. Cinta yang Liar Part 16 | Kisah Malam

Cinta yang Liar Part 16

0
246

Cinta yang Liar Part 16


DIAN RAHMAWATI


DIAN RAHMAWATI


DIAN RAHMAWATI


MAYA​

Di gubuk ini, gubuk yang sebenarnya tidak layak huni ini terbaring seorang wanita tua renta dan laki-laki tua yang sedang menyuapinya. Aku melangkah dan memeluk laki-laki itu sambil berlutut, kugenggam tangan kiri wanita itu dengan eratnya. Tak bisa aku menahan air mata ini, tak bisa pula aku menahan isak tangisku. Ya meraka adalah nenekku yang melahirkan ayahku dan kakekku yang ikut membesarkan Ayahku.

“Kamu siapa nang (nak)?” ucap kakek wicak (kakekku)

“Siapa kamu le (nak), sudah jangan menangis” ucap nenek mahesawati (nenekku)

Aku mash menangis dan menangis melihat keadaan mereka, tak menyangka jika kehidupan mereka seburuk ini. Tidak menyangka jika Ayahku, anak mereka membuat semua ini terjadi. Tidak menyangka jika mereka harus merasakan pahitnya hidup karena Ayahku.

“Arya, hiks hiks hiks Arya Mahesa Wicaksono, anak dari Mahesa Wicaksono”

“Arya kesini untuk menemui kakek dan nenek” ucapku tersengal sengal dengan kucuran air mata yang mengalir di pipiku. Jeritan kerasku membuat semua orang yang cerada di desa itu berkumpul di gubuk ini untu kmelihatnya. Tampak air mata juga ikut menetes dari pipi lelaki setengah baya ini. seorang nenek dari luar kemudian masuk membuatkan aku minuman, dan aku masih dalam memeluk kakek dan menggenggam tangan neneku.

“Benarkah kamu Arya, anak mahesa” ucap neneku, yang kemudian mencoba bangkit aku yang tahu itu kemudian membantunya dan kemudian bersandar di dada kakekku. Kini kakek dan nenekku berada dihadapanku dan aku masih berlutut di atas tanah memandang mereka. Kupeluk mereka berdua, kata-kata kangen selalu keluar dari mulutku, kata-kata rindu dan sayang menggelontor selalu dari bibirku untuk mereka. Lama sekali aku memeluk lama pula aku menangis.

“Iya nek, kek, Arya kesini karena dari dulu Arya tidak pernah bertemu kakek dan nenek” ucapku dengan langan air mata yang tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Kedua tangan nenek kemudian memegang kedua pipiku dan melihat wajahku.

Duh gusti, akhire kowe goleki aku karo mbah kakungmu leeeeee…..(Ya Tuhan, akhirnya kamu mencari aku dan kakekmu naaaaaak)” ucap nenek sembari air matanya keluar

Ganteng yo pak’e putune dewe iki (ganteng ya pak, cucu kita ini)” ucap nenek sembari memandang kakekku

Wah iyo, ganteng untung kowe ki koyo Ibumu (wah iya, ganten, untung kamu seperti ibumu)” ucap kakek dengan senyum mengembang yang kemudian mereka berdua memeluku dengan sangat erat. Momen indah ini aku rasakan dengan sangat memilukan, akhirnya aku bisa bertemu dengan mereka. Elusan dari tangan yang sudah mulai kasar karena kulit yang mulai menggelambir terasa sangat lembut aku rasakan di kepalaku. Terasa linangan air mata mereka membasahi kepalaku. Lama kami berpelukan tampak semua orang yang melihat kemudian ikut menangis.

“Ini minumnya den” ucap seorang nenek yang menyediakan minuman kepadaku dan kakek yang dibawanya dari arah luar, memang dalam gubuk ini hanya ada ranjang ini saja. Aku mengucapkan terima kasih kepada nenek itu, nenek itu kemudian duduk di atas tanah tak jauh dari tempatku berlutut.

“Kakek dan nenek ikut Arya pulang kerumah ya?” ucapku

“Tidak, nenek dan kakek tidak akan ikut arya, tidak, sekalipun arya memaksa, kami tidak ingin bertemu mahesa lagi” ucap kakek yang kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi wajah kebencian

“Kenapa kek? Daripada kakek tinggal ditempat ini, nanti kakek dan nenek tambah sakit, Akan arya buatkan rumah sendiri untu kakek dan nenek nanti biar Arya bisa sering ketemu dengan kakek dan nenek” ucapku

“Tidak Arya, kakek dan nenek tidak bisa” ucap kakekku

“Kata Pak roto, Kakek dulu orang berpunya kenapa sekarang tinggaldi tempat seperti ini. kakek dan nenek harus ikut arya!” paksaku

“Tidak Arya, kakek dan nenek tidak bisa” ucap kakekku kembali

“Adakah sesuatu antara kakek dan nenek dengan Ayah?” tanyaku

“Banyak….” ucap kakek

“Ceritakan kepada Arya semuanya, kenapa kakek tidak inginbertemu ayah?agar arya tahu siapa sebenarnya ayah” ucapku sambil memandang mereka berdua. Mereka kemudian saling memandang dan mengarahkan pandangan ke arahku

“Biarkan kakekmu yang bercerita, kemarilah nenek masih kangen sama kamu arya” ucap nenek, aku sedikit menggeser tubuhku dan kuletakan kepalaku di pangkuan nenekku.

“Akan kakek ceritakan semuanya….”

“Surti, kamu tidak perlu duduk dibawah seperti itu, kamu bukanlah pelayanku lagi bangkitlah jangan kau rendahkan dirimu dihadapanku” ucap kakek kepada nenek tua yang duduk tidak jauh dariku

“Tidak ndoro, sekalipun ndoro bukan ndoro saya lagi, tapi dalam hati kami, di hati masyarakat desa banyu biru dan desa bayu abang, ndorolah yang telah menjadi penolong kami, kami tidak bisa melupakan itu semua ndoro, apapun yang terjadi, kami semua adalah abdi ndoro” jelas nenek surti, yang kemudian di iyakan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya, tampak mereka masih menaruh hormat kepada kakekku. Kakek dan Nenek hanya tersenyum meliat mereka semua.

Secara perlahan kakek menceritakan semua dari awal, tentang seorang juragan paling kaya di daerahnya memilik istri bernama mahesawati. Dialah kakekku bernama Wicaksono. Kehidupan mereka dikatakan lebih dari cukup, hidup bergelimangan harta tapi tak membuat kakek dan nenek takabur. Hingga lahirlah seorang anak yang kemudian di beri nama mahesa wicaksono.

“Dulu itu uhuk uhuk… nenek memberi nama itu kepada Ayahmu dengan tujuan, dia menjadi seekor kerbau yang kuat,hebat dan bijaksana serta tidak bodoh tapi uhuk uhuk uhuk….” ucap nenekku menyela

“Sudah, nek biar kakek yang bercerita…” ucap kakek yang kemudian kakek melanjutkan ceritanya itu

“Mahesa adalah kerbau? Mimpi itu….” bathinku dalam hati

Mahesa tumbuh menjadi laki-laki yang pintar, pintar dalam berbicara dan pintar dalam ilmu pengetahuan. Dia bersahabat dengan seorang tetangga kakek bernama Nicolas Rahman, ketika berumur 13 tahun Nico ditinggal oleh Ayah Ibunya karena kecelakaan dan kemudian di asuh oleh Kakek dan nenek. Waktu berjalan umur mereka pun bertambah, bukan menjadi laki-laki bijaksan yang disiapkan untuk menjadi penerus kakek tapi Ayah menjadi seorang pemuda yang ugal-ugalan, bengal, mabok-mabokan, pecandu narkoba, dan suka main perempuan. Itu dikarenakan Ayah dan Om Nico salah dalam pergaulan hingga membuat kakek dan nenek kelimpungan dan sering berurusan dengan polisi.

Kelakuan Ayah dan Om Nico berlanjut dengan suka main judi, hingga semua harta kakek dan nenek ludes. Bahkan ketika itu kakek dan nenek diancam dibunuhnya jika mereka tidak melunasi hutang-hutangnya. Dengan terpaksa kakek dan nenek menjual semua kekayaan merekatapi tetap tidak cukup. Kemudian Ayah mendengar kabar jika dulu kakek Ayah (Ayah dari Kakek Wicak) pernah bercengkrama mengenai menikahkan cucunya.

“Pada dasarnya itu bukanlah janji, melainkan hanya candaan kakek buyutmu seandainya tidak dilaksanakannya pun itu tidak melanggar janji kakek buyutmu” ucap kakekku, aku hanya memandang kakek dan masih setia mendengarkan cerita dari mereka

Ayah kemudian memaksa kakek dan nenek agar membuat pernikahan antara Ayah dan Ibu terlaksana. Kakek dan nenek menolak tapi ancaman dibunuh membuat mereka akhirnya tunduk pada kemauan Ayah. Ayah memaksa Kakek dan Nenek untuk berbohong kepada kakek Warno dan nenek Ayu jika itu adalah janji yang harus di lunasi. Karena pada dasarnya kakek warno dan nenek ayu tidak tahu menahu soal itu, mereka akhirnya menyetujuinya.

“Tujuan Ayahmu adalah bisa menjadi pejabat di daerahmu, dan mengeruk semua uang di daerahmu itu. Arya tahukan jika dulu kakek warno adalah seorang kepala daerah” ucap kakek, dan aku hanya menganggukan kepala

Setelah pertunangan itu, karena terbelit hutang yang sangat besar mau tidak mau Ayah harus segera mendapatkan Ibu dan terjadilah pemerkosaan itu. Semua rencana itu dibicarakan di rumah kakek, kakek yang mengetahuinya kemudian mencegah mereka tapi yang didapatkan adalah pukulan dan cacian dari mereka berdua. Hingga pernikahan selesai dilangsungkan, Ayah tidak pernah lagi menjenguk Kakek dan nenek. Kakek dan nenek dilarang menjenguk cucunya yang ketika itu lahir, ya menjengukku. Kakek dan nenek terus memaksa ingin bertemu denganku tapi yang didapat oleh kake dan nenek adalah sebuah balasan yang selama ini tidak diharapkan orang tua dari anaknya. Kakek dan nenek kemudian di miskinkan kembali oleh Ayah, dengan cara menjual satu-satunya rumah milik mereka. Pada saat itu kakek dan nenk tinggal di gubuk kecil di desa banyu abang.

“Pernah saat itu, kakek dikirimi uang oleh Ayahmu, ketika kakek bertanya ini uang dari hasil kerjanya atau mengambil hak orang lain. Ayahmu langsung marah-marah tak tentu dia menyeret kakek dan nenek di tengah jalan mencaci maki dan bahkan meludahi”

“Di bilangnya kakek dan nenek adalah orang tua tidak tahu diuntung….” ucap kakekku, mendengar itu hatiku terasa berdetak semakin kencang, semakin panas terbakar oleh api kebencianku

Hingga suatu hari kakek dan nenek memutuskan untuk pindah ke desa banyu biru dengan tujuan menghidnari anaknya. Pernah sesekali Ayah mencari kakek dan nenek, tapi penduduk desa bungkam akan keberadaan kakek dan nenek. Karena mereka tahu Ayah akan menyiksanya lagi. Hingga sekarang di desa banyu biru ini kakek masih mendapatkan pelayanan layaknya seorang juragan dari penduduk desa, karena kebaikan-kebaikan yang dilakukan dari masa lampau. Ya, kakek selalu mencoba untu berbagi ketika masa jayanya, menyekolahkan anak tetangga, menikahkan mereka yang kekurangan biaya, membangunkan rumah-rumah penduduk dan masih banyak lagi kebaikanb-kebaikan yang tidak bisa dilupakan oleh mereka semua.

Pak’e kayane wes cukup wektune (pak, kelihatanya sudah cukup waktunya)” ucap nenek kepada kakek yang tidak pernah aku pahami dan mengerti. Kemudian nenek mengambil sebuah kalung dari dalam kenditnya.

“Jika suatu saat nanti, Mahesa terjatuh dan tersungkur perlihatkanlah kalung ini” ucap nenek kemudian mereka berdua memelukku

“Kakek sayang kamu Arya”

“Nenek sayang kamu Arya” ucap mereka berdua

“Jadilah laki-laki yang disegani kawan maupun lawan , bersikaplah bijaksana, tanggung jawab dan jadi orang yang selalu bisa mengayomi orang kecil…….” ucap kakekku yang kemudian erat memelukku begitupal nenekku

“Kakek dan nenek sangat bahagia, Arya mencari kakek dan nenek, ini kebahagiaan kami yang kedua… setelah melihat Ayah kamu lahir dulu…” ucap nenekku, pelukan mereka begitu erat posisiku masih dibawah mereka, sambil berlutut akupun memeluk kakek dengan sangat erat. Kurasakan hangat tubuh mereka dalam dekapanku aroma wangi tubuh mereka tercium disela-sela udara yang masuk dalam hidungku.

Lama kami berpelukan karena memang aku sangat rindu dengan mereka, mungkin bukan rindu tapi rasa ingin bersama mereka selalu, jika rindu kan sudah pernah ketemu kemudian tak pernah bertemu lagi dalam waktu yang lama. Kepala Kakek dan nenekku berada di kedua bahuku terasa ciuman hangat di kedua bahuku begitupula aku secara bergantian aku menciumi bahu mereka.Lama kami berpelukan hingga akhirnya aku merasakan hal yang aneh pelukan yang semula erat menjadi sangat lemah, deru nafas yang mengalir di bahuku menjadi sangat pelan hingga tidak terasa. Tiba-tiba tubuh mereka yang semula mereka sendiri yang menahan beban tubuhnya kini roboh ke arah tubuhku . Kurasakan tak ada lagi nafas yang di bahuku…. Mataku mendelik kutolehkan ke arah kanan dan kiriku kulihat mata mereka berdua terpejam dengan senyuman indah di bibir mereka. Air mata ini mengucur deras, bibirku yang semula tersungging ke atas karena bertemu mereka sekarang menjadi sebuah kubah.

“KAKEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK”

“NENEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK”

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Senyuman mereka ketika bertemu tidak akan pernah aku lupakan, kupeluk tubuh mereka erat hingga aku tidak ingin melepaskannya. Baru pertama kali ini bertemu, baru pertama kali in melihat mereka, baru pertama kali ini bercengkrama dengan mereka tapi kenapa…Ya mereka telah menghembuskan nafas terakhirnya, aku masih memeluknya dan memeluknya. Mendapati takdir yang dialami mereka sangat pahit, sangat pahit dan sangat pahit. Tubuh mereka kini aku rebahkan berdampingan dalam pelukanku yang terduduk di belakang tubuh kakek dan nenek, tubuh sepasang manusia yang selalu bersama sehidup-semati. Kudaratkan pelukan dan ciuman di kening mereka dan pipi mereka secara bergantian. Tetes air mata ini tak tertahankan membuatnya seperti air terjun yang tak pernah kering. Warga semua berdatangan, melihat seorang lelaki dan perempuan yang dulu mengayomi, menghidupi mereka kini telah terbaring kaku. Setuap warga bergantian memeluk dan mencium tangan kanan kakek dan nenek. Aku seperti orang gila yang tak ingin melepas tubuh mereka dari dekapanku andai saja warga tidak menyadarkan aku mungkin aku akan menjadi patung yang terus memeluk tubuh kakek dan nenekku.

