. Cinta yang Liar Part 24 | Kisah Malam

Cinta yang Liar Part 24

0
201

Cinta yang Liar Part 24

Perempuan berparas cantik ini menoleh kearahku yang berada di kanannya dengan senyum yang menawan. Matanya yang tampak sipit itu dihiasi dengan ukiran dari kontak lens yang berwarna biru muda. Langkahku terhenti dan tak dapat aku berkata melihat sesosok perempuan dengan rok berumbai selutut dengan dress tanpa lengan berwarna putih bersih semua selaras dengan kulitnya. Tas kecil seukuran sematpon berukuran 5 inch itu digantungkannya pada bahu kananya. Perempuan itu kemudian menoleh kembali ke arah laut luas.

“Masih ingat tidak Ar?” tanyanya yang kembali membuyarkan lamunanku

“Masih…” ucapku

“Tempat apa ini?” tanyanya kembali

“Haaaaah… Tempat pertama kali aku mengajakmu jalan-jalan untuk menunjukan keindahan daerah tempatku tinggal. Ya kan karena kamu bukan orang asli sini he he he…” ucapku

“terima kasih sudah mengingatkan, tapi bagiku… sssssh aaaaaaaaahhh” ucapnya diakhiri helaan nafas panjang

“ini adalah tempat paling indah bagiku, paling romantis yang pernah aku datangi” ucapnya, Aku hanya diam sambil bersandar pada dinding pembatas pantai itu.

“Dua minggu lagi aku akan menikah Ar dan aku akan cuti selama satu tahun, hanya itu yang ingin aku katakan kepadamu” lanjutnya dengan senyum yang tersungginng di bibirnya, sebuah kenyataan yang membuat aku lebih tambah terkejut

“tapi jika kamu menikah bagaimana dengan Rahman?” ucapku

“Rahman? aku sudah tidak mempedulikannya” ucapnya seketika itu membuatku terbakar emosi

”Apa maksudmu berkata seperti itu?” Tanyaku

“Apa kurang jelas? aku tidak mempedulikannya dan aku tidak akan pernah peduli lagi dengannya” ucapnya santai

“bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu?” ucapku

“karena aku tidak pernah memiliki perasaan kepada dia” ucapnya dengan santai

“BAGAIMANA MUNGKIN KAMU MENJALIN HUBUNGAN DENGAN RAHMAN SEJAK SEMESTER 2 HINGGA SEKARANG DAN KAMU TINGGALKAN BEGITU SAJA? SETELAH SEMUA DIBERIKAN RAHMAN KEPADAMU DAN KAMU MENGHIANATINYA DENGAN SEPERTI INI!” bentakku sambil merubah posisi tubuhku ke arahnya

“Aku menghianatinya? Dia yang sudah menghianatiku selama ini, tapi aku tetap diam! Kamu! Kamuu yag selama ini tidak pernah mengerti perasaanku selama bersama dia!” bentaknya yang sekarang menghadapku

“OH YA, AKU TIDAK MENGERTI??? HA HA HA BAGAIMANA KAMU MENJELASKAN TENTANG MEMATA-MATAI DIA DAN MENJADI PESEURUH AYAHNYA, DAN MENGERUK SEMUA KEUNTUNGAN, APAKAH ITU SUATU KEJUJURAN DALAM SEBUAH HUBUNGAN!” bentakku lagi

“Kamu tidak pernah bisa tahu dan mengerti! Aku selama ini yang menyaksikannya bermain dengan teman-teman kosku, aku melihatnya sendiri Ar hiks hiks hiks dia bermain cinta dengan teman-teman kosku hiks hiks” ucapnya dengan tersengal-sengal, nada suaranya semakin menurun, aku tertegun

“Aku bukan hiks hiks hiks pesuruh ayahnya, om nico hanya memintaku untuk mengetahui jumlah tabungannya hanya itu saja tidak lebih, dan aku baru berkomunikasi dengannya juga baru satu kali saja tidak lebih ar hiks hiks hiks aku tidak pernah meminta sepeser pun dari rahman aryaaaa hiks hiks hiks” jelasnya, sebuah pernyataan yang menusuk di dalam hatiku. Perkiraanku selama ini salah kaprah, tidak ada yang benar, ajeng bukan salah satu anggota dari kumpulan ayah dan om nico.

“Ta… ta… tapi kamu juga ikut bermain kan? Rahman selalu cerita seperti itu kepadaku” ucapku tertatih-tatih

“Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu kira Ar! Aku masih punya harga diri, dan aku masih punya cinta untuk seseorang yang selama ini hanya mampu aku pandang tanpa bisa aku genggam hiks hiks hiks” ucapnya sedikit membentakku. Aku bingung, semua cerita rahman mengenai dia sudah bermain cinta dengan ajeng adalah kebohongan, ajeng pesuruh om nico juga salah.

“Aku tidak mencintainya sama sekali, dia terlalu sering menyakitiku! Bermain cinta dengan teman kosku! Aku memutuskan menikah karena dia tidak pernah serius menjalin hubungan denganku!” bentaknya

“Ta… ta… pi kan bisaaaa dibicarakan ter..lebih dahulu jeng?” ucapku yang masih kebingungan

“AKU TIDAK PERNAH MENCINTAINYA AR, AKU TIDAK PERNAH, SAMA SEKALI TAK ADA CINTA UNTUKNYA, DAN AKU TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN UANGNYA SEPSERPUN, AKU BUKAN PEREMPUAN MATERIALISTIS!” bentaknya kepadaku. Aku semakin terkejut dengan pernyataan-pernytaannya membuatku semakinmarah karena dia telah membohongi rahman, walau rahman juga membohongiku

“Ta… ta… ta… pi Kenapa kamu menjalin hubungan dengannya? PADA AKHIRNYA KAMU MENINGGALKANNYA, AKU YAKIN RAHMAN BISA BERUBAH!” ucapku kemudian menjadi sebuah bentakan

“Karena aku hiks hiks hiks hiks ingin selalu memandangmu dan dekat denganmu hiks hiks hiks… Aku…” ucapnya tersengal dengan kedua tangan menggenggam dan lurus degan tubuhnya,

“Aku… Aku… Aku mencintaimu ar, aku mencintaimu, AKU MENCINTAIMU ARYA!” teriaknya keras.

Tubuh ini serasa lemas mendengar teriakan itu, bagai gempuran ombak yang menghantam benteng pasir hingga roboh. Bagai sebuah anak panah yang menembus jantungku. Suara deburan ombak dan hembusan angin tak lagi terdengar ditelingaku, seakan-akan semua menjadi bisu dan membisu. Tak ada suara lagi yang aku dengar hanya sebuah tangisan dari seorang perempuan yang selama ini aku nilai keburukannya saja.

“aku menerima rahman karena kamu selama ini tidak pernah peka terhadap perhatianku hiks hiks hiks, kita berbeda jurusan membuat aku semakin rindu bertemu denganmu hiks hiks hiks, aku mencoba dan selalu mencoba untuk main ke kampus kamu hanya untuk melihatmu dan menyapamu tapi tanggapanmu biasa-biasa saja hiks hiks hiks” jelasnya

“Itu karena rahman mengatakan kepadaku dia suka kepadamu, ma…ka…nya a…ku mun…dur” ucapku semakin lama nada suaraku semakin turun dan mengecil

“Alasanku, agar aku bisa melihatmu, sebatas melihatmu saja AKU SUDAH BAHAGIA!” ucapnya diakhiri sebuah bentakan kepadaku, jarakku dan dia masih jauh walau kami berhadap-hadapan satu sama lain

“Maaf…” ucapku lirih

“Maaf Ar? Hanya itu Ar yang kamu ucapkan kepadaku?!” bentaknya

“Ajeng! Seandainya saja kamu menolak rahman mungkin…” lidahku mulai kelu untuk mengucapkan kata-kata berikutnya, kepalaku kembali tertunduk menyesali semua yang telah terjadi

“Mungkin apa? Aku tahu kamu Ar, aku tahu segalanya tentang kamu! Kamu tidak akan pernah tega terhadap sahabatmu! Jika aku menolaknya sekalipun kamu tetap akan diam dan diam! Dan itu… hiks hiks hiks yang akan membuatku semakin jauh darimu, aku tidak ingin jauh darimu aryaaaa hiks hiks hiks hisk” ucapnya dengan tangis yang menjadi-jadi dia kemudian duduk dengan kaki dilipat didepan dadanya membelakangi pantai. Tangannya memeluk kedua kakinya itu, hembusan angin dari pantai membuat rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Ku beranikan diriku untuk memandangnya.

