. Cerita Seks Desahan Wanita Berhijab | Kisah Malam

Cerita Seks Desahan Wanita Berhijab

0
470

Cerita Seks Desahan Wanita Berhijab – Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nida, menyuruh Mbak Nida memegang penis Mas Arif. Mbak Nida kelihatannya menurut dan memasukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mbak Nida menolak.

“Yaaa.. itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke” desahku dalam hati kecewa.

Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif tiba tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nida. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.

Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nidapun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nida hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.

Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya.

“Kecil sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati melihat penis Mas Arif.

Mas Arifpun langsung menghimpit Mbak Nida, tampaknya Mas Arif akan mempenetrasi Mbak Nida. Kulihat Mbak Nida memelorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nida yang tertutup bulu jembut. Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam pepek Mbak Nida, Mas Arif langsung memeluk Mbak Nida sambil menciumnya bertubu tubi. Itu dilakukan cukup lama.

Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan genjotan, tidak mendorong dorong pinggulnya? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nida.

“Waaah..ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku” kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.

Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan tumpangsari pada Mbak Nida.

Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Nida tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku menangkap kekecewaan di muka Mbak Nida, meski Mbak Nida berusaha tersenyum setelah permainan itu, tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.

Peristiwa observasi awal hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nida dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nida !

Itulah tekadku, aku mulai menyusun taktik. Mas Arif itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Nida. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.

Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,
“Hai Bud, apa kabar ?” tanya Toni sambil menjabat tanganku.

“Baik” jawabku sambil tersenyum.

“Silahkan duduk”

Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,

“Ton, aku butuh bantuanmu”

“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”

“Aku butuh pekerjaan”

“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?”

“Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain”
“Hm memangnya untuk siapa ?”

“Untuk temanku, Mas Arif, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggitinggi betul jabatannya”

“Aneh, tapi jika itu maumu, yaa tidak apa apa”

“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali”

“Oke, baik kalau gitu”

“Tapi nanti jadwal wawancaranya aku yang tentuin”

“Terserah kamu”

Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jumat dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.

Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.

Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mbak Nida itu.

Sesampainya di kos kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.

“Mas. saya ingin bicara sebentar” kataku mulai membuka percakapan.

Mas Arifpun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.

“Ada apa Bud ?”

“Begini,saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang” jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.

Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu

“Hmmm.saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!”

“Ya Mas” kataku dengan senyuman.

Dalam hatiku, aku berpikir Habislah sudah kesempatanku !

Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun cepat cepat membuka pintu

“Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja” Mas Arif tiba tiba permisi.

“Eee.nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih” kataku berusaha mencegah Mas Arif pergi.

“Gangguin tidur kamu nggak ?”

“Ndak ndak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan.

Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,

“Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ? Mas Arif bertanya.”

“Ooo itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok”

“Syaratnya gimana ?”

“Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana. temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi”

“Wah kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja Mas Arif sepertinya keberatan.”

“Enggak nggak koq, perusahaannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meyakinkan Mas Arif.

“Hmmm baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?”

“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja kataku menyarankan.”

Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.

[table id=iklanlapak /]

Hari ini selasa, sesuai prediksiku, Mas Arif pagi pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.

Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,

“Assalamualaikum” aku memberi salam.

“Waalaikumussalam” terdengar jawaban Mas Arif dari dalam kamarnya.

Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan memakai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nida tampak cantik sekali.

“Bagaimana Mas, tadi ?” tanyaku

“Oh nanti saya disuruh ke sana lagi,” besok untuk test wawancara

“Alhamdulillah, tak doain supaya berhasil”

“Terima kasih”

Setelah berbasa basi cukup lama, akupun permisi.

“Eehh nanti dulu, kamu khan belum minum” Mas Arif berusaha mencegahku.

“Ayo Nida buatkan air minumnya dong” perintah Mas Arif menyuruh istrinya, Mbak Nida.

Aku menolak dengan halus,

“Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, ada urusan”

“Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya”

Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Nida tidak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke kamarku, riang karena sebentar lagi adikku akan bersarang dan menemukan pasangannya.

Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Nida sendirian di kamarnya. Rencana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.

Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku, mengetuk pintu,

“Assalamualaikum” aku memberi salam.

Lama baru terdengar jawaban,

“Waalaikumussalam” jawaban Mbak Nida dari dalam kamar itu.

Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Nida melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,

“Ada apa ya ? tanyanya.”

“Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.

“Oh, baiklah” kata Mbak Nida sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.

“Eee tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak” di komputernya Mas Arif kataku mengarang alasan.

Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Nida mempersilahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.

Di dalam kamar, aku menghidupkan komputer dan mengoperasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcdku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.

“Mbak pingin nonton ?” tanyaku sambil melihat Mbak Nida yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.

“Film apa sih ?” tanya Mbak Nida kepadaku.

Pokoknya bagus jawabku sambil kemudian memberikan petunjuk bagi Mbak
Nida , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.

Mbak Nida hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian intinya.

Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nida.

Setelah di kamarku. melalui ventilasi kulihat Mbak Nida menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.

Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nida masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Nida menyukainya.

Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan Mbak Nida pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak gerak di dalam rok itu.

“Hhh.. hhhh. oohhh.. oohhh” suara Mbak Nida mendesah desah , tampaknya merasakan kenikmatan.

“Aku kaget,”

“Wah hebat dia masturbasi” kataku dalam hati.

Ingin aku masuk ke kamar Mbak Nida, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan ber inisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain mainkan penisku.

Film di komputer itu terus berjalan hingga telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Nida kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nida ternyata masih meneruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.

“Akkkhhhhhhh” Mbak Nida terpekik pelan menandai orgasmenya.

Sesaat setelah orgasme Mbak Nida yang kelima akupun ejakulasi.

“Oooorghhhh” suara beratku mengiringi luapan sperma di tanganku.

Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Arif dan bisa memuaskan Mbak Nida nantinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.

Kemudian Mbak Nida sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Vcdnya dan mematikan komputer.

Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit berdebar debar aku menunggu perkembangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau kalau Mbak Nida ngomong macam macam soal Vcd itu, bisa berabe aku!

Tetapi lama.. kelihatannya tak terjadi apa apa. Kembali aku mengintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.

Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Mbak Nida dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif, mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Nida kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nida seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.

“Ah Mas Arif nggak pandai merangsang sih,” pikirku.

Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, membuat Mbak Nida tidak bisa lagi mencapai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nida akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesempatanku.

[table id=Lgcash88 /]

Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah mengintip Mbak Nida dan Mas Arif seharian, mereka kemarin bersetubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mbak Nida tidak bisa orgasme.

Malam kemarin aku juga sudah bersiap siap dengan minum segelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.

Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Nida yang sedang sendirian.

Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,

“Assalamualaikum” aku memberi salam.

“Waalaikumussalam” suara lembut Mbak Nida menyahut dari dalam kamar.

Mbak Nidapun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.

“Oh ya, saya lupa memberitahukan cara menghidupkan Vcd kemarin” kataku sambil tersenyum.

“Tiba tiba raut muka Mbak Nida menjadi sangat serius,”

“Kamu kurang ajar ya, masa ngasiin Vcd porno gituan ke Mbak” kata Mbak Nida sedikit keras.

Aku kaget, ternyata ia marah, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,

“Oh maaf Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi Nabi buatan TV3 Malaysia, maaf kalau tertukar, yah” saya ambil saja lagi

Mbak Nida masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.

Mbak Nida kaget, melihatku mengikuti langkahnya,

“Eeeh kamu kok ikut masuk juga ?!”

Sambil menutup pintu,

“Tenang” aku menjawab,

“Alaa Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”

“Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan berteriak” bentak Mbak Nida.

“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan” kataku sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.

Mbak Nida terkejut,

“Kamu..”

Tak sempat ia menyelesaikan kata kata, aku memotongnya,

“Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Nida, saya jamin Mbak Nida bisa orgasme bila main dengan saya”

“Kurang ajar ! Keluar kamu !”

“Eeee tidak segampang itu, ayolah Mbak Nida jangan marah, pikirkan dulu, saya satu satunya kesempatan, bila Mbak Nida tidak memakai saya, seumurumur Mbak Nida nggak akan pernah mencapai orgasme lagi aku mulai menghasutnya.”

Mbak Nida terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi

“Tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !”

Aku gemetar, tapi tetap berusaha,

“Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !” kataku sedikit tegas.

Lama kulihat Mbak Nida terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura pura mengalah

“Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mbak !” kataku sambil beranjak pergi.

Tetapi kulihat Mbak Nida hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Nida, kulihat ia menangis,

“Mbak jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mbak” kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.

Lalu pelan pelan kupegang pundak Mbak Nida dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ternyata Mbak Nida hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.

[table id=Ads4D /]

Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah lubang birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali kali.

“Akhhh.. akhhh. ahhhhhh” desahan Mbak Nida mengiringi setiap tusukan jemariku.

Aku ingin membuatnya terangsang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana panjang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi tubi, menjilat paha putih Mbak Nida dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nida yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.

Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,

“Elmm.. mmmm. emmmm” dan lidahku menari nari di atasnya, terkadang kugigit pelan pelan berkali kali,

“Akhh. ooohhhh aaahhhhh” suara Mbak Nida mendesah kuat tanda terangsang.

Jemari tanganku semakin kupercepat menusuk memek Mbak Nida dan lidahku makin menggila menari nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.

Perlahan kubimbing Mbak Nida mencapai puncaknya, hingga akhirnya

“Aaaaaaakkkhhhhhh” pekikan pelan Mbak Nida mengiringi orgasmenya.

Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina Mbak Nida yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.

Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Nida mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,

“Ahhh. ahhhh. yaah.. yaahh” suara Mbak Nida mulai meracau.

Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Nida, tangan kananku mulai meremas blus Mbak Nida, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nida yang indah membukit.

Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Mbak Nida bergantian,

“Slurrpp. slrrrrpp.. slluuurpp” aku menghisap puting Mbak Nida, sementara desahan Mbak Nida terdengar halus di telingaku,

“Akhh. teruuss.. teruuusss” Sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina Mbak Nida, dan vagina itu semakin becek,

“Crrtt.. crrttslrrpp”

Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Nida yang mendesah desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam dalam, Mbak Nida sedikit kaget,

“Ohhh oomlmmm elmmmm” Mbak Nida tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menarinari.

Aku memang berusaha membimbing Mbak Nida agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa memasukkan penisku, mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.

Sambil mencium dan merangsang pepek Mbak Nida, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melemparkannya ke lantai. Tangan kananku mengeluselus kontolku yang terasa mulai mengeras.

Lama akhirnya Mbak Nida mencapai orgasmenya yang kedua kali,

“Ooorrggghhhhh..”

Mbak Nida mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan penisku pelan pelan ke dalam vaginanya.

“Aaaaaahhhhh” suara Mbak Nida terpekik, matanya sayup sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.

Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Nida dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelanpelan lama kelamaan menjadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,

“Sllrrtttcccrrttt ccrrplpp” suara becek itu terus berulangulang seiring dengan irama tusukanku.

“Akhhh yaaahh terus” suara desahan Mbak Nida keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya kusandarkan di pundakku, pinggul Mbak Nida sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku berulang ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Nida yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.

“Ahhh.. ahhh. aaahhh”

“Ohhhohhhh.. hhhh”

Suara desahanku dan Mbak Nida terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.

Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Nida, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap hadapan, sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.

Tanganku memegang pinggul Mbak Nida, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang bersenggayut dan tergoyanggoyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya bergantian.

Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama..

“Oooohhhhhhh..” lenguhan panjang Mbak Nida menandai orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.

Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Nida dan Mbak Nida juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.

Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Nida ternyata menangis !

“Kenapa Mbak Nida ? saya menyakiti Mbak ya ?!” tanyaku lembut penuh sesal.

Masih terisak, Mbak Nida menjawab,

“Ah.. nggak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia”

Kami berdua tersenyum, kemudian pelan aku baringkan Mbak Nida. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.

Sambil meremas kedua payudaranya, aku membolak balikkan badan Mbak Nida ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,

“Ahhh.. ahhh. a aahhh”

“Ohhh ohhhh.. hhhh”

Terus, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat uratku menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.

Aku ingin melakukannya bersama dengan Mbak Nida. Untuk itu aku memeluk Mbak Nida, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Nida kembali terangsang, bahkan terlalu cepat.

Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Nida,

“Tahan tahan Mbak, kita lakukan bersama sama ya”

“Ohhh ohhh. ohhhh.. aku sudah tak tahan lagi” desah Mbak Nida, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.

“Pelan.. pelan saja Mbak, kita lakukan serentak” kataku membisik sambil kupelankan tusukan penisku.

Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat urat syarafku menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang ulang dengan cepat.

“Akhhh ooohhh ohhh” suara Mbak Nida mendesah. Kepalanya tersentak sentak karena dorongan penisku.

“Lepaskan.. lepaskan Mbak, sekarang !” suaraku mengiringi desahan Mbak Nida, Mbak Nida menuruti saranku, diapun akhirnya melepaskan orgasmenya,

“Aaaakkhhhhh”

Ooorggghhhhh suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi orgasme Mbak Nida. Erat kupeluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.

Setelah permainan itu, dalam keadaan bugil aku tiduran terlentang di samping Mbak Nida yang juga telanjang. Mbak Nida memelukku dan mencium pipiku berkali kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,

“Terima kasih Bud”

Mbak Nida kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan menyesal melakukan ini dengan Mbak Nida, aku takut ia tidak akan pernah lagi mencapai orgasme selain dengan diriku, ini berarti aku menyengsarakan Mbak Nida.

END – Cerita Seks Desahan Wanita Berhijab | Cerita Seks Desahan Wanita Berhijab – END