. Buku Harian Ari Part 29 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 29

0
316

Buku Harian Ari Part 29

Ditaklukan!

Ari

Tak terasa sudah sebulan lebih ika tanpa kabar, aku bahkan polisi pun tak dapat menemukan dimana keberadaan ika saat ini. Hari ini aku berencana ke rumah nia hendak meminta pertolongan pada nia untuk membantu mencari ika.

Setibanya di rumah nia…

“Tok..tok..tok”, “Yaa sebentar…Oh mas ari…sila masuk mas…saya buat minum dulu” ucap nia ramah. Setelah ia meletakkan minuman, “Makasih nia” ucapku. “Jadi ada apa hal yang membuat mas datang kesini?” tanya nia. “Jadi gini, sampai saat ini ika belum kunjung pulang, aku bingung mesti cari kemana lagi, kamu boleh bantu aku nyariin ika?” ucapku. “Nyariin ika yaa…Mas udah laporan ke polisi?” tanya nia. “Udah nia…cuman masih belum ada kabar” ucapku lesu. “Oo gitu…nanti nia coba tanya rekan nia yang kerja di polisi deh” jawab nia seraya tersenyum. “Makasih banyak sebelumnya nia…Mas pamit dulu” ucapku seraya meninggalkan rumah nia.

Siang harinya…

Ika

“Ugghh ughh shhh” desahku saat pak karyo menyodokkan kontolnya dengan sangat cepat pada memekku. “Arrgghh tetep rapet memekmuhh” desah pak karyo. Kurang lebih sebulan sudah aku berada disini menjadi budak syahwat pak karyo dkk., sejujurnya aku rindu rumah, rindu aliyah dan tentu saja rindu suamiku. Tapi apa daya, hanya ini yang bisa kulakukan agar nia tidak menyakiti mereka, dua orang yang paling kusayangi. Mungkin kini mereka sibuk mencariku, aku tau betapa pedulinya aliyah padaku. “Akhhh akhhh gak tahannn” desah pak karyo seraya menekan kontolnya dalam-dalam di memekku dan “Crooott crooott crooott” ada sekitar 3 semburan peju beliau yang membasahi liang memekku, tubuh beliau rubuh dan dengusan nafasnya terasa berat dan menggelitik pipiku. “Udah puas pak?” ucap seorang wanita yang kutebak itu pasti nia. “Puas banget…dan gak bakal bosan…sama kayak ngentotin kamu” ucap pak karyo seraya bangkit dari tubuhku, kurasakan peju hangatnya meluber ke pahaku. “Mandi dulu gih pak…kontolnya berpeju gitu” ucap nia. Akupun duduk seraya membersihkan memekku yang basah dengan cairan cintaku dan peju pak karyo.

“Udah sebulanan, baru kesini kamu nia” ucapku. “Iya…karena aku mau memberitahu sesuatu” ucap nia. “Memberitahu apa emangnya?” tanyaku ketus. “Ini tentang suamimu” ucap nia singkat. “Suamiku? Mas Ari? Kenapa dia? Kamu apakan dia?” tanyaku panik. “Aku gak ada apa-apain dia, aku cuman mau kasih liat ini” ucap nia memberikan hp nya yang menampilkan beberapa foto mas ari. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak, aku tak percaya mas ari tega berbuat seperti ini, foto pertama terlihat mas ari tengah duduk di salah satu foodcourt dengan seorang wanita, foto kedua masih dengan wanita yang sama, mas ari pergi ke taman wisata, dimana taman itu adalah tempat pertama kali kami memacu birahi, dan foto ketiga adalah kulihat mas ari tengah bersenggama dengan wanita tersebut diatas kap mobilnya. “Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin nia!!! Siapa lonte itu?!!!!” pekikku. “Aku tidak tau…tapi apakah itu suamimu?” tanya nia dengan nada datar. “Iyaa!! Dia mas ari suami aku!!! Bangsat!! Suami Bangsat!!! Nih hp mu!” aku mengutuk suamiku sendiri. “Coba liat foto berikutnya” ucap nia. Akupun menggeser beberapa foto, sampai pada sebuah foto dimana mas ari tengah jalan mesra di mall yang sama namun dengan perempuan yang berbeda, aku yang sakit hati semakin penasaran dengan foto berikutnya, dan ternyata foto terakhir adalah mereka berjalan mesra dengan berpelukan masuk ke sebuah wisma di dekat rumah kami. “Anjing! Bangsat! Bangsat kau ari!” pekikku yang tak dihiraukan oleh nia. Kuberikan kembali hpnya dan nia meninggalkanku sendiri di ruangan ini.

Seminggu berlalu…

Ari

Sudah seminggu ini aku masih belum juga mendapatkan kabar mengenai keberadaan ika. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengunjungi rumah nia kembali. “Tok..tok..tok”, “Yaa sebentar…oh mas ari…ada apa mas?” tanya nia. “Boleh mas masuk?” tanyaku. “Oh boleh mas…silahkan masuk” ucap nia seraya menutup pintu. “Kamu masih belum dapat kabar tentang ika ya?” tanyaku. “Belum mas…mas sendiri gimana?” tanya nia. “Belum juga nih…bingung mas mau nyari kemana lagi” ucapku seraya menunduk. “Yang sabar ya mas…bentar nia buatkan minum dulu” ucap nia seraya beranjak menuju dapur. Saat aku menunggu minuman yang dibuat oleh nia, sebuah pesan singkat masuk.

“Hai sayang…”
“Siapa ya?” balasku.
“Ini aku lisa say…” balasnya.
Lalu nomor tersebut mengirimkan sebuah foto, ternyata foto kak lisa.

“Ooo kak lisa…pakai bra gak itu? Hehe” candaku.
“Menurut kamu say?” balasnya.
“Kayaknya gak deh…” balasku.
“Hehe bener….yuk ngentot lagi say” balasnya.
“Nanti ya sayang…” balasku.
“Ih kok gitu…udah bosen sama aku ya?” balasnya.
“Bosen? Kan baru satu kali ngentotnya” balasku.
“Oiya juga yaa…hehe Sini lah ngentot” balasnya yang membuat jantungku berdegup kencang dan perlahan kontolku mulai mengeras.
“Iya sabar dong…muach” balasku mengakhiri pesan tersebut, karena nia sudah kembali ke ruang tamu membawakanku secangkir teh hangat.

“Nih sila diminum mas tehnya” ucap nia ramah. “Nia ke belakang dulu ya mas” ucap nia seraya meninggalkanku. Seteguk dua teguk aku minum teh buatan nia, dan perlahan ada gejolak di dalam diriku, yang tak lain adalah gejolak birahi. “Apa iya karena godaan kak lisa tadi?” aku membatin. “Ah gak mungkin…ini kuat banget rangsangannya…” aku membatin. Kurasakan diriku sudah dikuasai syahwat sepenuhnya, aku tak dapat berfikir jernih, yang aku pikirkan saat ini bagaimana melampiaskan birahiku saat ini, kalau mesti ke rumah kak lisa itu kejauhan. Di ruang tamu ini aku mulai membuka resleting celanaku, dan langsung mengeluarkan kontolku, kukocok saja seraya melihat foto-foto para ‘Budak seks’ ku.

“Eh mas ari ngapain! Mas!” pekik nia saat menyaksikan aku sedang coli di ruang tamunya. “Eh ini…maaf mas…gak bermaksud” ucapku panik seraya menutup kontolku dengan bantal sofa. Nia hanya terdiam berdiri melihatku ia seolah tak percaya dengan apa yang kulakukan, karena nafsu yang menggebu-gebu sudah menguasai diriku, langsung saja aku beranjak mendekatinya, nia yang terkejut dengan tindakanku berusaha menghidar dan berlari dari kejaranku. Sampailah pada satu sudut rumah, dimana aku berhasil menghimpit tubuhnya ke dinding. Kedua tanganku merayap dengan cepat masuk ke balik jilbab biru muda yang ia kenakan, tanganku langsung meremas toketnya, yang ternyata ia gak pakai bra. “Ahhh mass…lepasin nia mass….mass ngapain?” ucap nia seraya meronta agar kulepaskan.

Nia memukul perutku dengan sikunya sehingga ia dapat lepas dan dengan buas aku kembali mengejarnya. Saat kudapatkan, langsung kutundukkan tubuhnya dan bertumpu pada meja makan. “Mas mau ngapain?Uhh” tanya nia saat aku dengan beringas menyingkapkan rok biru yang ia kenakan. “Kamu kasih mas racun ya? Dan ini kamu malah gak pakai cd dan bra…” ucapku. “Racun apa mas? Ssshh” desah nia saat jemariku bergerak cepat mengocok memeknya yang sama sekali tak berbulu itu. Jemariku terus mengocok memeknya, sementara tanganku yang satunya berusaha masuk ke balik baju kaos dan jilbab biru muda yang ia kenakan, kurasakan toketnya mulai menegang pertanda ia juga dilanda birahi, kupermainkan puting toketnya.

“Akkhh sshh mass hentikan uhhh” desah nia. Kuhentikan semua seranganku, dan dengan tergesa-gesa kubuka celana dan cd yang kukenakan. Lekas saja kumasukkan kontol milikku ke dalam memeknya, “Akkhh mas besar akkhh” desah nia kewalahan menerima sodokan kontolku yang begitu cepat. “Apanyaah yang besar?” tanyaku. “Kontol mass..ughh” desah nia seraya mulai menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama sodokan kontolku. “Tadi gak mau katanya?” tanyaku seraya melepaskan kontolku. “Akhh mass sodok lagi…maaf nia tadi ketakutan” ucap nia seraya menggenggam dan menuntun kontolku untuk kembali masuk ke memeknya. “Akhh habisnya mass kasar banget tadi ughhh” desah nia. Dengan tenaga dan birahiku yang menggebu-gebu, kuputar tubuhnya untuk duduk mengangkang diatas meja makan ini. Dan langsung kunaikkan tempo sodokan kontolku, karena melihat wajah nia yang sangat menikmati permainan kasarku.

“Ughh ughh mass aku gak tahan” desah nia diikuti semburan cairan cintanya. Kusingkapkan baju kaos dan jilbab yang ia kenakan hingga ke bahunya, lalu kuhisap dan remas kedua toketnya. “Akkhh bentar dong akkh akuhhh baru keluar iniiihh” racau nia. “Akkhh mass perkasa banget ihh” desah nia.”Mass jangan dicupangin semua donggg” desah nia. “Kenapa emangnya?” tanyaku seraya makin mempercepat sodokan kontolku. “Ka..kar…akhh karena merah-merah mas…ughh gatal…” desah nia. “Apanya yang gatal haa?” tanyaku. “Memek akuhh mas” desah nia. “Lonte banget si nia ini” aku membatin. Entah obat apa yang nia kasih ke minumanku tadi, yang jelas aku benar-benar berstamina ngentotin akhwat lonte satu ini. Kugenjot ia selama 5 menit, “Akhh mas akkhh” desah nia diikuti semburan cairan cintanya yang kedua. Kehangatan cairan cintanya pada palkonku memicu hasrat ingin berejakulasi. Kuhentakkan dalam-dalam, aku ingin nekat ‘buang bibit’ di dalamnya. “Akhh sshh masshh jangan buang dalem sshh” desah nia seraya mendorong tubuhku hingga kontolku terlepas dari memeknya. Dengan telaten nia mengocok kontolku dan “Crooott crooott crooot” ada sekitar 3 semburan pejuku langsung membasahi perut dan rok nia.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part