. Buku Harian Ari Part 38 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 38

0
222

Buku Harian Ari Part 38

Buru Birahi

Ari

Setelah kutuntaskan birahiku dengan mbak tini di kos-kosannya barusan, aku pamit padanya hendak pulang karena seluruh badanku terasa pegal-pegal. Setibanya aku di rumah, aku disambut oleh kak lisa yang sudah rapi dengan pakaiannya kemarin. “Ri.. boleh tolong antar kakak pulang?” tanya kak lisa. “Oh boleh kak… ndak mau nginap lagi kah?” tanyaku. “Huu pengen ku kelonin lagi ya? Ndak dulu deh ri… lain hari aja” ucap kak lisa. Akhirnya akupun mengantarkan ia pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya…

Setelah perkuliahan bu yati usai, aku sempat berpapasan dengan rini, akhwat yang kuantar pulang beberapa hari lalu. “Hai rin… mau kemana nih?” sapaku basa-basi. “Eh mas ari… mau pulang nih mas.. tapi mau makan siang dulu” jelas rini. “Mau makan bareng mas aja ndak?” tanyaku menawarkan. “Ah nanti ngerepotin mas… aku makan di kantin sini aja” ucap rini. “Oo oke deh..” ucapku seraya menuju mobilku yang berada di parkiran.

Rini

Saat aku hendak menuju kantin kampus untuk makan siang, aku kembali berpapasan dengan duda muda yang kemarin sempat mengantarkan aku pulang, siapa lagi kalau bukan mas ari. Walaupun banyak orang yang menggunjingkan ia dan kehidupannya, kurasa ia bukanlah seperti yang orang lain bicarakan itu, ia adalah orang yang baik dan ramah juga sopan. Sejujurnya tadi aku ingin menyanggupi tawaran makan bersamanya, namun aku mempertimbangkan banyak hal diantaranya pandangan orang-orang yang berada di kampus ini terhadapku, seorang akhwat yang pernah jadi korban pelecehan dan kini malah mendekati duda muda. Aku merasa bahwa aku tak bisa ‘bergerak bebas’, padahal dari lubuh hati aku yang paling dalam, kini aku mulai memiliki ‘sebuah rasa’ pada mas ari.

Aku gak tau apakah rasa ini salah atau apa. Namun setiap melihat senyumannya, aku seolah terbuai dalam dunianya. “Akh mikir apa sih rini!!” pekikku dalam hati. Usai menyantap habis makan siangku, aku langsung menuju ruang dosen, karena aku hendak menemui bu yati, menanyakan tentang organisasi akhwat yang pernah beliau umumkan. Setibanya di ruang dosen, saat aku berjalan menuju meja bu yati, kudengar suara desisan dan lenguhan wanita. Akhirnya akupun berjalan pelan, aku takut bahwa suara itu dihasilkan dari sepasang pria dan wanita yang tengah bercumbu. Namun betapa terkejutnya aku saat kudapati bu yati tengah menjamah tubuhnya sendiri, tangan kanannya meremas-remasi toketnya dari balik jilbab abu-abu yang ia kenakan sementara tangan kirinya seperti bermain di daerah selangkangannya yang masih tertutup oleh gamis putih yang ia kenakan.

“Permisi bu…” ucapku. “Ah! Eh kamu rini… kok ndak ketuk pintu dulu tadi masuknya!” ucap bu yati gelagapan. “Saya udah ketuk, namun sepertinya ibu tidak dengar” ucapku seraya memalingkan pandangan selagi bu yati merapikan pakaiannya. “Ka.. kamu ada perlu apa?” tanya bu yati dengan nafas yang memburu. Akupun menyampaikan maksud kedatanganku, dan langsung dijelaskan secara terperinci oleh bu yati. Sebelum aku meninggalkan meja beliau, beliau berpesan “Rini… mohon apa yang telah kamu lihat dan kamu dengar tadi, cukup kamu saja yang tau ya”. “Baik bu… saya pamit” ucapku seraya menuju pintu keluar. Dalam perjalanan pulang, aku berpikir “Bahkan yang sudah bersuami pun, bisa-bisanya masturbasi… apalagi aku yang belum bersuami… wajar dong berarti… hmmm”.

Malam harinya…

Malam ini tepat jam 11 aku masih belum dapat tertidur, karena beberapa hari ini, ‘suara ranjang’ dari kamar mas boby kembali menggema, setiap jam 9 malam keatas, tepat ketika keponakanku telah terlelap. Suara lirih birahi kakakku dan abang iparku memanaskan suasana, walaupun tidak seliar ketika mereka belum memiliki anak. Namun apa daya diriku yang hingga kini ‘masih sendiri’, aku hanya bisa menutup kedua telingaku dan berusaha untuk terlelap.

Keesokan harinya…

Setelah mata kuliah usai, aku bergegas menuju kamar mandi karena aku tersesak buang air kecil. Ketika semua air seni tersebut keluar dari saluran kemihku. Lekas kubasuh dengan air bersih memekku, dan merapikan kembali gamis blaster putih abu-abu yang kukenakan. Aku keluar dari toilet tempat aku membuang hajat, dan hendak keluar, aku sempat membuka pintu WC utama, namun kembali kututup karena aku belum ingin keluar dan ingin membasuh sedikit wajahku di wastafel. Tiba-tiba kudengar “Ahh sshh” sebuah desahan lirih dari salah satu bilik toilet. “Ughh sshh” desahan tersebut semakin intens. Aku memiliki sebuah ide usil dalam pikiranku, yaitu aku membuka pintu salah satu bilik toilet yang tepat berdampingan dengan toilet yang diisi oleh seorang wanita yang dari tadi melenguh tersebut. Aku masuk sedikit, dan disitu juga aku melenguh dan mendesah layaknya tengah disetubuhi.

Seketika desahan wanita dari toilet tersebut berhenti, aku terus saja mendesah dan melenguh, tiba-tiba kulihat indikator ‘lock-unclock’ pada pintu toilet tersebut berubah menjadi ‘unlock’. Saat terbuka, ternyata wanita tersebut adalah bu yati. Kami sama-sama terkejut, aku terkejut ternyata yang sedari tadi mendesah di dalam sana hanyalah bu yati seorang, dan bu yati sepertinya terkejut karena merasa ‘dikerjai’ olehku. Namun hal yang cukup membuatku terperanjat adalah bu yati menarik tanganku untuk masuk ke bilik toiletnya dan lekas mengunci pintu bilik toilet ini. “Eh bu ngapain? Saya tadi bercanda aja” ucapku panik.

“Desahanmu merdu juga yaa” ucap bu yati seraya menyingkapkan gamis hitam yang ia kenakan, maka terlihatlah bibir memek bu yati yang tak ditumbuhi bulu sudah sangat basah. “Bu.. ibu mau ngapain? Saya keluar aja ya… maaf udah ganggu privasi ibu” ucapku panik seraya berusaha membuka kunci pintu bilik toilet ini. “Jangan terburu-buru ah… sini bantu saya dulu” ucap bu yati dengan nada manja seraya memelukku erat dari belakang.

“Bu… tolong lepaskan saya bu…” ucapku seraya meronta. “Tolong bantu saya dulu disini…” ucap bu yati seraya kedua tangannya menyusup masuk ke gamis atasan berwarna abu-abu yang kukenakan. Kedua tangan bu yati berhasil mendarat di kedua toketku yang masih tertutup bra krem. “Kecil tapi kenceng ya punyamu… hhmm” ucap bu yati yang seperti mendapat kucuran uang. “Bu lepaskan saya bu!!” pekikku. “Sstt…jangan teriak-teriak seperti itu ahh” ucap bu yati seraya meremas keras kedua toketku. “Ughh” lenguhku merasakan nyeri di kedua toketku. “Buu… please buu… lepaskan saya” aku memohon padanya seraya berusaha melepaskan remasan kedua tangannya pada toketku. “Bantu saya dulu..” ucap bu yati.

“Ba..ba…bantu apa bu?” tanyaku. “Bantu menuntaskan birahi saya.. yang sudah kamu ganggu tadi” ucap bu yati seraya memutar tubuhku dengan kasar. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuhku. “Ta..tapi kan ibu uu udah punya..” belum sempat kuselesaikan kalimatku, bibirku langsung dicumbu oleh bu yati. Tangan kiri bu yati kembali bermain di toketku, meremasi kanan dan kiri toketku secara bergantian dari balik gamis bagian atas yang kukenakan. “Ehhmm hhmm” desisku merasakan remasan tangan bu yati pada toketku. Sementara tangan kanan beliau dengan beringasnya menyingkapkan gamis yang kukenakan hingga ke pinggul. Dan dengan kasar pula ia turunkan cd krem yang kukenakan. Jari-jari tangan kanannya mulai menusuk masuk ke bibir memekku.

Serangan yang bu yati berikan padaku telah berhasil memicu birahi yang sudah kupendam sejak beberapa minggu ini. “Uhhmm hhmm” desahku. Satu… dua… hingga tiga jari tangan bu yati keluar masuk di memekku, hingga membuat bibir memekku basah oleh cairan birahiku sendiri. “Cepet banget becek ya kamu… pantes bandot tua itu doyan punyamu” ucap bu yati seraya melepas pagutan kami. Ia lalu menghentikan semua rangsangannya pada tubuhku, ia seolah tengah mencari sesuatu dari tas hermes miliknya, selagi ia sibuk dengan tasnya, kesadaranku mulai bangkit setelah beberapa menit lalu seluruh akal sehatku ‘ditimpa’ gelora birahi. Aku sedikit terburu-buru membuka kunci pintu bilik toilet ini, hendak kabur dari ‘permainan menyimpang’ ini.

Namun sayang, salah satu tanganku langsung digenggam dan ditarik oleh bu yati, hingga tubuhku sedikit terhempas ke salah satu dinding alumunium bilik toilet ini, kulihat salah satu tangan bu yati memegang sebuah benda panjang yang berbentuk seperti kontol, berukuran lebih panjang dari timun yang biasa kugunakan, namun teksturnya halus. Bu yati mendekatiku dan kembali menyingkapkan gamis yang kukenakan hingga ke pinggang, lalu ia masukkan benda tersebut ke dalam memekku dengan paksa. “Bu..bu apa itu buu… jangan dimasukin” ucapku seraya menahan tangan bu yati yang tengah menggenggam benda panjang tersebut. Namun karena diriku sudah dipengaruhi birahi yang sampai ke ubun-ubun, tenagaku jauh lebih lemah dibandingkan tenaga bu yati. Hingga akhirnya “Ugghh akkhh buuu” desahku saat benda tersebut mulai masuk ke dalam liang memekku.

“Buuu apa ituuuhhh.. sshh” desahku saat merasakan benda tersebut bergetar. “Ahh buu keluarin ajaaahh” desahku lagi saat bu yati menggerakkan benda tersebut keluar masuk di memekku. Namun bu yati sama sekali tak memperdulikan permohonanku, ia terus saja menyodokkan benda tersebut ke dalam memekku. Hingga akhirnya ia diamkan benda tersebut di dalam memekku, namun kurasakan getaran benda tersebut semakin keras dan hal itu menimbulkan efek geli yang teramat sangat pada dinding memekku, sehingga mau tak mau aku menggerakkan pinggulku agar benda tersebut tercabut, karena kedua tanganku kini ditahan oleh bu yati di atas kepalaku. “Kamu memang akhwat seksi… tubuh tertutup… tapi menggairahkan.. pantesan dia gak tahan” desis bu yati di telingaku.

Aku masih sulit memahami siapa yang bu yati maksud dengan ‘Bandot tua’. “Bu.. lepaskan saya bu… maaf tadi saya udah ganggu” ucapku. “Ssstt…. Nikmatin aja.. nanti gantian yaa” ucap bu yati seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirku. “Aakkhh buuu saya udah mauuu nihh” desahku saat gelombang orgasmeku mulai merambat di dinding memekku. Bu yati lalu kembali mengambil alih kendali benda panjang tersebut yang sedari tadi menancap di memekku, bu yati menggunakan benda tersebut untuk mengocok memekku sekali lagi hingga akhirnya “Aakkhh sshh buuu” desahku diikuti semburan cairan cintaku hingga membasahi lengan gamis bu yati. “Deras banget… banyak bangettt” ucap bu yati seraya mengeluarkan benda tersebut dari memekku dan meletakkannya di atas tutup toilet duduk. Jemari bu yati kembali keluar masuk di memekku, seolah ingin mengorek habis cairan cintaku.

Dan betapa terkejutnya aku melihat bu yati menjilat tangannya yang baru saja dibasahi oleh cairan cintaku, ia menjilatnya dengan lahap. “Sluurrpp… cairan memekmu asin nikmat… uhh” desis bu yati. Aku yang sudah lunglai akibat orgasme pertama tadi akhirnya memutuskan untuk duduk diatas toilet. Aku menunduk karena keletihan, saat kudongakkan kepalaku, kulihat bu yati tengah berdiri sedikit mengangkang seraya mengocok memeknya sendiri dengan benda panjang yang tadi ia masukkan ke memekku. “Aahh mass… mass.. kontolmu… entot akuuhh” racau bu yati. “Ahh akuhh mauuhh sampaiii mass” desah bu yati diikuti semburan cairan cintanya yang begitu deras dan beberapa percikannya mengenai wajah dan jilbab hitam yang aku kenakan.

“Aduhh bu… duhh… muka saya kena” ucapku seraya memalingkan wajah. “Ahhh iyaahh akhirnyaaahh sshh” desis bu yati seraya menyandarkan tubuhnya di pintu bilik toilet ini. Cairan cinta kami sama-sama membasahi gamis yang kami kenakan, namun bedanya jilbabku harus jadi korban semburan cairan cinta bu yati. Pengalaman yang baru saja kualami ini memberikan perspektif baru padaku tentang dunia birahi, “Gak semuanya harus diurus laki-laki” aku membatin. Setelah kami merapikan pakaian kami masing-masing, aku yang terlebih dahulu bergegas keluar dari bilik toilet ini, aku enggan berbicara apa-apa dengan bu yati, setelah apa yang terjadi di antara kami.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler