. Cerita Lama Sungai Hitam Part 11 | Kisah Malam

Cerita Lama Sungai Hitam Part 11

0
221

Cerita Lama Sungai Hitam Part 11

Kamis, 10 Maret pukul 20:03
Musik mengalun pelan. Aku duduk di sebuah meja kecil di pojok. Seorang gadis pelayan baru saja mengantarkan minumanku. Dan aku melihat kerlingan matanya padaku. Aku memperhatikan postur tubuhnya dari belakang. Rambut panjangnya yang lurus dibawah pundak. Mengenakan kemeja putih sedikit ketat, seragam waitress bar tersebut. Dengan rok hitam sedikit di atas lutut. Pinggulnya cukup berbentuk, bulat menggairahkan. Namanya Aisya. Baru sebulan kerja disini. Bentuk tubuhnya bisa dibilang sempurna. Apalagi dengan kemejanya yg ketat, tonjolan payudaranya cukup terekspos. Wajahnya tidak termasuk cantik sekali, kalo dibilang menarik, well itu relatif tergantung penilaian masing-masing. Namun ada sesuatu yang aku suka darinya. Aura sensual yang malu-malu yang tersimpan dalam sikap dan tingkah lakunya. Itu yang menarik perhatianku.

Aku minum sedikit ketika aku perhatikan Aisya mengantarkan pesanan ke meja lain dan seolah-olah tanpa sengaja dia melirik padaku. Dan ketika kami bertemu pandang, matanya beralih ke arah lain. Dan meletakkan nampan di dada menutupi payudaranya yang menonjol. Yang aku yakin kedua gunung itu lah yang membuat mata para lelaki tidak beralih darinya bukan karena faktor wajahnya. Setelah aku menghabiskan sebatang rokok dan minumanku. Aku membayar di kasir dan aku pergi keluar dari bar itu.

Aku mengendarai mobil Fortuner-ku menuju rumah. Sambil membayangkan sikap malu-malu dan sensual dari Aisya. Terus terang kegiatanku sebulan ini di bar itu, hanya memperhatikan Aisya. Kadang-kadang di sela-sela kancing kemejanya terlihat sedikit bra nya ketika dia menunduk meletakkan minumanku di meja. Dan bagaimana dia tidak berani menatap mataku ketika dia tahu aku sedang memandangnya. Ingin hatiku mengantar dia pulang ke rumah. Tapi kuurungkan niatku. It’s not my style. Lagipula aku kenal dekat dengan pemilik bar. Aku tidak enak bila terjadi gosip yang tidak enak di bar tersebut. Sebenarnya aku lebih memikirkan perasaan Aisya apabila hal itu terjadi.

Harus kuakui, Aisya juga yg selalu mengisi pikiranku selama hampir 3 minggu ini. Tadinya yang hanya dua kali seminggu aku menghabiskan waktu di bar itu. Kini bertambah satu hari lagi menjadi tiga kali seminggu. Pernah aku berkhayal, Aisya berlutut di bawah meja bar, sambil dia menggerayangi selangkanganku, mengelus-elus penisku, menyentuh kepala penisku dengan jari-jari kecilnya atau dengan ujung telunjuknya menyusuri lubang kencingku.

Itulah aku dengan segala khayalanku disela-sela kegiatanku di perusahaanku. Membuat sedikit kemaluanku bereaksi ketika membayangkan Aisya melakukan semua itu. Dan membuat pikiranku tidak fokus di kantor.

Mungkin semua bertanya-tanya kenapa aku tidak mengajaknya kencan? Well, faktor utama itu bukan gayaku. Aku tidak pernah mau berkencan atau apalah istilahnya setelah aku berpisah dari istriku 10 tahun yang lalu. Apakah karena gengsi dia seorang waitres? Bukan karena itu, bisa dikatakan aku menikmati seorang wanita dari sisi yang mungkin beda dari kebanyakan pria lainnya. Kebanyakan yah aku bilang, bukan berarti hanya aku saja, mungkin ada pria-pria lain yang seperti aku.
Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk memulai rencanaku.

SABTU, 12 MARET PUKUL 20:03
Aku memesan minuman yang sama seperti biasanya. Ketika Aisya mengantar pesananku. Seperti biasa aku pura-pura tidak melihat kerlingannya padaku. Ketika dia hendak berbalik, aku meraih pergelangan tangannya.
“Tunggu Aisya.”

Dia terlihat kaget. Kuperhatikan ada semburat malu di wajahnya. Matanya agak menunduk. Entah dia malu karena aku pegang pergelangan tangannya atau karena aku bisa tahu namanya.
“Bisa bicara sebentar?”
Dia terlihat ragu. Aku melanjutkan perkataanku.
“Jangan khawatir, aku kenal dengan Pak Budi. Dia tidak akan memarahimu karena bicara sebentar denganku.” Aku tersenyum.

Aisya masih terlihat ragu tapi dia pelan-pelan duduk dikursi disebelahku. Aku sengaja meletakkan kursi disebelahku. Posisinya bisa dibilang sangat dekat dengan kursiku. Aisya meletakkan nampan di pangkuannya. Dadanya tertekan ujung meja membuat payudaranya semakin condong ke atas. Aisya tetap menunduk, tidak berani menatap mataku. Dadanya terlihat naik turun.
Akhirnya dia mengeluarkan suara.
“Ada apa, pak?” tanyanya.
Seperti penilaianku akan tingkah lakunya yang pemalu, Aisya terlihat sedikit menggigit bibir bawahnya. Tangannya tidak bisa diam bergerak sedikit-sedikit berpindah tempat memegang pinggiran nampannya. Dia terlihat sangat gugup. Inilah yang aku suka dari seorang wanita. Sifat malu-malunya dan ketidakpercayadiriannya. Terlihat sekali di mataku betapa keadaan Aisya sekarang sangat menggodaku. Aisya terlihat sangat sensual di mataku.
“Aku antar kamu pulang ya hari ini, selesai tugas kamu hari ini jam 9 kan.” Jawabku sambil menatap wajahnya.
Aisya tidak menjawab tapi kini dia mulai mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku. Mungkin dia ingin melihat apakah aku becanda atau serius. Aku memperlihatkan wajah serius dan pandangan yang memperlihatkan bahwa Aisya tidak punya pilihan untuk menolak ajakanku.
Aisya menatapku, aku menatapnya lebih tajam. Dan akhirnya dia tertunduk dan mengangguk.
“Baiklah nanti begitu kamu keluar, cari mobil Fortuner hitam.” Aku sebutkan nomor kendaraan aku.
Aisya mengangguk lagi. Dan dia berdiri. Aku memperhatikan sepintas bahwa bibirnya seperti bergerak untuk tersenyum tapi tidak jadi.

