. Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan | Kisah Malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 3

0
460
kisah malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 3

Klimaks

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Ada yang berubah. Sejak hari itu, Pram tidak pernah bicara kepadaku. Aku pun juga tidak pernah bicara kepadanya. Biasanya kami saling mengobrol dan diskusi dalam banyak hal, terutama cinta. Sekarang kok rasanya hidupku hambar ya? Mungkinkah karena disini aku merasa seperti kesepian karena tidak ada keluargaku, sehingga mengandalkan Pram untuk menjadi teman curhatku? Ataukah memang cinta kepada Pram mulai bertumbuh di hatiku? Entahlah, aku juga tidak mau ambil pusing.

TUUTT… TUUTT… Ada SMS masuk di HP-ku. Sudah malam jam sepuluh begini, siapa ya? Ah, mungkin dari suamiku. Aku segera membuka SMS di HP-ku.

“Hai, sayang. Lagi apa?” SMS dari Pram.

Ah, akhirnya dia SMS juga. Haduuh, pake sayang-sayangan segala pula. Dasar.

“Hai, cinta. Lagi tiduran aja di kamar. Kamu?” Balasku.

Eh, gawat. Mengapa aku tanpa sadar membalas SMS-nya menggunakan panggilan cinta? Sungguh, ini diluar kehendakku. Tok… Tok… Tok… Ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku segera membukakan pintu kamarku. Ternyata Pram. Waduh, kenapa Pram datang kesini? Seorang pria tampan, bertubuh besar, dan berkulit coklat yang ada dihadapanku ini adalah seorang yang sudah memenuhi sebagian hatiku sekarang. Hatiku sungguh berdebar-debar hanya dengan berdiri di hadapannya.

“Eeh… P… Pram… Ngapain… kamu kesini?” Tanyaku dengan terbata-bata.

“Hmmm. Kangen. Udah seminggu sih kita ga ngobrol.” Kata Pram dengan datar.

Deegg… Hatiku begitu berdebar-debar mendengar kata kangen dari Pram. Tidak hanya berdebar-debar, aku juga bisa merasakan perasaan senang yang mengamuk dihatiku, dan aku tidak bisa mengontrolnya.

“Ngopi yuk.” Kata Pram.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, itupun aku merasa diluar kesadaranku. Tidak salah lagi, gejala ini… memang cinta sudah mulai menguasai diriku. Gawat, entah kenapa pikiran dan tubuhku tidak mendengarkan perintahku. Aku keluar bersama Pram menuju kafe tempat biasa kami ngopi bareng. Pram pun menggandeng tanganku. Lagi-lagi perasaan berdebar-debar kembali berdegup di jantungku. Aku pun juga tidak kuasa menolak gandengan tangan dari Pram. Kami terus bergandengan tangan sampai cafe.

Kebetulan cafe yang kami datangi itu buka 24 jam, sehingga walau jam 22.30 begini pun masih buka. Cafe ini tidak ramai, mungkin karena ini hari Senin, dan besok hari Selasa yang adalah hari kerja. Pram segera memesankan capuccino untukku, sedangkan dia memesan espresso.

“Espresso melulu. Nggak bosen apa?” Tanyaku.

“Lah, kamu sendiri capuccino melulu.” Kata Pram.

“Kan kamu yang pesenin.” Kataku.

“Habis kamu cuma suka capuccino. Mana mungkin aku lupa tentang minuman favorit orang yang kusayangi.” Kata Pram.

Aih, gombal teruusss… Tapi harus kuakui, dari dulu sampai sekarang, pemilihan kata yang digunakan oleh gombalannya itu tidak pernah salah. Tidak pernah sekalipun jantungku tidak berdebar-debar mendengarkan gombalannya. Singkat kata, kami terus mengobrol. Obrolan kami hanya sebatas obrolan ringan saja. Pram selalu menyisipkan kata-kata gombalan di obrolan kami setiap ada kesempatan. Lama-lama, aku pun jadi terbiasa dengan gombalannya. Yah, entah terbiasa, atau aku sudah mulai terjerat dengan cinta akibat digombali terus menerus.

“Emang kamu yakin Pram cinta sama aku? Kamu kan udah punya istri.” Kataku.

“Yakin kok.” Kata Pram.

“Dasar, nggak setia kamu.” Kataku.

“Tapi, kalo aku menyangkal diriku sendiri, artinya aku ga setia sama rasa cintaku kepada kamu dong? Dengan demikian, sama aja ga setia.” Kata Pram.

“Beda lah.” Kataku.

“Aku juga baru nyadar sih belakangan ini, say. Kita itu setia pada cinta kita, bukan pada pasangan hidup kita. Mengapa terlihat seperti seolah-olah kita setia pada pasangan hidup kita? Karena kita setia pada cinta terhadap pasangan, bukan kepada pasangan. Dalam hal ini, aku tidak menyangkal rasa cintaku kepada kamu. Tetap saja aku setia pada rasa cintaku. Masalah dengan pasangan hidup kita, sebuah integritaslah yang kita pertahankan, yaitu integritas kepada diri kita sendiri untuk tidak menyakiti perasaan pasangan hidup kita. Jadi, aku ga akan bilang bahwa aku ga setia, tapi ga berintegritas.” Kata Pram.

Hahaha. Pernyataan yang sangat aneh dari seorang profesor cinta. Memang profesor itu aneh semua. Tapi, memang ada benarnya juga sih kuakui. Yang ini, adalah sesuatu yang baru dan kuakui benar.

“Gimana dengan kamu? Apakah kamu setia?” Tanya Pram.

“Setia lah, Pram.” Kataku.

“Berarti, kamu mengakui juga bahwa kamu mencintai aku?” Tanya Pram.

“Heeh, siapa yang bilang?” Tanyaku.

“Aku ga minta kamu jawab sih. Aku minta kamu merenungkan.” Kata Pram.

Ah, pernyataan paling menyebalkan. Memang, dengan merenungkan dengan diri kita sendiri, kita jadi sulit untuk berbohong karena kita mengetahui seluk beluk isi hati kita, entah kita mengakui kebenarannya atau tidak. Dalam hal ini, aku sendiri pun juga mengakui bahwa aku telah mencintai Pram. Dan betul selama ini aku menyangkalnya. Dengan demikian, memang aku telah tidak setia pada perasaan cintaku kepadanya. Aku yang selama ini mengaku setia, ternyata tidak juga. Aku tidak setia terhadap cintaku kepada Pram, terlebih itu juga aku tidak memiliki integritas terhadap diriku sendiri untuk tidak menyakiti suamiku. Walaupun ujung-ujungnya aku menyangkal perasaan cintaku kepada Pram, tetap saja aku telah menodai sumpah pernikahan yang aku dan suamiku ucapkan, karena kondisiku sekarang ini sudah bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan. Walau tidak berselingkuh secara berat, tapi yang namanya berselingkuh yah tetap saja berselingkuh. Inikah yang dimaksud dengan perkataan Reza tempo hari dulu?

“Udah yuk.” Kata Pram sambil berdiri dari kursinya.

“Eh, tunggu. Bentar, aku bayar dulu.” Kataku.

“Halo, sayang. Kemana aja kamu? Aku udah bayar tadi barusan.” Kata Pram.

“Eh? Udah ya? Sorry-sorry, kayanya aku bengong.” Kataku.

“Hmmm, mikirin aku ya?” Tanya Pram.

“Ih, mao tau aja.” Kataku.

“Berarti bener hehehe.” Kata Pram.

Aku tidak berkata apa-apa. Kemudian, kami berdua kembali ke hotel. Dalam beberapa menit saja, kami sudah sampai di lobby hotel. Tangan kami pun masih bergandengan.

“Sayang, aku punya kejutan nih buat kamu.” Kata Pram.

“Apa tuh?” Tanyaku.

“Ada deh. Mata kamu aku tutup dulu ya, say.” Kata Pram.

“Halah, klise. Abis mataku ditutup, terus kamu mao nyium bibirku ya?” Tanyaku.

“Ah, itu mah terlalu klise. Mana mungkin.” Kata Pram.

“Emang kamu nggak tertarik mencium bibirku. Aku jago berciuman, lho.” Godaku.

Pram tampak menelan ludahnya.

“Ah, ga. Pokoknya ga kok. Udah, nih aku tutup mata kamu pake kain ya.” Kata Pram sambil mengeluarkan kain dari kantong celananya.

Aku tidak menolaknya dan membiarkan Pram menutup mataku dengan kain. Kemudian, Pram menuntunku berjalan karena sekarang aku tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian, kami berhenti. Setelah itu, terdengar suara lift.

“Pram, aku mao dibawa kemana?” Tanyaku.

“Bukan kejutan dong kalo dikasihtau.” Kata Pram.

Kemudian, aku mendengar pintu lift terbuka. Kemudian, Pram menuntunku masuk. Kemudian, pintu lift pun tertutup. Setelah itu, pintu lift pun terbuka kembali. Kemudian, Pram kembali menuntunku berjalan. Aku betul-betul tidak tahu sekarang ada dimana, selain daripada bahwa kami masih berada di hotel.

“Tunggu sini sebentar.” Kata Pram.

“Jangan lama-lama.” Kataku.

“Ga sampe dua puluh detik.” Kata Pram.

Kemudian, aku merasakan Pram menjauhiku. Betul saja, tidak sampai dua puluh detik, ia sudah kembali menggenggam pergelangan tanganku dan menuntunku kembali. Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya kami berhenti disuatu tempat. Kemudian, tiba-tiba kain yang ada dimataku terbuka. Kini, aku berada disebuah kamar hotel, kamar yang sama dengan kamarku, tetapi aku tahu bukan kamarku. Dihadapanku, adalah puluhan lampu kecil yang disusun sedemikian rupa dan menyala dengan indahnya secara berganti-gantian. Oh, bukan main indahnya. Kemudian, lampu-lampu kecil itu mulai mati satu demi satu hingga akhirnya kamar ini pun gelap. Tetapi, kemudian ada satu lampu berwarna-warni yang terang yang tiba-tiba menyala, dan bertuliskan

“HAPPY BIRTHDAY, SAYANG”

“Happy birthday, sayang.” Kata Pram yang kemudian tiba-tiba berdiri dihadapanku.

Ya ampun, aku baru sadar bahwa hari ini hari ulang tahunku. Saking aku terlalu banyak pikiran karena masalah Pram, aku sampai-sampai lupa tanggal. Akan tetapi, ini betul-betul kejutan pertama yang kudapat di hari ulang tahunku di tahun ini. Tidak kusangka, aku akan mendapatkan kejutan seindah ini dari orang yang mulai mengisi hatiku selama aku training di Jakarta. Tanpa sadar, aku mulai tersenyum karena kagum oleh kejutan yang indah ini.

“Nah, sekarang aku mao kasih hadiah.” Kata Pram.

“Eh, masih ada lagi?” Tanyaku.

“Aku sumpah bingung banget mao beliin apa buat kamu. Tapi setelah aku mikir-mikir, akhirnya aku tahu mao ngasih apa. Harganya sih ga seberapa, tapi ini betul-betul tulus dari hatiku.” Kata Pram.

Kemudian, Pram menarik tanganku sehingga kini aku berada dalam pelukannya. Ohh, baru kali ini aku merasakan pelukan laki-laki lain selain suamiku. Begitu hangat dan kokoh rasanya. Kemudian, ia mengangkat daguku sehingga kini aku menatap wajahnya. Kemudian, Pram menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Oh, tidak. Aku tahu bahwa ia hendak mencium bibirku. Aku tahu, jika aku menerimanya, berarti aku sudah semakin jatuh lagi ke dalam perselingkuhan yang lebih dalam. Akan tetapi, perasaan senang yang kudapat ini betul-betul membuat cintaku semakin berbunga. Perasaan cintaku yang semakin berbunga ini betul-betul membuyarkan akal sehatku. Dan akhirnya, aku pun pasrah dan menutup mataku, bersiap untuk menerima ciumannya.

Tidak lama kemudian, aku merasakan adanya benda kenyal yang menempel di bibirku. Kemudian, benda kenyal itu pun mulai melumat bibirku. Rasanya begitu hangat, kuat, lembut, dan pasti. Aku pun terhanyut dalam gelora cinta yang mengombang-ambingkan diriku. Aku pun membalas melumat bibirnya dengan lembut. Aku bisa merasakan bahwa kami berdua sedang terombang-ambing oleh gelora cinta. Saling melumat, dimulai dengan bibir Pram melumat bibirku dengan dua lumatan, kemudian aku balas melumat bibirnya dengan satu lumatan saat ia berhenti. Dan entah setelah berapa lama kami saling melumat bibir masing-masing, kami saling melepaskan diri dari lumatan bibir masing-masing. Kemudian, kami saling menatap wajah masing-masing.

“Matamu indah sekali, sayang.” Kata Pram.

“Ternyata kamu jago berciuman, cinta.” Kataku.

“Ternyata kamu ga bohong kalo kamu jago berciuman.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aku pun hanya tersenyum mendengar pernyataannya. Kemudian, Pram menggandeng tanganku, dan mendudukkan aku di tepi kasur. Ia pun kemudian duduk disampingku.

“Gimana kadonya? Suka?” Tanya Pram.

“Hmmmm…” Kataku sambil pura-pura bingung.

“Hmmmm…” Kata Pram sambil mengikutiku.

“Suka nggak yaa?” Kataku.

“Yaudah, aku rubah pertanyaannya. Mao lagi ga kadonya?” Tanya Pram.

Jujur, jika aku boleh jujur, aku akan menjawab bahwa aku mau lagi. Ya, sebagian besar perasaanku sudah mengiyakan itu. Akan tetapi, mungkin sebagian kecil perasaanku yang menyatakan bahwa ini salah masih tersisa. Akibatnya, aku hanya menggerak-gerakan bola mataku, tetapi sambil tersenyum.

“Kalo mao lagi, hadap sini dong.” Kata Pram.

“Ih, masa aku yang disuruh madep situ.” Kataku.

“Oh, jadi mao lagi toh. Yaudah.” Kata Pram sambil kemudian merangkul pundak kiriku, dan menghadapkan tubuhku kearah tubuhnya.

Sekarang, kami sudah berhadap-hadapan. Kini, ia kembali memajukan wajahnya kearah wajahku. Cleepp… Kali ini pun bibirnya berhasil melumat bibirku kembali tanpa miss sedikitpun. Aku pun juga balas melumat bibirnya, kali ini sedikit lebih intens dari yang pertama. Tidak hanya melumat bibirku, lidah Pram pun mulai ikut masuk dan menggelitik rongga mulutku. Oohh, aku bisa merasakan kelembutan dari lidah Pram yang bermain-main dalam mulutku. Lidahku pun terkadang ikut menyambutnya, sehingga kadang bertabrakan dengan lidah Pram. Aku memejamkan mataku karena tidak kuasa menahan seluruh gelora cinta yang mengombang-ambingkan perasaanku. Sesekali aku membuka mataku, dan terlihat wajah Pram yang begitu tampan. Ia betul-betul jadi orang yang paling tampan bagiku, paling tidak aku merasa demikian pada malam ini.

Kemudian, Pram pun melepaskan bibirku. Akan tetapi, ciumannya tidak berhenti sampai disitu karena ia kini mulai menciumi pipi dan telingaku. Sambil menciumi telingaku, ia pun menghembuskan napas ke lubang telingaku.

“Aku cinta kamu, sayang.” Bisiknya sambil menghembuskan napasnya ke telingaku.

“Ssshhhh… Aku juga cinta kamu, cinta.” Desisku karena hembusan napas Pram seolah-olah menjalar keseluruh tubuhku melalui telingaku, membuatku seluruh tubuhku merasa bergetar karena geli.

Kemudian, Pram juga mulai mencium keningku dengan lembut.

“Kamu begitu indah malam ini, sayang.” Kata Pram sambil mencium keningku sekali lagi.

Oohh, pujian Pram betul-betul membuat cinta dalam hatiku ini semakin berbunga-bunga. Hatiku betul-betul sudah jatuh ke dalam pelukan cinta Pram. Secara lembut namun pasti, Pram merangkul tubuhku hingga kini tubuhku tertidur di tempat tidur dalam posisi miring. Pram pun juga ikut berbaring secara miring, sehingga tubuh kami sekarang saling berhadapan.

Pram kini kembali memajukan wajahnya ke wajahku, dan bibir kami kembali berciuman dengan lembut dan mesra. Saling melumat… cllpp… cllppp… cllpp… Begitulah suara bibir kami yang terdengar. Tangan kanan Pram pun mulai membelai rambutku dengan halus.

“Rambut ini juga sangat indah. Cocok sekali dengan wajahmu yang indah.” Kata Pram.

“Gombal atau serius?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Gombal atau serius tidak penting, yang penting memang itu kenyataannya.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aku tidak berkata apa-apa lagi, melainkan hanya menutup mataku dan tersenyum, sementara ia kembali mengusap-usap rambutku dan mencium bibirku dengan lembut. Tidak lama kemudian, ciumannya pun berkelana menuruni daguku, hingga sampai leherku. Oohh, perasaan yang bergelora dalam tubuhku semakin mengamuk ketika bibir dan lidah Pram mulai berjalan-jalan dileherku. Aku tidak tahu apakah ini cinta atau nafsu. Emosinya positif seperti cinta, rasanya nikmat seperti nafsu. Mungkin kedua perasaan itu sudah bersatu dan melahirkan suatu perasaan baru yang sedang mengamuk dalam diriku.

Pram terus menjilati leherku dengan lembut. Permainannya sungguh lembut, membuat diriku semakin rileks dan tenang. Ketika perasaanku benar-benar rileks dan tenang, tiba-tiba aku merasakan kedua tangan Pram sudah menggenggam kedua buah dadaku. Aku betul-betul kaget dan terkejut. Selain itu, jantungku betul-betul berdegup dengan kencang karena ini pertama kalinya ada laki-laki yang menggenggam buah dadaku selain suamiku. Kemudian, Pram memijat-mijat dua buah dadaku. Berputar-putar… searah jarum jam… dari bawah naik keatas… berputar dengan arah yang berlawanan… Semua itu dilakukannya dengan lembut. Aku tidak percaya dalam waktu sesempit itu, pijatannya di buah dadaku berhasil membuatku rileks dan tenang kembali.

“Maaf, aku lancang.” Kata Pram sambil tetap memijat buah dadaku.

“Memang kamu lancang.” Kataku sambil tersenyum.

“Susah, sayang. Habisnya aku sangat ingin mengungkapkan cintaku padamu.” Kata Pram sambil tetap memijat-mijat buah dadaku.

