. Buku Harian Ari Part 33 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 33

0
291

Buku Harian Ari Part 33

Masih Ada Solusi Kok!

Nia

Hari ini adalah hari pemakaman jasad sahabatku sendiri, ialah ika. Aku sadar bahwa aku adalah orang paling keji yang mungkin mereka kenal, namun di dalam hatiku terutama sebagai seorang perempuan, aku juga merasakan perih teramat dalam ketika sahabatku sendiri harus kehilangan nyawanya demi menuntaskan egoku. “Ika sudah di makamkan? Jadi apa yang ingin selanjutnya kau lakukan sayang?” tanya pak karyo. Aku hanya diam, aku berfikir bagaimana kalau semua bandot tua ini mati saja, karena toh mereka yang membuat diriku menjadi perempuan jalang dan berhati keji. Saat ini aku benar-benar butuh tempat untuk mempertanyakan “Sebenarnya ada apa dengan diriku?”.

Kenapa mudah sekali pikiran keji dan busuk mengalir dan mengelilingi otakku. Aku memanggil aparat keparat yang kemarin mengurus bukti-bukti kematian ika, “Apa yang bisa saya bantu mbak?” ia bertanya. “Saya mau kamu mulai saat ini, tolong jaga dan lindungi suaminya ika, jika saya atau kami semua ingin menyakiti ia, maka kamu tau apa yang harus kamu lakukan” jelasku. Pak karyo dkk termasuk sang polisi tertegun mendengar perintahku, mereka seolah bingung apa yang menjadi dasar aku meminta sang polisi memberi perlindungan penuh pada suaminya ika. Namun tak ada satupun dari mereka yang ingin bertanya ataupun membantah.

Rini

Sudah beberapa minggu berlalu pasca kepergian pak samsul, orang yang pernah melecehkanku namun melindungiku di penghujung umurnya. Hari ini pasca perkuliahan kak rida, aku pergi ke kantin untuk makan siang, karena dari tadi siang aku belum ada makan, maka pada sore hari ini lah baru ada kesempatan bagiku untuk mengisi perut kosongku ini. Disana aku berjumpa dengan beberapa akhwat dakwahku, mereka sepertinya sedang membahas sesuatu. “Rin… duduk sini aja” ucap salah satu akhwat. Setelah mengambil pesanan makanan akupun menuju meja tempat mereka berdiskusi. “Apa kabar rin?” tanya salah satu akhwat. “Kabar baik… kalian gimana?” tanyaku balik.

“Kami baik juga… rin kamu sudah tau belum berita hangat yang beredar beberapa hari ini?” tanya salah seorang akhwat. “Berita apa ya?” tanyaku bingung. “Itu loh berita tentang senior kita di forum dakwah, mas ari” celetuk salah seorang akhwat. “Yah kok malah gosipin ikhwan sih?” ucapku. “Bukan gosipin, tapi ini kisah tragis rin” ucap akhwat lainnya. Akupun mendengarkan secara seksama apa yang mereka maksud dengan ‘kisah tragis’, dari penjelasan mereka kudapatkan kesimpulan bahwa ikhwan yang bernama mas ari itu memiliki dua istri, istri satunya diculik dan disiksa hingga meninggal sementara istri keduanya menggugat cerai tanpa diketahui alasannya. Betapa mirisnya kehidupan rumah tangga yang apabila dilaksanakan di umur yang masih muda seperti ini, tapi ya pandangan orang berbeda-beda. Karena arah pembicaraan para akhwat sudah mulai ngelantur dan santapanku sudah habis, aku pamit pulang pada mereka.

Hari ini seperti biasa harusnya aku pulang dengan mas boby, namun belum kulihat ada tanda-tanda ia muncul di gerbang kampus, sehingga aku memutuskan masuk kembali ke gedung kuliah, saat aku hendak menaiki tangga, ada salah satu dosen, ia adalah bu yati. Beliau berteriak histeris seraya menunjuk-nunjuk keatas, “Kenapa bu?” tanyaku bergegas menghampirinya. “A..ada mahasiswa yang ingin bunuh diri nak…tolong dia nak” jelas bu yati gagu. “Dimana bu?!” tanyaku. “Di tepian balkon lantai 5 nak” jelas bu yati. Akupun bergegas naik ke salah satu lift dan menekan angka 5. Setibanya di lantai 5 aku mencari dimana mahasiswa yang hendak melompat itu. Aku celingukan dengan cepat karena aku cukup panik.

Samar-samar kulihat memang benar ada seorang mahasiswa yang tampak ragu ingin melompat, sehingga daripada membuatnya terkejut dan ia benar-benar melompat, aku berlari kecil tanpa menghasilkan suara yang berarti mendekat padanya. Dengan cepat dan kuat kupegang bahunya seraya berkata “Mas…hidup masih panjang… jangan diakhiri begitu saja”. “Hei! Hei! Siapa kamu! Hidup saya sudah tak berguna! Tau apa kamu!” racau sang mahasiswa. “Mas sabar mas… masih ada solusi… melompat dari sini bukan lah solusi” ucapku seraya terus menahan bahunya dari belakang. “Lepaskan saya!! Kamu tidak tau siapa saya! Dan masalah saya!!” bentaknya seraya berusaha menengok kearahku.

“Tenang mas… mari kita bicarakan baik-baik… ini bukan cara terbaik mas” ucapku dengan nada tenang, aku berusaha menguasai diriku agar pengucapanku tidak terkesan panik. Kulihat bu yati berlari kearah kami, namun kuberikan kode padanya menggunakan mataku untuk tidak mendekat terlebih dahulu. “Semuanya sudah tiada! Dia sudah mati! Dan dia sudah pergi!!” bentaknya diikuti tangisan. “Apakah mahasiswa ini adalah ikhwan yang dibicarakan tadi?” aku membatin. “Mas coba tenangkan dirinya dulu… Lebih nyaman jika di dalam kelas… Jika sudah tenang, saya siap dengarkan keluhan mas nya” ucapku membujuk.

Ia yang masih sesenggukan pun akhirnya menuruti arahanku untuk menuju salah satu kelas di lantai ini. Aku dan bu yati turut masuk ke kelas yang sama, kami berdua bersyukur mahasiswa ini mengurungkan niat bunuh dirinya dan mengikuti saran dariku. Kami berdua memberikan waktu baginya untuk menangis sepuasnya agar beban masalah pada hatinya mungkin bisa sedikit berkurang. “Sudah agak mendingan mas?” tanyaku ramah. Ia hanya mengangguk, saat ia mendongakkan kepalanya untuk melihat kami. “Kamu ari kan?” tanya bu yati. Ia kembali mengangguk, ternyata benar dugaanku bahwa mahasiswa ini adalah ari, seorang suami yang ditinggalkan kedua istrinya secara tragis.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part