PUKUL 20:45
Aku duduk di dalam mobilku. Menunggu Aisya selesai jam kerjanya. Aku teringat kemarin malam. Aku menelpon si Budi pemilik bar.
“Bud, gua mau ajak Aisya liburan satu minggu. Jadi gua minta ijin dia ga kerja seminggu.” Ujarku padanya di telepon tanpa basa basi.
“Gila loe.” Teriaknya dari ujung telepon.
“Ah gua jamin tidak akan terjadi apa-apa sama dia. Kan loe uda kenal banget gua. Pokoknya soal gajinya atau loe harus bayar pegawai lain dobel untuk menggantikan Aisya. Loe bilang aja ama gua berapa, entar gua gantiin.” Paksaku.
“Bener yah, loe jamin ga akan terjadi yang aneh-aneh ama dia.” Budi meminta jaminan.
“Beres bos. Satu minggu yah. Mulai Minggu. Thanks bro. ” aku tutup teleponku.

Hujan agak turun gerimis saat itu. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya buat Aisya. Setelah aku rencanakan selama satu minggu belakangan ini. Terus terang, aku mulai ketagihan dengan khayalanku tentang Aisya. Sekali lagi terbayang olehku, dia berlutut di depanku. Membuka ritsleting celanaku. Mengeluarkan penisku, lalu dia mengocok penisku dengan jarinya. Dia mencium kepala penisku. Lalu dia membuka mulutnya. Mengoleskan bibirnya yang merah dan menjepit kepala penisku.

Tiba-tiba lamunanku buyar ketika sekelebat bayangan keluar dari pintu bar. Aisya. Dia melihat sekeliling mencari Fortuner hitam. Aku keluar mobil. Melambaikan tanganku padanya. Dia berlari kecil menghampiriku. Hujan sedikit lebih deras dari sebelumnya.

PUKUL 21:03
Aisya duduk di sampingku di sebelah kemudi. Tangannya diletakkan di pangkuannya. Punggungnya bersandar lurus. Ketika dia duduk seperti itu. Dadanya terlihat menonjol sekali. Entah kenapa, aku membenarkan posisi dudukku melihat Aisya begitu.
“kita mau kemana, pak?” tanyanya dengan nada suara sedikit gemetar.
“Kamu takut padaku, Aisha?” tanyaku sambil memperhatikan jalan karena hujan sudah mulai lebat.
Aisya lama menjawab seakan-akan mempertimbangkan masak-masak apa yang harus dijawabnya.
“Tidak pak, kan aku percaya bapak orang baik dan bapak kan temannya Pak Budi.” Jawabnya diplomatis.

Aku bisa merasakan kekhawatirannya bercampur dengan perasaan senang. Bukannya aku ge-er istilah umumnya. Tapi aku yakin Aisya ada menyimpan rasa suka padaku. Karena melihat gelagatnya ketika aku sedang di bar. Aku membandingkan tingkah laku dia kepada pelanggan lain dan padaku.

Sebenarnya waitres-waitres yang lain lebih cantik dan lebih seksi dibandingkan Aisya. Mereka berpakaian lebih berani. Kadang kancing atas kemeja mereka sengaja dilepas satu atau sengaja menaikkan rok lebih tinggi sehingga paha mereka lebih terlihat. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk menggoda pengunjung bar. Aku pun pernah digoda oleh mereka. Tapi tidak ada yang membuatku tertarik.

Tetapi begitu Aisya bekerja disitu. Aku merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang menarik minatku untuk memperhatikannya lebih lanjut.
Rencanaku sekarang adalah membawanya ke rumahku. Rumahku besar dengan pekarangan yang luas. Rumah yang aku beli ketika aku menikah dengan istriku dari seorang keturunan bangsawan yang jatuh bangkrut. Rumahku itu agak terpencil. Pekarangannya banyak ditumbuhi pohon-pohon cemara besar. Yang istimewa dari tempat tinggalku selain bangunan dan pekarangannya yang luas adalah sebuah sungai yang cukup lebar yang mengalir di sebelah rumahku. Arusnya tidak besar kecuali kalo sedang hujan besar. Hanya sungai biasa warna airnya coklat tapi sungai ini berwarna hitam, entah apa yang menyebabkan warnanya hitam. Mungkin ada sejenis tumbuhan-tumbuhan air didasarnya yang berwarna hitam. Sungainya tidak dalam, aku pernah mencoba masuk ketika arusnya sedang tenang. Paling setinggi dadaku. Aku merasakan di bawah kakiku, bukan permukaan keras tapi ya tadi itu seperti ada tumbuhan-tumbuhan yang lembek bergerak-gerak di dasar sungai.

Ketika aku sedang membelok ke kiri. Aku melihat Aisya sedang mengolesi bibir dengan lidahnya. Oh, luar biasa sensasi aneh yang kurasakan. Aku merasakan betapa lidahnya bersentuhan dengan kulit penisku. Membuat aku membetulkan lagi posisi dudukku.
“Aisya, kita ke rumah aku dulu ya. Kita bisa ngobrol-ngobrol santai disana.” Kataku begitu sudah hampir sampai dirumahku.

Pintu gerbang aku buka dengan remote dari mobilku. Rumah tua tapi terus terang sudah kupercanggih dengan berbagai teknologi. Seperti gerbang otomatis, cctv di berbagai sudut.
Aisya melihat jalan masuk yg agak panjang menuju sebuah rumah besar dua tingkat. Dia terlihat kagum. Hujan sangat deras sekali.
“Aisya, maaf kayaknya kita harus berlari masuk ke dalam rumah dalam hujan.” Aku tersenyum.
Dia mengangguk. Kami berlarian menuju ke pintu rumah.

PUKUL 21:30
Kemejaku basah walaupun jarak dari mobil ke pintu rumah tidak jauh. Kuperhatikan kemeja Aisya yang berwarna putih basah juga. Branya yang warna pink tercetak jelas di kemejanya. Aisya sibuk membereskan rambutnya yang basah tanpa menyadari arah pandanganku.

Aku menyuruhnya duduk. Aku tersenyum sedikit licik. Padahal ada payung yang cukup besar di dalam mobilku untuk kami berdua pakai.
“Duduk dulu Aisya. Aku ambil handuk dan minuman buat kamu.”
Aku berjalan ke arah bar ku di ujung ruang tamu. Aku mengambil sebotol vodka dan kutuangkan di sebuah gelas dengan aku masukkan potongan lemon di bagian dasar gelas.

Aku menghampiri Aisya yang lagi duduk dan kuberi dia handuk yang langsung dia pakai untuk menutupi kemejanya bagian depan. Tampaknya dia sudah sadar bahwa branya terlihat dibalik kemejanya yang basah. Dia terlihat malu dengan situasi itu. Apalagi dia melihat bahwa aku memperhatikan dadanya.

Kuletakkan minumannya di meja. Aku duduk di sofa sebelah Aisya. Dia terlihat heran betapa aku tahu minuman kesukaannya selama kerja di bar. Seperti aku bilang, aku memperhatikannya selama ini.
Aku menyilangkan kaki, sebenarnya menutupi kemaluanku yang mulai bereaksi. Aku mempersilahkan Aisya untuk minum.
Aku tersenyum ketika dia sudah menyicip satu teguk vodka.
“Inilah rumah kecilku, Aisya.” Kataku sambil tertawa.
Aisya ikut tertawa.
“Kecil apanya , pak. Ini beberapa puluh kali lipat ukuran kamar kos aku.” Jawabnya.
Aisya terlihat kikuk, tanpa sadar cara duduknya yang gelisah, membuat roknya tertarik ke atas sehingga kini bagian atas lututnya lebih terlihat. Sebagian pahanya terlihat. Tidak kecil, bisa dibilang berisi. Aku suka paha yang seperti itu.

Sebenarnya tanpa Aisya sadari, aku sudah memasukkan obat tidur di dalam minumannya. Dan efeknya mulai terlihat. Aisya beberapa kali memejamkan matanya.
“Kenapa Aisya?” tanyaku pura-pura perhatian.
Aisya menggeleng sampai akhirnya dia menyandarkan dirinya di sofa. Dan tertidur.

PUKUL 22:45
Aku memperhatikan dari LED 40 inch milikku. Aisya sedang terbaring di basemen rumahku. Ruangan bawah tanah ini tidak besar kira-kira 8×5 meter persegi. Aku sediakan kloset untuk buang air. Satu kakinya kuborgol dengan borgol bulu yang ujung rantainya aku gembok dengan kokoh pada gelang besi di pojok basemen. Aisya masih tertidur dengan baju seragamnya di lantai basemen yang dingin. Jangan bayangkan aku melucuti pakaiannya ketika dia terkena efek obat tidur. Aku bukan seorang seperti itu. Lagipula aku tidak ingin dia sakit karena basemenku hawanya dingin. Dan aku tidak mencuri-curi kesempatan menggerayangi tubuhnya ketika dia sedang tertidur. Seperti yang aku bilang cara aku menikmati wanita mungkin tidak seperti kebanyakan pria lain. Di ujung dinding lain sudah aku pasang LED 40 inch juga dan aku sudah simpan sederetan cuplikan adegan film pria dan wanita dengan suara erangan, rintihan, desahan yang akan menyelimuti ruangan bawah tanah tempat Aisya berada. Aku sudah mengatur sedemikian rupa panjang rantai Aisya sehingga dia tidak akan bisa menyentuh atau mendekati LED itu. Cuplikan itu sudah aku program dalam hardisk dengan durasi yang sangat panjang dan aku setting dalam tipe replay all.

Tidak beberapa lama kemudian, Aisya terlihat bergerak. Dan dia terlihat kaget. Terlihat panik. Apalagi menyadari kaki kanannya terborgol. Dia berusaha membuka borgolnya. Tidak berhasil. Dia berusaha menarik2 rantai dengan harapan akan terlepas dari dinding. Aku menikmati momen-momen ini. Tolong jangan salah sangka, aku bukan seorang maniak yang suka kekerasan. Nanti kalian akan tahu aku ini seperti apa.

Aisya mulai berdiri. Dia berjalan ke arah pintu. Seperti yang aku bilang aku sudah memperhitungkan panjang rantai. Aisya jelas tidak bisa mencapai pintu. Terlihat mulut Aisya membuka. Aku yakin dia sedang berteriak minta tolong. CCTV ku tidak bisa mengeluarkan suara. Sekali lagi Aisya berusaha membuka borgolnya dan menarik-narik rantai, sampai akhirnya dia berhenti karena mengetahui hal itu akan sia-sia. Aisya terduduk. Aku sudah menyimpan sekotak makanan dan minuman di dekatnya. Namun mungkin karena jengkel, Aisya menendangnya keras-keras sehingga makanan dan minumannya tercecer di lantai. Aku tersenyum.

PUKUL 23:45
Beberapa kali Aisya masih mencoba membuka borgol dan menarik-narik rantai. Tapi tetap sia-sia. Kini kepalanya menunduk berpangku pada lututnya. Jelas dia lagi menangis. Aku menyalakan sebatang rokok. Aku melihat bahu Aisya bergoyang, pertanda dia menangis cukup keras. Tanpa dia sadari sebenarnya aku sudah menggunting kecil bagian rok bawah kiri Aisya. Ini sebenarnya sedikit “keisengan”ku. Dengan sobekan kecil itu, apabila Aisya bergerak agak ekstrim, sobekan itu akan membesar. Terlihat bahwa sobekan rok nya membesar karena gerakan-gerakan Aisya tadi. Kini setengah paha kirinya terlihat, namun Aisya tidak menyadarinya.

Sambil menghisap rokok dalam-dalam, kunikmati keadaan Aisya yang tidak berdaya ini.
Ketika rokokku sudah padam. Tiba saatnya aku menemui Aisya. Aku turun ke ruang bawah tanah. Membuka pintu. Dan ketika aku masuk,
“Pak, tolong lepaskan aku…lepaskan aku!!!! Aisya memohon.
Aku tersenyum. Suaranya sedikit parau.
Aisya bergerak mendekatiku. Tapi aku sudah menjaga jarak sehingga dia tidak bisa menyentuhku.
Tangan Aisya berusaha meraih aku, namun usahanya jelas sia-sia. Aku menikmati kejadian ini. Mulutnya masih memohon-mohon untuk melepaskannya.
“Mau mendengarkan aku?” tanyaku kalem.
Aisya tidak mempedulikan pertanyaanku. Dia terus memohon untuk dilepaskan. Aku hanya tersenyum dan kembali ke arah pintu dan menguncinya. Terdengar sayup-sayup suara Aisya.
Aku kembali ke tempat LED ku berada. Aku melihat Aisya mengatupkan kedua tangannya ke arah kamera CCTV sambil mulutnya bergerak-gerak. Aku tersenyum. Sudah saatnya memutar cuplikan film di hardisk dengan volume yang cukup keras. Adegan pertama muncul dimana seorang wanita sedang berlutut dan mengoral penis seorang pria. Gumaman dan desahan wanita dan sang pria yang keenakan terdengar jelas. Aisya berhenti sebentar dan terlihat menatap LED. Lalu dia pergi ke ujung ruangan dan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Dia meringkuk disana. Berusaha menutup mata dan telinganya rapat-rapat. Aku tertawa melihatnya. Adegan 5 menit pertama selesai. Diakhiri dengan muncratnya sperma si pria dalam mulut wanita dimana si wanita jelas-jelas menikmati semprotan sperma dan menelannya. Adegan kedua, dengan karakter yang berbeda, seorang pria menjilati vagina si wanita. Aisya tetap meringkuk di pojok ruangan dengan tangan menutup telinganya tapi kini matanya terbuka hanya tidak mengarah ke LED.

