. Buku Harian Ari Part 41 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 41

0
98

Buku Harian Ari Part 41
Salep Perangsang

Ari

Hari ini setelah perkuliahan usai aku memiliki janji untuk menemui mbak tini di kosannya, dia berkata padaku bahwa ada sesuatu yang hendak ia berikan padaku.

Siang harinya…

“Tok…tok…tok” ketukku pada pintu kamar kos mbak tini. “Nah mas ari, sila masuk mas” ajak mbak tini ramah. “Mau ngasih apa mbak?” tanyaku to the point. “Ah buru-buru kamu… aku buatin minum dulu yaa” ucap mbak tini seraya beranjak menuju dapur. Tak berapa lama, ia datang membawakanku secangkir kopi hangat. Sebelum kuteguk kopi tersebut, aku meliriknya dan berkata “Bukan jamu perangsang lagi kan ini? Hmm?”, “Hehe gak ada perangsang kok disitu, bukan itu yang mau kuberi” ucap mbak tini seraya tersenyum. Setelah beberapa teguk kopi, mbak tini masuk ke dalam kamarnya dan keluar membawa sebuah wadah berbentuk botol. “Nih untuk mas” ucap mbak tini seraya memberikanku botol kecil tersebut. “Apa nih mbak?” tanyaku. “Salep perangsang mas” ucap mbak tini.

“Perangsang gimana mbak?” tanyaku bingung. “Itu salepnya nanti dioles di kontol mas sebelum ngentot, nanti selama mas ngentot, memek perempuan yang mas entotin bakal terasa gatel banget, jadi dia bisa nurut banget sama mas asalkan memeknya mas garuk pakai kontol mas” jelas mbak tini. “Wah… mbak dapet dari mana salep ini?” tanyaku. “Di tas almarhum suami saya mas… mungkin salep itu yang dia gunain buat ngentotin wanita jalang yang jadi selingkuhannya itu” jelas mbak tini. “Mbak tau ini bakal bisa bikin gatal gimana? Emangnya mbak udah coba?” tanyaku. Mbak tini mengangguk, “Kemarin aku coba usapin salep ini ke terong kecil milikku, lalu kumasukkan di memekku, Uhhh gatel banget mas… rasanya pengen digenjot teruss” jelas mbak tini seraya melenguh. “Itu gatelnya bisa ilang gak? Takut jadi penyakit pula nanti” tanyaku. “Bisa mas… kalau ceweknya udah orgasme, efek salep itu menghilang terlarut dalam cairan cinta si cewek” jelas mbak tini. “Ooo gitu… makasih ya sayang.. muach” ucapku seraya mencumbu bibir mbak tini.

Keesokan harinya…

Aku membawa botol salep perangsang yang diberikan oleh mbak tini kemarin padaku ke kampus, karena ada sebuah ide yang muncul di kepalaku, setelah selesai perkuliahan. Aku menuju ruang dosen dengan maksud untuk mencari bu yati. Beberapa hari lalu, sekitar jam 5 sore, aku sempat mendengar ada desahan wanita dari ruang dosen, dan kejadian itu sempat kurekam, walaupun hanya dengan perekam suara, semakin kudengar mulai kuketahui siapa pelaku dibalik kejadian erotis tersebut, dari desahan-desahan yang terdengar bahwa ada dua pelaku dan dua-duanya perempuan, salah satunya adalah bu yati, sementara perempuan satunya lagi kutebak adalah rini, akhwat yang sempat dekat denganku beberapa waktu ini.

“Permisi bu” ucapku saat sudah berada di depan meja kerja bu yati, “Oh nak ari… ada apa nak?” tanya bu yati. “Boleh bicara sebentar bu?” tanyaku. “Bicara apa nak? Mumpung saya gak sibuk” ucap bu yati. Akupun menjelaskan kejadian erotis yang ia lakukan beberapa hari lalu tersebut. Kulihat ekspresi wajah bu yati seakan tak percaya dengan yang kuungkapkan, lalu aku menambahkan bahwa aku berkeinginan untuk memviralkan skandal dosen dan mahasiswi ini ke lingkungan kampus. Seketika bu yati memegang kedua tanganku seraya berkata “Jangan… saya mohon jangan… saya hanya perlu pelampiasan…”. “Pelampiasan? Ibu kan punya suami” ucapku. “Suami saya udah sebulan lebih ini dinas di luar kota… saya rindu dibelai” jelas bu yati seraya menitikkan air mata. Aku merasa bahwa sudah satu poin aku unggul, walaupun ini masih siang, sepertinya akan menarik jika menguji adrenalin ngentot disini.

Aku langsung beranjak seraya mendekati bu yati dari samping mejanya. “Kenapa harus sesama perempuan kalau sekiranya ada batang yang siap memuaskan bu?” tanyaku seraya membuka resleting celanaku dan lekas mengeluarkan kontol lemasku. “Aih! Kamu ngapain?!” pekik bu yati. Langsung kutarik salah satu tangannya untuk menggenggam dan mengocok kontolku, “Kita main cepat aja bu…” ucapku. Sementara tanganku yang lain berusaha menyingkapkan jilbab abu-abu yang ia kenakan dan berusaha meremas toket miliknya. “Ughh ari…. Jangan ri… Singkirkan tanganmu!” ucap bu yati seraya memberontak agar aku melepaskan rabaanku pada toketnya, namun tangan dia yang sedari tadi menggenggam kontolku tak ia lepaskan, bahkan semakin ia genggam.

Mulustrasi Bu Yati

Aku yang sudah dikuasai birahi langsung berusaha untuk memeluk tubuhnya, dan membungkukkan tubuhnya secara paksa dengan bertumpu pada meja kerja ia, dengan sedikit kasar kusingkapkan rok motif bunga yang ia kenakan, “Wah ngajar di kampus gak pakai cd… berani juga kamu bu” ucapku seraya berusaha menyelipkan tangan kiriku ke selangkangan beliau, terasa ada bulu-bulu halus yang berada di sekitar bibir memeknya. “Ahh shh” desis bu yati saat jemariku berusaha masuk ke dalam memeknya. “Ari… hentikan ri… shh” erang bu yati. Sesekali ia berusaha untuk bangkit, namun dengan sedikit kasar kembali kubanting tubuhnya untuk kembali membungkuk. Dengan terburu-buru, aku mengeluarkan dan membuka botol salep perangsang yang diberikan mbak tini, lalu kuoleskan salep tersebut ke seluruh permukaan kontolku yang masih setengah tegang ini.

Saat telah kuoleskan, langsung saja kuposisikan kontolku untuk masuk ke memek bu yati, “Ari jangan ri…. Itu hanya boleh dimasukin sama suami saya… lepasin saya riiii…. Uggghh” ucapan bu yati terpotong ketika kontolku masuk dengan paksa ke dalam memeknya. “Ughh ri… udah ri… ingat aku dosenmu…” lenguh bu yati ketika dengan perlahan kontolku masuk ke dalam memeknya. Saat keseluruhan kontolku sudah masuk, mulai kusodok dengan tempo yang pelan, agar kontolku dapat menikmati pijatan-pijatan dinding memek bu yati hingga akhirnya dapat tegang dengan sempurna. “Sshh ihh rii…” desis bu yati. “Kenapa bu?” ucapku seraya membungkukkan tubuhku sehingga kini dadaku bersandar di pungguh beliau. “Keluarin ri… jangan lecehkan saya.. shh…” lenguh bu yati. “Apanya yang dikeluarin bu? Pejunya?” ucapku. “Bu..bukan… itu batangnya ri…” ucap bu yati. “Kok lama ya reaksinya?” aku membatin. Terasa kontolku sudah tegang sempurna, aku mulai menaikkan tempo sodokanku. “Uhh nak ari… lekas keluarkan batangmu itu ri…” ucap bu yati. A

ku yang penasaran dengan efek salep tersebut, langsung menarik keluar kontolku. “Ughh iyaa…udahh..” lenguh bu yati. Dua menit berikutnya, kulihat pinggul bu yati bergerak gelisah tak karuan, “Aduhh uuuuhh” lenguh bu yati. “Kenapa bu?” tanyaku. “Iniiihh iniiihh gatel banget…. Masukin lagi tolonggg…” desah bu yati seraya salah satu tangan beliau seperti mengorek-ngorek memeknya sendiri. “Tadi nolak… kok malah minta?” tanyaku sok jual mahal. “Gak tauuuhh nihh… gatel banget… pengen di itu…” ucap bu yati. “Pengen di apa bu?” tanyaku seraya menggesek-gesekkan palkonku ke bibir memeknya. “Di sodok ri… masukin ri… sodok lagi ri.. sshh” racau bu yati tak karuan. “Boleh saya masukin nih bu?” tanyaku mempermainkannya. “Boleh…ayoohh cepetan aahh” ucap bu yati seraya memegang palkonku dan menarik untuk masuk kembali ke memeknya. “Yaa gak sampai ditarik juga kali bu…” ucapku seraya menepis tangannya. “Iii iyaahh yaudahh… cepet masukin… dan sodokin…” racau bu yati. Aku penuhi keinginannya dengan memasukkan kontolku kembali ke dalam memeknya. Namun tak kusodok sama sekali, hanya kudiamkan.

“Aahh kamu… gerakin… sodokin ri” racau bu yati seraya menggerakan pinggulnya maju mundur agar terjadi gesekan antara kontolku dengan dinding memeknya. “Sshh… cepet sodokin memek ibu” racau bu yati semakin liar. Aku yang menyaksikan fenomena ini hanya bisa tersenyum menahan tawa. Melihat aura kebinalan bu yati semakin menggelora, akhirnya aku langsung menaikkan tempo sodokan kontolku pada memeknya. Tak elak, bu yati melenguh dan mendesah tanpa malu. Seolah ia kini tengah bersetubuh dengan suaminya sendiri. Hanya butuh waktu beberapa menit, akhirnya bu yati meraih orgasme pertamanya dan tentu efek dari salep perangsang tersebut juga ikut memudar. “Akkhh udahh ri… udahhh saya…” ucap bu yati seraya mengatur nafas. “Ibu udah… tapi saya kan belum” ucapku.

Bu yati lalu mendorong tubuhku untuk mundur sehingga kontolku terlepas dari memeknya dan beliau langsung mengambil posisi berjongkok di depanku, ia meremas dan mengocok kontolku layaknya PSK profesional, mulai dari remasan hingga kuluman yang ia berikan mengindikasikan bahwa ia adalah istri yang ‘aktif’ dalam permainan ranjang, bukan hanya memijat dan mengulum, tatapan sayunya seolah memanaskan adegan ini. Kuluman dan sedotannya sungguh luar biasa, tak hanya batang kontolku bahkan buah zakarku habis ia lumat. Sekitar 5 menitan ia memberi ‘layanan’ pada kontolku, tibalah saatnya aku akan memuntahkan lahar panas berwarna putih kental dari palkonku.

“Cepetin bu…ughh” ucapku seraya memaju mundurkan kontolku yang berada di dalam mulutnya. Dan… “Crot..croott..croott” ada sekitar 4 semburan pejuku tumpah ruah di dalam mulut kecil bu yati. Yang membuatku takjub berikutnya adalah ia menelan semua peju yang kukeluarkan, bahkan hingga tetes terakhir ia masih saja menjilati batang kontolku berikut dengan buah zakarku. Aku tak ingin ia terlalu larut dalam memanjakan kontolku yang sudah mulai melemas, kutarik bahunya untuk kembali bangkit berdiri, “Kamu luar biasa bu…” ucapku memujinya seraya memegang dagunya. “Kamu juga ri… ini dapat menuntaskan birahi terpendam saya” ucap bu yati seraya mengurut lembut kontolku, akhirnya kami bercumbu.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part