata tidaklah sulit karena komplek perumahan ini lokasinya tepat diseberang pintu barat tempatku kuliah. Dari sini, seharusnya hanya membutuhkan waktu sepuluh menit jalan kaki aku sudah tiba di gedung Ekonomi. Sungguh sebuah lokasi yang strategis sebagai tempat tinggal mahasiswa. Terutama untuk mahasiswa sepertiku yang tak jarang datang terlambat ke kelas.

Tetapi begitu melihat bangunan rumah ini, Gilaaaaaaakk ini sangatlah berlebihan. Meskipun tidak sebesar rumahnya Rein, tapi rumah ini masih bisa disebut sebagai rumah mewah. Begitu memakirkan mobil, kudekati pagar rumah yang masih tertutup rapat dan terkunci gembok. Aku tidak melihat siapapun di dalam rumah, sepertinya Pak Gunawan pemilik rumah belum datang. Tulisan 7-H pada sebuah plat persegi menghiasi salah satu balok pagar. Sebuah papan pengumuman kalau rumah ini dijual atau disewakan juga terpajang di pagar.

Dari tempatku berdiri, kuamati keadaan sekitar rumah ini. Halaman rumah yang dipenuhi dengan rumput hijau yang cantik dan terawat ini tidaklah seluas halaman rumahnya Rein. Jarak pagar depan dan beranda rumah hanya sekitar kurang dari lima meter. Terhitung enam undakan tangga mengarah ke beranda rumah, langsung mengarah ke pintu utama rumah ini. Terdapat juga sebuah garasi yang cukup besar. Menurutku cukup untuk parkir dua mobil.

Setelah melihat dan mengamati kemegahan rumah ini dari luar, kukirimkan pesan kepada Rein, kukatakan kepadanya kalau aku tidak mau tinggal di rumah ini. Bukan karena aku tidak suka dengan rumahnya, tetapi untukku ini sangatlah berlebihan. Aku mengerti kalau setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? hanya untuk tempat tinggalku selama kuliah papa harus menyewa rumah sebesar ini? Damn, harga sewanya pun pasti sangat mahal. Lebih baik aku tinggal di tempat indekos mahasiswa yang banyak tersebar disekitar kampus atau kalau perlu aku tidak jadi meninggalkan rumah.

Saat aku akan membuka pintu mobil bermaksud untuk pergi meninggalkan rumah ini , Tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah. Tak lama seseorang keluar dari mobil itu dan menghampirku. Eh? Dia kan?

“Jess…?”

Ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Jessica. Dia satu tingkat diatasku. Sebenarnya Aku tidak begitu mengenalnya tetapi beberapa kali kami berada di satu kelas yang sama. Selain itu Jessica adalah sahabat baiknya Luna. Mereka selalu terlihat bersama saat Jessica sedang tidak bersama pacarnya. Siang ini Jessica terlihat begitu rapi dengan pakaian putih lengan panjang motif bunga dipadu dengan rok span pendek warna hitam yang tidak bisa menutupi sebagian besar pahanya yang putih mengkilap terkena sinar matahari. Tidak jauh berbeda dengan penampilannya sehari hari di kampus. Meskipun kali ini dia tampil dengan full make up.

“Kamu ngapain disini?” Tanya dia heran, sebenarnya aku ingin menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya. Apakah dia tidak sengaja lewat dan menghentikan mobilnya saat melihatku? Ahh sepertinya tidak mungkin

“ehm aku–“

Sebelum aku menjelaskan maksud keberadaanku disini. Dia memotong ucapanku “Wait, kamu jadian sama Luna?” tanya Jessica, sambil berjalan menghampiriku.

Jadi dia sengaja berhenti dan turun dari mobilnya hanya untuk menanyakan itu? Sebagai sahabatnya Luna, wajar dia menanyakan kejelasan hubunganku dan Luna karena beberapa hari ini Luna lebih banyak terlihat denganku daripada bersamanya. Tapi kenapa dia tidak bertanya langsung pada Luna?

Enggak, ehm belum.. ” Jawabku.

“BELUM? Jadi ada rencana untuk jadian?”

“Maybe. Kenapa? gak boleh aku jadian dengan Luna?” Mendengar ucapanku, Jessica semakin mendekatiku dan berdiri tepat di hadapanku sambil menatap wajahku.

“semua cewek di kampus tau kalau kamu itu playboy, kamu nggak pantes buat Luna, dia berhak mendapatkan cowok yang lebih baik. Bukannya kamu masih kumpul kebo sama cewek berwajah bule itu? Siapa namanya? AL..?”

“Aa..aku tidak bersamanya lagi” Ucapku terbata, aku begitu kaget dengan ucapan Jessica. Bagaimana dia bisa tau? “lagipula dia tidak selalu tidur dirumahku” terutama saat Rein sedang di rumah.

“Why?? Kamu sudah bosan dengannya lalu kamu meninggalkannya?”

“sebaliknya, dia yang pergi meninggalkanku,” Ucapku.

“ha ha ha Lucu. kamu pikir aku akan percaya? tipe cowok seperti kamu ini yang biasanya menghancurkan hati dan perasaan seorang cewek. Heran, apa sih yang dilihat Luna darimu selain good looking” Ucapnya mencela dan memujiku di waktu yang bersamaan.

“ehm thanks,, mungkin karena aku spesial, sudah hak setiap cewek cantik seperti Luna mendapatkan cowok spesial sepertiku“ jawabku ngasal penuh dengan kepercayaan diri, Jessica tersenyum sinis. “Oke aku memang bukan cowok sempurna, tapi bukan berarti aku tidak pantas menjalin hubungan dengan Luna. Sejujurnya Aku juga tidak tau kenapa akhir-akhir ini dia dekat denganku Semenjak kembali dari Dreamfields”

“Aku sudah dengar dari anak anak HIMA tentang ciuman panas kalian berdua ditengah tengah jutaan orang.” Ucapnya

Sepertinya cerita tentang malam itu sudah tersebar. Untungnya mereka hanya tau tentang kejadian ciuman itu. Tidak ada yang tau apa yang aku dan Luna lakukan di malam sebelumnya.

“Selain ciuman. Kamu juga tidur dengan dia?” tanya Jessica.

“eh,, Enggak, haha mana mungkin Luna mau tidur dengan cowok sepertiku” Jawabku sedikit panik.

“Jangan mengelak, Luna sudah menceritakan semuanya”

“whattt? Sial, padahal dia yang minta agar aku merahasiakannya”

Jessica tertawa setelah mendengar ucapanku “Hahaha, sebenarnya Luna belum cerita apapun tentang acara itu. dasar cowok idiot, gampang banget ditipu. hmm. bakalan menjadi sebuah obrolan yang menarik saat nanti aku bertemu dengan dia. hahaha”

Faaaaaaaaaaakk, Dia menjebakku dengan perkataannya. “please, jangan katakan apapun kepada Luna, dan jangan sampai orang lain tau tentang itu. nanti Luna marah kepadaku” Ucapku semakin panik.

“Why ?? bukannya kamu akan merasa bangga jika orang2 tau kalo kamu pernah tidur dengan cewek seperti Luna” Serunya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku “kamu sungguh beruntung bisa tidur dengan Luna, kamu tau kan semua cowok dikampus sangat ingin menidurinya. Aku jadi semakin penasaran apa yang membuatnya rela membuka bajunya untuk cowok sepertimu, dan membiarkanmu menikmati tubuhnya. Tapi Meskipun begitu, bukan berarti dia punya perasaan padamu. Percaya deh, kamu itu bukan tipenya. Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap. Seperti yang kubilang tadi, kamu nggak pantes buat Luna” Ucapnya.

Aku sangat tau tentang itu. Meskipun aku dan Luna sempat mempunyai moment intim bersama, bukan berarti dia jatuh hati kepadaku. Aku akui kalau aku tertarik dengannya, siapa coba yang tidak tertarik dengan cewek sesempurna Luna. Meskipun aku masih ragu dengan alasan kedekatannya denganku, tapi tidak ada salahnya kan? Barangkali saja dia memang ingin benar-benar dekat denganku. Selain cantik, dia juga pintar dan baik. Rein pasti sangat setuju aku menjalin hubungan dengan Luna. Tetapi masalahnya, apakah aku siap untuk mencintai lagi?

“bytheway, ngapain kamu disini? rumahmu tidak berada dikomplek ini kan? Itu mobilmu? Aku baru tau kalau kamu punya mobil se keren itu.” Tanya Jessica sambil melihat mobilnya Rein.

“Ahh, ini mobilnya kakakku. Dan ya, rumahku bukan di sekitar sini, seharusnya aku bertemu dengan seseorang disini untuk melihat rumah itu” Ucapku sambil menunjuk rumah disamping kamu “sepertinya dia tidak jadi datang. Aku pergi dulu ya Jess. ” Ucapku lalu membuka pintu mobil.

“Wait wait !! itu rumahku, aku kesini untuk bertemu dengan Mr Justin yang akan menyewa rumahku. Sangat jelas kalau kamu bukan Mr Justin”

Mendengar ucapannya membuatku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam mobil “Mr Justin adalah papaku, seharusnya aku bertemu dengan Pak Gunawan. Sudah pasti kamu bukan Pak Gunawan” tanyaku.

“Pak Gunawan itu papaku !!” Seru Jessica.

“woww, kebetulan banget”

“kamu jadi menyewa rumahku kan” tanya dia.

“ ah soal itu.. uhmm sorry sepertinya aku.. maksudku papaku tidak jadii menyewa rumahmu Jess”

“KENAPAAA?” tanya dia dengan cepat seperti kilat di waktu badai dengan nada meninggi. “Papamu sudah setuju dengan harga sewanya. Wait wait, papaku bilang kalau rekan bisnisnya akan menyewa rumah ini sebagai tempat tinggal anaknya selama kuliah, tapi keputusan finalnya tergantung anaknya suka atau tidak dengan rumah ini. Dan ternyata kamu adalah anak dari teman papaku. Kamu nggak suka dengan rumahku?”

“Suka, rumahmu sangat bagus, besar dan mewah. Tapi itu masalahnya, rumah ini terlalu mewah dan besar untukku. Aku tidak membutuhkan rumah sebesar ini. Sorry,,”

“Sumpah kamu idiot banget, dikasih fasilitas yang bagus bukannya seneng malah nggak mau. Yang sewa dan bayarin itu orang tuamu, sama sekali tidak ada ruginya buatmu”

“Orang tuaku memang kaya dan banyak uang, tapi Aku gak suka memanfaatkan kekayaan mereka. Meskipun orangtuaku tidak keberatan dan akan dengan senang hati memanjakanku dengan memberikan yang terbaik pada semua yang aku ingingkan. tapi sejak dulu aku sudah terbiasa dengan kesederhanaan.”

Walaupun beberapa kali aku menghabiskan tabunganku untuk bersenang senang di klub malam. Itupun karena aku ingin melupakan kesedihanku.

“Kamu benar, aku sama sekali tidak menyangka.. Aku baru tau ternyata kamu itu anak orang kaya” ucapnya.

Tiba-tiba Jessica mengambil dengan paksa kunci mobilnya Rein dari tanganku lalu dia berjalan cepat mendekati pagar rumah.

“Jesss !! apa-apan sih? kembalikan kunci mobilku !!” Ucapku sambil berjalan mendekatinya, Jessica sudah membuka kunci pagar dan masuk ke dalam halaman rumah langsung menuju beranda. Kupegang tangannya saat dia berusaha membuka pintu utama.

“Kamu hanya melihatnya dari luar, akan aku tunjukkan interior rumah ini. siapa tahu kamu akan berubah pikiran” Ucapnya.

“Sama aja Jess. Sebagus apapun itu, Aku tetap gak mau tinggal di rumah sebesar ini” Ucapku.

“please !! Biarkan aku menunjukkan bagian dalam rumah ini terlebih dulu, setelah itu terserah kamu jadi menyewa rumah ini atau tidak”

Perlahan kulepaskan tangannya dan membiarkan dia membuka pintu utama. Kupikir tidak ada salahnya sebentar saja melihat bagian dalam rumah ini agar dia senang. Setelah dia mengajakku keliling rumah, aku akan pamit dan segera pergi dari sini. Karena keputusanku sudah bulat, aku tidak mau tinggal di rumah ini. Aku tidak akan tergoda dengan kemewahan rumah ini.

Begitu melewati pintu utama dan masuk ke dalam rumah. Aku terpana.

Ternyata tidak hanya fisik bangunan luarnya yang mewah. Interior di dalam rumah ini begitu menakjubkan dengan desainnya yang mewah dan futuristik. Tema interior modern terlihat dari penataan ruang yang pas dengan segala furnitur mewah dan ornamen ornamen yang dipilih. Warna cat didalam rumah yang cerah Semakin membawa kesan mewah dan elegan. Mungkin ini bisa disebut dengan hunian idaman. Tidak ada sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ruang tamu letaknya sebelah kanan setelah memasuki pintu utama. Meskipun tidak besar, ruang tamu rumah ini tetap kelihatan stylish dengan perpaduan furnitur dan aksesoris yang modern.