Pada hari itu juga warga dari desa banyu abang juga berdatangan semua warga, tidak tua tidak muda semua berdatangan. Dibantu dengan warga aku memnguburkan kakek dan nenek dari Ayahku ini. tampak Pak roto dan keluarganya beserta penduduk desa juga hadir. Tangis menderu, air mata berjatuhan layaknya hujan dari langit. Doa telah dipanjatkan dan Warga mulai berdiri meninggalkan makam untuk melanjutkan aktifitas kembali dengan rasa haru dan sedih dalam hati mereka. Di antara makam mereka yang berdampingan, aku yang berlutut kemudian bangkit dan memandang langit biru yang mulai tercoret oleh kegelapan. Seakan-akan langit tahu kesedihanku, butiran air turun dari langit mencoba menghapus air mataku.

“HEI MAHESA WICAKSONO, KAMU HARUS MEMBAYAR INI SEMUA!” teriakku lantang, semua orang yang berada disitu memandangku. Dalam rintik hujan itu warga mulai meninggalkan makam, aku masih berdiri disitu menikmati hujan yang meghilangkan tangisku.

“Sudahlah den, cita-cita mereka sudah terwujud yaitu bertemu dengan den arya” ucap nenek surti sembari memayungiku, aku terhanyut dan memeluknya sambil menangis. Di tenangkannya diriku dengan elusan lembut di punggungku. Ditemaninya aku pulang dan Diceritakannya kepadaku berbagai penderitaan kakek dan nenek karena Ayah, ya kakek dan nenek menderita bahkan di hari tuanya mereka memilih tinggal di gubuk tua walau banyak warga yang menawari untuk merawat mereka.

Pada hari kedua kepergiaanku, aku tinggal di desa bayu biru untuk melakukan doa selama 7 hari atas kepergian kakek wicaksono dan nenek mahesawati. Banyak cerita indah mengenai kakek dan neneku, warga secara bergantian menceritakan bagaimana kehidupan kakek dan nenek selama masih menjadi orang terpandang. Mereka bahkan tak mengenal waktu ketika menceritakan apa yang mereka dapatkan dari kakek dan nenek. Cerita-cerita mereka membuat aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala bagaiamana kakek sehebat itu memiliki anaka seperti Ayah. 7 hari berlalu, hingga akhirnya aku harus meninggalkan tempat ini.

Aku kemudian berpamitan kepada seluruh warga di desa banyu biru dan berterima kasih kepada mereka kutinggalkan uang sebesar 30 juta kepada kepala desa mereka. Nenek Surti mengantar kepergianku hingga di mulut jalan setapak. Dia juga menambahi sedikit cerita bagaimana perlakuan Ayah terhadap warga sekitar. Warga sebenarnya berani melawan hanya saja karena menghormati Kakek mereka mengurungkan niat mereka. Aku berpisah dengan nenek surti, aku kemudian melewati jalan berangkatku dengan penuh rasa sakit di hatiku. Memang aneh dimana-mana perjalan pulang selalu lebi cepat dari perjalanan berangkat.

Aku telah sampai di desa banyu abang langsung aku menuju ke rumah pak roto dengan membawa kesedihan dalam hatiku walaupun begitu aku harus tetap mup-on. Aku tiba di rumah pak roto mereka menyambutku dengan senyuman. Kucoba menghilangkan duka dalam hatiku dan kembali ke kehidupan semula.
ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Di hari kedatanganku aku mencoba melakukan semua aktifitas seperti biasa di keluarga pak roto. Ya beres-bereslah atau mungkin membantu pak roto bertani, mbak maya berjualan. Semua kegitan itu akhirnya membuatku bisa kembali tegar dan hatiku kuat kembali . pada hari ke-12 Tubuh ini terasa sangat letih dan tiba-tiba saja badanku panas pada malam harinya, yang mampu aku lakukan hanya tidur. Padahal besok aku harus pulang. Pada pagi harinya di hari ke13 kepergianku pak roto mengetahui aku sakit ketika pak roto tidak mendapatiku makan pagi, dan mbak maya disuruhnya untuk merawatku.

“Mbak Maya….” ucapku lirih, kemudian aku bangkit menatapnya yang sedang menyeka tubuhku.

“Sudah mas, tiduran saja biar saya yang merawat mas, mas tidak udah khwatir…” ucap mbak maya dengan senyumannya

Kami kemudian berbincang-bincang kembali membahas yang tidak perlu dibahas. Kepalaku kemudian menengadah keatas melihat langit-langit kamar. Tiba-tiba mbak maya mengecup leherku.
Aku jadi kaget ketika mbak maya mengecup leherku.

“Eh… mbak bikin kaget saja…” ucapku

“Mas arya yang bikin kaget mbak…”balasnya kepadaku

“Yeee… kok bisa aku mbak…?” belaku

“Ya bisa, itu nyatanya batang tiba-tiba berdiri, mau keluar dari celana dalam mas…” ucapnya sedikit melirik dedek arya

“HEEEEH! Maaf-maaf mbak, tidak tahu aku mbak….” ucapku kemudian di balas dengan tawa cekikikan dari mbak maya. Kemudian mbak maya bangkit hendak meninggalkan aku sendiri di kamar, tapi ternyata hanya mengunci pintu dan duduk kembali di tepi kasur yang tak beranjang ini. Aku jadi bingung dengan kelakuan mbak maya, melihatnya dengan wajah yang sayu kepdaku. Direbahkannya kepalanya di dadaku, dan memluk erat diriku.

“Mbak… ada apa?” ucapku kepadanya, kemudian mbak maya bangkit dan mendaratkan bibir tipisnya ke bibirku. Bathinku menolak tapi tubuhku tidak sama sekali, ditambah hampir beberapa bulan ini Ibu sibuk dengan urusannya. Aku membalas ciuman dari mbak maya, tanganku turun ke dada mbak maya yang ditutupi kaos ketat dengan belahan dada yang lumayan memerlihatkan belahan dadanya dan lengat sedikit tertutup kaosnya. Kuremasi tonjolan itu, ciumanku tetap berjalan lebih ganas dari sebelumnya. Kusedot dengan penuh nafsu dan ku jilati bibir mbak maya dengan penuh birahi, mbak maya pun membalasnya dengan sangat galak. Remasan tanganku kemudian mencoba membuka kaos yang dikenakannya. Kuloloskan bajunya hingga tersembulah susu yang terbungkus BH berpenyangga. Kuremas susu itu dengan kedua telapak tanganku serta kuciumi bagian lembah susunya.

“Aaaaahhh… mas Aryiaaaaahhhh…. enak mas, teruuuusssshhhh” ucapnya

“hmmm…. mmm…. mmmm….” ucapku tersumbat oleh lembah susunya

Kuhentikan ciuman itu, kemudian aku lepas BH mbak maya. Dan Bullll….. terpampanglah susu mbak maya yang montok dan lumayan besar, paling tidak lebih besar punya mbak maya ketimbang punya tante ima, dibandingkan dengan Ibuku? jelas punya Ibu number one. Kuremasi kedua susu itu dengan lembut, dan sesekali aku melumat bibir mbak maya. Semakin gemas aku dengan susunya yang telah lama aku tidak pernah merasakannya. Aku jilati dengan caraku, jilati melingkar pada susu kirinya memutar semakin lama semakin mendekati putingnya pada susu bagian kirinya aku elus dengan jari-jariku memutar seirama dengan jilatan lidahku pada susu kanannya dan ketika sampai pada putingnya aku mainkan putingnya dengan jariku.

“Ahhh… mas… nikmaaathhh mashh… ssssshhhhh…”

“Terushhh mash… mashhh aaaahhhhh…. ufthhh…..” racaunya.

Secara bergantian susu mbak maya yang sedikit kendor kebawah ini aku nikamti. Desahan dan racauan semakin keras terdengar. Aku jadi semakin bersemangat menggarap susu mbak maya ini, kemarin dapat kopinya sekarang dapat susunya.

“Mbak…” ucapku sambil memandangnya, kedua tanganku masih meremas susu mbak maya. Mbak maya yan melihatku kemudian menciumku dengan penuh hasrat ingin dipuaskan.

Kurebahkan tubuh mbak maya di kasur itu dan kulorotkan hingga terlepas. Kucium susu mbak maya semakin lama semakin turun keperutnya. Terlihat goyangan tubuh mbak maya yang kegelian. Ciumanku turun semakin turun dan ahhh aroma wangi segar vagina yang tidak pernah aku rasakan. Sedikit aku angkat pinggang mbak maya, langsung aku jilati dari bagian bawah antara anus dan vagina ke atas, begitu berulang-ulang hingga mbak maya kelojotan merasakan jilatanku. Jilatanku kemudian aku variasikan dengan sedotan-sedotan halus pada klitorisnya. HEI! DIMANA AKU MENDPATKAN TENAGA INI?! AKU KAN SAKIT! Masa bodohlah….

“ahh… mas… tempekku mbok apakno… (Vaginaku di apakan)”

“suamiku tidak pernah mashhhh…. aiiiiih nikmat mas… terus… terusssh mash….” racaunya

Aku kemudian menaruh sebatang jari tengahku ke dalam vagina mbak maya, kutanamkan di dalamnya. Kemudian dengan menekuknya aku kocok vagina mbak maya secara kasar dan keras.

“AAAH AAAAH AAAH…. aish auh ouwh….”

“ah.. ah.. ah.. ah.. ah.. enaaaaak… terus mash… “racaunya menerima setiap kocokan jariku didalamnya. Lama aku melakukan hal itu disertai sedotan-sedotan kasar pada klitorisnya.

“aissssh… aissssh…. efthhhh ah ah haaaaaaaaaaaahhhhhhhhh”

“aku mau pipis… ouwh aish ah ah” racaunya. Semakin mendengar racaunya semakin keras aku mengocok vagina mbak maya.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak mbak maya, terasa cairan hangat keluar dari dalam vaginanya membasahi jari-jariku. Kulihat wajah mbak maya nampak puas menerima pelayananku, aku yang tidak dalam kondisi fit kemudian duduk bersandar mengumpulkan tenaga. Tiba-tiba mbak maya bangkit dan dilorotkannya celanaku dengan paksa maka berdiri tegaklah dedek arya “TOEEEENG… AKU BEBAS! YAELAH…. MASA GAK ADA YANG PERAWAN KAKAK??!”. Cerewet sekali ini dedek aryaku, sudah puasa lama masih saja mencari perawan.

“Aaaaaa…. besar banget massssss….” ucap mbak maya kaget, dengan lembut mbak maya kemudian mengocok dedek arya

“Aku capek, mbak masih belum fit, terserahhhhhhhhhhh” ucapku terpotong dan merintih merasakan dedek arya yang masuk dalam rongga mulut mbak maya. Dikulumnya dedek arya dengan sangat buas, tanpa memegangnya mbak maya menjilati setiap bagian dari dedek arya layaknya seekor anjing yang mengendus-endus dengan posisi mbak maya yang sedikit menungging. Dijilatinya dan dikulumnya setiap nano meter dedek arya.

“Terus mbahhhk oufth kulum sedot mbak, sedot kontolku… aiiiih ufth enaaaak mbak” rintih nikmatku

Disedotnya dedek arya dengan ganas dan dengan sangat bernfsu. Melihat pemandangan itu membuat aku semakin menggebu-gebu, posisi mbak maya yang menungging dan mengulumi dedek arya. Dengan segenap kekuatan bulan eh dengan segenap kekuatanku aku kemudian bangkit dan menarik mbak maya untuk rebah kembali. Kuarahkan dedek arya menuju liang senggamanya. Perlahan aku memasukannya, perlahan pula aku mendorongnya.

“Ufthhhhhhhhhhhhhhhhh…. pelan mashhhh… besaarhhhh sakithhhh massshhhh”

“Teruuuusssh masssshhh lebih dhalammmhhhh ehhhh” racaunya

“Pelan apa terus mbak” ucapku sambil menghentikan aksiku

“Pelan mas tapi terus, burung mas itu beshhhhhar” ucapnya kepadaku

“Burung?” tanyaku

“Cepetan masukin kontol, KONTOL mas… KONTOL MAS ARYA KE MEMEKKU!” pinta mbak maya sedikit membentak. Aku tersenyum kemudian aku masukan dedek arya ke dalam memek mbak maya dan bless vagina mbak may telah menelan semua dedek arya. Tenggelamlah sudah kapal dedek arya yang selama ini berlayar dengan gagahnya dan kini harus tenggelam dan hanyut dalam pusaran vagina mbak maya.

“Aissssssssssh besaaaaaar penuh bangetttttttttt….”

“Kontolmu mas, kontolmu mentok didalammmmmhhhhhh”

“kenthu aku… kenthu tempekku mas… kenthu yang dalammmhhh ouewhhh”racau mbak maya

Kembali aku menggoyang dan menggoyang pinggulku semakin lama semakin cepat. Susu mbak maya tampak berguncang seirama dengan goyangan pinggulku. Dengan cepat langsung aku tangkap kedua buah susu itu dengan kedua tanganku, aku remas sangat keras. Semakin keras aku menggoyang semakin keras aku meremas susu mbak maya.

“Remas….aissshh ufth…. goyang teruuussssshshhh nikmat massshhh…..”

“sedikit lagi mas, sedikit lagi aaaaaaaaahhhhh….” racaunya

Kugoyang pinggulku dengan keras dan cepat membuat mbak maya belingsatan tubuhnya bergerak ke kanan dan keiri, kadang tubuhnya melengking ke atas ketika aku hujamkan sedalam mungkin dedek arya.

“mashhh… aku keluarrrr….. mau keluarrrhhhh aaaahhh” ucap mbak maya

“kelauaaaarrrr…. aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh” teriak mbak maya ketika di puncak kenikmatan. Aku yang sebentar lagi merasakan muntahnya lahar, terus menggoyang tanpa mempedulikan mbak maya.

“aduh mas, aduh mas…. berhenti dulu….” ucapnya sambil kedua tangannya memegang kedua tanganku yang masih meremas dua buah susunya. Dan…

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Tanpa pikir panjang kukeluarkan sperma itu ke dalam vagian mbak maya. Aku rebah di atas tubuh mbak maya, yang kemudian memelukku erat. Aku kelelahan sangat kelelaha karena tubuh ini masih belum fit. Kuciumi tubuh indahnya dan kemudian kukecup keningnya. Kupeluk erat tubuh mbak maya, hingga aku tertidur di atasnya.

Suara ayam yang petok-petok di siang hari membangunkan aku kudapati diriku terbaring disamping mbak maya. Kulihat mbak maya ikut terbangun kemudian tersenyum kepadaku. Dipeluknya aku kembali dan diciumnya bibirku kami saling melumat dan saling menyedot.

“Sudah ya mas, sudah sembuh belum sakitnya?” ucap mbak maya kepadaku. Memang setelah persetubuhan pagi tadi tubuhk tampak ringan. Kulihat mbak maya kemudian bangkit dan memakai satu per satu bajunya.

“Iya mbak, sudah agak mendingan” ucapku kepada mbak maya, kulihat dari wajahnya dengan taapan sedikit melamun itu tersirat suatu kepuasan tersendiri tetapi ada sesuatu yang tampaknya mengganjal dalam hatinya

“Mbak….” ucapku lirih memanggilnya

“Ada apa mas?” jawabnya, dengan sedikit tersenyum mencoba menyembunyikan sebuah teka-teki dalam hidupnya

“Cuma pengen manggil saja mbak, karena… tidak apa-apa… tidak jadi he he he” ucapku cengengesan

“Terima kasih mbak…” lanjutku, dijawabnya hanya dengan seyum dan anggukan yang kemudian memandang entah kemana.

Kulihat wajah ayunya yang telah mendapat kepuasan itu kembali memandang tembok di samping kasur. Tatapan yang kosong membuat aku merasa bersalah kepadanya. Dengan lembut dan tubuh telanjangku, aku beranjak dari tempatku kemudian memeluknya dari belakang. Mbak maya yang menyadari hal itu hanya tersenyum dan mendorong sedikit tubuhnya ke arahku.

“Mas…” ucapnya lirih yang hanya terdengar olehku

“Iya mbak…mmmm…. aku minta maaf jika semuanya terjadi sejauh ini” ucapku lirih tepat ditelinga kanannya

“Ndak papa owk mas, Cuma…” balasnya

“Cuma apa mbak?” tanyaku kembali kepadanya

“Jangan sampai Ibu dan Isti tahu ya, kalau masih ingin lagi mbak siap” ucapnya lirih kepadaku, aneh bagiku kenapa yang disebutkan hanya Ibu Roto dan Anaknya, kenapa Pak Roto tidak disebutkan?

“Bingung ya mas? Hi hi hi…” ucapnya tiba-tiba dengan senyuman nakal

“Hm… mungkin mbak…” jawabku

“Sebenarnya… “ucapnya lirih, membuat aku bertanya-tanya dalam diamku aku masih tetap memeluknya. Seakan-akan tahu rasa penasaranku, mbak maya kemudian melanjutkan kalimat yang terpotong itu

“Sebenarnya, mbak maya disuruh sama bapak untuk merawat mas arya” ucapnya

“saya tahu mbak…” jawabku lirih

“Kalau semisal sampai sejauh ini, mas Arya jangan marah ya mas, mbak cuma menjalankan perintah bapak saja” lanjutnya, aneh sangat aneh.

“Berarti kejadian tadi itu juga perintah pak roto? Dan pak roto juga sudah tahu?” tanyaku memburu kepadanya

“Jangan marah gitu mas, mbak maya jelasin ya tapi mas jangan marah-marah nantinya karena kontol mas jadi sasaran tempikku, habis mas ganteng sich… hi hi hi” jawabnya yang semakin aku tidak mengerti, dari kata-katanya terlihat bagaimana dia membutuhkan dedek arya

“Jadi bingung mbak, sebenarnya aku juga seneng kok mbak, kenapa harus marah-marah sama mbak? Kan dapat durian runtuh mbak” ucapku sambil melepaskan pelukanku dan merebah di tempat tidur

“Syukur kalau gitu, takutnya mas arya itu marah kalau dapet lawan wong ndeso…” ucapnya yang benar-benar tidak masuk akal, ndeso sich ndeso tapi bodi kamu, wajah kamu KOTA!

“Ya sudah mas kalau begitu, mbak maya mau beres-beres rumah dulu ya, nanti malam lanjut lagi”

“kalau sudah sepi hi hi hi” lanjutnya sambil berbalik dan mencium bibirku, aku tidak membalasnya

“kenapa mas?” tanya mbak maya

“Karena mbak memikirkan hal lain… aku ingin tahu yang mbak pikirkan” ucapku

“Hmmm… ” gumamnya

“Ini hanya rahasia kecil, dan sampai sekarang membuat mbak merasa bersalah kepada suami mbak yang amat mbak cintai, ketika mbak melakukannya dengan mas Arya, mbak teringat suami mbak yang sekarang jualan di daerah mas arya”

“Dia orang yang baik mas, juga pengertian dan sayang sekali dengan mbak dan isti…”

“Hingga mbak menemukan suatu kenyataan pahit kalau suami mbak tidak bisa menghamili mbak” jelasnya yang seakan-akan memutar ingatannya kembali ke masa lalu. Mbak maya kembali merebahkan tubuhnya di atas tubuhku yang sedang rebahan di tempat tidur.

“Mbak Cuma pengen curhat, karena jika curhat sama tetangga bisa-bisa di usir dari desa” lanjutnya

“Memangnya kenapa mbak?apakah karena ini?” tanyaku kepada mbak maya

“Bukan mas, kalau yang barusan kita lakukan mbak rasa, mas arya bisa jaga rahasia, bisa kan?” tanyanya kepadaku

“Bisa mbak…” ucapku

“Sebenarnya ini tentang isti, setelah mbak tahu suami mbak tidak bisa menghamili mbak, mbak sempat stress bener-bener stress. Hingga pada saat itu muncul hal gila” jelasnya terpotong

“Hal gila?” tanyaku

“Iya, hal gila, hal gila dengan merayu bapak untuk menghamiliku mas…” jelasnya yang membuat aku bangkit dari rebahanku dan begitupun dengan mbak maya.

“Sudah mas jangan kaget gitu, ya mau bagaimana lagi mas, mbak terlalu sayang sama suami mbak, tapi tenang saja mas mbak juga sudah jarang gituan sama bapak setelah isti lahir…”

“Setelah isti lahir, akhirnya suami mbak merasa hebat dan itu membuat mbak bahagia begitu pula bapak, walau setelah isti lahir bapak tidak pernah meminta kadang malah mbak yang minta hi hi hi” ucapnya dengan senyum nakal. Dan aku hanya memandangnya dengan senyuman.

“Ah aku kira, dia menyesal melakukannya denganku ternyata dia butuh juga, aku? Sangat butuh he he he he” bathinku

“Mas jangan bilang sama Ibu lho mas, apalagi sama isti hi hi hi” ucapnya

“Iya mbak, tidak mungkinlah aku bilang sama mereka” ucapku

“Ini semua juga perintah bapak, karena dari kemarin mbak merayu bapak tapi bapak tidak mau, terus waktu mas sampai disini eh mas malah sakit…”

“Ya bapak nyuruh saya merawat mas dan… sekalian saja bapak nyuruh aku sama mas, sekalian mau balas jasa katanya” jelas mbak maya

“Balas jasa?” tanyaku heran

“Iya balas jasa, karena dulu sekali sewaktu bapak masih nol, makan saja susa, kakek mas arya yang membiayai semua kebutuhan dari makan, rumah, menikah dengan ibu sampai persalinan ketika mbak lahir” jelasnya

“Sudah ya mas, nanti lagi ngobrolnya… hi hi hi” jelasnya kemudian mencium bibirku dan kali ini aku membalasnya

“Pokoknya selama mas disini, mas boleh make kapanpun tapi jangan sampai ketahuan Ibu sama Isti ya mas hi hi hi” ucapnya dengan senyuman nakal. Aku hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan sama mbak maya kemudian mba maya memberesi kamar.

“Nanti malam lanjut lagi ya mas, mbak maya pengen lagi, biasanya orang kota pinter gaya-gaya gitu. Pokoknya terserah mas arya hi hi hi ”

“Dadah mas arya ganteng…” ucapnya sambil mengecup keningku yang kemudian mbak maya berlalu meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Bener-bener aneh, sayang sama suaminya tapi kenapa minta tambah ya? Perlukah aku selidiki?. Dan tiba-tiba mbak maya masuk lagi ke dalam kamar seakan-akan tahu pertanyaan dalam pikiranku.

“Jangan mikir macam-macam ya mas, mbak maya cuma melaksanakan tugas hi hi hi dn satu lagi mas jangan bikin mbak jatuh cinta sama mas arya lho, karena mbak cintanya cuma sama suami mbak hi hi hi” ucapnya, kemudian aku pegang tangganya

“Mbak, mending tidak usah kita lakukan lagi mbak, ini yang pertama dan terakhir, kasihan suami mbak maya” ucapku dengan tatapan mata yang tajam

“Sssst… jangan keras-keras, mbak sama suami mbak memang saling mencintai, tapi…”

“Mbak pernah menemukan sekali dalam sematpon-nya itu foto dia sama cewek lagi selpi gitu mas, kalau selpi-nya kaya di tipi-tipi itu tidak apa-apa mas, lha wong selpi-nya sambil telanjang mas” jelasnya kepadaku

“Berarti mbak mau balas dendam ceritanya?katanaya cinta banget sama suaminya?” tanyaku dengan nada sedikit bercanda

“Ya bukan balas dendam mas, sekali-kali nyoba yang lain mas hi hi hi….” ucapnya kepadaku, yang kemudian melepaskan genggaman tanganku

“dah cowonk ganteng,hmmm… KONTOL-nya gede hihihi” ucapnya dengan santainya langsung keluar dari kamarku. Hadeeeeh… tepuk jidat dah aku dan langsung rebah di kasur ini. kemudian aku tertidur kembali, ketika siang menjelang aku terbangun karena mbak maya masuk ke dalam kamar membawakan makanan. Aku disuapinya walaupun setelah istirahat ini badanku seudah merasa sehat kembali.

Hari ini kulalaui dengan berbaring saja, sore hari mbak maya hadir untuk menyeka tubuhku tapi aku menolaknya karena aku sudah agak mendingan dan kuputskan untuk mandi. Sedikit kekecewaan di wajah mbak maya tapi tak kuhiraukan, aku tidak mau mengambil resiko karena Ibu dan Isti sudah berada di rumah. Sinar mentari mulai larut dalam kegelapan malam. Ketika malam menjelang setelah aku membereskan kamar aku diajak untuk makan malam bersama mereka. Tampak kegembiraan di rumah ini, andai saja Ayah dan Ibu bisa seperti ini. Ayah? Tiba-tiba darah ini mendidih bagaikan petir inging mencabik-cabik lelaki itu. Segera kuselesaikan makan malam itu dan kembali ke dalam kamar. Aku kemudian melihat kembali kalung pemberian nenek, sebuah kalung dengan bandul yan terbuat dari batu entah itu batu permata atau batu giok yang tembus pandang didalamnya ada sebuah motif berbentuk seekor kerbau yang jika diputarkan bandul kalung itu akan tampak kerbau yang sedang berjalan. Kusimpan kembali kalung itu didalam tas. Sejenak aku keluar dan duduk-duduk di teras kamarku dengan asap dunhill yang menemaniku.

“Ah, tinggal setengah bungkus” bathinku,

Kumasukan korek gas kedalam bungkus dunhill dan kuletakan di teras rumah untuk mengambil minuman di kamar tapi sialnya aku malah mengantuk. Tanpa mengambil dunhill kesayangan kukunci pintu dan tertidur pulas. Ditengah malam, aku terbangun karena ada suara ketukan dipintu kamarku. Ketika aku membuka pintu kamarku….

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part