. Halaman yang Hilang Part 12 | Kisah Malam

Halaman yang Hilang Part 12

0
204

Halaman yang Hilang Part 12

PILIHAN

—-POV REGA—-

TRINGGGGG TRINGGGGGGGGG TRINGGGGGGG

Handponeku berdering saat aku baru saja mengunci pintu rumah dan bersiap menuju mobilku yang kuparkirkan di halaman di depan garasi. Ternyata Rein yang menelepon.

“Halo Rein..” Jawabku

“Kamu jadi kan pulang Dek?” Tanya dia.

“ini aku mau otw. Kamu sudah di rumah?” Tanyaku.

“aku barusan sampai, kamu pengen dimasakin apa?”

“Terserah, yang penting enak” Jawabku.

“jangan bilang terserah, kamu bukan cewek”

“Aku akan makan apapun masakanmu selama aku bisa memakanmu sebagai makanan penutup” Ucapku menggodanya.

“Kalau kamu bisa sampai di rumah dalam 10 menit, aku akan mengijinkanmu makan makanan penutupmu dulu” Ucapnya.

“haha, sebaiknya aku segera berangkat.”

“ati-ati di jalan Dek”

“Iya Rein. Bye”.

Panggilan telepon kami terputus. Aku semakin tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu kakakku. Saat aku akan membuka pintu mobil, aku mendengar deru sebuah motor sport dari kejauhan. Kemudian motor itu berhenti tepat di depan rumah.

Pengendara motor yang masih memakai helm itu menatapku. Siapa? Aku jadi sedikit waspada karena dia memakai jaket kulit berwarna hitam dan juga celana ketat berwarna hitam. Apakah dia termasuk orang-orang yang dulu memburu Angel? Tapi Aku yakin pengendara motor itu adalah seorang cewek, karena tubuhnya terlihat begitu seksi, bahkan seksi sekali dengan payudara yang terlihat gede dan bokongnya yang sensual.

Betapa terkejutnya aku saat pengendara itu melepas helmnya.

Angel ?

Dia kembali. Setelah sekian lama tidak ada kabar, akhirnya dia kembali. Badanku langsung merinding melihat Angel lah pengendara motor sport yang gede itu. Angel turun dari motornya lalu masuk ke dalam halaman menghampiriku.

Begitu juga denganku yang langsung berjalan menghampirinya, dia menghentikan langkahnya di halaman rumah saat aku berjalan ke arahnya.

“Stop..!!” Serunya dengan ekspresi juteknya.

Oh God. Aku sangat merindukan suara dan wajah juteknya itu. Aku masih berjalan mendekatinya. Tidak mempedulikan seruan dan ekspresinya.

“Stop, mau ngapain kamu?? Jangan mendekat!!”

Lagi. Aku masih berjalan ke arahnya. Tidak peduli dia mulai marah dan terlihat seperti akan menamparku. Kemudian setelah tiba di depannya, aku langsung memeluknya dengan sangat erat. Aku tidak peduli jika setelah ini dia akan memakiku. Aku tidak peduli jika setelah ini dia akan menamparku. Aku tidak peduli jika setelah ini dia akan menghajarku sekalipun. Meski dia tidak membalas pelukanku, aku sangat bahagia bisa melihatnya lagi dalam keadaan yang baik-baik saja.

“aku melihat mobilmu yang hancur di dasar jurang..” Ucapku “Aku sangat mengkhawatirkanmu”

“Aku tau..” Ucapnya lirih.

Kemudian kulepas pelukanku. Aku menatapnya dia pun juga begitu. Tidak ada reaksi darinya setelah kupeluk tubuh seksinya.

“kamu tau?? “ Tanyaku Heran. “Wait, jangan-jangan selama ini kami menyadapku??”

“Aku gak hanya menyadapmu, tapi semua orang. teman-temanku, keluargaku, kampus,,”

“Whatt? Apa saja yang kamu tau dariku?” Tanyaku.

“Semuanya..”

“Hahhh?”. Aku langsung panik dan mencoba mengingat-ingat apa saja yang aku lakukan dengan semua perangkat elektonikku.

“jangan khawatir, aku sama sekali gak tertarik dengan kehidupan pribadimu. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu ga mengatakan apapun kepada siapapun tentangku, tentang apa yang aku lakukan..!!” Ucapnya. “Ternyata kamu orangnya bisa dipercaya..”

“Kamu harus berhenti melakukannya, setiap orang punya privasi….” Seruku kesal. Sebenarnya aku penasaran apa saja yang dia ketahui. Tapi aku takut malah mempermalukan diriku sendiri. Sebaiknya setelah ini aku berhati-hati menggunakan ponsel maupun laptopku. Karena cewek seksi didepanku ini sungguh licik.

“Jadi selama ini kamu yang meneror handphoneku??” Tanyaku.

“teror? Maksudnya??”

“Berkali-kali ada telepon masuk di handphoneku, tapi waktu kuangkat diam saja. Itu pasti kamu kan? Usil banget sihh.. bilang aja kalau kangen suaraku… ”

“Hehh. jangan ke-GR-an ya.. aku gak pernah punya niatan untuk menelepon, atau menerormu.. Ngga penting banget. Emangnya kamu siapa!!” Ucapnya. Sial. Jika bukan Angel terus siapa dong ?.

“Lalu ngapain kamu kembali??” Tanyaku “mereka sudah ga mengejarmu?” Tanyaku lagi dengan suara pelan.

“kita bicara di dalam.. cewek mesum itu ada dirumah??” Tanya dia.

“Kenapa sih kamu memanggil Winry seperti itu,,? dia barusan saja pergi..” Ucapku, lalu Angel berjalan melewatiku menuju pintu rumah. Aku mengikutinya dari belakang.

“kukira tadi kamu akan menamparku..” Ucapku Dibelakangnya. Kemudian Angel berbalik badan.

“Eh, tunggu.. tunggu,,,,” Aku berusaha mencegahnya saat dia mengarahkan tangannya ke wajahku, tapi terlamabat.

PPPPPPLLLLLLLLLLAAKKKKKKKKKKKKK,

Sebelah wajahku langsung panas terkena tamparan tangannya. Sialan. Mana keras banget lagi.

“kamu kenapa sih?”

“kamu yang memintanya,,,” Ucapnya tanpa merasa berdosa lalu berjalan lagi.

Dia menatapku lagi saat sudah berada di depan pintu, menungguku membuka pintu karena aku yang membawa kuncinya. Aku menatapnya dengan kesal karena telah menamparku. Setelah pintu terbuka kami berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah. Angel membuka resleting jaket kulitnya. Dia memakai tanktop hitam sebagai daleman. Dan belahan payudaranya pun terlihat jelas. Ahhh sudah lama banget ga ngeliat belahan seksi itu.

“Apa yang terjadi malam itu? Kenapa mobilmu ada di jurang??” Tanyaku

“Kamu gak akan percaya apa yang aku lakukan malam itu, temanku membantu mengatur semua skenario. Setelah malam itu, aku berpindah-pindah tempat untuk bersembunyi dan menghilangkan jejak. Sekarang mereka tidak akan memburuku lagi karena bagi mereka, aku sudah mati di dasar jurang. Setidaknya sampai mereka tau apa yang akan aku lakukan” Ucapnya.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku ingin kamu Ikut aku !! aku butuh bantuanmu” Ucapnya.

“kemana?”

“menyelamatkan dunia”

“Whatt?”

Lalu Angel mengambil remot TV dan menyalakannya. Dalam sebuah siaran berita di TV, mereka sedang menyiarkan mengenai suatu peristiwa yang baru saja terjadi. Peristiwa penembakan terhadap CEO UNI-BANK oleh orang tidak dikenal. CEO UNI-BANK telah dinyatakan tewas.

“Astaga, aku pernah melihat orang itu di rumahnya Luna…” Seruku.

“Menurutmu siapa pelakunya?” Tanya Angel

“Hah? Entahlah,, salah satu nasabahnya mungkin?” Ucapku. Karena bisa saja pelakunya adalah salah satu nasabah UNI-BANK, Mengingat sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai pengembalian uang para nasabah. Wajar jika ada salah satu nasabah UNI-BANK yang marah.

“Bukan,” Seru Angel “Tapi Mereka.!! Mereka yang pernah datang kesini..”

“Kamu yakin?” Tanyaku dengan penuh keterkejutan.

