. Buku Harian Ari Part 42 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 42

0
95

Buku Harian Ari Part 42
Selamat Mengandung!

Beberapa hari kemudian…

Rini

Hari ini aku berkuliah seperti biasa, dari siang hingga sore. Mata kuliah terakhir, usai tepat jam 5 sore. Setelah perkuliahan usai, aku menuju ruang dosen dengan maksud ingin menemui bu yati untuk membahas tentang perilaku menyimpang yang aku dan bu yati sering lakukan akhir-akhir ini, aku jujur merasa keberatan apabila terus-menerus dijadikan pelampiasan oleh bu yati, aku ingin bergegas lepas dari lingkaran zina ini. Saat aku hendak membuka pintu ruang dosen, sayup-sayup aku mendengar desahan dari dalam, tak lain ya desahan bu yati.

Aku beranggapan bahwa di dalam sana bu yati tengah memuaskan birahinya sendiri dengan bermain dildo andalannya. Aku sempat mengurungkan niat untuk menemui beliau karena khawatir akan kembali dijadikan pelampiasan oleh beliau, namun tekadku sudah kuat untuk menyelesaikan masalah ini. Ketika aku tepat sampai di depan meja bu yati, betapa terkejutnya aku melihat bu yati tengah duduk mengangkang diatas meja dan seorang pria tengah menggenjot memek bu yati, pria tersebut tak lain adalah mas ari. “Ups!” pekikku, situasi ini menjadi sangat canggung, bu yati dan mas ari menatapku dengan tatapan terkejutnya, tanpa bergerak sedikitpun, sementara aku terdiam berdiri seraya menutup mulutku.

Aku akhirnya memutuskan untuk berlari keluar karena tak ingin ditarik dalam permainan zina tersebut, namun belum sempat aku membuka pintu keluar, tubuhku langsung didekap dari belakang oleh mas ari. “Ahhh lepaskan aku mas ari!” pekikku seraya meronta agar tubuhku terlepas dari cengkramannya. Namun sepertinya usahaku sia-sia, ditambah kurasakan kontol mas ari seolah menyodok-nyodok pantatku dari balik celana kargo coklat yang kukenakan. “Masss lepasin rini maass!” keluhku, namun bukannya mengasihaniku, mas ari malah menarik tubuhku menuju meja bu yati. Kulihat bu yati menyeringai penuh arti.

Mulustrasi Rini

Ari

“Masss lepasin rini maass!” keluh rini, akhwat yang baru saja memergokiku bermain ‘nakal’ dengan dosenku sendiri beberapa saat yang lalu ketika kupeluk dan kuseret tubuhnya ke meja eksekusi kami tadi. “Diam aja kamu!” bentakku. “Ari.. tadi belum tuntas kan? Mau kamu tuntasin ke saya apa ke dia?” tanya bu yati. “Kayaknya saya mau ke dia deh” ucapku. “Hah! Apa-apaan ini! Lepasin aku mas!” ucap rini seraya terus meronta. “Bantu saya bu” ucapku memberikan kode pada bu yati untuk membantuku membaringkan tubuh rini yang masih terus meronta ini ke atas meja kerja bu yati. Saat tubuh rini sudah mulai terlentang, aku dengan kasar menarik turun celana coklat yang rini kenakan berikut cd abu-abu yang ia kenakan.

“Akh! Mas mau ngapain mas?!” pekik rini panik. Terlihat memek rini yang ditumbuhi bulu-bulu halus meningkatkan kembali birahiku yang sempat tercekat beberapa menit lalu. Akupun dengan tergesa-gesa mengambil botol salep yang ada di dalam kocek celanaku, aku mencolek salep itu cukup berlebihan sehingga ada yang terjatuh ke lantai, dengan tergesa-gesa kuoleskan salep tersebut ke batang kontolku yang sudah tegang dan lembab karena cairan memek bu yati tadi. “Buu pegangin dia ya bu” ucapku seraya mendekatkan palkonku ke bibir memek rini. “Iyaa ini saya pegang.. kamu kira saya lagi ngentot hah?” ucap bu yati ketus karena kepayahan menahan rontaan rini. “Mass jangan mass… ini salah mass… tolong mass lepaskan saya.. huft hhmm” ucap rini yang terpotong karena mulutnya disumpal oleh bu yati dengan cd milik bu yati. “Daahh diam dan nikmatin aja ya kamu… ini kontol tokcer.. masa’ mau sama kontol-kontolan terus” ucap bu yati.

Dengan perlahan namun pasti, kudorong kontolku yang sudah basah oleh salep ke dalam memek rini. “Uuuh ughhh hmm” hanya itu yang dapat terdengar dari mulut rini yang tersumpal. Rini memelototkan matanya melihatku yang seperti kerasukan setan terus ‘merangsek’ memeknya dengan kontolku. “Ughhh hhhmm” desah rini tertahan saat kontolku sudah masuk semua ke dalam memeknya. Kudiamkan sejenak, karena aku ingin menunggu reaksi rini merasakan memeknya diisi oleh kontolku yang sudah dibaluti salep perangsang ini. Dengan lembut dan penuh perasaan, kuremas toketnya kanan dan kiri secara bersamaan dari balik jaket kuning yang ia kenakan. “Ughh hmmm” desah rini seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pelan tapi pasti kulihat pinggul rini maju mundur, aku tersenyum menatap bu yati, “Udah?” tanya bu yati.

“Udah kayaknya” ucapku. Akupun memajumundurkan kontolku di memek rini. “Uhhmm hhmm… hoeek” desah rini seraya mengeluarkan cd bu yati dari mulutnya saat mengetahui bu yati mengendurkan kuncian tangannya. “Uhh mass..kok mas tega giniin rini… hmm” desah rini. Terasa oleh kontolku bahwa memek rini berkedut-kedut, “Apakah dia udah mau sampai? Cepet banget” batinku. Akupun berinisiatif untuk mempercepat genjotan kontolku pada memek rini. “Ughh mas… udah yaa… arrrgghh” desah rini diikuti semburan cairan cintanya yang begitu deras. “Udah? Tapi kok nyembur… Enak aja main udah-udah” celetuk bu yati judes. “Hehe judes amat sayangku ini” ucapku seraya mencolek pipi bu yati.

30 menit berlalu…

Tanda-tanda bahwa rini akan kembali menggapai orgasmenya mulai muncul, memek rini kembali berkedut-kedut sama seperti pada orgasme pertamanya tadi. Lenguhan demi lenguhan seolah tak malu lagi keluar dari bibir manisnya, begitu juga erangan dan desahan. Tak jarang jemarinya mencakar lenganku saat kusodokkan kontolku terlalu dalam hingga terasa pintu rahimnya menyambut palkonku. “Aku jatuh cinta padanya” kalimat itu terlintas sekilas dalam pikiranku. “Akkhh mass… akkhh gak tahan” desah rini. “Ughh bareng yaa” ucapku seraya mempercepat genjotan kontolku. Tak beberapa saat, “Ugghh hhmm mass oooghhh” desah rini diikuti semburan cairan cinta miliknya membuatku tak mampu lagi menahan benih-benih masa- depan dari palkonku dan “Croott..crooott..crooott” menyemburlah pejuku sebanyak 3 semburan dan langsung mengumpul di dalam memek rini.

Rini yang beberapa detik lalu terpejam menikmati orgasme keduanya, seketika ia melotot saat merasakan semburan pejuku di dalam memeknya. “Mass semprot di dalem?!!!” teriaknya. “Hmm hmm” ucapku seraya menekan kontolku pada titik terdalam dari memek rini. “Akhh banyak banget mass…. Mass tolong lepasin aku…” ucap rini yang mulai lemas karena menyadari bahwa besar kemungkinan ia akan mengandung anakku. Aku melepaskan kontolku dari memek rini, terlihat sisa-sisa pejuku yang tak terbendung keluar meluber dari memek rini dan membasahi lantai ruang dosen ini. Kulihat rini tetap terbaring pada posisi itu dan menatap kosong ke langit-langit.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part