. Buku Lawas Part 6 | Kisah Malam

Buku Lawas Part 6

0
333
Baca Cerita Dewasa Buku Lawas

Buku Lawas Part 6

Pembukaan Sisilia

Kekalahan itu biasanya soal bagaimana bertahan yang baik dilupakan tidak saja dalam permainan catur, tetapi juga dalam seni berbisnis

***

Butuh waktu 3 hari Paijo membangun bentuk tanaman bonsainya, jelasnya membuat dasar tanaman bonsai memang tak semudah orang kira, butuh pengetahuan soal tanaman dan bagaimana perwatakan batang atau cabang2nya serta bagaimana membuat adanya irama dan daya hidup ditampilkan.

Memang kesulitan utamanya disana, Paijo karena takut modal yang dikeluarkan mbak Astrid terlalu banyak membeli tanaman berdasarkan harganya semata. Dia pilih yang murah.
Itulah kesalahan mendasarnya sehingga dia kesulitan membuat bentuk yang diinginkan.

Tiga hari itu hasil kerja Paijo belum maksimal, ada banyak batang yang dia ingin tumbuh dahulu sebelum mulai membuat bonsainya sendiri. Dan itu bukan waktu yang sebentar, setidaknya butuh waktu 4 sd 6 bulan menunggu batang yang diharapkan tumbuh sebelum bentuk yang dikehendaki dianggap jadi.

Berkali2 papa dan mama Astrid bertanya ini itu soal apa yang sedang dikerjakan dan apa yang diharapkan oleh Paijo. Luar biasanya Paijo bisa menjelaskan semuanya yang dia rencanakan seolah dia adalah pakarnya. Bacaan yang dia baca serta kesehariannya dulu yang bergelut dengan alam membuatnya paham apa yang dimaksud dengan buku lebih dari orang kota yang tak pernah ke ladang atau hutan atau hidup dari ladang atau hutan. Disitulah kelebihan Paijo.

***

“Jo, kapan ini jadinya bonsai? Kok kaya gitu2 saja ya dari kemaren?”
“Duh mbak, khan Paijo bilang 6 bulan lagi bentuknya baru kelihatan mbak, ini juga baru 3 hari dah ditanya2 terus sama mbak?”

cerita seks buku lawas

“Ha ha ha, Astrid memang suka ga sabaran Jo, tapi 6 bulan itu lama banget ya jo, aku pengen lihat bener 6 bulan ini jadi apa”

“Inggih mas Kresna, 6 bulan itu baru bentuk dasarnya saja mas, soalnya memang harus nunggu batangnya yang ini besar mas, setelah itu baru dibentuk lagi mas, nah jadinya betulan sih butuh waktu 1.5 tahunan lah mas”

“Waduuh 1.5 tahun baru jadi bener ? Gila bentul itu Jo, siapa sanggup punya kesabaran segitu?”

“Ha ha ha, mas, kamu kayaknya harus belajar buat bonsai juga deh, soalnya itu soal kesabaran dan keyakinan serta keuletan yang terus menerus hadir selama membuat dan merawat bonsai mas, papa juga gatel pengen belajar mas, minggu besok kita bikin yuk mas, kita belanja bareng bagaimana ?”

“Ha ha ha hayu lah pa, Astrid kamu mau bikin juga?”

“Lha itu sudah lebih dari 10 diwakilkan oleh Paijo, ya khan jo ini punyaku khan?”
“Inggih mbak”

“Ha ha ha, Astrid curang pa”
“Lha curang gimana mas? Paijo bisa gini gitu Astrid yang ngajari lho mas hi hi hi”

“Iya mas, mbak Astrid yang ngajari semuanya kok mas”
“Ha ha ha yo wes aku tak buat sama papa saja deh buat nyaingi si Paijo”

“Eh jo, jangan lupa ya habis mandi sore kita main catur di ruang tengah”
“Ha ha ha untung ada kamu Jo, kalau tidak mas Kresna bakalan ga bisa malam mingguan kalau papa pengen main catur”

“Lha saya khan baru belajar ndoro, kalau ga amper musuhnya apa enak?”
“Ya kamu harus belajar terus lah Jo, ha ha ha”

***

Malam minggu itu ada yang berbeda, di ruang makan tampak ada papa dan mama Astrid, lengkap dengan mas Kresna dan Astrid. Yang membuat berbeda adalah kehadiran Paijo yang likat karena diajak makan semeja dengan keluarga itu.

Mbak Jum meladeni keluarga itu dengan menghadirkan masakan2 khusus buatan mama Astrid di meja makan. Memang hari itu khusus mama Astrid yang memasak atas permintaan papa Astrid. Kebiasaan papa Astrid kalau mau main catur dengan kawan2nya ya selalu diawali dengan makan bareng dengan masakan mama Astrid. Dan itu membudaya terus menerus begitu.

Dan yang menggemparkan jagad para pembantu adalah yang akan jadi lawan papa Astrid atau ndoro kakung adalah si Paijo. Dan atas nama profesi, semua pekerja di rumah itu ramai berkumpul berdo’a bersama untuk kesuksesan Paijo.

Permainan dimulai.
Babak pertama
Ndoro kakung bidak putih
Paijo bidak hitam

“Kenapa kamu pilih hitam Jo?”
“Sebab saya pemula, saya mau belajar serangan bapak dulu, mudah2an bisa menahannya”

“Ha ha ha ha, ma lihat si Jo, luar biasa keyakinannya”

Permainan dibuka dengan pembukaan gambit raja oleh ndoro kakung dan dibalas dengan rangkaian pembukaan sisilia tapi pada langkah ketiga Jo memajukan perdana menterinya selangkah.

“Eh kok jadi gini Jo, itu kenapa dipilih”
“Ga papa ndoro, itu hanya menyalin langkah karpov saja ndoro, sebab ndoro pakai langkah tiruan dari kasparov di tahun 89 kalau ga salah”

“Eh..
Bener ya itu, papa dah lupa malah”
Ndoro kakung hanya terdiam dan bergumam sendiri kemudian melangkah dengan cepat.

Dan setiap langkah ndoro kakung dibalas tak kalah cepatnya oleh Paijo.
Saling memakan saling menutup dan membuka serangan silih berganti, tapi yang harus dipahami disini adalah seolah Paijo tidak bermain sambil berfikir, seolah hanya menjalankan semua langkah hapalan belaka.

Sampai di titik tertentu ndoro kakung terdiam. Lamaa sekali.

Paijo juga terdiam, menunggu langkah2 ndoro kakung.

Tiba2 ndoro kakung menawarkan tangannya
“Remis?”
“Eh, sampai sini ndoro sudah kalah sebenarnya sebab dilanjutkan model apapun pasti akan kalah”

“Ha ha ha ha, mama, aku kalah ma, ha ha ha oh tuhan akhirnya ada yang bisa mengalahkanku.
Ha ha ha

Ndoro kakung begitu senangnya dengan kekalahan itu, bukan apa, di usianya sekarang jarang ada lawan sepadan yang bisa diajak main catur oleh beliau, sehingga beliau sudah bosan bermain catur tapi keinginannya selalu ada.

Awalnya beliau hanya ingin mengajari Paijo bermain catur seperti halnya Astrid pandai bermain catur, tak pernah di dalam benaknya dia akan dikalahkan.

“Ha ha ha, kopinya mana ma, papa harus main semalaman ini sama Paijo soalnya, ha ha ha”

Semangat ndoro kakung seolah bangkit dan menyala2 kala mengetahui ternyata dia punya lawan.

“Eh sebelum kita main babak kedua, kok bisa kamu dengan santainya menang tadi nak?”
“Ndoro tadi bermain sesuai gaya kasparov kala seri pertama main dengan karpov. Dia kalah di babak pertama, dan saya hanya menghapalnya saja kemana langkah ndoro saya sudah punya jawabnya, sebenarnya saya ga berpikir tadi, hanya menghapal saja”

“Ha ha ha ha, kamu benar2 diluar dugaanku nak, ingat kita main 3 babak, aku mau main keras di dua babak terakhir biar ga kalah sama kamu nak, jadi jangan buat semuanya mudah ya nak, aku pengen perlawanan keras dari kamu”

“Baik ndoro, saya sekarang main putih, saya akan main keras dan cepat”

***

Bidak putih maju dengan pembukaan sisilia lagi.
“Eh kenapa sisilia lagi?”
“Sebab saya mau menyerang dengan bertahan, setidaknya saya punya 1 langkah di depan gratis”

“Gitu ya, ha ha ha boleh, lihat dan perhatikan ini, gambit menteri ala javanicus”
“Eh ada gitu ndoro javanicus ?”
“Ha ha ha ini rangkaian ciptaanku sendiri, dengan ini aku sudah jadi Grand Master diusia 18 tahun”
“Eh iya gitu ? Waaah ndoro hebat betul”
“Ha ha ha yang hebat ini kalah ditanganmu di babak pertama ha ha ha, aku bahagia banget bisa main denganmu nak, sudah lama tak ada yang bisa mengalahkanku disini, aku bosan sampai pengen mati saja, ha ha ha”

Mereka main begitu semangatnya sampai akhirnya pada langkah ke 45, Paijo menyerah kalah.

Dia merenung lama sekali, menganalisa kekalahannya, dan mencari tahu sebabnya, tapi dia belum juga paham.

“Ndoro, boleh saya minta tunda? Kalau dilanjutkan pasti saya kalah lagi dengan lebih mudah soalnya. Lagian saya ngantuk ndoro”

“Ha ha ha, boleh boleh, kita tunda malam minggu depan 3 babak lagi. Malam ini kita seri bagaimana ?”

“Baik ndoro, terima kasih, soalnya kalau dilanjut pasti saya kalah mudah, dan itu tentu tidak menyenangkan ndoro”

“Ha ha ha ha, ok nak, malam minggu depan dilanjut, aku juga ngantuk soalnya, ha ha ha ha, duh ma papa terlalu semangat ini, sampai lupa istirahat. Ha ha ha minggu depan ya nak, kamu belajar lagi yang keras”

“Baik ndoro, saya permisi mau tidur dulu, besok soalnya saya harus pagi2 sudah bekerja.

“Ha ha ha iya iya nak, makasih ya sudah main catur bareng saya”

“Saya bangga bisa main catur bersama ndoro”

“Ha ha ha, dah malam ma ya?”
“Papa nih dari tadi semangat bener, ini sudah hampir tengah malam pa”
“Ha ha ha iya mah papa terlalu semangat soalnya”

***

Malam itu, Paijo seolah tersihir dengan semua langkah2 ndoro kakung. Semua coba dihapalnya lagi, setiap langkahnya dan setiap detail lerubahannya.

Sampai jauh menjelang subuh Paijo seolah merasa dia mendekati suatu kebenaran yang entah bagaimana dia lupa2 ingat.

Paijo seolah mengenali setiap langkah yang dimainkan, tapi entah dimana dan kapan dia tahu soal itu.

***

Bersambung

Daftar Part