“Selama aku bersembunyi, aku menggali semua informasi mengenai serangan yang terjadi enam bulan lalu. Memang, mereka kelompok hacker yang melakukan serangan itu, tapi mereka mendapatkan order dari CEO UNI-BANK.”

“WTF. Seandainya yang kamu bilang itu bener, kenapa CEO UNI-BANK meminta kelompok Hacker untuk menyerang BANK-nya sendiri?” Tanyaku.

“Kamu kan anak Ekonomi? Harusnya kamu tau kenapa…” Serunya

“Eh??…” Aku masih berpikir alasan kenapa CEO UNI-BANK meminta kelompok Hacker untuk menyerang BANK-nya sendiri. Ahh aku menyerah, otakku gak nyampe. Seandainya Luna ada disini, dia pasti bisa menjawabnya. “lalu kenapa mereka malah membunuhnya?” Tanyaku.

“Simple. Mereka gak pengenn CEO UNI-BANK buka mulut dan membocorkan perbuatan mereka. Sebelumnya aku tidak tau apa rencana dan tujuan mereka. Tapi sekarang semuanya sudah jelas, rencana dan tujuan mereka yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan negara ini.” Ucapnya ”Jaman dulu, senjata api dugunakan untuk menghancurkan sebuah negara. Tapi sekarang, untuk menghancurkan suatu negara mereka menggunakan senjata baru yang lebih modern, Ekonomi. UNI-BANK hanyalah awal, mereka akan melakukan serangan lagi dalam waktu dekat.

Jika serangan berikutnya sampai terjadi, akan menyebabkan kacaunya sistem perbankan. Akan semakin meresahkan masyarakat karena sistem Bank yang berantakan. Bukan hal berlebihan untuk bilang, kita akan berada dalam situasi finansial yang luar biasa mengerikan. Hasil keseluruhan dari serangan itu bisa menyebabkan kehancuran fisik, kerapuhan, dan akhirnya menyebabkan Krisis Ekonomi yang bisa menjatuhkan negara dalam kehancuran”

Aku terdiam beberapa saat setelah mendengarkan penjelasan dari Angel. Kemudian aku menyandarkan tubuhku di sofa.

”Gilak. Ini sangat mengerikan, jelas sesuatu harus dilakukan. Apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku.

“Apa yang seharusnya sudah kulakukan dari dulu. Mengembalikan data para nasabah UNI-BANK. Jika berhasil kulakukan sebelum serangan kedua terjadi, itu akan membuat rencana mereka berantakan.”

“Bagaimana caranya? Kamu gagal dalam percobaanmu yang pertama” Ucapku.

“Dulu aku gagal karena mereka tau aku menyusup ke sistem penyimpanan data. Dan Akibat dari serangan itu, kini isu keamanan maya begitu genting. Mereka semakin memperkuat sistem keamanan mereka. Mustahil bisa menyusup lagi ke sistem mereka dari luar. Untuk itu, aku akan melakukannya dari dalam”

“Hah? Menyusup dari dalam? Itu artinya kamu akan mendatangi tempat penyimpanan data itu di kota sebelah?”

“Exactly !! tapi aku tidak sendiri,i berdua sama kamu…” Ucapnya sambil menatapku.

“Whattt? Noo,,Noo… aku ga mau ikut2an lagi,, kamu ga lihat apa yang terjadi dengan CEO UNI-BANK” Ucapku

“Aku gak bisa melakukannya sendirian, aku butuh bantuanmu.. lagipula mereka gak akan muncul disana.”

“Kamu yakin?” tanyaku

“enggak…”

“Shit, kenapa sih kamu ga minta bantuan temenmu yang lain..”

“dia juga akan membantu,.. sejak kapan kamu jadi sebanci ini?? Bukankah dari awal kamu yang memohon-mohon untuk membantuku, ingat?? Kamu juga masih asistenku..”

Sial. “aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya malam itu” Ucapku lemas

“Dasar cowok mesum, beranimu Cuma menciumku??? Pokoknya kamu harus membantuku, ini pasti akan menyenangkan..jangan khawatir. tidak akan terjadi apa-apa padamu”

“apanya yang menyenangkan?? Bisa dipenjara atau bahkan disergap orang-orang menyeramkan itu iya. Emang kapan rencanamu itu akan dilakukan?? Sekarang??”

“Tidak sekarang, aku dan temenku masih menyiapkan alatnya.. nanti aku kasih tau jika sudah siap..” Ucapnya lalu berdiri “sekarang yang aku butuhkan adalah kunci kamarku,, kamu gak tidur di kamarku kan??”

“hmm? Kamu mau tinggal disini lagi?” Ucapku lalu berdiri.

“Kenapa enggak?? Aku sudah membayar sewanya selama satu tahun..”

Kemudian aku berjalan ke arah laci di ruang tengah tempat dimana aku menyimpan kunci kamarnya Angel.

“Btw, mobil mahalmu itu, yang sudah hancur, apa kamu mendapatkannya dari,,,,”

“Aku gak pernah melakukan hal yang ilegal…” Dia memotong ucapanku.

“So, bagaiamana kamu bisa membeli mobil semahal itu?” Tanyaku

“Keluargaku kaya, uangku banyak” Ucapnya.

Jadi rumor tentang dia dari keluarga konglomerat itu benar? Setelah aku menemukan kunci kamarnya Angel, Aku berjalan ke arahnya kemudian memberikan kunci kamarnya beserta kunci cadangan pintu rumah dan pintu pagar.

“jika kamu berasal dari keluarga orang kaya, kenapa kamu mau melakukan ini semua? Membahayakan dirimu sendiri? Aku ingat kamu pernah bilang kalau kamu tidak bisa diam saja melihat apa yang terjadi pada nasabah UNI-BANK. Tapi kenapa? Tidak bisakah kamu menyerahkan semua ini kepada kepolisian?” Tanyaku. Kami berdua berdiri saling berhadapan di ruang tengah. Dia menatapku.

“hidup itu selalu tentang sebuah pilihan yang kontradiksi. Bagiku menjalani kehidupan tak pernah lepas dari membuat suatu pilihan, seperti kode bineral yang hanya terdiri dari dua karakter ‘1’ atau ‘0’, seperti yang sering kamu temukan dalam kehidupan sehari hari, antara Ya atau tidak, gelap atau terang, besar atau kecil, salah atau benar, hidup atau mati,,, Mengetahui adanya serangan itu, pilihanku adalah melawan atau diam saja. Aku memilih untuk melawan… dulu Mamaku pernah berpesan kepadaku seperti ini

Mama tidak menyuruhmu untuk hidup seperti yang kamu inginkan, tapi jalanilah kehidupan yang akan kamu banggakan.’

sampai sekarang kata-kata itu masih kupegang” Jelasnya lalu berjalan meninggalkanku untuk menaiki tangga menuju kamarnya.

Hidup adalah untuk membuat pilihan? Menjalani kehidupan yang membanggakan?. Angel, kenapa kamu keren banget sih jadi cewek?? Aku semakin mengaguminya. Aku selalu kagum dengan cewek yang tahu jalan hidupnya senidiri. Seperti Rein, seperti Alexa, dan banyak contoh lainnya. Angel adalah satu cewek yang kukenal yang memiliki keteguhan, mempunyai prinsip yang kuat, dan berani melangkah dengan penuh percaya diri. Sepertinya tidak ada pilihan lain bagiku selain membantu Angel. Tapi sebelum itu, aku harus segera pulang ke rumah karena Rein sudah menungguku.

.

.

.

.

Setibanya di rumah aku langsung mencari Rein. Aku tidak melihatnya di lantai satu. Kupikir dia sedang berada di kamarnya. Saat aku sudah berada di lantai dua, aku bergegas menuju kamarnya. Pintu kamarnya terbuka setengah. Betapa terkejutnya aku saat masuk ke dalam kamarnya karena mendapati Rein sedang menangis di tepi tempat tidurnya.

Rein menangis? Kenapa dia menangis?. Dia duduk di tepi tempat tidurnya, menunduk sambil terisak dan mengeluarkan air mata. Dia terlihat begitu sedih. Aku mendekatinya dan duduk disebelahnya, Rein melihatku kemudian kudekap tubuhnya dalam pelukanku.

“Ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanyaku sambil mengusap lembut kepalanya yang berada di dadaku.

Aku berusaha menenangkannya di dalam pelukanku. Tapi tubuhnya semakin bergetar dan dia tidak berhenti menangis. Pelukannya padaku juga semakin erat. Aku semakin kebingungan. Kemudian aku melihat sesuatu di sebelahnya Rein, disana tergeletak album kenangannya saat masih sekolah dulu. Akhirnya aku mengerti apa yang membuat dia menangis.

