. Buku Harian Ari Part 40 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 40

0
94

Buku Harian Ari Part 40
Derita Birahi Istri

Rini

Setelah dua hari lalu, kembali terulang aksi zina antara aku dan bu yati di ruang dosen. Hari ini tepat di penghujung minggu atau orang biasa menyebutnya dengan weekend. Aku hendak bersantai ria di rumah saja, namun belum sempat aku membaringkan tubuhku di ranjang, ada sebuah panggilan dari bu yati yang memintaku untuk datang ke rumahnya. Aku tanyakan alasannya, ia mengatakan bahwa kerjaan beliau yang dari kemarin kubantu harus segera diselesaikan. Akhirnya aku pamit pada kak rida dan meminta mas boby untuk mengantarkan aku ke rumah bu yati.

Setibanya di rumah bu yati, aku langsung dipersilahkan masuk oleh beliau yang sepertinya sudah menungguku. Tepat diatas meja ruang tamunya sudah ada beberapa tumpukan dokumen yang harus dikerjakan. “Kamu mau minum apa rin?” tanya bu yati. “Apa aja deh bu.. yang penting seger” ucapku. Aku pun mulai mengambil beberapa dokumen yang harus kukerjakan, tak berselang beberapa menit, bu yati datang dengan nampan membawa dua gelas sirup mangga. “Makasih bu” ucapku seraya langsung meneguk sirup tersebut. “Sluurrpp.. ahh seger banget bu” ucapku. Kulihat bu yati hanya tersenyum. Sekitar 30 menit kami mengerjakan tumpukan dokumen ini, kurasakan ada gejolak birahi dari dalam diriku, liang memekku terasa gatal dan pentil toketku menegang dengan sendirinya.

“Kok bisa tiba-tiba bergairah nih” aku membatin. Namun aku berusaha untuk tetap tenang dan berkonsentrasi dengan pekerjaan yang sedang kulakukan. Tiba-tiba bu yati merapatkan duduknya di sampingku. Dan salah satu tangannya bergerilya di pahaku yang masih tertutup gamis berwarna biru tua. “Buuu buuu mau ngapain buuu?” ucapku seraya menepis tangannya. Beliau lalu memeluk tubuhku dari samping, “Aihh! Bu ngapain?!” ucapku panik seraya meronta. Dengan kasar ia berusaha membaringkan tubuhku di sofa ruang tamunya ini.

mulustrasi rini

Setelah tubuhku terbaring, ia lalu naik ke atas tubuhku. Dari tatapannya kulihat ia pun juga tengah dilanda birahi, kedua tangannya langsung mendarat dan meremas kedua toketku. Ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Dan akhirnya kami berpagutan, “Ughh hhmm” lenguh bu yati. Permainan lidah beliau cukup handal jika dibandingkan dengan mas boby menurutku. Kini salah satu tangannya berusaha menyingkapkan gamis bawahan yang kukenakan hingga ke pinggang, dan dengan tergesa-gesa ia berusaha melepaskan cd hitam yang kukenakan. Lalu ia jamah bibir memekku dengan jemarinya. “Uuhh hhmm” desisku.

Bu yati melepaskan pagutan kami dan menatapku seolah ia adalah pria dan aku disini menjadi wanita yang ditaklukan. Ia lalu menyingkapkan jilbab pink yang kukenakan, dan betapa terkejutnya aku saat ia mencumbu leherku, hal itu memberikan rasa geli yang semakin memicu birahiku. Tanganku pun tak tinggal diam, aku mulai meraba dan meremas toket bu yati dari balik kaos putih yang ia kenakan, sementara tanganku yang satu lagi mulai menyingkapkan rok berwarna krem yang ia kenakan dan ternyata bu yati sama sekali tak mengenakan daleman. Langsung kumainkan jemariku di memek bu yati.

mulustrasi Bu Yati

“Auuhh rinnn” desah bu yati seraya mendongakkan kepalanya saat kedua tanganku ‘menyerang’ tubuhnya. Setelah beberapa menit, bu yati menghentikan semua permainan tangannya dan bangkit dari tubuhku, ia menarik tanganku untuk mengikutinya menuju sebuah kamar yang kutebak itu adalah kamar ia dan suaminya karena terdapat beberapa foto pernikahan. Ia menarik tubuhku cukup keras dan melepaskan genggamannya, sehingga aku terlempar ke ranjangnya dengan posisi terlentang. Ia mengambil sebuah benda mirip vibrator kemarin namun berukuran sangat panjang dan memiliki tekstur yang berurat. Aku yang ngeri melihat benda itu berusaha menghindar saat bu yati mulai naik ke ranjang sembari menjilat dan mengulum benda panjang berwarna coklat itu.

“Bu.. itu apa lagi… benda yang ibu punya.. aneh-aneh aja…” ucapku seraya bergeser memojok dan duduk dengan menekuk kakiku. Bu yati memegang salah satu pergelangan kakiku, lalu ia menarik kakiku sehingga aku kembali terbaring terlentang. Kemudian bu yati menyingkapkan gamis bawahanku tadi hingga sepinggang lagi, ia dekatkan salah satu ujung benda itu ke bibir memekku, dan saat kulihat, ujung benda tersebut memiliki bentuk seperti palkon milik pria. “Ughh buukk” desahku saat bu yati berusaha memasukkan ujung benda itu ke dalam memekku. “Pelan-pelan buuu uggh” desahku. “Itu apa lagi sih buukk?” tanyaku disela-sela menahan nyeri pada memekku saat benda tersebut sudah masuk seperempat.

“Ini namanya dildo atau kontol mainan rin” jelas bu yati seraya terus menekan benda yang bernama dildo tersebut ke dalam memekku. “Akkhh jangan dalam-dalam banget buuu… nyeriii” lenguhku. Lalu bu yati mendiamkan benda tersebut tertancap di memekku, kalau dari sisi pandangku, kini seolah aku memiliki kontol layaknya laki-laki, kulihat bu yati mulai menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan jilbab krem yang ia kenakan. Bu yati naik ke atas ranjang ini, dan berjongkok diatas dildo yang sedari tadi tertancap di memekku. Dengan hati-hati bu yati memasukkan ujung lain dari dildo tersebut ke memeknya. “Auughh ohhh” desah bu yati seraya menurunkan pinggulnya secara perlahan sehingga kini dildo tersebut masuk dan bersarang di memek kami.

Kemudian bu yati dengan pelan tapi pasti menaik turunkan tubuhnya diatas dildo panjang tersebut, setiap tubuhnya turun, dildo tersebut terdorong masuk ke dalam daerah terdalam pada memekku, dan saat tubuh bu yati naik, dildo tersebut keluar sedikit dari memekku. Sehingga dengan gerakan naik dan turunnya bu yati, aku juga dapat merasakan gesekan dildo tersebut pada dinding memekku. “Akkhh riinn.. ini kontolmu yaahh” racau bu yati. “Ughh hhmmm ini kontol ibuu nihhh” racauku yang mulai menikmati aksi lesbi ini. Kedua tangan bu yati yang sedari tadi bertumpu disamping tubuhku mulai berusaha menyingkapkan gamis biru tuaku hingga ke bahu, ia lalu melepaskan bra hitam yang kukenakan. Ia berusaha membungkukan tubuhnya hingga mulut beliau dapat menggapai pentil toketku yang telah mengacung, beliau melumat dan menghisap toketku kanan dan kiri secara bergantian. Tak beberapa menit, “Akkhh buu… rini gak tahan buu…” desahku.

Bu yati langsung menanggapi desahanku dengan mempercepat genjotan pinggulnya pada dildo tersebut, sehingga pergerakan dildo tersebut menjadi sedikit laju menggesek dinding memekku. “Auhh auhh buu akhh” desahku diikuti semburan cairan cintaku. “Ughh uggh udah dapet rin?” tanya bu yati. Aku hanya mengangguk, setelah mendapat jawaban dariku. Bu yati lekas berdiri dan melepaskan dildo tersebut dari memeknya dan memekku. Belum sempat aku menghirup nafas segar, tiba-tiba bu yati jongkok diatas wajahku. “Rin… jilat memek ibu kayak kemarin rin…” pinta bu yati. Akupun langsung menjilat memek beliau seraya memainkan jemariku disana. “Akhh iyaa rin….ughh” desah bu yati. Ia membungkuk dan kembali memasukkan dildo panjang tadi ke memekku, bu yati menyodok-nyodokkan dildo tersebut ke memekku dengan cepat dan kasar. “Ughh ughh ssshh… nihh entotin dildo ughh” racau bu yati. “Iyaahh ssluurrpp sshh buu…” lenguhku. “Akkhh akhh gak tahan riiinn” desah bu yati diikuti semburan cairan cinta bu yati yang cukup deras membasahi wajah dan jilbab pink yang kukenakan.

Hingga pada tetesan terakhir, akhirnya tubuh bu yati rubuh ke sampingku, ia membiarkan dildo panjang tersebut tertancap di memekku. Karena aku merasa ‘tanggung’, akhirnya kugenggam dildo tersebut, lalu kukeluar masukkan di memekku. “Akkhh akhh kontol… kontolmu enak…” racauku merasakan gesekan dildo pada dinding memekku.”Uhh ahh… hahaha udah doyan dildo juga ya kamu” ucap bu yati seraya mengatur nafasnya. “Uhh iyaahh bu… saya biasa pakai timun” ucapku. “Timun? Yaa lebih aman pakai ini dong rin” ucap bu yati. “Yaa timun di dapur… beda lah dengan ibu, yang punya timun bisa dibawa bobok… hehe” ucapku. “Suami maksudmu?” tanya bu yati. “Yaa suami bu…. Tapi kenapa ibu jadi milih main sama perempuan kayak begini, padahal ibu ada suami?” tanyaku.

“Suami saya udah 1 bulan lebih dinas luar kota rin… saya gampang banget bergairah.. jadi gini deh” jelas bu yati. “Yaa kan bisa yang normal bu… main sama cowok kek misalnya ughh” ucapku sembari terus mengocok memek dengan dildo panjang. “Saya gak mau ada kontol lain yang masuk ke memek saya selain kontol suami saya dan benda-benda pemuas birahi ini rin” jelas bu yati. Pada saat itu juga, aku kagum dengan keteguhan prinsipnya. “Oohh gitu… akkhh akhh hampir sampaiiii” ucapku seraya mempercepat kocokan dildo pada memekku. “Tahan rin tahan…” ucap bu yati seraya bergeser dan membungkuk di dekat selangkanganku. Ia mencabut dildo panjang tadi dari memekku, lalu ia mulai mengocok memekku dengan jari lentiknya, dan kini ia mulai menjilati memekku. “Auuhh bu…geli akhhh…. Ssshh” desahku. Kurasakan lidahnya semakin masuk ke dalam memekku. Tak butuh waktu lama, “Akkhh buuu… lonte kamu buuu… akkhhh!” desahku diikuti semburan cairan cintaku yang menyemprot wajah bu yati. Dan yang membuatku heran adalah bu yati malah meminum semua cairan cintaku jadi hanya sedikit yang membasahi jilbab krem yang ia kenakan.

Bersambung
Daftar Part

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler