. Cewek Jilbab Polos Yang Binal (Kisah Nyata) | Kisah Malam

Cewek Jilbab Polos Yang Binal (Kisah Nyata) Part 27

0
419

Cewek Jilbab Polos Yang Binal (Kisah Nyata) Part 27

Kenyataan

-Yanti –

Karena mual yang gak kunjung sembuh aku mengirim pesan kepada Andi untuk mengantarku ke dokter. Kebetulan karna dia shift malam jadi dia gak sibuk pagi-pagi gini. Diapun mengiyakan dan bilang akan segera menjemputku. Aku memutuskan untuk sarapan dulu daripada badan jadi lemes mual terus. Sebelum berangkat kerja tadi devi sempat membelikanku bubur ayam. Baru juga makan habis separuh aku kembali mual , seketika nafsu makanku menjadi hilang..

Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya andi sampai depan kosku. Akupun keluar kamar dan mengunci pintu. Kamipun berangkat menuju dokter yang dekat daerah sini. Untungnya antrian disini gak terlalu panjang jadi kami gak perlu lama menunggu. Akhirnya namaku dipanggil oleh suster , setelah masuk ke dalam ruang dokter seperti biasa dokter menayakan keluhan dan sakit yang kualami kemudian memeriksaku.

Dokter : “Keluhan sakitnya apa bu?”

Aku : “Ini dok tadi pagi saya tiba-tiba mual, sampai sekarang belum enakan, padahal sudah minum air hangat sama saya kasih minyak kayu putih dok.”

Dokter : “Saya periksa dulu ya bu silahkan berbaring dulu.”

Akupun berbaring di tempat tidur periksa dan dokter memeriksa bagian perutku dibeberapa titik.

Dokter : “Silahkan bu duduk kembali.”

Aku : “Iya dok. Jadi saya sakit apa dok?”

Dokter : “Ibu telat datang bulan atau tidak?”

Deg mendengar pertanyaan itu membuatku cukup terkejut, memang benar kalau dipikir pikir aku udah lama gak datang bulan.

Aku : “Iya dok, sepertinya bulan ini saya gak dapet.”

Dokter : “Dari hasil pemeriksaan tadi kemungkinan ibu sedang hamil. Tapi saya belum bisa memastikan. Coba ibu ke kamar mandi dulu gunakan tespack ini bu.”

Dokter memberiku tespack kemudian aku menuju kamar mandi untuk mengetes urine ku.. Setelah menunggu sesuai prosedur pemakaian ternyata ada garis dua yang muncul disana. Itu berarti aku benar benar hamil..

Suster : “Sudah atau belum bu? Kalau sudah silahkan keluar.”

Aku keluar dari kamar mandi, kakiku rasanya lemas untuk melangkah. Aku berusaha kuat karna gak mungkin aku merasa sedih ditempat seperti ini.. Aku menunjukan hasil testpack itu kepada dokter.

Dokter : “Wah selamat ya bu, ibu benar benar positif hamil”

Aku : “Iya dok makasih ya.”

Kemudian dokter memberiku vitamin untuk awal kehamilan. Setelah membayar aku kelaur dari ruang periksa. Kulihat andi tidak ada diruang tunggu. Akupun menuju keluar klinik menuju tempat parkir. Kulihat andi sedang menelpon seseorang nampaknya mereka cukup akrab terbukti andi beberapa kali tertawa ceria.

Aku : “Ndi,, udah selesai nih periksanya . Pulang yuk.”

Andi : “eeh iya bentar ya aku tutup telpon dulu.”

Andi dengan nada bisik bisik menutup telpon itu namun aku samar samar mendengar bahwa dia mengatakan “Udah dulu sayang nanti aku telpon lagi.” Apa artinya itu andi sudah punya pacar? Aku menjadi bingung. Siapa ayah dari anakku ini?? Saat ini rasa sedihku tak bisa kututupi lagi. Sepanjang perjalanan aku meneteskan air mata.

Sampai dikos andi bertanya kepadaku gimana hasil pemeriksaan dokter tadi.

Andi : “Tadi kata dokter gimana?”.. Aku ragu ragu menjawab pertanyaan andi namun aku harus bilang sejujurnya.

Aku : “A aaku hamil ndi.” Aku tak kuasa menahan air mataku setelah mengatakan hal itu. Nampak ekspresi andi juga cukup bingung dan apa yang harus dilakukan..

Andi : “kamu tenang dulu ya. Apa kamu tau siapa ayahnya? Kita emang pernah lakuin itu tapi udah lama banget kan.”

Aku : “Aku gak tau ndi,, kata dokter mungkin usia kehamilan baru sebulan”

Andi : “Kita udah hampir dua bulan gak lakuin itu kan. Terakhir waktu aku masih satu kos sama mas rozak, dan waktu kamu ke kosku kita gak lakuin hal itu.”

Aku : “Jadi maksud kamu ini bukan anak kamu?”

Andi : “Yah harusnya seperti itu.. Lagian aku juga gak siap kalau harus nikah sekarang.. Aku gak mau terlibat lagi..” Andi langsung pergi begitu saja dariku. Meninggalkanku yang menangis mematung didepan kamar kosku.. Dalam fikirku rasa bingung dan bersalah berkecamuk. Aku benar benar bodoh dan merasa berdosa..

Aku mengingat kembali sakitar sebulan yang lalu om tarjo adalah orang yang berhubungan denganku bersama teman temanya waktu ditempat karaoke. Aku mencoba menghubungi om tarjo namun saat aku menelpon justru ada suara perempuan disebrang sana yang mengangkat telponku.

Aku : “Halo om.”

W : “Halo, ini siapa?”

Aku : “Maaf ini nomernya om tarjo kan?”

W : “Iya ini nomer suami saya. Saya istrinya.”

Mendengar kata-kata itu aku langsung terdiam dan kembali menangiss.

Aku : “Iyaa maaf bu..gak ada apa-apa kok.” Aku langsung menutup telponku.. Aku masuk kekamar dan menangis diatas tempat tidurku.. Rasa kecewa, sedih, bersalah dan merasa kotor itu semua yang ada dalam benakku saat ini.

Dalam rasa sedih mendalam ini aku mengingat seorang yang benar benar menyayangiku dengan tulus hingga saat ini namun aku mengkhianati kesetiaannya. Aku mengingat mas rozak, sosok yang tulus padaku dan mau menerimaku apa adanya.. Sudah sebulan lebih hubungan kami renggang karna dia ingin berubah jadi lebih baik. Dia sering mengingatkanku untuk ibadah dan sering menghubungiku namun aku yang terlalu cuek dan lebih mementingkan nafsu birahiku.. Aku benar benar hina saat ini. Kenapa aku sia-siakan dia Tuhan. Tangisku mengalir deras tak terbendung.

Saat ini andi dan om tarjo tidak mungkin akan bertanggung jawab atas anak ini. Lalu apa yang harus kulakukan. Apa aku harus mengatakan sejujurnya pada mas rozak? Bimbang dalam hatiku, namun sebaiknya itu yang kulakukan.. Aku tidak bisa terus menyembunyikan semua. Tidak mungkin pula menutupi kehamilanku dan aku tidak mau menggugurkan janin ini.. Dosaku sudah terlalu banyak aku tidak mau menambahnya lagi..

Aku memberanikan diriku untuk menelpon mas rozak. Setelah menelpon beberapa kali akhrinya dia mengangkat telponku

Aku : “Assalamuallaikum mas rozak.”

Mas Rozak : “Wa’alaikumsalam, ada apa dek? Kok tumben telpon kamu gak kerja?”

Aku : “Ada yang mau aku omongin mas,, nanti sore ada waktu untuk ketemu?”

Mas Rozak : “Emm kok kayaknya serius banget dek? Ada masalah apa?”

Aku : “Aku ceritain nanti ya mas kalau kita ketemu.”

Mas Rozak : “Iya Insyaallah nanti sore bisa ketemu kok.Mau aku jemput ke kos?”

Aku : “Iya mas.. Tolong jemput kesini ya.”

Mas Rozak : “Tumben bahasanya pakai kata tolong?”

Aku : “gakpapa mas. Aku seneng aja kamu masih mau ketemu sama aku.”

Mas Rozak : “Kok sampai gitu ngomongnya dek?”

Aku : “Aku tunggu ya mas. Assalamuallaikum”

Aku langsung menutup telponku. Rasanya aku masih menganggap diriku sudah tak pantas untuknya. Aku tidak tau apakah mas rozak akan marah dan meninggalkanku nanti setelah aku mengatakan semuanya.

Sore pun tiba dan mas rozak sudah mengirim pesan padaku bahwa dia sudah berangkat menuju kosku.. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang dulu dibelikan olehnya. Gamis yang indah berwarna merah muda. Dengan memakai jilbab yang senada. Aku berusaha tampil sebaik mungkin untuknya.

“Assalamuallaikum” Kudengar suara dari depan kamarku. Sepertinya mas rozak sudah sampai.

“Wa’alaikumsalam. Iya mas bentar ya.” Aku bergegas merapikan pakaianku dan membuka pintu kamarku. Didepan sana kulihat sosok lelaki yang benar benar berbeda dari terakhir aku bertemu denganya. Dengan kemeja rapi dan celana hitam mas rozak terlihat lebih dewasa.. Dia juga nampak cukup terkejut melihatku berpakaian seperti ini..

“Subhanallah.. Kamu nampak lebih cantik dengan gamis ini dek.”

“Makasih mas.”

“Astagfirullah, maaf ya jadi terlalu merhatiin tubuh kamu.”

“gakpapa mas. Aku juga minta maaf.”

“Kamu kan gak salah dek kenapa minta maaf?”

“Aku banyak salah mas. Kita cari tempat yang enak buat ngobrol dulu ya.”

“Hmm iya deh,, nanti kamu ceritain ya..”

Aku membonceng mas rozak menaiki motornya. Sudah sangat lama aku tidak bersamanya. Reflek tanganku merangkulnya. Namun mas rozak menolak tanganku. Aku cukup sedih karna hal itu.. Setelah berjalan beberapa menit kamu sampai disebuah café yang nyaman untuk ngobrol dan tempatnya masih sepi karna masih sore. Biasanya kalau malam pasti banyak anak muda yang nongkrong.

Setelah memesan minum dan tempat duduk akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka obrolan ini..Satu hal yang kuharap adalah mas rozak tidak pergi meninggalkanku walaupun itu sulit.

Aku : “Maaf mas, aku dadakan ngajak kamu ketemu.”

Mas Rozak : “Iya gakpapa dek, lagian aku lagi gak sibuk kok. Kamu mau ngomongin tentang apa ?”

Aku : “Sebelumnya aku mohon sama mas rozak walaupun nanti mas rozak marah sama aku tolong dengerin sampai ceritaku selesai. Dan aku mau minta maaf mas kalau ceritaku nanti bikin mas rozak kecewa.” Mendengarku mengatakan hal itu ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih serius.

Mas Rozak : “Iya dek Insyaallah ya. Aku akan dengerin semua cerita kamu. Jadi ada apa sebenernya?”

Minuman yang kami pesan akhirnya sampai.. Setelah meminumnya sedikit barulah aku mulai menceritakan semua.

Akupun menjelaskan semua yang terjadi sejak aku menginap dikosnya sampai sekarang ini kepada mas rozak. Mendengar semua yang kuceritakan mas rozak hanya diam dan tidak berkata apapun. Dari raut wajahnya aku tau dia merasa kecewa dan marah, namun dia tidak memalingkan wajah dariku dan tetap mendengarkan semuanya sampai ceritaku selesai. Setelah semua ceritaku selesai kami saling terdiam. Aku mulai meneteskan air mataku , aku tidak berani untuk menatapnya walaupun mas rozak didepanku. Aku memejamkan mataku menutupnya dengan kedua tanganku. Tiba-tiba kudengar suara kursi didepanku bergeser. Apakah mas rozak pergi?

-Bersambung-