“Kenapa kamu bisa mencintaiku seperti ini?” ucapku lirih

“Karena kamu ksatriaku… ksatria yang melindungiku ketika pertama kali aku melihatmu dengan tatapan yang selalu melindungi yang lemah, ketika…“ ucapnya lirih yang kemudian menginngatkanku kepada sebuah kejadian dimasa Orientasi Mahasiswa

………………….

…….

“mungkin kamu sudah tidak ingat lagi” ucap ajeng

“Aku masih ingat jeng, dan masih tersimpan dalam memori ingatanku” ucapku sambil melangkah dan duduk disampingnya. Disandarkannya kepalanya pada pundakku

“Maaf… jika selama ini aku tidak bisa melihat itu semua” ucapku

“hiks hiks hiks, ndak papa ar, semua sudah terjadi dan tidak bisa diulangi lagi” ucap ajeng yang kemudian memeluk tubuhku dari samping, aku pun merangkulkan tangan kiriku di pundaknya kaki kananku selonjor kedepan.

“Aku sangat mencintaimu Ar…” ucapnya

“Apakah kamu mempunyai perasaan yang sama kepadaku Ar?” tanyanya

“Ya, tapi dulu jeng, maaf sekarang aku sayang kepadamu sebagai seorang sahabat” ucapku

“Terima kasih, itu sudah membuatku bahagia Ar, sangat bahagia walaupun perasaan itu sudah berlalu” ucapnya sedikit tersengal

“Kamu tahu, Ar, hal inilah yan ingin aku lakukan selama ini, memelukmu dengan sangat erat” ucapnya sembari memelukku erat

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selama ini, kenyataan demi kenyataan pahit hadir didepan kedua mataku. Membuat aku terjebak didalamnya, bagaimana mungkin aku bisa keluar dari semua ini jika semua yang aku prediksikan selalu meleset. Rasanya ingin sekali aku menyuruh Down hill menghentikan cerita ini, dasar penulis cerita selalu menempatkan tokohnya di tengah-tengah kegelisahan ini.

“Ar…” ucap Ajeng

“ya…” balasku

“aku punya satu permintaan terakhir, aku berharap kamu mau memenuhinya…” ucap ajeng

“jika memang bisa, aku akan memenuhi semua permintaanmu” ucapku dengan tegas, dia tersenyum kepadaku

“Aku ingin…” ucapnya terpotong

“ya…” jawabku santai

“Aku ingin, kamulah yang menyentuh tubuhku untuk pertama kalinya dan bukan yang akan menjadi suamiku” ucap ajeng membuatku melongo dan bertingkah amburadul ketika mendengar itu tapi pelukan ajeng tak bisa membuatku lepas darinya. Aku mencoba menenangkan diriku lagi.

“Jeng, kamu sudah menjaganya selama ini. dan aku berharap kamu memberikan mahkotamu kepada suamimu” ucapku mencoba bijaksana dan berwibawa

“Aku sudah mengatakan kepada calonku jika aku sudah tidak perawan lagi, dan dia mau menerimanya” ucap ajeng santai sambil meletakan kepalanya didadaku dan memelukku erat semakin erat

“Aku tidak bisa jeng” ucapku lirih, tiba-tiba saja ajeng melepaskan pelukankku. Wajahnya penuh dengan kekecewaan. Kupeluk tubuh erat sembari aku daratkan kecupan pada keningnya.

“Jeng, walau ada cinta diantara kita bukan berarti kamu harus menyerahkannya kepadaku, biarkan dia yang akan menjadi penjagamu yang mendapatkannya, dialah yang akan bersamamu hingga akhir hayatmu, bukan aku”

“Perjalanan hidupmu masih panjang, pastinya dia juga akan memberikan kebahagiaan untukmu bahkan lebih bisa membuatmu bahagia daripada aku yang ada disini sekarang, kebahagiaanya adalah ketika kamu memberikan mahkotamu dan setelahnya dia juga akan memberikan kebahagiaan kepadamu, walau terkadang dalam perjalanan hidup ada manis dan pahit”

“Jangan kamu berpikir hanya denganku kamu bisa bahagia, Dia disana juga memiliki rencana tersendiri untuk kebahagiaanmu, jika dia adalah nadimu maka dihari pernikahanmu hingga matimu dia akan bersamamu, jika bukan, pasti akan ada sebuah kebenaran yang ditunjukan kepadamu”ucapku

“Begitulah kamu Ar…”

“Selalu saja bisa membuat pikiran seseorang berubah-ubah, kamu bisa membuat keyakinan menjadi keraguan dan membuat semua keraguan menjadi sebuah keyakinan” ucapnya kemudian Ajeng melepas pelukanku dan berdiri

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….” teriaknya sambil menghadap ke pantai

“Arya… Arya… Hmmmm… terima kasih”

“terima kasih sudah mengingatkan aku…” ucapnya kemudian aku berdiri disampingnya

Aku kemudian berdiri dan kupeluk ajeng dengan sangat erat, balasan pelukan pun aku dapatkan darinya. Memang terpancar dari wajahnya sebuah kekecewaan namun senyuman dari biibrnya menghapus itu semua. Harapaku kepadanya adalah agar dia tidak melakukan tindakan gila atau apapun itu. Akhirnya matahari terbenam, malam telah menggeser sinar mentari. Aku dan ajeng kemudian berpisah dengan sebuah perpisahan yang penuh dengan haru dan senyuman. Aku berpesan kepada ajeng agar tidak memberitahukan kepada Rahman. Kucoba menghubungi Rahman pada saat itu, dia sedang berlibur menenangkan pikirannya. Entah ada apa dengan dia. Aku arahkan motorku ke arah rumahku dan pulang dengan perasaan gelisah.

Akhirnya aku sampai di rumahku, kulihat Ayah sedang bercengkrama dengan telepon genggamnya didepan rumah. Aku salim kepada Ayahku dan masuk ke dalam rumah. Terlihat Ibu yang sedang asyik menonton acara televisi. Kulihat senyumannya tapi tetap saja tidak membuat hatiku kembali bergembira. Ibu seakan tahu perasaanku dan menepuk sofa disampingnya. Aku duduk disamping Ibu, dipeluknya kepalaku di dadanya dan dielus-elus. Ibu kemudian memintaku bercerita mengenai apa yang terjadi. Dan kuceritakan secara detail semua yang terjadi di pantai itu, dan semua tentang penilaianku yang salah.

“Berarti dia orang baik”

“Hmmm… kalau yang terakhir itu kelihatannya Ibu harus cemburu dech hi hi hi” ucap Ibu ku menggodaku

“Tidak tahu bu” ucapku sembari memasukan kepalaku dalam pelukannya

“Laki-laki harus bertanggung jawab” ucap Ibu

“Aku seperti seorang penjahat bu, ndak ada bedanya dengan yang didepan” ucapku

“Beda, sangat berbeda.. kamu dan dia bagai bumi dan langit, dia pemaksa dan rakus, sedangkan kamu dipaksa dan kalem, baik lagi hi hi hi” ucap Ibu

“Bu..” ucapku

“ingatlah jangan pernah kamu membuat sakit hati seorang perempuan karena itu berarti kamu juga membuat sakit hati Ibu,”

“Sudah sana istirahat dulu” ucap Ibu, aku kemudian bangkit dan menuju kamarku

“beberapa hari kedepan puasa dulu ya sayang hi hi hi” ucap Ibu menggodaku, sambil menunjuk kearah depan dimana Ayahku berada. Aku hanya mengangguk dengan senyuman dan kembali melangkah menuju kamarku.

Aku hempaskan tubuhku di kasur, tempat tidurku. Melayang pandanganku, menyapu semua sudut langit kamarku. Aku linlung dan bimbang dengan semua keadaan ini, belum lagi misteri dari email itu belum juga terpecahkan. Apakah aku harus menyerah sampai disini?

Tak gendong kemana-mana tak gendong kemana-mana… bunyi ringtone sematponku. Bu Dian.

“Halo, selamat malam bu dian”

“Haloooooo, apa kabar arya?”