Sebuah tangga penguhubung lantai satu dan dua menempel di salah satu sisi dinding ruang keluarga. Walaupun hanya sekedar penghubung antar lantai, tetapi desainnya dibuat sangat kece dengan pegangan dari kayu dan penyangga terbuat dari kaca transparan yang terhubung sampai ke selasar di lantai dua.

Kemudian Jessica mengajakku memasuki kamar utama di lantai satu yang dulu dipakai kedua orang tuanya. Ukurannya cukup luas dengan kamar mandi dalam beserta segala fasilitasnya.

“kalau kamu tipe orang yang suka dengan kamar tidur di lantai dua, kamu bisa menggunakan kamar yang dulu kupakai diatas, tidak seluas kamar ini tapi ada kamar mandi didalam” Ucapnya.

Jessica menjelaskan kalau di lantai satu hanya ada satu kamar. Sedangkan di lantai dua tersedia empat kamar. Namun diatas hanya ada satu kamar yang ada kamar mandi didalamnya. Di salah satu dinding ruang keluarga terdapat sebuah pintu dengan beberapa anak tangga menurun yang terhubung dengan garasi, ruang laundry dan dua kamar untuk ART dan sebuah kamar mandi kecil. Kemudian di bagian belakang rumah terdapat ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Lalu di bagian rumah paling belakang terdapat halaman dengan sebuah gazebo berdiri diatas rumput liar yang hijau. Jessica mengatakan kalau dulu keluarganya sering barbeque di halaman belakang rumah ini.

Sambil mengajakku melihat lihat setiap sudut didalam rumahnya yang menurutku.. nice banget, Jessica bercerita kalau setahun yang lalu keluarganya pindah ke rumah baru yang lebih besar di pusat kota. Karena kakaknya tidak mau menempati rumah ini dan lebih memilih tinggal di apartemen, sejak saat itu rumah ini dijual atau disewakan

“Sampai sekarang, tidak ada yang membeli rumah ini ataupun menyewanya. Sebenarnya sudah banyak yang datang melihat dan mengatakan suka, tapi kebanyakan dari mereka tidak cocok dengan harga yang ditawarkan papaku. Papamu satu-satunya orang yang setuju dengan harganya tanpa sedikitpun menawarnya” Jelas Jessica kepadaku sambil mengajakku duduk di ruang keluarga.

Jessica duduk dihadapanku menyilangkan kakinya. Karena roknya Jessica sangat pendek sekilas aku bisa melihat celana dalamnya yang berwarna cerah. Entah dia lupa kalau siang ini dia memakai rok yang sangat pendek atau dia memang sengaja menunjukkan isi di balik roknya dan sebagian besar pahanya kepadaku.

“So. Bagaiamana menurutmu?” tanya Jessica.

“Mulus. Ahh maksudku baguss.. baguss” Fakkk. Otakku jadi kacau gara-gara pahanya Jessica.

“Kamu tidak perlu repot-repot membawa banyak barang, karena Rumah ini dan seluruh isinya bisa kamu gunakan, tempat tidur, furnitur, elektronik dan semuanya. Kamu hanya perlu membawa pakaian. Dan Luna pasti suka kamu ajak bermesra-mesraan disini” Ucapnya.

“Jadi sekarang kamu merestui aku jadian dengan Luna?”

“Tentu, asal kamu jadi menyewa rumah ini”

Padahal tadi dia mencela dan mengatakan kalau aku gak pantes jadian dengan sahabatnya. Sekarang dia mendukungku jadian dengan Luna dengan syarat aku menyewa rumahnya ini. Sahabat macam apa sih dia? Tapi, aku tidak membutuhkan restu darinya untuk dekat dengan Luna.

Jess. Jujur aku tidak menyangka rumahnya bakal sebagus ini, aku sangat suka dengan rumah ini–“

“tapi?” Potong Jessica

“Seperti yang aku bilang tadi, bagiku ini berlebihan. Sejujurnya aku tidak memerlukan semua ini, tidak membutuhkan tempat tinggal lain hanya untuk Kuliah, aku masih nyaman tinggal di rumahku meskipun tidak sedekat ini dengan kampus. Sebenarnya kakakku yang merencanakan ini, dia menginginkan agar aku tinggal bersama teman-temanku biar aku tidak kesepian karena dia tinggal di asrama mahasiswa dan kedua orangtuaku berada di Luar Negeri. Kakakku tidak akan membiarkan rumahku, atau sebenarnya rumahnya ditinggali banyak orang asing, itu sebabnya dia dan kedua orangtuaku berencana menyewa sebuah rumah untukku. Tapi, kamu tau kan selama ini aku seringnya bergaul dengan siapa? Anak-anak Hima. Dan aku yakin kamu juga sudah tau apa saja yang dilakukan sebagian anak-anak HIMA didalam maupun diluar kampus. Aku sudah selesai dengan mereka, aku gak ingin berurusan dengan mereka lagi. Jadi aku tidak punya teman lagi untuk kuajak tinggal bersamaku.”

“ya, aku sudah dengar rumor tentang kegilaan anak-anak HIMA. Aku juga tidak akan suka jika rumahku ini kamu jadikan sarang kegilaan mereka, tapi bukankah selain bersama mereka kamu selalu bersama Billa dan temanmu yang rada ga waras itu?”

“Maksudmu Billa dan Dicky?” tanyaku balik “memang benar Dicky tidak seperti anak HIMA yang lain, tapi dia masih sering keluar bersama mereka, bukan ide yang baik mengajak Dicky tinggal bersama. Sedangkan Billa, meskipun dia bukan anggota Hima, tapi dia.. dia itu, uhm, pokoknya enggak banget kalau sama dia. Jadi sorry aku tidak bisa tinggal disini Jess.. aku akan berusaha meyakinkan kakakku untuk tidak khawatir meninggalkanku sendirian dirumah”

Jessica terlihat tidak senang dengan penjelasanku. “jika kamu tidak punya teman lagi untuk kamu ajak tinggal bersama, bagaimana kalau kamu mencari teman baru atau mahasiswa lain?” Ucapnya.

“Maksudnya? Bagiamana aku bisa tinggal bersama orang yang tidak kukenal?” tanyaku heran.

“kamu tidak perlu mengenalnya, malahan kamu bisa mendapatkan uang dari mereka” Ucap Jessica sambil berdiri lalu duduk di sebelahku “Dari lima kamar di rumah ini, Kamu hanya perlu satu. sisanya kamu bisa sewakan kepada orang lain, mahasiswa lain. Aku yakin masih banyak mahasiswa yang membutuhkan tempat kost”

Eh? Aku tidak menyangka Jessica mempunyai ide seperti itu. Menyewa rumah ini untuk dijadikan tempat kos? Menjadikan rumah ini sebagai alternatif pemasukan. Dengan begitu aku bisa mandiri dan tidak perlu lagi meminta uang bulanan dari Bunda ataupun Papa. Aku tetap bisa tinggal disini bersama mahasiswa lain yang tidak kukenal. Paling tidak pada akhirnya aku akan mengenal mereka karena tinggal di satu rumah yang sama. Sebuah kesempatan untuk mendapatkan teman baru.

“tapi Jess–“

“Empat kamar dengan harga yang tepat, dalam satu tahun kamu bisa mendapatkan hampir setengah dari uang sewa rumah ini yang bisa kamu gunakan untuk senang-senang, atau kebutuhanmu selama kuliah, ataupun kamu bisa berikan kepada orang tuamu”

“Aku ragu kakakku akan setuju dengan idemu. lagipula aku tidak tau caranya mengelola ataupun menjalankan sebuah tempat kos. Sorry aku bener bener gak bisa” Ucapku sambil berdiri. Jessica terlihat semakin bete.

“Apa yang bisa kulakukan untuk mengubah keputusanmu? Aku sudah putus asa menunggu rumah ini laku” Ucapnya dengan lemas sambil menatapku.

“Kenapa?” Tanyaku. Kenapa dia begitu menginginkan rumah ini kusewa?. Jessica tidak menjawabku, dia hanya menatapku kemudian berdiri lalu menarik tanganku.

“Kamu belum lihat lantai dua, siapa tahu kamu akan berubah pikiran setelah melihatnya” Ucapnya sambil menarikku menuju tangga.

“Jess.. aku meragukannya, aku tidak akan merubah keputusanku meskipun kamu mengajakku keatas”

“aku akan memastikanmu untuk merubahnya..” ucapnya.

Setelah tiba di lantai dua, Jessica mengajakku melihat kamar-kamar yang ada di lantai atas rumah ini. Ruangan kamar di lantai atas ini dibuat bersebelahan, masing masing dua kamar saling bersebelahan dan saling berhadapan dengan dua kamar yang lain. Seperti kamarku dan kamarnya Rein dirumah yang pintunya saling berhadapan dan terpisah beberapa meter. Satu kamar dibelakang jendelanya menghadap ke bagian samping rumah ini, sedangkan satu kamar lain jendelanya menghadap ke halaman belakang rumah. Tidak ada balkon di dua kamar paling belakang. Namun di lantai atas ini tersedia balkon terpisah dari kamar menghadap ke halaman belakang rumah dan halaman depan rumah.

Dua kamar didepan, jendelanya menghadap ke depan rumah dan tersedia balkon di masing-masing kamarnya. Tersedia juga kamar mandi yang cukup luas di lantai atas ini. Didalam kamar mandi terdapat tempat shower dan bathtub secara terpisah jadi orang bebas memilih ingin berendam atau merasakan guyuran air diatas kepala mereka. Aku melihat anak tangga melingkar menuju keatas disamping kamar mandi.

“diatas ada sebuah ruangan yang dulu dijadikan kakakku sebagai studio musik. Kalau kamu suka dengan seks yang berisik atau Kalau kamu ingin gila-gilaan dengan Luna tanpa takut didengar orang lain, kamu bisa gunakan ruang itu karena disana kedap suara. Kakakku sering mengajak ceweknya ke ruangan itu”

Hmmm Rein pasti suka berada disana, karena dia sangat senang mendesah kencang saat bercinta. Membayangkan itu membuat tubuhku merinding, aku jadi ingin segera pulang dan bertemu dengan kakakku dan mendengarkan suara rintihannya yang selalu membuatku bergairah. hehe

Kemudian Jessica mengajakku masuk ke dalam kamar depan yang dulu dia pakai.

“Dan ini kamarku, satu-satunya kamar di lantai dua yang ada kamar mandi di dalamnya” Ucapnya

Hampir sama seperti kamar-kamar yang lain di rumah ini tapi yang membedakan adalah adanya sebuah pintu lain di dalam kamar yang bisa kutebak adalah kamar mandi. Jessica membuka pintu kamar mandi itu, masuk kedalam kemudian menutupnya. Mungkin dia sedang buang air kecil. Sedangkan aku melihat lihat kamarnya. Cahaya sinar matahari yang cerah masuk melewati pintu geser yang terbuat dari kaca yang menghubungkan dengan balkon. Dari balik pintu itu aku bisa melihat view jalanan depan rumah, komplek perumahan dan aku bisa melihat gedung-gedung tempatku Kuliah. Terutama gedung G yang paling tinggi.

“Rega, Sini !! kamu gak ingin melihat kamar madinya?” Teriak Jessica dari dalam kamar mandi.

Akupun menuju kamar mandi dan dikagetkan oleh Jessica yang berdiri dekat pintu kamar mandi yang kini telah melepas pakaian warna putihnya tadi menyisakan tanktop warna putih yang tidak bisa menutupi belahan payudaranya. Aku tidak melihat tali bra di pundaknya.

Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya dia setelah melihatku memandang tubuhnya yang kali ini terlihat jelas kalau Jessica mempunyai pinggang yang langsing.

“kenapa kamu lepaskan pakaianmu?” tanyaku balik.

“oh ini, kamu ga merasa kepanasan? Diluar matahari terik banget, sudah lama hujan tidak turun”

Aneh, meskipun memang diluar cuaca begitu terik dan panas tetapi didalam rumah hawanya cukup dingin karena AC yang dia nyalakan tadi. Yang ada otakku yang kepanasan disuguhi pemandangan bagian dada Jessica yang sedikit terbuka.

masuklah” perintahnya.

Kuturuti keinginanannya untuk masuk ke dalam kamar mandi tapi dia tetap berdiri di dekat pintu dan hanya memiringkan tubuhnya, jadi aku harus berhati-hati agar tubuhku tidak bersentuhan dengannya. Dia menatapku sambil tersenyum ketika melewati tubuhnya.

Di dalam kamar mandi terdapat wastafel, kloset duduk dan sebuah ruang dengan dinding kaca yang didalamnya terdapat bathtub yang jadi satu dengan shower.

“meskipun bathtub-nya tidak sebesar kamar mandi diluar, tapi cukup kok untuk berendam berdua jika duduknya berpangkuan” Ucapnya dari belakangku “ingin mencobanya?” ucapnya sambil tiba-tiba tangannya merangkul lenganku.

“ah, tidak terima kasih…” ucapku lalu dengan cepat melepaskan tanganku dari dekapan tangannya lalu berjalan keluar kamar mandi. Sepertinya aku mulai tau apa yang direncanakannya. Idenya untuk mencoba bathtub berdua dengannya itu sangat menggoda, bahkan sebenarnya alasan dia melepaskan pakaiannya itu bermaksud untuk menggodaku. Aku harus segera pergi dari rumah ini sebelum aku tidak bisa menahan godaan makhluk Tuhan yang paling pintar memanfaatkan tubuhnya untuk memperdaya otakku yang sangat lemah terhadap rangsangan-rangsangan visual maupun rangsangan fisik.

Tetapi begitu aku membuka pintu kamar, eh? Pintunya tidak mau terbuka alias terkunci. Sial, kapan dia mengunci pintu ini?. Jessica keluar dari dalam kamar mandi, melihatku sebentar tanpa berkata apa-apa lalu berjalan menuju ke tempat tidur.

“Jess Pintunya?”

Dengan santainya tanpa merasa berdosa dia duduk diatas tempat tidur. Aku mendekatinya.

“Apa ini maksudnya?” Tanyaku.

“kamu tau apa maksudku. Sini duduk “ Ucapnya sambil menyuruhku duduk disebelahnya, tidak kuturuti kemauannya “aku benar-benar putus asa menunggu rumah ini laku. Karena sebelum rumah ini ada yang membeli atau menyewa, papaku tidak akan membelikan atau menyewakan apartemen untukku”

Akhirnya dia menyebutkan alasan sebenarnya kenapa dia sangat sangat mengingnkan rumah ini jadi kusewa. Memang sudah menjadi fenomena dan trend kalau mahasiswa jaman now lebih suka tinggal di apartemen daripada tinggal di tempat kos.

“Aku bersedia melakukan apa saja agar kamu menyewa rumah ini” ucap Jessica lalu berdiri dan mendekatiku “apa saja” ucapnya sekali lagi sambil membuka kancing rok span yang dia pakai dan dengan gerakan perlahan sambil menatap mataku dia menurunkan rok itu sampai lepas dari kakinya.

Shit, Kini Jessica hanya memakai TankTop yang panjangnya sampai menutupi pahanya. Membuatku semakin penasaran seperti apa yang tersembunyi di balik tanktop itu.

Jessica meraih tangan kananku dengan kedua tangannya “kamu sudah tau apa yang kuinginkan dan jika kamu memberikan apa yang kuinginkan, maka aku akan berikan apa yang kamu inginkan” Ucapnya sambil membimbing tanganku menyentuh payudaranya yang sebelah kiri.

Tanpa dia arahkan lagi, tanganku dnegan sendirinya membelai dan meremas payudara Jessica. Tidak besar tapi sangat lembut, entah kenapa saat meremasnya semua keraguan didalam kepalaku hilang, banyak yang bilang meremas payudara cewek itu bisa membuat perasaan senang dan mampu menghilangkan stress. Dan itu sangatlah benar.

“kamu bisa merasakan detak jantungku?” tanya dia, aku mengangguk pelan.

“ka..kamu kan sudah punya cowok Jess. Kenapa kamu–“ Ucapku sambil mengangkat tanganku dari payudaranya tapi dia menahan tanganku.

“No.. stay !!” Ucapnya sambil menahan tanganku untuk tetap menyentuh payudaranya “kenapa? kamu belum pernah bercinta dengan pacar orang lain?”

Bener-bener gila ni cewek. “kenapa kamu rela melakukan ini hanya demi–”

“Uang bisa membuatku bahagia, aku aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanku. Aku juga tau apa yang bisa membuatmu bahagia..” Kali ini tanganku diarahkan untuk menyusuri bagian bawah tubuhnya, semakin ke bawah sampai tanganku tiba di titik diantara kedua pahanya, menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhnya yang masih tertutupi kain.

“enghhh..”

Jessica mengerang saat jariku mengusap belahan memeknya yang masih terhalang celana dalamnya.

“Deal?” Tanya dia, “achh,, shhhh sebagai bonus, aku akan menemanimu tidur setiap sebulan sekali selama masa sewa berlangsung“ Ucapnya. sebenarnya aku sudah tidak fokus lagi dengan apa yang dia ucapkan. Karena aku merasakan memeknya Jessica susah mulai basah, hangat dan sepertinya enak untuk ditusuk dalam berbagai macam posisi. Faaakk, godaan ini terlalu berat untukku. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak tergoda dengan rumah ini.

“Bagaimana jika Luna sampai tau?” tanyaku. Aku tidak bisa membayangkan jika Luna tau aku tidur dengan sahabatnya.

“maka sebaiknya jangan beritahu dia, ini akan menjadi rahasia kecil kita” Ucapnya “Apakah kita sudah sepakat?” tanya dia

Sepertinya aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menolak godaan ini, semoga suatu saat aku tidak akan menyesali keputusanku ini.

“fakkk…” Ucapku sambil menganggukkan kepala. Jessica tersenyum puas.

“Yes. Fuck Me Rega…!!” Ucap Jessica lalu dia naik ke atas ranjang. Tubuh mungil Jessica terlentang diatas tempat tidur, Kulit tubuhnya bersinar terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca. Matanya pasrah penuh gairah menatapku.

Aku ikut naik ke atas tempat tidur dan merangkak di atas tubuhnya.“Pertama kali selingkuh?” Tanyaku saat aku sudah berada diatas tubuhnya.

“kamu tidak tau apa-apa tentangku Rega, lebih baik tetap seperti itu. tapi aku sudah tau semua tentangmu”

Tak kupedulikan ucapannya langsung kuserang mulutnya dengan mulutku. Jessica menyambut mulutku, membuka mulutnya. Kami berciuman, merasakan rasa dari bibir kami satu sama lain. Bibirnya Jessica yang imut terasa manis di bibirku. Tangannya yang kecil merangkul pundakku dan menekan tubuhku agar menindih tubuhnya secara penuh. Aku bisa merasakan payudaranya yang lebar dan detak jantunya di dadaku. Aku terlena dengan hangat payudaranya, mulutku terbuka dan Jessica mengambil alih atas ciuman kami. Lidahnya yang tak kalah manis dengan bibirnya masuk ke dalam mulutku, membelai lidahku sesekali kurasakan giginya yang putih membelai bibirku.

Beberapa saat kemudian ciuman kami terlepas. Deru nafas kami sudah tidak teratur. Kami saling berpadangan.

“seandainya bukan aku yang datang melihat rumah ini, tapi papaku. Apa kamu akan tetap seperti ini?” tanyaku.

“sudah kubilang, aku akan melakukan apa saja. Aku sudah melihat foto Mr Justin bersama dengan papaku. Aku yakin dia bukan orang tua kandungmu. Kamu harusnya beruntung, sebenarnya aku ingin merasakan bersama Bule.” Ucapnya lalu tersenyum.

“Gilaak. kamu cewek nakal” Ucapku.

“hahaha,ya aku memang cewek nakal. hukum aku karena kenakalanku!!” Ucapnya lalu dia menegakkan kepalanya dan berhasil meraih bibirku lagi.

Jessica begitu binal, Kami berciuman panas sekali lagi, bergantian saling mengulum lidah satu sama lain. Kemudian bibirku turun menciumi leher jenjang Jessica dan menjilatinya dengan lidahku membuat Jessica kegelian.

“jangan tinggalkan tanda apapun, dari sini aku akan bertemu dengan Rafli” Ucapnya memperingatiku. Rafli adalah nama cowoknya yang juga kuliah ditempat yang sama denganku.

Sambil tetap mencumbu leher dan wajahnya, tanganku menyentuh payudara Jessica yang masih tertutup tanktop tipisnya. Sedikit kusingkap bagian dada tanktopnya sampai terlihat puting payudara Jessica yang berwarna merah muda yang sudah terlihat tegak. Kukecup sekali bibirnya Jessica lalu kualihkan bibirku untuk mengulum puncak payudara Jessica yang sudah mengeras.

“enghhh…” Dia mengerang.

Desahannya semakin keras saat putingnya kugesek gesekkan dengan gigiku. Dia merasa kegelian sampai menjambak rambutku. Pada saat payudaranya kuhisap dengan sangat kuat, dia semakin mendesah keras dan semakin menjambak rambutku dengan kuat.

“Achhhhhh..”

Desahan Jessica semakin membuatku bersemangat menghisap, menggigit dan menjilati setiap inchi payudara dan puting Jessica. Tanganku tidak tinggal diam. Kugunakan tanganku untuk meremas payudara Jessica yang lain sambil sesekali menjepit puting payudaranya dengan jari-jari tanganku, membuat Jessica semakin kegelian karenanya.

Puas bermain-main dengan payudara Jessica, kulepaskan semua pakaianku. Jessica masih terdiam memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Dadanya naik turun dengan cepat. Begitu dia membuka matanya, Jessica terlihat kaget dengan penisku yang sudah menegang.

“astaga, gede banget..” tanya dia. “bawa sini, aku ingin melihatnya dari dekat” Pintanya.

Seperti yang dia minta, aku duduk bersila dan mendekatkan penisku ke wajahnya. Dia langsung memegang dan mengocok penisku.

“bahkan ini belum tegang maksimal” Ucapnya.

“Achhh..” aku mendesah merasakan gerakan tangan Jessica yang dingin pada penisku. Jessica tersenyum melihat ekpressiku yang sedang merasakan nikmatnya kocokan tangannya.

“Jess.. maukah kamu.. ehmm ahhh”

“apa? Mau minta diemutin?” tanya dia. Tanpa ragu aku mengangguk dengan cepat.

Perlahan Jessica mendekatkan wajahnya pada penisku lalu pertama dia menjilatkan lidahnya ke ujung kepala penisku. Lidahnya yang basah beberapa kali mengusap ujung penisku. Kemudian Jessica mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Dia awali dengan menghisap ujung kepala penisku sambil tetap menggerakkan tangannya mengocok penisku. Lalu dia ulangi gerakan menjilati ujung penisku dengan lidahnya, memasukkan penisku ke dalam mulutnya, menghisap ujungnya, lalu mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya. Dia melakukan gerakan seperti itu selama beberapa saat hingga perlahan lahan dia mulai memasukkan penisku lebih dalam lagi di dalam mulutnya. Sampai penisku hampir semuanya masuk di dalam mulutnya Jessica yang hangat. Penisku terlihat mengkilap karena air liurnya Jessica.

“sshhh ahhh..”

Kuakui Dia sangat hebat melakukannya. Sementara Jessica sedang asik mengulum penisku seperti sedang mengulum permen lolipop, tangan kiriku menelusuri bagian bawah tubuhnya. Kusingkap keatas bagian bawah tanktopnya lalu kutarik kebawah celana dalamnya sampai ke pahanya. Dia membantuku melepaskan celana dalamnya sendiri sampai lepas dari kakinya. Kini terlihat jelas memek Jessica yang bersih tanpa bulu. Kusentuhkan tanganku diatas belahan memeknya dan kuusap pelan.

Beberapa kali mengusap belahan memeknya kuberanikan diri memasukkan jari tengah tangan kiriku ke dalam memeknya yang sudah basah. Jessica langsung merintih di sela sela emutannya pada penisku.

“enghhhhh ahhhhh.. ssshhh”

Jariku mulai keluar masuk kedalam memeknya dengan pelan. Bagian bawah tubuh Jessica perlahan terangkat keatas dengan sendirinya. Sambil masih mengulum penisku, Jessica menatapku penuh dengan gairah. Dia sudah tidak kuat lagi merasakan getaran kenikmatan di pangkal pahanya sampai dia menghentikan aksinya mengoral penisku.

“Ahhhh,, iya disitu,,uhhhh”

Memeknya Jessica semakin basah, padahal gerakan jariku masih sangat pelan. “Sssh, lebih kenceng lagi please” Pintanya. Aku tau gerakan jariku yang lambat ini pasti sangat menyiksanya.

“kenceng,,,ngin” Pintanya. Aku hanya tersenyum sama sekali tidak menghiraukan permintannya.

Aku menggelangkan kepalaku “No. bukankah tadi kamu minta untuk dihukum?”

Jessica menangkap tangaku yang sedang fingering di memeknya lalu dia berusaha menggerakkan jariku dengan lebih cepat. Tapi, aku malah menghentikan gerakan jariku. Jessica menatapku kesal. Aku tertawa puas.

“gak lucu. Masukin sekarang !!” Pintanya.

“Tunggu dulu. Masih belum !!” Ucapku menggodanya.

Mendengar ucapanku dia menegakkan badannya lalu mendorong tubuhku sampai aku jatuh terlentang kebelakang diatas tempat tidur. Kini Jessica naik diatas tubuhku kemudian melepaskan tanktopnya. Tubuh mungil Jessica yang polos tanpa ada yang menutupi terlihat jelas di mataku. Lekuk tubuhnya yang mulus, putih tanpa cela terlihat sangat indah, aku baru menyadari kalau sebenarnya Jessica itu cantik. Apalagi saat ini dia sedang merapikan rambutnya, dadanya membusung kedepan, terlihat pangkal lengannya atau bagian ketiaknya yang juga bersih dan terawat.

Lalu Jessica menunduk menempelkan payudaranya di dadaku, perutnya yang hangat ada diatas perutku dan penisku berada tepat di belahan memeknya yang basah.

“kalau kamu cowokku, sudah kuputusin kamu karena berani mempermainkan gairahku” Ucapnya. aku tersenyum.

Jessica mulai menggerakkan tubuhnya, menggesek gesekkan kulit tubuhnya pada tubuhku. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan keinginan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia semakin menekankan tubuhnya pada tubuhku sambil mencumbu bibir dan wajahku. Sesekali bibir Jessica turun mengecup dan menghisap puting payudaraku lalu kembali mencium bibirku. Segala rangsangannya padaku membuat penisku semakin tegak dan semakin menekan bagian atas memeknya Jessica. Aku sudah tidak tahan lagi, kuselipkan tanganku diantara tubuh kami, meraih penisku dan mengerahkannya pada memek Jessica.

“wait.” Cegah Jessica “Kamu bawa kondom?” tanya dia.

“aku tidak pernah memakainya..” Ucapku . masa iya dia tidak mau melanjutkannya karena tidak memakai pengaman? Ahh nanggung banget, sial apa mungkin dia sedang membalasku?.

“Yauda deh gapapa, pokoknya nanti jangan lupa diangkat” Ucapnya.

“ii..iyaa”

Dengan sekali gerakan penisku sudah masuk sangat dalam didalam memeknya Jessica. Dia mengerang keras sambil mendongakkan kepalanya keatas. Kemudian dia ambruk diatas tubuhku dan hanya terdiam sambil memejamkan matanya.

“Jess.. kamu gapapa?”

“Bentar, sshhh, biarkan punyaku membiasakan diri dulu dengan punyamu yang besar” Ucapnya

Sepertinya sebuah kesalahan mengawali dengan posisi dia diatas. Karena gravitasi, dia tidak bisa mengontrol masuknya penisku kedalam memeknya. Apalagi kurasakan memeknya Jessica masih sangat sempit atau memang punyaku yang terlalu besar baginya? Dia pasti merasakan kesakitan pada Memeknya. Kuusap punggung Jessica yang berkeringat, kuremas pelan pantatnya, kuciumi pipinya yang ada di samping wajahku supaya rasa sakitnya hilang. Perlahan Jessica mulai menggerakkan pinggulnya.

“ahhhh,, sshh”

Jessica sedikit menegakkan tubuhnya,kedua tangannya menopang tubuhnya diatas tubuhku. Sepertinya Dia sudah mulai merasakan nikmatnya, pinggulnya semakin bergerak seirama dengan desahan keluar dari mulutnya. Tanganku mencengkram kedua bongkahan bokongnya lalu kubantu pinggulnya untuk bergerak maju mundur diatas tubuhku.

“Ahhh enak banget Gaa,, shhhh”

Sekali merasakan nikmatnya, Gerakan pinggul Jessica semakin cepat. Ekpressi wajah Jessica terlihat sangat seksi saat dia menggigit bibir bawahnya ketika merasakan penisku menusuk memeknya sangat dalam. Payudaranya yang menggantung bergerak indah mengikuti gerakan pinggulnya. Sesekali kutegakkan kepalaku untuk mengecup dan menghisap puting payudaranya.

Tak terasa pinggulku ikut bergerak ke atas. Kuangkat tubuhku keatas bersamaan Jessica menurunkan pinggulnya. Kami berdua saling menabrakkan tubuh kami, membuat semakin nikmatnya pertemuan kelamin kami.

“Ssshhhh,, Masukin jarimu Ga” Perintahnya, tapi aku belum tau maksudnya.

“masukin kemana?”

“ahh,, pantat,,”

Hah? Dia ingin jariku masuk di dalam lobang pantatnya?. Kuturuti kemauannya dengan memasukkan jari tangah tangan kiriku ke dalam lobang pantatnya Jessica. Begitu hangat di dalam sana. Dia semakin kesetanan menggerakkan pinggulnya.

“achhhhhhhhh,, achhhhhhh.. shhhhhh sumpah enak banget..”

“ka,,mu pernah anal?” tanyaku. Dia mengangguk.

“sering,, achh,, tapi jangan coba-coba melakukannya padaku,, achhh, seandainya kamu membeli rumah ini, baru kamu boleh meng-analku” Ucapnya.

Pinggul Jessica masih bergerak indah diatas tubuhku. Kenikmatan yang terpancar dari cara goyangan tubuhnya dan ekpressi wajahnya terlihat begitu jelas. Masih kuamati wajahnya, melihat bibirnya yang sedikit terbuka serta mendengar erangan dan nafasnya yang pelan sambil sesekali menyebut namaku, Dia terlihat begitu luar biasa. Jessica bergerak semakin cepat dan menekan tubuhku semakin cepat. Membuat gesekan memeknya pada penisku terasa semakin nikmat.

“ahhh emmmhhhhhhh acchhh aku mau nyampek” Ucapnya.

Gerakan pinggulnya naik turun kini semakin cepat. Lobang pantatnya semakin kutekan dengan jariku supaya orgasme yang akan dia capai semakin klimaks. Suara gesekan penisku pada memeknya yang sudah basah terdengar begitu nyaring dipadu dengan rintihan mulutnya yang sangat pedas. Bebeberapa saat kemudian dia mengerang sangat panjang menandakan sebuah klimaks, sebuah kepuasan yang telah dia rasakan. Setelahnya dia mencium atau menekan bibirku dengan sangat kuat lalu tubuhnya terkulai lemas diatas tubuhku. Jessica sudah sampai pada orgasmenya yang pertama.

“hah hah hah shhh Kontolmu enak banget Ga” Ucapnya dengan nafas yang tersengal.

Kuusap punggungya yang licin karena keringat. Kukecup pipinya, menghirup aroma tubuhnya. Aku selalu merasa senang bisa membantu cewek mencapai orgasmenya. Bahkan terkadang aku tidak peduli dengan orgasmeku sendiri.

“punyamu juga sempit Jess,” Balasku memujinya.

Jessica masih tidak berdaya diatas tubuhku, berat tubuhnya tidak ada apa-apanya karena dia sangat mungil.

“Bentar ya sayang” Ucapnya. eh? Sayang? “Beri aku waktu untuk memulihkan tenagaku, baru pertama kali aku merasakan nikmat seperti ini” Ucapnya. Kupeluk tubuhnya agar dia merasa nyaman.

Beberapa saat kemudian dia bangkit langsung tengkurap dengan kepala tepat diantara kedua pahaku sampai setengah badannya harus barada dibawah ranjang. Kembali dia mengocok penisku dengan perlahan. Lalu dia mulai menjilati pangkal penisku, testis dan beberapa kali kurasakan lidahnya diusapkan di belahan pantatku.

“ahhh Jessss” Rasa geli tak tertahankan kurasakan saat lidahnya yang basah mengusap lobang pantatku, aku sampai kaget dia mau menjilati area situ. Dia tetap melakukannya sambil mengocok penisku. Perlahan penisku yang awalanya melemah kini mulai tegang kembali.

Aku bangkit, lalu kuraih tubuhnya untuk naik keatas tempat tidur lagi. Lalu kuposisikan tubuh mungil Jessica nungging diatas tempat tidur lalu kulebarkan kakinya agar lebih mengangkang. Belahan pantat Jessica terlihat sangat menantang, kussap belahan itu dengan lidahku. Dia mendesis pelan. Kubuka lebar belahan pantat Jessica, lalu Kubalas perbuatannya tadi dengan menjilati lobang pantatnya. Jessica semakin mengerang.

“enghhhh.. emmhh”

Beberapa menit aku merangsang Jessica dengan mengeksplor bagian pantatnya sampai memeknya basah lagi. Lalu Kuposisikan tubuhku nungging diatas diatas tubuh Jessica. Kukecup punggung, pundak dan lehernya nya di beberapa tempat. Waktu dia menoleh ke belakang langsung kekecup bibirnya yang lembut.

Aku yang sudah tidak tahan, mulai memasukkan penisku ke dalam memeknya secara perlahan dan sangat pelan supaya dia tidak lagi merasakan sakit seperti tadi. Hingga akhirnya memek Jessica sudah terbiasa dengan penisku dan aku mulai menggerakkan pinggulku sedikit lebih cepat.

“ohhh.. ssshh,, Gaaaaaa”

Beberapa menit kemudian aku masih menggenjot memek Jessica dari belakang. Kutekan pantat Jessica dengan kedua tanganku lalu pinggulku bergerak maju mundur dengan cepat. Rasa yang tercipta dari gerakan seperti ini semakin membuatku tergila-gila, itu sebabnya aku begitu menyukai posisi doggy.

“achhh..ahhhhh ahhh”

“akhh, ahhhh ahhhhhhhhhh”

Suara desahan kami saling beradu. Aku menunudukkan tubuhku diatas tubuh Jessica. Lalu kuraih kedua payudara Jessica dari belakang kemudian kutegakkan tubuhnya. Aku men-doggy Jessica dengan tubuhnya sedikit terangkat sambil kedua payudaranya semakin kuremas dengan kuat dari belakang. Walaupun posisi ini agak susah kami lakukan karena perbedaan tinggi badan kami. Namun tetap kutabrak tubuh Jessica dari belakang sampai tercipta suara bertemunya tubuh kami yang begitu nyaring.

Aku semakin tidak tahan ingin segera sampai ke puncak orgasme, tapi disatu sisi aku tidak ingin kenikmatan ini pergi begitu cepat. Aku harus bisa mengontrol diriku supaya kenikmatan ini bisa bertahan lebih lama lagi. Kutarik penisku keluar sepenuhnya dari memek Jessica lalu kubalikkan tubuhnya menghadapku. Dia menatapku heran, lalu kutuntun tubuhnya untuk terlentang di atas tempat tidur.

Kembali kumasukkan sepenuhnya ke dalam Memek Jessica yang sudah sangat basah. Kembali kugerakkan pinggulku. Jessica memejamkan matanya setiap kali penisku menghujam memeknya sangat dalam bersamaan keluarnya suara desahannya yang putus putus yang kini terdengar serak namun tetap menggiurkan.

Kenikmatan yang kurasakan pada penisku didalam memeknya Jessica semakin membuatku tergila-gila. Semakin kuhentak tubuh Jessica dengan kuat sampai membuat payudaranya tidak berhenti bergerak naik turun. Jari jemari Jessica mencengkram sprei diatas kepalanya, memperlihatkan padaku kulit ketiaknya yang mulus. Gesekan dan cengkraman memek Jessica yang hangat terasa semakin nikmat kurasakan. Ekpressi wajahnya yang sedang keenakan membuatku terpesona. Dan suara rintihan Jessica yang terdengar seperti orang yang sedang kepedesan semakin mebuatku bersemangat menggerakkan pinggulku dengan cepat. Benar-benar sebuah kenikmatan yang sempurna, rasanya selamanya tidak ingin menghentikan kenikmatan ini. Gelombang gairah dan hasrat telah menenggelamkan kami berdua.

Tapi sekuat apapun mencoba untuk mempertahankan kenikmatan ini aku tetap tidak bisa menahannya terlalu lama. Aku menyerah. Menyerah pada gelombang kenikmatan. Sepertinya sudah waktunya, pikirku. Aku sudah hampir tiba di puncak kepuasanku. Kulihat tubuh Jessica semakin melengkung ke atas dan semakin mengejang. Kepuasanku semakin memuncak. Sebelum terlambat, akhirnya kucabut penisku keluar dari memeknya. Tubuhku menegang hebat. Kurasakan perasaan yang sangat menakjubkan bersamaan dengan banyaknya sperma yang dikeluarkan penisku diatas tubuh Jessica. Kami berdua mengerang panjang bersamaan.

Perlahan kurasakan pinggulku melemah hingga membuatku ambruk diatas tubuh mungil Jessica. Dia memelukku sangat erat sambil menciumi bibirku. Kurasakan basah disetiap tubuh kami berdua karena bercampurnya keringat.

Beberapa menit kemudian aku baru tersadar kalau aku sedang menindih tubuh mungil Jessica. Aku langsung memindahkan tubuhku ke samping tubuh Jessica. Tidur miring menghadapnya, dia mengikuti posisiku dengan tidur miring menghadapku. Kami berdua saling memandang dan tersenyum sambil mengendalikan nafas. Kulihat spermaku diatas perut jessica, instingku sebagai cowok langsung bekerja.

“apakah ada handuk di kamar mandi?” Tanyaku padanya. Dia mengangguk.

Aku langsung berlari kecil menuju ke kamar mandi dan menemukan handuk kecil yang tersimpan rapi dibawah wastafel. Kubasahi handuk itu dengan air lalu kugunakan untuk membersihkan spermaku ditubuh Jessica.

“kamu sweet banget” ucapnya.

Beberapa menit kemudian kami sudah rileks dan berbincang bincang kecil dan bercanda sambil tiduran diatas tempat tidur masih dalam keadaan bugil.

“kukira kamu tadi akan meng-analku. Kenapa kamu tidak melakukannya? belum pernah?” Tanya Jessica.

“Pernah, tapi tadi kamu kan melarangku!”

“kamu terlalu idiot sebagai cowook playboy.. aku tidak akan marah meskipun tadi kamu memaksa untuk menganalku”

“hah? Mungkin lain kali.. uhmm tapi, kuyakin kamu tidak bersungguh sungguh dengan bonus yang tadi kamu katakan” Ucapku. Jessica menaiki tubuhku.

“Awalnya aku tidak bersungguh-sungguh. Tapi setelah tau rasanya, sepertinya aku yang bakalan mengingatkanmu tentang bonus yang tadi kutawarkan. Kontolmu enak banget Ga. Kamu juga hebat, lebih jago dari cowokku.” Ucapnya lalu mencium bibirku.

“Kamu tidak menipuku kan?” Tanya dia.

“Tenang aja, aku sudah memberitahu kakakku kalau aku jadi menempati rumah ini. Hari ini juga papaku akan membayar sewanya untuk satu tahun pertama” Ucapku meyakinkannya.

“Baiklah, makasih ya” Ucapnya tersenyum sangat manis “Aku harus segera pergi, kamu bisa meninggalkan rumah ini duluan aku mau mandi dulu”

“Uhmm, apakah tawaran mencoba berendam berdua di bathtub masih berlaku?” Tanyaku. Dia tersenyum lagi setelah mendengar pertanyaanku lalu dia mengangguk.

Dan akhirnya kami berdua berendam berdua selama 30 menit di bathtub. Hanya berendam dan mandi bersama, tidak ada lagi acara bercinta karena kami sudah cukup letih setelah pertempuran tadi. Selesai mandi aku sudah memakai lengkap bajuku dan Jessica sudah rapi dan wangi seperti pertama kali kami bertemu tadi. Dia sedang merapikan rambutnya di kamar mandi.

Setelah itu bersama-sama kami keluar dari rumah ini.

“Kamu tidak kan mengatakannya kepada Luna kan?” Tanyaku padanya saat kuantar dia menuju mobilnya.

“Luna itu sahabatku, aku tidak akan mengatakan kalau aku pernah tidur bersama cowok yang sedang dekat dengannya” Ucapnya sambil memasuki mobilnya “Luna itu cewek paling baik yang pernah kukenal, sangat baik. Please jangan sakiti dia. Tanyakan pada dirimu sendiri !! kalau kamu ragu tidak akan pernah menyakitinya, lebih baik kamu jauhin dia”

Tidak seperti kata-katanya tadi yang penuh dengan celaan padaku. Kali ini Jessica mengatakannya dengan tulus. Aku mengangguk pelan dan kamipun berpisah.

.

.

.

Dua hari berikutnya atau dihari sabtu akhirnya aku benar-benar jadi meninggalkan rumah. Dibantu Rein, aku pindah ke rumah baru. Tidak banyak barang yang kubawa hanya pakaian dan perlengkapan Kuliah. Aku sudah menjelaskan kepada Rein tentang ideku atau seharusnya idenya Jessica mengenai menjadikan rumah baru ini sebagai tempat kost. Rein tidak begitu mempermasalahkannya yang penting aku tidak tinggal bersama anggota HIMA. Dia juga ingin disediakan satu kamar untuknya, karena dia akan mengusahakan setiap akhir pekan untuk berkunjung dan menginap di rumah ini. Aku sih yakin yang dia maksud dengan berkunjung itu adalah mengawasiku. Tapi aku senang dengan itu, aku lebih senang lagi kalau dia menemaniku tinggal di rumah ini setiap hari.

Rein akan menempati kamar utama di lantai satu yang ukurannya cukup besar itu. Sedangkan aku akan menempati kamar yang dulu dipakai Jessica di lantai dua, yang ada kamar mandi di dalamnya. Tersisa tiga kamar lagi untuk disewakan. Agar orang-orang pada tau kalau di rumah ini ada kamar disewakan, untuk sementara aku dan Rein membuat tulisan besar “Menerima Kost” beserta nomor handphoneku pada sebuah kertas karton dan kutempelkan di pagar depan. Minggu depan aku akan mengganti tulisan itu dengan Banner agar lebih menarik. Selain itu aku juga akan membuat brosur yang akan aku tempelkan di setiap mading atau papan pengumuman di kampus. Aku jadi semakin tidak sabar dengan siapa siapa yang akan tinggal bersamaku di rumah ini.

Setelah menemaniku menginap pertama kalinya di rumah ini, hari berikutnya aku dan Rein harus berpisah. Di minggu sore Rein harus berangkat menuju kampusnya untuk mempersiapkan semester baru esok hari. Sendirian dirumah,tidak banyak yang kulakukan di malam hari, hanya menonton TV di ruang keluarga sambil berbalas pesan dengan Bu Fiona dosen waliku.

.

.

Keesokan paginya, tepat pukul delapan kurang lima menit aku tiba di Gedung “L” atau gedung Fakultas Ekonomi berbarengan dengan para mahasiswa ekonomi yang lain. Saat akan memasuki gedung, aku melihat Bu Fiona Dosen Cantikku, eh maksudku Dosen Waliku yang juga akan masuk ke dalam gedung bersama beberapa dosen yang lain. Nanti setelah kuliah jam pertama usai, aku diminta menghadapnya di ruang dosen. Sudah pasti dia menyuruhku menemuinya untuk membahas nilai IPK ku yang turun drastis. Bu Fiona sempat melihatku.

Namun hanya sebentar saja kemudian dia masuk ke dalam lift gedung bersama dosen lain. Sebenarnya lift itu masih cukup luang untuk dimasuki beberapa mahasiswa. Tapi tidak ada satupun mahasiswa yang mau naik lift bersama para dosen itu.

Setelah itu aku langsung menuju ke kelas L-503 tempat kuliah pertama hari ini akan di mulai. Kelas L-503 berarti letaknya ada di Gedung “L” lantai 5 dan ruangan ke 3. Mata kuliah pertama yang kuambil di semester tiga ini adalah Pengantar Ekonomi Pembangunan. Kali ini aku tidak sekelas dengan Dicky dan sepertinya semester ini jadwal kuliahku dan dia agak berbeda, hanya satu atau dua kelas yang sama. Semester ini aku tidak bisa mengambil lebih dari 18 sks akibat nilai IP ku semester kemarin yang sangaaaaaat jelek. Aku harus memperbaikinya semester ini agar semester depan aku bisa mengambil SKS maksimal. Ya, aku harus benar-benar fokus untuk memperbaiki nilaiku.

Kuliah pertama berlangsung hampir dua jam lamanya. Aku tidak menyangka akan selama itu, padahal biasanya kuliah hari pertama itu hanya sekedar pengenalan dosen dan pengantar mata kuliah. Hampir kurang dari dua jam tersebut Dosen Pengantar Ekonomi Pembangunan berbicara banyak tentang topik yang memang sedang hangat-hangatnya yaitu tentang serangan hacker pada sebuah Bank. Penjelasan dosen hampir sama dengan apa yang pernah dikatakan Luna mengenai dampak serangan itu terhadap perekonomian negara.

Setelah usai mengikuti kelas pertama hari ini, aku bergegas menuju ruang dosen ekonomi yang ada di lantai bawah Gedung L untuk menemui Bu Fiona. Dan sudah hampir satu jam aku sudah duduk bersebelahan dengannya di sebuah deretan kursi yang ada samping ruang kepala program studi manajamen. Sengaja dia mengajakku kesini karena disini lebih tenang dan sepi, dan juga karena tidak semua dosen mempunyai ruangannya sendiri. Hanya para dosen dengan gelar professor yang mempunyai ruangan sendiri. Sedangkan meja Bu Fiona jadi satu bersama dosen lainnya di ruang dosen.

Aku hanya duduk terdiam sambil mendengarkan penuturan dan nasihat Dosen cantik ini kepadaku. Inti dari apa yang dia katakan kepadaku hampir satu jam ini adalah tidak ada pilihan lagi bagiku kecuali belajar lebih giat lagi daripada semester sebelumnya. Bu Fiona juga sempat menakut-nakuti tentang ancaman DO jika nilai IPK ku dibawah 2.00. Dia sempat merangkum nilai-nilai mata kuliah yang kuambil selama dua semester kebelakang yang kebanyakan mendapatkan Nilai C dan D. Hanya satu mata kuliah aku mendapatkan nilai sempurna A+, itupun karena dosennya hyper-sex.

Sebenarnya aku sudah tau semua yang akan dikatakan Bu Fiona. Karena semalam aku dan Bu Fiona saling berbalas pesan mengenai pertemuan ini. Kenapa bisa begitu? Alasan sebenarnya dia mengajakku bertemu disini itu karena hanya ingin menunjukkan kepada Kepala Prodi Manajemen kalau dia bisa menjadi dan menjalankan tugasnya sebagai dosen wali dengan baik. Karena ini pertama kalinya dia menjadi seorang Dosen Wali dan aku adalah mahasiswa pertama dan satu-satunya yang dia bimbing. Dan juga, Kepala Prodi Manajemen dulu adalah dosennya Bu Fiona saat dia kuliah di kampus ini. Jadi semalam dia menjelaskan kepadaku melalaui pesan tentang garis besar dari apa saja yang akan dia sampaikan kepadaku, dan dia bilang kalau akan sedikit menceramahiku.

Bukannya merasa bersalah atau sedih meratapi kondisi karena sedang dinasehati tentang nilai IPK ku yang rendah, daritadi aku tersenyum mendengarkan dia berbicara sambil memandang wajah cantiknya. Malahan, dari jarak sedekat ini semakin bisa kulihat dengan jelas betapa cantiknya wajah Bu Fiona.

Dosen yang masih muda ini mengajar Matkul statistik seluruh mahasiswa fakultas ekonomi. Bu Fiona memang menjadi idola para mahasiswa karena kecantikannya, termasuk aku. Pesonanya yang anggun dan wajahnya yang cantik sudah pasti bisa menggetarkan hati para mahasiswa ataupun para dosen pria. Bukankah sudah pernah kubilang kalau selain Luna, Bu Fiona juga kupuja-puja kecantikannya. Apalagi dia selalu tampil elegan dengan pakaian mewah yang selalu dia pakai saat ke kampus. Bu Fiona memang selalu terlihat sempurna dimataku. Rumor mengatakan kalau dia masih belum menikah.

Sungguh beruntungnya aku, Sudah pasti banyak mahasiswa lain yang iri denganku mendapatkan Dosen Wali seperti Bu Fiona. Karena tidak hanya berparas cantik, Bu Fiona juga mempunyai tubuh yang langsing cenderung seksi dengan payuduara wowwww banget. Bentuk payudara idaman kebanyakan cowok sih. Semakin kupandang payudara Bu Fiona, semakin ingin rasanya membelaikan tanganku ke belahan sepasang payudaranya yang bulat . Dengan pakaian yang dia kenakan sekarang, aku bisa melihat sebagian bulatan payudaranya yang putih dan mulus saling menempel satu sama lain. Iseng Kubayangkan pakaian itu terlepas dari tubuhnya.

Terbayang di otakku payudara besar Bu Fiona membusung indah dihadapanku yang masih tertahan bra. Ahhhhh, pasti gede dan empuk banget, pikirku dalam hati. Saat sedang asik memandang dan membayangkan payudara Bu Fiona, tiba tiba Tangan Bu Fiona memegang bagian bawah daguku lalu menggerakkan wajahku agar aku menatap wajahnya.

Fokus” ucap Bu Fiona pelan hampir tidak bisa kudengar dengan jelas, lalu dia tersenyum. Sial, aku ketahuan. Aku jadi malu padanya setelah dia memergoki aku sedang memandang payudaranya. Kemudian dia melanjutkan lagi bicaranya.

Tak lama kemudian Kepala Prodi Manajemen keluar dari ruangan sebelah kami dan melewati kami berdua. Beliau sempat memandang kami dan mengangguk ke arah Bu Fiona lalu berjalan menuju ke ruang dosen yang terhubung dengan ruangan ini.

“bagaimana menurutmu?” tanya Bu Fiona setelah Kaprodi sudah hilang dari pandangan kami berdua.

Great!!. Pak Kaprodi pasti akan bangga dengan Ibu” Jawabku, sambil mengacungkan dua jempol ke arahnya “Tapi.. beneran Ibu tidak pengen memarahiku karena nilaiku?” Tanyaku. Dia tersenyum manis banget mendengar pertanyannku.

“tugas dosen wali itu untuk membantu mahasiswa menyusun KRS, memberi pertimbangan pilihan studi dan memantau progres studi mahasiswa yang dibimbingnya. Aku tidak akan memarahimu, Aku juga pernah menjadi mahasiswa sepertimu Rega, pernah merasa Down, jenuh dan hilangnya semangat untuk Kuliah. aku juga tau susahnya untuk 100 persen fokus pada kuliah, apalagi bagi mahasiswa seperti kamu, pasti ada hal-hal lain yang membuat fokusmu terganggu, misalnya masih ingin bermain, terlalu aktif di organisasi dan pacaran. Kamu sudah punya pacar?”

Aku menggelengkan kepalaku pelan setelah mendengar pertanyannya.

“Yakin cowok seperti kamu ini belum punya cewek?” Tanya dia, seakaan tidak percaya kalau aku tidak punya pacar “Intinya, kamu boleh saja bersenang-senang dengan Dunia kampus, teman-teman baru, pacaran, ataupun aktif di organisasi tapi kamu harus ingat tanggung jawab utama seorang mahasiswa adalah mempersiapkan diri sebagai orang dewasa. Apalagi kamu adalah seorang cowok, suatu saat nanti kamu akan menjadi pria yang punya tanggung jawab besar kepada istri dan anak-anakmu. Apakah kamu siap dengan tanggung jawab sebesar itu? kamu aja belum bisa memenuhi tanggung jawabmu sebagai mahasiswa dan menelantarkan kuliahmu”

Aku terdiam dan tak tau harus bagaimana menanggapi Ucapan Bu Fiona. Menjadi dewasa? Kukira aku sudah menjadi dewasa saat lulus sekolah. Tanggung jawab seorang pria? Masa depan? Aku bahkan belum memikirkannya. Apakah aku harus memikirkan masa depanku dari sekarang?. Huaaaa, kepalaku langsung terasa berat saat memikirkannya.

Hahaha, jangan terlalu terbebani dengan masa depan, karena kita tidak tahu ada apa di masa depan, tapi kamu bisa mengusahakan masa depan yang lebih baik dari sekarang” Ucapnya.

Aku tersenyum mendengar ucapan Bu Fiona. Dulu Kak Neta juga mengatakan hal yang hampir sama. Aku semakin mengagumi dosen waliku ini. Dia tidak hanya seorang wanita Dewasa yang cantik, tapi juga pintar dan sudah pasti matang secara emosi. Masa depan yang kuinginkan adalah punya istri seperti Bu Fiona yang tidak hanya cantik dan seksi, tapi juga pintar dan dewasa, hihihi.

“ada saran untukku Bu Dosen? agar aku bisa pintar” tanyaku.

“ Kamu tidak perlu pintar di setiap mata kuliah, yang penting kamu mengerti. Karena pintar saja tidaklah cukup, banyak orang pintar memanfaatkan kepintarannya untuk merugikan orang lain, seperti yang terjadi pada UNI-BANK. Tapi orang yang mengerti, mereka akan lebih banyak mengambil manfaat dan pelajaran.”

Aku hanya mengangguk anggukkan kepala mendengar nasehat Bu Fiona. Bener juga sih, siapapun orang di balik SHUTDOWN! Pasti sangatlah pintar hingga bisa menembus keamanan sebuah Bank. Tapi sayangnya dia menggunakan kepintarannya untuk keuntungan pribadi dan merugikan banyak orang. Sangat sangat banyak orang.

“pokoknya kamu jangan sampai DO dari kampus ini, banyak mahasiswa cewek yang akan kehilangan jika itu terjadi” Ucapnya sambil berdiri dari kursinya.

Hah? Maksudnya? Aku tidak mengerti arti dari ucapannya.

“aku yakin selain bersenang senang, kamu bisa kok fokus belajar. Buktinya daritadi kamu bisa fokus memandang secara intens dan posesif ke satu titik” Ucapnya sambil menepuk pundakku pelan lalu berjalan meninggalkanku. Sial, pasti yang dia maksud adalah saat aku terlalu fokus pada belahan payudaranya. Salah sendiri punya aset yang begitu indah.

Tapi selain semua itu, Bu Fiona adalah wanita dewasa yang sangat menawan.

“Bytheway” Ucap Bu Fiona menghadapku setelah berjalan beberapa langkah “Kapan kamu akan mengambil kelasku?” tanya dia.

Hmm? Kelas statistik?

.

.

.

.

“iya2 Kakakku yang bawel. Byee.”

Kututup sambungan teleponku dengan Rein, dia meneleponku hanya untuk mengingatkan agar aku tidak lupa makan siang.

Tadi setelah meninggalkan Gedung ekonomi aku berjalan menuju gedung G. Disini aku duduk sendirian pada sebuah anak tangga yang biasa digunakan untuk menuju ke lantai dua gedung G yang dijadikan sebagai perpustakaan. Disini cukup teduh karena sinar matahari yang terik terhalang oleh tingginya bangunan gedung.

Dari atas sini aku bisa melihat jelas mahasiswa-mahasiwa berlalu lalang keluar masuk dari dan menuju gedung G. Ada yang sendirian, ada juga yang berjalan bergerombol. Beberapa diantara mereka ada yang kukenal karena pernah satu kelas di mata kuliah yang sama. Dan banyak dari mereka yang tidak kukenal. Banyak wajah-wajah baru yang masih terlihat muda dan polos. Selain itu, Gedung G ini dipakai oleh semua mahasiswa dari segala jurusan di kampus ini.

Di ujung lain gedung ini juga terdapat anak tangga yang sama persis bentuknya. Sengaja aku duduk disini untuk menghindari bertemu dengan anggota HIMA yang lain. Lebih baik aku tidak bertemu dengan mereka terlebih dahulu, apalagi Beni sedang kesal denganku karena dia melihat aku dan Luna berciuman di Dreamfileds. Biasanya sih mereka berkumpul di sebelah gedung Ekonomi. Aku yakin mereka tidak akan iseng mendatangi perpustakaan, apalagi awal-awal semester seperti ini. Kalaupun memang mereka harus ke perpustakaan, mereka akan melewati anak tangga yang lain karena lebih dekat dengan gedung Ekonomi.

Aku bisa saja langung pulang ke rumah kos karena hari ini kuliahku hanya sekali. Tapi percuma juga aku pulang kesana karena disana tidak ada siapa-siapa. Jadi aku memutuskan untuk tetap di kampus lebih lama lagi sambil membaca Hand Out yang tadi dibagikan oleh Dosen Pengantar Ekonomi Pembangunan. Aku harus fokus belajar seperti yang dikatakan Bu Fiona kepadaku tadi. Meskipun pasti tidaklah mudah. Sejujurnya aku lebih suka membaca novel atau komik daripada membaca buku ilmiah. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca novel ataupun komik. Tapi saat membaca buku ilmiah, baru membuka beberapa halaman mataku pasti terasa berat dan mengantuk. Ada yang pernah merasakannya?

“Dicariin kemana-mana gak taunya malah disini, ngapain Lu?” Tanya Dicky dari arah bawah, lalu dia mendatangiku dan langsung duduk di sebelahku.

Belajar” Jawabku singkat tanpa menolehnya.

“Eluu lagi bercanda kan?” Tanya dia lagi. “lihat sekelilingmu !! Lihat semua mahasiswa itu !! Ada yang sedang memikirkan tentang seks, ada yang sedang membayangkan sedang ngentot dan bahkan ada yang sedang ngewe di lantai 9. Elu ngapain belajar ?? Belajar itu nanti aja deket deket UTS”

Aku tidak menghiraukan ucapan Dicky yang kotor, aku masih diam sambil fokus membaca hand out setebal 25 lembar ini.

“Oiya, malam minggu kemarem gue jadi ke SKY HIGH bersama anak-anak HIMA yang lain, semua cewek mencarimu. Laras, Mala, Yulia, Danisa, Gwen, Inggrid, Anisa dan lain lain”

“Kamu bilang apa kepada mereka?” tanyaku.

“Ya Gue bilang elu lagi sakit, kenapa sih elu ga mau dateng? Elu inget dua cewek yang pernah ngajak kita gila-gilaan di POD? Helen dan Laura? Mereka juga mencarimu”

Aku tidak akan lupa dengan mereka” karena mereka pernah mengajak aku dan Dicky foursome di POD. POD adalah ruangan ruangan VIP yang terdapat di koridor paling atas SKY HIGH.

“gue yakin kalo elu dateng, mereka akan ngajak kita seneng seneng lagi. Bagaimana kalau nanti malem kita kesana? Hari senin pasti gak terlalu ramai dan gak bakal ada yang pesen POD”

“Nggakk. Aku nggak akan mendatangi tempat tempat seperti itu lagi” jawabku tegas. Seperti janjiku kepada Rein dan kepada diriku sendiri untuk meninggalkan semua pengaruh buruk dan merubah hidupku menjadi lebih baik lagi.

“Yaelah , kenapa elu jadi gak asik gini sih bro?”

“Aku sudah selesai dengan semua itu Dick. Aku gak ingin mengecewakan kakakku lagi.”

“Aneh tau nggak sih, dulu lu bilang kalau kakakmu udah gak peduli lagi denganmu, Hmm Atau jangan-jangan lu beneran udah jadian sama Luna? Makanya elu gak bisa bebas bersenang-senang lagi??” Tanya Dicky lagi.

“Sama sekali gak ada hubungannya dengan Luna, lagipula aku nggak pacaran dengan dia” Seruku.

“Lah Nunggu apa? Tembak langsung aja. Daripada elu nungguin cewek gak jelas itu. Dia sudah pergi, lupain dia”

“Dia? Siapa?” tanyaku.

“You Know Who” Jawab Dicky.

“siapa sih? Voldemort?”

“Fackk you!! elu sendiri yang bilang jangan nyebut nyebut nama dia lagi” Mukanya langsung terlihat Bete,

Aku tertawa puas. “Aku tau kok siapa yang kamu maksud,,”

“Udah lupain dia, mendingan juga Luna. Jelas-jelas Luna udah ngasih lampu hijau, akhir akhir ini dia ndeketin elu mulu kan?, ahh elu gak peka banget.”

“aku juga gak tau mengapa Luna seperti itu akhir-akhir ini kepadaku. Kami sering berbalasan pesan dan bahkan dia selalu reply tweetku, Tapi, bukan berarti dia punya perasaan kepadaku kan? Bisa saja dia hanya menganggapku teman”

“teman? Lalu arti ciuman panas kalian di Dreamfields sampai bikin heboh anak HIMA dan bikin Beni kesel itu apa?”

“Malam itu kami cuman terbawa suasana Dick, nggak lebih.”

“kalau begitu tanyakan padanya langsung tentang perasaannya kepadamu, atau langsung saja lu bilang kalau suka kepadanya!!” Seru Dicky.

“hah? Bagaimana caranya? Aku tidak pernah menembak seorang cewek” Ucapku.

Dicky terlihat heran dengan ucapanku. “Seorang Playboy sepertimu yang sudah meniduri semua cewek anggota HIMA tidak tau cara menembak seorang cewek? Bener-bener dah. sejak elu pulang dari Rumah Sakit, elu jadi semakin aneh. Itu sebabnya elu harus minum-minum bir lagi biar kepercayaan dirilu balik lagi. Udah Ayo nanti malem ke SKY HIGH”

“Tidak peduli Dengan cara apapun kamu memaksaku. Aku gak akan minum-minum lagi” Ucapku.

“Takut dimarahin kakakmu lagi ya? Gua yakin suatu saat nanti elu pasti mau gue ajak minum-minum lagi. Kalau gitu, elu ajakin Luna Dinner aja. Kalau dia mau elu ajakin dinner. Fix. Dia pengen elu nembak dia”

“Eh, tapi aku—“

“Apa? Elu mau bilang gak pernah ngajak cewek kencan? Gua gampar lu, gemes gua lama lama. Padahal ini kesempatan bagus buat lu. Bayangin seandainya elu jadian sama Luna, akhirnya elu bisa ngerasain cewek secantik Luna, tiap hari ada yang bisa elu ajakin ngewe. Elu gak pengen kayak gitu?”

Aku udah pernah ngerasain bercinta dengan Luna, dan itu memang menyenagkan. Tapi…

“itu bukan alasanku untuk menjalin sebuah hubungan”

Semua orang menyuruhku untuk belajar mencintai lagi. Tapi Sebenarnya aku masih ragu dengan diriku sendiri. Apakah aku sudah siap untuk memulai suatu hubungan lagi setelah pengalaman pahit yang pernah kualami?. Bukan karena aku takut merasa kehilangan lagi, tapi aku tidak ingin menyakiti hati seorang cewek lagi. Seperti yang dikatakan Jessica beberapa hari yang lalu. Aku tidak ingin mengecewakan Luna seperti aku pernah mengecewakan seseorang yang sangat mencintaiku. Sejujurnya aku takut mencintai lagi, aku takut pada akhirnya aku hanya akan mengkhianati cintaku.

“sayangkuuuuhhhh” Terdengar suara cempreng meninggi dari seorang cewek yang sedang menaiki anak tangga menuju kearahku dan Dicky. Oh Nooo, kenapa dia dan Dicky datang disaat aku pengen fokus belajar!!

Kuperkenalkan kepada kalian, dia adalah Billa. Dia satu tingkat diatasku, seangkatan dengan Luna. Aku mengenalnya sejak hari pertama OSPEK, kebetulan saat itu kami berada di grup yang sama. Bagaiamana mungkin, Billa yang berada satu tingkat diatasku tapi kami mengikuti OSPEK diwaktu yang sama? Suatu hari nanti akan kuceritakan kepada kalian kisahnya.

“tumben kamu duduk sendirian disini?” tanya Billa. Dia memaksa duduk di sebelahku menggeser Dicky lalu mengistirahatkan kepalanya di pundakku.

“Lu kira gua apaan ??” Ucap Dicky kesal.

“Kamu denger suara gak Beb? Kayak ada yang ngomong” Tanya Billa pura pura begok.

“hoi, hoi,” Dicky, menyentuh nyentuh lengan Billa.

“ihh, ini apaan sih? Ada makhluk astral yang colek colek aku.” Billa malah memelukku “Dibilangin jangan sering-sering main kesini, disini itu nyeremin banyak setannya, terutama setan cabul yang suka colek colek cewek cantik kayak aku ”

Meskipun Billa sedang bercanda, tapi memang gedung G ini terkenal di kalangan mahasiswa sebagai gedung yang paling menyeramkan di kampus ini. Apaagi sejak kejadian setahun lalu, saat seorang mahasiswi satu angkatan denganku loncat dari atap gedung tanpa memakai pakaian apapun. Semakin menambah kesan angker pada gedung ini. Tidak ada satupun mahasiswa yang berani berkeliaran di dalam ataupun di sekitaran gedung ini pada malam hari. Sudah banyak cerita, pengalaman dan rumor beredar tentang penampakan ataupun di malam malam tertentu ada yang mendengar suara teriakan wanita yang begitu memilukan.

“Sialan !! lu itu yang Setan, dateng dateng bawa aura negatif” Ledek Dicky.

Dicky dan Billa mengingatkanku dengan Adit dan Ressa temanku saat sekolah dulu. Bagaimana ya kabar mereka sekarang? Terutama Ressa, aku sangat merindukannya dan ingin sekali bertemu dengannya. Apakah dia baik baik saja? Terakhir kali kulihat dia masih belum terbangun dari tidur panjangnya.

Dicky dan Billa masih saling mengejek. Mereka memang sering seperti itu kalau lagi bersama sama. Saling mengejek satu sama lain dan perang celetukan celetukan yang semakin membuat mereka saling membenci. Padahal dulu Dicky pernah jatuh hati dan nekat nembak Billa di depan banyak orang, tapi dia ditolak mentah-mentah.

Wajar sih dulu Dicky tergila gila dengan Billa, karena memang sebenarnya menurutku Billa itu cantik dengan rambutnya yang indah panjang hitam lurus sempurna. Bola mata yang cokelat dan bulu mata yang lentik. Tingginya hampir nyamain tinggi badanku, bahkan mungkin lebih tinggi dari Luna ataupun Rein. Apalagi dia memiliki tubuh yang super langsing dengan bentuk payudara yang bulat sempurna. Tidak sebesar payudara Rein, tapi bentuknya pas dengan tubuh langsingnya. Dengan profil seperti itu, dia sering mendapatkan job sebagai SPG pada event event tertentu seperti pameran mobil, motor dan lain sebagainya. Kuakui Billa memang cantik, tapi..

“Beb, udah makan? Kita makan siang sambil ewe yukk, lagi pengen nihh, lagian uda lama kita enggak ngewe, kamu nggak kangen doggy-in aku?” Tanya BIlla sambil tangannya meraba raba pahaku.

Glekkk. Cantik sih, tapi dia itu seperti Dicky versi cewek yang otaknya tidak pernah berhenti memikirkan tentang hal hal mesum. Billa selalu memikirkan tentang seks sepanjang waktu. Bahkan hari pertama ospek dimana aku kenalan dengannya, hari itu juga aku bercinta dengannya. Gila kan?

“Percuma lu ngajakin dia ena-ena, dia ga bakal mau, orang dia udah jadian sama Luna,” Mendengar ucapan Dicky, Billa langsung menatapku tajam dan mencengkram lenganku.

“SEJAK KAPAN? Dreamfields? Apa yang terjadi disana? ihhh.. Kamu kok tega selingkuh dibelakangku sih??” Ucap Billa kesal,

“Jangan percaya !! .aku gak pacaran dengan Luna Bill. Lagipula kita juga gak pacaran.,”

“Belum. kita belum pacaran” Ucap Billa “Karena Suatu hari nanti entah kapan, kamu akan jadi pacarku,!! huhhh sebel, apa sih bagusnya Luna? Cantikan juga aku”

”Rasain Lu, sok cantik sih” Celoteh Dicky “elu akhirnya ngerasain apa yang gue rasain. Udah mending pacaran sama gue aja, sebenarnya gue masih kesel elu tolak, tapi yaudahlah gapapa.` elu pengen ngewe kan? Elu minta, gue bisa ngasih yang lu pengen. Yuk, ke lantai 9.!!

“Jangan ngimpi. Ogah jadi cewekmu. Kontolmu kecil, segini, apa enaknya? Gak bakal kerasa.” Ucap Billa ceplas ceplos sambil menunjukkan jari kelingkingnya kepada Dicky “Kontol kecil aja belagu ngajakin ngentot”

“Ngaco lu, kata siapa?” Tanya Dicky

“Rega yang bilang, dia pernah cerita saat kalian berdua diajak dua cewek seksi ngewe di SKY HIGH”

“Beneran tega lu bro. ini nih yang namanya pembunuhan karakter, ”

“eh, suer Dick, aku gak bilang seperti itu. gak sekecil itu, tapi segini..” Ucapku sambil menunjukkan jari jempolku. Billa tertawa geli setelah mendengar ucapanku.

“pokoknya nanti kalo kamu beneran jadian sama Luna atau dengan siapapun, kita bisa tetep ewe kan Ga? Aku rela kok jadi simpananmu atau cadangan saat Luna lagi mens.” Ucap Billa.

“Udah gila nih cewek. Kenapa sih elu begitu mudahnya memberikan tubuhmu kepada Rega? Heran gua”

“kamu ngiri kann? “ Ucap Bill, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Karena selain punya dia itu panjang dan tebel, selain itu, dia pandai menggunakan jari dan lidahnya“ Ucapnya tepat dihadapanku. “yuk ke lantai 9! Udah ga tahan nih, please, aku akan mendesah dan berteriak sekencang-kencangnya sampai semua orang di gedung G tau kita lagi ena ena” Bisiknya di telingaku.

Glek. “jangan sekarang ya Bill” Ucapku.

“Terus kapan? Keburu kamu beneran jadian sama Luna” Ucapnya Bete.

“Nanti aku kabari, oke?”

Meskipun sebenarnya aku gak serius dengan ucapanku. Tapi aku harus mengatakan seperti itu agar dia senang dan berhenti mengajakku bercinta. Sebenarnya enak kali yah mengajak Billa ke kost, bercinta disana sampai malam. Tapi, aku tidak ingin Billa tau kalau aku tinggal dekat sini, dan juga aku harus bisa menahan diri akan dorongan untuk bercinta dengan banyak wanita. Jika aku benar-benar serius ingin menjalani sebuah hubungan, aku harus bisa menghentikannya. Tapi entah kenapa aku tidak akan pernah bisa menahan diri jika bersama dengan Rein. Huftt

“Yaudah deh, kalau gitu aku ke kantin dulu. Laper nih. ikut?” Tanya Billa.

“uhmm, aku belum begitu laper kok, lagipula aku udah gak ada kuliah lagi, biar nanti aku makan di rumah aja”

Padahal udah laper banget, tapi untuk sementara aku tidak akan ke kantin agar tidak bertemu dengan anggota HIMA yang lain. Billa pun pergi meninggalkan kami. Aku melanjutkan membaca Hand Out sedangkan Dicky sedang asyik dengan handphonenya.

“kamu gak ke kantin Dick?” Tanyaku sambil tetap membaca.

“Bentar. Bro Dari arah jam 11, deket tiang bendera, ada dua cewek cantik sedang mendekat” Ucap Dia.

“Oh yah? Bagaimana kamu bisa tau kalau mereka cantik? Tiang bendera kan jauh” Ucapku.

“Mataku ini sangat tajam, aku bisa melihat cewek cantik dari jarak seratus kilometer”

Aku tidak begitu percaya dengan ucapannya, tapi beberapa saat kemudian ternyata benar ada dua cewek mendekati kami dan salah satu dari mereka menyapaku.

“Hai kak Rega”

Aku yang sedang serius membaca Hand Out, kaget setelah mendengar seseorang menyapaku. Begitu aku melihat mereka yang sedang berjalan menaiki anak tangga, keterkejutanku semakin bertambah. Ternyata yang menyapaku adalah,

“Mira??,,,” Dan berdiri dibelakang Mira,

“Winry?”

Senior..” Sapanya kepadaku, lalu tersenyum.

Aku berdiri dari dudukku. “Ngapain kalian disini?” Tanyaku heran kepada mereka.

“Uhmm Winry ngajakin ke perpus untuk daftar jadi anggota, Nggak taunya ketemu Kak Rega disini” Ucap Mira.

“Whatt? Kalian kuliah disini?? ambil jurusan apa??”

“sama seperti kamu kak, ekonomi-manajemen” Jawab Mira

“Aa,,aku tidak menyangka kalian akan kuliah disini,”

“Hihihi Selain karena sadar diri tidak akan lulus ujian masuk PTN, aku memilih kuliah disini karena rumahku tidak jauh dari sini Kak, dan katanya disini peraturannya tidak terlalu ketat. Pokoknya persentase kehadiran tidak kurang dari tujuh puluh persen tiap semesternya. Pasti lulus” Jelas Mira.

Apa yang dijelaskan Mira bukanlah sebuah rumor lagi. Sebagai kampus swasta, universitas ini memang menjadi destinasi favorit para calon mahasiswa yang ingin lulus kuliah dengan mudah. Pokoknya rajin kuliah dan melunasi semua kewajiban administrasi pasti mahasiswa akan lulus dan mendapatkan ijasah.

“Itu juga alasanku kuliah disini sih.” Ucapku sambil terkekeh, “kalian berdua masih tetap kompak bersama-sama” Dari sekolah dulu mereka selalu bersama-sama. Aku salut dengan persahabatan mereka.

“Sebenarnya Winry itu nggak mau kuliah kak, dia itu pengennya setelah lulus sekolah ada pangeran tampan dari luar angkasa yang datang menyelamatkannya dan membawanya pergi sejauh mungkin dari sini dan nikah diatas bukit dibawah sinar bintang-bintang”

“MIRAAA !!” Bentak Winry kepada sahabatnya.

“ihh, kamu kan dulu ngomong kayak gitu Win” Mereka berdua masih saling berbisik-bisik.

“ehem-ehem” terdengar suara dari sampingku.

“oiya, Mira, Winry, kenalin ini temanku Dicky” Ucapku memperkenalkan Dicky. Dicky berdiri dan menyalami mereka berdua.

“Senang berkenalan dengan kalian, kampus ini semakin cerah dengan kehadiran dua bidadari cantik seperti kalian” Ucapnya sok puitis “Panggil aku apa saja selain–”

“DICK ?” Ucap Mira, Dicky langsung lemas.

“Senior apa kabar?” Tanya Winry kepadaku,

“Baik, kalian juga terlihat baik-baik saja. Terakhir kita ketemu dii… dimana yah?” Tanyaku, “aku lupa kapan terakhir kali kita bertemu. Sepertinya udah lama banget”

“Minggu kemarin waktu ospek kami ngelihat Kak Rega” Ucap Mira, “sebenarnya aku dan Winry juga ngelihat Kak Rega di acara Reuni”

“Ja,,jadi, kalian juga ada disana?” Aku sedikit kaget dia menyebut acara Reuni. Sudah pasti mereka melihat kelakuanku dan apa yang terjadi padaku di acara reuni itu. Sial.

“Iya, kami juga ngelihat saat kak Rega–“ Mulut Mira langsung dibungkam Winry dari belakang, dan mendorongnya secara paksa menuju keatas.

“Sorry, Kami harus ke perpus dulu–“ Ucap Winry saat melihatku sambil tetap memaksa mendorong Mira yang masih ngomel-ngomel kepad Winry.

“ii-iya”

Aku melihat mereka berdua berjalan menaiki anak tangga, sebelum akhirnya mereka berdua hilang dari penglihatanku Winry menoleh ke arahku kemudian tersenyum.

“lumayan juga..” Seru Dicky.

“maksudmu?” tanyaku

“Dia lumayan cantik”

“Siapa? Mira?” tanyaku lagi

“bukan !! satunya yang berambut pendek. Lu gak lihat senyumnya? Manis banget, gue suka cewek yang seperti itu”

“Wow, tumben kamu suka cewek yang seperti Winry. Kayak bukan kamu Dick, biasanya kamu kan lebih tertarik dengan cewek yang lebih.. gede”

“Daya tarik seorang cewek itu tidak dinilai dari seberapa besar teteknya. Dia tetap menarik meskipun teteknya kecil. Lagipula, cewek dengan tetek kecil itu biasanya nafsunya gede tau, pasti enak” Ucap Dicky.

Astaga “please, jangan bicara seperti itu, mereka berdua itu itu temanku”

“Kenapa? orang gua lagi memuji kecantikannya kok, matanya, gua belum pernah lihat mata seperti itu. begitu tajam, tapi daritadi dia menggunkan mata indahnya itu untuk menatapmu”

Eh? Winry menatapku? “benarkah? Cuma perasaanmu saja kali” Seruku

“Jelas-jelas daritadi dia menatapmu, tatapan wanita cantik padamu itu sangat membuatku jengkel, bikin jeles aja. Memangnya dulu kalian sempat dekat??” tanya Dicky.

Aku dan Winry sempat mempunyai moment, tapi setelah yang kami lalui bersama sampai sekarang aku belum begitu mengenalnya, cewek seperti apa dia sebenarnya. Bagiku, Winry masih misterius dan sebuah teka-teki. Dulu memang sering kudapati dia menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak kumengerti artinya. Tapi tatapan Winry kepadaku sungguh berbeda dan selalu meninggalkan perasaan aneh dalam diriku.

Di persimpangan kehidupan kita memang sering bertemu dengan orang-orang yang tak terduga. Kini persimpangan kehidupan mempertemukanku kembali dengan Winry dan Mira. Aku belum tau apakah tujuan mereka berdua atau salah satu dari mereka akan sejalan denganku. Atau aku hanya dipertemukan dengan mereka dipersimpangan ini saja tetapi jalan kami berbeda. Entahlah, seperti yang dikatakan Bu Fiona, tidak ada yang tau apa yang terjadi di masa depan, kita hanya perlu menjalaninya dan mengusahakan yang terbaik dari sekarang.

Tiba-tiba Dicky menyenggolku dengan lengannya beberapa kali.

“tuh. Luna.!!!” Ucapnya. dan benar saja, aku melihat Luna sedang berjalan berdua bersama dengan Jessica di halam gedung G.

“udah cepet sana ajakin dia kencan malam ini” Perintah Dicky.

“Tapi Dick..”

“ahhh lama.. LUN..LUNAAAAA !!” Ah sial, Dicky malah berteriak memanggil Luna. Luna dan Jessica pun melihat ke arah kami berdua, kemudian Dicky mendorongku agar aku menuju ke arah Luna.

Dengan perasaan bingung aku berjalan mendekati Luna dan Jessica.

“hey..” Sapa Luna kepadaku.

“uhmm bisa minta waktumu sebentar,,? Aku ingin menanyakan sesuatu” Tanyaku kepada Luna.

“nanti aku susul..” Ucap Luna pada Jessica, kemudia Jessica meninggalkan kami berdua sambil dia menatapku tajam.

“Tanya apa?” tanya Luna.

Sial, melihat kecantikan Luna membuatku kebingungan harus berkata apa. Seketika keberanianku untuk mengajaknya dinner yang tadi sangat kecil kini sudah tidak ada. Padahal aku dan Luna pernah berciuman bahkan aku pernah berada diatas tubuhnya yang telanjang. Tapi setiap melihat wajah Luna, rasa gugup seketika menyerangku.

“kok diem? Mau tanya apa?” Tanya Luna.

“ah ini, anu ehm, menurutmu apa aku harus mengambil matkul statistik semester ini? tanyaku.

“hah?” Luna terlihat kebingungan dengan pertanyaanku. Memang sebuah pertanyaan yang sangat sangat bodoh, sudah jelas-jelas penyusunan KRS sudah ditutup. Mahasiswa sudah tidak bisa mengambil mata kuliah lagi sampai dengan smeseter depan. Sial,,sial.. pasti karena gugup.

“STEAK” Ucapku dengan nada agak tinggi karena gugup “Kamu suka Steak atau pasta?”. Hadeehh, aku semakin terlihat seperti orang bodoh. Luna tersenyum melihat keanehanku.

“Aku suka keduanya. kamu mau ngajakin aku Dinner? Malam ini?” Tanya dia. Aku mengangguk malu.

“Maaf, aku gak bisa.”

Penolakan. Aku sudah tau hal seperti ini bakal terjadi, mana mungkin Luna mau aku ajakin Dinner. Seperti yang dikatakan Jesssica, aku tidak pantas buat Luna. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah terlanjur malu.

“malam ini aku gak bisa, tapi Akhir pekan nanti ayahku mengadakan acara pesta bersama rekan-rekan bisnisnya dirumah. Datanglah !! aku harap kamu bisa menyelamatkanku” Ucapnya lalu tersenyum lalu pergi begitu saja meninggalkanku.

Dia menyuruhku datang kerumahnya akhir pekan nanti? Astaga, aku gak salah denger kan? Yesss.yess yessssssss. Eh tapi apa yang dia maksud dengan menyelamatkannya?.

.

.

.

Dan haripun berganti malam. Sama seperti malam sebelumnya, aku duduk sendirian di ruang keluarga rumah baru. Menonton TV sambil mengecek cuitan teman temanku di Twitter. Sebenarnya di tahun 2014 ini Twitter sudah mulai ditinggalkan, orang-orang kini beralih ke Path dan Instagram. Hal itu tidak terlepas dari stigma buruk dari Twitter sebagai media sosial penebar kebencian, bullying dan spam. Aku sih menggunkan sosial seringnya hanya untuk melihat cewek-cewek cantik. Xixixi

Ngomong-ngomong soal cewek cantik, senang sekali rasanya hari ini di kampus aku bertemu dengan dua cewek yang kecantikannya membuatku tergila-gila. Bu Fiona dan Luna. Seandainya salah satu dari dua cewek cantik itu menemani kesendirianku malam ini, pasti seru. Kulihat sekeliling rumah ini, begitu sepi. Timbul perasaan aneh karena suasana rumah yang sunyi. Aku tersadar kalau aku sedang sendirian di rumah sebesar ini. Saat aku melihat ke lantai dua, gelap. Aku lupa menyalakan lampu. Gawat, kenapa tiba-tiba aku tidak berani naik ke lantai dua?

Sial. Kenapa suasananya menjadi mencekam seperti ini sih?. Entah kenapa badanku merinding dengan sendirinya. Aku berusaha menghilangkan perasaan takut pada diriku dengan berkali kali mengganti saluran televisi. Tapi tetap saja aku masih takut dengan kesepian ini,. lalu tiba-tiba,

TRINGGGGGGGGGG TRINGGGGGGGGGGG

“Huuuuuuuuuaaaaaaaa,,,,,” Aku berteriak sangat keras saat mendengar suara bunyi bel. Faaaak, ngaget ngagetin aja. Siapa sih ?

Aku bergegas menuju keluar rumah dan melihat dua orang berdiri balik pagar. Aku bisa melihat jelas keduanya saat mendekati pagar.

“Loh Kak Rega?”

“kalian?” betapa terkejutnya aku ternyata yang datang adalah Mira dan Winry. Langsung kubuka pintu pagar dan mereka berdua masuk ke dalam halaman.

“kak Rega ngekost disini?” tanya Mira.

“ii,,iya. Sebenernya sih aku yang mengelola tempat ini” mendengar ucapanku, Mira dan Winry saling berpandangan.

“Winry mau ngekost disini Kak” ucap Mira cepat. Hehh? Winry?

“Tunggu dulu, kan belum tau–“ Ucap Winry

“udah disini aja Win, ada Kak Rega” ucap Mira pada Winry.

“Senior, ini kosan cewek atau cowok?” Tanya Winry kepadaku.

“pasti cewek lah, mana mungkin Kak rega terima cowok dirumahnya, hahaha. Upss sorry kak” ucap Mira

Shit, aku lupa menentukan kosan ini untuk cowok atau untuk cewek. Kenapa aku bisa melupakan hal yang paling penting dari mendirikan sebuah tempat kost. Aku melihat Winry yang masih berdebat dengan Mira, kenapa dia lebih memilih tinggal di tempat kost? Padahal setahuku rumahnya tidak seberapa jauh dari sini. Tapi disatu sisi, aku akan sangat senang jika Winry tinggal disini. Karena dia temanku, Rein juga sudah mengenalnya. Mungkin ini juga kesempatan yang baik agar aku bisa lebih mengenal Winry lebih dalam lagi.

“Bebas” ucapku tiba-tiba “bebas untuk cowok atau cewek”

“Tuh kan.” Seru Mira.

“tapi harganya?” Tanya Winry.

“nanti aja harganya, kita lihat dulu kamarnya…” Ucap Mira sambil menarik tangan Winry menuju ke dalam rumah.

Kuajak mereka berdua berkeliling melihat lihat di dalam rumah dan kamarnya. Winry yang mau ngekost, tapi Mira yang terlihat begitu antusias dengan rumah ini. Berkali kali dia mengagumi setiap sudut rumah ini dan meyakinkan Winry kalau disini adalah tempat kost yang tepat untuknya. Dari obrolan obrolan itu juga aku baru tau kalau ternyata Rumahnya Mira ada di blok belakang rumah ini, sangat dekat. Itu juga yang menjadi alasan Mira memaksa Winry untuk mau negkost disini agar dia bisa sering main kesini. Mira juga menyuruhku untuk main kerumahnya.

Beberapa saat melihat lihat rumah. Winry meminta ijin menggunakan kamar mandi. Saat itu Mira menarik tanganku untuk menjauhi kamar mandi.

“kak, berapapun harga sewanya, plis kasih tau ke Winry setengah harganya saja. Setengah dari harga sewanya biar aku yang bayarin.” Ucapnya berbisik bisik.

“eh, kenapa?” tanyaku juga dengan nada suara yang pelan.

“Winry sedang membutuhkan tempat tinggal kak, dia sudah tidak bisa lagi tinggal dirumahnya”

“whatt? Kok bisa?”

Aku dan Mira mendengar suara pintu kamar mandi di lantai dua terbuka.

“Next time aku ceritain..!” Serunya, aku hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian Mira dan Winry pamitan, besok sepulang dari kampus mereka akan kesini lagi dengan membawa barang-barangnya Winry. Aku senang akhirnya tidak sendirian di tempat sebesar ini, ada Winry yang akan menemaniku. Meskipun sebenarnya aku penasaran dengan apa yang dikatakan Mira tadi. Malam itu juga aku menghubungi Rein dan mengatakan kepadanya kalau winry yang akan menjadi anggota kost berikutnya.

Hari berganti, aku membantu Mira dan Winry memasukkan barang-barangnya Winry ke dalam kamar. Winry menempati kamar depan yang lain, berhadapan dengan kamarku. Hari-hari berikutnya bukannya jadi semakian ramai karena kedatangan winry. Rumah ini masih terasa sepi karena Winry lebih banyak menghabiskan waktunya didalam kamar. Beberapa kali aku melihatnya di balkon kamarnya sedang membaca sebuah buku dari sore hari sepulang kuliah sampai senja. Saat berpapasan dengannya didalam rumah saat dia akan ke kamar mandi atau saat dia baru pulang kuliah, kami hanya saling menyapa dan berbasa basi, terkadang kami hanya saling melempar senyum tanpa ada satu kata yang terucap. Satu-satunya keadaan diamana aku dan Winry berbicara banyak adalah saat bersama Mira. Di kampus Ataupun saat Mira datang main kesini. Mungkin Winry memang individu yang mempunyai kepribadian introvert dimana dia merasa senang jika menyendiri. Sebenarnya melihat Winry aku seperti sedang berkaca. Aku merasa banyaknya kesamaan antara aku dan dia.

Tetapi malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam ini aku berada di balkon lantai dua bersandar pada penyangga balkon melihat bintang-bintang di langit malam. Kudengar sebuah pintu kamar terbuka lalu kulihat Winry datang mendatangiku. Kukira dia akan pamit keluar main ke rumahnya Mira. Diluar dugaan tiba-tiba dia ikut bergabung denganku menyandarkan tubuhnya pada besi penyangga balkon. Dia menatapku sesaat dan tersenyum.

Kemudian dia memandang bintang-bintang di langit. Sebenarnya aku ingin mengajaknya bicara, tentang masa lalu, banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Tetapi kulihat dia sedang terpesona dengan apa yang dia lihat. Meskipun malam itu kami tidak banyak bicara, tapi kami saling memahami betapa indahnya bintang-bintang di langit malam ini. Malam itu pertama kalinya setelah semua yang terjadi di masa lalu, aku dan Winry berada di tempat yang sama dalam waktu yang cukup lama dan hanya berdua. Ah tidak berdua, ada aku, Winry dan bintang.

.

.

.

Beberapa hari berikutnya di sore hari sepulang Kuliah aku melihat banyaknya dedaunan kering mengotori halaman rumah. Pftt, padahal setiap hari sudah kubersihkan. Segera aku bergegas mengganti pakaianku dengan kaos oblong dan celana pendek. Mengambil sapu dan memulai membersihkan halaman rumah. Rein menolak dengan keras saat kusarankan Mbak Tina membantuku di rumah ini. Dia bilang akan mencarikan ART yang lain tetapi belum ada kabarnya sampai sekarang. Akibatnya setiap hari aku harus membersihkan rumah ini, mulai menyapu, mengepel dan membersihkan kamar mandi. Huaaaa, tapi sampai kapan?

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Mobil itu?. Mobil mewah yang sering kulihat di kampus. Kalau gak salah itu kan mobilnya,,, seseorang keluar dari mobil itu dan berjalan ke arah pagar.

Angela ?

BERSAMBUNG

Daftar Part

Cerita Terpopuler