. Buku Harian Ari Part 31 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 31

0
301

Buku Harian Ari Part 31

Nasib Sebuah Keluarga

Ari

Sudah 4 hari aliyah tidak tahu kemana, hingga akhirnya hari ini aku menerima telepon dari suatu institusi yang menangani pernikahan. “Selamat pagi…dengan pak ari?” tanya CS. “Ya benar…ini dari mana?” tanyaku. “Ini kami dari pengadilan, hendak mengundang pak ari dalam sidang gugatan cerai yang diajukan oleh istri anda bernama Aliyah” jelas sang CS. “Ba..baiklah” ucapku gagu karena tak percaya dengan keyakinan perceraian yang aliyah ungkapkan beberapa hari lalu. Akupun bergegas menuju pengadilan tersebut dengan mengendarai mobilku.

Setibanya di pengadilan…

“Sila bapak ari duduk di sebelah sana” ucap hakim persidangan. Di tengah ruang sidang kulihat aliyah sudah duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana. “Apakah ini kemauanmu?” bisikku pada aliyah. “Ini solusi sesungguhnya” jawab aliyah singkat. “Mohon bapak dan ibu fokus dalam persidangan” ucap sang hakim.

Setelah sidang yang berlangsung kurang lebih 2 jam, maka diputuskan kami harus bercerai dan inilah akhir cerita rumah tanggaku dengan aliyah, sang wanita bercadar yang sempat menjadi sosok misterius bagi diriku. Semuanya berakhir seakan menyadarkanku agar segera keluar dari lingkaran setan ini. Namun naluriku selalu saja berhasil membuat diriku memutar haluan ke lingkaran ini lagi.

Ika

Sudah entah berapa lama aku berada disini, aku merindukan aliyah, aku merasa ia seperti memanggil-manggil namaku. Semua aktifitasku secara keseluruhan dilakukan di ruangan ini. ‘Ruangan Birahi’ aku menyebutnya, karena disinilah tempat para bandot tua itu menggarap tubuhku tanpa ampun. “Cantik banget hari ini, tampil cantik demi dientot ya?” kudengar suara nia masuk ke ruangan ini. “Udah lama gak kesini, sekalinya kesini malah nyindir” ucapku. “Gak rindu dengan suamimu ya?” tanya nia. “Cuih! Ngapain rindu dengan pria bangsat itu!” ucapku. “Hahaha…masa’ iya kamu gak rindu dientotin sama suami sendiri sih?” tanya nia.

Aku hanya diam tak menjawabnya, karena jujur di dalam hatiku, aku lebih rela dientot oleh suamiku sendiri daripada dengan para bandot tua ini walaupun para bandot tua ini jauh lebih bisa memuaskan ku dengan kontol-kontol perkasa mereka. “Kalau emang kesel sama doi, ceraikan saja lah” ucap nia tiba-tiba. “Hah cerai? Sembarang banget mulutmu!” ucapku kesal. “Iya cerai…seperti yang aliyah sudah lakukan” ucap nia santai. “Hah apa maksudmu?!” ucapku seraya melompat mendekati nia. “Iyaa… suamimu dan aliyah sudah cerai…hari ini hasil sidangnya” jelas aliyah. “Apa yang sudah kamu lakukan nia?!” pekikku. “Aku gak ngapa-ngapain…. Aku cuma ngentot sama suamimu… dan aliyah menyaksikan langsung.. tapi memang aliyah tolol sih, punya suami dengan kontol bagus kok gak bisa puasin” jelas aliyah.

“Plak!” aku menampar keras pipi nia hingga ia tersungkur. Dan sialnya aku, tepat di pintu ruangan ada pak karyo yang melihat kekerasan yang kulakukan terhadap nia. Beliaupun langsung berlari mendekati nia. “Kamu gak apa-apa sayangku?” tanya pak karyo. “Lancang banget kamu!! Pasti kamu yang godain ari kan!! Ngaku aja!!!” bentakku pada nia. “Godain?! Dia ngentotin aku di rumah kita kontrakan dulu, dia paksa aku untuk muasin hasrat bejatnya” jelas nia. “Gak mungkin! Mas ari gak mungkin seperti itu!! Pasti kamu berikan sesuatu padanya!!!!” bentakku. “Iyaa…aku berikan kepuasan yang gak bisa ia dapat dari kamu maupun dari aliyah si lonte itu!” ucap nia yang sangat membuatku geram.

“Kurang ajar kamu nia menghacurkan kebahagiaan keluarga aku!! Bangsat kamu!” bentakku seraya berusaha memukuli nia namun dengan sigap ditahan oleh pak karyo. “Lepasin saya pak! Dia harus diberi pelajaran!!” ucapku seraya meronta. Karena mendengar teriakanku, maka pak marno, pak isno dan juga ajis masuk ke ruangan ini untuk menahanku. “Pak… kurasa ini saatnya” ucap nia seolah memberi kode kepada pak karyo. “Kamu yakin sayang?” tanya pak karyo. “Ya aku yakin… Karena dendamku sudah tuntas semuanya” ucap nia seraya meninggalkan ruangan ini.

“Apa maksudmu ini saatnya hah?! Heh nia sini dulu kamu!! Dasar pengecut!!!” teriakku. Pak marno dan pak isno dengan kasar membuka pakaian dalamku tanpa membuka pakaian dan jilbab yang kukenakan.

“Saya mau diapakan…lepaskan saya!” ucapku seraya terus meronta. “Anak-anak ini kesempatan kalian” kulihat pak karyo sedang menelepon seseorang. Tak beberapa lama, ada sekitar 7 pria dengan tubuh yang sangat atletis atau biasa dikenal sebagai ‘Tukang Pukul’ masuk ke ruangan ini hanya dengan mengenakan celana short khas para binaragawan. Mereka semua menatapku dengan tatapan haus akan kenikmatan, dan hal itu membuatku bergidik ngeri. “Ini adalah hadiah untuk kalian para bawahan setia saya…sila dinikmati hingga kalian puas…buat ia menjadi budak kalian” ucap pak karyo. Kulihat pak karyo dkk mulai meninggalkan ruangan ini, sehingga kini hanya ada aku dan 7 pria ini. Satu persatu dari mereka mulai membuka celana short yang mereka kenakan.

Aliyah

Usai sudah bahtera rumah tanggaku dengan mas ari, seorang pria yang sudah menjadi suamiku beberapa waktu ini dan sebenarnya akan menjadi ayah bagi anak yang tengah kukandung. Aku masih tidak mempercayai apa yang ia lakukan padaku beberapa hari lalu, bagaimana ia bisa-bisanya berselingkuh dengan seorang wanita yang bahkan aku muak menemuinya, ya wanita itu nia. Kini aku bingung harus kemana, orang tuaku sudah mengetahui kabar ini, dan mereka sangat menyayangkan keputusanku yang langsung menceraikan mas ari, ya walaupun dikemudian hari ini adalah keputusan yang sia-sia tapi setidaknya aku bisa terhindar dari lingkaran hitam yang sudah menjerat diri nia. Jujur aku masih bingung gimana nasib mbak ika kini, aku memang benci dengan mas ari, namun aku masih terus mengkhawatirkan nasib mbak ika. “Wahai mbak…dimanapun kamu berada…aliyah harap mbak lekas kembali” aku berdoa dalam hati.

Hari ini pasca sidang perceraianku, aku kembali ke rumah tempat dimana mantan suamiku tinggal, aku pulang kesini bukan untuk menemuinya, tapi aku ingin mengemas pakaian milikku untuk kubawa pulang ke kampung. “Berangkat hari ini? Apa perlu mas antar?” kudengar mantan suamiku, mas ari bertanya. “Tidak perlu” jawabku singkat. “Fiuuhhh…. Kenapa ini semua terjadi pada kita… ika pun belum kunjung pulang” mas ari ngedumel sendiri. Aku mengabaikannya dan terus membereskan pakaianku. Karena sama sekali tak kugubris, akhirnya ia pun meninggalkanku yang terus saja sibuk menyusun pakaian. Setelah semuanya sudah ter-packing, aku langsung menuju keluar tanpa pamit padanya, karena jujur hatiku masih sangat perih jika bertatapan dengannya. “Beneran tidak mau diantar? Setidaknya mas antar sampai terminal deh” ucap mas ari. “Baiklah” jawabku. Lalu ia membantuku memasukkan semua barang milikku ke bagasi mobilnya sementara aku hanya duduk menunggu di kursi penumpang bagian depan.

Selama perjalanan menuju terminal bus, kami terdiam seribu bahasa. Ia yang serius mengendarai mobilnya pun sepertinya enggan memulai pembicaraan denganku, begitu juga dengan aku yang masih merasakan perih teramat perih di dalam hatiku tidak ingin memulai obrolan apapun dengannya. Setibanya di terminal, ia membantu membawakan semua barangku dan juga mencarikan mobil travel dengan tujuan kampungku. Ketika sudah didapatkan mobil travel yang dimaksud, “Hati-hati ya di jalan… tolong sampaikan permohonan maaf dan salam mas untuk orang tuamu” ucap mas ari seraya ingin menyalamiku, namun tak kulayan uluran tangannya, dan aku hanya menjawab “Iya”.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler