. Cinta yang Liar Part 33 | Kisah Malam

Cinta yang Liar Part 33

0
213

Cinta yang Liar Part 33

The sun just want to rise
If you wake up from your sleep
Our earth need the sun
Like all those people need your smile
So please, wake up now :)

Sebuah sms aku kirimkan ke nomor Bu Dian tepat pukul 04:00. Aku memang sengaja mengirimkannya lebih awal, dengan tujuan membalas sms dari Bu Dian malam tadi. Tujuan yang lalinnya ya sangat jelas karena isi smsku tentang matahari terbit, akan terlihat bodoh jika aku mengirimkannya setelah matahari terbit. Kriiik… kriiik…. kriiik… bunyi ringtone sms. Bu Dian.

From : Bu Dian
Apa benar matahari menungguku untuk bangun?
Apa benar semua orang membutuhkan senyumanku?
To : Bu Dian
He he he…
Kalau asumsi saya benar bu
From : Bu Dian
Apakah semua orang itu termasuk yang mengirimkan sms kepadaku?

(Waduh mati aku…)

To : Bu Dian
Semua orang Bu, dan pastinya saya juga menunggu senyum ramah Bu Dian ketika bimbingan
From : Bu Dian
Jadi hanya pada saat bimbingan ya, okey
Terima kasih

(Aduh koplak jaya aku ini)

To : Bu Dian
Maaf Bu jika Ibu tersinggung dengan sms saya
Kalau menurut saya, setiap ketemu sama semua orang Bu Dian tersenyum
From : Bu Dian
Owh…
Okay and thak you :)
To : Bu Dian
You are welcome

Haduuuuh… untung saja. Kenapa juga aku harus membalas sms bu dian coba? Bikin masalah baru saja. Aku kembali rebahan di kasur empukku, menatap langit-langit kamarku. Semua sangat indah jika saja cara Ayah dalam mendapatkan Ibu tidak harus dengan cara kotor. Jika saja Ayah adalah og yang baik dan membahagiakan orang tuanya dan juga keluarganya, mungkin aku tidak akan melangkah sejauh ini. Ibu, tante ima, mbak maya, mbak erlina, arghhh… kenapa aku merasa seperti seorang penjahat. Tapi dari kesemuanya bukan keinginanku, semuanya keinginan mereka, untuk Ibu, mungkin aku sedikit memaksanya namun seharusnya semua bisa dikendalikan jika saja Ayah tidak acuh terhadap ibu, jika saja Ayah tidak membuat hati Ibu mendendam kepadanya. Akankah semua ini berakhir? Kapan waktu itu datang? Mungkin aku hanya bisa berpaku pada sebuah kalimat “JALANIN DULU SAJA”, aku yakin aku bisa mengakhirinya. Dan aku terlelap dalam tidurku sejenak. Tepat pukul 05:00 Aku terbangun dan Segera aku bangkit menuju kamar mandi dilantai bawah. Ketika aku berada di tangga kulihat Ibuku sedang memasak di dapur.

“Lho Ibu kapan datang?” ucapku

“Tadi jam setengah lima sayang, kamu baru bangun ya?” ucap Ibu

“Iya bu, lha bareng sama dia bu?” ucapku

“Ndak, dia paling pulang nanti malam?” ucap Ibu. Setelah mendapat jawaban tentang keamanan rumah, Aku berjalan mendekati Ibu dan memeluknya dari belakang. Kucium tengkuk leher jenjang itu.

“Sssshhhh… hmmmm…. ingat hari ini kamu PKL sayang” ucap Ibu

“Ibu kalau pergi suka lama-lama, sudah ndak kangen sama Arya bu?” ucapku

“Bukannya begitu nak, kalau kamu keseringan kan juga ndak baik” ucap Ibu

“Iya… Iya… “

“Oia bu aku mau cerita boleh kan?” ucapku

“Cerita apaan?” ucap Ibu

Lalu kuceritakan sebuah cerita tentang mbak erlina dan apa yang aku lakukan dengan mbak erlina. Tentang darah dan tentang semua mengenai KS. Ibu yang di awal memasak kemudian bersandat di dadaku sambil memeluk kedua tanganku yang melingkar di perut langsingnya. Dan juga sedikit certa mengenai mbak maya yang aku temui di kucingan.

“Hmmm… sudah dapat perawan ternyata sekarang, kamu itu jangan suka sembarangan lho nanti kena penyakit hi hi hi” ucap Ibu meledekku

“Iya Ibu…” jawabku sambil memeluknya erat dan menyandarkan kepalaku di bahunya

“Untuk maya, Ibu ndak bisa bilang apa-apa, sebaiknya sebisa mungkin kamu menjahinya, itu kalau bisa. Untuk erlina kamu jaga dia, tapi ingat jangan memanfaatkan situasi, awas kamu!”

“Kalau kamu memanfaatkannya dan Ibu tahu, ndak ada jatah lagi buat kekasih Ibu ini” ucap Ibu mengancamku

“Iya bu, Arya nurut”

“Mbak maya, ndak tahulah bu. Dia juga tiba-tiba saja datang kesini” ucapku

“Yang terpenting kamu jangan suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, Jujur saja Ibu tidak bisa menjagamu diluar sana” ucap Ibu

“Iya Ibu” ucapku

“Ya sudah sana mandi dulu” ucapnya

“Iya aaaaaaaaaaw….” teriakku terkejut karena Ibu meremas dedek arya

“Ini dijaga, jangan suka main sembarangan” ucap Ibu. Aku hanya tersenyum cengengesan dan kemudian masuk kekamar mandi.

Hari ini aku sangat bahagia karena Ibu berada di rumah. Bukan berarti ada pelampiasan atau apa pun namanya. Yang jelas, keberadaan ibu selalu bisa menyeimbangkan emosiku. Ketika makan pagi bersama Ibu, Ibu menyarankan kepadaku untuk menjaga mbak erlina dengan baik, karena mbak erlina merupakan anak dari KS. Ibu berharap kepadaku agar Ayah dan Om Nico jangan sampai mengetahui tentang keberadaan mbak erlina karena Ibu tidak ingin nasib mbak erlina sama seperti tante wardani ataupun wanita-wanita yang telah menjadi budak mereka berdua. Aku pun mengiyakan apa kata-kata Ibu.

