. Buku Harian Ari Part 46 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 46

0
80

Buku Harian Ari Part 46

Menikah?

Beberapa bulan berlalu…

Aliyah

Hari ini aku sudah memasuki bulan kesembilan kehamilanku, sehingga pada hari ini aku kembali ke rumah sakit untuk mengecek kehamilanku. Setibanya di rumah sakit, “Ada yang bisa dibantu ibu?” tanya sang suster. “Saya mau cek kehamilan dan perkiraan waktu hari kelahiran saya sus” ucapku. “Tunggu sebentar ya bu” ucap sang suster ramah. Sembari menunggu aku membuka beberapa sosmed milikku untuk menghabiskan waktu, hingga mataku terpaku pada salah satu postingan yang seperti ada sebuah acara akad nikah, foto tersebut diunggah oleh dosenku yaitu bu rida. Pelan-pelan aku membuka foto pernikahan itu satu persatu, aku ingin melihat siapakah yang menikah, betapa perihnya hatiku saat kulihat ternyata yang menikah adalah mantan suamiku mas ari dengan seorang gadis muda yang mungkin seumuran denganku. Pada saat itu juga sang suster memanggilku untuk masuk ke ruang periksa. Aku berjalan lunglai dan mengetuk pintu ruang periksa, “Yak masuukk” sahut seorang dokter di dalam, suara yang familiar bagiku. Saat aku masuk, benar ternyata ia adalah dokter budi, dokter yang kejantanannya kurindukan.

“Apa kabar bu aliyah?” tanya dokter budi ramah. “Ka..kabar baik dok” ucapku tertunduk karena masih berusaha menahan tangis. “Syukurlah… Mari ke ranjang periksa bu” ucap dokter budi, aku hanya menuruti arahannya tanpa berkomen apapun. Sebelum kuletakkan kedua kakiku diatas penyangga kaki, aku langsung saja menaikkan rok coklat keabuan milikku hingga ke perut ku yang kini sudah membuncit. Melihat inisiatifku, dokter budi sempat beberapa kali menelan ludah. “Mari kita mulai ya bu..” ucap dokter budi seraya memasangkan beberapa alat-alatnya diatas perutku. “Usia kandungan ibu sudah masuk ke usia 9 bulan, dan jika ibu dan calon bayi dalam keadaan sehat kemungkinan akan dilakukan persalinan sekitar 2 minggu lagi bu.. selamat” ucap dokter budi seraya tersenyum. “Alhamdulillah…” ucapku singkat seraya menurunkan celana dalam coklat yang kukenakan.

Mulustrasi Aliyah

“I..iya bu… pemeriksaannya sudah selesai” ucap dokter budi terbata-bata ia tak dapat memungkiri dirinya sendiri untuk tak menatap selangkanganku. “Ke..kenapa dibuka bu?” tanya dokter budi bingung. “I..ini dok… beberapa hari ini biji yang berada di vagina saya gatal dok” ucapku pelan. “Gatal bu?” tanya dokter budi. Ia pun langsung mendekat ke arah selangkanganku dan menarik kedua sisi bibir memekku untuk melihat ‘Biji’ yang kumaksud, “Ini bu?” tanya dokter budi seraya menyentuh itil milikku. “Sshh iya dok” desisku. “Hmm gatal ini bukanlah masalah bu.. itu hal normal bagi perempuan yang akan segera melahirkan” ucap dokter budi seraya kembali berdiri tegap. Kesal juga aku bawaannya karena ia tak kunjung paham akan maksudku. Akhirnya dengan sedikit sengaja kuhentakkan tangan kananku menuju selangkangannya dan kurasakan kontol miliknya sudah tegang, mungkin sedari tadi. “Hmm maaf dok.. saya tidak sengaja” ucapku seraya menarik kembali celana dalam milikku dan menurunkan rok yang kukenakan, perlahan aku beranjak bangun dari ranjang periksa ini. Namun tiba-tiba dokter budi menahan bahuku, “Maaf jika saya kembali lancang dengan ibu… bolehkah saya meminta izin melakukan apa yang telah saya lakukan kepada ibu beberapa bulan lalu itu?” ucap dokter budi.

“Maksud dokter?” tanyaku ketus, padahal di dalam hati aku kegirangan. “Saya ingin ini bu” ucap dokter budi seraya meloloskan celana kain berikut celana dalam yang ia kenakan ke lantai, sehingga terlihat sudah kontol panjang miliknya mengacung gagah. “Sekali ini saja bu…” ucap dokter budi lirih. “Janji yaa ini yang terakhir” jawabku ketus seraya kembali berbaring. Dokter budi mendekatiku, ia menarik tanganku untuk menggenggam kontol panjang miliknya. Dengan perlahan mulai kukocok dan kupijat kontol miliknya, dokter budi mulai menaikkan rok gamisku hingga kebahu, sehingga kini tubuh putihku terpampang dihadapannya. “Ibu gak pakai bra?” tanya lirih dokter budi seraya meremas lembut toketku, Aku diam saja dengan tetap mengocok kontolnya yang perlahan tapi pasti mulai muncul urat-urat keperkasaan miliknya. Dokter budi memainkan jemarinya pada bibir memekku yang masih tertutupi celana dalam. “Sshh hmm” desahku.

Iapun mulai menurunkan celana dalam milikku, sesaat celana dalamku terlepas, dokter budi merangkak naik keatas ranjang periksa ini dan mulai pelan-pelan memasukkan palkonnya ke bibir memekku. “Pelan-pelan” ucapku lirih saat kurasakan palkon gede dokter budi mulai ‘membuka jalan’ di dalam memekku. “Uhh hmm” desahku saat keseluruhan kontol dokter budi telah berada di dalam liang memekku. Perlahan dokter budi mulai meningkatkan tempo sodokan kontolnya dan aku tak lagi sungkan untuk mendesah dihadapannya. Saat dokter budi hendak mengecup bibirku yang masih tertutup cadar hitam yang kukenakan, kutahan bibirnya dengan satu jari telunjukku. “Gak boleh dok… belum sah” ucapku. “Hmm hmm mau kah kalau ibu saya sahkan?” tanya dokter budi dengan kontol yang masih menyodok-nyodok memekku. “Hmm sshh kalau saya kamu sahkan, bagaimana dengan istrimu uhh?” tanyaku. “Saya duda bu…. Saya cerai karena mantan istri saya berselingkuh dengan tukang kebun kami dulu” curcol dokter budi.

“Ughh hmm teganya istrimu dok… selingkuhin yang segede inihh hmm” celetukku yang mulai tak karuan. “Apa.. apanya yang gede bu?” tanya dokter budi pura-pura lugu. “Ituuhh ahh… yang keluar masuk sekarang….” Racauku. “Batang inih?” tanya dokter budi seraya mempercepat sodokannya. “Iii iyaaahh… ahh gak tahan” lenguhku. Kuremas kedua lengan atletis dokter budi saat aku menyemburkan cairan cintaku. “Hangat banget bu…” ucap dokter budi tersenyum. “Ahh dokter curang… hmmm sshh” lenguhku. “Jadi gimana? Mau gak kalau saya sah kan?” tanya dokter budi kembali ke pertanyaannya tadi. Aku tak menjawab pertanyaannya, aku hanya fokus pada sodokan kontolnya.

“Ahh maaf saya lemah bu… saya gak kuat… “ lenguh dokter budi diikuti denyutan kontol miliknya pertanda ia akan ejakulasi, dengan sedikit kasar aku mendorong pinggulnya sehingga kontolnya terlepas dari memekku, “Ugh.. kenapa bu?” tanya dokter budi bingung. Aku beranjak dan menggenggam keras kontolnya. “Jangan keluar dulu dong calon suamiku..” ucapku seraya tersenyum dibalik cadar hitamku. Saat kupastikan bahwa gelombang ejakulasi dokter budi telah berlalu dan kontol miliknya masih tetap tegang, aku kembali berbaring dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar. “Masukin lagi dok…” ucapku dengan nada menggoda. Dokter budi seakan linglung namun ia mengikuti arahanku untuk kembali menggenjot memekku. Setelah gelombang ejakulasinya tadi sempat kuhentikan sejenak, kini sudah kurang lebih 8 menit dokter budi menggenjot memekku, dan aku merasakan bahwa akan mengalami orgasme yang kedua.

“Dok..cepatin aahh aku udaahh gak kuaatt” desahku. “Iyaah calon istrikuuuhh” ucap menggoda dokter budi diikuti tempo sodokannya yang semakin cepat, ia membungkukkan tubuhnya sehingga kini wajah kami berdua sangat dekat. Ia singkapkan cadar hitam milikku, dan ia mulai mengecup mesra bibirku, pagutan kami semakin kuat dan “Crott crooot croott” ada sekitar 4 semburan peju dokter budi yang menghangatkan pintu rahimku dan memicu orgasme kedua pada tubuhku, sehingga kini kedua cairan cinta kami menyatu di dalam sana dengan mesranya. Saat kontol dokter budi mulai menyusut dan terlepas dari memekku, kurasakan cairan kami meleleh keluar membasahi pangkal paha dan rok gamisku. “Jadi kita ya?” tanya dokter budi tersenyum, aku hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part