“B… Ba… Baik bu, Apa kabar bu? Kok kelihatanya gembira sekali bu? Ada yang bisa saya bantu”

Tiba-tiba Ibu masuk dan duduk disebelah kiriku dan menempelkan telinganya di sematpon yang aku tempelkan ditelingaku

“Kabar baik dan tentunya bahagia dong, kan KTI yang kita buat juara satu, oh ya sesuai janjiku aku ajak kamu makan-makan, mau tidak?”

“Eeeee… apa tidak merepotkan?”

Tiba-tiba ibu, dengan gerak bibirnya dan pukulan dikepalakku menyuruhku untuk meng-iyakanya

“Tidak merepotkan, tapi kamu harus memberi saya hadiah dulu, baru nanti saya traktir bagaimana?”

“wah kok begitu bu, kan yang dapat juara Bu Dian, ya seharusnya bu dian yang beri saya hadiah dong”

“Ya tidak bisa, saya maunya ucapan selamat kamu berupa hadiah, gitu ya? Besok minggu kamu kerumah saya nanti kita keluar makan bersama”

“Eh… iya bu iya, tapi apa sebaiknya kita langsung ketemu di tempat makan saja gitu bu, takutnya nanti pacar Ibu tahu terus marah”

“saya tidak punya pacar, saya tunggu kamu besok minggu beserta hadiahnya titik, dah dulu ya ini taksinya sudah sampai rumah. Daaaaaaaaaaaaaagghhhh” tuuuuuuuuut

Aku memandang telepon cerdasku seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Setiap kata-kata dari Bu dian mulai aku cerna, baru saja ada kegelisahan ini malah ditambah lagi kegelisahan lain. Banyak pertanyaan belum terjawab eh dapat pertanyaan lagi. Beberapa saat aku sadar bahwa Ibu tiba-tiba melangkah keluar, aku takut jika ibu marah kepadaku. Tapi selang beberapa saat Ibu masuk kedalam membawa sebuah kotak.

“Ini buat Bu Dian, sebuah gelang terbuat dari campuran emas kuning dan platina, ini pemberian Nenek Mahesawati”

“Berikan pada dia, dan katakan ini pemberian dari Ibu karena kamu lagi kanker alias kantong kering hi hi hi” ucap Ibu

“Eh… apa tidak sayang bu? Kan ini milik Ibu” ucapku

“Ibu suka sama itu siapa?Dian ya, Ibu mau kamu sama dia walaupun itu mustahul siiiich….”

“tapi ingat sebelum kamu sama dia kamu harus selesaikan dulu masalah kamu, okay? Are you understand honey?” ucap Ibu

“I’m Understand Mom, but…” ucapku

“Tidak ada tapi-tapian… Ibu tidak akan cemburu, karena kamu kalau dirumah milik Ibu hi hi hi”

“Sudah tidur sana, bobo cantik cintaku cup…” ucap Ibu sambil mendaratkan kecupan di keningku

Ibu kemudian meninggalkan kamarku, Aku lepas semua pakaianku dan berganti dengan kaos dan celana pendek. Aku pun merebahkan tubuh dan kutarik selimut menutupi tubuhku. Tubuh yang selama ini tenggelam ke dalam dekapan beberapa wanita.

Pelangi pelangi alangkah indahmu merah kuning hijau dilangit yang biru… ringtone sms. Budhe

From : Budhe
Mblooo, kapan-kapan main kerumah budhe
Budhe pengen curhat ma kamu
To : Budhe
Iya dhe, tapi ndak tahu kapan
Banyak kegiatan
From : Budhe
Iya mblo,
Pokoknya kamu harus main kerumah ya mblo
Budhe kangen ma kamu pemgen cerita-cerita lagi he he
To : Budhe
Yaelah, pake cerita-cerita segala, sms aja dhe
Arya mau tidur dulu dhe
From : Budhe
Nggak, kamu main saja
Dasar Jomblo nggak pernah ma cewek
Met bubu arya sayang

Lho, tadi dia bilang mblo sekarang arya pake sayang lagi. Masa bodohlah, yang penting sekarang saatnya tidur pulas.

Aku pun akhirnya terlelap dalam tidurku hingga pagi menjelang. Tak ada yang istimewa selama aku berada dirumah dengan kehadiran Ayahku disini. Aku pun berakting layaknya anak yang baik baginya, setiap pembicaraanya ditelepon selalu aku mencoba untuk menguping. Tetapi semuanya sia-sia tak pernah ada percakapan penting yang aku dengan darinya. Hingga hari minggu pun tiba, tepat pukul 17:00 aku pamit kepada kedua orang tuaku untuk keluar main. Ayah Ibuku mengijinkan aku untu kkeluar. Kukendarai REVIA dengan laju kencang sekencang angin hingga sampailah aku di tempat dimana seorang bidadari tinggal, Rumah bu Dian. Kupencet bel dan keluarlah seorang wanita cantik dengan meneteng Helm dari dalam rumahnya. Menggunakan kaos ketat seperti tank-top dan di lengkapi dengan jaket kain yang menutupi lenganya, belahan dada pada kaos ketatnya pun tidak rendah, menutupi semua bagian dadanya. Celana kain longgar menutupi kaki jenjangnya yang dihiasi sandal berhak 3 cm, mungkin. Dia kemudian keluar dari gerbang rumah dan berdiri dihadapanku. Aku terkesima dengan kecantikan wanita ini, ah seandainya saja dia pacarku.

“Okay, I’m ready but…mmmm”

“My gift?” ucap bu Dian, aku kemudian mengeluarkan kotak yang sudah aku bungkus kado dan langsung dibukanya

“Oh ya saya lupa, ini bu” ucapku seraya memberikan hadiah pemberian Ibu. Bu Dian langsung membukanya dan takjub dengan gelang itu.

“Hmm… bagus juga, mahal ya ini? padahal saya kan Cuma bercanda hi hi hi” ucap bu dian

“itu pemberian Ibu buat Bu Dian” ucapku santai

“Eh…” bu dian tampak kaget dengan kata-kataku

“Beneran dari Ibu kamu? Apa tidak sayang?” ucap Bu Dian

“Lha Bu Dian mau tidak? Kalau tidak akan saya ganti” ucapku

“Mau kok” ucapnya dengan wajah memerah, entah kenapa dia merasa malu

“Terima kasih ya” ucapnya dengan senyuman

Akhirnya kami berboncengan menuju jalan sebuah cafe sederhana di daerah ini. Dalam perjalanan tiba-tiba saja kedua tangan Bu Dian memeluk perutku, aku hanya mendiamkannya. Namun semakin lama tubuh Bu Dian semakin melekat pada tubuhku dan pelukannya semakin erat. Aku sebenarnya agak sedikit frogi dengan perlakuan Bu Dian kali ini. Kurang lebih setengah jam perjalanan kita sampai pada tujuan. Kami duduk berhadapan satu sama lain di tempat yang lumayan romantis, karena tempat makan kami terletak di dekat taman yang berada di dalam cafe tersebut. Akhirnya kami memesan makanan, dan yang kami pesan adalah sama.

“Kamu tidak apa-apakan aku ajak makan kesini?” ucap Bu Dian

“Tidak Bu, memangnya kenapa?” tanyaku

“Mungkin saja cewek kamu marah begitu” ucap Bu Dian

“Saya belum punya Bu, ya mungkin saja Pacarnya Bu Dian yang marah” ucapku

“Saya juga sama belum ada…” ucapnya penuh senyuman manis

“Ya ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu telah membantuku selama in”

“Oia kalau diluar panggil nama saja ndak papa, lagian palingan jarak umur kita tidak begitu jauh” ucap Bu Dian

“Wah ndak terbiasa bu he he he”

“Kalau mbak saja bagaimana Bu?” ucapku

“Okay, ndak masalah, tapi usahakan untuk memanggil namaku ketika diluar ya, kalau bisa” ucap Bu Dian

Akhirnya makanan datang, kami pun segera melahap makanan yang sudah ada di meja. Aku yang berada didepannya selalu mencuri-curi pandang wajah manis Bu Dian. Walau terkadang aku juga merasa diamati oleh Bu Dian sendiri. Ditengan-tengah acara makan malam ini kami pun sedikit berbincang-bincang mengenai keseharian masing-masing.

Braaaak…. tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja makan kami

Cepraaaaaaaaaat… minumanku di siramkannya di wajahku.

Bersambung
Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler