. Buku Harian Ari Part 34 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 34

0
323

Buku Harian Ari Part 34

Cinta Satu Malam

Rini

Setelah kemarin aku bisa dikatakan berhasil menggagalkan niat mengakhiri hidup seseorang, hari ini aku berkuliah seperti biasa. Setelah perkuliahan bu yati, aku lekas menuju kantin hendak sarapan, karena tadi pagi aku telat bangun berakibat aku tidak dapat sarapan. Saat aku tengah memakan soto yang kupesan, “Permisi mbak… saya boleh join?” kudengar suara pria yang tak asing di telingaku, saat aku menoleh ternyata pria itu adalah mas ari. “Oh iya boleh mas… silahkan” ucapku ramah. Selama makan, kami fokus menghabiskan makanan kami masing-masing tanpa memulai obrolan apapun. Saat makanan mas ari sudah selesai, ia mulai mengajakku mengobrol. Inti awal obrolan adalah ia mengucapkan banyak terima kasih padaku karena sudah mau bersusah payah membujuknya agar tidak melakukan tindak bunuh diri, akupun menjawab “Ya sama-sama mas… semoga lebih tegar kedepannya”.

Saat kami tengah ngobrol, samar-samar kudengar pelanggan lain seperti membicarakan kami, diantaranya “Itukan si ari? Habis rumah tangga hancur-hancuran kok malah main sama cewek baru”, “Itu si rini kan? Korban pencabulannya pak anto… Apa dia lagi ngegoda si duda muda itu?”, dan cibiran lainnya. Semakin lama, aku semakin tidak nyaman dengan kondisi ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pamit kembali ke kelas, pertama mas ari menahanku, namun aku bersikukuh untuk kembali ke kelas, saat aku ingin membayar makananku di kasir, “Sudah dibayarin sama mas yang itu mbak” ucap bu kantin seraya menunjuk mas ari. Kulihat senyum simpul mas ari merespon tunjukkan bu kantin, akupun membalas senyum mas ari seadanya dan langsung bergegas menuju kelasku. Selama di kelas, saat menunggu perkuliahan berikutnya dimulai, aku tak dapat berkonsentrasi dalam mempelajari rangkuman perkuliahan yang akan berlangsung, fikiranku terpaku dengan cibiran-cibiran yang baru saja kudengar. “Fokus rini fokus!” aku membatin.

Sore harinya…

Setelah perkuliahan usai, seperti biasa aku menunggu jemputan mas boby di dekat pos satpam. Disana aku merasakan emosi kesedihan, karena memori-memori akan sosok pak samsul perlahan masuk ke sanubariku. Segala macam kebaikan yang pernah ia lakukan hingga ke rasa nikmat yang pernah ia berikan, semuanya berkumpul dalam fikiranku. Saat aku tengah terlarut dalam rasa duka itu, kudengar sayup-sayup ada pria yang memanggilku, ternyata mas ari. “Mbak… Tunggu siapa? Mau bareng saya aja ndak? Sebagai rasa terima kasih” ucap mas ari. “Saya nunggu abang ipar saya mas… Ndak deh mas, nanti ngerepotin” jawabku ramah. “Ndak ngerepotin kok… Abang iparnya sudah otw apa belum? Kalau belum, biar saya antarin aja gak apa” ucap mas ari membujuk. “Sebentar mas” ucapku seraya membuka hpku hendak mengirimkan sms ke mas boby, saat sms terkirim, langsung saja dibalas oleh mas boby “Mas baru mau berangkat nih, udah lama nunggu ya?”

“Udah agak lama sih mas, tapi ini ada temen mau anterin, kayaknya bareng temen aja mas” balasku.

“Ooo oke deh… hati-hati… Jangan pulang larut, nanti kakakmu ngamuk lagi” balas mas boby.

“Jadi mau mbak?” tanya mas ari. “Yaa boleh deh mas, abang ipar saya masih di rumah rupanya” ucapku. “Oke mbak! Mari silahkan” ucap mas ari bersemangat seraya mempersilahkanku mengikutinya. Ternyata walaupun masih muda, mas ari sudah bisa memiliki mobil, aku sempat takjub padanya. Selama di perjalanan, aku tak banyak bercerita dengannya, hanya sesekali ia menanyakan perihal perkuliahanku, dan itupun kujawab seadanya. Aku khawatir jika ia menjadi nyaman denganku, bisa saja ia melakukan hal yang sama dengan pria-pria sebelumnya pernah mendekatiku, seperti mas boby dan pak samsul, secara mas ari adalah seorang duda. Bagaimanapun aku harus menjaga harga diriku agar tak mudah ‘dicoreng’ lagi oleh pria, aku harus menjaga citraku juga birahiku agar tidak ‘salah tempat’ lagi. Aku bertekad bahwa birahiku yang sudah cukup terasah ini hanya akan kulampiaskan pada suamiku kelak, walaupun sejujurnya aku khawatir, apakah ada pria di luar sana yang mau menerima kekuranganku, kekuranganku yang tak lagi memiliki ‘mahkota’ ini.

Selama perjalanan aku sibuk sendiri bergelut di dalam pikiranku, hingga akhirnya sapaan mas ari menyadarkan lamunanku, “Di sebelah mana rumahnya mbak?”. “Eee disana sebelah sana mas, belok kiri” ucapku. “Pelan mas…. Nah ini rumah abang ipar saya mas, makasih ya mas udah mau antarin” ucapku. Kulihat mas ari termenung saat melihat rumah mas boby, aku yang bingung mengucap “Mas…kok melamun?”, “Eh gak apa-apa… ya sama-sama mbak” ucapnya seperti orang kebingungan. “Gak mampir dulu mas?” ucapku ramah. “Ah gak apa-apa mbak… saya mau langsung pulang aja” ucap mas ari. “Oh baiklah mas… Hati-hati di jalan” ucapku.

Ari

Hari ini aku berkesempatan untuk mentraktir dan mengantarkan pulang mbak rini, akhwat yang sudah ‘menyelamatkan’ hidupku dari kebodohan aku sendiri. Ia mencegahku untuk berbuat konyol yaitu mengakhiri hidupku dengan terjun bebas dari lantai tertinggi di kampusku. Sebagai rasa terima kasihku, kulayani ia dengan sepenuh hati. Setibanya tepat di depan rumahnya, kulihat rumah tersebut seperti tak asing bagiku, aku berusaha mengingat dan munculah sosok bu rida di dalam pikiranku, “Ya ini rumah bu rida!” aku membatin. Seketika fikiranku berselancar kesana kemari untuk mencari jawaban dari pertanyaan “Mbak rini ini siapanya bu rida?”, aku berusaha mengingat beberapa pernyataan yang mbak rini ungkapkan, dan kudapatkan kesimpulan bahwa mbak rini adalah adiknya bu rida, karena ia menyebut bahwa ia tinggal dengan abang iparnya, dan jika ini benar rumah bu rida, maka abang iparnya mbak rini adalah si boby.

Seakan semua informasi yang saling berhubungan itu memberikanku aura baru, rasa kehidupan yang baru, aku seperti tertarik pada mbak rini, aku tidak tau apakah rasa ini adalah rasa tulus dari hati ku atau hanya rasa sesaat. “Ah jalani aja dulu” aku membatin. Dalam perjalanan pulang, aku membayang momen-momen singkat bersama mbak rini yang baru saja kulalui pada hari ini. Namun lamunanku seketika buyar, ketika aku hendak memarkirkan mobilku ke halaman rumahku, kulihat ada seorang perempuan yang berdiri di teras rumahku. Aku lekas memarkirkan mobilku dan bergegas kesana, siapa tahu perempuan itu memang mencariku. “Permisi… cari siapa ya mbak?” tanyaku. “Nah ini masnya” ucap sang perempuan, yang ternyata kak lisa. “Oh kak lisa toh, ada apa kak?” tanyaku. “Ini ri, mobil kakak mogok disana… kebetulan kakak tau alamatmu jadinya kakak mampir kesini” ucap kak lisa. “Oh mogok kenapa kak? Jadi mobilnya masih disana? Lah kok kakak tau alamatku?” tanyaku.

“Iyaa mobilnya masih disana, kakak ngeri nunggu bantuan disana, banyak yang ngegodain, makanya kakak melipir kesini deh” jelas kak lisa. “Yee habisan kakak pakai pakaian tipis gitu sih…. Jawab dulu, kakak tau alamatku dari mana?” tanyaku. “Tau dari sosmedmu ri, sorry stalking hehe” ucap kak lisa. “Huu stalking aee… yowes masuk dulu, biar gak masuk angin, bajunya begitu lagi” ucapku seraya membuka pintu. “Uuughh perhatian banget deh kamu….” Ucap kak lisa seraya tiba-tiba memelukku dari belakang. “Yah malah meluk… Malu diliatin tetanggaku kak” ucapku seraya melepaskan pelukannya. “Yaa kan kakak kangen kamu ri…. Udah lama nih” ucap kak lisa menggodaku. “Duduk dulu deh kak… aku mau ganti pakaian dulu” ucapku seraya menutup pintu utama. Akupun masuk ke kamarku, aku mengganti pakaianku dengan pakaian santai hanya mengenakan baju kaos dan celana boxer tanpa daleman, karena seharian gerah. Saat sudah selesai mengganti pakaian, “Kak mau minum apa kak?” ucapku.

“Apa aja deh ri… yang penting anget” ucap kak lisa. Setelah selesai kuracik teh hangat untuk kak lisa, “Ini silahkan diminum kak” ucapku seraya memberikan secangkir teh. Akupun akhirnya memulai obrolan dengan bercerita tentang runtuhnya rumah tanggaku, “Ya ampun… Kamu yang sabar ya… Maaf tadi kakak udah godain kamu… Rupanya kamu lagi berduka” ucap kak lisa seraya menggeser duduknya jadi disampingku. “Yaa kak… Aku harus tegar biar bisa melanjutkan hidup” ucapku. “Iyaa kamu harus kuat ri… Kakak tau kamu bisa…” ucap kak lisa seraya mengelus bahuku dan menyandarkan kepalanya di bahuku. “Kakak bakal temanin kamu malam ini… Supaya kamu gak sedih lagi” ucap kak lisa seraya tangannya mulai menjamah pahaku. “Temenin ya?” ucapku seraya menoleh padanya. “Iyaa ri… kakak bakal temanin kamu disini… ngehibur kamu” ucap kak lisa seraya mendekatkan wajahnya serta memejamkan mata. Kusambut keinginannya dengan langsung mencumbu bibir merah meronanya, “Hhhmm uuhh” desisannya mulai terdengar. Tangan kanannya yang sedari tadi menjamah pahaku, mulai naik menuju pangkal pahaku.

Saat ia menggenggam kontolku dari luar boxer, kulihat matanya mendelik menatapku, lalu kembali terpejam. Ia mengurut-urut kontolku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengelus pipi dan leherku. Birahiku yang mulai bangkit menuntun tangan kiriku untuk meremas toketnya dari balik tanktop tipis berwarna biru yang ia kenakan, dan ternyata ia tak mengenakan bra. Gantian aku yang mendelik menatap matanya, menyadari aku yang terkejut mengetahui ia yang tak mengenakan bra, permainan lidahnya semakin liar sehingga cukup membuatku kewalahan. Selanjutnya tangan kananku mulai mengelus paha putihnya dan terus merambat ke celana pendek biru yang ia kenakan. Kulepaskan pagutanku seraya berkata “Ke kamarku aja kak…” ucapku seraya menarik tangannya untuk ikut denganku menuju kamar tidur. Saat aku hampir sampai untuk membuka pintu kamar, ia menarik tanganku lalu kembali mengecup dan mencumbu bibirku, kedua tangannya ia kalungkan di leherku, seolah tak ingin lepas dari cumbuan ini.

Langsung saja kedua tanganku kudaratkan di pantat seksinya yang masih tertutup celana pendeknya. Kembali terjadi cumbuan hangat kami tepat sebelum kami masuk ke kamar, aku akhirnya menggendong depan tubuh kak lisa, dan dengan hati-hati kubuka pintu kamarku, setibanya di kamar, langsung saja kubaringkan tubuhnya di ranjangku, kulihat ia mulai menurunkan tali tanktop miliknya dengan gerakan erotis, sementara aku mulai menanggalkan baju kaos dan juga celana boxerku, kulihat kak lisa mulai membuka celana pendek biru yang ia kenakan, dan ternyata ia juga tidak mengenakan cd. Saat aku hendak naik keatas tubuhnya, ia menahanku dan menyuruhku untuk tetap berdiri, ia melakukan beberapa gerakan erotis, hingga akhirnya ia berlutut di depanku, tangannya mulai mengocok kontolku, dan masih dengan gerakan erotis ia mulai mengecup palkonku dan selanjutnya ia menyepong kontolku dengan cukup telaten. Setelah beberapa menit ia menyepong kontolku, lekas kuhentikan aktifitasnya ‘mengerjai’ kontolku karena kurasakan sudah cukup siap untuk ‘bertempur’, lekas kuposisikan tubuhnya untuk kembali terlentang, saat aku hendak memainkan jemariku di bibir memeknya ia langsung menahan tanganku seraya berkata “Udah ri… langsung aja… Kakak udah sange banget”, akupun langsung memposisikan palkonku untuk masuk ke memeknya.

Kedua kaki kak lisa mulai mengapit pinggulku, langsung kuhentakkan pinggulku dan seketika kontolku sudah berada di dalam memek kak lisa. Kurasakan pinggul kak lisa bergoyang seolah memintaku untuk lekas menyodokkan kontolku di dalam memeknya. “Iniihh rii…iniiihh yang kakak rindukan…” desah kak lisa. “Kakak rindu begini aja? Gak rindu aku?” ucapku menggoda. “Ughh rindu kamu… terutama keperkasaanmu ughhh” desah kak lisa. Aku mulai mengerjai kedua toketnya dengan kuhisap-hisap dan kuremas-remas kanan dan kiri secara bergantian. “Auugghhh sshh riii….nakal mulutmu ahhh” desah kak lisa. “Aaagghh ariiii…. Kontolmu kok tambah gede ihhhh” racauan khas kak lisa mulai muncul pertanda bahwa ia sudah dikuasai birahinya sendiri. Sekitar 5 menit aku menggempur memeknya dengan sodokan erotisku, “Akkhh cepetin akkhh… jangan lambat gitu…” desah kak lisa, aku langsung menanggapinya dengan memberikan sodokan kasar yang merupakan keahlianku. “Nah ahh iyaahh gituuu.. Akkhh keluarrrr nihhh” desah kak lisa diikuti semburan cairan cintanya.

Kembali kupelankan tempo sodokan kontolku, namun permainan mulut dan tanganku semakin intens memacu birahi kak lisa pada toketnya. “Aakkhh ssshh cepetin lagi akkhh… jangan emut toket ajaa” desah kak lisa seraya menggerakkan pinggulnya agar terjadi gesekan anatara kontolku dan dinding memeknya. Aku kegirangan melihat kak lisa yang tersiksa birahinya sendiri seperti ini. “Kak… aku boleh nyicip lubang belakang gak?” bisikku seraya mempercepat sodokan kontolku. “Akkhh akhh apaah? Belakang? Kakak belum pernah loh ri” ucap kak lisa. “Dikit aja kak…. Boleh gak?” tanyaku seraya semakin mempercepat sodokan kontolku. “Ogghh uugghh yaahh bentar… ihh cepet banget… aakkhh gak tahaaannn” desah kak lisa diikuti semburan cairan cintanya yang kedua. “Cepet amat kak dah keluar lagi?” tanyaku. “Yaa kamu habisan… sodoknya cepet banget” ucap kak lisa seraya mencubit bahuku. “Boleh nggak ni? Belakang?” tanyaku lagi. “Emmm boleh sih… tapi kakak takut ri” ucap kak lisa seraya mengatur nafas. “Takut kenapa kak?” tanyaku. “Takut sakit lah… Kontol gede kok o’on sih kamu nih” ucap kak lisa judes. “O’on o’on tapi bisa bikin kakak cantik ini crot dua kali weekk” ejekku. “Haha sial kamu ya… iya deh kakak kalah sama kontolmu… Tapi plis pelan-pelan ya ri” ucap kak lisa seraya merubah posisinya menjadi menungging.

Aku turun dari ranjang untuk mencari sekiranya ada lotion yang dapat kugunakan sebagai pelicin saat memerawani anus kak lisa. “Cepetan ri… jadi kagak?” ucap kak lisa seraya menggoyangkan pinggulnya. Kutemukan lotion sisa milik aliyah di meja rias, seketika sekelibat memori akan aliyah lewat di fikiranku, membuatku merasa bersalah karena perbuatanku yang melukai hatinya, namun panggilan kak lisa, menghilangkan memori itu seketika. “Arii… capek loh nungging kayak gini” ucap kak lisa. Akupun bergegas mengoleskan lotion tersebut ke batang kontolku, saat sudah cukup banyak oleskan, langsung aku naik kembali ke ranjang, dan memposisikan palkonku ke anus kak lisa. “Sshh… pelan-pelan loh yaa” desah kak lisa. “Belum masuk… udah desah aja kakak ini” celetukku. “Palkonmu dah kerasa itu… takut kakaknya ini” ucap kak lisa. Aku mulai menekan palkonku dengan cukup hati-hati. “Akkhh kerasa besar banget itu palkonnya… pelan ihhh” desah kak lisa. Mulai kumainkan jemariku di memeknya agar ia tak tegang pada kondisi ini, kudorong dengan pelan hingga akhirnya ketika kontolku sudah masuk setengah, kak lisa berteriak “Akhh udah ri! Perih ri! Cabut gih!”, “Yah baru masuk gini kak.. bentar deh… biar terbiasa dulu anusmu” ucapku seraya semakin mempercepat permainan jariku di memeknya.

“Auhh sshh” desah kak lisa, “Gimana udah mendingan?” tanyaku. “Auhh iyaahh sihh tapi masihh perih ri” ucap kak lisa. Akupun mulai memaju mundurkan kontolku di anusnya dengan perlahan, “Akkh ri… beneran mesti ngentot disitu? Ughh di memek aja ahh rii” ucap kak lisa memohon. Aku pun menjadi tak tega padanya, sehingga lekas kutarik keluar kontolku dari anusnya, “Akhh sshh perih banget… padahal kontolmu udah keluar” ucap kak lisa seraya mengelus anusnya. “Ebuset cairan apa ni? Sampai berdarah gini ri?!! Pantesan perih” ucap kak lisa panik. “Bersihin dulu kontolmu untuk kalau mau ngentot memek kakak!!” perintah kak lisa. Akupun hanya mengelap kontolku dengan celana boxer yang kukenakan tadi. Kak lisa masih menungging, dan kulap perlahan sekitaran anusnya dengan celana boxerku. “Ughhh ssshh pelan-pelan…” lenguh kak lisa. Setelah darah pada anusnya sudah kubersihkan, kembali kumasukkan kontolku ke memek kak lisa, “Akkhh gini aja enak… normal aja deh ri… kamu mintanya aneh-aneh deh” ucap kak lisa seraya menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama sodokan kontolku.

Sekitar 10 menitan aku menyodok memeknya, kurasakan kontolku akan segera berejakulasi, “Kakak … akuh mau crot nih” ucapku. Kak lisapun menanggapi perkataanku dengan menggoyangkan pinggulnya dengan cukup liar, “Akkh gak tahan kak” ucapku seraya menarik kontolku keluar dan kutempelkan palkonku di anus kak lisa, “Croott crooot croott” ada sekitar 3 semburan pejuku menembak lubang anus kak lisa dan belahan pantatnya. “Ahh harus banget ya buang ke dalem situ rii… panas banget lagi pejumu” ucap kak lisa seraya menumbangkan tubuhnya ke ranjangku. “Yah kak! Kenapa langsung baring? Basah deh ranjangku kena peju gitu” ucapku panik. “Ntar kakak beresin deh… kakak capek banget nih habis dikontolin sama kamu ri” ucap kak lisa seraya berbaring menyamping. “Mobil kakak gimana dong?” tanyaku seraya ikut berbaring di belakangnya. “Kakak bohong ri” ucap kak lisa. “Bohong gimana kak?” tanyaku bingung. “Kakak kesini gak bawa mobil, kakak memang sengaja kesini hanya ingin dientot sama kamu… jadi, kakak numpang nginap sini ya…” jelas kak lisa. “pantesan gak pake daleman… ibu kakak gak marah nih?” tanyaku. “Hehe iya… biar entotnya gampang… Mama? Mama taunya aku nginap ke rumah temen… izin ke rumah temen lama… yakali bilang mau ngentot” jelas kak lisa. “Ooo gitu… oke deh lonteku” ucapku seraya memeluk tubuh kak lisa dari belakang.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part