. Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan | Kisah Malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 4

0
362
kisah malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 4

Penutup

Telah beberapa bulan sejak perselingkuhanku dengan Pram yang betul-betul nyata itu terjadi. Akan tetapi, perselingkuhan itu tidak berhenti di hari itu saja, melainkan terus berlanjut. Sesekali, Pram yang datang ke kamarku, dan sesekali aku yang mendatangi kamar Pram. Semuanya kami lakukan di malam hari setelah training. Bukannya menyesal, tapi malah kami melakukannya dengan semakin bersemangat, dan saling mengekspos diri satu sama lain dan mencoba hal yang baru bagi kami.

Memang jika dipikir-pikir, kesetiaan itu betul-betul hal yang aneh. Disatu sisi, kita ingin setia kepada pasangan kita. Akan tetapi, di sisi lain, kita pun setia pada perasaan kita yang mencintai orang lain selain pasangan hidup kita. Betul kata Pram, kita selalu setia kepada perasaan kita. Kesetiaan pada pasangan hidup kita, bukanlah kesetiaan karena jika kita menyangkal hati kita yang juga mencintai orang lain, namanya berarti kita bukan setia. Kesetiaan pada pasangan hidup kita itu adalah integritas, yaitu integritas untuk tidak melukai perasaan pasangan hidup kita. Tidak melukai perasaan pasangan hidup kita tentunya adalah bagian dari cinta. Dengan demikian, apakah kita tidak setia terhadap cinta kepada pasangan hidup kita? Hah, dipikirkan jadi pusing. Kesetiaan itu memang hal yang rumit.

Hari ini adalah hari terakhir kita training di Jakarta. Besok, pesawat kami masing-masing akan berangkat menuju kota kami masing-masing. Pesawatku besok berangkat jam 7.15, sedangkan pesawat Pram berangkat jam 5.30. Aku sekarang sedang merenung. Besok, aku akan kembali bertemu dengan keluargaku. Akan tetapi, dengan perselingkuhan yang telah kulaksanakan itu, masih pantaskah aku bertemu dengan mereka? Aduuh, memikirkan itu malah jadi eneg sendiri. Entah kenapa aku sudah tiga hari ini merasa eneg. Kemungkinan besar diakibatkan oleh aku dan Pram selalu begadang demi mengungkapkan cinta kami masing-masing. Sudah tiga hari ini kami sangat intens bersetubuh, bahkan sampai dua sampai tiga ronde. Akibatnya tentu saja kami jadi kurang tidur.

Pintu kamar mandi pun terbuka, dan Pram keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan handuknya sama sekali. Ia baru saja selesai mandi. Tubuh kekar dan wajah tampannya tetap tidak berkurang sejak pertama kali kami mengungkapkan cinta kami, bahkan sekarang ia terlihat lebih tampan. Memang tidak salah lagi, aku betul-betul telah jatuh cinta kepadanya, positif.

Ia pun duduk disebelahku, dan kemudian mencium bibirku. Setelah melepaskan ciumannya di bibirku, ia merangkul pundakku.

“Mikirin apa, sayang?” Tanya Pram.

“Nggak. Besok pulang ya.” Kataku.

“Iya. Kita kayanya ga bisa ketemu lagi ya.” Kata Pram.

“Iya, sebaiknya begitu. Demi kebaikan keluarga kita berdua.” Kataku.

“Aku akan kangen sama kamu, sayang.” Kata Pram.

“Hahaha.” Tawaku singkat.

“Emang kamu ga akan kangen sama aku?” Tanya Pram.

“Ngapain kangen sama orang yang suka bugil kaya kamu? Baju aja nggak dipake-pake daritadi.” Kataku.

“Yaudah, aku pake baju deh ya.” Kata Pram.

“Eh tunggu. Emangnya…” Kataku.

“”Kita ga mau bercinta dulu”. Begitu?” Tanya Pram.

“Yeh, Siapa yang mau?” Tanyaku.

“Kalau begitu aku yang mau deh.” Kata Pram sambil kemudian mendorong tubuhku ke ranjang.

Kini, aku sudah telentang di ranjang. Pram yang daritadi sudah telanjang pun langsung menindih tubuhku dan mencium bibirku. Aku pun juga ikut balas mencium bibirnya. Ooohh, bukan main, ciumannya yang lembut tapi pasti ini lama-lama mulai memanaskan tubuhku. Lambat laun, nafsu birahiku pun kembali naik. Kemudian, Pram melepaskan ciumannya di bibirku.

“Jadi, tetep ga mau nih?” Tanya Pram.

“Udah nggak usah bertele-tele. Mau ya mau, nggak ya nggak.” Kataku.

Pram pun mulai tersenyum dengan senyum kemenangan. Ia pun mulai melucuti pakaianku satu-satu. Aku pun mengangkat tubuhku untuk mempermudah Pram melepaskan seluruh pakaianku. Dari bajuku, celanaku, BH-ku, sampai celana dalamku, hingga akhirnya aku pun sudah telanjang.

“Aku ga pernah bosan ngelihat tubuh telanjang kamu, Sofie sayang.” Kata Pram.

“Hmmm… Dilihatin doang nih?” Kataku sambil senyum menggoda.

“Ah, mintanya dicintain melulu kamu mah. Gantian dong kamu yang aktif duluan.” Kata Pram dengan manja.

Ah dasar lelaki. Kalau sudah didepan wanita aja, maunya bermanja-manja. Ya sudah deh, hari terakhir gini. Kapan lagi aku bisa aktif duluan hehehe.

“Yaudah. Ayo tiduran, Pram cintaku.” Kataku.

Tanpa berkata apa-apa, Pram pun langsung tiduran disampingku. Kemudian, aku setengah membangunkan tubuhku sehingga aku terduduk dihadapannya. Aku mulai menggenggam batang penisnya yang sudah mengacung dan kokoh itu. Kemudian, lambat tapi pasti, aku mulai mengocok-ngocok batang penisnya dengan telaten. Sambil melakukan itu, aku juga mengusap-usap rambut Pram dengan lembut, dan juga mencium bibirnya dengan penuh kelembutan. Aku bisa merasakan napas Pram yang mulai memburu. Ditengah-tengah ciuman kami, aku membuka mataku dan melihat bahwa Pram pun sudah tidak berdaya mendapatkan kenikmatan yang kuberikan ini.

“Ssshhh… Ahhh…” Pram mulai mengeluarkan desahannya.

Aku pun mulai mempercepat irama mengocok batang kejantanannya. Desahannya pun juga semakin cepat. Kemudian, aku segera mengarahkan pantatku kearah batang kejantanannya, kemudian kudorong keras-keras sehingga kini lubang kemaluanku sudah melahap seluruh batang kemaluannya. Ooohh, aku merasakan lubang kemaluanku begitu sesak akibat batang penisnya yang sudah masuk sepenuhnya.

Tidak berhenti sampai disitu, aku pun memutar-mutar pantatku. Searah jarum jam… kemudian berlawanan jarum jam… maju… mundur… maju… mundur… Lidahku pun juga tidak tinggal diam, melainkan langsung menjilat-jilat dada bidang Pram dan juga lehernya. Pram tampak hanya merem melek mendapatkan kenikmatan yang kuberikan ini.

“Aahhh… Tubuh seksimuu… Emang selalu bikin aku merem-meleek….” Desah Pram sambil tersenyum kepadaku.

Aiihh, ia tahu saja cara membuatku semakin terangsang. Pujian itu tentu saja membuat seluruh tubuhku makin terangsang. Aku pun mempercepat irama putaran pantatku itu. Pram pun juga tidak tinggal diam, ia segera meremas-remas buah dadaku dengan kuat. Aahh, sensasi yang kudapatkan saat ini betul-betul luar biasa. Aku yang semakin tidak tahan lagi, sekarang sudah menghujam-hujamkan lubang kewanitaanku dengan cepat.

Lama-kelamaan, aku merasakan bahwa kenikmatan puncak tiada tara sudah dekat. Aku pun semakin cepat lagi menghujam-hujamkan lubang kemaluanku ke batang penisnya.

“Cintaakuuu… Akuu udah maoo kelimaakss….” Erangku.

Mendengar bahwa aku hampir klimaks, Pram segera memegang pinggangku. Lalu, ia menaik-turunkan pinggangku dengan cepat. Aiihhh, aku yang biasa harus menggerakan otot pantatku untuk mendapatkan kenikmatan, kali ini tidak perlu bergerak untuk mendapatkan kenikmatan. Tenaga Pram begitu kuat, aku pun bergerak naik turun dengan cepat hanya karena tenaga milik Pram. Dengan begini, aku betul-betul bisa lebih fokus merasakan kenikmatan puncak ini.

“Ooouuuhhhh…. Aaauuggghhhh… Akuu keluaarr cintaaaa….” Erangku.

Aaahh, aku merasakan seluruh tubuhku berdenyut-denyut mengeluarkan kenikmatan yang daritadi ditimbun ditubuhku oleh Pram. Akan tetapi, Pram tidak serta merta menghentikan gerakannya begitu saja. Ia malah terus menaik-turunkan pinggangku semakin cepat. Napasnya pun semakin memburu, sementara matanya terus merem-melek.

“Soffiee sayaaannggg…. Akuu jugaa maauuuu niihhh….” Erang Pram.

Sementara Pram menaik-turunkan tubuhku, aku juga mengkombinasikannya dengan putaran pantatku. Aku pun sangat liar memutar-mutar pantatku, aku berharap ia bisa mendapatkan kenikmatan puncak yang sangat nikmat.

“Uoogggghhhhhh….” Croott croott crottt…

Aku merasakan tembakan sperma miliknya yang begitu deras dari bawah keatas. Ooohh, kenikmatan puncakku betul-betul lengkap dengan adanya tembakan cairan kental miliknya yang begitu deras dan hangat. Setelah kira-kira sepuluh detik Pram mengerang, akhirnya tembakan sperma yang begitu nikmat itu berhenti. Aku merasa vaginaku sudah penuh dan basah kuyup oleh sperma Pram yang begitu banyak. Kemudian, kami sama-sama mengatur napas kami masing-masing.

“Kok tumben cepet, cinta?” Tanyaku dengan nakal.

“Salah sendiri punya badan seksi banget. Ga kuat tau.” Kata Pram sambil senyum-senyum.

Kemudian, aku segera membaringkan tubuhnya di dadanya.

“Iiihh… Gombaal…” Kataku sambil mencubit pipinya.

“Hehehe. Biarin.” Kata Pram sambil mencium bibirku.

Kemudian, aku terbaring lama dalam pelukannya di dadanya. Tangannya pun masih membelai-belai rambut dan tubuhku dengan lembut. Sementara, aku hanya memejamkan mataku untuk menghayati pelukan tubuhnya yang begitu kokoh dan belaian tangannya yang begitu lembut. Tidak lama kemudian, aku pun tertidur.

KRIING… KRIINGGG….

Alarmku yang kuset jam setengah lima pagi berbunyi. Kini, aku tinggal sendirian di kamar. Aku melihat sebuah catatan di meja hotel. “Maaf sayang, aku tidak membangunkan kamu. Kamu tidur begitu pulas dan indah, aku tidak tega membangunkan kamu. Ya, kita berpisah disini saja. Tidak perlu kata-kata perpisahan yang panjang, karena aku takut berat melepasmu. Satu hal yang pasti adalah, aku tidak akan pernah melupakan cinta yang telah mekar dalam hati kita masing-masing.” Haah, cukup puitis untuk seorang laki-laki. Aku segera beberes untuk segera berangkat ke bandara karena waktuku tidak banyak.

Singkat kata, tanpa sempat berpamitan kepada yang lain, aku sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta untuk check-in. Walau aku masih harus menunggu sekitar satu jam, tetapi pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi selama aku training di Jakarta ini betul-betul menghanyutkan pikiranku. Satu jam pun berlalu, dan tanpa sadar, pesawat yang kunaiki ini sudah mengudara. Entah kenapa, aku tidak bisa menghilangkan keresahan yang ada di pikiranku. Padahal, apa yang kujalani bersama Pram itu didasarkan atas dasar suka sama suka dan mau sama mau. Mengapa pada akhirnya hatiku dirundung oleh rasa resah? Apakah aku menyesal telah melakukan semua itu?

Akhirnya, pesawat yang kunaiki itu mendarat. Aku langsung mengambil bagasiku, dan kemudian memanggil taksi dan pulang ke rumah. Dalam beberapa lama saja, aku telah sampai di rumah. Betul-betul rumah yang sudah kurindukan. Di rumah, aku kembali bertemu dengan para asisten rumah tangga dan anak-anakku yang begitu menyambut kehadiranku dengan riang gembira. Aku hanya bisa tersenyum sedikit dipaksakan. Aku tidak menyangka, aku sudah melakukan perbuatan yang sangat kejam kepada keluargaku ini. Saat mereka berjuang masing-masing untuk keluarga ini, aku malah main serong diluar sana.

Setelah mengobrol sebentar, aku masuk kekamarku untuk beristirahat. Saat aku tidur di ranjang yang biasa aku tidur bersama dengan suamiku, aku pun merasa sangat hina. Akan tetapi tiba-tiba, aku merasa sangat mual dan eneg. Aku pun tidak tahan lagi, aku langsung berlari ke kamar mandi dan muntah. Ukh, aku pernah merasakan sensasi ini, waktu aku hamil anakku yang kedua. Apakah jangan-jangan aku hamil akibat perselingkuhanku dengan Pram? Aku segera mengambil testpack dan mengujinya. Ah, firasat burukku pun terjadi. Hasil test pack menunjukkan hasil positif. Waduh, bagaimana ini? Haruskah aku mengatur strategi agar semuanya tidak ketahuan? Ah, tidak. Rasanya terlalu kejam. Baiklah, tenang dulu. Aku sebaiknya beristirahat dahulu, siapa tahu nanti aku dapat ide setelah tidur.

Setelah keluar kamar mandi, aku begitu kaget melihat suamiku yang sudah berdiri dihadapanku. Aku begitu kaget melihatnya. Bukankah ini masih siang? Mengapa suamiku sudah ada di rumah?

“Hai.” Kata Mas Anan.

“Hai, sayang. Udah pulang?” Tanyaku.

“Ga boleh?” Tanya Mas Anan.

Waduh, kok jawabannya seperti itu?

“Lho? Kok jawabannya seperti itu?” Tanyaku.

“Yaah, kamu harusnya tahu kenapa lah.” Kata suamiku sambil senyum.

Aku hanya terdiam mendengarnya. Secepat itukah suamiku tahu? Secepat itukah kejahatanku terbongkar?

“Masuk yuk, aku ga pengen semua orang denger.” Kata suamiku sambil mempersilakan aku masuk ke kamar.

Aku pun menarik napas panjang, kemudian berjalan masuk ke kamar, yang kemudian disusul suamiku. Kemudian, suamiku mengunci pintu. Aku pun hanya bisa berdiri mematung.

“Duduk.” Kata suamiku sambil mempersilakan aku duduk di ranjang.

Aku pun tidak mengatakan apa-apa, dan langsung duduk di ranjang. Kemudian, suamiku pun ikut duduk di ranjang di sebelahku.

“Kok, ini bisa terjadi?” Tanya suamiku.

Pertanyaan yang sebetulnya juga membuatku bingung. Jujur, aku sendiri pun tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Tiba-tiba saja, rasa cinta tumbuh dengan cepat di hatiku, sampai akhirnya semuanya terjadi.

“Jika kamu bisa muter balik waktu, apakah kira-kira kamu bisa ngubah apa yang akan terjadi?” Tanya suamiku.

Aku pun kembali diam mendengar pertanyaan suamiku itu. Sungguh, sebetulnya itu pertanyaan yang sangat mudah dijawab. Akan tetapi, kenapa aku begitu kesulitan menjawabnya?

“Hhhhh…. Ternyata gawat, dan ketakutanku pun terjadi.” Kata suamiku sambil menghela napas.

“Eh, maksud kamu apa, sayang?” Tanyaku.

“Begini. Dari dulu, aku selalu khawatir sama kamu. Kamu begitu bangga akan diri kamu sendiri, yang bisa mempertahankan kesetiaan cinta kamu selama sepuluh tahun. Kamu begitu bangga akan kesetiaan kamu, kamu menganggap orang-orang yang tidak setia itu sangat rendah, dan kamu merasa bahwa cintamu itu hanya untukku saja.” Kata suamiku.

“Maaf. Tapi aku nggak ngerti dimana salahnya.” Kataku.

“Tentu saja. Dengar, Sofie. Kamu itu sudah sombong terhadap dirimu sendiri. Kamu merasa bahwa kamu bisa mengalahkan godaan yang menjadi batu sandungan bagi cintamu terhadapku. Kesombongan itulah yang berbahaya, yang membuat pertahananmu semakin lemah.” Kata suamiku.

Deg. Jantungku begitu berdegup kencang karena perkataannya. Betulkah apa yang dikatakan oleh suamiku ini? Hati kecilku pun mengakui bahwa itu benar.

“Kamu tidak mau mengakui bahwa ada hal buruk dalam dirimu.” Kata suamiku.

“Apa itu?” Tanyaku.

“Kamu sama seperti wanita… tidak, manusia pada umumnya, termasuk diriku. Yaitu, kamu mendambakan seks. Akan tetapi, kamu malu mengakuinya, dan selalu menutupinya dengan menganggap bahwa seks adalah sebuah ungkapan cinta. Dengan demikian, kamu selalu meredam nafsu birahimu, yang akhirnya meledak disaat itu tidak bisa disalurkan. Selingkuhanmu mungkin juga berpikiran sama sepertimu, hingga hal itu terjadi tanpa adanya rasa penyesalan dari kalian.” Kata suamiku.

Ah, persis seperti yang dikatakan oleh Reza, Cuma bedanya Reza berbicara dengan bahasa visioner, sedangkan suamiku menyatakannya dengan detail. Ah sial, andai saja aku memahaminya lebih cepat. Aku hanya bisa tertunduk mendengar perkataan suamiku itu. Aku betul-betul sudah bersalah terhadapnya dan terhadap keluargaku ini. Padahal, Tuhan sudah memberiku keluarga yang begitu sempurna. Anak-anak yang begitu lucu dan pintar, para asisten rumah tangga yang begitu baik pada kami, dan juga suamiku yang begitu pengertian. Akan tetapi, aku telah menyia-nyiakan semuanya. Tanpa sadar, air mataku pun mulai mengalir.

“Apakah tangisan mendahului minta maaf?” Tanya suamiku.

“Sayang, kalau boleh jujur… Aku tidak punya keberanian untuk meminta maaf kepadamu…” Kataku.

“Oke, itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, apa yang akan kamu lakukan terhadap anak di perutmu itu?” Tanya suamiku.

Hah? Dia sudah tahu sampai sejauh itukah? Akan tetapi, tidak ada gunanya menyangkal, tidak ada gunanya berbohong, tidak ada gunanya mempertanyakan darimana dia tahu. Walaupun tahu darimanapun dia, itu tetaplah fakta yang tidak terbantahkan.

“Kamu maunya, gimana?” Tanyaku.

“Aku tanya apa yang akan kamu lakukan?” Tanya suamiku.

“Aku sendiri juga bingung. Haruskah aku menggugurkannya?” Tanyaku.

“Tidak takut dosa?” Tanya suamiku.

“Sayang, dari awal, aku sudah berdosa terhadap dirimu. Kali ini, biarlah aku menanggung dosa yang lebih berat lagi, sebagai salah satu penebusanku.” Kataku.

Suamiku hanya menghela napas.

“Tidak ada yang menebus dosa dengan cara melakukan dosa yang lebih berat lagi.” Kata suamiku.

“Sayang, aku sungguh bingung. Apa yang sebaiknya aku lakukan?” Tanyaku.

“Kalau kamu masih menganggap aku suamimu, dengarkan aku.” Kata suamiku dengan serius.

Walaupun masih menangis, aku serius mendengarkannya.

“Dengar, anak yang ada diperutmu itu sama sekali tidak bersalah. Walaupun ia datang ke dunia ini akibat perbuatanmu yang hina dan penuh dosa itu, tetapi anak itu tetap murni dan tidak berdosa. Camkan itu!” Kata Suamiku.

Mendengar hal itu, emosiku semakin menguasaiku. Air mataku pun makin banyak menetes. Akan tetapi, aku tetap membiarkan emosi itu tetap terkumpul dalam diriku. Aku begitu tidak percaya bahwa aku mendengar hal yang begitu hebat darinya.

“Jadi, katamu aku harus merawatnya?” Tanyaku.

“Menjaga dan melahirkan dia ke dunia ini adalah tanggung jawabmu, karena dia tetap memiliki kesempatan itu.” Kata suamiku.

“Tetapi, jangan salah. Ketika anak itu sudah lahir, kamu juga harus memastikan bahwa anak itu hidup bahagia. Jadikanlah itu sebagai penebusan atas dosamu.” Kata suamiku.

“Baik, akan kupastikan dia hidup bahagia.” Kataku.

“Satu hal, aku tidak mau anak itu berada dalam rumah ini. Tidak baik bagi dirinya, dan juga bagi kita. Biar bagaimanapun juga, anak itu adalah hasil perselingkuhanmu. Pastilah anak itu juga membawa dampak yang negatif bagi keluarga ini.” Kata suamiku.

“Iya. Walau bagaimana pun juga, dia adalah anak haram.” Kataku.

Mendengar hal itu, suamiku langsung menamparku dengan keras. Keras sekali, sampai-sampai aku terjatuh.

“Jangan katakan dia anak haram! Yang haram adalah perbuatanmu! Anak itu tidak berhak menanggung status haram hanya karena perbuatanmu yang haram itu! Ingat baik-baik, dosa ini adalah tanggunganmu seorang. Anak itu tidak berdosa sama sekali!” Kata suamiku dengan garang.

Jujur, baru kali ini aku melihat suamiku yang begitu marah. Biasanya, dia selalu baik dan lembut. Aku kemudian berdiri dan menatapnya.

“Sayang, apakah kamu akan menceraikanku?” Tanyaku.

“Menurutmu?” Tanya suamiku.

“Jujur, aku tidak akan meminta banyak darimu. Jika kamu berniat menceraikanku, kalau itu demi kebaikan kamu sendiri, aku rela. Paling tidak, mungkin cuma itu yang bisa aku lakukan untuk kamu.” Kataku.

“Oh, terima kasih sudah begitu memikirkanku. Sekarang aku tanya, siapkah kamu menanggung beban yang lebih berat dari perceraian?” Tanya suamiku.

“Baiklah, aku siap. Jika ini memang bisa menebus kesalahanku.” Kataku.

“Aku tidak tahu apakah ini lebih berat atau tidak. Aku tidak akan menceraikanmu, karena aku memikirkan anak-anak kita. Aku tidak ingin anak-anak kita memiliki pengalaman pahit tentang orang tuanya bercerai. Bersikaplah layaknya sebagai seorang istri dan ibu di depan anak-anak kita. Bahagiakanlah mereka, dan antarlah mereka sampai kehidupan mereka yang mandiri. Ingat pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelangga? Jangan sampai kamu menjadi nila setitik yang merusak semuanya. Sekali lagi ingat, kesalahanmu itu adalah tanggunganmu sendiri. Oh iya, kamu tidak perlu lagi melayani aku sebagai seorang istri.” Kata suamiku.

“Hmmm, apakah maksudnya kamu akan pergi?” Tanyaku.

“Hmmm, iya dan tidak. Fisikku akan berada disini, tetapi hatiku tidak akan pernah lagi ada dihatimu. Hatiku sekarang hanya akan berada pada anak-anak.” Kata suamiku.

Oh, aku mengerti. Betul-betul hukuman yang sangat berat menurutku, jauh lebih berat dari perceraian itu sendiri. Jadi intinya, aku harus menebus semua kesalahanku yang begitu berat, tanpa adanya dukungan dari suamiku. Siapa yang bisa? Aku harus terus berpura-pura tersenyum didepan semua orang, padahal dalam hati aku merasa sangat sakit dan bersalah. Aku tidak mengerti, apakah suamiku itu sangat baik atau sangat kejam. Untuk orang yang perasaannya sensitif sepertiku, hukuman seperti ini tentulah sangat berat.

“Sayang, kenapa kamu memberi hukuman ini padaku? Apakah dengan demikian, kamu akan memaafkanku?” Tanyaku.

“Akan sulit buatku untuk memaafkan dirimu. Akan tetapi, kebencian yang timbul akibat perbuatanmu, jangan engkau sebarkan kepada orang lain. Cukup aku yang menanggungnya. Dan meskipun perbuatanmu itu hina, cobalah untuk bertobat dan berubah. Biarlah orang lain melihatmu sebagai pribadi yang baik. Perbuatanmu yang hina itu sudah terjadi di masa lalu, tidak perlu orang mengungkit-ungkit masa lalumu, dan tidak perlu juga hidupmu berantakan karena masa lalumu.” Kata suamiku.

Apa? Ternyata, dia tidak memberiku hukuman, melainkan dia berusaha membersihkan namaku, dan menanggung semua kebobrokanku.

“Sa… sadarkah kamu apa yang kamu katakan?” Tanyaku.

“Aku sadar.” Kata suamiku.

“Tidak bisakah aku membantumu dalam menanggung kebencian yang akan kamu tanggung?” Tanyaku.

“Tidak, tidak mungkin. Kebencianku padamu sudah tidak terbendung lagi. Kalau bukan karena anak-anak, aku tidak mengerti apa yang akan terjadi. Semakin dekat diri kita, pastilah semakin meluap kebencianku ini.” Kata suamiku.

“Lalu, kenapa harus kamu yang menanggung semuanya?! Aku merasa ini tidak adil! Tadi kamu bilang bahwa anak di perutku ini tidak berhak menanggung dosa-dosaku. Kesalahanku haruslah aku yang menanggung semuanya. Lalu, mengapa kamu sekarang menanggung segala kebencian yang timbul dari perbuatanku ini? Tahukah kamu bahwa dengan cara seperti itu, kamu pun akan sendirian menanggung semuanya!” Kataku.

“Karena, itulah tugasku sebagai seorang suami, yaitu memastikan bahwa istrinya hidup bahagia, dan membuat orang lain memiliki pandangan yang baik tentang dirimu. Juga tugasku sebagai seorang ayah, untuk memastikan bahwa anak-anaknya bahagia, karena tidak ada yang bisa memberikan kebahagian sejati yang paling tinggi, selain daripada Tuhan dan ibunya.” Kata suamiku.

Jreg. Kakiku langsung lemas begitu mendengar perkataan suamiku. Ini… suatu bentuk kesetiaan… integritas yang sangat tinggi. Ini… betulkah ini bentuk kesetiaan yang sesungguhnya? Jauh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesetiaan yang selalu kugembor-gemborkan.

“Tidak perlu ada kata-kata lagi mulai dari sekarang. Ucapkanlah kata-kata kepadaku ketika didepan anak-anak kita, layaknya sebagai seorang suami istri yang bahagia.” Kata suamiku tanpa melihat kearahku.

Ia pun keluar dari kamar ini. Aku tidak percaya, aku sudah membuat hatinya begitu sakit. Seorang suami dan ayah yang begitu berintegritas tinggi terhadap keluarganya, sampai rela menanggung semua sakit akibat perbuatanku ini sendirian. Itukah tugas seorang laki-laki yang sebenarnya? Jujur, jika memang itu jawabannya, aku sangat bersyukur terlahir sebagai wanita, yang menurutku memiliki beban yang jauh lebih ringan. Beban rasa sakit melahirkan? Beban membesarkan anak? Beban menghidupi keluarga? Semuanya itu tidak ada bandingannya dengan beban yang suamiku tanggung. Itu pendapatku pribadi.

Sekarang, sudah lima tahun sejak kejadian itu. Anak yang terlahir dari Pram dan aku diadopsi oleh temanku yang kebetulan tidak bisa memiliki keturunan. Sepertinya, anak itu pun tumbuh dengan sehat dan bahagia di keluarga temanku itu. Syukurlah. Ketahuilah nak, bahwa ayah tirimu, yaitu suamiku, itu adalah orang yang hebat, dialah satu-satunya orang yang membelamu. Hiduplah bahagia, karena kamu lahir ke dunia ini tanpa dosa. Jangan khawatir, seperti kata ayah tirimu, engkau bukanlah anak haram karena engkau tidak pantas menanggung status dan dosa yang diakibatkan oleh ibu biologismu ini.

