. Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan | Kisah Malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 1

0
503
kisah malam

Cinta Kesetiaan Integritas dan Perselingkuhan Eps 1

Pembuka

Perkenalkan, namaku Sofie, seorang istri berumur 34 tahun dari suamiku, Anandya, yang berumur 2 tahun lebih tua dariku. Kami sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang sekarang berumur 6 tahun dan seorang anak laki-laki yang berumur 2 tahun. Pernikahan kami cenderung langgeng. Yang namanya konflik dan berantem itu sudah biasa dalam rumah tangga, tapi kami selalu bisa mengatasinya, dan ujung-ujungnya kami bisa berbaikan jika ada masalah.

Urusan finansial? Terbukti aman, karena suamiku mempunyai penghasilan yang cukup mapan. Ditambah lagi, aku juga bekerja. Penghasilan yang mapan dari suamiku, ditambah dengan sebagian besar persenan dari gajiku, tentu saja kita lebih dari cukup untuk menghidupi kehidupan keluarga kami. Pokoknya untuk urusan finansial, kami jarang sekali mengalami krisis moneter dalam keluarga.

Urusan ranjang? Boleh dibilang cukup aman. Suamiku tipikal laki-laki dengan tubuh biasa. Tidak bisa dikatakan atletis, tapi tidak juga bisa dikatakan gemuk. Ukuran penisnya pun ukuran standar orang Indonesia, yaitu sekitar empat belas sentimeter. Aku sendiri adalah wanita bertubuh seksi, bertubuh langsing, berdada cukup besar, sekitar 34C, dan berkulit coklat. Kata para temanku yang pria, aku sangat mirip dengan model majalah Gress yang bernama Ratu Kirana. Hmmm, jika kulihat, memang wajah dan tubuhku memiliki banyak kemiripan dengannya sih. Yang berbeda, hanyalah umur kami yang berbeda enam tahun. Akan tetapi, selebihnya sangat mirip. Kok bisa ya? Hahaha. Eh, malah jadi membicarakan diriku, deh. Yah, dengan spesifikasi tubuh yang kusebutkan tadi, sangat mungkin jika aku menguasai hubungan diatas ranjang. Akan tetapi, boleh dibilang kami itu cukup imbang. Malam ini, suamiku menang, malam besok, aku menang. Sesekali, aku bisa mendominasi sampai dua sampai tiga malam. Yah intinya, kebutuhan biologisku cukup terpenuhi oleh suamiku. Apalagi menurutku, inti dari suatu pernikahan bukanlah seks. Seks hanyalah sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan cinta masing-masing. Itulah pandanganku tentang seks, karena itu aku tidak pernah menuntut banyak tentang seks.

Di rumah, kami memiliki cukup banyak asisten rumah tangga. Ada kepala asisten rumah tangga yang bertugas dalam mengkoordinasi seluruh kegiatan asisten rumah tangga bawahannya, ada asisten rumah tangga yang bertugas mengurusi kerjaan rumah, ada asisten rumah tangga yang bertugas keluar rumah, dan beberapa asisten rumah tangga untuk menjaga anak-anak kami. Seluruh asisten rumah tangga yang bekerja di rumahku adalah orang yang telah bekerja pada keluarga suamiku sejak suamiku bahkan belum lahir, karena memang keluarga suamiku adalah keluarga yang sangat kaya. Dengan demikian, kami sangat mempercayai mereka. Track record mereka pun sangat bagus, kesetiaan dan kejujuran mereka tidak tertandingi oleh siapapun menurutku. Oleh karena itu, aku mempercayakan anak-anak kepada mereka.

Mengapa mempercayakan anak-anak pada mereka? Padahal, dengan penghasilan suamiku saja, aku yakin untuk menghidupi keluarga kami ini lebih dari cukup. Disinilah permasalahannya. Sebagai wanita, aku merupakan seseorang yang sangat mengejar karir. Aku terbukti lebih berprestasi di dunia karir dibandingkan menjadi ibu rumah tangga. Gairah hidupku pun terletak pada dunia karir. Meskipun demikian, tidak mengurangi waktu bahagia untuk suami dan anak-anakku. Boleh dikatakan, sebagai wanita yang sangat mengejar karir, keluargaku tetap tidak terabaikan. Aku mengatakan bahwa kehidupanku dalam keluarga ini sangat sempurna.

Apa permasalahan utama bagi seorang istri yang mengejar karir? Menurut teman-teman dan artikel, yaitu perselingkuhan. Betulkah demikian yang terjadi padaku? Alhamdullilah, dalam umur pernikahan kami yang ke-sepuluh ini, aku selalu berhasil menjaga kesetiaanku. Jangankan tertarik pada lawan jenis, memikirkan lawan jenis selain suamiku untuk semenit saja sudah tabu bagiku. Yah untung deh, karena aku ingin menjadi istri yang setia kepada suami. Kesetiaan inilah yang selalu kubanggakan dalam diriku.

Suatu hari, aku ditugaskan oleh kantorku untuk training manajemen ke Jakarta selama enam bulan. Inilah yang menjadi permasalahanku. Di satu sisi, aku sangat ingin mengikuti training itu karena training itu sangat bagus untuk karirku kedepannya, dan juga untuk pengembangan diriku. Akan tetapi di sisi lain, berarti aku harus meninggalkan keluargaku selama enam bulan. Jujur, hatiku berkecamuk.

“Nggak usah kuatir, sayang. Rumah dan anak-anak aman kok. Lihat para asisten-asisten yang sangat handal. Aku jamin, tidak akan ada masalah yang berarti. Kamu ikut saja training itu.” Kata suamiku.

“Ta… tapi, sayang…” Kataku.

“Nggak usah bohongin aku. Kamu tuh ga pinter berbohong, sayang.” Kata suamiku sambil tersenyum.

Ah, terbaca ya? Iya, memang betul aku sangat ingin mengikuti training itu. Akan tetapi, memang aku terjepit oleh kewajibanku sebagai istri. Suamiku orang yang sangat pengertian. Ia mampu membaca bahwa aku sangat ingin mengikuti training itu. Dia juga merelakan kepergianku selama enam bulan semata-mata demi aku yang ingin mengejar karir. Terima kasih, sayang.

Dengan seizin suamiku, akhirnya aku berangkat ke Jakarta dari Bandara Sultan Hasanuddin. Sebelum berangkat, aku dan suamiku sempat mengucapkan salam perpisahan sementara. Aku juga meyakinkan suamiku bahwa aku tidak akan main serong, karena kesetiaanku sudah terbukti selama sepuluh tahun menikah. Suamiku hanya tersenyum mendengar perkataanku.

Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya pesawat Garuda Indonesia yang kunaiki mendarat di Bandara International Soekarno-Hatta, Jakarta. Sesampainya keluar bandara, aku langsung dijemput oleh pihak hotel yang sudah dipesan oleh perusahaanku. Tempat training sekaligus aku menginap selama enam bulan adalah hotel bernama Fave Hotel di kawasan Tanah Abang. Supir yang menjemputku itu mengantarku ke hotel itu.

Kami sampai di Fave Hotel Tanah Abang pada pukul 11.57 siang. Aku langsung turun dan langsung ke resepsionis.

“Selamat siang, namaku Sofie, dari PT Alixa Management. Aku mengikuti training Better Management for Better Performance di hotel ini. Apakah namaku sudah terdaftar?” Tanyaku.

“Selamat siang, Ibu Sofie. Sebentar, kami cek terlebih dahulu.” Kata resepsionis sambil mengetik-ngetik komputernya.

Sambil menunggu, aku perhatikan hotel ini ternyata cukup bagus. Aku tidak tahu kategori hotel ini, tapi aku taksir sekitar hotel bintang empat sepertinya.

“Terima kasih sudah menunggu, Ibu Sofie. Betul, nama Ibu Sofie terdaftar dalam sistem kami untuk mengikuti training Better Management for Better Performance yang akan diselenggarakan selama enam bulan di Fave Hotel ini. Kamar ibu juga sudah dipesankan dan seluruh biaya sudah dibayarkan di muka oleh PT Alixa Management.” Kata resepsionis.

“Oke, terima kasih ya, Mbak.” Kataku.

“Mohon maaf, bu. Peserta training diwajibkan untuk berkumpul terlebih dahulu di Skye Room. Silakan bu, staff kami akan mengantarkan ibu ke Skye Room. Koper ibu boleh ibu titipkan di kami, nanti akan kami antar ke kamar ibu sekalian.” Kata resepsionis.

“Oke, terima kasih ya, Mbak.” Kataku sambil kemudian mengikuti salah satu staff hotel ini menuju Skye Room.

Sesampainya di Skye Room, para peserta training sudah berkumpul. Ada sekitar tiga puluh lima orang yang mengikuti training ini, dan mungkin akan bertambah lagi jumlahnya.

“Selamat siang, betul dengan Ibu Sofie Annisa?” Kata seorang pria cukup tampan dan berpakaian rapi dengan jas yang tiba-tiba mendatangiku.

“Iya betul, saya sendiri.” Kataku.

“Terima kasih bu atas kedatangannya. Ibu orang terakhir yang kami tunggu. Silakan mengambil tempat duduk di tempat yang sudah disediakan, bu.” Kata pria itu.

“Wah, maaf, aku terlambat ya. Maaf ya sudah membuat kalian semua menunggu jadinya.” Kataku kepada semua orang di ruangan.

“Tidak, bu. Ibu datang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Tapi, kebetulan orang-orang ini datang lebih cepat dari ibu. Ibu tidak terlambat sama sekali kok.” Kata pria itu sambil tersenyum.

“Ah, syukurlah.” Kataku sambil kemudian mengambil tempat duduk di meja yang bertuliskan namaku.

Ruangan ini cukup besar, dengan kapasitas sekitar empat puluh orang. Meja dan kursi sudah diatur sedemikian rupa seperti ruang kelas. Dalam satu meja, aku duduk bersama empat orang lainnya, dua laki-laki dan dua wanita.

“Selamat siang, bapak dan ibu sekalian. Perkenalkan, nama saya Ibnu Baroqah. Saya akan membawakan training Better Management for Better Performance pada sesi pertama dan kedua yang akan diselenggarakan selama empat bulan. Untuk sesi ketiga pada bulan kelima dan keenam akan dibawakan oleh rekan saya yang lain. Terima kasih sudah memilih PT Management Training Indonesia sebagai partner anda semua untuk membawakan training ini. Pertama-tama, saya absen dulu ya.” Kata pria bernama Ibnu itu.

“Albert Chen dari PT Mitra Andalan Utama.” Kata Ibnu.

Kemudian, seorang pria tinggi bertubuh besar dan berkebangsaan Chinese di tengah ruangan mengangkat tangannya.

“Hapsari Siti dari PT Alimata.” Kata Ibnu.

Kemudian, seorang wanita muda berjilbab yang duduk di ujung kanan ruangan mengangkat tangannya.

Ibnu terus memanggil nama-nama orang yang ada di ruangan. Sampai akhirnya, namaku pun dipanggil dan aku mengangkat tanganku. Akhirnya, Ibnu telah selesai mengabsen semua orang di ruangan ini. Aku menghitung, dari tiga puluh lima peserta training, dua puluh laki-laki, dan lima belas perempuan.

“Oke, sekarang tolong perhatikan nomor yang tertulis di bawah nama kalian semua.” Kata Ibnu.

Aku melihat nomor yang tertera dibawah namaku di meja, dan melihat nomor tujuh. Aha, angka keberuntunganku.

“Nomor itu merupakan anggota grup kalian dalam berdiskusi. Tidak perlu mencari anggota grup kalian, karena sesama anggota grup duduk dalam satu meja.” Kata Ibnu.

Aku segera melihat kekiri dan kanan untuk melihat anggota grupku. Aku duduk kedua dari kiri. Sebelah kiriku adalah seorang wanita cantik berjilbab dan berkulit putih. Sebelah kananku adalah wanita berkebangsaan Chinese berambut panjang dan berkulit putih. Sedangkan yang duduk di ujung kanan adalah seorang pria bertubuh tinggi dan besar berkulit coklat, dan yang duduk disebelahnya adalah seorang pria kecil berkulit putih dan berkacamata.

“Silakan gunakan waktu selama satu jam untuk berkenalan dengan anggota grup kalian, sekaligus sharing tentang pengalaman kalian.” Kata Ibnu.

Kemudian, kami saling berkenalan.

“Rida.” Kata wanita berjilbab disebelahku.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

“Amel.” Kata wanita chinese di sebelah kananku.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

“Indra.” Kata pria bertubuh tinggi yang duduk di ujung kanan.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

Wow, jabatan tangannya kuat dan kokoh sekali, seolah-olah tidak akan dilepaskan dari tanganku. Sepertinya pria bernama Indra ini adalah orang yang berpendirian kuat.

“Reza.” Kata orang yang duduk disebelah Indra.

Tangannya hangat, jabatan tangannya tidak terlalu kuat, tapi tidak loyo juga. Sepertinya pria bernama Reza ini adalah orang yang memiliki visi yang bagus.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

Singkat cerita, kami saling berkenalan dan berbagi pengalaman tentang pengalaman kami di perusahaan masing-masing. Lama kelamaan, omongan kami berubah menjadi masalah pribadi dan obrolan ringan. Ternyata, keempat rekanku yang lain pun juga sudah menikah, dan mereka juga sama denganku, meninggalkan keluarga mereka masing-masing di kota mereka masing-masing selama enam bulan. Hingga akhirnya, satu jam pun berlalu.

“Oke. Terima kasih atas kerjasama kalian semua. Sekarang, kita tutup sesi kita hari ini, dan silakan beristirahat di kamar kalian masing-masing. Kita bertemu lagi besok di tempat ini tepat pada pukul 08.00.” Kata Ibnu.

Kemudian, kami segera beres-beres, dan keluar dari ruangan ini. Karena kami sudah banyak mengobrol, otomatis kami berlima tetap berjalan bersama. Di tengah perjalanan, kami pun juga mengobrol sebatas obrolan ringan saja.

“Pram, sini!” Kata Rida.

Kemudian, seorang pria bertubuh besar dan berkulit coklat mendatangi kami.

“Eh kenalin, ini teman kantorku.” Kata Rida.

Kemudian, pria bernama Pram itu menyalami kami semua. Hmmm, jabatan tangannya biasa-biasa saja, tapi terkandung banyak kekuatan didalamnya. Sepertinya Pram ini orang yang sangat setia pada pasangannya.

Kamu terus berjalan menuju kamar masing-masing, dan berpisah. Aku segera masuk ke kamarku. Kamar yang menurutku cukup bagus dengan view keluar. Aku segera merebahkan diriku di tempat tidur, dan mempersiapkan diriku untuk hari esok.

BERSAMBUNG KE EPISODE-2

Daftar Episode

Cerita Terpopuler