. Buku Harian Ari Part 37 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 37

0
216

Buku Harian Ari Part 37

Hijrah Ke Jalur Salah

-Penghujung Flashback-

Aliyah

Setelah timbang sana dan timbang sini, menyadari diriku adalah seorang janda yang masih penuh birahi, juga aku adalah seorang calon ibu dengan seorang bayi. Aku akhirnya memutuskan pilihan yang bisa dibilang jauh dari kehidupanku yang dulu, ya.. aku akan menerima tawaran pak soni kemarin. Sore ini sepulang dari butik tempat ku bekerja, aku menuju terminal bus menggunakan angkot untuk mencari pak soni, setibanya disana aku menemuinya yang tengah bersantai di tempat istirahat para supir. “Wah mbak aliyah.. jauh sekali sampai kesini, ada apa mbak?” tanya pak soni yang kaget dengan kehadiranku. “Saya bersedia pak” ucapku. Pak soni menatapku seolah mempertanyakan aku siap akan apa, namun seketika wajahnya berubah menjadi orang yang bahagia dengan senyum khasnya.

“Baiklah… tunggu sebentar ya mbak… saya beres-beres dulu” ucap pak soni seraya membereskan barang-barang miliknya dan memasukan ke dalam mobil travel. “Yuk mari mbak, silahkan tunggu di mobil” ucap pak soni. “Kita mau itu dimana pak?” tanyaku sedikit ragu. “Di kos saya aja mbak” ucap pak soni yang tengah mengendarai mobil travelnya. “Aman gak pak? Saya khawatir digrebek… apalagi kos-kosan cowok” ucapku. “Tenang aja mbak… kos-kosan saya campur kok cowok cewek” jelas pak soni. Tak terasa akhirnya kami tiba di kos pak soni yang ternyata sudah pukul 9 malam karena beberapa kali kami terjebak macet. Hari ini aku mengenakan gamis hitam dipadukan dengan jilbab dan cadar berwarna hijau tosca. Kos-kosan pak soni pada malam hari ini cukup sepi dengan hanya diterangi beberapa lampu, aku terus berdoa semoga tidak ada yang menyadari kehadiranku di kos-kosan ini bersama seorang pria yang tentu saja bukan suamiku. Pak soni berjalan cepat menuju kamar kosnya, begitu juga denganku yang berusaha mengejar langkah kakinya. Saat pintu kos sudah berhasil ia buka, aku bergegas masuk tanpa permisi, saat ia telah masuk, langsung ia tutup pintu tersebut serta menguncinya.

“Sepi banget ya disini pak” ucapku basa basi. “Iyaa karena udah malem mbak”. Kulihat pak soni bergegas masuk ke kamarnya, tak beberapa lama ia kembali ke ruang tamu menemuiku dengan membawa beberapa amplop, yang kuduga itu berisi uang. “Ini sesuai janji saya, ini upahmu, sila dihitung, semoga cukup” ucap pak soni seraya memberikan beberapa amplop tebal tersebut. Aku membuka satu demi satu amplop tersebut, dan tak kusangka uang yang diberikan pak soni cukup banyak padaku, aku tak menduga bahwa ia akan langsung memberikan langsung sebanyak ini padaku. Aku tersenyum padanya sebagai rasa terima kasihku yang begitu tulus. Kemudia pak soni mulai merapatkan duduknya disampingku, salah satu tangannya mulai meraba pahaku, sementara tangan yang satunya membelai pipiku yang masih ditutupi cadar. Ia mengarahkan wajahku untuk mendekat ke wajahku, kurasakan hangatnya dengusan nafas pak soni.

Perlahan pak soni mulai mencumbu bibirku yang tertutup cadar, satu dua menit pertama aku masih terbilang kaku dengan permainan lidah yang dilakukan oleh pak soni, namun menit-menit berikutnya aku mulai terbuai dalam permainan lidah ini. Tangan pak soni perlahan mulai menaikkan gamis hitamku hingga ke paha, jemari kasarnya mulai bermain di bibir memekku yang masih tertutup cd krem yang kukenakan. “Hhhmm sshh” desahku merasakan permainan jemari pak soni. Tangan pak soni yang satunya menggenggam salah satu tanganku, ia menuntun tanganku untuk meremas sesuatu yang berada di dalam celana yang ia kenakan.

Benda tersebut terasa sudah setengah tegang, tanganku dan tangan pak soni ‘bahu-membahu’ membuka resleting celana pak soni dengan maksud untuk mengeluarkan benda yang setengah tegang itu, atau yang para lelaki sering menyebutnya dengan kontol. Pak soni menuntun tanganku untuk menggenggam kontol miliknya seraya dinaik turunkan layaknya sedangan mengocok. Tiba-tiba pak soni melepaskan cumbuan kami, aku yang sudah dilanda birahi karena permainan jari pak soni hanya menatap wajah beliau dengan mata sayu. Tangan pak soni yang sudah selesai ‘mengajari’ ku mengocok, mulai meraba dan mengelus bahuku yang masih tertutup jilbab hijau tosca ku, ia lalu menyingkapkan jilbab tersebut, dan kini tangannya meraba dan meremas toketku dari balik gamis hitam dan bra hitam yang kukenakan. “Ssshh pak jarinyaaa” desahku saat jemari pak soni mulai menyusup masuk ke dalam cd yang kukenakan. Kulihat pak soni tersenyum bangga karena permainan jarinya bisa membuat memekku mulai basah.

Kurasakan kontol pak soni sudah tegang sempurna. Remasan-remasan tangannya pada toketku pun berhasil membuatku tak tahan untuk tidak mendesah. “Udah ya pemanasannya… sini ikut saya” ucap pak soni seraya menarik tanganku menuju kamarnya. Setiba di dalam kamarnya, ia langsung menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan tadi. Saat ia telah tak mengenakan sehelai benangpun, ia mendekatiku yang cuma terduduk di pinggir ranjangnya yang tak terlalu empuk ini. Ia memegang pipiku hendak melepaskan cadar yang kukenakan, namun kutahan tangannya. “Kamu kan sudah saya bayar, kok tidak nurut dengan saya?” tanya pak soni seraya menampar-nampar bibirku yang masih tertutup cadar dengan kontol kerasnya. “Jangan cadarnya deh ya… saya malu pak” ucapku. “Malu kenapa? Kamu itu pasti cantik…” ucap pak soni berusaha membuka cadarku. Hingga akhirnya kini cadar hijau tosca ku terlepas, “Kaaaann bener… kamu cantik lagi manis…” ucap pak soni seraya mengurut kontolnya.

Aku yang tersipu hanya bisa menundukkan pandangan, lalu pak soni menyentuh daguku dan menaikkan lagi pandanganku. “Sekarang kamu jilat dan hisap ya kontol saya” ucap pak soni seraya mendorong-dorong palkonnya pada bibirku. Aku yang merasa tidak dirugikan alias ‘telah dibayar’, menuruti saja kemauan nyeleneh pak soni, walaupun pada masa lalu aku sempat melakukan hal ini pada kontol mantan suamiku. Perlahan tapi pasti aku menjilat palkon pak soni, dan kumaasukkan centi demi centi kontolnya ke dalam mulutku, kuemut dan juga kuremas-remas buah zakarnya tempat dimana benih-benih masa depan berada. “Uhhh emutanmu mantap banget mbak” lenguh pak soni. Tak beberapa menit, ia tarik keluar kontolnya dari mulutku. Ia lalu memposisikanku tidur terlentang di ranjangnya, dengan kedua kaki mengangkang di tepian ranjang, gamis hitamku langsung tersingkap ke pinggangku.

Pak soni lalu melepaskan cd krem yang sudah mulai lembab tersebut. Ia langsung mengambil posisi untuk memasukkan kontolnya ke memekku. Kurasakan palkon besar itu berusaha masuk ke memekku dengan perlahan, dan membutuhkan beberapa kali hentakan hingga akhirnya kontol gemuk tersebut bersarang di dalam memekku. Aku hanya memejamkan kedua mataku saat pak soni menggenjot kontolnya pada memekku. “Ahh sshh pak…” desahku. “Gimana rasanya mbak? Ughh” tanya pak soni. “Eeeenaakkhhh pakk sshh” desahku. “Mbak hamil, dihamilin siapa emangnya?” tanya pak soni. “Dihamilin suami saya paakkh ahh” desahku. “Wah berarti bini orang nih saya entotin… hehehe” ucap pak soni.

“Tapi udah cerai pak…uughh” desahku. “Cerai kenapa mbak? Suaminya lemah ya? Hehe” ucap pak soni seraya meremasi toketku kanan dan kiri secara bergantian dari balik gamis hitamku. “Bu..bukan pak… dia selingkuh dengan musuh saya pak ugghh” desahku. “Selingkuhh? Ada istri semanis ini… bisa-bisanya dia selingkuh… memang bajingan ughh!” racau pak soni. “Iyaahh selingkuh.. dan dia begituan di depanku pak…sshh” racauku mulai tak karuan karena gesekan kontol pak soni di dalam memekku. “Ngentot di depanmu? Bajingan banget pria kayak begitu” racau pak soni seraya mempercepat sodokan kontolnya. “Ughh iya dia ngentot di depan aku pakk ahh” desahku. Remasan dan sodokan yang dilakukan pak soni padaku semakin kasar, kurasa ia juga terbawa emosi akibat ‘curcol dalam birahi’ ku barusan.

“Akkhh akhh pak… akuhh sampaiii” desahku seraya mengapit pinggul pak soni dengan kedua kakiku. “Ugghh deras banget mbak… selama menjanda berarti gak pernah dibelai dong?” tanya pak soni dengan sodokan kontolnya yang tidak melamban. Aku hanya menggeleng. “Kalau gitu… malam ini.. mbak akan saya puaskan” ucap pak soni seraya membungkukkan tubuhnya sehingga kini wajah kami berjarak sangat dekat, ia lalu mencumbu kembali bibirku. Setelah ia puas mencumbui bibirku, ia memintaku untuk kembali mengenakan cadar yang tadi telah ia lepas. “Buat apa pak dipasang lagi?” tanyaku. “Saya rasanya semakin bersyahwat kalau ngentotin cewek bercadar gini” ucap pak soni seraya meremas keras kedua toketku. “Ughhh jangan keras-keras remesnya pak” desahku.

“Yaahh yaahh gak tahan sayaa…” desahku merasakan tanda-tanda orgasme kedua. “Tahan sebentar mbak… saya juga hampir nih… dikit lagi” desah pak soni. “Iyaahh pak cepetan… auhhh sshh” desahku. “Ayooo bareng mbak…sshh” desah pak soni dan “Croott croott croott” ada sekitar 4 semburan hangat peju pak soni di dalam memekku dan hal itu langsung membuat orgasme keduaku meledak, “Akkhh pakkkk” desahku diikuti semburan cairan cintaku. “Ughh ughh deras banget… lebih deras malahan mbakk” lenguh pak soni merasakan semburan cairan cintaku. Ada sekitar 10 menit, pak soni mendiamkan kontolnya berada di dalam memekku, hingga akhirnya ia cabut karena sudah lemas. Saat kontol pak soni keluar dari memekku, kurasakan cairan cinta kami meluber keluar sehingga membasahi pangkal pahaku juga gamis hitamku.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part