“Karena Alexa?” Tanyaku pelan.

“Maafin aku Dek,. Maafin aku,,” Ucapnya semakin memelukku erat. Tangisannya semakin pecah.

Rein adalah cewek paling tangguh yang pernah kukenal. Cewek dengan kepribadian yang kuat dan selalu mandiri. Tapi bukan berarti dia tidak pernah merasa terpuruk dalam kesedihan hingga menangis sedih seperti sekarang ini. Ada dua hal yang bisa membuatnya menangis sedih, pertama karena aku dan kedua karena kepergian Alexa. Kepergian Alexa masih sulit dia terima yang terkadang akan membuatnya menangis jika teringat akan Alexa. Dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Alexa.

“Harus berapa kali aku bilang, aku gak pernah nyalahin kamu Rein.“ Ucapku padanya.

“Alexa pergi karena aku Dek, ini semua salahku,,!! aku sangat membenci diriku sendiri” Ucapnya.

“Rein.. berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Berhentilah merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Alexa. “ Ucapku.

Kemudian Kudorong pelan tubunya agar lepas dari dekapanku, kutatap wajahnya yang sedang bersedih dan menangis. Dia adalah cewek yang paling kusayangi, rasanya begitu hancur melihat Rein menangis dan bersedih seperti ini. Sudah cukup selama ini aku membuatnya bersedih karena ulahku, dan aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Lalu kuusap air mata yang menetes di kedua pipinya. Kemudian aku teringat dengan perkataan Angel tadi tentang hidup yang tak lepas dari membuat sebuah pilihan.

“jangan menangis Kak, Alexa akan sedih melihatmu seperti ini” Ucapku sambil mengusap air matanya. “Itu bukan salahmu,, Saat itu Alexa dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Tapi dia telah membuat pilihannya. Dia memilih untuk menyelamatkanmu karena dia tau kalau kamu sangat berarti bagiku dan dia gak ingin melihatku sedih kehilanganmu” Ucapku.

Rein menatapku begitu dalam kemudian dia kembali memelukku erat.

.

.

.

—-POV REIN—-

Rega menarik kepalaku dengan lembut menuju dadanya. Terlihat usahanya untuk menenangkanku dengan segala kelembutan dan kasih sayangnya.

“Ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanya Rega, dia mengusap kepalaku dengan lembut, berusaha memberikan kenyamanan kepadaku yang sedang menangis dalam dekapannya. Kemudian aku semakin memeluk tubuh adikku erat dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya. Meluapkan semua emosiku dalam setiap tetesan air mata.

“Karena Alexa?” Tanya dia pelan.

“Maafin aku Dek,. Maafin aku,,”

Mendengar dia menyebut nama Alexa, membuat tangisanku semakin tidak terbendung dan aku terus-terusan memohon maaf kepadanya.

“Harus berapa kali aku bilang, aku gak pernah nyalahin kamu Rein.“ Ucanya kepadaku.

“Alexa pergi karena aku Dek, ini semua salahku,,!! aku sangat membenci diriku sendiri”

Sampai kapanpun aku akan selalu merasa bersalah kepadanya. Karena jika Alexa tidak menyelamatkanku, Alexa masih akan ada di Dunia ini dan Rega tidak harus kehilangan Alexa yang begitu dia cintai. Aku pernah mengatakannya, dan aku akan mengatakannya sekali lagi bahwa aku yang telah memisahkan cinta mereka disaat mereka saling mencintai.

“Rein.. berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Berhentilah merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Alexa. “ Ucapnya.

Rega menjauhkan tubuhku dari dekapannya. Kedua tangannya memegang masing-masing pundakku lalu dia menatapku. Kemudian disekanya air mata yang menetes di wajahku.

“jangan menangis Kak, Alexa akan sedih melihatmu seperti ini. Itu bukan salahmu .Saat itu Alexa dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Tapi dia telah membuat pilihannya. Dia memilih untuk menyelamatkanmu karena dia tau kalau kamu sangat berarti bagiku dan dia gak ingin melihatku sedih kehilanganmu”

Aku terdiam beberapa saat mendengarkan ucapan Rega. Lalu Kembali kupeluk tubuhnya dengan erat. Entah kenapa Kata-katanya terasa begitu menguatkan dan menyembuhkan. Terdengar begitu tulus dan mendalam. Padahal aku tau hatinya lebih sakit dariku.

Beberapa saat kemudian, perasaanku berangsur-angsur tenang lagi. Memang tidak ada paling membuatku nyaman selain dadanya Rega. Apalagi aku begitu menyayanginya. Seketika aku merasa di dalam dekapannya adalah tempat ternyaman yang pernah aku singgahi. Aku merasa tenang, aku merasa terlindungi, aku merasa Rega sedang menjagaku, dan aku merasa dia disini untuk menghilangkan semua keresahan dan kesedihanku.

Kemudian Rega melepaskan dekapannya. Dia menatapku sambil tersenyum lalu menyingkap rambut yang menutupi wajahku.

“Jangan menangis lagi, aku akan ikut sedih jika melihatmu menangis” Ucapnya.

Meskipun saat ini aku sudah merasa lebih baik, rasa bersalah ini akan selalu datang. Masa lalu yang kelam antara aku Rega dan juga Alexa tidak akan pernah bisa kulupa. Hanya mendengar nama Alexa akan membuatku mengingat lagi kenangan pahit itu. Aku harap Rega akan selalu ada untukku ketika kenangan pahit itu mendatangiku lagi. Karena hanya dia yang bisa menyembuhkanku dari rasa sakit yang selalu bisa menenggelamkanku dalam kesedihan.

Rega mendekatkan wajahnya kemudian mengecup keningku. “aku menyayangimu Rein” Ucapnya setelah mengecup keningku. Beruntungnya aku ada dia yang tidak berhenti menyayangiku meskipun aku pernah membuatnya terluka.

“Katakan sekali lagi,,,” Pintaku, dia tersenyum.

“aku meny…”

Belum selesai dia mengatakannya, kudekatkan wajahku padanya lalu kucium bibirnya. Kuperdalam ciumanku dengan menarik bagian belakang lehernya. Rega mulai membalas ciumanku. Kami berdua sama-sama terpejam dan tenggelam dalam penyatuan bibir kami.

Rega telah menjadi bagian dariku, dan aku telah menjadi bagian darinya, entah itu melalui senyum dan air mata, atau saat kami sedang berpelukan, dalam ciuman ataupun disaat kami sedang bercinta kami merasa seperti kami tau bahwa kami saling memiliki. Terkadang rasa ini membuat Kami sama-sama lupa dengan kondisi yang menyertai hubungan kami. Keadaan yang tidak pernah bisa menyatukan kami. Dan terkadang kami memang sengaja tidak mempedulikannya.

Aku merasakan gairahnya semakin meninggi di setiap kecupannya di bibirku. Kugigit nakal bibir bawahnya saat bibirnya itu sedikit terbuka. Rega mengerang, aku suka sekali dengan suara erangannya. Kemudian dia membalas dengan sedikit menekan bibirku lalu mengisap bibirku dengan kuat sampai membuat tubuhku memanas. Rega lumayan mahir dalam bericuman, dia tau cara mengisap ataupun menyedot bibirku. Bukan hanya bibir, Dia juga pintar memainkan lidahnya. Lidahnya mulai memasuki mulutku kemudian membelit lidahku.

Aku terlena saat bibirnya berhasil mendapatkan lidahku. Rega mengisap lidahku di mulutnya.

“engghh,,,” Isapan bibirnya pada lidahku Membuatku mengerang. Jari-jariku menyusup di bagian belakang rambut hitam Rega, mencengkramnya hingga berantakan.

Kemudian Rega melepaskan ciumannya dan beralih turun ke leherku. Dia mencumbuku seperti candu. Aku ingin lebih, aku ingin dia menggodaku, aku ingin dia menyentuhku dan aku ingin dia berada dalam diriku. Kucengkram bagian bawah kaosnya lalu kutarik ke atas. Rega mengehentikan cumbuannya pada leherku agar kaosnya bisa terlepas dari tubuhnya.

Mataku terpaku pada dadanya yang bidang. Rega tersenyum menatapku. Entah kenapa rasanya Rega jadi lebih tampan berkali-kali lipat saat tersenyum seperti itu. Lalu Rega menarik pinggulku agar lebih dekat ke tubuhnya. Kembali dia mencium dan mencumbu bibir dan leherku, kali ini dia lakukan dengan liar.

Aku mendesis pelan saat merasakan tangan Rega merayap di perutku lalu masuk ke dalam tanktop putih yang kukenakan.

“kamu wangi sekali Rein..” Ucapnya di tengah-tengah cumbuannya. Tangannya yang berada di dalam tanktopku kini menangkap salah satu payudaraku yang tidak memakai bra.

“Padahal aku belum mandi,, aahhh” Balasku saat tiba-tiba Rega meremas payudaraku dengan lembut.

Aku lebih suka aroma tubuhmu yang belum mandi seperti ini” Ucapannya “bikin sange!!” Ucapannya membuatku tersenyum. Cowok lain yang mengatakan hal seperti itu padaku pasti sudah kuhajar. Tapi berbeda jika Rega yang mengatakannya, aku akan senang dan bahagia menjadi pusat gairahnya.

Kami berciuman lagi, sambil Rega meremas remas payudaraku di balik tanktop ku. Sesekali dia memainkan ujung payudaraku, membuatku semakin menggila saat dia melakukannya. Bagian dari diriku yang lain sudah mulai basah karena sentuhan dan cumbuan adikku pada tubuhku. Aku tidak mau tinggal diam, aku menyusupkan tanganku ke dalam celananya dan akhirnya aku bisa memegang Miliknya. Penisnya sudah terasa membesar dan menegang. Rega sempat menghentikan gerakan bibirnya saat tanganku memijit-mijit penisnya. Aku mendengar desahannya yang tertahan.

Kemudian aku pasrah saat dia membaringkanku di atas tempat tidur. Lalu dia menindih tubuhku. Kedua tangannya begitu posesif mencengkram dan menahan kedua tanganku di atas kepalaku. Kutatap matanya yang sedang bergairah. Aku tidak bisa berpaling dari tatapannya, wajahnya yang tampan, rahangnya yang kuat. Rega adalah makhluk cowok paling sempurna di mataku. Cowok yang dulu cengeng, pendiam dan lugu kini telah berubah menjadi dewa seks pujaan banyak cewek.

Rega kembali menyapukan lidahnya yang hangat di leherku diiringi dengan kecupan-kecupan lembut bibirnya di setiap inchi kulit leherku. Sesekali dia menjilati ketiakku dengan begitu bernafsu. Apa yang dia lakukan semakin membuatku kegelian dan membuat gairahku semakin menjadi. Apalagi dia melakukannya sambil meremas kedua payudaraku dari luar tanktop.

Puas mencumbuku, Rega menarik tanktop ku ke atas sampai terlepas dari tubuhku. Payudaraku yang tidak memakai bra terpampang jelas di hadapannya. Dia menatap takjub kedua payudaraku. Lalu kedua tangannya menangkup kedua payudaraku yang katanya sangat dia sukai itu.

“enggghhhh!!!”

Aku melenguh saat tangannya yang besar meremas payudaraku. Kedua payudaraku di remasnya dengan gemas. Sensasi remasan tangannya pada payudaraku terasa begitu memabukkan. Membuat putingku semakin menegang. Dan parahnya saat putingku sedang tegang-tegangnya, dia malah memainkan putingku dengan jari-jarinya.

“ahhh…ahhh Dekkk”.

Remasan tangan Adikku semakin kencang. Mendengar lenguhan dan desahanku membuatmya semakin bersemangat bermain-main dengan payudaraku. Lalu kupegang salah satu payudaraku.

“Emutin Dek..” Pintaku pada Rega. Tanpa ragu dia mulai memainkan lidahnya di payudaraku yang sedang kupegang. Aku bisa merasakan nafasnya di payudaraku.

“Deeekkkk”.

Rega menjilati puting payudaraku, sesekali dia menggigit dan mengisapnya. Sensasinya semakin membuatku melayang sampai aku melengkungkan tubuhku. Aku juga sampai harus mencengkram sprei tempat tidurku ketika mulut hangat Rega menghisap puting payudaraku dengan sangat kuat.

“aahhhhhhh.. fakkkk”

Seperti bayi yang sedang menyusu, Rega masih asyik melumat payudaraku secara bergantian. Sudah lama wajahnya terbenam di payudaraku. Kedua payudaraku sudah basah karena air liurnya Rega dan juga dipenuhi dengan tanda merah akibat ulah mulutnya. Sedari tadi aku hanya bisa terpejam, hanya bisa melenguh merasakan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan adikku pada payudaraku. Aku merasa bahagia saat Rega mengisap puting payudaraku. Punyaku sudah sangat basah di bawah sana. Aku sedikit kecewa karena Rega sama sekali tidak menghiraukan bagian bawah tubuhku.

Aku membuka mata lalu mendorong tubuh Rega ke samping. Kemudian aku bangkit dan duduk di atas perutnya Rega. Tanganku membelai dada bidang itu. Aku menatap mata Rega yang sudah diselimuti oleh gairah. Dia menatap tubuhku yang hanya menyisahkan panties sedang duduk di atas perutnya. Tangannya mencoba meraih payudaraku tapi aku menjauhkan badanku kebelakang. Dia terlihat kesal. Aku semakin menggodanya dengan cara meremas payudaraku sendiri dihadapannya. Aku yang awalnya berniat untuk menggodanya malah aku sendiri semakin tidak tahan. Aku terangsang karena remasan tanganku di payudaraku sendiri.

Kemudian aku mendekatkan wajahku ke wajahnya Rega, mengecup bibirnya sebentar lalu aku mulai mengecup dan menjilati lehernya. Rega meremas pinggangku lalu tangannya mendarat di paha dan juga pantatku. Tangannya ga bisa diam selama aku mencumbunya, tangannya meraih apapun yang bisa dia jangkau. Membuatku semakin bersemangat menjilati leher adikku ini.

“kamu suka?” Bisikku padanya saat aku menggigit gigit telinganya.

“Suka.” Jawabnya “aku akan lebih menyukainya kalau kamu melakukannya di tempat lain”

Aku tau apa yang dia ingin aku lakukan. Aku turun dari tubuhnya lalu duduk di samping tubuhnya. Dari samping, Kubuka ikat pinggang celananya Rega lalu dengan sekali tarikan, aku berhasil mengeluarkan penis adikku dari sarangnya.

Aku memegang sepenuhnya penis Rega secara langsung. Begitu besar dan panjangnya wow banget. Selalu berhasil membuatku terkesima ketika melihatnya. Aku yakin semua cewek yang pernah merasakan penis Adikku ini juga merasakan hal yang sama. Kemudian aku mulai menaik turunkan tanganku pada penisnya sambil menatap wajahnya. Rega mulai terlihat tidak tenang dengan gerakan gerakan tanganku pada penisnya.

“ahh Reinnnn”

Rega mendesah, aku selalu suka saat dia mendesah sambil menyebut namaku. Aku masih menatapnya saat aku mulai membungkuk ke arah penis Rega yang sedang kugenggam. Dia kembali mendesah saat lidahku menjilati ujung penisnya. Aku tersenyum bahagia melihat ekspresinya yang sedang kegelian. Kemudian aku mengecup ujung penis adikku yang sudah sangat menegang lalu dengan perlahan mulai memasukannya ke daam mulutku.

“Reinn,, sshhhhh “

Kini Rega menutup matanya saat aku mengulum penisnya, mulutnya tidak bisa berhenti merintih ketika mulutku mencium, mengisap, menjilati penisnya. Sesekali kugigit-gigit kecil ujungnya. Luar biasa memang punya adikku ini, Begitu besar dan panjang. Sampai aku tidak bisa memasukkan sepenuhnya penis adikku ini ke dalam mulutku. Aku selalu membayangkan penis adikku saat Oliv memainkan dildonya di memekku.

Sepuluh menit aku berpesta penisnya Rega di dalam mulutku.

“ahhhh ahhhh faakkk”

Rega mendesah cepat sambil mengumpat ketika aku semakin mempercepat gerakan mulutku. Tanganku ikut mengocok bagian bawah penisnya. Tubuhnya semakian tidak tenang.

“ahh Reinn aku mau..” Ucapnya sambil mencengkram pahaku.

Aku tau dia akan orgasme, tapi aku membiarkan penisnya mengeluarkan spermanya di dalam mulutku. Aku merasakan miliknya menyembur mulutku beberapa kali. Kutelan habis semuanya tanpa sisa. Bahkan aku masih mengulum penis Rega meskipun dia sudah orgasme.

“Rein Please Stopp..” Ucapnya.

Kutatap wajahnya sambil tetap mengulum penisnya. Dia juga menatapku dengan nafas yang terengah-engah. Takkan kubiarkan miliknya istirahat sebelum penisnya ini membuatku klimaks.

Beberapa saat kemudian Penisnya Rega mulai menegang lagi di dalam mulutku. Dia sudah mulai merintih lagi. Namun kali ini tangannya tidak tinggal diam. Karena tubuhku yang sedang membungkuk untuk mengulum penisnya, pantatku jadi sedikit terangkat. Dari belakang, Kurasakan tangan Rega membelai memekku yang masih tertutupi panties. Sesekali dia menggesekkan dua jarinya pas di bagian bibir Memekku. Nikmat rasanya saat dia melakukan itu. Lalu dia menyingkap ke samping bagian panties yang menutupi memekku. Tak lama kemudian aku mengerang dalam kulumanku pada penisnya ketika Rega memasukkan satu jarinya ke dalam memekku.

“enghhhhhh”

Aku mengerang panjang saat Rega mulai menggerakkan jarinya. Dia langsung mengincar klitorisku. Aku merasakan nikmat yang luar biasa tatkala jarinya menggesek-gesek klitorisku.

“Rein berenti bentar…” Ucapnya sambil mengeluarkan jarinya dai memekku. Aku kecewa karena dia menghentikan aksinya. Aku membebaskan penis Rega dari mulutku. Lalu aku menatapnya. Kenapa dia juga memintaku berhenti?

Tak lama kemudian kami berdua sudah berada dalam posisi 69 seperti yang dia minta. Aku sering melakukan posisi ini jika sedang bersama Oliv di asrama. Aku yang di atas menindih tubuhnya kembali mengulum penis Rega. Sedangkan memekku sekarang tepat diatas wajahnya Rega. Aku merasakan nikmatnya ketika lidahnya Rega mulai menjilati bibir memekku. Dia meremas bokongku dengan kuat. Fuck. Luar biasa rasanya. Lidahnya membuatku merasakan nikmat yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Aku sampai tidak fokus mengulum penisnya dan hanya membiarkan penisnya di dalam mulutku.

Rega terus menjilat, menggigit bibir kewanitaanku. Lidahnya juga tidak lupa untuk menyapu klirotisku. Uhhh, enak banget. . aku merasa lumpuh dan hanya bisa menggenggam penisnya dengan erat. Kenikmatan yang kurasakan jadi berkali-kali lipat ketika jari-jarinya membelai belahan pantatku sesekali memasukkan jarinya di dalam lobang pantatku. Persis seperti yang sering dilakukan Oliv padaku. Dan aku sangat menyukainya.

Rega berhasil membuatku sampai ke puncak, pinggulku semakin menekan wajahnya ketika ledakan gairah itu menyerangku.

“Sssshhhh Dekkk,, enakkk banget”

Sama seperti yang kulakukan tadi, Rega melahap habis cairan yang keluar dari memekku. Kepalaku terkulai lemas di pahanya Rega setelah ledakan orgasme yang baru saja terjadi.

Beberapa menit setelah istirahat sebentar, sekarang aku sedang nungging di atas tempat tidur sedangkan Rega lagi-lagi bersemangat menjilati memekku dari belakang. Aku sudah tidak tahan ingin segera merasakan penisnya Rega.

“Please,,,”

Berkali-kali aku memohon padanya agar segera memasukkan penisnya, tapi dia tidak mempedulikanku.

“Dekk, Please..masukinnn” Pintaku sekali lagi, Tapi Dia masih saja sibuk menjilati belahan pantatku dengan liar.

“RRREEEGAAAA!!!!!!!!!” Aku membentaknya sambil menoleh ke belakang. Akhirnya dia mau berhenti dan menatapku. Dia sama sekali merasa tak bersalah main-main dengan gariahku, dia malah tertawa puas.

.

.

.

.

“yang kerass Dekk,,” Pintaku.

PPLLLLLAKKKKKKKKK

“Ahhhhhhcchhh” Kali ini tamparan Rega di pantatku terasa sangat sakit, tapi juga terasa nikmat disaat yang bersamaan.

PPLLLLLAKKKKKKKKK

“ahhh,, ahhh, ahh enak banget Dekkkk lagii.. lagii…” Gumamku.

PPLLLLLAKKKKKKKKK

Rega masih menggenjot memekku dari belakang sambil menampar-namapar pantatku. Kami sudah melakukan posisi doggy style ini selama dua puluh menit. Aku sangat suka gaya bercinta seperti ini. Membuatku merasakan nikmatnya bercinta yang sebenarnya. Membuatku semakin melayang.

Capek nungging, aku membiarkan tubuhku terkulai di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap dan penis Rega masih menggenjot memekku dari belakang. Ternyata posisi seperti ini membuat penis Rega menusuk sangat dalam di dalam memekku. Dan aku sangat menyukainya.

“ahhhhhh ahhhh ahhhh”

Rega menindihku, kurasakan dadanya ada di punggungku. Sesekali dia mengecup pundakku. Hanya pinggulnya yang bergoyang menusuk-nusuk memekku.

Desahanku semakin tak terbendung. Aku mendesah sekencang-kencangnya. Parahnya Rega menyukai itu. Untung Mba Tina sudah aku suruh pulang kampung, jadi aku dan Rega bebas teriak semau kami di dalam rumah.

“Terus Rein,, teriak yang kenceng”

“Ahhhhhh ahhhhhhhhhhh”

Aku benar-benar sudah ngeblank, hanya bisa mengikuti alur permainan Rega, dia mebolak-balikkan tubuhku, menggenjotku memekku dengan berbagai macam posisi untuk menciptakan sensasi yang berbeda. Dia sudah sepenuhnya menguasai tubuhku. Aku hanya bisa menjerit, mengerang dan mendesah sampai kelelahan. Bahkan sampai aku kelelahan pun Penisnya Rega tetap mengoyak-ngoyak memekku. Apakah aku membencinya karena dia seperti ini? Begitu buasnya bercinta denganku?. Sama sekali tidak, aku malah menyukainya. Aku akan dengan senang hati melayani nafsu adikku sampai pagi.

.

.

.

Hampir satu jam sudah kami saling mengadu kelamin kami. Berbagai gaya dan posisi telah kami coba. Aku sudah orgasme tiga kali dalam waktu satu jam. Kali Ini Rega duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Sedangkan aku yang kali ini bergerak memompa penis Rega di pangkuannya.

“ahhh..sshhh Dekkk”

Aku hanya bisa mendongak dan merintih tiap pinggulku turun dan penisnya Rega menusuk memekku sangat dalam. Rega menenggelamkan wahjahnya di dadaku. Mengisap puting payudaraku agar aku lebih bersemangat memompa penisnya. Aku pun semakin bergerak cepat menungganginya. Erangan-erangan nikmat juga keluar dari mulutnya.

“masukkin jarimu Dek,,ahhh” Pintaku

“hahh?? Dimanaa?” Tanya dia.

“Pant,,tattt shhhhh”

Rega menuruti pintaku, dia masukkan ibu jarinya ke dalam lobang pantatku. Ini sungguh erotis. Perasaan ini sungguh aneh, cara dia memasukkan jarinya,

“ahhh”

Atau aku biarkan penis Rega masuk ke sana saja? Oliv selalu mengatakan agar aku mencoba anal. Inikah saatnya kubiarkan Rega menganalku? Apakah aku siap dengan rasa sakitnya?

“Rein,, aku mau keluar..” Ucap Rega

Mungkin lain kali. Batinku. “Mau keluar didalem?” Tanyaku. Semakin kupercepat gerakan pinggulku.

“emang bisa?” Tanya dia. Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Karena saat ini aku sedang dalam masa subur. Dia terlihat keccewa.

“Di mulutku lagi aja ya Dek..?” Ucapku menawarkan pilihan untuknya. Dia menggangguk.

Aku bangkit lalu meminta dia berdiri. Rega kemudian berdiri di atas tempat tidur. Gantian aku yang bersandar di sandaran tempat tidur lalu kusuruh dia menggenjot penisnya di mulutku. Aku membuka mulutku lebar-lebar, membiarkan penis adikku keluar masuk dengan cepat di dalam mulutku. Aku menatap wajah Adikku yang sedang menahan-nahan orgasmenya. Wajahnya memerah. Hingga Akhirnya ekspresi wajahnya berubah menajdi bahagaia ketika Rega memasukkan penisya begitu dalam di dalam mulutku dan cairan spermanya menyemprot tenggorokanku begitu banyak.

.

.

.

.

.

Masih jam sembilan malam. Rega tidur menyamping di atas tempat tidur membelakangiku. Kami berdua masih sama-sama telanjang. Tapi dia tidak sedang tidur, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Menempelkan payudaraku di punggungnya. Kubelai perutnya yang Six Pack. Kukecup lembut punggungnya. Tak lupa kupijit-pijit penisnya dari belakang.

“kamu sedang mikirin apa Dek? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanyaku.

Rega berbalik badan menghadapku. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

“Gimana Luna? Ada kemajuan dengannya?” Tanyaku. Luna adalah salah satu cewek yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Rega juga pernah bercerita sedang dekat Luna.

“Kami cuma temenan Kok Rein”

“Teman?” Tanyaku

“ya.”

“Tapi kalian masih tetep ML?” Tanyaku lagi.

“Kenapa enggak? Emangnya ga boleh ml sama temen? Saat kami sama-sama merasa kesepian dan lagi pengen banget tapi ga punya pasangan. Disitulah gunanya temen, kami saling membantu satu sama lain” Ucapnya sambil tersenyum.

“Siapa yang mengajarimu ngomong kayak gitu?” tanyaku.

“kamu kan..?” Serunya sambil nyengir.

“Dasar., aku ga pernah ngajarin kamu kayak gitu..”

Ya begitulah Rega. Dia selalu dekat dengan banyak wanita, selain aku. Dia punya kebutuhan besar akan seks. Baginya, seks adalah kebutuhan wajib selain bernafas. Aku yakin selain dengan Luna dia punya partner seks nya yang lain yang tidak dia ceritakan kepadaku.

“aku sama Luna kan sama-sama jomblo, jadi gapapa kan? Lagipula, sepertinya dia ga punya keinginan untuk jadi pacarku, dia hanya menganggapku sebagai teman, tidak untuk melangkah lebih jauh lagi ” Ucapnya.

Kubelai wajahnya “kamu cuman belum menemukan cewek yang tepat” Ucapku “aku yakin suatu saat nanti kamu akan menemukannya, cewek yang paling kamu cintai dan kalian akan bersama selamanya”

“ya, Luna juga berkata seperti itu kepadaku. Aku pasti menemukannya,,,” Ucapnya, dia menatapku begitu dalam “Aku akan memulai lagi dari awal”

Sebelum dia menemukannya, Aku akan selalu ada untuknya, terus bersamanya, menjaganya sampai dia menemukan seseorang yang bisa menjaganya, Sampai dia menemukan cinta sejatinya. Kebahagiannya adalah semua yang paling kuinginkan di dunia ini. aku akan melakukan apapun untuknya. Apapun untuk menjaganya dari bahaya.

“Rein. Apapun yang terjadi nanti di masa-masa yang akan datang,, berjanjilah kamu harus tetap disiku, oke?” Ucap Rega. Aku sedikit kaget dia berkata seperti itu.

“Berapa lama kamu mengarapkan aku untuk selalu disampingmu? Karena Suatu saat nanti kita akan bahagia dengan pasangan kita masing-masing” Ucapku.

“Aku akan senang jika untuk selamanya. Tidak peduli meskipun kita sudah bahagia dengan pasangan kita masing-masing, sebagai kakakku, kamu mau kan untuk selalu ada disisiku untuk selamanya?” Tanya dia.

“tentu,” Ucapku sambil tersenyum kepadanya. Dia membalas senyumanku, Lalu mengecup keningku.

Tapi aku tidak bisa berjanji. Sebenarnya berat bagiku membayangkan dia bahagia dengan wanita lain. Karena sampai sekarang aku tidak bisa berhenti mencintainya. Aku masih belum bisa menghilangkan perasaan ini, karena aku terlalu mencintai adikku ini. Aku dan dia memang tidak punya ikatan darah dalam tubuh kami. Tapi status hubunganku dengannya sebagai saudara tiri dan juga rasa bersalahku kepada Alexa begitu kuat membelenggu perasaan ini. Semoga aku bisa segera melupakan perasaanku kepadanya. Aku harus bisa melupakan cintaku padanya atau kejadian itu bakal terulang lagi, saat aku dibutakan oleh cemburu pada ketika dia mencintai Alexa.

“berjanjilah kepadaku untuk tidak melakukan hal aneh-aneh saat aku KKN” Ucapku

“iya-iya. Janji, jangan terlalu mengkhawatirkanku.”Ucapnya. “uhmm, sebenarnya tadi aku sedang memikirkan Winry.”

“Emangnya kenapa Dengan Winry? Kamu suka dengan dia?” Tanyaku

“Eh? Bukan seperti itu..,, dia semakin menghindariku Rein, aku jadi bingung..,”

“Sepertinya aku mulai menyukai cewek-cewek yang ngekost ditempatmu. Yang satu sangat membencimu sampai dia pergi,, yang satu lagi berusaha menghindarimu.. tidak biasanya ada cewek yang seperti itu kepadamu” UCapku

“Angel tidak hanya membenciku, dia membenci semua cowok.. tapi tadi dia kembali dan menempati kamarnya lagi”

“Oh yah? Aku ingin segera bertemu dengannya..” Ucapku. Oliv akan sangat senang dengan tipe cewek seperti Angel yang benci dengan cowok. Aku semakin penasaran seperti apa sih Angel yang sering diceritakan Rega kepadaku. “emang apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat Winry menjauh?” tanyaku.

“itu dia masalahnya, aku juga tidak tau kenapa dia menghindariku..”

“Kalau gitu kamu tanyakan aja langsung padanya..” Ucapku.

.

.

.

.

.

SATU MINGGU BERIKUTNYA

—-POV REGA—-

Saat itu memang masih baru jam setengah sembilan pagi, tetapi perkuliahan mata kuliah statistik sudah usai. Kebahagiaan terpancar di wajah para mahasiswa lain termasuk Dicky. Mereka terlihat senang karena Kuliah di hari Jumat ini selesai lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang paling menyenangkan selain bisa memulai aktivitas akhir pekan ini lebih awal.

“Ayo cabut” Ajak Dicky. Aku dan dia masih berada di luar lab statistik di lantai 5 Gedung G.

“kamu duluan aja deh” Ucapku masih memandang pintu lab dimana mahasiswa masih bergantian keluar dari dalam ruangan.

Tapi aku merasa aneh dengan keadaan ini. Bukannya aku mengeluh karena waktu kuliah yang hanya sebentar. Hanya saja, Pagi ini aku merasa Bu Fiona tidak terlihat seperti biasanya. Tidak biasanya Bu Fiona menutup jam kuliah untuk hari ini begitu cepat. Tadi setelah dia datang terlambat, Bu Fiona hanya memberikan tugas untuk kami lalu mempersilahkan kami keluar dari lab statistik.

Bu Fiona terlihat sungguh berbeda. Selain pagi ini kurang bersemangat untuk mengajar, kulihat wajahnya yang biasanya terlihat ceria, segar dan murah senyum kali ini terlihat muram. Apakah dia sedang ada masalah? Seolah sebuah masalah yang sangat berat menutupi seluruh aura kecantikannya. Setelah kejadian akhir-akhir ini antara aku dengan Winry ataupun dengan Angel, aku ingin menjadi orang yang lebih peka lagi dengan orang-orang di sekitarku.

Lima belas menit berlalu sejak semua mahasiswa meninggalkan ruangan. Aku masih menunggu Bu Fiona di depan pintu lab yang tertutup. Tetapi tidak ada tanda-tanda Bu Fiona keluar dari dalam lab. Aku mencoba mengintip dengan membuka sedikit pintu lab. Yang kupikirkan benar-benar terjadi, Bu Fiona terlihat kusut, dia menangis seorang diri di mejanya. Perlahan aku masuk ke dalam ruangan mendekati Bu Fiona yang masih duduk di Mejanya.

Dia menyadari kedatanganku lalu berusaha menyeka air matanya dengan tangannya. Matanya memerah karena menangis. Shit. Seandainya aku membawa tisu bersamaku.

“Rega??, ada yang ketinggalan? Atau ada yang ingin kamu tanyakan?” Ucapnya dengan suara yang parau. Walaupun sekuat tenaga mencoba untuk tersenyum kepadaku tetapi Air mata di ujung matanya tidak bisa menahan untuk tidak jatuh membasahi pipinya maskipun dia telah mengusapnya.

“Bu Fiona kenapa? apa yang terjadi?” Tanyaku.

“tidak terjadi apa-apa Rega, Saya baik-baik saja” Ucapnya masih berusaha tersenyum.

“Aku memang bukan mahasiswa yang pintar, tapi aku tidak sebodoh itu percaya kalau Ibu sedang baik-baik saja” Ucapku. “Dan mungkin aku tidak bisa memberikan solusi untuk apapun masalah Ibu, tapi aku bisa jadi pendengar yang baik, siapa tau dengan menceritakannya kepadaku bisa membuat Ibu lebih lega”

Bu Fiona menatapku.

.

.

.

.

.

Dengan mengendari mobil masing-masing, aku dan Bu Fiona bertemu di sebuah kédai kopi modern di pusat kota. Aku dan dia duduk bersebelahan di tempat duduk sofa yang bisa digunakan untuk duduk berdua.

Menit demi menit berlalu dia masih diam saja. Kubiarkan dia menenangkan diri. Beberapa kali air mata jatuh membasahi pipinya dengan sendirinya. Tatapannya kosong. Aku jadi semakin khawatir dengan Dosen cantik di sebelahku ini. Seberat apakah masalahnya?

Hingga akhirnya dia pun mulai bersuara.

“Kupikir, Sepertinya suamiku membawa wanita lain ke dalam rumah kami”

Ucapnya pelan tanpa melihatku. Whattt?? Aku tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan keterkejutanku mendengar ucapannya.

Bu Fiona sudah menikah? Dan apakah Suaminya itu sudah gila? menyelingkuhi wanita sempurna seperti Bu Fiona.

“Berawal dari tiga hari yang lalu saat aku tidak sengaja menemukan sebuah kotak berpita warna merah di laci ruang kerjanya di rumah, ketika kubuka, isinya adalah sebuah kalung liontin yang sangat indah ditambah dengan catatan tulisan tangannya pada sebuah kertas kecil bertuliskan “I Love You”. Aku merasa kalau kalung itu adalah kado ulang tahun untukku. Aku merasa sangat senang dan bahagia dengan rencana surprise romantisnya. Kukembalikan kotak itu di tempat semula.

Kemarin adalah hari ulang tahunku, pagi harinya saat bangun tidur sampai dia berangkat ke kantor, dia belum memberikan kalung itu kepadaku, dia juga tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Kupikir mungkin dia akan memberikannya pada malam hari. Sepanjang siang di kampus aku memikirkan akan dengan cara bagaimana dia akan memberikan kalung itu kepadaku, mengajakku dinner romantis di luar atau memberikan surprise di rumah. Tapi sampai sore dia tidak menghubungiku.

Malam harinya ketika aku pulang dari rumah orang tuaku, aku berdandan lebih cantik dari biasanya, memakai baju yang minim, menyemprot parfum lebih banyak, lalu menunggu dia pulang kerja, sampai dengan lewat jam 12 malam dia juga belum pulang, tapi aku masih menunggunya di atas tempat tidur, karena memang akhir-akhir ini dia pulang sampai larut malam.

Dia baru pulang pada jam dua pagi, meski terlambat, dia mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku dan memberikan kado untukku. Tapi Aku sangat kaget dengan kado yang dia berikan, bukannya kalung liontin yang beberapa hari yang lalu kutemukan di laci tempat kerjanya, melainkan seperangkat Make Up. Jika memang bukan untukku, lalu untuk siapa kalung dan catatan cinta itu?. Wanita lain?. Aku mencoba untuk tetap tenang dan menyingkirkan semua pikiran-pikiran buruk, karena aku tau kalau dia sangat mencintaiku. Aku juga tidak bertanya padanya mengenai kalung itu. Tapi Sepanjang malam aku tidak bisa tidur memikirkan untuk siapa kalung itu.

Tadi pagi saat dia berangkat kerja, aku memeriksa ruang kerjanya, kotak kalung itu tidak ada. Perasaan tentang dia ada hati dengan wanita lain semakin menguasai pikiranku. Aku semakin tidak tenang dan berusaha memeriksa seisi ruang kerjanya tapi aku tidak menemukan apapun yang menunjukkan dia selingkuh dengan wanita lain. Lalu aku mencari di dalam kamar, di dalam lemari dan setiap helai pakaiannya, aku masih belum menemukan apapun sampai akhirnya aku menemukan sebuah lipstik di bawah kolong tempat tidur kami. Dan lipstik itu bukan milikku.,, Hatiku rasanya hancur, ternyata benar dia ada hati dengan wanita lain, dan yang paling menyakitkan, dia membawa wanita itu ke rumah kami, ke dalam kamar kami”

Bu Fiona meneteskan air matanya lagi. Kuraih tisu di atas meja cafe dan kuberikan padanya. Aku tertegun beberapa saat setelah mendengar ceritanya.

“apa Ibu yakin itu bukan lipstik Ibu?” Tanyaku. Bu Fiona menatapku tajam, Shit, pertanyaan yang bodoh, bagaimana mungkin seorang wanita tidak tau alat make up nya sendiri.

“ehmm,, Atau mungkin itu lipstik milik wanita lain selain Ibu yang tinggal di rumah Ibu?” Tanyaku. Mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan lain.

“tidak ada wanita lain lagi yang tinggal di rumah” Ucapnya.

“Saudara Ibu, atau saudara suami Ibu yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan Ibu? Bisa saja kan? Dan bisa jadi kalung itu akan di berikan kepada saudara suami Ibu, atau orang tuanya mungkin? Apa tidak sebaiknya Ibu bicarakan baik-baik dulu dengan suami Ibu ?”

“Bicarakan baik-baik? Maksudmu aku tanyakan langsung padanya? Mana ada orang selingkuh ngaku selingkuh?” Bu Fiona masih menatapku dengan matanya yang merah dan berair.

“tapi Ibu tidak melihatnya langsung kan?? Karena membawa selingkuhan pulang ke rumah itu rasanya nggak wajar dan nggak masuk akal..” Ucapku.

“Rumah selalu kosong tiap pagi sampai dengan sore hari, karena aku memang jarang pulang siang, tiap jeda mengajar di siang hari, aku selalu pulang ke rumah orang tuaku untuk memberikan ASI kepada anakku, anak kami yang tiap pagi aku titipkan ke mama… Dia memanfaatkan rumah kosong di siang hari untuk bebas membawa siapapun ke rumah tanpa ada orang yang tau,, Semalam aku memang masih ragu, tapi setelah menemukan lipstik itu, aku sangat yakin kalau dia selingkuh..”

Whatt?? Bu Fiona juga sudah punya anak??. Bakalan banyak mahasiswa yang patah hati jika mengetahui Bu Fiona sudah punya suami bahkan sudah punya anak. Bu Fiona kembali menangis tersedu-sedu. Sepertinya dia sudah sangat yakin kalau suaminya selingkuh meskipun dia belum melihatnya secara langsung. Apakah benar naluri seorang wanita tentang pasangannya itu sangat kuat? Seperti yang pernah dikatakan Mommy.

Deg!!. Mengingat Mommy aku langsung sadar dengan statusku yang juga sebagai selingkuhannya Mommy. Dan gilanya, Mommy selingkuh denganku di rumahnya sendiri. Shit..Shit.. Rasa bersalah kepada Mira dan juga kepada Papanya kembali menggelayutiku. Apapun namanya, di setiap perselingkuhan pasti ada yang tersakiti jika perbuatan itu ketahuan, ada hati yang terluka seperti Bu Fiona. Aku bisa membayangkan perasaanya yang hancur memikirkan suaminya yang telah menghianatinya dan juga anaknya.

Kemudian aku sadar jika masalah ini di luar jangkauanku. Keutuhan sebuah pernikahan sedang dipertaruhkan disini. Dan aku tidak ingin ikut campur dalam pernikahan orang lain. Tapi melihat Bu Fiona yang sedang bersedih membuatku merasa ingin melindunginya, ingin mengasihaninya, karena aku paling tidak tahan melihat wanita sedang menangis. Kemudian aku bereaksi berlebihan lagi. Aku memberanikan diri untuk meraih dan merangkul bahunya dari belakang. Seketika Bu Fiona menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku pun reflek mengusap-ngusap bahunya,

“Semuanya akan baik-baik saja, Beritahu apa yang bisa aku lakukan?” Ucapku. Lalu tangannya meraih tanganku yang lain.

“Kamu harus membantuku Rega..” Ucapnya. Kemudian menatapku.

.

.

.

.

.

—-POV WINRY—-

Sabtu Jam 11 Malam.

Hari ini sangat melelahkan. Badanku terasa lemas, rasanya seperti seluruh tenagaku sudah terkuras habis. Hufff. Wajar sih, hampir setiap malam minggu toko selalu ramai didatangi para pengunjung. Oiya aku belum bilang kalau sejak libur semester kemarin, tiap hari Jumat, sabtu dan minggu aku bekerja paruh waktu di sebuah toko yang menjual peralatan dan perlengkapan olahraga khusunya yang berhubungan fashion seperti sepatu, t-shirt dan aneka produk olahraga yang lain.

“Makasih buat hari ini, sampai ketemu besok” Ucap Rudi kepadaku sebelum aku keluar dari outlet.

Rudi adalah kepala toko tempat dimana aku bekerja paruh waktu. Sebagai PIC yang bertanggung jawab mengelola toko dan membawai puluhan staff, usianya masih terbilang muda. Bahkan wajahnya masih terlihat seperti anak kuliahan. Selain baik dan ramah, dia juga ringan tangan karena tidak segan ikut membantu para staff yang lain melayani customer.

“Makasih juga hari ini sudah membantuku Kak” Balasku.

“tawaranku masih berlaku sampai dengan waktu yang ga terbatas.” Ucapnya.

“makasih, aku bisa pulang sendiri kok..” Ucapku dengan senyuman lalu aku berjalan meninggalkan outlet menuju jalan depan Mall.

Berada di dalam mall terbesar di kota, toko sport ini cukup terkenal dan memiliki banyak cabang di kota-kota besar lainnya. Tak heran, tiap akhir pekan khususnya malam minggu toko ini selalu ramai. Dari jam lima sore sampai dengan setengah jam sebelum toko tutup aku disibukkan dengan melayani kebutuhan pelanggan mulai dari memperkenalkan produk sampai mencari barang di tempat penyimpanan yang sesuai dengan permintaan pelanggan.

Capek banget rasanya, namun keletihanku sepanjang hari ini belum cukup diakhiri dengan istirahat ataupun tidur pulas. Karena setelah sampai rumah nanti aku harus mencicil mengerjakan tugas Kuliah yang menumpuk. Huff. Kuakui Kuliah sambil kerja capeknya jadi berkali-kali lipat. Meskipun hanya di akhir pekan, aku bisa merasakan begitu beratnya mencari uang apalagi disaat tugas Kuliah datangnya keroyokan. Tapi aku tidak boleh banyak mengeluh, karena itu sudah resiko yang harus aku tanggung saat memutuskan kuliah sambil bekerja.

Mestinya aku bersyukur karena dengan label ‘remaja’ di punggungku, Aku sudah mengerti kalau Dunia itu keras dan Dunia itu kejam. Banyak Remaja seusiaku yang masih ingin bersenang-senang, hidup tenang tanpa masalah yang berat, tanpa perlu capek-capek berkerja mencari uang. Tapi situasiku berbeda, Aku sudah merasakan pahitnya Duniaku yang hancur sejak aku ditinggalkan satu persatu oleh orang-orang yang mencintaiku. Dan kini aku berusaha bertahan hidup seorang diri di Dunia yang keras dan kejam. Memutuskan kerja paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan adalah bagian dari bertahan hidup sehari-hari.

Aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Menjadi Hero untuk diriku sendiri, aku tidak bisa diam saja menunggu orang lain datang untuk menyelamatkanku. Karena kehidupan akan terus berjalan dan terkadang jalannya tidak mulus seperti yang direncanakan. Warna-warni kehidupan menawarkanku banyak pilihan. Tapi setauku, Hidup tidak semudah seperti di dalam sebuah game dimana kita bebas memilih jalan cerita yang kita mau hanya dengan menekan tombol segitiga, bulat, kotak maupun silang. Hmm. Jadi kangen main PS 2 bareng sama dia.

Langkahku melambat saat aku baru saja keluar dari pintu utama Mall, karena aku melihat seseorang yang kukenal diantara orang-orang. Dia berdiri memasukkan kedua tangannya di saku jaket hoodie berwarna putih yang dia pakai. Seseorang yang beberapa hari ini membuat hatiku tak karuan dan membuatku semakin tidak stabil saat dekat dengannya. Seseorang yang kujadikan pemeran utama dalam cerita bersambung yang sedang kutulis.

Kemudian dia berjalan menghampiriku. Langkah kami sama-sama terhenti saat kami sudah saling berhadapan.

“Hei Winn..” Sapanya,.

“Seniorr?? Ngapain disini??” Tanyaku kepada Kak Rega. Sebenarnya aku sedikit kaget melihatnya. Aku sempat melihat sekeliling barangkali dia sedang bersama Luna ataupun cewek lain yang sering bersamanya.

“ngapain lagi?? Kamu mau pulang kan? Aku akan memberimu tumpangan..” Ucapnya.

“Aku,, aku bisa pulang sendiri Kok..” Ucapku.

“kali ini kamu tidak punya pilihan lain selain pulang bersamaku..” Ucapnya. Dia meraih tanganku kemudian menggandeng tanganku lalu membimbingku untuk berjalan mengikutinya. Tentu aku sangat terkejut saat tiba-tiba dia menggandeng tanganku hingga membuatku terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi dan tak kuasa menolak ajakannya. Aku masih memandang bagaiamana tanganku digandeng Kak Rega yang sedang berjalan di depanku.

Hingga akhirnya genggaman tangan Kak Rega yang hangat terlepas saat kami sudah tiba di sebelah mobilnya. Ada perasaan kecewa saat dia melepaskan genggaman tangannya. Astaga, apa yang terjadi denganku?. Kemudian dia membukan pintu mobil untukku, setelah itu mobil berjalan meninggalkan mall.

Aku dan Kak Rega masih sama-sama terdiam. Aku masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Sejak kapan dia tau kalau aku kerja di Mall? Apakah kebetulan saja tadi dia melihatku saat sedang bekerja kemudian menungguku sampai mall tutup untuk mengajakku pulang bersama. Atau memang dia sengaja datang untuk menjemputku?

Kurasa sekarang dia sedang menatapku, tapi aku tidak punya keberanian untuk menatapnya.

“ingat terakhir kali kita hanya berdua di dalam mobil?” Tanya dia.

Aku menatapnya, kemudian menganggukkan kepalaku pelan.

“Pada Saat pemakaman Alexa, sendirian kamu menungguku di luar makam ketika semua orang sudah pergi. saat itu kamu memberiku tumpangan dengan mobilmu untuk mengantarku pulang” Ucap Kak Rega.

Sejujurnya aku tidak pernah melupakan sedikitpun saat-saat sedang bersamanya bahkan sejak masih sekolah dulu. Aku ingat semuanya, aku tidak percaya dia juga masih mengingatnya.

“kamu menghindariku Win?” Tanya Kak Rega.

Pertanyaannya yang to the point membuatku kaget, membuatku jadi sedikit panik. Jadi itu alasan dia menunggu dan menjemputku malam ini? Aku sih sebenarnya yakin dia bisa merasakan kalau selama enam bulan terakhir ini aku berusaha terus-terusan menghindarinya. Tapi aku tidak menyangka kalau dia akan menanyakannya langsung kepadaku. Apa yang harus kujawab? Aku tidak bisa berkata jujur tentang alasanku menghindarinya adalah karena Mira dan juga karena diriku sendiri.

“aku tidak menghindarimu senior.. “ Jawabku tanpa memandangnya “Terkadang aku memang hanya ingin menyediri. rasanya lebih baik untuk tidak bicara sama sekali tentang apapun, kepada siapapun.” Kemudian aku menatapnya.

“Kamu ga suka atau ga nyaman berada di sekitar orang-orang ya?” Tanya dia.

“Tidak semuanya..” Jawabku. Dia kembali menatapku.

“jadi. kalau kamu sedang bersama seseorang,, berarti orang itu spesial bagimu, karena dia bisa membuatmu nayaman saat bersamanya? Seperti Mira?? ”

“Ya, kurasa seperti itu..”

“Kalau begitu mulai sekarang aku akan berusaha,,” Ucapnya “berusaha menjadi orang yang spesial untukmu”

BERSAMBUNG

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part