. Buku Harian Ari Part 23 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 23

0
422

Buku Harian Ari Part 23

Hambar

Seminggu berlalu…

Rini

Sejak seminggu yang lalu aku pulang kuliah sampai larut malam, kini kak rida menjagaku secara ketat, ia selalu meminta mas boby untuk mengantar dan menjemputku saat ke kampus. Ya sebenarnya aku tidak ada masalah dengan itu, justru aku merasa terlindungi apabila berada di dekat mas boby. Sore ini saat aku menunggu mas boby untuk menjemputku, aku berdiri di dekat pos satpam, namun tak kulihat pak samsul berada di sana, jadi aku merasa tidak khawatir, namun tak berapa saat, “Pulang sore lagi nak?” ucap pak samsul yang tiba-tiba berada di belakangku, “Eh iya pak!” ucapku terperanjat dan spontan memutar badan menghadapnya. “Loh kok terperanjat gitu?” ucap pak samsul santai. “Eh iya…eh gak apa-apa pak, lagian bapak tiba-tiba nongol di belakang saya” ucapnya.

“Yaa kan saya cuma negur, gak remes pantat kamu seperti ini nak” ucap pak samsul seraya meremas pantatku. “Aih! Malah diremes” ucapku kembali terkejut. “Kalau diliat orang gimana pak?” tanyaku yang masih berdebar. “Ya paling diciduk….haha” ucap pak samsul terbahak-bahak. “Kamu dijemput siapa hari ini?” tanya pak samsul. “Dijemput sama abang ipar saya pak” jawabku seperlunya. “Oo…kirain” ucap pak samsul. “Kirain apa pak?” tanyaku penasaran. “Kirain sama om-om….hahaha” ucapnya seraya terbahak-bahak lagi. Aku hanya diam menatapnya tajam. “Yah ngambek…jangan ngambek gitu lah” ucapnya yang seketika pucat melihat tatapanku padanya. “Maaf ya nak, bapak bercandanya berlebihan” ucapnya. Dan kebetulan kulihat mas boby yang mengendarai sepeda motornya sudah mengarah ke tempat ku berdiri, “Yasudah saya pamit pak” ucapku dengan nada datar. “Yaa hati-hati nak” ucap pak samsul.

Ika

Sudah seminggu ini aku tidak mengajarkan kegel pada nia di rumahnya, di kampus pun aku sangat sulit untuk menemuinya, setiap kali aku mengontaknya selalu tidak dapat dihubungi. Aku harap nia baik-baik saja di tangan dua bandot tua itu. Hari ini setelah perkuliahan selesai, dan kebetulan aku adalah yang paling sore selesai maka mas ari sudah pulang terlebih dahulu. Aku kasihan padanya yang letih mengurusi kedua istrinya yang berbeda watak sekaligus harus berkuliah, sehingga hari ini aku memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan sebuah bus kota. Saat aku menunggu bus yang memiliki tujuan ke halte dekat rumah kontrakanku, tiba-tiba cuaca berubah drastis menjadi hujan deras disertai angin, untungnya halte ini dilindungi kaca tebal, sehingga penumpang yang hendak menunggu datangnya bus tidak perlu khawatir terkena air hujan.

Aku duduk di salah satu sudut karena tidak ingin berdesak-desakan di dekat pintu halte, tak beberapa lama datang dua remaja tanggung, yang kutaksir umurnya sekitar belasan tahun duduk di sampingku, sepertinya mereka adalah pengamen jalanan karena tubuhnya yang gelap dan pakaiannya lusuh. Entah mengapa bus yang kutunggu tak kunjung datang, kulihat penumpang yang lain, mulai tidak berdesakan di pintu dan beranjak keluar halte karena kebetulan hujan di luar sudah mulai reda, namun angin masih berhembus kencang. “Mbak mau naik bus tujuan A5 ya?” tanya salah seorang penumpang padaku. “Iya mas” jawabku. “Informasi dari temen, katanya bus tersebut terjebak banjir dihalte sebelumnya mbak” ucapnya.

“Oo gitu…makasih informasinya mas” ucapku yang lekas membuka hpku untuk meminta tolong agar mas ari menjemputku. Tak terasa hari sudah mulai magrib, pesan singkatku tak kunjung di balas oleh mas ari, aku bingung harus bagaimana. Namun satu hal yang mengherankanku adalah dua remaja tanggung yang duduk di sampingku ini sama sekali tidak beranjak, tak berselang beberapa menit saat situasi halte yang mulai sunyi, kurasakan ada tangan yang menggerayangi pahaku. Sontak aku berdiri dan melotot, “Kamu ngapain hah!” bentakku. “Huu sok jual mahal, mbak akhwat lonte kan?” tanyanya santai yang kini mereka berdua berdiri memojokkanku.

“Jaga mulutmu!” bentakku. Kulihat salah satu dari mereka mengurut kontolnya dari balik celana, aku sangat ketakutan pada kondisi ini karena aku di kepalaku langsung membayangkan kemungkinan berikutnya, salah satu remaja mendekatiku dan menghimpitku pada dinding halte yang berbahan kaca. “Heh lepasin!” pekikku seraya menggeliat agar ia melepaskan himpitannya. Kurasakan tangan yang ia gunakan untuk menghimpitku mulai meremasi toket kiriku dari balik jilbab biru yang kukenakan. “Empuk boi toketnya!” ucapnya ke pada rekannya yang kulirik mulai mengeluarkan kontolnya, saat kontolnya yang setengah tegang keluar dari sangkarnya aku sedikit takjub, karena pada umur segitu ia sudah memiliki kontol yang begitu gemuk. “Boi…doi ngeliatin kontol lu terus…memang lonte nih” ucap sang remaja yang menghimpitku.

Kata ‘Lonte’ yang terucap dari bibirnya menyadarkan lamunanku, dan saat ia lengah langsung saja kutendang pangkal pahanya sehingga ia terjerembab di lantai halte. “Heh ada apa ini!” bentak seorang pria dari luar. “Am..ampun.. gak ada apa-apa kak” ucap remaja yang tadi sudah mengeluarkan kontolnya. Kulihat ada seorang pemuda yang wajahnya tak asing bagiku, namun aku tak dapat mengingat siapa gerangan, “Me..mere..mereka melecehkan saya mas” ucapku terbata-bata karena ketakutan. “Hah! Kurang ajar kalian! Keluar kalian!” bentak sang pemuda seraya menarik tubuh kedua remaja tanggung tersebut keluar halte. Aku sangat berterima kasih atas kedatangannya untuk menghentikan aksi bejat yang akan dilakukan oleh dua remaja tanggung tersebut padaku. “Ma..ma…makasih mas…saya ketakutan tadi” ucapku yang masih panik. “Iya sama-sama mbak, lain kali hati-hati apalagi menjelang magrib seperti ini” ucap sang pemuda. Akupun lekas membuka hp ku berharap mas ari membalas pesanku, dan benar saja ia membalas “Iyaa sayang, sebentar lagi mas jemput”. “Saya duluan ya mbak, mbaknya hati-hati” ucap sang pemuda seraya meninggalkanku yang masih bertanya siapakah gerangan yang menyelamatkanku barusan.

Boby

Malam ini setelah selesai makan malam, rida dan rini sedang mengasuh dan bermain dengan anak pertamaku di ruang tengah. Pasca persalinan beberapa waktu lalu, tubuh rida terlihat tidak seseksi semasa gadis atau semasa sebelum mengandung, aku ingin menegur namun takut menyinggung perasaannya, setiap kali aku mengajak bercumbu ia selalu menolak dengan jawaban “Mas, tahan dulu ya, anak kita masih butuh perhatian ibunya”. Benar sih apa yang rida bilang, namun ya namanya manusia pasti punya nafsu, walaupun jujur pada saat ini nafsuku pada rida sudah mulai berkurang karena melihat tubuhnya yang gak sesintal dulu, kini lemak tak beraturan nyebar keseluruh tubuhnya.

Aku yang tidak ikut nimbrung bersama mereka di ruang tengah hanya berbaring di kamar sambil buka-buka instagram, mataku tertuju pada salah satu akun selebgram hijab, foto terbarunya ia sudah memakai cadar, sehingga aku berharap jika aku scroll lebih ke bawah kemungkinan aku akan mendapatkan foto ia yang belum bercadar, cukup lama aku scroll hingga akhirnya kudapatkan foto-foto semasa ia belum bercadar, betapa manis wajahnya, dan entah mengapa tiba-tiba kontolku mengeras setiap aku scroll fotonya yang masih berlum bercadar satu persatu, akhirnya kubuka saja celanaku seraya mengurut-urut kontolku.

Beberapa menit saat aku scroll foto-foto milik selebgram ini, kini kontolku sudah tegang maksimal, “Kraak” suara pintu kamarku terbuka dan hal itu mengagetkanku, ternyata rida yang masuk, namun sepertinya ia tak memperhatikan apa yang tengah kulakukan, saat ia telah menutup pintu dan menoleh padaku. “Aih!” pekiknya seraya menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak terdengar oleh rini di luar. Ia berjalan cepat kearahku dan bertanya dengan suara pelan “Mas ngapain itu? Liat apa? Ini sampai tegang banget lagi”, “Eee ini anu” ucapku terbata-bata, dan betapa cepatnya tangan rida menyambar hp yang sedari tadi kugenggam, “Ini siapa mas!” pekiknya dengan suara berbisik. “I…itu selebgram mah”ucapku terbata-bata seraya memasukkan kembali kontolku. “Kamu suka sama dia hah! Istrimu ini udah jelek yah!” ucap rida dengan nada marah. Karena kutahu kini anak kami tengah diasuh oleh rini di ruang tengah, langsung saja kutarik rida untuk berbaring ke ranjang kami, “Hummpphh mas” ucap rida panik.

Akupun langsung naik keatas tubuhnya dan membekap mulutnya, “Mas bukannya ndak tertarik lagi denganmu istriku, mas hanya perlu kepuasan pada kontolnya mas, setiap mas minta kamu selalu nolak” jelasku tegas. Dengan sedikit kasar kunaikkan gamis panjang berwarna biru tua yang ia kenakan,tanpa melepaskan cd yang ia kenakan, langsung kukocok dengan kasar. “Hmmpp” hanya itu yang terdengar dari mulut rida yang kubekap. Tak butuh waktu lama, kini memek rida sudah becek akibat kocokanku. Kukeluarkan kontolku dan langsung kuarahkan ke bibir memeknya, kulihat ia menggeleng berusaha melepaskan dekapan tanganku. Namun aku semakin kuat membekap mulutnya.

Saat sudah pada posisi yang kuinginkan, langung kuhentak pinggulku sehingga kini kontolku sudah bersarang di memek rida. Kulihat ia melotot, namun peduli apa, kugenjot perlahan hingga akhirnya cepat, dari matanya yang melotot sampai kini matanya terpejam menikmati sodokanku. Kurasakan kontraksi dinding memek rida mulai aktif, pertanda ia sudah mulai rileks dan menikmati permainan kasarku. “Hhhmmpp hssshh” desahnya tertahan tanganku. Aku mengisyaratkan padanya untuk tidak berteriak, rida pun mengangguk tanda setuju. Saat kulepas dekapanku pada mulutnya, “Mass kasar banget ihh sshh” ucapnya setengah berbisik. “Hhmm kamuuhh selalu nolak habisann ughh” ucapku seraya memperlambat sodokan untuk menciptakan suasana erotis.

“Yaa kan aku lagi …” ucap rida yang terpotong karena kuletakkan satu jariku di bibirnya sebagai isyarat sudah jangan beralasan lagi. Lalu rida memejamkan matanya menikmati setiap sodokanku pada memeknya. Tak berselang beberapa menit, kurasakan memeknya berkedut pertanda ia akan orgasme, rida menggerakkan pinggulnya cukup liar namun berusaha untuk tidak menimbulkan suara ranjang yang berisik, kuhentakkan kontolku cukup dalam sampai mata rida merem melek merasakan sensasinya. “Ugghhmmm” desahnya diikuti semburan cairan cintanya yang cukup deras. Melihat ia yang kelojotan, kuremas toket rida kanan dan kiri bersamaan di balik jilbab biru muda yang ia kenakan. Kedua tangannya pun ikut membantuku meremasi toket miliknya.

Saat rida sudah mengatur kembali nafasnya, “Kak…kak rida….mana dot bayinyaaaa?” pekik rini dari ruang tengah. “Eh iyaa” ucap rida seraya berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkramanku, “Yaa bentar dong…masnya kan belum crot” ucapku seraya mempercepat sodokan kontolku di memek rida. “Uhh Ahh Bentaarrr yaahhh rin….Bentaarrrr” pekik rida seraya menahan desahannya. “Iyaaa kak…..jangan kelamaan” balas rini. Beginilah memek pasca persalinan, tidak serapat sebelum hamil namun ya harus disyukuri, aku jujur tidak merasakan nikmat apapun maka dari itu kini yang aku lakukan hanya menggenjot saja tanpa merasakan apa-apa, hambar…ya sungguh hambar. “Maasshh udahh belum niihh?” tanya rida. Aku tak menjawab. “Kalau masih lamaahh, aku kasih dot bayii ke rini dulu dehh” ucap rida dan kini usahanya melepaskan diri dari dekapanku berhasil.

Rida merapikan pakaiannya yang sempat kusut karena perbuatanku, segera mengambil dot bayi yang dimaksud dan bergegas keluar untuk menemui rini. Aku yang masih terduduk di ranjang dengan kontol masih keras bingung mau ngapain, memek istriku sudah tak senikmat dulu, walaupun sejujurnya aku cinta dia bukan karena memeknya, tapi ya namanya suami istri pasti kontol dan memek selalu menjadi bagian dalam hubungan itu. Karena rida cukup lama berada di luar, aku kembali mengambil hpku yang kini target bacolanku adalah foto sang selebgram yang telah mengenakan cadar, entah ada dorongan apa di dalam diriku, sehingga ketika melihat akhwat bercadar seperti selebgram ini, rasanya seperti ingin mencicipi memeknya dengan keadaan ia masih berpakaian lengkap.

Beragam khayalan nakal berputar mengelilingi otakku, hingga akhirnya aku melihat sekeliling, aku mencari sesuatu yang dapat kugunakan untuk membungkus hpku, karena kini muncul hasrat pada diriku ingin menyemburkan peju ke foto sang selebgram bercadar yang berada di hpku ini. Saat sudah kutemukan, lekas kubungkus hpku dengan sebuah plastik bening, kuletakkan hpku di meja rias rida. Selanjutnya kukocok kontolku sambil membayangkan adegan erotisku dengan sang selebgram bercadar, “Akhh” desahku saat menggapai puncak kenikmatan dan “Croot…crooott..crroot” ada sekitar 3 semburan pejuku yang langsung membasahi plastik yang membungkus hpku begitu juga dengan meja rias rida pun terkena lelehan pejuku.

Saat tetes terakhir peju dari palkonku, “Mas maaf….maafin rida…mas sampai begini” ucap rida yang tiba-tiba memelukku dari belakang seraya tersedu-sedu. Aku tadinya hendak marah karena sikap acuh tak acuhnya dan menganggap remeh diriku yang tak mampu menahan nafsu, namun sepertinya ia sudah sadar akan kesalahannya. “Maafin rida yang sering nolak permintaan mas….sampai-sampai mas rela masturbasi agar tidak menyalurkannya ke wanita lain…maafin rida mas” ucap rida yang mulai sesenggukan di bahuku. Kuelus tangannya seraya memutar tubuhku menghadapnya, “Sudah jangan nangis….kamu istrinya mas, dan mas akan jagain kamu bagaimanapun kondisimu, tapi bolehkan mas minta satu hal?” tanyaku. “Apa mas? Katakan mas…sebagai istri…aku harus siap” ucap rida. “Mas ingin kamu olahraga…supaya tubuhmu terjaga dan kita sama-sama bahagia” ucapku seraya tersenyum. Kulihat rida membalas senyumanku dan mengangguk.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler