. Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan | Kisah Malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 2

0
407
kisah malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 2

Pertengahan

Tepat sebulan sudah training ini berlangsung. Masing-masing sudah mulai memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya. Ada yang betul-betul tulus baik, ada yang betul-betul menyebalkan, ada yang sangat cari muka, pokoknya bermacam-macam deh. Bagaimana dengan anggota grupku? Bisa kubilang mengerikan. Mereka sih sebetulnya sangat baik-baik semua, tidak ada yang jahat. Tapiiii… Obrolan mereka tidak pernah jauh-jauh dari seks. Mereka selalu membicarakan hubungan seks mereka dengan pasangan hidup mereka masing-masing.

Biasanya laki-laki lebih semangat dalam membicarakan seks, tapi tidak halnya di grupku. Dua wanita di grupku sangat aktif membicarakan seks. Rida suka membuka pembicaraan, tetapi Amel yang sangat menjiwai dalam menceritakan hubungan seks nya dengan suaminya. Sampai-sampai orgasme pun dipraktekan.

“Oooooohhhhhh…. Auuuugggggghhhhhh…. Eeeeeehhhhhh….” Begitulah erangan orgasma yang sangat suka dipraktekan oleh Amel.

Tentu saja, hal ini aku yakin malah jadi bahan fantasi para lelaki di grupku, yaitu Reza, Indra, dan Pram. Meskipun Pram bukan salah satu anggota grupku, tapi ia sangat sering bergabung dengan kami karena kebetulan ia dan Rida cukup dekat sebagai teman kantor.

Memang, terpisah jauh dari keluarga untuk waktu yang lama adalah hal yang sangat rawan perselingkuhan bagi orang yang sudah menikah. Aku melihat orang-orang training lain pun sudah mulai berpasang-pasangan. Kemana-mana berdua, makan berdua, balik ke kamar pun berdua sebelum masuk ke kamar masing-masing. Bahkan trainer kita, Pak Ibnu, itu pun juga sepertinya cukup genit, sehingga ada saja satu dua wanita yang tergoda olehnya. Padahal, mereka semua sudah menikah. Tidak ada satupun peserta training kali ini yang belum menikah. Untungnya bagiku, aku kemana-mana selalu berenam. Baik Rida, Amel, Indra, Reza, maupun Pram tidak genit pada orang lain. Sebaiknya aku terus bersama-sama mereka terus.

Suatu ketika, aku sedang berjalan di lorong kamar hendak menuju kamarku. Lorong ini sangat tenang, sehingga ada suara sedikitpun langsung terdengar.

“Teruusss… Aku nggaakk kuaattt…” Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara orang yang seperti mendesah.

Eh? Darimana suara orang ini? Aku mencoba mencari-cari suara itu. Akhirnya, aku sangat dekat dengan suara itu. Asalnya dari pintu kamar yang ada didepanku ini. Ah, kamarnya tidak terkunci. Aku betul-betul dipenuhi oleh rasa penasaran dengan suara mirip desahan yang kudengar ini. Maka, aku membuka pintu kamar didepanku ini pelan-pelan dan tanpa suara. Saat aku bisa melihat kedalam… Astaga!! Bukan main jantungku berdegup sangat kencang melihat adegan yang ada didepanku. Aku melihat seorang pria yang telanjang sedang menindih seorang wanita berkulit putih yang juga telanjang. Tidak hanya menindih, tapi pria itu juga mendorong-dorong pantatnya. Akhirnya aku menyadari bahwa pria itu sedang menyetubuhi wanita yang ada dibawahnya. Tunggu, pria itu sepertinya wajahnya tidak asing. Ya ampun, itu kan Indra!!! Siapa wanita yang sedang disetubuhi itu? Indra dan wanita itu tampak sangat menikmati adegan yang mereka lakukan itu.

“Ndraaa…. Akuu udaah maoo orgasmee…” Erang wanita itu.

Mendengar hal itu, Indra semakin kuat menghujam-hujamkan batang penisnya yang cukup besar itu ke lubang vagina wanita itu.

“Ayoohh,, jangan ditahaan-tahaann… Ridaah sayaanggg…” Erang Indra.

Eh? Rida? Ah, betul juga. Rida itu mengenakan jilbab, jadi aku tidak tahu wajah aslinya. Aku melihat kearah karpet yang menutupi lantai kamar hotel ini. Ya ampun, betul. Baju dan kerudung yang ada di karpet itu, adalah baju dan kerudung yang sama dengan yang Rida kenakan hari ini. Apa itu artinya, Indra dan Rida sedang terjebak dalam perselingkuhan??!

“Oouuuhhhh…. Akuu orgaassmeee Nddraaaa….” Erang Rida sambil terus memutar-mutar pantatnya.

Mendapat serangan orgasme dari Rida, Indra tampak tidak bisa mengendalikan dirinya. Indra makin kencang memompa batang penisnya ke lubang vagina Rida. Indra pun juga menciumi bibir dan buah dada Rida yang bulat dan bergoyang terus akibat hentakan batang penis Indra.

“Ridaaa sayaanggg… Akuu maoo keluaaarrrr…” Erang Indra.

Melihat Indra yang hampir ejakulasi, Rida memeluk tubuh Indra dengan kuat. Pantatnya juga ia putar-putar dengan kecepatan tinggi.

“Ayoohhh keluaarriinnn Ndraaa… Keluarriin di daleemm biar anggeeettt…” Erang Rida.

Heh? Apa Rida serius dengan ucapannya?

“Uooogggghhhhhh… Oooooohhhhh…” Indra mengerang dengan kencang. Ia pun juga mendorong pantatnya sekencang-kencangnya.

“Oooohhhhhhh….” Rida pun juga mengerang. Tampaknya ia merasa nikmat dengan semprotan sperma milik Indra dalam liang vaginanya.

Kemudian, aku keluar dengan menutup kembali pintunya tanpa suara. Kemudian, aku menyandarkan tubuhku ke tembok. Haah… Seperti itukah pemikiran seorang suami dan seorang istri yang jauh dari keluarganya.

“Menyedihkan ya?” Terdengar suara seorang laki-laki yang membuyarkan pikiranku.

Oh, ternyata Reza.

“Reza, kamu tahu selama ini?” Tanyaku.

“Iya, tahu kok. Sering aku memergoki mereka sedang asik memuaskan birahi masing-masing.” Kata Reza.

Whaat??! Berarti bukan hanya sekali saja mereka melakukan hal itu?

“Jangan kaget, seks itu memang kebutuhan manusia, salah satu kebutuhan utama.” Kata Reza.

“Menurutku nggak. Seks itu adalah salah satu cara pengungkapan rasa cinta kita kepada pasangan. Cara pengungkapan rasa cinta kita kepada pasangan, nggak harus dengan seks kan?” Kataku.

“Seks adalah salah satu cara pengungkapan rasa cinta kita kepada pasangan kata kamu?” Tanya Reza.

“Iya.” Kataku.

“Hmmm, itu malah lebih bahaya, Sofie.” Kata Reza sambil berjalan menjauhiku.

“Eh, bahaya kenapa?” Tanyaku.

Akan tetapi, Reza tidak menjawab. Ia terus saja berjalan. Hmmm, jujur aku tidak mengerti ucapan Reza.

Hari-hari keesokannya, kami berenam tidak lagi akrab. Tidak, mungkin aku yang menjauh dari teman-temanku. Aku betul-betul masih belum menerima apa yang Indra dan Rida lakukan. Seringkali, Indra mengajakku makan bersama yang lain. Akan tetapi, aku menolaknya dan malah makan sendirian. Yang lainnya sepertinya bingung dengan tingkahku, kecuali Reza. Bahkan dalam diskusi kelompok pun, aku tidak banyak bicara. Bahkan, aku melihat Indra dan Rida dengan tatapan jijik.

