. Buku Harian Ari Part 32 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 32

0
343

Buku Harian Ari Part 32

Perjalanan Birahi

Aliyah

Perjalanan yang kira-kira akan memakan waktu 8 jam adalah sebuah perjalanan panjang yang harus kutempuh sendiri, walaupun tidak benar-benar sendiri, karena kini aku ‘berdua’, ya berdua dengan bakal anakku yang kini tengah kukandung. Aku berangkat sore dari terminal kota, diperkirakan akan nyampai sekitar tengah malam di kampung halamanku. Hari ini aku mengenakan gamis dengan terusan rok berwarna hitam dipadukan dengan jilbab dan cadar berwarna coklat tua, sengaja aku mengenakan pakaian dengan warna gelap agar tidak mencolok dan menarik mata lawan jenis. Di dalam mobil travel yang dapat mengangkut sekitar 10 penumpang ini, aku duduk di posisi favoritku, yaitu di dekat jendela, karena aku akan merasa pusing dan mual apabila tidak terkena hembusan angin dari luar. Penumpang pada hari ini dominan ibu-ibu juga ada satu remaja putri dan hanya satu remaja putra, yang kutaksir mereka adalah sejoli yang berstatus sebagai mahasiswa.

Aku yang mudah sekali mengantuk apabila sedang melakukan perjalanan jauh selalu saja berhasil terlelap tanpa gangguan. Sekitar 2 jam berlalu, dan saat kubuka mataku, samar-samar terlihat kilatan-kilatan cahaya kendaraan yang berlalu lalang, “Sudah malem rupanya…” aku membatin. Saat kutoleh ke samping kiri, ternyata beberapa penumpang sudah turun, dan kini hanya tersisa aku dan 2 penumpang lainnya, yaitu sepasang sejoli tadi. Mereka berdua kini duduk di paling belakang. Saat aku menoleh ke mereka, kulihat mereka sangat mesra, sesekali sang cowok mengecup dahi sang cewek yang juga berhijab panjang sama sepertiku, aku tak tau apakah mereka sudah suami istri apa masih berpacaran, namun perbuatan mereka itu kurang etis menurutku sehingga aku hanya menatap sinis ke mereka. Kulihat samar-samar mata sang cowok membalas tatapan sinisku dengan tatapan yang seolah. “Kamu liatin apa sih say?” tanya si cewek. “Gak ada… itu cewek cadar kayak apa aja ngeliatin kita” bisik sang cowok. “Ssstt sudah lah say..biarin aja” ucap sang cewek.

Jujur aku sedikit tersinggung, namun ya bodoamat lah ya. Akupun kembali memejamkan mataku, hendak melanjutkan mimpi panjangku. Sekitar 45 menitan, saat aku belum sepenuhnya terlelap, kurasakan seperti ada tangan yang berdiam dan sesekali bergerak di paha kiriku, saat kumenoleh ternyata sang mahasiswi, duduk di sampingku, tangannya mulai aktif bergerak keatas, aku terkejut dan ketakutan, apa maksud dari cewek ini tangannya menjamah pahaku. Sesekali kutepis tangannya namun melihat adanya penolakan dariku, tangannya semakin berani dan aktif meraba pinggulku dan terus naik menuju dadaku. Saat tangannya hendak menyentuh toketku, langsung kutepis keras tangannya seraya berbisik “Apaan sih mbak!”.

“Hiii marah dia say…hihi” ucap sang cewek. Aku semakin tidak nyaman dengan kondisi ini, kulihat masih ada sekitar 5 jam lebih lagi perjalanan ini. “Terusin aja say… biasanya kalau cadaran lebih gampang horny” terdengar jelas bisikan sang cowok memberikan perintah ke ceweknya untuk kembali menjamahku. Kembali kurasakan tangan tersebut meraba dan meremasi paha kiriku, dan kini sang cewek menarik tangan kiriku dan ia letakkan di paha kanannya, ia menyuruhku melakukan hal yang sama. Aku bingung pada kondisi ini, aku harus apa, apabila aku berteriak bagaimana nasibku nanti. “Ka..kamu mau a..apaa?” bisikku seraya menoleh ke sang cewek. Dan betapa terkejutnya aku, dengan cepat sang cewek mencumbu bibirku, salah satu tangannya ia rangkul ke leherku, sehingga hal itu menyulitkanku untuk melepaskan cumbuan sejenis ini. “Hmm hmm” desisan sang cewek memicu birahiku bangkit, walaupun aku tau ini adalah perbuatan yang salah.

Cadar coklatku mulai basah oleh air liur kami, walaupun bibir kami tak benar-benar bersentuhan namun kurasakan bibirnya sangat hangat, pertanda ia tengah dilanda birahi. Tangannya yang bermain di pahaku kini berpindah ke toketku, ia meremasi toketku pelan dari balik jilbab dan gamis yang kukenakan. Aku mulai terbuai dalam permainan lidah dan tangannya, namun alam sadarku masih dapat kukuasai, sehingga saat ia lengah langsung saja kulepaskan pagutan kami dan langsung kutepis tangannya. “Gimana bibirnya say?” tanya sang cowok. “Legit say…kamu pasti doyan…” bisik sang cewek mendeskripsikanku. Aku yang masih shock merubah arah dudukku ke samping kanan.

Gejolak birahiku benar-benar membuatku tidak nyaman dan seolah ingin lekas menuntaskannya, setelah mendapat penolakanku barusan, sang cewek akhirnya menyerah. Namun tak beberapa menit, kudengar seperti ada desahan dari sang cewek “Sshh shhh hhmm”, hal itu membuatku penasaran untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata dua sejoli ini bercumbu mesra, tangan sang cowok meremas toket sang cewek dari balik jilbab pink yang ia kenakan, sementara samar-samar kulihat tangan sang cewek seperti mengocok sesuatu benda di dekat celana sang cowok, saat kufokuskan pandanganku, ternyata sang cewek tengah mengocok kontol sang cowok. Sungguh berani pasangan ini berbuat zina di dalam kendaraan seperti ini, kuyakin bahwa pak supir yang berada di depan juga dapat samar-samar menyaksikan perbuatan sejoli ini.

Aku yang semakin tidak nyaman, memutuskan untuk beranjak dan berpindah ke bangku paling belakang. Saat aku hendak melintas di depan sejoli yang tengah bercumbu ini, mobil travel yang kutumpangi melewati beberapa lubang, akupun terjatuh tepat di depan mereka, sehingga dapat dengan jelas kulihat kontol sang cowok yang sudah tegang sempurna dikocok-kocok oleh tangan sang cewek. Aku malu menyadari aku menikmati pemandangan itu, sehingga aku langsung bergegas menuju bangku paling belakang. Saat aku hendak memejamkan mata, tepat di depanku, sang cowok berusaha naik keatas tubuhku. “Tolong! Saya dilecehkan!!” pekikku, “Ada apa itu berisik di belakang?! Heh kamu ngapain dek!” bentak pak supir panik seraya meminggirkan mobil travel ini ke tepi jalan. “Sudah bapak jangan sok pahlawan gitu… nanti bapak dapat jatah deh!” ucap sang cowok.

Kini kedua tanganku yang meronta di pegang oleh sang cowok, sementara sang cewek mulai berusaha menyingkapkan rok hitamku, “Hei! Lepaskan! Tolong saya!” pekikku. Kini mobil travel ini sudah berhenti di tepi jalan, “Heh! Lepaskan dia! Mau ngapain kamu!” ucap pak supir seraya menarik sang cowok untuk menjauh dari hadapanku. “Ahh bapak…. Apa bapak gak pengen cobain cewek mulus ini?” ucap sang cewek seraya mengelus pahaku. Samar-samar kulihat mata pak supir terpaku pada kemulusan pahaku, “Diem juga kan! Udah deh gak usah sok pahlawan! Bapak disini aja!” ucap sang cowok menarik pak supir ke bangku penumpang nomor dua. “Say…service dulu si bapak… keletihan dia itu” ucap sang cowok.