Sudah hampir satu jam berlalu. Aisya masih meringkuk. Adegan film sudah berganti beberapa kali. Kini adegan seorang pria sedang menindih sang wanita, memasukkan penisnya ke vagina sang wanita dan lagi memompanya dengan bernafsu. Sudah saatnya aku menemui Aisya lagi.
Dan kembali lagi terjadi begitu aku masuk, Aisya langsung berlari ke arahku. Namun dia lupa, kakinya dirantai sehingga dia terjerembab ke depan. Untung tertahan kedua tangannya. Namun kemeja dan roknya terkena makanan dan minuman yang tercecer di lantai sehingga menempel di pakaiannya. Aisya kaget, bukannya memohon Aisya kini menangis. Meminta dilepaskan, aku sedikit merasa iba. Tapi aku menguatkan tekadku.
“Sudah mau mendengarkan aku?” aku bertanya lagi. Entah kenapa aku kerangsang dengan pakaian Aisya yang berlepotan makanan dan basah kena ceceran minuman tadi. Branya terlihat lagi dengan jelas. Belahan roknya semakin tinggi sehingga celana dalam merahnya sedikit terlihat. Aisya masih tidak menyadarinya. Mendengar pertanyaanku, dia kembali merintih dan memohon-mohon tanpa menjawab pertanyaanku.

MINGGU, 13 MARET PUKUL 02.10
Aku tertidur di sofa. Aku melihat Aisya meringkuk lagi dipojok. Terlihat tidak bergerak. Dia pun tertidur. Aku turun ke bawah, membuka pintu pelan-pelan. Kudekati Aisya lalu dengan gerakan cepat aku memborgol kedua pergelangan kaki Aisya. Hal ini membuat Aisya terbangun. Ketika dia hendak berdiri, dia sulit bergerak dan dia menyadari kakinya terborgol. Aisya terlihat lelah. Kini dia hanya memohon sambil menangis tanpa melihat ke arahku.
“Tolong lepaskan aku, pak.” Aisya mengucapkan itu beberapa kali.
“Sudah mau mendengarkan aku?” aku tidak menggubris perkataannya. Dengan masih nangis tersedu-sedu, anehnya dia mengangguk.
Aku tersenyum. Aku melihat roknya yang sobek terbuka lebar, memperlihatkan paha kirinya yang putih dan mulus terbuka lebar. Aku agak meneguk ludah melihat pemandangan ini.
“Kamu tahu kenapa aku melakukan ini? Ini karena aku suka sama kamu.”
Aisya menatapku dengan matanya yang basah karena menangis.
“Aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Karena itu aku melakukan ini agar kamu benar-benar milikku seutuhnya.” Aku melanjutkan.

Aisya seperti berusaha keras memahami ucapanku. Aku mengulurkan tanganku berusaha menghapus airmatanya. Tiba-tiba Aisya menggerakkan tangannya berusaha menjambak rambutku. Aku sudah bisa menebaknya. Aku tahan kedua tangannya. Dia terus meronta-ronta lalu aku mengeluarkan satu borgol lagi dan memborgol kedua tangannya. Lalu aku tinggalkan dia lagi sendirian di basemen.

PUKUL 06.15
Rupanya aku tertidur di sofa. Aku melihat jamku. Aku melirik LED. Aisya rupanya tertidur di lantai. Aku beruntung posisi tidurnya menyebabkan roknya terbuka lebar. Pahanya begitu indah terlihat dengan celana dalam merahnya mengintip di balik rok. Aku segera turun ke bawah. Aisya tidak terbangun dengan membukanya pintu. Aku berjongkok di dekatnya. Menatap seluruh tubuhnya. Tangannya terborgol dan kedua kakinya juga. Tatapanku berhenti di pahanya yang terpampang mulus. Aku menyentuhnya lembut dengan telapak tanganku. Halus sekali kulitnya. Aku telusuri dari pangkal lutut sampai jari-jariku menyentuh celana dalamnya. Muncul “keisengan” ku lagi. Pelan-pelan aku mencabut satu kancing bagian atas di kemejanya. Suara erangan, rintihan dan desahan dari LED berkumandang jelas di ruangan itu. Bra Aisya yang berwarna pink terlihat bagian atasnya. Aku usap pipinya yang masih terasa basah karena air matanya.
Aisyah terbangun, buru-buru dia menjauh dariku, meringkuk di pojok ruangan. Aku tersenyum.
Tapi pandangan Aisya begitu jijik padaku. Aku memakluminya. Aku keluar sebentar mengambil selimut. Ketika aku menyelimuti badannya, Aisya tidak bergeming sedikitpun bahkan tidak berusaha berontak. Aku meninggalkannya lagi.

PUKUL 07.00
Setelah aku sarapan, aku kembali ke tempat Aisya sambil membawa beberapa roti dan minuman. Posisi Aisya sudah berubah. Dia sedang duduk di atas selimut yang dia tebar di lantai. Ketika aku masuk terlihat sekali Aisya lagi menonton LED dan begitu melihatku dia langsung mengarahkan pandangannya ke bawah. Aku mendekatinya. Dia tetap menatap lantai.
“Kamu makan dulu ya rotinya.” Aku menyodorkan roti padanya.
Aisya tetap diam. Aku membuka bungkus roti dan aku memotong kecil roti dan menyodorkan ke mulutnya. Dengan enggan, Aisya membuka mulut dan makan roti itu pelan-pelan. Sambil memperhatikan Aisya makan, aku lihat kemeja bagian atasnya yg terbuka. Bra pink itu kembali menggodaku. Begitu juga dengan pahanya. Jelas Aisya sudah tidak memikirkan lagi pakaiannya. Kembali aku menyuapkan sepotong roti padanya. Sedikit demi sedikit dan dengan sabar aku menyuapinya sampai sepotong roti habis. Begitu aku membuka bungkus roti yang kedua dan menyuapkannya pada Aisya. Aisya tidak mau membuka mulutnya. Aku letakkan rotinya di lantai. Aku beri dia sebotol air mineral. Dan dengan tangannya yang terborgol dia minum sampai habis. Aku senang dia sudah mau makan dan minum.
Aku membenarkan rambutnya yang berantakan. Lalu aku usap pipinya dengan lembut. Aisya diam saja. Dia tetap memandang ke bawah. Kutinggalkan Aisya dalam diamnya.

Aku tidak akan menceritakan detil-detil yang tidak perlu. Yang pasti hari Minggu ini, Aisya tampaknya memutuskan untuk berdiam diri. Yang aku lakukan hanya menyuapinya makan dengan sabar karena dia makan dengan sangat pelan. Tapi tidak jadi masalah buatku karena hal seperti ini memang perlu kesabaran, tenaga dan waktu. Tapi aku yakin Aisya akan mengerti niatku ini.

SENIN 14 MARET PUKUL 07.00
Aku membawakan makanan dan minuman buat Aisya. Dari kemaren Aisya tetap mendiamkan aku. Setelah aku meletakkan makanan dan minuman. Aku mengecup keningnya.
“aku pergi kerja dulu ya sebentar.” Aku hendak berdiri ketika Aisya membuka mulut.
“Bagaimana dengan pekerjaanku kalau bapak menyekap aku disini?” tanyanya.
Aku tersenyum.
“jangan khawatir Aisya, aku sudah bicara dengan Budi. Kamu akan libur seminggu denganku. Kamu tidak akan dipecat. Aku janji padamu. Kamu akan kembali ke kehidupanmu Sabtu depan. Aku hanya butuh satu minggu untuk meyakinkanmu bahwa kamu itu seutuhnya milik aku.”
Mulut Aisya bergerak. Entah itu senyuman atau seringai.

Aku pergi meninggalkan Aisya di ruang basemenku.
Sesampai di kantor. Jelas ini bukan keputusan terbaikku. Pikiranku terbayang selalu Aisya. Tapi aku harus menyelesaikan masalah di kantor hari ini. Setelah itu aku akan ambil cuti satu minggu untuk menemani Aisya. Setelah selesai masalah kantor, aku buru-buru pulang ke rumah.

PUKUL 12:14
Begitu aku bertemu Aisya lagi. Dia sudah menghabiskan makanan dan minuman tadi pagi. Aku membawakannya yang baru. Seperti sebelumnya, dia mengalihkan pandangannya dari film di LED ketika aku masuk. Kali ini Aisya menatapku. Hanya aku lihat tatapannya masih menyimpan amarah akan perlakuanku padanya.
Aku mencoba duduk disebelahnya. Aisya diam tidak menunjukkan tanda-tanda akan melawanku. Aku senang melihat perubahan ini. Sekarang di LED lagi adegan, seorang wanita yang lagi mengoral penis banyak pria.
Tiba-tiba aku berkata
“aku sayang kamu, Aisya.” Sambil menatapnya.
Aisya menatapku juga.
“Kenapa bapak melakukan hal ini kalau bapak sayang padaku.”
“Karena seperti yang aku bilang, aku ingin memilikimu seutuhnya. Untuk itu aku perlu memperlakukanmu seperti ini. Hanya satu minggu, aku janji.” Aku menatap dalam-dalam padanya.
“Aku tidak pernah punya niat untuk merugikanmu, Aisya.” Lanjutku.

Aisya diam setelah perkataanku yang terakhir. Kami berdiam diri untuk beberapa saat berikutnya. Kami berdua menonton LED bersama-sama dalam diam kami.
Mungkin hampir sejam, kami menonton film di LED. Sejujurnya pikiranku melayang antara menonton cuplikan-cuplikan film itu dengan ingin memeluk tubuh wanita di sebelahku. Ingin memperlihatkan padanya betapa aku sangat menyayanginya. Tapi aku tidak ingin mendului, menyentuh tubuhnya kecuali dia menginginkannya. Kecuali kemaren pada saat aku menyentuh pahanya. Itu diluar perkiraan karena tiba-tiba waktu itu entah kenapa aku sangat ingin menyentuh dan mengelus pahanya.
Kira-kira satu jam lagi berlalu, kami masih nonton bersama. Ketika adegan seorang wanita yang memakai collar di lehernya sedang berjalan seperti anjing dituntun oleh majikannya. Aku berdiri. Ketika aku hendak melangkah. Dengan tangannya yang terborgol, Aisya memegang tanganku.
“Pak temani aku lagi, aku tidak mau sendirian disini,” pintanya.
Aku mengangguk dan duduk lagi disebelahnya. Kami tetap saling diam. Aku hanya menonton kelanjutan dari cuplikan tadi dimana wanita ber-collar itu sedang menikmati jilatan majikannya di vaginanya. Waktu berjalan sangat lambat buatku, tapi membuat aku bahagia dengan kemajuan antara aku dan Aisya. Setelah beberapa saat, kepala Aisya bersandar di lenganku. Dia tertidur. Aku memperhatikan paras wajahnya. Aku membenarkan poni rambutnya yang menutupi dahinya. Aku tersenyum hangat. Lalu aku putuskan untuk melepaskan kancing kemejanya lagi satu di bagian atas. Kini branya semakin terlihat jelas dengan belahan dadanya yang membusung. Aku hanya memandang belahan dada Aisya. Aku tidak boleh menyentuhnya tanpa seijinnya.
Kini film beralih dimana wanita ber-collar itu sedang mengulum penis majikannya. Sambil menatap mata majikannya, dia memasukkan penis si majikan dalam mulutnya. Saat itu aku memutuskan untuk membuka borgol tangan Aisya. Aisya masih tertidur dengan kepalanya bersandar pada lenganku.
PUKUL 15:26
Aisya akhirnya bangun. Dia terlihat malu mendapatkan kepalanya bersandar di lenganku. Dia langsung duduk tegak. Aku mencubit kecil pipinya. Aisya terlihat tambah malu.
“sebentar yah, aku ambil makanan dulu. Aku tadi beli pizza. Kita makan sama-sama yah.”
Muka Aisya mulai terlihat cerah, dia sudah mulai bisa tersenyum saat kami makan pizza sama-sama. Apalagi pas aku mengambil remah pizza yang menempel di sela bibirnya dan aku masukan ke mulutku. Dia tersenyum agak lebar.
Sehabis makan, tiba-tiba aku bilang padanya
“Aisya, aku ingin memeluk kamu boleh?” kataku.
“Bapak ngomong apa sih.” Katanya menundukkan kepala. Aku anggap dia mengijinkan aku.
Aku bersandar di dinding dan membuka lebar kakiku. Aku minta dia untuk duduk diantara selangkanganku dan bersandar pada dadaku. Kembali kami menonton film sama-sama. Kini adegan seorang wanita ber-collar yang sedang menjilati jari-jari kaki majikannya.
Aku merasakan kehangatan badan Aisya di dadaku. Wangi rambutnya walaupun dia tidak mandi beberapa hari. Tanganku bersentuhan dengan tangannya. Dari arahku, aku bisa melihat gundukan payudaranya yang besar. Aku sedikit bereaksi. Aku merasakan kemaluanku agak tegang. Mungkin Aisya pun merasakannya karena dia sedikit merubah posisi bersandarnya.
Tiba-tiba Aisya berbalik menghadapku dan mulai mengecup bibirku. Aku membalasnya dengan mengulum bibirnya. Aku pegang pipinya, lalu aku semakin agresif memainkan bibirku mengulum bibirnya. Aku merasakan tubuh Aisya bergetar, atau itu tubuhku yang bergetar. Ciuman kami bertambah liar ketika aku menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya. Kugesekkan lidahku dengan lidahnya. Aisya pun menggerakan lidahnya mengikuti permainan lidahku. Tangan Aisya bergerak ke arah belakang kepalaku. Mulai memainkan rambutku dengan jari-jarinya. Kadang tubuh Aisya bergelinjang menikmati lumatan bibirku dan pagutan lidahku dalam mulutnya. Aisya kesulitan bergerak karena kakinya masih kuborgol. Kedua kakinya menindih pada paha kiriku ketika membetulkan posisi badannya. Kini mulutku turun ke arah leher Aisya. Aku mengecup lehernya dan kadang melakukan sedotan-sedotan kecil. Membuat Aisya mengeluarkan rintihan pelan. Aisya semakin menjambak rambutku dengan keras, menahan rangsangan.
Aku berbisik di telinganya.
“Kamu ingin menjadi milikku, Aisha?”
Entah Aisya mendengarnya atau tidak. Dia semakin menekankan tubuhnya padaku dan mengeluarkan desahan demi desahan.
Aku berhenti merangsangnya. Aku menatapnya, Aisya menatapku penuh harap agar aku meneruskan rangsanganku.
“Kamu ingin menjadi milikku, Aisha?” tanyaku lagi.
Entah dia mengerti atau hanya ingin aku meneruskan rangsanganku. Dia mengangguk.
“Kamu tidak akan menyesal?” aku memastikan.
Aisya menggeleng cepat. Sambil menarik kepalaku untuk meneruskan kecupanku di lehernya. Aku menahan kepalaku.
“kamu akan menuruti semua perintahku?” jelasku lagi.
Aisya mengangguk cepat sambil dia langsung mengecup bibirku lagi. Aku menahannya.
“Tunggu aku disini,” ujarku.
Aisya sepertinya enggan melepaskan aku tapi dia membiarkan aku pergi.
Aku kembali dengan membawa beberapa barang. Aisya menatapku heran.
Tiba-tiba aku merobek kemejanya sehingga kancingnya terlepas semua. Aisya kaget.
“Apa-apaan, pak?” sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya. Dia terlihat marah. Dia menepis tanganku ketika aku ingin memegang lengannya.
“Lepas tanganmu dari dadamu,” perintahku.
“Tidak mau,” katanya menolak.
“Katanya kamu mau menuruti perintahku,” aku berkata lembut.
“tapi apa-apaan bapak merobek kemejaku,” jawabnya dengan marah.
Aku menarik tangannya dari dadanya. Aku pasang borgol lagi pada tangannya, aku angkat kedua tangannya yang terborgol ke atas dan aku kaitkan pada gelang besi yang terpasang di dinding. Aisya meronta-ronta tapi tidak bisa berbuat banyak, apalagi ketika aku memasangkan borgol di kaki kanannya dengan barang yang tadi kubawa, borgol yang masing-masing terpisah oleh sebuah batang besi. Lalu borgol satunya lagi aku pasangkan di kaki Aisya yang satu lagi. Sehingga kini Aisya benar-benar tidak bisa bergerak leluasa karena kedua kakinya jadi terpisah oleh batang besi diantara dua borgol. Sehingga selangkangannya dalam posisi mengangkang. Matanya mendelik padaku.
“Ini hukumanmu karena tidak menepati janji untuk menuruti perintahku,” aku tersenyum padanya, yang dibalas dengan pelototan Aisya. Aku tidak menghiraukannya. Aku tarik branya sampai lepas. Langsung saja payudaranya yang besar bergoyang-goyang. Sangat menggairahkan ditambah pandangan matanya yang seakan-akan ingin membunuhku. Aku mengambil vibrator mini wireless, yang aku pasangkan pada puting kanannya pakai lakban. Tersentuh olehku payudaranya yang montok. Ingin aku meremasnya tapi tidak kulakukan. Aisya menggerakan badannya berusaha mengenyahkan vibrator yang terpasang pada puting kanannya, tapi tentu saja dia tidak akan berhasil melepaskannya. Lalu puting kirinya aku pasang mini vibrator juga.
“Pak, tolong lepaskan barang ini dari dadaku,” pinta Aisya.
Aku berdiri, memandang hasil karyaku pada tubuh gadis ini. Hmmm…tangan terikat keatas, selangkangan terbuka. Lalu payudara montok yang terekspos tidak tertutup bra dengan mini vibrator yang menempel di putingnya. Benar-benar pemandangan yang sangat merangsangku. Tapi aku harus bisa menahan diri. Aku bukan seorang pemerkosa. Aisya terus mengiba-iba padaku.
Aku mengeluarkan remote kecil dari kantong celanaku dan memutar tombolnya ke volume 1. Seketika Aisya diam kaget merasakan getaran vibrator di kedua putingnya. Dia mengeluarkan rintihan pelan, terlihat tangannya menegang menahan gelinya getaran vibrator di putingnya. Dia tidak memohon-mohon lagi, hanya pandangan matanya tambah tajam padaku. Aku memutar tombol ke volume 2.
“aaarrghhh,” Aisya menggelinjang.
PInggulnya terangkat, Kakinya terlihat ingin merapat tapi ada daya, tidak bisa karena tertahan oleh batang besi di borgolnya. Aisya memejamkan mata, berusaha menahan getaran geli pada putingnya. Aisya menggerakan pinggulnya ke kanan dan ke kiri seakan-akan dengan demikian bisa menghilangkan getaran vibrator di kedua putingnya. Ketika matanya terbuka, bukan pandangan marah lagi yang terlihat tapi pandangan memohon padaku agar menghentikan semua ini. Aku tertawa.
Melihat aku tetap tidak melepaskan vibrator, Aisya kembali mendelik marah padaku, tapi tidak lama kemudian kembali dia memejamkan matanya. Aisya menggigit bibirnya berusaha agar tidak keluar rintihan dari mulutnya sambil tetap menggerakkan pinggulnya kesana kemari.
“Ini hukumanmu karena tidak menuruti perintahku,” ulangku padanya.
Kini kaki Aisya kembali menegang , menahan rangsangan pada putingnya.
Aku membereskan sisa-sisa makan pizza kami tadi. Dan aku meninggalkan Aisya lagi sendirian.

PUKUL 17:00
Aku menghampiri Aisya. Badan Aisya sudah bersandar lemas pada tembok. Matanya masih terpejam menahan rangsangan di putingnya. Kakinya masih tegang menahan rangsangan dalam vaginanya. Aku yakin selangkangannya pasti sudah basah.
Dia membuka mata.
“Ampun pak, tolong lepasin barang ini dari payudara aku,” mohonnya.
“Aku lepasin tapi kamu harus menurut semua perintahku,” jawabku.
Aisya diam saja. Aku setel remote ke level 3. Aisya langsung menggelinjang. Semua badannya menjadi tegang. Aisya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Karena tidak kuat menahan rangsangan, rintihannya terdengar keras.

PUKUL 18:26
Aku mengantarkan makanan dan minumannya. Aisya kembali lemas, namun sekali-kali dia tetap menggoyangkan pinggulnya. Dia menatapku lemah, tapi aku tahu dia ingin aku menghentikan vibratornya. Aku meng-off kan vibrator. Terdengar helaan nafas lega dari Aisya. Aku lepaskan kaitan tangannya dari gelang di tembok. Aku buka borgolnya. Aku sodorkan makanan dan minuman ke dekatnya.
Aisya langsung meraih minuman, dan diminumnya sampai habis. Lalu ketika dia mulai makan, aku melepaskan vibrator dari kedua putingnya. Aku lepaskan hati-hati karena takut lakbannya melukai putingnya. Kembali tanganku menyentuh kenyal kedua payudaranya yang montok. Hatiku tergetar. Untung Aisya sibuk makan tidak memperhatikan mimik wajahku yang menahan birahi. Aku duduk bersila menemani Aisya makan. Posisi kakinya masih mengangkang karena batang besi di borgolnya. Terlihat celana dalam merahnya di balik rok.
Setelah selesai makan, aku bertanya padanya.
“Mau aku buka borgol kakimu?” tanyaku.
Aisya mengangguk cepat.
“Tapi janji kamu harus menuruti segala perintahku,” sambungku.
Aisya mengangguk cepat lagi.
Aku buka borgol dengan batang besi itu. Aisya langsung merapatkan kakinya. Dia memijit-mijit pahanya yang pasti pegal karena sudah beberapa jam tidak bisa bebas bergerak. Aku pegang tumitnya. Aku tekan-tekan, aku pijat dan pijatanku berlanjut ke betisnya. Aisya hanya menatapku. Aku membalas tatapannya. Entah apa yang ada di pikirannya ketika kedua kakinya aku pijat. Sedangkan yang ada di pikiranku adalah ingin meyakinkan dia bahwa aku sayang dia dan aku ingin dia jadi milikku seutuhnya. Dan aku harap dalam pikiran Aisya bahwa dia pun merasa bahwa dia adalah milikku dan dia akan menyerahkan dirinya sepenuhnya padaku. Tapi yang pasti Aisya sudah tidak malu lagi bahwa payudaranya yang montok terbuka lebar dengan putingnya yang coklat muda. Aku sempat melirik beberapa kali ke arah situ sambil terus memijit betisnya. Dan Aisya pun terlihat tidak peduli jika aku melirik kedua payudaranya.
Setelah terasa dengan rabaanku bahwa betisnya sudah tidak terlalu tegang. Aku menghentikan pijatanku. Lalu aku berikan sebuah gunting padanya.
“Buka rokmu pakai gunting ini!” perintahku.
Aisya mengambil gunting dari tanganku tapi dia berhenti bergerak ketika guntingnya sudah mendekati roknya.
“Ingat, kamu sudah berjanji untuk menuruti perintahku,” aku mengingatkannya.
Masih ragu-ragu, Aisya dengan pelan menggunting roknya. Sehingga terlepas.
“Berikan padaku roknya!” ujarku.
Kembali ragu-ragu, Aisya memberikan roknya padaku dengan perlahan.
Aku membuang roknya ke dekat pintu. Kini aku bisa melihat dengan jelas celana dalam merahnya. Mungkin aku lupa menyebutkannya, perut Aisha tidak gendut, bahkan bisa dibilang rata tidak ada lipatan lemak. Pinggulnya yang bulat terlihat jelas sekarang. Celana dalam merahnya tidak terlalu minim. Tapi buatku ini pemandangan yang luar biasa.
“Sekarang kamu berdiri,” perintahku lagi.
Aku duduk di lantai bersandar pada tembok.
Aisya pelan-pelan berdiri, agak susah karena mungkin otot-otot kakinya masih kaku. Tangan kanannya menutupi payudaranya, dan tangan kirinya menutupi selangkangannya. Mungkin baru sekarang dia merasa begitu “telanjang” di depanku.
“Berdiri di tengah ruangan,” lanjutku.
Pelan-pelan Aisya melangkah ke tengah ruangan. Wajahnya terlihat sangat malu, sampai dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“tatap mataku!” perintahku lagi. Aisya tetap menundukkan kepalanya.
“Tatap mataku!” suaraku aku naikkan sedikit.
Dengan tangan masih menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya. Aisya pelan-pelan mendongakkan kepalanya dan menatapku. Begitu bertatapan, Aisya sempat menurunkan pandangannya ke lantai. Aku berdehem keras. Aisya kembali berusaha menatapku dengan menahan rasa malunya.
Ya ampun. Aisya berdiri dengan posisi demikian ditambah ekspresi wajahnya yang malu-malu. Membuat aku sangat terangsang sekali. Penisku langsung berdiri tegak di balik celana katunku. Ingin sekali aku mendatangi dan memeluknya erat-erat. Aku harus bisa menahan diri.
“Turunkan tanganmu!” aku kembali memerintahkannya.
Aisya kembali ragu-ragu. Aku berdehem keras sekali lagi.
Pelan-pelan tangan kanannya turun, pelan sekali.
“Kamu tidak perlu malu, payudaramu indah sekali, ” puji aku.
Aisya merasa salah tingkah. Beberapa kali dia mengganti posisi kakinya.
“Terus tatap mataku!”
Aisya menatapku. Aku berikan tatapan yang meyakinkan dia bahwa memang payudaranya sangat indah. Setelah gerakan salah tingkahnya berhenti. Aku berdiri dan mendekati Aisya. Tatapan kami terus tersambung. Aku langsung saja memeluknya. Aku tidak peduli apakah Aisya bisa merasakan penisku menekan tubuhnya. Aku peluk dia erat-erat. Sesaat kemudian Aisya pun memeluk aku, tidak erat tapi dia melingkarkan tangannya di pinggangku. Betapa hangatnya tekanan payudaranya di dadaku. Kekenyalannya terasa hangat menempel di dadaku. Kami tetap berpelukan beberapa saat.

PUKUL 20:03
Aku kembali lagi ke tempat Aisya setelah aku membereskan dan membawa bekas makan kami ke atas. Aisya lagi menonton LED, kini dia tidak mengalihkan pandangan dari LED ketika aku masuk. Posisi duduk Aisya dengan lutut menekuk menutupi dadanya. Tangannya dilingkarkan di lututnya. Aku melangkah berdiri di hadapannya, menutupi pandangannya dari LED.
“Aisya, berlutut di depanku!” ujarku padanya. Aku menatap ke bawah padanya.
Aisya menatap ke atas. Tapi dia melakukan apa yang kuminta. Aku satu persatu membuka kancing kemejaku. Lalu membuka kemejaku dan membuang kemejaku ke pinggir.
“Bantu aku buka celana panjangku, Aisya!” aku menatapnya lembut.
Wajah Aisya tepat di depan selangkanganku. Entah kenapa Aisya langsung mengikuti perintahku. Dia membuka ikat pinggangku. Kancing celanaku, lalu menurunkan ritsletingnya. Menurunkan celanaku sampai batas pergelangan kakiku. Penisku menggembung dibalik celana dalam Calvin Kleinku. Aisya melihatnya. Antara ingin memalingkan muka tapi tergiur untuk tetap memandang gelembungnya celana dalamku.
“Kamu kan hanya pakai celana dalam, jadi biar adil aku juga akan menemanimu dengan hanya memakai celana dalam saja,” ujarku sambil tersenyum. Aisya membalas senyumku.
Kemudian kami berbaring menyamping. Aisya berbaring di depanku, menyandarkan seluruh tubuhnya padaku. Atau mungkin dia ingin menggesekan pantatnya pada selangkanganku, yang dari tadi terus menggembung. Iya penisku tegang semenjak tadi celanaku dibuka oleh Aisya. Kami menonton LED bersama-sama. Adegan dimana sang pria memasukkan tangannya ke dalam celana dalam sang wanita. Hmm…aku berpikir nakal. Pelan-pelan jari jemariku mengelus paha Aisya. Menelusuri halus kulit pahanya. Aku merasakan tubuh Aisya semakin bersandar padaku. Lalu jemariku bermain dengan ujung celana dalam Aisya, aku telusuri kulit halus diluar tepi celana dalamnya. Jari telunjukku kuselipkan ke dalam celana dalamnya, kurasakan bulu-bulu halus yang menghalangi jalan masuknya jariku. Kurasakan tubuh Aisya sedikit bergetar dan terdengar suara rintihan tertahan.
Kini jari tengahku pun ikut masuk ke dalam celana dalam Aisya. Kurasakan ujung jari mengenai bagian basah di pangkal vaginanya. Mungkin Aisya memang sudah kerangsang dari tadi hanya dia menahannya. Dua jariku mulai merasakan belahan klitorisnya. Tubuh Aisya semakin menegang. Kurasakan kulitnya merinding seperti saat kita merasa geli atau dingin. Aku meneruskan kedua jariku ke bagian tengah klitorisnya. Aisya mengeluarkan rintihan lagi. Tangan kirinya yang berada di atas tanganku yang menyentuh selangkangannya mulai memegang lenganku. Aku meneruskan lagi kedua jariku mencapai klitorisnya bagian bawah. Aku tekan-tekan kedua jariku di sana. Aisya meremas tanganku lebih kuat. Pahanya dengan otomatis menjepit kedua jariku. Aku gerakan kedua jariku memutar di sekitar vaginanya. Aisya mendesis. Lalu aku ulangi terus gerakan menekan dan memutar jariku di klitorisnya. Kurasakan kedua jariku semakin mudah bergerak karena bagian vagina Aisya semakin licin karena cairan vaginanya mulai merembes keluar. Ketika beberapa saat, pinggul Aisya mulai bergerak mengikuti gerakanku. Pahanya semakin sering menjepit jariku. Ketika aku merasakan bahwa gelinjangan Aisya dan desahan terdengar memburu. Aku menghentikan rangsanganku. Nafas Aisya yang memburu terdengar reda tapi aku bisa merasakan kekecewaannya karena jariku berhenti bergerak.
Ketika kurasakan birahi Aisya mulai mereda. Aku mulai lagi menggerakkan kedua jariku, kini aku memasukan posisi mereka lebih dalam sedikit ke vaginanya. Vaginanya sudah licin, jadi jari aku gampang masuk ke dalam. Aku mulai tekan-tekan lagi selangkangannya, dan bergerak memutar seperti tadi. Aisya kembali lagi meremas tanganku. Nafasnya mulai memburu lebih cepat dari tadi, desahannya sudah tidak malu-malu lagi. Pinggulnya bergerak lebih liar. Begitu kurasakan gelinjangan Aisya semakin hebat, aku menghentikan gerakan jariku lagi.
Aisya bergumam tidak jelas. Tapi aku yakin dia merasa gelisah karena orgasmenya aku tahan dua kali. Tapi dia pura-pura tidak mempedulikanku. Jual mahal juga dia. Kini aku mengarahkan kedua jariku ke bagian klitoris atasnya, mengenai itilnya. Aku mulai lagi menggerakan kedua jariku menekan itilnya. Kuakui Aisya cukup cerdas, dia tidak mau kalah. Tangannya yang tadi memegang tanganku. Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya memegang penisku dari luar celana dalamku. Sialan, pikirku. Dia tahu kelemahanku karena memang dari tadi penisku tegang sekali, menekan-nekan pantatnya. Dia meremas keras penisku. Berusaha mengocok penisku dengan jari-jarinya. Konsentrasiku buyar. Kurasakan sesaat nikmatnya tangan Aisya meremas dan mengocok penisku. Aisya merasa menang ketika dia mendengar mulutku mengeluarkan suara desisan. Semakin gencar dia, dan sialan, kini dia memasukkan tangannya ke dalam celana dalamku. Aaah tangannya yang lembut memegang batang penisku, meremas dengan gemas, dengan tujuan balas dendam , aku yakin itu. Tangannya terus mengocok penisku. Konsentrasiku tambah buyar. Aku benar-benar menikmati apa yang sedang Aisya lakukan. Kedua jariku berhenti di itilnya Aisya, tidak bergerak. Aku mendengar Aisya tertawa kecil. Suara itu membuat aku kembali kepada fokusku. Aku tidak mau kalah. Aku kembali menggerakkan kedua jariku merangsang itilnya. Lebih cepat gerakanku. Aku merasa menang, gerakan mengocok Aisya mulai kendor. Aisya mulai kembali sibuk menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan kedua jariku. Walau jari-jari Aisya masih di dalam celanaku dan masih memegang batang penisku, tapi dia sudah tidak gencar mengocoknya hanya sekali-kali meremasnya ketika dia menggelinjang hebat. Kali ini aku memasukkan lagi kedua jariku lebih dalam, menggesek itilnya dan juga dinding vaginanya bagian dalam, Aku gerakan jariku semakin cepat. Aisya sudah mendesah liar. Aku terus gerakan jariku, bahkan ketika dia menggelinjang hebat dan akhirnya keluarlah erangan kenikmatan dari mulut Aisya dan dia menjepit kedua jariku dengan pahanya. Benar-benar menjepitnya dan kurasakan hangatnya kedua jariku dalam vaginanya ketika Aisya mencapai klimaksnya. Jari-jari Aisya meremas kuat penisku ketika dia mencapai orgasme.
Aku cium pipinya. Aisya berbalik, dia melumat bibirku. Kulihat tatapan matanya begitu bahagia. Tidak ada pandangan memusuhiku lagi. Kami saling menyentuhkan bibir kami dan berciuman dengan mesra. Malam itu kami akhiri dengan tidur berpelukan di atas selimut di ruang bawah tanahku.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part