Anakku yang perempuan sudah berumur 11 tahun, sudah duduk di bangku SD kelas 5. Adapun anakku yang laki-laki sudah berumur 7 tahun, sudah duduk di bangku SD kelas 1. Mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan juga sehat. Mereka pun sangat menyanyangi aku dan suamiku, begitu juga aku dan suamiku pun demikian terhadap mereka. Sampai sekarang, mereka tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi antara ayah dan ibunya. Suamiku dulu memberitahuku bahwa kami dilarang keras menyinggung hal pahit itu didepan anak-anak kami. Akan tetapi, maaf suamiku. Kelak jika mereka sudah besar nanti, akan kuberitahu mereka apa yang sebetulnya terjadi. Aku harap mereka bisa menggantikan tugasku untuk menemanimu sampai akhir hayat. Mereka pun harus tahu bahwa engkaulah orang tua yang begitu hebat, yang jauh lebih hebat melebihiku. Anak-anakku, aku yakin dengan adanya ayah kalian yang begitu hebat, kalian akan tumbuh menjadi anak yang hebat.

Suamiku sampai sekarang pun masih terpukul. Kalau sudah malam dan anak-anakku sudah tidur, ia tidak lagi menjadi suami yang baik dan penyayang. Meskipun begitu, ia juga tidak pernah kasar terhadapku. Ia pun juga tetap menafkahi keluarga yang telah kusia-siakan ini. Jika melihat suamiku yang terpukul itu, jujur hatiku sangat tersayat-sayat. Seharusnya, dalam situasi seperti ini, akulah yang harusnya membantunya keluar dari keterpurukan. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku yang menyebabkan semua penderitaan yang ada dihatinya, malah makin memperlebar luka di hatinya. Aku tahu sebetulnya suamiku sangat ingin pergi meninggalkanku. Akan tetapi, demi anak-anak dia tidak melakukannya. Aku, yang terbuai pada nafsu dan perasaan yang tidak bisa kukendalikan ini, tidak pernah memikirkan nasib anak-anak, hingga akhirnya suamiku yang harus sakit hati demi menanggung luka yang kusebabkan. Maaf suamiku, saat kamu seperti ini, aku hanya bisa berdiam diri. Aku hanya bisa mendoakan semoga suatu saat nanti, kamu menemukan kebahagiaanmu yang sejati. Tidak seperti diriku, engkau adalah orang tua yang begitu hebat bagi anak-anakmu. Engkau adalah seorang suami yang begitu hebat bagi istrimu. Dan engkau adalah seorang majikan yang begitu hebat bagi para asisten rumah tanggamu. Engkau pantas bahagia, suatu saat nanti, aku berjanji bahwa aku akan mengantarkanmu ke gerbang kebahagiaan yang murni.

Aku sendiri? Ya, beginilah aku. Disaat aku tidak kehilangan orang yang paling kucintai, tapi sebetulnya aku telah kehilangan dia. Aku memang tidak kehilangan anak-anakku. Akan tetapi saat melihat wajah mereka yang begitu polos dan suci, aku merasa sangat malu terhadap diriku yang sangat hina ini. Aku yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga ini, malah menjadi aib terbesarnya. Semua karena kesalahanku sendiri. Cinta… Memang bukan suatu hal kecil yang sepele. Kita mengira bahwa kita selama ini berada dalam kedok kesetiaan, bisa mengendalikan cinta. Akan tetapi aku baru tahu bahwa itu salah. Integritas lah yang mempertahankan cinta kita. Karena aku mengenakan jubah yang salah dan begitu sombong akan hal itu, maka aku diberikan godaan yang tidak tertahankan dan jatuh ke dalamnya. Ya, hal yang biasa kita sebut dengan kesetiaan, bukanlah hal yang perlu kita sombongkan. Berbahagialah jika engkau diberikan kesetiaan… bukan, integritas… yang tinggi. Berbahagialah jika engkau diberikan sesuatu yang baik, dan pertahankanlah hal itu dengan sekuat tenagamu. Terakhir, berhati-hatilah, karena sekuat apapun integritas kita, kita tetaplah makhluk lemah yang membutuhkan cinta dan seks.

TAMAT

Daftar Part