Kulihat sang cewek mendekati pak supir dan langsung duduk di pangkuan pak supir sehingga kini mereka saling berhadapan. “Nah kamu milik saya sekarang” ucap sang cowok kembali mendekatiku seraya membuka celana dan cd yang ia kenakan. Rok milikku yang tadi tersingkap, lekas kuturunkan, “Mas jangan lecehkan saya mas…” ucapku seraya meronta dan mendorong sang cowok. Namun tenaga pria memang selalu lebih besar, sang cowok menarik tubuhku dan menggiringku ke bangku penumpang baris depan, ia lalu mendorongku sehingga aku terbaring terlentang pada bangku penumpang baris depan, dengan sigap ia langsung naik ke atas tubuhku. “Mas jangan mas…. Hentikan mas!!” pekikku. Kedua tangannya menyerang dan meremas kedua toketku yang masih terbungkus gamis hitam dan bra coklat yang kukenakan. “Enak nih toketnya…” ucap sang cowok. “Bener kan say? Ughhh” ucap sang cewek, yang sepertinya tengah dijamah oleh pak supir.

“Kamu gak usah meronta! Susah saya! Apa mau saya kasarin!” ucap sang cowok seraya berusaha merobek gamisku. “Jangan mas jangan!” pekikku panik karena ia hendak merobek gamisku. Lalu sang cowok hanya menyingkapkan rokku yang menyatu dengan gamis keatas pundakku, “Mulus banget ini say….jangan-jangan masih perawan nih” ucap sang cowok memandangi tubuhku. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung membuka cd dan bra yang kukenakan dengan cukup kasar, sehingga menyebabkan tali bra milikku putus. Tangan kirinya mulai bergerilya di memekku, jemarinya menggelitik bibir memekku. “Mass sshh jangan yaahh” desahku. Sementara tangan kanannya meremasi toketku kanan dan kiri bergantian.

Kulihat kontol miliknya sudah ‘siap bertempur’, kontolnya mungkin tak segemuk milik mas ari, namun bentuknya yang melengkung keatas sepertinya akan memberikan sensasi tersendiri, “Ah! Mikir apa sih kamu aliyah!” aku membatin. “Akhh pak…gemuk banget aasshh” desah sang cewek yang sepertinya sudah mulai ‘dikerjai’ oleh pak supir. Karena kurasakan mobil travel ini sudah mulai bergoyang, kurasakan palkon sang cowok digesek-gesek pada bibir memekku, “Mas harus banget yaaa?” tanyaku lugu. “Ya harus lah… say lugu amat ni cewek… pengen mas entotin banget jadinya.. haha” ucap sang cowok. “Iyaa mass aah… entotin ajaahh… ini cewekmu aja lagi ngentot uhhh” desah sang cewek. Kurasakan kontol sang cowok mulai berusaha masuk dan membelah dinding memekku. “Sshh hhmmm” desahku.

“Udah jebol toh…ughh” ucap sang cowok seraya menghentakkan pinggulnya. “Memeknya legit banget sshh” ucap sang cowok saat keseluruhan kontolnya sudah berada di dalam memekku. “Nanti bapak icip juga yaak mas!” ucap pak supir. “Haha sip pak…. Taklukin cewek saya dulu noh” ucap sang cowok seraya memaju mundurkan pinggulnya. “Sshh cepet aja ya mas…” desahku. “Tadi nolak-nolak…. Sekarang minta cepet… udah gatal memeknya ya?” ucap sang cowok yang membuatku malu, bodoh sekali aku mengatakan ‘cepat saja’, padahal aku bermaksud ingin segera mengakhiri zina ini, namun yang ia pahami lain. “Nih saya cepatin nih” ucap sang cowok seraya mempercepat sodokan kontolnya. “Ughh sshh mass jangan dalam-dalam” desahku. “Iyaa mass jangan dalam-dalam…. Sakit tau pintu rahim disodok gitu” celetuk sang cewek. Sekitar 10 menit berlalu, “Akkhh pak cepetin akkhh saya sampai!!” desah sang cewek di bangku baris kedua. “Haha saya menang mas….icip cadar nih” ucap pak supir bangga.