“Memangnya harus seperti ini?” Tanyaku.

“Tidak harus seperti ini, tetapi ini salah satu caranya.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Heh, dasar.” Kataku sambil tersenyum.

“Boleh lihat?” Tanya Pram sambil tersenyum.

“Lihat apa?” Tanyaku.

“Tentu saja kedua pusaka gunung kembarmu itu.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aish, suatu pertanyaan yang sangat tidak sopan, tetapi jauh lebih sopan dari orang-orang kurang ajar yang biasanya akan langsung menelanjangi bajuku tanpa pamit terlebih dahulu. Normalnya, tentu saja aku akan menolaknya. Akan tetapi, entah kenapa ada keinginan yang kuat untuk mempertontonkan kedua pusakaku yang kututupi ini kepada Pram. Perasaan ini, sangat mirip dengan perasaan yang kumiliki saat malam pertama dengan suamiku, saat pertama kalinya aku ingin memperlihatkan buah dadaku kepada seorang laki-laki. Oohh, apakah tandanya aku betul-betul jatuh cinta kepada Pram?

“Lihat saja?” Tanyaku.

Pram hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian, aku mengangguk tanda memberinya izin untuk melihatnya. Tanpa membuang waktu sebelum aku berubah pikiran, Pram langsung melepaskan kancing kemeja merahku dengan cepat dan cekatan. Cekatan sekali, dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh kancing kemejaku sudah terlepas semuanya. Ia pun langsung melepaskan kemejaku dari tubuhku dan meletakannya di lantai. Tanpa membuang-buang waktu juga, ia langsung menelusupkan tangannya kebalik punggungku untuk mencari tali pengait BH pink-ku. Saat sudah menemukannya, ia langsung melepasnya dengan cekatan, dan kemudian juga ia menyingkirkan BH pink yang kukenakan itu dari tubuhku.

Kini, dihadapan Pram buah dadaku terpampang tanpa dilindungi sehelai benang pun. Pram pun tampak berusaha menyembunyikan keterpesonaannya dengan berusaha tetap tenang. Akan tetapi, napas dan pergerakan tubuhnya tidak bisa ia kendalikan sepertinya. Aku merasa sangat bangga bisa membuat Pram terpesona seperti itu.

“Indah sekali, sayang.” Kata Pram.

“Tentu saja.” Kataku dengan senyum menggoda.

“Berapa ukurannya, sayang?” Tanya Pram.

Haduuh, orang ini kelewat polos ato kelewat kurang ajar sih. Sudah dua kali ia melempar pertanyaan yang betul-betul tidak sopan. Akan tetapi walaupun begitu, entah kenapa aku tidak tersinggung sama sekali. Malah, ada keinginan kuat dalam diriku untuk menjawab pertanyaan Pram yang polos itu.

“34C…” Kataku singkat.

“Oh, begitu. Betul-betul indah sekali, sayang.” Kata Pram tanpa mengalihkan pandangannya dari dua bukit kembar yang menggoda dihadapannya.

Kemudian, Pram langsung membungkukkan badannya, dan bibirnnya langsung menyambar puting susu buah dada kananku yang berwarna coklat, sementara tangan kanannya langsung meremas-remas buah dada kiriku dan juga memuntir-muntir puting susu buah dadaku.

“Ma.. maaf sayangg… aku tidak bisa menahannya… buah dada milikmu… sungguh bulaat dan… indaahh…” Kata Pram dengan nada terputus-putus.

Ooohhh, pujian dan rangsangan yang Pram berikan betul-betul membuat rasa geli dan nikmat menjalar dengan mulusnya ke seluruh tubuhku. Aku betul-betul menggeliat saking tidak kuatnya menahan kenikmatan dan geli ini. Praam… katamu hanya lihat saja, tetapi mengapa kamu melakukan ini?? Itulah pertanyaan yang hendak keluar dari hati nuraniku. Akan tetapi, sebagian besar hatiku sudah dibakar oleh kenikmatan yang Pram berikan ini. Bibir dan lidahnya yang begitu hangat betul-betul menggesek puting susu buah dada kananku, sementara tangannya yang kokoh terus bermain-main di buah dada kiriku. Terasa sekali bagaimana kenikmatan birahi ini mulai lambat laun membakar hati nuraniku.

“Hhhhh…. Prr… Praaammm…” Desahku.

Pram terus melanjutkan mengulum dan meremas-remas buah dadaku dengan napas yang mulai memburu. Kendati demikian, kelembutannya dalam memperlakukan buah dadaku tidak juga hilang. Rasa rileks dan tenang akibat kelembutan permainannya, bercampur dengan rasa nikmat yang kudapatkan dari rangsangannya. Perasaan ini betul-betul menagih, aku sampai tidak kuat dibikinnya.

Kemudian tanpa kuduga, Pram melepaskan kedua buah dadaku. Akan tetapi, dengan cepat ia langsung menarik celana dan celana dalamku dalam sekali tarikan. Kini di hadapannya, aku betul-betul telanjang. Bukan hanya dua buah dadaku yang terekspos di hadapannya, tetapi juga rambut-rambut daerah vitalku yang cukup tebal, yang mengelilingi gua kewanitaan tempat batang kejantanan laki-laki bertengger.

Kali ini, ia tidak punya waktu untuk mengagumi keindahan tubuhku. Ia kembali melumat buah dadaku, kali ini buah dadaku yang kiri. Semua itu dilakukan, sementara tangan kanannya meremas-remas buah dada kananku, dan tangan kirinya mulai mengelus-elus paha dan selangkanganku. Aku tahu bahwa Pram betul-betul sudah dibakar oleh nafsu birahi. Kelembutan permainannya yang menjadi kekhasan dirinya masih bisa kurasakan, tetapi gerakannya menjadi sedikit lebih cepat, tanda bahwa nafsu birahi sudah mulai menguasai dirinya.

“Oooohhh… Praaammmm… cintaaaa….” Desahku yang juga mulai dikuasai oleh nafsu birahi.

Kemudian, Pram melepaskanku dan berdiri dihadapanku. Kemudian, ia mulai membuka pakaiannya satu per satu, dari baju hingga celananya. Sekarang, Pram pun sama denganku, telanjang tanpa dilindungi oleh sehelai benang pun. Aku betul-betul terpesona dengan apa yang ada dihadapanku ini, sampai-sampai mulutku menganga sedikit saking kagumnya dengan tubuh Pram yang telanjang itu. Seluruh otot-otot tangan, bahu, dadanya terbentuk dengan sempurna. Perutnya pun sangat bidang, dengan memperlihatkan otot six-packnya yang tertata rapi. Paha dan kakinya pun terlihat kokoh. Dan terakhir yang paling menggoda adalah… batang kejantanan panjang, besar, dan kokoh yang sudah mengacung dengan sempurna dengan dilindungi oleh rambut-rambut yang cukup tebal. Jika kulakukan dengan presisiku sendiri, kira-kira batang penisnya sepanjang 17cm dan berdiameter 5cm. Sungguh aku tidak kuasa menahan diri melihat pemandangan yang mempesona ini.

“Kenapa sayaang?” Goda Pram.

“Eh… Ti… tidak apa-apa…” Kataku dengan terbata-bata.

“Kagum?” Goda Pram kembali.

“Yaa… emang bagus sih badan kamu… Mungkin semua wanita akan kagum…” Kataku sambil berdalih.

“Aku tidak butuh dikagumi oleh semua wanita. Malam ini, aku hanya butuh kamu yang kagum, yang lainnya tidak penting.” Kata Pram.

Glek. Aku menelan ludah. Memang tidak bisa dipungkiri kalau aku betul mengagumi tubuhnya yang sangat bagus itu. Ditambah dengan pujiannya, jujur saja aku merasa terbang ke langit karena aku begitu disanjung, aku begitu dianggap tinggi olehnya. Kemudian, Pram mulai merangkak dan menjatuhkan tubuhnya pelan-pelan keatas tubuhku sehingga kini ia menindihku. Ooohhh, aku merasakan tubuhnya yang kekar itu bersentuhan dengan tubuhku. Dadaku menempel dengan dada bidangnya, perutku pun juga menempel dengan perutnya, dan pahaku pun persis menopang paha Pram yang berada diatas pahaku. Sungguh hangat dan kokoh. Aku merasakan rangsangan tersendiri yang membuat jantungku semakin berdegup dengan cepat.

Dalam posisi itu, Pram menciumi bibirku dengan sangat lembut. Telapak tangan kanannya menggenggam telapak tangan kiriku, sementara tangan kirinya memeluk leherku. Aku pun juga membalas ciumannya yang lembut itu. Batang penisnya yang keras dan kokoh itu pun sekarang mengganjal di selangkanganku. Oohh, sensasi yang kudapatkan ini tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Aku betul-betul sudah terombang-ambing dalam gabungan perasaan cinta dan nafsu birahi.

Aku merasa tubuhku sangat panas akibat degupan jantung yang sangat kencang itu. Lama-kelamaan, bulir-bulir keringat pun mulai mengalir dari keningku, dan mengalir terus sampai ke pipinya. Aku juga merasakan bulir-bulir keringat mengalir dari leher Pram, dan terus mengalir sampai ke dadaku. Tidak butuh waktu terlalu lama, sampai akhirnya tubuh kami dibasahi oleh keringat, dimana keringat di tubuh kami ini merupakan keringat campuran dari keringat kita sendiri dan keringat lawan kita. Bibir kami pun masih terus berpagutan dengan lembutnya.

Tidak lama kemudian, Pram pun melepaskan ciumannya. Kali ini ia menatap wajahku dengan serius. Aku pun berusaha mengatur napasku yang terengah-engah.

“Sayang… Sekarang sudah saatnya aku mengungkapkan cintaku yang paling dalam kepadamu. Maukah kamu menerimanya dan melancarkan jalan masuknya cintaku kedalam tubuhmu?” Tanya Pram dengan napas terengah-engah.

Haaah, sampai akhirpun masih tetap polos ya… atau mungkin sopan? Percuma saja, aku yang sudah dibakar oleh nafsu cinta dan birahi ini, tentu saja tidak kuasa menolaknya. Tubuhku betul-betul menginginkan cinta dari Pram yang paling dalam. Akhirnya, aku yang sudah tidak bisa mengendalikan pikiranku, mulai membuka pahaku sekitar 45 derajat, sehingga selankangan Pram berada dibawah selangkanganku.

Pram pun mulai menggunakan tangan kanannya untuk mengarahkan batang kejantanannya menuju lubang gua kewanitaanku. Aku melihat Pram mulai memajukan pantatnya sehingga jarak antara batang kejantanan dan lubang kemaluanku. Aku betul-betul berdebar-debar dengan hebat. Perasaanku bercampur baur antara kepingin, ngeri, dan takut.

Sepertinya, Pram menyadari kegundahanku. Kemudian, ia mencium pipiku, sambil kemudian memijat-mijat dua buah dadaku.

“Santai, sayang. Tidak akan terasa sakit, cintaku ini betul-betul murni kepadamu, tidak mungkin cintaku menyakitimu, sayang.” Kata Pram dengan lembut sambil memijat-mijat dua buah dadaku.

Pikiranku segera memproses kata-katanya yang lembut dan rangsangan pijatan di buah dadaku. Semuanya terjadi begitu cepat, sehingga rasa takut yang kudapat itu dalam sekejap berubah menjadi rasa rileks dan tenang. Aahh, aku betul-betul tenang sekali sekarang. Aku merasa bahwa lubang kemaluanku sudah siap untuk menjadi pusat persinggahan batang kejantanan Pram. Kemudian, aku mengangkat punggungku untuk mencium bibirnya, dan juga melepaskan tangan Pram dari buah dadaku.

“Cinta, aku sudah siap… aku siap menerima cintamu yang dalam itu… Lakukanlah.” Kataku sambil tersenyum.

Aku tidak percaya bahwa aku sudah mengatakan hal itu. Ya, pertahananku yang terakhir sudah berhasil ditembus oleh Pram. Aku tidak percaya bahwa Pram berhasil menaklukan pertahananku dengan caranya yang begitu lembut. Aku pun menelentangkan badanku diatas ranjang dan menutup mataku. Aku bisa merasakan bahwa Pram sedang mengatur posisinya. Tidak sampai empat detik, aku sudah merasakan kepala batang penis Pram yang sudah menempel dengan bibir lubang vaginaku.

“Aku cinta kamu, Sofie sayangku.” Kata Pram.

“Aku juga cintaa kamu, Pram cintaku.” Kataku.

Kemudian, batang kejantanan Pram yang begitu kokoh menerobos masuk kedalam lubang kemaluanku. Bless… Ooohh, sangat terasa sekali batang penis Pram yang berotot dan keras itu menggesek seluruh dinding lubang vaginaku.

“Ooohhh… Aku merasakan cintamuu… Pram cintakuu…” Desahku.

“Beluum sayaangg.. Cintaku barulah mendekati sempurna ketika batang kejantananku sudah masuk, dan rambut kemaluan kita saling bertemu…” Desah Pram sambil terus mendorong-dorong pantatnya.

Karena kekuatan dorongan pantat Pram, akhirnya batang kejantanan yang besar dan kokoh itu masuk sepenuhnya kedalam lubang kemaluanku. Rambut kemaluan kami pun saling bergesekan, membuat rasa geli dan nikmat mengalir ke seluruh tubuhku ketika rambut kemaluan Pram bersentuhan dengan kulit dan akar rambut kemaluanku. Kemudian, Pram mulai memaju-mundurkan pantatnya dengan perlahan. Aku pun juga mengimbangi hujaman batang penis Pram dengan menggoyang-goyang pantatku. Ketika batang kejantanan Pram maju, aku mendorong pantatku, sehingga menciptakan bunyi PLOOKK karena selangkangan kami bertabrakan.

Semakin lama, irama genjotan Pram pun semakin cepat. Aku semakin merasa nikmat merasakan gesekan otot batang kejantanan Pram dengan dinding lubang vaginaku.

“Ooohhh… Teruuusss Praaammmm…. Teruussss…” Erangku karena tidak kuat menahan kenikmatan yang membakar tubuhku.

Sungguh, ini betul-betul kenikmatan yang tidak ada duanya. Bukan hanya nafsu birahi yang kurasakan saat ini, tetapi juga perasaan cintaku kepada Pram yang menyatu dengan nafsu birahiku. Dan karena tubuh kami sudah bersatu, aku merasakan seolah-olah cinta Pram padaku juga ikut mengalir kedalam tubuhku, dan mengamuk bersama dengan perasaan yang sedang mengombang-ambing tubuhku. Cleepp.. cleepp… ceplookk… plookk… plookkk… Sambil menggoyangkan pantatku, aku juga mengintip kearah sumber kenikmatan yang sedang bergelora dalam tubuhku. Ooohh, aku tidak percaya bahwa sekarang lubang vaginaku sedang digodok oleh penis berukuran jumbo begitu, dan penis itu bukan milik penis suamiku. Ooohhh, makin lama, kesadaranku mulai hilang sepenuhnya.

Setelah kenikmatan bertubi-tubi yang menghajarku, tiba-tiba aku merasakan adanya kenikmatan puncak yang akan segera datang. Maka, tubuhku pun bereaksi dengan menggoyang pantatku semakin cepat dan mencium bibir Pram dengan liar.

“Ooohhh Praammm cintaaakuuu… Akuu sepertiinyaa sudah tidak kuaaatttt….” Erangku.

Mendengar perkataanku, Pram menghentikan laju genjotannya. Ia memasukkan batang penisnya sampai maksimal ke dalam lubang kemaluanku. Kemudian, ia menggesek-gesekkan dengan lembut lubang kemaluanku menggunakan batang penis miliknya yang besar itu.

“Sofiee sayaangg… Biarlah cintaku membawamu kepada kenikmatan yang tinggi… Jangan ditahan-tahan… Nikmatilah cinta yang kuberikan ini…” Kata Pram sambil terus menggesek-gesekan penisnya dengan perlahan.

Ooohhh… Gesekan pangkal penis di lubang kemaluanku, dan juga rambut kemaluan Pram yang dari tadi menggelitiki akar rambut lubang kemaluanku betul-betul membuat kenikmatan yang kudapat itu menanjak tajam. Akhirnya, aku tidak bertahan lama. Seakan-akan tidak terbendung, kenikmatan itu serasa keluar dengan deras dari seluruh tubuhku.

“Guuugggggghhhhhhh…. Oooooooohhhhhhhh….. Auuuuuhhhhhhhhhhh….” Erangku sekencang-kencangnya tidak kuat menahan orgasme yang begitu deras itu.

Aku merasa seluruh tubuhku betul-betul kejang, dan ada denyutan yang sangat kuat di lubang kemaluanku, dimana denyutan itu aku merasakan memijat-mijat batang penis milik Pram yang sedang bertengger dalam lubang vaginaku. Aku betul-betul menikmati kenikmatan klimaks yang kudapatkan itu. Sementara, Pram memeluk tubuhku dengan erat dan menciumi bibirku. Ooohh, perlakuannya yang lembut itu betul-betul membuat puncak kenikmatanku semakin lengkap.

“Ooohhhh…. Auuuhhhhh…” Desahku ketika kenikmatan klimaks itu pun selesai.

Aku tidak menyangka akan mendapatkan klimaks seperti ini. Ini betul-betul orgasme paling hebat yang pernah kudapatkan. Ini adalah orgasme yang kudapatkan akibat dari perasaan cintaku, cinta Pram, dan nafsu birahiku. Betul-betul tidak ada duanya.

Akhirnya setelah kenikmatan puncak itu, seluruh tubuhku melemas dengan sendirinya. Aku pun berusaha mengatur napasku yang ngos-ngosan. Sementara, Pram masih menciumi bibirku dengan lembut. Tubuhnya masih menindih tubuhku, dan batang kejantanannya masih mengacung dengan keras didalam lubang kewanitaanku. Karena ia menciumi bibirku dengan begitu lembut, aku pun membalas menciumi bibirnya dengan lembut juga.

Sambil menciumi bibirku dengan lembut, tangannya pun membelai seluruh tubuhku dengan lembut juga. Mulai dari rambut, turun ke pipi, leher, bahu dan tangan, sampai ke buah dadaku. Di buah dadaku, tangannya terus bermain-main dengan manja. Mengelus… menekannya sedikit… melepaskannya… kembali mengelus… memainkan puting susuku… Ooohh, aku betul-betul merasa nyaman dan sangat dicintai oleh Pram. Tangan kiriku pun mulai memeluk punggungnya dengan erat, sementara tangan kananku mulai mengelus-elus rambutnya.