Suatu saat, aku sedang berbaring di kamarku karena kebetulan sesi training hari itu sudah selesai. Tiba-tiba, hp-ku bunyi tanda sms masuk.

“Sof, lo marah sama gue ya?” SMS dari Rida.

Aku tidak mempedulikan sms itu. Kemudian, bel kamarku berbunyi. Ah, tidak puas meng-SMS, dia sekarang malah mendatangiku. Aku segera membuka kamarku.

“Lu mao apa sih pake kesini segala?” Bentakku.

“Eh, Sof. Sorry, ga tepat ya waktunya?” Tanya Pram.

Lho, rupanya Pram toh. Kupikir Rida.

“Eh, sorry Pram. Gua pikir Rida.” Kataku.

“Oh, bener ya kamu lagi slek sama Rida?” Tanya Pram.

Yah, sial aku keceplosan.

“Ngopi yuk.” Kata Pram.

Hmmm, ajakannya boleh juga sih. Tapi…

“Kamu doang kan?” Tanyaku.

“Iya.” Kata Pram.

“Oke, yuk.” Kataku.

Kemudian, kami berjalan bersama menuju cafe untuk ngopi. Sesampainya di cafe, aku memesan capuccino, sementara Indra memesan espresso.

“Kenapa antara kamu dan Rida?” Tanya Pram.

“Udah, ngomongin yang lain aja ah.” Kataku.

“Apa karena dia bercinta-cintaan melulu sama Indra?” Tanya Pram.

“Lho? Kamu juga tahu ya?” Tanyaku.

“Tahu lah.” Kata Pram.

“Oh. Terus, menurut kamu gimana, Pram?” Tanyaku.

“Kenapa kamu nanya sama aku?” Tanya Pram.

“Aku tahu Pram. Kamu kan juga tipe orang yang setia sama istri.” Kataku.

“Hmmm, mungkin. Tapi justru karena selama ini aku setia, aku malah mempertanyakan kesetiaanku kedepannya nanti.” Kata Pram.

“Hmmm, maksudnya?” Tanyaku dengan bingung.

“Hari ini orang baik, besok jadi orang jahat. Nggak jarang kan dengar pernyataan seperti itu?” Tanya Pram.

Aku tidak menjawabnya.

“Tadinya aku juga menjauh dari Albert dan Rida. Tapi dipikir-pikir, justru aku memutuskan untuk tetap mengamati mereka, agar aku bisa mempertahankan kesetiaan aku sama istri.” Kata Pram.

“Hah? Apa hubungannya, Pram?” Tanyaku.

“Mungkin dengan melihat tingkah laku mereka, aku bisa analisis apa yang menjadi penyebab awal perselingkuhan, dan bisa mencegahnya. Dan juga, dengan melihat efek setelah perselingkuhan itu, akan membuat kita berpikir dua kali untuk selingkuh.” Kata Pram.

Hmmm, deduksi yang cukup aneh. Tapi harus kuakui bahwa itu benar.

“Pram, apa menurut kamu, perselingkuhan mereka itu akan berkepanjangan?” Tanyaku.

“Menurutku nggak.” Kata Pram.

“Kenapa begitu?” Tanyaku.

“Perselingkuhan mereka berawal dari haus birahi. Kebetulan sekali Indra bisa masuk ke kehidupan Rida, dan masuk terlalu dalam, sampai akhirnya mereka bersetubuh. Perselingkuhan macam ini, yang hanya didasarkan atas dasar kepuasan birahi, biasanya tidak berlangsung lama. Kecuali jika perselingkuhan ini berlanjut ke tumbuhnya rasa cinta diantara mereka. Tapi itu pun relatif mudah disembuhkan. Lain halnya jika…” Kata Pram.

“Perselingkuhan dimulai dari rasa cinta dalam hati.” Kataku.

“Betul sekali, Sof. Yang kaya gitu bakalan susah nyembuhinnya.” Kata Pram.

“Tapi aku heran deh. Bukannya kalo perselingkuhan berdasarkan nafsu birahi, itu harusnya bisa ditekan ya? Aku tidak mengerti.” Tanyaku.

“Justru kamu harus ngerti, Sof.” Kata Pram.

“Iya, aku paham. Tapi nggak bakal lah aku jatuh dalam perselingkuhan macam gitu. Aku orangnya setia kok. Terbukti selama umur pernikahanku selama sepuluh tahun.” Kataku.

“Oke, aku ngerti, Sof. Tapi hati-hati aja, Sof. Semakin kita meyakini bahwa kita setia, semakin besar pula godaan yang akan datang, dan semakin lengah kita akan menjadi.” Kata Pram.

“Iya, aku ngerti.” Kataku.

“Apalagi kamu orangnya cantik dan seksi begitu. Aku yakin nggak sedikit kan orang yang godain kamu selama masa training ini.” Kata Pram.

Hmmm, memang tidak sedikit sih. Tidak jarang aku tiba-tiba mendapatkan SMS yang berisi godaan-godaan gombal rendahan.

“Yah, intinya kita sama-sama berjuang, Sof.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Iya.” Kataku juga sambil tersenyum.

Kemudian, kami sama-sama menghabiskan kopi kami ini. Ternyata, Pram itu orangnya selain setia, juga berpandangan luas dan berkepala dingin. Jika boleh jujur, Pram itu orangnya tampan kok, lebih tampan dari suamiku malah. Beruntung juga istrinya mendapatkan pria seperti Pram.

“Oke deh, yuk say.” Kata Pram.

“Jah, mulai gombal kamu juga.” Kataku.

“Hahahaha. Susah sih. Abis Sof itu terlalu susah. Say lebih gampang hahaha.” Kata Pram.

Mendengar itu, aku mencubit lengan Pram dengan kencang.

“Sss… sakiitt wooyyy… Lepasiin saaayyy” Kata Pram.

Grrgghhh, say… say… say… say… Emangnya aku istrinya? Aku mencubitnya makin keras.

“Say… say… say… say… Makan nih!!” Kataku.

“Yaudah… yaaudah… Yang penting bisa manggil kamu say… Cubit lebih keras lagi juga gapapa, say.” Kata Pram sambil tertawa.

Heeehh, sialan. Aku segera melepaskan cubitannya. Kemudian, kami kembali ke kamar kami masing-masing.

“Sof, besok mulai jam berapa ya?” Tiba-tiba, aku mendapatkan SMS dari Pram.

“Jam delapan.” Balasku singkat.

Keesokan harinya, kami semua berkumpul di Skye Room jam delapan pagi. Aku memutuskan untuk mengurangi kejauhan antara dengan Rida dan Indra, karena begitu-begitu mereka juga grup diskusi aku. Masalah mereka ya masalah mereka deh, aku tidak mau ambil pusing lagi. Akhirnya, lama-lama kami berenam menjadi klop lagi.

Dibandingkan dengan mereka, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Pram. Aku dan Pram sangat suka berdiskusi masalah cinta. Pandangannya tentang cinta itu lebih luas dari siapapun yang kukenal.

“Emang kamu tuh profesor cinta. Ambil jurusan apa dulu?” Tanyaku.

“Ga tau. Yang bikin jurusannya kan kamu, professor sayang.” Kata Pram.

Gombal. Dasar, pria dimana saja pun sama. Suka menggombali wanita. Akan tetapi, gombalan Pram itu tidak terlalu parah. Lagian, aku percaya sih padanya, karena kami sama-sama setia.

Kami pun juga saling mengingatkan satu sama lain ketika kami berbuat kesalahan.

“Paha sih emang bagus, tapi jangan ditontonin. Tar banyak orang yang ngeliatin.” Kata Pram.

Itu terjadi karena kebetulan celanaku naik akibat posisi dudukku tidak benar.

“Sorry, profesor sayang. Jangan kebanyakan nunduk. Itu buah dada kamu kelihatan.” Kata Pram.

“Oops, sorry.” Kataku sambil kemudian menutup kerah bajuku dengan tanganku.

“Tapi buah dada kamu gede ya. Kalo boleh tahu berapa ukurannya, say?” Tanya Pram.

“Eh, kurang ajar kamu ya, profesor cinta. Nanyanya nggak kira-kira.” Kataku.

“Yaah maaf deh. Siapa tahu kamu keceplosan hehehe.” Kata Pram.

“Tapi, emang bagus ya, Pram?” Tanyaku.

“Iya, bagus kok.” Kata Pram.

Hahahahaha. Kejujuran dan kepolosannya ini membuatku tertawa. Akan tetapi, begitu-begitu aku mulai deg-degan mendapat pujian seperti itu. Ya, Pram itu tidak menggombal seperti pria-pria lain lakukan. Apa yang dikatakan Pram, seolah-olah semuanya murni dan apa adanya. Selalu saja setiap hari ada kesempatan dimana dia bisa mengungkapkan apa yang dipikirkannya secara blak-blakan. Dan itu terus membuat jantungku semakin berdegup kencang. Gawat, apakah hatiku diam-diam mulai mencintai Pram? TIDAK. Tidak… Tidak… Tidak… Aku tidak boleh membiarkan ini berkepanjangan.

“Profesor sayang.” Kata Pram.

“Heh. Apa?” Tanyaku.

“Aku cinta sama kamu.” Kata Pram.

JEGGEEERRRR!!!! Bagaikan disambar petir, aku tidak percaya mendengarkan perkataan itu. Mengapa aku yakin bahwa ia tidak bohong? Karena dia tidak pernah berbohong. Semua yang dikatakan olehnya itu murni dari hatinya, tanpa filter sedikitpun. Jujur, aku pun juga sebetulnya ada yang lain di hatiku, tidak seperti biasanya.

“Kamu itu begitu indah.” Kata Pram.

Indah? Kata indah yang keluar, dan bukan cantik ataupun seksi. Ah, gawat.

“Pram… tunggu Pram. Kita itu sudah bersuami dan beristri.” Kataku.

“Memang. Tapi, apakah rasa cinta itu bisa dihalangi oleh istriku? Ga, say. Perasaan cinta itu muncul begitu saja, tanpa bisa kita cegah.” Kata Pram.

Ukh, lagi-lagi apa yang diucapkannya benar. Iya betul, selama ini aku tidak memiliki gairah nafsu birahi apapun terhadap Pram. Akan tetapi, rasa cinta ini? Muncul begitu saja, dan sangat sulit dibendung. Tidak, kalau mau membendungnya, sekarang lah saatnya. Aku tidak boleh meretakkan kesetiaanku terhadap suamiku. Maka, aku segera berdiri, dan berusaha meninggalkan tempat itu. Ketika sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba ada yang menangkap pergelangan tanganku. Saat aku menoleh, ternyata Pram yang menangkap pergelangan tanganku. Wajah Pram begitu dekat dengan wajahku. Degub yang kencang didadaku ini betul-betul tidak bisa dibendung. Seolah-olah, degupan ini menyebar ke seluruh tubuhku, membuat seluruh tubuhku kaku dan panas.

“Kenapa kamu lari tanpa berkata apapun? Apa kamu berusaha membendung rasa cinta yang ada di hati kamu? Jangan ditolak, say. Hadapin aja, kalo kamu tolak, malah rasa cinta itu semakin kuat menyebar ke seluruh hati kamu.” Kata Pram.

“SAY!!! SAY!!! Nggak malukah kamu memanggilku dengan sebutan itu??!!!” Kataku.

“Ga, sama sekali ga. Ini perasaan ku yang sesungguhnya. Ngapain aku mesti malu mengutarakan perasaan indah yang aku miliki ke kamu?” Tanya Pram.

Urgghh, kata-katanya begitu menghipnotis. Begitu indah, dan begitu mempesona. Cinta memang perasaan yang indah, tapi sayangnya suka muncul disaat yang tidak tepat. Kurang ajar!!!! Arrrggghhh!!!! Aku berusaha kuat menahan perasaan cinta yang sebetulnya sudah berbunga dalam hatiku ini. Sulit sekali menahan laju perasaan yang bernama cinta ini.

“Oke. Apa yang kamu pengen, Pram?” Tanyaku.

“Kamu, say.” Kata Pram.

“Lalu, gimana dengan suamiku?” Tanyaku.

“Apa artinya, kalo suami kamu nggak ada, kamu menerima cinta aku?” Tanya Pram.

“Ah…” Kataku.

Sial, aku benar-benar termakan oleh keadaan.

“Suami kamu nggak ada disini sekarang. Izinkan aku yang mencintai kamu dengan sepenuh hati aku, izinkan aku yang menjadi tempatmu bersandar.” Kata Pram.

Ah, dia benar-benar sudah gila. Akan tetapi, aku juga sama gilanya. Untuk sesaat, aku sempat memikirkan bagaimana jika aku mengizinkannya untuk mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Dia ini orangnya tampan dan baik, kurang apa lagi? Aahh, aku segera membuang jauh-jauh perasaan itu.

“Cukup. Aku ga nyangka kamu telah jatuh sedalam itu. Sebagai profesor cinta, kamu itu betul-betul memalukan.” Kataku.

“Aku ga peduli apakah aku terlihat memalukan ato ga. Buatku, perasaanku ke kamu lebih penting daripada harga diriku.” Kata Pram.

“Cukup. Lepasin tanganku. Aku mao balik ke kamar.” Kataku sambil menatapnya dengan tajam.

Pram pun menuruti perintahku. Ia melepaskan tanganku. Seketika itu juga, aku langsung berlari sekencang-kencangnya. Aku betul-betul takut akan menodai perasaan cintaku kepada suamiku jika aku berlama-lama disitu. Dalam sekejap, aku sudah sampai kamar. Kebetulan, hari sudah malam. Aku segera mandi. Saat sedang mandi, aku merenung dibawah siraman shower yang deras. Merenung tentang perasaanku kepada Pram, yang aku akui adalah cinta yang siap untuk meledak. Ini gawat, mulai besok, sebaiknnya aku menjauh darinya. Aku tidak mau menodai cintaku kepada suamiku.

Seselesainya aku mandi, aku segera mengenakan pakaianku, dan langsung berbaring di tempat tidur. Kemudian, aku mendengar ada SMS masuk ke HP-ku. Aku pun membuka pesan masuk di HP-ku.

“Tidur yang nyenyak, sayang. – Professor Cinta –“ SMS dari Pram.

Aku langsung menutup HP-ku, dan berusaha tidur. Akan tetapi, sudah hampir sejam pun aku tidak juga bisa tidur. Entah kenapa, perasaanku sangat didorong untuk membalas SMS cinta dari Pram itu. Ah, kalau begini terus, aku tidak akan bisa tidur. Baiklah, akan kubalas SMS cinta dari Pram itu. Tapi sekali ini saja. Kumohon, maafkan aku, suamiku. Hanya sekali ini saja, aku menyatakan cinta kepada laki-laki lain selain dirimu. Setelah itu, akan kututup hatiku untuk pria lain selain dirimu. Aku segera mengambil HP-ku, kemudian membalas SMS cinta dari Pram.

“Kamu juga tidur yang nyenyak, profesor cinta. – Professor Sayang –“ Balasku.

Kemudian, aku segera mematikan HP-ku. Entah kenapa, aku merasa sangat senang setelah membalas SMS itu. Aku senyum-senyum sendiri, dan sambil senyum-senyum sendiri pula, aku tertidur.

BERSAMBUNG

Daftar Part

Cerita Terpopuler