“Nih cadar tahan lama banget lagi… kontolku udah nyut-nyut” ucap sang cowok. “Yahh lemah kamu berarti… gantian sama bapak gih” ucap pak supir seraya mendorong sang cowok hingga kontolnya terlepas. Aku yang sudah tak peduli dengan situasi ini hanya memalingkan wajah ke samping, saat pak supir tengah memposisikan kontolnya untuk masuk ke memekku. “Ughh nih rasain” lenguh pak supir seraya menghentakkan pinggulnya. Tekstur kontol pak supir jauh berbeda dengan milik sang cowok, ini terlalu gemuk daripada milik mas ari. “Sshh sesak pak anu saya” desahku.

“Memek kali… iya memek kamu rapet banget ini ughh” ucap pak supir seraya mempercepat sodokan kontolnya. Kedua tangan kasarnya meremas kedua toketku dengan kasar, sehingga membuatku terpekik beberapa kali, namun perbuatan kasarnya memicu gelombang orgasme milikku muncul. “Akkhh dalem akkhh bentar lagiihh” racauku tak karuan. Pak supir yang paham kodeku semakin memperkasar sodokan kontolnya. “Akkhh pakk ssshh auuugghh” desahku diiringi semburan cairan cintaku yang cukup deras. “Deres banget neng…” ucap pak supir, “Mungkin karena dah lama gak dientot kali dia” celetuk sang cowok, aku acuh tak acuh mendengar ocehan mereka.

“Gilaa pas dia crot… memeknya dari rapet banget” ucap pak supir. “Perasaan bapak aja kali… kan kontol bapak gemuk banget habisan” celetuk sang cewek yang mulai bangkit dan menyaksikan aksiku dan pak supir. Sekitar 5 menitan pak supir menggenjot memekku, “Akkhh bapak gak tahan….” Desah pak supir seraya memegang erat pinggulku. “Jangan di dalem pak akhh sshh” desahku. “Sayaahh udaahh hamilll….jangan di dalem pakk” ucapku. “Udah hamil berarti bisa crot dalem nihh ugghh” ucap pak supir seraya menekan dalam-dalam kontolnya di memekku. “Akkhh lepasin pakkk!!!” desahku dan “Crooott crooott crottt” ada sekitar 4 semburan peju milik beliau memenuhi liang memekku. “Ahh uhhh yaahh pak gimana ini” ucapku panik.

Sementara si bapak masa bodoh dengan mendiamkan kontolnya di dalam memekku. Kulihat sang cowok maju mendekati wajahku, kulihat ia mengocok kontolnya dengan keras. “Buka aja deh ya cadarmu” ucap sang cowok berusaha membuka cadarku namun kutahan. Ia lalu menekan hidungku sehingga mau tak mau aku bernafas melalui mulut. Saat mulutku terbuka, ia dengan kasar memasukkan palkonnya ke mulutku yang masih tertutup cadar. Ia menyodokkan kontolnya pada mulutku dengan kasar, “Akkhh minum nih peju ku!!” pekik sang cowok dan “Croott crooott crooott” ada sekitar 3 semburan peju miliknya yang langsung membasahi cadar dan jilbab coklat milikku. Mencium aroma peju yang cukup amis membuatku terbatuk-batuk dan hendak muntah, kuturunkan gamis yang tadi tersingkap dan aku bergegas keluar mobil travel. Kurasakan peju pak supir meleleh dari memekku saat aku berjalan.

Nia

Entah sudah berapa jam, 7 bawahan pak karyo ‘menghajar’ tubuh ika dengan kontol-kontol perkasa mereka itu, aku yang penasaran dengan kondisi disana, memutuskan untuk mengintip sejenak apa kondisinya. Setibanya di ruangan tersebut, kulihat 5 pria sudah terbaring keletihan, sementara 2 pria lainnya masih terus menggenjotkan kontol mereka di dua lubang milik ika. “Masih sadar gak itu yang kalian entotin?” tanyaku. “Ini ugghh diaahh laggiiihh pingsan!” ucap salah seorang pria yang menggenjot anus milik ika. “Gila kalian yaa…sampai pingsan begitu… udah berapa kali pingsan dia?” tanyaku.

“Sudah 3 kali…agghh agghh” ucap sang pria seraya menekan dalam-dalam kontolnya di anus ika, dan ia kelojotan beberapa kali, mungkin ia tengah ejakulasi. “Sumpah gak bosan-bosan sama anus nih cewek” ucap sang pria seraya melepaskan kontolnya dari anus ika, dan seketika meluber keluar peju miliknya. “Udah lama dia pingsannya?” tanyaku. “Udah beberapa menit sih ini” ucap pria satunya yang masih menggenjot memek ika. “Dan kamu masih genjotin itu memek?” tanyaku. “Iyaa habisan legit banget….walaupun pingsan tapi memeknya masih ajib” ucap sang pria seraya mempercepat sodokan kontolnya.

Tak berselang beberapa menit, “Ughh ughh rasakan ini peju keduaku!!!” desah sang pria seraya menekan kontolnya di dalam memek ika. “Agghh agghh puas….” Desah sang pria. Saat ia sudah menuntaskan birahinya, ia lemparkan saja tubuh ika ke sampingnya, kini tubuh ika bagaikan barang rongsokan tak berharga, dimana hampir diseluruh tubuhnya dibasahi oleh peju ketujuh pria ini. Sebagai wanita, aku miris menyaksikan hal ini, namun hal ini lah yang harus kulakukan demi menuntaskan semua dendam.

“Heh yang barusan ngentot…coba sadarin deh lontenya itu….” Ucapku memerintahkan sang pria yang barusan ejakulasi untuk membangunkan ika. “Neng..! bangun neng…. Udah puas kami nih!” ucap sang pria seraya menggoyang-goyangkan tubuh ika, namun tak ada respon sama sekali. “Gak sadar dia mbak…gimana ni?” ucap sang pria panik, salah satu pria dari 5 pria yang tengah berbaring tadi beranjak dan mendekati tubuh ika, ia memeriksa titik-titik kehidupan ika dan berkata “Ia sudah tiada mbak…. Denyut nadinya sudah tidak ada”.

Aku terkejut mengetahui hal itu, seketika pikiranku kosong. “Aku membunuh sahabatku sendiri… sekeji inikah aku?” berbagai pertanyaan sejenis muncul dalam pikiranku. “Mbak kita harus gimana mbak?!” ucap sang pria yang mengecek kondisi ika, yang ternyata sudah meninggal. “Kamu! Ya kamu sang aparat keparat! Palsukan kematian lonte ini dan kabarkan ke suaminya tentang kematiannya” ucapku memberikan perintah keji kepada sang pria yang tak lain adalah seorang polisi.

Beberapa hari berlalu…

Ari

Pagi ini rumah yang kutinggali terasa sangat sepi, sudah tak ada lagi canda tawa para istri. Aku sendiri meratapi kehidupan. Kurasakan hpku bergetar, saat kuperiksa ternyata ada panggilan dari nomor yang tak kukenal. Saat kuangkat, “Halo apa benar ini dengan bapak ari?” ucap seorang pria disana. “Iya benar, ini saya sendiri” ucapku. “Ini kami dari kepolisian ingin mengabarkan tentang istri anda, saudari ika” ucap sang pria yang ternyata polisi. “Iya ika… ada apa ya pak? Apa ia telah ditemukan?” tanyaku dengan nada bahagia.

“Iya saudari ika benar telah ditemukan, tapi” ucap sang polisi terpotong karena aku menyambar pembicaraannya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi “Jadi kapan dan dimana saya bisa menemuinya pak? Apa bisa hari ini?” tanyaku. “Pak ari…mohon bersabar… saudari ika memang sudah ditemukan, namun ia kami temukan dalam keadaan tak bernyawa, dari hasil otopsi kami temukan bahwa ia mengalami kekerasan dan juga pemerkosaan yang cukup brutal sehingga ia kehilangan nyawanya” jelas sang polisi yang seketika jantungku berhenti berdetak. “Pak…pak ari… masih bisa dengar suara telpon saya?” ucap sang polisi. “Iyaa hiks…saya masih dengar hiks…” ucapku seraya menangis. “Saya harap bapak bersabar dan tabah.. kami masih mencari pelaku kasus ini… apakah bapak bisa ke kantor kami sekarang untuk memberikan keterangan?” tanya sang polisi. “Ba…baik pak” ucapku lemas.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler