. Buku Lawas Part 8 | Kisah Malam

Buku Lawas Part 8

0
307
Baca Cerita Dewasa Buku Lawas

Buku Lawas Part 8

Master Of Bonsai

Keunggulan seseorang tak bisa dimunculkan secara tiba2 dan dalam tempo sekejap saja, butuh pembuktian diri yang terus menerus sesuai dengan tingkatanya, belajar dan ujian seumur hiduplah bukti seseorang itu unggul atau tidak

***

Paijo bikin ulah lagi, itu kira2 isyu yang berkembang dikalangan para pembantu di rumah itu.

Hampir semua pembantu gempar kala Paijo ternyata berhasil menyembuhkan keseleonya mas Kresna. Sejak adanya Paijo, memang fumah itu semakin segar dan gempar oleh berbagai aksi2 Paijo, belum habis soal bonsai dan taman samping dibicarakan, sekarang soalannya adalah urusan pijat memijat yang luar biasa.

Dalam benak Tini dan Srini ini adalah pintu masuk. Mereka membayangkan tubuh mereka dipijat oleh Paijo yang kontolnya gedhe banget, cuma bagaimana caranya ya?
Pertanyaan itulah yang terus menerus mengalir dan bekutat dalam benak janda muda yang cantik itu.
Kebutuhan biologis mereka setelah cerai amburadul banget, bagaimanapun juga mereka masih mudah dan sedang panas2nya menginginkan sentuhan2 erotis pada tubuhnya.

Masalahnya, Paijo adalah anak muda yang masih ijo bener2 urusan ranjang. Masih belum tahu dan paham soal hubungan antara lelaki dan perempuan.

Pernah suatu ketika Tini sedang menjemur pakaian di halaman belakang, ada si Paijo disana sedang mengatur taman belakang, iseng2 dia lepasin ikatan kainnya yang merupakan satu2nya penutup tubuhnya saat itu. Itupun saking stressnya melihat Paijo ga paham bahwa dia sudah membasahi seluruh kainnya sehingga puting susunya menonjol kelihatan, pahanya pun sering tersingkap memperlihatkan rimbunya bulu memeknya.

Begitu kainnya jatuh dan dia telanjang bulat didepan Paijo, Paijo hanya melihatnya dan bilang “eh Mbak, duh susunya kemana2 nanti kalau ketahuan mbak Astrid bisa marah2 dia mbak. Itu memeknya juga duh rambutnya tebal banget mbak, harusnya sering2 dicukur biar ga gatel.

Duh, itu mbak Tini sampai mau koprol kepalanya dibenturkan tembok sambil khayang serta sit up sekaligus saking seksinya.

Paijo memang sesuatu sekali.

***

Pergi bareng ndoro tuan memang sesuatu banget bagi Paijo, bukan apa, dia duduk dibelakang bareng ndoro tuan, sementara Mas Dodik suaminya mbak Jum jadi supirnya. Rasanya kaya ndoro saja dia.

Ada rasa sungkan dengan Mas Dodik yang selama ini baik dengannya, soalnya suka bantu2 di kebun kalau lagi ngangur dia.

Mas Dodik memang sering nganggur kalau Sabtu dan Minggu kecuali ibu ada urusan arisan atau apa yang butuh keluar rumah, tapi itu juga sebentar saja, apaling 2-3 jam saja perginya.

“Jo bawa catatan khan ?”
“Bawa pak, saya memang pengen mencatat semua yang diajarkan oleh master bonsai pak”
“Ha ha ha, nama beliau itu Kenji Nakanishi nak, dia paham banyak hal tentang Bonsai, dia pengen ketemu kamu sebab bapak pernah cerita kamu bisa ngalahin permainan catur saya”

“Lha masak bapak nya ngalah gitu disebut saya ngalahin bapak?”

“Ha ha ha, kamu memang suka merendah Jo, Dod, kapan2 kamu main catur sama Paijo, kalau kamu bisa mengalahkan dia sekali saja saya kasih 200 ribu kamu”

“Iya pak, nanti saya coba main catur sama Paijo”
“Ha ha ha, Jo kalau kamu kalah gajimuntak potong 200 ribu lho ha ha ha”

“Duh bapak ini sadisnya sama dengan mbak Astrid. Sukanya main potong2 saja”
“Ha ha ha, biar kamu ga main mata sama Dodik lah”

“Iya pak iya, saya manut saja pak”
“Ha ha ha, eh terus si Nakanishi ini kemaren bilang kalau kamu bisa ngalahkan dia satu babak saja kamu boleh minta 2 bonsainya, asal tahu saja harga bonsainya ga ada yang dibawah 50 juta Jo”

“Waduh mahal banget ya pak, 50 juta itu bonsainya kaya apa ya pak?”
“Ha ha ha, nanti kamu tahu sendiri”

***

Rumah tuan Nakanishi sangat asri dan sejuk dipandang mata, rumah itu kecil saja tapi halamannya luas dan banyak ditumbuhi pepohonan.

Ada kolam ikan Koi yang bagus dengan air terjunnya yang airnya gemericik suaranya. Terasnya ada banyak pot bunga yang ditanami bonsai2 miliknya yang luar biasa bentuknya.

Jauh lebih bagus dibanding dengan apa yang Paijo lihat di buku2 yang dia baca. Semua yang ada di rumah tuan Nakanishi benar2 luar biasa dan pantas kalau yang punya adalah Master of Bonsai yang tinggal.di Indonesia.

Sedang asyik menikmati pohon bonsainya sampainke detail2nya tiba2

“Hai kamu pasti Paijo ya, kanalkan saya Nakanishi, mana pohon bonsaimu ?”
“Oh saya Paijo pak Nakanishi, oh mengenai bonsai saya, mmm saya taruh disana pak”

“Mmmm saya lihat dulu ya,
Mmm ck ck ck”

Tuan Nakanishi hanya berdecak dan memggumam saja sambil melihat2 bonsainya.

“Mmmm saya lihat ada potensi besar di sana, cuma memang masih sangat muda ini bonsai, kenapa kamu memilih pohon yang masih kecil sebagai bahan ?”

“Sengaja saya bawa yang ini untuk mendapatkan penilaian, saya ingin belajar tahap awal pembentukan bonsai, saya tanam sendiri dari proses stek pohon ini sejak 5 bulan yang lalu, saya cukup banyak waktu, saya masih muda dan ingin belajar soal kesabaran itulah kenapa saya pilih ini untuk tuan nilai”

“Kamu tahu butuh berapa tahun ini pohon sampai jadi bonsai yang hebat?”
“Kalau melihat bonsai2 saya yang sejenis tanamannya, sepertinya setidaknya saya butuh 5 sd 6 tahun untuk membentuk nya dan 3-4 tahun untuk sampai seperti pohon itu”

“Ha ha ha, Jo, kamu ini masih kecil kenapa.mau belajar hal2 yang sangat rumit ? Kamu tadi bilang baru akan bisa menikmati jadinya pohon itu 10 tahunan lagi apa ga capek dan bosan?”

“Itulah yang ingin saya perangi tuan. Capek dan bosan itulah yang akan saya coba perangi”

“Mmmm bagus. Kamu lihat itu pohon, bagus bukan ?”
“Ya tuan sangat bagus sekali, saya bisa melihat keuletan yang membentuknya dari setiap guratan batangnya, saya melihat wujud kesabaran dan kecintaan disana tuan”

“Bisa kamu tebak berapa lama saya membuatnya ?”
“Tadi saya berfikir untuk membuat semacam itu nanti, tapi melihat setiap guratan batang dan arah akar2nya, setidaknya butuh 25 tahun bagi saya untuk membuat seperti itu”

“Ha ha ha Atmo, kamu benar2 menemukan bibit unggul ini, dia bisa menebak pohon itu dengan benar. Iya Jo, saya membuatnya hampir selama 25 tahun sampai bisa dinikmati semua orang, kamu benar Jo ha ha ha”

Tuan Nakanishi menangis sambil tertawa terbahak2.

“Eh kenapa tuan menangis ?”

“Karena setelah 25 tahun itu tak ada orang yang bisa menebak isi yang terkandung dalam pohonnya, hanya kamu yang bisa menebaknya bahwa ini wujud kecintaan dan kesabaran”

“Mmm saya hanya menebak saja tuan, sebab mana mungkin seorang membuat sesuatu seindah ini kalau bukan untuk mengungkapkan betapa dalam rasa cintanya, kalau melihat bentuknya juga sebagai wujud persembahan buat kekasih yang sungguh cantik sekali, cuma…”

“Ha ha ha ha, akhirnya ada yang pantas juga berbicara dengan orang tua macam aku ini, tapi tolong jelaskan cuma apa tadi ha?”

“Cuma sepertinya pembuatnya tak bisa menyampaikan kasih sayangnya kepada sang gadis, ada rona merana disana dan tangisan kesepian”

“Duh Miyano, akhirnya ada juga yang mengerti pesanku kepadamu….”
Suara tuan Nakanishi begitu halus semacam bisikan seolah rintihan.