Kemudian, Pram mencabut batang kejantanannya dari lubang kewanitaanku, dan kemudian ia berguling ke sampingku. Ia pun menarik dan mengguling tubuhku sehingga kini aku berada diatas tubuh Pram. Oohh, bukan main sensasinya. Sekarang ini tubuhku sedang menindih tubuh Pram, atau mungkin lebih tepatnya tubuhku sedang bertumpu pada Pram. Kemudian, ia kembali mencium bibirku dengan lembut. Aku pun juga ikut mencium bibirnya dengan lembut, dan memeluk lehernya. Sungguh, ciuman kami ini sangat lembut dan mesraTidak lama kemudian, Pram pun melepaskan ciumannya.

“Sayang, rasanya daritadi aku terlalu egois, maafkan aku. Itu semua karena kamu begitu indah.” Kata Pram.

“Jadi salahku?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Iya. Kamu sih terlalu indah.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Dasar. Bisa aja kamu. Yaudah, salahku deh.” Kataku sambil mencubit pipinya.

“Sekarang gantian dong, aku juga ingin merasakan dalamnya cintamu.” Kata Pram dengan manja.

Ah dasar lelaki, semua sama saja, kalau sudah di ranjang… manja. Akan tetapi, aku sendiri pun sudah mengebu-ngebu, gantian ingin membuat Pram puas. Ingin sekali aku melayani dan memuaskannya malam ini. Maka, aku melepaskan tindihan tubuhku terhadap tubuhnya dan bergerak mundur. Kini, aku berposisi merangkak dan kepalaku menghadap batang kejantanan Pram yang masih mengacung dengan sempurna itu. Perlahan-lahan, tangan kananku mulai membelai-belai batang kejantanan itu dengan lembut. Ooohh, baru kali ini aku memegangnya dengan tanganku. Meskipun rongga dalam vaginaku sudah merasakannya, tetapi tanganku baru pertama kali memegangnya. Begitu keras, kokoh, dan kuat. Begitu banyak kekuatan yang terkandung didalamnya. Aku menjadi mengerti mengapa batang ini bisa membuatku kejang-kejang orgasme hebat.

Setelah membelai-belainya, aku mulai menggenggamnya dengan lembut dan mulai mengocok-ngocok batang kejantanan itu dengan telaten. Sambil mengocok naik-turun, aku juga memainkan jari-jemariku untuk menggelitiki batang kejantanan yang kokoh itu. Sementara aku melihat, Pram mulai melenguh sambil menutup matanya. Sambil mengocok batang kejantanannya dengan telaten, aku terus melihat matanya yang tertutup itu sampai akhirnya ia membuka matanya. Aku melancarkan senyuman nakal kearahnya, yang juga dibalas dengan senyuman yang dipaksakan akibat ia harus berusaha keras untuk menahan kenikmatan yang kuberikan ini.

“Kenapa, cinta. Ini belum seberapa.” Godaku.

“Belum seberapa? Kalau begitu… gawat…” Kata Pram sambil tersenyum.

Kemudian, aku mulai mengangkat pantatku dan menggoyang-goyangkannya. Kugoyang kekiri… kenanan… kudong kebelakang…kudorong kebelakang… kemudian kuputar-putar. Aku tidak menyangka bahwa aku akan menggodanya sampai seperti ini. Pram pun hanya melongo, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aahh, begitu bangga rasanya diriku bisa membuat Pram sampai ternganga begitu.

Aku merasakan bahwa Pram terkadang hendak memberontak karena tidak kuat menahan sensasi ini. Akan tetapi, aku tidak membiarkannya. Aku terus mengocok-ngocok batang kejantanan itu, sambil mendorong-dorong pantatku kebelakang. Napas Pram pun mulai tidak teratur, matanya mulai ia pejamkan dengan kuat karena menahan kenikmatan ini.

Sementara, aku sendiri mulai terangsang akibat gabungan dari sensasi memegang batang penis Pram yang daritadi masih mengacung dengan kuat, dan melihat Pram yang tidak berdaya mendapatkan serangan ini. Aku mulai merasakan adanya dorongan untuk memberikan kenikmatan lebih kepada Pram, dan juga dorongan untuk merasakan kembali batang cinta Pram itu. Maka, aku menghentikan kocokanku, dan aku kembali merangkak kearah kepalanya hingga kepalaku sudah berhadapan dengan kepalanya. Lalu, aku kembali menciumi bibirnya dengan lembut. Mendapat ciuman yang lembut itu, Pram langsung membalasnya dengan ciuman yang liar.

Sepertinya, nafsu birahinya sudah tidak terbendung lagi. Aku pun segera melepaskan ciumanku, dan langsung berjongkok dihadapannya.

“Gantian, cinta. Sekarang, aku akan membuktikan seberapa cintaku padamu.” Godaku.

Pram tidak menjawab apa-apa, melainkan hanya tersenyum sambil menutup matanya. Kemudian, aku menggenggam batang cinta milik Pram, dan mengarahkannya persis ke lubang kemaluanku. Setelah kurasa sudah pas, aku langsung mendorong pantatku kebawah, sehingga lubang kemaluanku langsung melahap batang penis Pram sepenuhnya. Guoohhh, betul-betul nikmat sekali sensasi yang kudapatkan ketika batang penis Pram kembali bergesekan dengan rongga vaginaku.

“Ooohhh…” Pram pun tampak melenguh saat merasakannya.

Pram pun mulai membuka matanya.

“Tubuhmu itu… seksi sekali, Sofie sayang.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Kok sekarang pake seksi? Nggak indah lagi?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Ga. Kali ini betul-betul seksi.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aku betul-betul tersanjung setinggi langit mendapatkan pujian begitu dari Pram. Maka, aku mulai memutar-mutar pantatku untuk mengocok-ngocok batang penis milik Pram yang masih mengacung dalam lubang vaginaku. Kedua tanganku berusaha mencari tumpuan, akan tetapi kedua tanganku tidak bisa mencapai kasur. Melihat itu, Pram langsung menempelkan kedua tangannya di kedua buah dadaku. Ooohh, aku pun juga memegang kedua pergelangan tangan Pram sebagai tumpuan. Selagi aku memutar-mutar pantatku, tangan Pram pun memijat-mijat kedua buah dadaku. Birahi yang kudapatkan ini betul-betul tidak terbendung. Rasanya terus menyetrum-nyetrum tubuhku dengan begitu derasnya.

Kemudian, Pram mengangkat tubuhnya sehingga kini kepalanya tepat berada dihadapan kedua bukit kembarku. Pram pun langsung mengulum buah dada kananku, sementara tangan kanannya meremas-remas buah dada kiriku. Ooohh, rangsangan yang kudapat ini betul-betul membuyarkan pikiranku. Aku pun mengubah gerakan pantatku menjadi naik-turun dengan cepat. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, hanya ada desahan-desahan yang memenuhi ruangan ini.

“Ooohhhh…. Eeehhhhhh…” Desahku sambil menghujam-hujamkan pantatku untuk memompa batang kejantanan Pram.

“Oooohhhh…. Sooff… Soffiee sayaanggg….” Desah Pram sambil menikmati hujaman lubang kewanitaanku ini.

Aku terus memompa pantatku, hingga akhirnya seluruh kenikmatan yang ada ditubuhku itu berkumpul di selangkanganku.

“Praammm cintaakuuu… Aku sudah mauuu… sampaaaiiii laggiiiiiiii…” Erangku tidak kuat.

Melihat aku hampir orgasme lagi, Pram segera mengangkat tubuhku sehingga kuluman lubang kewanitaanku lepas dari batang kejantanannya. Kemudian, ia membaringkan tubuhku di ranjang, dan dengan cepat ia langsung menindihku dan memompa penisnya ke lubang vaginaku. Gerakan menggenjot Pram sangat cepat, wajahnya pun dipenuhi dengan nafsu birahi.

“Praaammm cintaakuuu… peluuukk akuuuu…” Erangku tidak kuat menahan kenikmatan ini.

Tanpa mengurangi kecepatan genjotannya, Pram memeluk tubuhku dengan erat. Oohh, aku merasa sangat nyaman dalam dekapan Pram ini, sementara genjotan batang penis Pram di lubang vaginaku semakin lama semakin menjebol pertahananku. Hingga akhirnya, kenikmatan puncak itu pun serasa diujung kepalaku, dan tubuhku tinggal menunggu perintah dari otakku untuk melepaskan seluruh kenikmatan itu. Aku mengambil napas panjang, kemudian aku melepaskan seluruh kenikmatan puncak yang sudah berkumpul di tubuhku.

“Oooohhhh…. Praaaamm… Akuu orgassmee lagiiii….” Erangku ketika kenikmatan puncak itu pun datang.

Seluruh tubuhku betul-betul merasa kejang, seolah melepaskan kenikmatan yang begitu besar. Aku merasakan denyutan yang kencang di vaginaku, sementara Pram masih terus memompa selangkanganku dengan cepat. Aku merasakan napasnya mulai mendengus-dengus, dan pelukannya pun semakin erat.

“Sofiiee sayaanngg… puncaak cintaakuuu…. akan segera dataanggg….” Erang Pram.

Aku tahu bahwa Pram akan segera keluar. Sok puitis dasar, puncak cinta segala. Akan tetapi, biar kuterima puncak cintamu, cinta. Aku pun memutar-mutar pantatku dengan cepat, sementara kedua tanganku memeluk tubuhnya dengan erat, dan bibirku menciumi bibirnya dengan liar.

“Praam cintaakuuu… Aku cinta kamuu… aku siap menerima puncak cintaamuuu…” Desahku sambil melakukan semua itu.

Kemudian, Pram memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga kini batang kejantanannya betul-betul menancap maksimal ke dasar lubang vaginaku.

“Uuuggghhhhhh.” Crott…

“Uurrrgggghhhhh…” Croottt…

“Uuuuhhhhhh…” Croott…

“Aaahhhhhh….” Croott.. Croott.. Crot…

Saat itu juga, Pram mengerang berkali-kali, dan disetiap erangannya, aku merasakan adanya semprotan cairan kental yang hangat dalam lubang vaginaku. Beberapa kali batang kejantanan Pram itu berdenyut dan menyemprotkan sperma yang deras ke dalam lubang vaginaku. Setelah semuanya selesai, tubuh Pram pun melemas diatas tubuhku. Aku kembali mencium bibirnya dengan liar. Saat itu juga, penis Pram menyemprotkan sisa-sisa sperma yang tersisa dalam penisnya. Gila, sperma milik Pram luar biasa banyaknya. Seluruh lubang vaginaku terasa hangat dan basah kuyup akibat sperma yang ditembakkan Pram itu. Aku terus mencium bibirnya dengan mesra, sambil mengusap-usap rambutnya. Sementara, kami masih berusaha mengatur napas masing-masing.

Setelah napas kami kembali normal, Pram berguling kesampingku sehingga kini kami sama-sama telentang menatap langit-langit.

“Maaf, Sofie. Aku tidak bisa membendung cintaku kepadamu.” Kata Pram.

“Kenapa minta maaf? Bukankah kamu cinta padaku?” Tanyaku.

“Betul.” Kata Pram sambil menarik tubuhku kedalam pelukannya.

Dalam pelukan Pram, aku merasa begitu nyaman. Ya, sama nyamannya ketika aku berada dalam pelukan suamiku. Pram pun mengelus-elus rambutku. Saking nyamannya, aku pun tertidur dalam pelukan Pram yang kokoh itu.

Ya, selama ini aku merasa bahwa perselingkuhan itu selalu berdasarkan nafsu birahi. Akan tetapi, pengalamanku sekarang ini telah membuktikan bahwa perselingkuhan tidak selalu sepenuhnya dikuasai oleh birahi. Ketika kita mencintai seseorang yang bukan pasangan hidup kita, secara otomatis kita akan berusaha untuk mendekat kepada orang itu. Dalam kasus terparahnya, sama seperti diriku, begitu rela membiarkan tubuh kita dimiliki oleh orang itu. Dan lebih gawatnya lagi, penyesalan cenderung lebih sedikit diakibatkan cinta yang menguasai pikiran kita. Aku mengerti sekarang, inilah yang dimaksudkan oleh Reza pada waktu itu. Mungkinkah Indra dan Rida juga mengalami hal yang sama?

BERSAMBUNG KE EPISODE-4

Daftar Episode

Cerita Terpopuler