. Buku Harian Ari Part 50 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 50

0
98

Buku Harian Ari Part 50

Aku dan Istri Sahku

TAMAT

Rini

“Akhh mass udah mass… aku gak tahan” desahku saat mas boby memompa memekku dengan kontol kerasnya. “Walaupun udah jadi istri orang, kamu masih menggoda rin” racau mas boby. “Assalamualaikum” kami mendengar ucapan salam dari kakakku yang tak lain adalah kak rida, kami lekas dengan panik merapikan diri dan jujur aku sangat kecewa karena aku dibuat kentang karena situasi ini. Samar-samar kumendengar “Kamu habis ngapain mas? Kok keringatan begitu” tanya kak rida, “Tadi habis sapu halaman belakang sayang” ucap mas boby berdusta. “Ooo tumben rajin suamiku ini… Rini! Udah pulang kamu? Sini makan sama kakak” pekik kak rida. “I…iya sebentar kak” ucapku seraya kembali memakai gamis hitam milikku tanpa mengenakan dalaman sama sekali, jantungku masih berdegup cepat karena habis memacu birahi, begitu juga dengan memekku yang masih lembab dan berkedut. “Akhh aku butuh!” pekikku dalam hati.

Ari

“Hei…. Jangan tidur lama-lama” samar-samar kudengar mbak tini membangunkanku sembari mengelus wajahku. Ya kami baru saja bertempur di ranjang reot mbak tini ini sebanyak tiga ronde, dan hal ini membuatku keletihan hingga tertidur. Saat kulihat jam ternyata sudah pukul 8 malam. “Wah hampir kemaleman nih!” ucapku seraya ‘melompat’ dari ranjang mbak tini. “Noh beres-beres kamu, nanti dicariin istrinya” ucap mbak tini. “Oh iya juga” ucapku yang lupa bahwa kini aku telah beristri. “Eh si oon kontol panjang malah lupa udah ada polda” ledek mbak tini. Setelah cipika cipiki dengan mbak tini, aku langsung melaju pulang ke rumah. “Assalamualaikum” ucapku mengucap salam. “Wa’alaikumsalam..” suara lembut istriku menyahut seraya membukakan pintu untukku. “Dari mana aja ri kok baru pulang?” tanya kak rida. “Dari buat tugas di rumah si ahmad kak” ucapku berbohong. “Oh… yaudah makan dulu sana, rin, siapkan makan suamimu” ucap kak rida yang tengah menonton tv bersama mas boby. “Suasana damai apa ini? Kenapa aku begitu tega mengkhianati semuanya? Apakah aku tidak bisa kembali ke jalan yang benar?” ribuan pertanyaan yang sama terus membombardir otakku.

Situasi ini sedikit menyadarkanku bahwa semua perbuatan memiliki konsekuensinya, dan pernikahan bukan lah hal sepele yang bisa dilakukan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. “Mas… kok termenung?” tanya rini menyadarkan aku yang tengah larut dalam lamunan panjangku. Wajah khawatirnya seolah menusuk hatiku, hati yang begitu kotor ini. Tiba-tiba rasanya aku ingin menangis. “Mas ari…” ucap rini lembut seraya menggenggam tanganku. “Eeee… gak apa-apa kok” ucapku yang berusaha kembali ke alam nyata ini. Setelah makan malam selesai, aku langsung masuk ke kamar kami, saat aku hendak menutup pintu kamar, ternyata rini mengikutiku. “Mas keletihan ya?” ucap rini seraya mengelus punggungku. “Iyaa sayang” ucapku yang justru membuatku terkejut pada diriku sendiri, karena dari awal kami menikah, aku belum pernah mengatakan hal manja seperti itu padanya. “Mas…” ucap rini lirih yang membuatku berputar menghadapnya.

Kulihat ia menunduk, lalu perlahan mengangkat kepalanya, menatapku dengan sangat dalam dan berkata “Aku juga menyayangimu mas”. ‘Deg’ seketika jantungku seperti berhenti, ungkapan yang sangat tulus dari sang calon bidadari surga di hadapanku kini. Hal itu seketika membuat lututku lemas dan bersimpuh di lantai. “Mas kenapa?!” pekik rini. “Maafin mas” ucapku seraya menahan tangis. “Sstt… rini sudah maafin mas sejak mas berani tanggungjawab dengan apa yang telah mas buat pada rini, karena sesungguhnya rini memang telah punya rasa pada mas” jelas rini seraya mencium bibirku. “Sehangat inikah bibir istriku?” aku membatin. Aku langsung menangis sejadi-jadinya dalam pelukan istriku. “Aku sayang sama mas kini dan nanti” ucap rini dengan begitu tulus seraya mengelus rambutku. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya dalam dan akhirnya kami kembali berciuman. Seketika gairah menggebu bangkit pada diriku, walaupun sudah bertempur habis-habisan dengan mbak tini beberapa jam lalu, tapi kurasakan stamina yang dibalut dengan syahwat ini membuatku ingin segera menjamah dan bercinta dengan istri sahku. Cumbuan kami cukup lama, perlahan rini mulai menarik tanganku untuk meraba dan meremas toket miliknya yang masih tertutup gamis hitam yang ia kenakan. “Lanjut di ranjang aja mas” ucap rini seraya melepas pagutan kami. Rini berjalan menuju ranjang seraya menanggalkan gamis hitam miliknya.

“Kamu gak pakai dalaman?” tanyaku. “Ini semua karenamu mas… aku rindu di jamah olehmu, kau tak pernah menjamahku sejak kita ijab qabul” ucap rini seraya berbaring terlentang dan mengangkangkan kedua kakinya. Pemandangan yang menggoda ini jelas saja semakin membuat birahiku menggebu-gebu. Aku dengan tergesa-gesa membuka celana kain yang kukenakan berikut cd milikku. Aku langsung naik keatas tubuh istriku dan kembali mencumbu bibirnya. Tangannya mengelus dadaku, turun menuju perutku, dan menggenggam serta meremas kontolku dengan kasih sayang yang membuat kontolku langsung tegak mengacung. “Ih langsung keras aja mas..hihi” celetuk istriku. Perlahan aku mulai mengarahkan palkonku untuk membuka jalan masuk ke memek istriku. “Sshh mass..” lenguh istriku. Seperempat,setengah, hingga seluruh kontolku masuk dan tertancap di dalam memek istriku. Aku mulai memaju mundurkan pinggulku, “Akhh sshh mass….” Desah istriku yang langsung kuhentikan dengan kembali mencumbu bibirnya. Kuremas kedua toketnya yang semakin membuatnya melenguh dalam pagutan kami.

Beberapa menit aku mengaduk memeknya, ia melepas pagutan kami dan mendesah “Akhh cepetin ih… gak tahan akuhhh”, dan benar saja, kurasakan semburan cairan cintanya yang sangat deras menghangatkan kontolku dan hal ini membuat pergerakan kontolku semakin licin. “Perkasa banget kamu maskuhh” ucap istriku seraya mengatur nafasnya. “Yang… nungging dong…” pintaku. Ia yang masih lunglai pasca orgasme pertamanya, berusaha menggerakkan badannya untuk memenuhi permintaanku tanpa melepaskan kontolku dari dalam memeknya. Aku menarik badannya untuk tegak lurus denganku, dan kuremas kedua toketnya dari belakang. Kami kembali berpagutan, jilbab hitam yang ia mulai tampak kusut, ia yang sepertinya sudah sangat memahamiku, enggan membuka jilbabnya demi memenuhi fantasiku. “Ughh mass… kerasa banget…oghh” desah istriku. “Kerasa apanya yang?” tanyaku iseng seraya mempercepat sodokan kontolku. “Ughh kontolmu mas… kerasa banget… kena di itilkuhhhh” racaunya semakin liar.

Kami terus melanjutkan pergumulan kami hingga 10 menit kemudian aku merasa bahwa pertahananku hampir runtuh. “Ahhh udah gak kuat aku sayang…” lenguhku. “Hayuuuk barengan….sshh” desah istriku yang kini memeluk bantal dengan erat pada posisi menungging ini. “Ughh aghh” desahku seraya meremas pantat istriku. “Crot…crott…crottt…” ada sekitar 4 semprotan pejuku masuk ke dalam liang memek istriku dan diikutin dengan semburan cairan cinta kedua dari istriku. Tubuh kami berdua rubuh ke samping dan membuat kontolku lepas dari memeknya. Istriku yang masih lemas, merubah posisi tubuhnya menghadapku, kulihat senyum kepuasan di bibir tipisnya. “Makasih mas kuh” ucapnya lirih. “Iya sayang…” ucapku seraya mengelus pipinya. Tatapan kami sangat dalam dan penuh haru. “Mungkin disinilah saatnya ku mengakhiri jalan kelamku dan kembali menjadi pribadi yang lebih baik dengan dukungan istri tercintaku ini? Aku membatin.

Tamat

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part