Pagi itu aku berangkat PKL dengan hati sumringah karena keberadaan ibu di rumah. Setelah perjalanan yang cukup menelan waktu menuju tempat PKL, akhirnya aku sampai. Biasalah selalu ada sambutan hangat dari pak satpam dan juga resepsionisnya. Sampailah aku di laboratorium tempat aku ber-PKL. Yanto, Encus dan juga mbak Ela sudah berada disana tampak mereka sedang bersiap-seiap menerima sampel yang akan datang. Kesibukan melanda tim QC laboratorium, bahkan untuk istirahat saja kita harus bergantian karena banyaknya sampel yang datang. Maklumlah hari senin, sampel pasti datangnya banyak sekali yang harus di cek. Hingga giliranku beristirahat, aku dipanggil oleh mbak echa ke ruangannya.

Klek… Aku masuk ke dalam ruangan mbak echa. Deg… Bu Dian?

“Lho Bu Dian?” ucapku. Bu Dian menoleh kearahku dan tersenyum kepadaku

“Duduk dulu Ar” ucap mbak echa, lalu aku duduk disebelah Bu Dian

“Ini Dosen kamu mau monitoring kerja kamu selama PKL” ucap mbak echa.

“monitoring? Aneh juga, Padahal menurut kakak tingkatku, jarang sekali mahasiswa PKL di monitoring oleh DPL-nya” bathinku

“oh iya mbak” ucapku. Sambil tersenyum ke arah mbak echa dan Bu Dian.

“Begini Cha, kehadiran saya kesini untuk melihat hasil PKL Arya selama disini. mungkin ada keluhan atau yang lainnya mengenai Arya?” ucap Bu Dian. Aku hanya bisa tertunduk dihadapan mbak echa dan bu dian. Terlihat mereka berdua saling mengenal satu sama lain.

“Owh… Untuk Arya kami sangat terbantu dengan kehadirannya kok yan. Karena dengan adanya dia beberapa metode analisa kami diperbaiki olehnya, dan banyak juga cewek-cewek yang terpesona dengan dia” ucap mbak echa

“Owh gitu ya cha, jadi leb banyak TP-Tpnya ketimbang PKLnya cha? kalau sudah kelihatan nakal di jewer saja ya cha” ucap Bu Dian. Aku semakin tertunduk karena keakraban mereka berdua

“Owh tenang saja yan, dia masih terkendali, apalagi dapat dosen seperti kamu kayaknya lebih bisa dikendalikan” ucap mbak echa sambil melirikku

“Hei Ar, kenapa kamu murung begitu? Heran ya aku kenal sama dosen kamu?” ucap mbak echa, aku hanya mengangguk pelan

“Aku tuh pernah ketemu dosen kamu sewaktu debat mahasiswa. Dan kamu itu harusnya bersyukur karena mendapatkan dosen pintar seperti Dian” ucap mbak echa

“bisa saja kamu, Arya malah ndak suka dapet dosen aku cha, waktu itu malah mau ganti dosen” ucap Bu Dian menyudutkan aku

“Itu kan… anu bu… erghhh anu…” ucapku gugup

“Yaelah Ar… ar… dikasih dosen pinter, perhatian malah mau ganti, ck ck ck heran aku Ar sama kamu” ucap mbak echa yang semakin menyudutkan aku

Mereka kemudian berbincang-bincang mengenai masa-masa dimana mereka berdebat. Kadang juga mengejekku dan menyudutkan aku yang mau berganti dosenlah, yang mau pindah universitaslah, ta seperti itu pokoknya. Percakapan mereka berdua memakan banyak waktu istirahatku dan hanya menyisakan waktu 15 menit untukku beristirahat. Hingga akhirnya aku mengutarakan niatku untuk beristirahat karena aku belum makan sama sekali dan mereka mengiyakan. Mbak echa kemudian memberikan tambahan waktu 15 menit untukku beristirahat. Aku kemudian mohon undur diri dari mereka berdua dan segera menuju kantin perusahaan ini.

“Kamu kalau makan ndak usah cepat-cepat Ar, aku sudah bilang sama echa untuk memberi kamu kelonggaran waktu lagi karena harus ada yang aku sampaikan kepada kamu mengenai PKL kamu” ucap Bu Dian tiba-tiba duduk didepanku dengan membawa segelas minuman hangat

“Eh… terima kasih bu” ucapku sekenanya. Aku memandangnya sebentar kemudian menunduk sambil menyantap makanku

“Gimana? Enak PKL disini?” ucap Bu Dian

“Enak Bu” ucapku, masih tetap menunduk dan sedikit memasukan makanan kemulutku

“Banyak cewek cantiknya ya Ar” ucap Bu Dian sembari tersenyum kepadaku. Aku dapat melihatnya karena meliriknya

“Ndak juga bu, enakkan di kampus lebih banyak ceweknya” ucapku membalas

“Owh… bener juga ya dikampus banyak ceweknya, jadi bisa ganti-ganti pacar ya?” ucap Bu Dian mencoba menekanku lebih jauh tentang diriku dengan tenang aku membalas ucapannya

“Pacar saya Cuma satu bu, Bu Dian kan sudah tahu siapa” ucapku, masih menunduk di hadapannya

“Oh iya aku lupa, kamu kan sudah punya mbak diah” ucap Bu Dian dengan lagak sok lupanya. Aku memandangnya sebentar lalu tersenyum kepadanya

“Bagaimana kabar mbak diah?” ucap Bu Dian

“Baik bu, bagaimana kabar pak felix bu? Sudah keluar dari rumah sakitkah?” ucapku

“Eh… baik juga, sudah beberapa waktu yang lalu” ucapnya dengan tatapan mata seperti orang bingung

“Ibu ndak makan?” ucapku sambil sedikit menundukan wajahku

“Ndak, sudah kenyang Ar“ ucap Bu Dian

“Owh… kalau begitu saya selesaikan makan saya dulu ya bu” ucapku

“Iya…” ucap Bu Dian. Selama aku makan, aku melirik Bu Dian yang kadang memandangku dengan tatapan manisnya. aku hanya tersenyum ketika aku kepergok meliriknya. Selesai makan aku kemudian menyulut dunhill dan setiap hisapan kubuang asapnya ke arah kananku agar Bu Dian tidak terkena asap rokok. Karena sudah kebiasaanku setelah makan harus merokok, mungkin memang tidak sopan karena didepanku ada seorang dosen tapi mau bagaimana lagi ini kan kantin seandainya di marahi tinggal matikan saja gampang kan?

“Berhentilah merokok, ndak baik” ucap Bu Dian

“Eh… belum bisa bu, sudah kebiasaan sejak SMA, sejak saya dan sahabat-sahabat saya berkumpul menjadi koplak” ucapku

“Bagaimana sekarang hubunganmu dengan mbak diah?” ucap Bu Dian. Lagi-lagi pertanyaan mengenai Ibu. Kumatikan rokokku walau masih setengah batang

“Eh… baik-baik saja” ucapku pelan

“Maaf bu, apakah ini ada kaitannya dengan apa yang akan Bu Dian sampaikan mengenai PKL saya?” ucapku kembali bertanya ke Bu Dian

“Benar juga ya kenapa aku jadi tanya mengenai mbak diah, mungkin karena aku sudah kenalan sama mbak diah jadinya ingin tahu saja. Memang tidak ada kaitannya dengan PKL, jadi kamu jangan sensi seperti itu Ar” ucap Bu Dian sedikit tersenyum. Otakku hanya ada satu pertanyaan, yang sensi sebenarnya dia atau aku?

“Iya bu. Bagaimana hubungan bu dian dengan pak felix?” balasku kembali melontarkan pertanyaan seperti sebuag debat mahasiswa berprestasi

“baik…” ucapnya sembari membuang pandangannya. Hening sesaat antara aku dengan bu dian, dulu ketika pertama kali aku keluar dengannya tidak sekaku ini. kulihat pandanganya jauh ke luar kantin, entah apa yang ada didalam pikirannya.

“Ya sudah ar, aku pulang dulu, kamu baik-baik PKL-nya” ucap Bu Dian sembari bangkit

“Sudah aku bayar, jad kamu langsung kembali ke Lab saja” ucap Bu Dian

“Lho? Dibayarin bu, wah terima kasih ya bu” ucapku tersenyum kepadanya dan dibalas dengans senyuman manisnya.

“Ingat janjimu” ucap Bu Dian

“Oia, ternyata ada yang bohong sama aku” lanjut Bu Dian yang berdiri di hadapanku

“Maksud Ibu?” tanyaku

“Katanya banyak yang menunggu senyumku buktinya orang yang aku ajak bicara saja menunduk terus dari tadi” ucapnya sembari menggantungkan tali tas mungilnya di bahhunya

“itu anu bu… e… anu itu” ucapku termakan oleh smsku sendiri

“sudah ndak usah di jawab, baik-baik PKL disini” ucapnya yang langsung meninggalkan aku seketika itu juga. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri.

Selepas aku dikantin aku kemudian begerak menuju ke laboratorium. Yanto, Encus dan mbak Ela mencandaiku mengenai dosenku yang cantik. Bahkan dua adikku ini menyatakan kekagumannya dengan kepada Bu Dian. Aku hanya menanggapinya dengan biasa saja. Kegiatan di laboratorium berjalan seperti biasa saja, sampel, sampel dan sampel. Hingga aku harus pulang terlambat satu jam karena adanya sampel yang terlalu berlebihan. Setelah semua sampel telah ter-analisis aku dan QC yang lain akhirnya bisa menikmati udara alam yang segar diluar pabrik. Langsung aku arahkan motorku ke jalan menuju rumah. Sesampainya aku dirumah, Ayah sudah berada di beranda rumah. Aku duduk disebelahnya dan berbincang sebentar.

“Romo, kok baru pulang? Urusan dinasnya padat ya romo?” ucapku

“Iya, baru pulang kamu? Memang kuliahnya sampai sore?” tanya Ayahku

“Aku kan PKL romo, banyak sampel”

“Kok romo kelihatannya suntuk sekali, sedang banyak masalah ya romo di kantor?” tanyaku

“PKL to, owalah…”

“Iya banyak” ucap Ayahku

“Oia Ar, kalau sematpon hilang, bisa ndak ditemukan lagi?” tanya Ayahku.

“Pasti sematpon KS” bathinku

“Wah kalau sematpon hilang, susah romo apalagi kalau sematponnya dari merek terkenal kaya sungsang, durian itu pasti sudah dijual romo. Pengalaman teman kuliahku seperti itu romo” jawabku

“Owh ya sudah kalau begitu” ucap romo kembali menghisap rokoknya

“Aku masuk dulu Romo” ucapku

“Iya sana” ucap Ayahku

Aku kemudian masuk dan kudapati Ibu sedang menonton TV. Ibu mengenakan rok panjang di bawah lututnya dengan kaos lengan panjang. Tampak aneh memang karena pakaian yang dikenakan Ibu seperti tebal sekali.

“Ibu…” sapaku sambil mendekati Ibu

“Baru pulang nak? Istirahat dulu gih baru makan” ucap Ibu

“Bu, mumpung Dia di depan. Menurut Ibu apakah mereka tetap berlima atau berenam?” ucapku yang langsung to the point.

“Jujur saja Ibu tidak bisa memberikan asumsi kepada kamu. Jika sesuai cerita kamu dari video erlina, kamu harus hati-hati nak, bisa saja satu orang dari mereka sekarang sedang berjalan di balik layar” ucap Ibu

“Hufftttthhhh… video itu direkam sebelum aku menemukan bahwa mereka ada lima orang, berarti di awal bisa saja mereka berempat kemudian merekrut baru menjadi berlima. Tapi akan sangat beresiko bagi mereka jika melakukan perekrutan di tengan-tengah sebagai pentholan grup mereka. Dimana-mana yang namanya pendiri biasanya jumlahnya akan tetap sama hingga akhir” ucapku

“benar juga apa kata kamu nak, tapi bisa jadi kan yang satu orang itu tidak bisa datang pada saat penyerahan uang atau sedang halangan, sakit mungkin” ucap Ibu

“Memangnya sekolah bu… bu…” ucapku. Sejenak aku berpikir, memang ada benarnya juga jika satu orang dari mereka tidak dapat hadir dalam pertemuan dengan KS yan direkam oleh erlina itu mungkin sakit atau ada keperluan. Tapi momen seperti itu jarang terlewatkan oleh sekelompok penjahat yang sedang menuai hasil panen.

“nak…” ucap Ibu

“Eh… iya bu, kepikiran masalanya he he he” ucapku

“Sudah jangan dipikirkan, nanti pasti ada petunjuka lagi” ucap Ibu

“Ya sudah bu aku ke kamar dulu” ucapku

“Iya, istirahat dulu saja ya, cup…” ucap Ibu sembari memberikan kecupan pada bibirku

Ku angkat tubuhku menuju kamarku, sebentar istirahat dan kemudian berkumpul dengan Ayah dan Ibuku untuk menyantap makan malam. Aku masih heran dengan pakaian Ibu yang tampak tebal, masa bodohlah sekarang makan. Kami sekeluarga terlibat perbincangan basi ala Ayahku yang aku tanggapi dengan antusias walau sebenarnya membosankan juga. Setelah makan malam usai aku kembali ke kamarku dan kurebahkan tubuhku di kasur. Beberapa saat kemudian aku mengambil sematpon milik KS dan kuaktikan data. Tak ada lagi BBM yang masuk ke kontakku tapi ketika di grup masih banyak sekali. Banyak banyolan dari mereka yang hanya berputar pada masalah wanit dan seks. Kumatikan sematpon dan kunyalakan komputerku untuk melihat email Om Nico, tak ada pesan.

Kleeeeeeeek…. pintu kamarku terbuka

“Belum tidur nak?” ucap Ibu

“Belum bu. Lha dia sudah tidur bu?” ucapku

“Sudah, habis makan langsung teler” ucap Ibu. Ibu hanya berdiri di belakang pintu kamar yang sudah tertutup, aku yang sudah merasakan sinyal langsung menuju kearahnya dan kucium bibir manis Ibu. Segera aku lepas pakaian Ibu, kaos dan rok Ibu. Dan…

Ternyata apa yang aku pikirkan mengenai pakaian Ibu terjawab, Ibu mengenakan dress tanpa lengan berwarna merah muda dengan belahan yang memperlihatkan lipatan susunya dihiasi rok mini yang hanya menutup setengah pahanya. Aku mundur sejenak dan kuperhatikan wanita didepanku ini.


PAKAIAN DIYAH AYU PITALOKA​

“Ibu tambah cantik dan seksi” ucapku

“Dari tadi kamu diem saja ngelihat Ibu, malah membicarakan hal lain”

“Jadi lelaki itu mbok yaho minta jangan malah nyuruh ceweknya yang minta, iiiiih….” ucap Ibu sambil maju dan membetet hidungku

“yeee kan suasananya tidak mendukung” ucapku dengan suara sedikit cempreng

“Sekarang dia sudah tidur” ucap Ibu

“Yesss…” ucapku

Segera aku peluk Ibu dengan erat, kudaratkan ciuman pada bibir indahnya serta remasan lembut pada kedua susunya yang aku rindukan. Kualihkan remasanku pada kedua bongkahan pantatnya. Ciumanku turun ke leher jenjang Ibu, kusingkirkan kain yang menutup kedua bahu Ibu kesaping hingga pada bahunya dan menyembilah susu indahnya. Ku lahap susu Ibu, Ibu mendesah kecil. Kumainkan puting susu kirinya dengan llidahku dan jari-jari kananku bermain pada puting susu kanannya. Secara bergantian aku nikmati susu indag itu.

“ahhh…. ehmmm… terus mainkan… ouwh… sssshhhhh….” desah Ibu

“hmmm…. Slurrrp… slurrrp….” ucapku sambil menikmati susu indahnya

Kuloloskan dress yang dipakai oleh Ibu hingga terlepas dari tangannya dan kini menggantung pada pingganya. Kulingkarkan kedua tanganku di sekitar paha Ibu dan kuangkat tubuhnya.

“Aw…. hati-hati nak, pelan waktunya masih lamaahhhhh” ucap Ibu. Kini Ibu aku rebahkan melintang di kasurku. Kusingkapkan roknya hingga dipinggangnya, kulihat celanda dalam G-string menghiasi vaginanya

“Lho.. baru bu?” ucapku sambil mengelus-elus vaginanya

“kemarin pulang dari kakek ibu beliiiihhh ehmmmmm biarhhh kamu suka sayang” ucap Ibu, aku hanya

Kugeser penutup vagina itu dan segera aku menjilati vagina Ibu. Kuletakan paha kanan Ibu di bahu kiriku kumasukan jari kananku ke dalam vagina Ibu. Kumainkan klitoris ibu dengan lidahku, dan kukocok cepat-keras jari-jariku di vaginanya.

“owhhhh… Ibu kangen hhh…erghh itil Ibu kamuwh mainkan aarghhhhh…. terus sayang dimainkanhh erghhh… kocok lebih keras lagi Ibu benar-benar kangen sama kamuwhhh… ”

“erghhh… terussshhh sshhhh sshhhh… terussshhh lebih keras… lidah kamu hangaattthhh arghhh ibu suka… terus sayanghhh… terus arghhhh…” racaunya, aku semakin bersemangat ketika mendengar Ibu mengatakan itu

“argghhhh ibu… kel…. keluarhhhhh….” ucap Ibu

“istirahat dulu hash hash hash hash hash….” lanjutnya dan aku menghentikan kegiatanku, kurasakan cairan hangat mengalir di jariku dan kujilati sisa-sisa cairan

“kamu suka sayang?” ucap Ibudengan nafas tersengal-sengal

“Slurrpp… suka bu, apapun dari Ibu suka…” ucapku yang kemudian bangkit. Dengan bertumpu pada kedua tanganku kudekatkan wajahku di depan wajahnya. Kedua tangannya kemudian memegang kedua pipiku

“besok-besok lagi, minta ya sayang, ibu akan melayanimu sekalipun ada dia disini, ibu sudah tidak peduli lagi” ucap Ibu kemudian mendaratkan ciuman ke bibirku

“iya bu, sekarang kulumin kontol arya bu” ucapku

Ibu kemudian sedikit mendorongku, dan kini aku berdiri dihadapannya. Ibu kemudian melepas celanaku dan muculah dedek arya. Diludahinya dan Dikocok batang kemaluanku dengan tangan kanannya, jari-jari tangan kirinya bermain dibawah zakarku. Ibu menatapku dengan tersenyum dan kubalas dengan senyumannya. Perlahan di masukannya batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Kulumannya kadang berhenti di ujung penisku dan dimaninkan lidahnya pada lubang kencingku. Sungguh nikmat sensasiny. Segera aku hentikan kuluman Ibu, dan kurebahkan Ibu.

“maaf bu sudah ndak tahan, Arya akan buat Ibu puas malam ini” ucapku

“emmm… puas yang bagaimana?” ucap Ibu

“Puas yang Ibu inginkan” ucapku, segera aku arahkan batang dedek arya ke vagina Ibu. Dengan bantuan tangan kanannya dan blesss…

“Erghhh… pelan dulu sayang ehmmmm…. oufthhhh…..” ucap Ibu sembari menikmati perjalanan dedek arya masuk hingga ke rahim Ibu

“nikmat sekali… ehmmm…. sempit dan enak bu esshhhh….” racauku

“Penuh sayang… erghh… tempik Ibu selalu penuh… kamulah yang paling sering masuk nak…” ucap Ibu

“akan aku masuki terus setiap hari bu” ucap ku

“Iya, Ibu mau erghhhh…” ucap Ibu

Segera aku menggoyang pinggulku, pemandangan yang sangat indah. Kedua bongkahan susu itu naik turun seirama dengan goyanganku. Kedua matanya memejam, dahinya mengrenyit dan kedua tangannya memegang erat bahuku.

“Erghh… terus lebih keras, Ibu ingin kontol kamu… arghhh… lebih keras sayang…. kenthu yang kuat…”

“terusssh…. arghhh… “ racaunya

“Ibu sukan kan hesh Ibu mau kan arya kenthu setiap hari?eshhh… Ibu mau kan nuruti kemauan arya…” ucapku

“Ibu mau owghhh Ibu mau sekali sayangku… ibu akanerghhh menuruti arya… ibu mau dikenthu arya setiap hari sayang wohhhh…. asal arya mauwhhhh….”

“nikmat sekali sayangkuwhh… owhhhhhhhhh” racaunya

“Iya arya, mau karena arya mau sama ibu terushhhh… Ibu selalu bisa buat arya puas hash hash has…”ucapku

“Iya, ibu akan puasi kamu terushhh arghhh… ayo sayang buat Ibu juga puas… Ibu hampis sampai…” ucap Ibu

“Iya bu, arya juga mau sampai”

“Aku ingin keluar diwajah Ibu…” racauku

“Iya terserah kamu sayangkuwhhh… owhh…. terussshhh ibu sedikit lagi nakhhh arghhhh… terusssshhhh… ibu mau dikenthu arya teruusssssh arghhhhhhhh” racaunya

“Aku juga bu owghh….” racauku. Kurasakan maniku di ujung dedek arya,

“ibu keluar….” racaunya dan bertepatan dengan ibu mencapai klimaksnya aku cabut pensiku dan kuarahkan penisku tepat diwajah Ibu. Dengan sedikit mengocok, aku tumpahkan spermaku di wajah Ibu yang terpejam dengan nafas tersengal-sengal.

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot… Sperma kenthal tumpah diwajah Ibu yang sedang terpejam. Aku kemudian berbaring disampingnya dan kepalaku menyusup di ketiak kanan Ibu

“hash hasha hash hash… nakal kam sayang, wajah Ibu kamu sirami peju kamu” ucap Ibu

“Pengennya seluruh tubuh Ibu aku sirami” ucapku sambil menciumi ketiak Ibu dan memainkan susunya. Ibu kemudian membersihkan sisa-sisa sperma dengan selimutku. Selang beberapa menit kamu beristirahat, Ibu kemudian bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidurku

“besok-besok lagi, kalau kamu ndak minta ndak bakal ibu kasih” ucap Ibu

“Arya akan minta terus pokoknya he he he” ucapku sambil memluknya dari belakang

“Kalau setiap hari jebol nanti sayang, dikira-kira sendiri ya wktunya” ucap Ibu sambil memegang erat kedua tanganku yang memeluk tubuhnya. Disandarkannya kepalanya di dadaku, pelukanku semakin erat pada tubuh Ibu.

“Ibu, mau bersih-bersih dulu sayang, mandinya ntar pagi saja”

“kamu langsung tidur saja ya sayangnya Ibu” ucap Ibu sembari memberikan ciuman hangat

“Iya bu” ucapku

Ibu meninggalkan aku dikamar sendirian, selang beberapa saat Ibu mengirimkan gambar ke sematponku melalui BBM. Foto Ayah yang sedang tidur tak sadarkan diri, aku hanya tertawa. Lalu kusuruh Ibu mengakhiri obrolan agar tidak ada pesan yang tertinggal. Rasa lelah menelusuri tubuhku, akupun beristirahat menjemput pagi.

Pagi hari aku bangun lebih awal dan membersihkan tubuhku. Aktifitas seperti biasa, makan pagi bersama dan kemudian berangkat PKL. Seperti biasa sampel datang dan pergi sesuka hati. Hari-hari berikutnya pun seperti itu. Aku memang tidak serta merta meminta Ibu untuk melayaniku setiap hari, karena bisa jebol juga tenagaku.

Hingga pada hari keempat pada minggu ketiga aku PKL. Sampel yang datang tidak terlalu banyak. Aku dan QC lab yang lain pun bisa santai. Hingga mendekati waktu istirahat, mbak ela menyenggol labu ukur hingga jatuh dan pecah di lantai.

Klintiiing pyar…

“aaaaaa….” teriak mbak ela

“Waduuuuh… untung saja ndak ada isinya mbak” ucapku

“ya pecah deh…” ucap mbak ela

“satu lagi dapat piring mbak he he he” ucap yanto

“dapat payung dech he he he” ucap encus

“kalian ini malah ngeledek, ambil kain pel sana atau sapu bantu bersihin” ucap mbak ela

“Yah mbak sudah jam 12, aku istirahat dulu mas arya saja he he he” ucap yanto

“Iya mbak, aku sudah lapar” ucap encus. Kemudian mereka berlari keluar lab.

“Dasar kalian…” ucap mbak ela, aku hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala

“sudah mbak, aku ambilkan lap pelnya. Ambil dimana mbak?” ucapku

“Di ruang OB Ar, kamu ambil dulu, aku tak lap mejanya” ucap mbak ela

“bukannya Lab harusnya juga punya sendiri mbak” ucapku bangkit dari dudukku

“sering diambil anak OB terus ndak pernah dikembalikan, jadinya kita yang harus ambil ar” ucap mbak ela. Aku kemudian keluar menuju ruang OB, kemudian meminjam lap pelnya. Sesampainya di lab aku kemudian membersihkan lantai dibantu dengan mbak ela.

“Sudah mbak, aku kembalikan dulu” ucap mbak ela

“Ndak usah saja biar disini” ucap mbak ela

“lha kalau mereka nyari?” ucapku

“halah paling nanti minjem sini lagi” ucap mbak ela

“memangnya punya OB kemana to mbak, kok bisa rebutan” ucapku

“punya OB itu ndak pernah dirawat sama mereka jadinya cepet rusak, kalau yang dilab itu kan jarang dipakai jadinya masih bagus. Jadinya mereka suka kesini minjem dan ndak pernah dikembalikan seperti kataku tadi. Kalo si sabun itu yang rajin ngerawat piring sama gelas, kalau si sapu sama sipel ergghhhh asal bersih-bersih saja” ucap mbak ela

“Si sabun? Si sapu? Si Pel?” bathinku. Aku sedikit terkejut dengan ucapan mbak ela

“Hei ar kok bengong?” ucap mbak ela

“Eh… ndak kok mbak” ucapku

“Owh ya sudah istirahat dulu saja yuk” ucap mbak ela, yang sudah membuka pintu. Aku kemudian meletakan lap pel di sudut ruangan dan berjalan ke arah mbak ela

“bentar mbak, kok bisa di bilang si sabun, si sapu sama si pel?” ucapku sambil berjalan keluar lab disamping mbak ela

“Ya gimana ya, anak-anak kok yang ngasih sebutan. Si sabun karena dia kerjanya cuci-cuci gelas dan piring trus menyiapkan minuman ke atasan si sapu sama si pel kerjanya bersih-bersih”

“kok kamu nanya kaya gitu? Harusnya gampangkan buat kamu nerjemahin hal sepele kata gitu” ucap mbak ela

“kan penasaran he he he”ucapku

“cie cie.. hati-hati lho el, ntar kepincut sama arya” ucap mbak echa yang tiba-tiba keluar dari ruangan

“ndak mbak, ntar tekanan batin kalau naksir arya” ucap mbak ela

“kok bisa?” ucapku

“Ya bisalah, naksir orang kaya kamu yang banyak di omongin cewek-cewek, bisa makan hati ntar ha ha ha ha” ucap mbak ela dengan tawa

“bener tuh ha ha ha” ucap mbak echa.

Aku hanya melongo melihat mereka yang kemudian berjalan menghilang dihadapanku. Pikirankku sedikti terbuka dengan penjelasan mbak ela, membuat aku sangat ingin sekali segera pulang ke rumah. Setibanya di kantin aku mencari tempat menyendiri untuk merangkai beberapa petunjuk yang aku dapatkan hari ini. Sapu, cuci dan pel penyebutan yang dikarenakan pekerjaannya. Bagaimana dengan tukang?

“Woi mas jangan bengong malah bengong he he he” ucap encus menganggetkan aku, yang kemudian duduk di kursi sampingku

“kamu to nganggetin saja cus” ucapku

“Lha mas arya bengong mulu” ucap yanto duduk di depanku

“Jelas saja bengong ditolak sama ela hi hi hi hi” ucap mbak echa tiba-tiba dari belakang yang kemudian duduk bersam kami

“Yeee… mbak echa itu bisa saja” ucap mbak ela

Kami berkumpul membuat pikiranku kembali beralih kepada mereka yang ada disekitarku. Kami mengobrol seputar analisa sampel yang sudah kami cek, kadang mbak ela juga bercerita mengenai pacarnya. Aku, yanto, encus menjadi bulan-bulanan mbak echa dan mbak ela karena tidak pernah menceritakan mengenai pacar kami. walau sebenarnya aku bisa melihat sedikit kegelisahan di wajah mbak echa ketika kita semua membicarakan lawan jenis. Mbak echa nampak begitu sedikit tertutup mengenai suaminya. Ya aku baru tahu jika mbak echa sudah memiliki suami. Beberapa bisikan aku dapatkan dari yanto dan encus karena mbak echa tampak berbeda jika pada hari-hari sebelumnya mbak echa selalu tertutup dan jarang berkumpul dengan bawahannya.

“Waktu habis, ayo segera kerja lagi” ucap mbak echa

“Yaelah mbak, bariu saja kumpul, lagi enak ngobrol ini lho mbak” ucapku

“Ow… tidak bisa, kerja tetap kerja, kumpul bisa kapan saja” ucap mbak echa

“sebentar lah mbak ya ya ya” ucap mbak ela, yanto dan encus tidak berani ngomong karena dari penuturan mereka mbak echa adalah manager paling galak perusahaan ini

“terserah kalian, pokoknya dalam lima menit ndak ada di lab, aku skors hi hi hi” ucap mba echa sembari meninggalkan kami berempat

“lariiiiiiiiiiii…” ucap ku

Kami semua akhirnya bergegas menuju ke lab kembali. Berkecamuk dengan kesibukan-kesibukan seorang pengendali kualitas sebuah perusahaan makanan. Walau ada sedikit canda diantara kami, kami tetap serius dalam menganalisa sampel. Walau aku tidak dapat melihat matahari yang bergerak untuk tidur tapi aku tahu jika waktu pulang segera hadir. Mendekati waktu untuk pulang, kami semua berberes membersihkan lab kemudian pulang. Segera aku memacu REVIA lebih cepat dari biasanya walau sering sekali di dahului oleh motor-motor yang memiliki punuk.

Akhirnya aku sampai dirumah, tak ada waktu untuk melepas lelah. Ku cium tangan Ayah dan Ibuku, dan segera aku masuk ke dalam kamarku. Ketika hendak menyalakan komputer, ibu memanggilku dari lantai bawah untuk mandi terlebih dahulu. Hati rasanya sudah tidak sabar untuk memecahkan teka-teki ini. namun apa perintah ibu menjadi mutlak yang tidak bisa ditolak, segera aku mandi. Selepas mandi, Ibu menyuruhku makan terlebih dahulu sebelum beristirahat. Tak ada makan malam bersama kali ini karena Ayah sudah makan terlebih dahulu jadi kali ini hanya aku dan Ibu. Ayah berada di pekarangan rumah sedang bertelepon dengan seseorang entah siapa.

“sst… dengarkan” ucap Ibu. Aku kemudia mecoba berkonsentrasi agar dapat mendengar suara ayah dengan jelas

—-

“wong papat wae cukup, cah kae kayane gak niat” (orang empat saja cukup, anak itu kayaknya tidak niat)

“percoyo’o karo aku, kelurusen wong kae ki, dibagehi tapi ora usah akeh-akeh, kanggo nyumpel cangkeme” (percayalah padaku, orang itu terlalu lurus, kita bagi tapi tidak usah banyak-banyak, untuk menyumpal mulutnya)

“Wes to, yen awake dewe tetep mertahanke wong kae sing ono awake dewe ding remuk. Kae ki loyalis maratuoku soyo mrene soyo ketk nek dek’ene rak isa dijak kerjo bareng” (Sudah, jika kita tetap mempertahankan orang itu yang ada kita yang hancur. Dia loyalis mertuaku semakin kesini semakin terlihat jika dia tidak bisa diajak berkerja sama lagi)

“Lha kan kamu tahu sendiri, dia mau bergabung karena ada permasalahan di awal makannya dia gabung. Tapi coba lihat, ada kesempatan untuk berada dipuncak tapi wonge malah wegah (orangnya . malah ndak mau) ada indikasi kalau dia main aman, kalau seandainya kita tertangkap dianya bisa ngeles kesana kemari”

“coba kamu pikir reng, kalau dia itu mau dipuncak kita kan lebih gampang reng”

“Wes, masalah iki diomongke besok ae ning kaca wulan. Tapi ten isa wong kae ojo dijak” (sudah, masalh ini diomongkan besok saja di kaca rembulan. Tapi kalau bisa orang itu tidak usah di ajak)

“caranya gampang? Koyo ora tahu ngapusi ae to reng (kaya ndak bisa berbohong saja to reng). Kita akan nikmati sendiri, Cuma berempat!”

—-

“Berempat!” bathinku

Percakapan antara kedua ornag itu berakhir. Dan Ayah masih berada di pekarangan rumah.

“Ssssttt… berarti ada masalah diantar mereka sayang” ucap Ibu

“Iya bu, mungkin bisa kita manfaatkan” ucapku

Kami berdua kemudian bersikap wajar. Makan malam bersama sambil bercanda. Ayah kemudian bergabung dengan kami. Sepeti biasanya dia berpura-pura perhatian kepadaku dengan menanyakan maslah PKL dan kuliahku. Tapi hanya sebatas bertanya yang kemudian jawabanku tidak digubrisnya. Acara makan malam telah usai, aku kemudian ijin untuk kembali ke kamar. sesampainya di kamar, aku membuka komputerku. Ku buka dukun dunia maya, kumasukan kata-kata tapi tak ada jawaban yang pasti. Aku kemudian rebahan di tempat tidurku.

– Sapu karena pekerjaannya menyapu
– Pel karena pekerjaannya mengepel
– Cuci karena pekerjaannya mencuci

– Tukang karena pekerjaanya menukang?
– Aspal karena pekerjaanya mengaspal?
– Buku karena pekerjaanya membuku?

Jika semua dikaitkan pasti ada kaitannya. Tukang karena pekerjaannya menukang, instansi yang berkaitan dengan pertukangan? Pertukangan berarti mengurusi orang yang berkerja bukan? Jika mengurusi orang yang berkerja berarti…

“Tukang, instansi pemerintah bagian ketenga kerjaan, berarti aspal yang pekerjaannya mengaspal adalah instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang perbikan jalan. Jika itu benar, berarti aspal adalah instasni pemerintah pekerjaan umum” bathinku

Segera aku duduk di depan komputerku, ku browsing kepala instansi pemerintah di bidang ketenaga kerjaan dan pekerjaan umum. Dan yak, aku dapatkan foto mereka berdua. Segera aku buka sematpon milik KS, dan ku buka group. Semua member disana telah menjadi kontak KS. Kuperbesar dan kusimpan semua foto itu di sematpon KS dan sialnya hanya lima orang yang DP-nya menunjukan foto mereka. Betapa bodohnya aku kenapa tidak sejak pertama kali aku simpan foto mereka. Kemudian aku cocokan dengan yang ada dikomputer. Dua dari lima orang tersebut memiliki wajah yang sama dengan foto yang baru saja aku browsing. Tiga orang sisanya dan sisa kontak yang lain kelihatanya hanya penikmat dan pelaksana rencana pentholan geng mereka.

“Akhirnya aku dapatkan identitas tukang dan aspal, tapi siapa buku?” bathinku

Sudah ada dua instansi pemerintah yang terlibat sebagai pentholan geng, ketenagakerjaan dan pekerjaan umum. Ku coba mengingat percakapan Ayah tadi, bahwa buku tidak mau menempati tempat puncak. Yang berarti dia bukan pimpinan dari sebuah instansi pemerintah. Tiga DP yang aku simpan menunjukan bahwa mereka adalah kepala instansi pemerintahan jika di rangkai dengan percakapan Ayah, mereka bukan si buku, karena si buku bukan kepala instansi. Tapi kenapa pertama kali aku membuka grup dan mencocokan DP mereka dengan wajah-wajah pejabat daerah, semuanya adalah kepala instansi. Apakah si buku tidak ada didalam grup? Kucoba membrowsing kembali semua kemungkinan yang bisa aku dapatkan, mencoba mengingat ketika pertama kali aku membuka grup wonge dewe dan mencocokan semua wajah kepala instansi dengan yang di grup waktu itu.

Semua foto mereka dapat dengan mudah aku dapatkan kembali, dan semua kepala instansi pemerintah di daerahku aku ingat kembali. Satu persatu aku mencoba mengingatnya, memang beberapa aku sudah sedikit lupa. Tapi jika aku samakan jumlah kepala instansi didaerahku dan jumlah anggota grup adalah sama +1 dengan +1 adalah KS. Berarti si buku tidak berada di dalam grup. Benar-benar membingungkan, kutaruh keningku di meja komputerku dan kupejamkan mataku.

“siapa si buku? Jika grup itu adalah grup kepala instansi? Kenapa KS bisa berada di dalamny?” bathinku

“Dia memperalat Ayahku sebagai kurir … ” sebuah ingatan mengenai kata-kata mbak erlina

Aku terperanjat dan menatap kososng layar monitorku. Benar, KS adalah kurir yang bisa dijadikan mainan oleh mereka. Jadi mereka membiarkan KS berada di dalam grup agar tahu rencana mereka. Mungkin agar mereka tidak perlu mengulangi instruksi kepada KS. KS sebagai kurir yang sangat dipercaya oleh mereka walau akhirnya membelot dan di bunuh oleh mereka. Tapi kenapa si buku tidak berada dalam grup jika dia adalah pentolan dari geng Ayah? Apa hanya karena dia bukan kepala instansi? Kembali aku jatuhkan keningku di meja komputer.

“Si buku pekerjaanya membuku, membuku berari membuat buku? Memang ada instansi yang pekerjaanya membuat buku?” bathinku

Aku mengeluk tubuhku dan menyandarkan punggungku di sandaran kursi komputerku. Kulihat sekeliling kamarku dengan tatapan kosong. Terlihat tumpukan buku-buku kuliahku di dekat kasurku yang seirng sekali tidak pernah aku tata kembali di rak buku.

“Dasar buku… membuat sesak kamarku!” bathinku sambil memandang tumpukan buku itu

“Ahhh… kenapa aku jadi ingat masa-masa SMA-ku ya? Semua buku aku letakan dalam laci meja kelasku. Karena aku malas sekali ketika harus membawa buku-buku itu ketika aku berangkat sekolah… Ibu… Ibu selalu marah-marah ketika aku berangkat ke sekolah waktu itu” bathinku sambil mengembangkan senyum di bibirku

“memori berangkat sekolah yang tidak terlupakan he he he he…” bathinku. Sambil memejamkan mata aku tersenyum-senyum sendiri mengingat masa-masa itu.

“Eh….”

“Sekolah… Buku” bathinku

“okay Arya, sebentar, pelan arya oke tenang… hirup nafas dalam-dalam arya, kamu pasti bisa memcahkannya… dunhill arya butuh dunhill” ucapku kepada diriku sendiri. Kuambil rokokku, kembali aku duduk di depan komputer dan kusulut.

“Buku itu untuk sekolah arya, kamu kan sudah tahu ar, nah sekolah itu untuk menuntut ilmu dengan ilmu yang cukup kita bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang tinggi kan ar, nah berarti buku itu kaitannya dengan PENDIDIKAN ARYA!” ucapku pelan terhadap diriku sendiri dan tersenyum memandang komputerku

Aku sudah tahu kepala instansi pemerintah yang ketiga selain instansi ayah dan om nico. Ketenaga kerjaan, pekerjaan umum dan pendidikan. Kepala instansi pendidikan sudah aku dapatkan, tapi si buku kan tidak berada dipuncak! Berarti aku harus mencaro tahu lagi. Arggghhhhhh….

“tenag ar, tenang, paling tidak kamu sudah mendapatkan petunjuk” ucapku. Centung. Ibu

From : Ibu
Dilanjutkan besok, istirahatlah
Ibu yakin kamu bisa memcahkannya sayang
To : Ibu
Emmmuaaaachhh… *
From : Ibu
Emmmuaaachhh juga sayang :*
Bobo ya sayang :*
To : Ibu
Iya bu :*

Ku bersihkan history komputer dengan sisi kliner, kemudian aku matikan. Ku kembalikan sematpon KS di tempat tersembunyi lagi. Segera aku merebahkan diriku di tempat tidurku. Centung. Mbak erlina.

From : Erlina
Besok ndak usah main ketempatku Ar
To : Erlina
Iya mbak,memangnya ada apa mbak?
From : Erlina
Pacarku datang hi hi hi
To : Erlina
Owh, oke mbak, siap!
From : Erlina
Puasa dulu ya aryaaaaaa :*
To : Erlina
Yeee sudah biasa kali puasa,
Dasar mbakku aneh, mbak kali yang puasa :p
From : Erlina
Arya gitu dech, masa ndak kangen sama mbak?
To : Erlina
Kangen sich kangen kalau sama mbak,
Tapi kan ndak mesti harus gitu kan?
From : Erlina
Gitu? Yang jelas kenapa?
To : Erlina
Iiiih mbakku dah mulai jorok he he he
To : Erlina
Waduuuh… mbak itu apaan c?
From : Erlina
Biar kamu kepikiran mbak terus hi hi hi
Tenang saja, paling besok Cuma emutan doang sama pacar mbak,
Kalau sama arya, semuanya dech hi hi hi
Met bobo adekku arya yang imut, manis, ganteng, gemesin dan muasin :*
To : Erlina
Hadeeeeh…. met bobo mbakku

Sebuah gambar yang dikirim oleh mbak erlina membuatku sedikit ON FIRE malam ini. Tapi masa bodohlah, hidupku bukan hanya untuk itu he he he. Tidur! zzzzzzzz….

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler