. Buku Lawas Part 22 | Kisah Malam

Buku Lawas Part 22

1
354

Buku Lawas Part 22

Back to Basic

Paijo malam itu bingung, karena Astrid ga mau bergeser dari tempatnya. Bingung karena tak ada tempat lagi di ranjang kecuali di sisi dekat tembok dan itu pasti akan menyulitkannya bangun nanti ketika Astrid sudah tidur dan kembali kekamarnya.

“Sayang, agak sanaan dong, lha mas ga kebagian tempat ini ya?”
“Auch aah”
“Mmmm ngambek ya, maaf ya sayang”
“Bodo”
“Mmm iya Paijo bodo, paijo memang ga sekolah sih, ga papa kok kalau mbak Astrid marah, Paijo bisa apa”
“Bodo”

Kemudian Paijo bangkit dan melangkah ke pintu kamar untuk keluar kamar dan berjalan kembali ke kamarnya.

Astrid yang masih marah, juga semakin marah karena Paijo ternyata memilih pergi keluar kamar tanpa berkata2 lagi.

Sejenak kemudian barulah Astrid mengerti bahwa dirinya telah bersalah “besar” dengan memaki Paijo dengan kata “bodo”, padahal sebenarnya bukanlah makian, sebenarnya itu kata2 rajukan anak muda jaman now yang mungkin Paijo tak mengerti.

Kesalahpahaman ini membuat Astrid sangat bersedih dan bingung mau bicara apalagi karena Paijo ternyata telah keluar kamar.

Astrid hanya menangis saja. Ada penyesalan dan ada pengharapan bahwa nanti Paijo akan memaafkannya. Ada rasa marah juga yang membuatnya tak segera menemui Paijo dan meminta maaf atau sekedar menjelaskan maksud kata2nya.

Sampai tengah malam Astrid belum tidur juga, karena Paijo belum kembali ke kamar Astrid yang artinya Paijo benar2 marah padanya. Hal itu akhirnya membuat kemarahan Astrid naik lagi karena dalam benaknya Paijo tak sayang lagi padanya dan ga mau mengalah.

Malam itu Astrid tak bisa tidur…
Benar2 tak bisa tidur…

Paginya rumah itu gempar, karena ternyata Paijo tak ada di kamarnya dan dimanapun juga di sekeliling rumah.

Hanya meninggalkan sepucuk surat saja.

Kepada Ndoro tuan dan Ndoro Putri
Yang Paijo sangat kagumi dan hormati

Sebelumnya Paijo ingin minta maaf bahwa selama ini Paijo merasa sangat banyak merepotkan Ndoro Tuan dan Ndoro Putri sekeluarga, lebih2 mbak Astrid yang banyak membantu Paijo yang bodoh ini.

Paijo sudah lama berfikir tentang eksibisi catur yang menggunakan kebesaran nama Ndoro Tuan dan Tuan Nakanishi. Paijo merasa sangat tidak pada tempatnya kalau Paijo menggunakan nama tuan berdua untuk mengangkat derajat Paijo sehingga Paijo memutuskan untuk tidak jadi atau membatalkan keikutsertaan Paijo, bagaimanapun juga Paijo tahu diri hal tersebut akan merendahkan derajat tuan berdua.

Paijo juga senang sekali tuan Nakanishi telah mengangkat mas Kresna sebagai murid, sehingga Paijo merasa sudah pas kalau Paijo pergi karena semua bonsai yang ada di rumah pasti akan ada yang mampu merawatnya jauh lebih bagus dibanding dirawat oleh Paijo yang memang bodoh ini.

Sekali lagi mohon maaf bila Paijo telah membuat semua orang merasa terganggu dan terbebani oleh Paijo. Semoga dengan kepergian Paijo, Paijo tidak akan merepotkan lagi Ndoro Tuan dan Ndoro Putri.

Semoga keluarga besar Ndoro Tuan dan Ndoro Putri sehat selalu dan dalam lindungan tuhan.

Mohon maaf atas segalanya
Mohon maaf juga karena Paijo pamit dengan cara yang tidak baik.

Paijo

NB : tolong sampaikan maaf saya kepada tuan Nakanishi, paijo akan selalu mengenang beliau sebagai seorang yang luar biasa.

Surat Paijo benar2 menggetarkan hati seluruh penghuni rumah. Surat yang ditulis dengan cara yang sederhana dan singkat.

Tapi siapapun yang membacanya akan melihat bahwa Paijo menulisnya dengan rasa tersinggung dan amarah yang luar biasa.

Sampai2 tidak lagi menggunakan panggilan Pakdhe dan budhe sebagai penolakan atas diakuinya dirinya sebagai keluarga dekat Atmo dan Kinanthi.

Surat yang berkharakter tinggi dengan pilihan kata2 yang sangat bagus untuk memberikan kesan penuh kerendahan diri.

Ndoro Tuan orang yang pantang menangis sebenarnya, semua orang di rumah itu tak pernah melihatnya menangis, tapi kali ini benar2 ada linangan airmata di matanya bahkan sampai mengalir deras jatuh di pipinya.

Surat itu hanya dipegangnya sambil menangis tanpa suara dan kemudian meletakkannya dan pergi begitu saja sambil terus air mata mengalir di pipinya.

Mama Astrid melihat suaminya seperti itu langsung mengambil surat itu dan membacanya, kemudian berlari mengejar suaminya dengan isakan tangis tertahan.

Mama Astrid bisa merasakan kepedihan yang sangat dalam Paijo dalam tulisannya, ada kemarahan yang ditekannya dalam2 dengan sikap tetap menghormat.

Ada rasa ketidak berdayaan dan tersingkir yang luar biasa memedihkan dan melukai perasaannya.

Tuan Nakanishi juga akhirnya mengetahui keadaan itu dari sikap sahabatnya. Belum pernah sekalipun sahabatnya menangis sampai begitu rupa. Akhirnya beliau bisa menemukan dan membaca surat tersebut.

Tubuhnya bergetar dengan kerasnya, ada kemarahan yang amat sangat disana, ada pula kesedihan yang kuat terasa sekali dalam getaran tubuhnya.

Ingin sekali dirobeknya surat itu namun apalah hendak dikata, surat itu bukan miliknya. Tapi remasan tangannya telah sanggup menggumpalkan surat itu hingga tak berbentuk lagi. Dibantingnya surat itu dan akhirnya dia kembali ke kamarnya.

Mengemasi pakaiannya dan pergi dari rumah besar itu tanpa pamit lagi, entah kemana.

***

Astrid baru bangun siang hari karena semalaman dia tak tidur sama sekali. Ketika keluar kamarnya, rumahnya tampak muram dan tak ada orang sama sekali di ruang tengah.

Astrid langsung menuju ruang baca karena ingin menemui Paijo dan ingin meminta maaf atas kejadian malam tadi. Namun tak dijumpai sosok yang diharapkannya.

Astrid mencarinya di halaman sekeliling rumah juga tak dijumpainya Paijo. Ntah kenapa hatinya tak enak karena dilihatnya semua pembantunya melihat padanya dengan pandangan aneh.

“Mbak Jum, mas Paijo kemana mbak ?”
“Mmm mbak Astrid ke kamarnya saja”

Merasa hatinya tak nyaman dengan semuanya termasuk cara mbak Jum menyampaikan jawaban soal Paijo, dirinya segera menuju kamar Paijo…

BRAK

Dilihatnya kamar itu begitu rapihnya seolah belum pernah ditempati semuanya tampak bersih dan kosong.

Ya….kosong tak ada tanda2 kamar itu diisi.
Semua barang2 milik Paijo tak ada ditempat itu.
Semua rapih tak ada debunya sama sekali.

Hanya dilihatnya segumpal kertas yang seolah habis diremas2 oleh seseorang dan dilemparkan begitu saja ke meja belajar yang ada di kamar itu.

Perlahan dibukanya kertas itu dan didapatinya tulisan Paijo disana.

Dibacanya perlahan…
Kemudian tubuh Astrid bergetar keras…
Kemudian….

BRUGGGH

Astrid jatuh rebah di lantai…

***

Di ranjang yang kelihatan nyaman itu terbaring seorang gadis cantik yang nampak tak bergerak, hanya nafasnya perlahan yang menyiratkan adanya kehidupan disana.

Disampingnya duduk seorang wanita paruh baya yang masih gemilang kecantikannya. Wajahnya nampak kuyu dan jelas terlihat adanya kesedihan yang mendalam disana.

Ibarat nasi sudah jadi bubur.
Waktu tak akan bisa diputar kembali.

Anak gadis yang sehari2 mamang agak dimanjakan oleh keluarga ini terbaring setelah ditemukan oleh mbak Jum pingsan di kamar milik Paijo.

Ditangannya waktu itu tergenggam surat Paijo untuk papa mamanya, surat pamitan pergi untuk tak kembali. Surat yang tergambar jelas bahwa penulisnya menulis dengan hati yang penuh luka. Surat yang singkat namun sarat makna, dimana penulisnya seolah tak lagi mengakui atau mau diakui sebagai kerabat.

Penulisnya menyatakan diri sebagai orang bodoh, mengakui kebodohannya dan minta maaf untuk itu. Suatu hal yang luar biasa.

Bagi seorang lelaki itu berarti sebuah tanda baca “titik” yang artinya cukup sampai disini.

Mama Astrid sangat bersedih hati, bagaimanapun juga semua adalah salah dipihaknya. Astrid memang sakit sejak kecil dan penyakitnya bisa merenggut nyawanya kapan saja, itulah sebabnya Astrid sangat dimanja oleh siapapun dirumah ini bukan karena papa dan mamanya senang memanjakan anak tetapi lebih kepada mereka sangat trenyuh dengan penderitaan anaknya yang setiap kali penyakitnyanmenyerang selalu kesakitan dan mereka berdua hanya bisa pasrah dan tercabik2 hatinya melihat penderitaan anak gadisnya.

Mereka tak tahu apa yang terjadi malam itundi kamar anak gadisnya, tapi yang pasti mereka tahu itu hanyalah salah paham belaka. Mereka yakin betul Astrid bukanlah orang yang suka menghina siapapun bahkan pada pembantu atau pengemis sekalipun.

Penderitaan dan sakitnya selama ini telah menjadikannya seorang yang mudah tersentuh dan suka menolong orang lain. Itulah yang membuat mama Astrid bersedih hati.

Paijo telah pergi dan Tuan Nakanishi juga pergi tanpa pamit. Dan semua telunjuk mengarah kepada anak gadis mereka, bahkan mereka juga merasakan bahwa para pembantu juga turut menyalahkan Astrid atas kepergian Paijo dan tuan Nakanishi.

Mengingat penderitaan anak gadisnya itu, mama Astrid menangis sedih mengucurkan airmatanya deras. Badannya bergetar menahan kesedihan atas penderitaan anak gadisnya.

Yang paling menyedihkan, bahkan papanya pun menyalahkan Astrid yang dianggap tak tahu diri.

Rumah itu benar2 suram sesuram suramnya.

***

Hari2 berlalu, semua seolah kembali ke sedia kala, Astridpun sudah sehat dan kuliah lagi, seolah tak ada apa2.

Namun gadis itu sudah kehilangan sinarnya. Wajahnya selalu suram dan tanpa senyuman.

Selama ini dirinya hanya berbicara seperlunya saja, selalu mengurung diri di kamar atau di ruang baca.

Gairah hidupnya sudah hilang lenyap, melihatnya seolah melihat mayat hidup yang dianggap hidup hanya karena bisa bergerak, makan dan minum. Selebihnya diam.

Setahun sudah Paijo pergi dari rumah ini, entah dimana dirinya Astrid sudah tak peduli lagi. 2 bulan lalu dirinya harusnya Wisuda sarjana dengan predikat cumlaude dan tidak dia hadiri karena Astrid benci dengan acara yang penuh suka cita, itu saja alasannya.

Saat ini Astrid sedang dalam pengurusan surat menyurat kepergiannya ke Perancis. Kebetulan aplikasinya untuk mendapat bea siswa disana diterima. Dirinya akhirnya benar2 bersyukur dapat pergi dari rumah yang penuh kenangan buruk baginya. Rumah yang kini seolah neraka bagi penghuninya, setidaknya bagi Astrid.

Melihat pandang papanya yang seolah menyalahkannya, melihat kesedihan mamanya yang seolah merasa tertekan akibat sikap suaminya. Atau melihat mas Kresna yang seolah tak betah lagi dirumah. Rumah ini benar2 pecah berantakan jiwanya hanya tinggal bangunan semata dan sepotong memori semata.

Seminggu lagi Astrid akan berangkat ke Perancis.
Seminggu lagi masa yang tak sabar dinantikannya.
Seminggu lagi semoga penderitaannya berakhir.

Astrid menatap sedih rak2 buku yang sekarang seakan mati kehilangan ruh nya…
Diperiksanya setiap sudut2nya.
Dilihatnya lekat2 setiap jengkal lantainya.

Buku2 lawas itu akan kembali menjadi seolah tanpa makna lagi…
Seminggu lagi akan hilang dalam kamus Astrid….

Seminggu lagi….

Sayonara.

TAMAT

***

Bersambung

Daftar Part