“Maaf tuan kalau saya membuat tuan bersedih”
“Ha ha ha iya nak, saya bersedih karena bertemu kamu setelah sekian lamanya, saya berniat mengajarkan ilmu saya dalam bonsai membonsai dengan catatan dia harus bisa menebak pesan saya dalam bonsai itu.
Bonsai itu sekarang milikmu, tolong rawat dan pelihara untuk mengenangkan istri saya yang 25 tahun menemani saya dalam sakitnya sebelum meninggalnya”

“Duh tuan, mana berani saya menerima pemberian tuan, tentunya itu sangat berkesan bagi tuan”

“Haaassshhh, sudah saat nya aku merelakannya anakku, biarlah Miyano tenang di alam sana, dan ini hadiah khusus buatmu sebagai orang yang aku anggap muridku, satu2nya murid ku.

Ok, sekarang kita bahas bonsaimu, saya melihat ada pemaksaan disana, ada keterpaksaan juga, ada amarah tapi ada juga terselip rasa sayang, apakah saya salah?”

“Mmm tidak tuan, di dalamnya saya ingin memasukkan rasa keterikatan saya dalam keterpaksaan namun juga ada penghambaan yang tulus disana, soal amarah, itu soal kemarahan pada nasib saya saja yang bodoh dan ga tahu banyak hal”

“Ha ha ha, saya paham, ha ha ha, Atmo kamu bawa orang yang tepat kemari, terima kasih Atmo. Ha ha ha
Saya puas benar2 saya puas.
Matipun saya puas.
Ingat Jo, semua yang ada disini aku wariskan hanya pada muridku yaitu kamu, jado kalau aku mati kamu wajib merawat bonsai2ku agar ilmuku tak ikut mati bersamaku”

Paijo tahu diri, dia berlutut dan menyembah “Paikui” kepada gurunya 3x
“Tuan terimalah rasa hormat ku”
“Ha ha ha Miyano, aku relakan kau, tunggulah sebentar saja, begitu akunmenurunkan ilmuku aku rela meninggalkan dunia ini untuk menemanimu
Bangun nak, bangun, mulai sekarang kamu tiap hari sabtu dan minggu kemari, tinggal bersamaku dan belajar ilmuku sampai tuntas”

“Eeh tuan kalau itu saya tak bisa menyanggupi, karena itu tergantung tuan ndoro saya”

“Hei Atmo, Paijo setiap sabtu dan minggu harus kemari boleh ga?”
“Ha ha ha, mana saya berani bilang ga boleh? Bisa2 sahabatku hilang satu karena khekinya ha ha ha ha”
“Ha ha ha Jo, kamu bilang terima kasih pada tuan Ndoro mu, makasih Atmo, kamu memberikan hadiah terindah diakhir mas tuaku, terima kasih Atmo”
“Ha ha ha iya Iya, setiap sabtu dan minggu Paijo akan kemar, sementara Minggu dulu sampai dia sanggup mengalahkan ilmu caturku, kalau sudah bisa mengalahkan ilmu caturku baru boleh sabtunya ikut kamu, bagaimana ?”

“Ok ok deh, nanti aku ajarkan ilmu caturku untuk mengalahhkanmu, dasar bajingan tengik kamu Atmo, ha ha ha”

“Ha ha ha, ya terserah kamulah, mau ngajari boleh ga juga aku yang ngajari dia main catur.ha ha ha”
“Ya sudah deal Atmo, dia jadi muridku main catur dan bonsai sekaligus ha ha ha, puas kamu Atmo?”

“Ha ha ha, harusnya kamu yang puas, aku dah bawakan bibit unggul buat jadi muridmu, masa aku yang harus berterima kasih ?”
“Ha ha ha, iya deh terima kasih Atmo, terima kasih”

***

Paijo di rumah tuan Nakanishi sampai menjelang sore hari, dia bawa oleh2 2 bonsai milik tuan Nakanishi, satu hadiah yang memang diberikan kala berhasil menebak dan satu lagi berupa bahan yang harus dikerjakan di rumah.

Mbak Astrid dan Mas Kresna apalagi mama sangat mengagumi bonsai yang dibawa pulang oleh Paijo dan papa Astrid.

Luar biasa, papa dan mama Astrid sampai membeli rak pot khusus yang mahal untuk memajang bonsai tersebut.

Paijo kembali jadi bahan pembicaraan diantara para pembantu. Apalagi setelah mendengar bahwa bonsai yang dihadiahkan kepada Paijo harganya lebih dari setengah milyar.

Lebih dari lainnya Paijo bahagia banget mendapatkan seorang guru master Bonsai. Akhirnya kerja kerasnya ada yang menghargai, setidaknya dirinya dihargai sebagai manusia melalui karyanya.

Paijo paham betul dirinya tak sekolah SD saja ga lulus, maka perlu baginya untuk meningkatkan kemampuan di bidang2 khusus agar eksistensinya dihargai.

***

Bersambung…

Daftar Part