. Buku Harian Ari Part 22 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 22

0
470

Buku Harian Ari Part 22

Kembali Terulang

Ika

Setelah beberapa hari ini aku rutin mengajarkan senam kegel pada nia dan wiwi, hari ini saat aku menuju rumah kontrakan nia aku menerima sebuah pesan singkat dari wiwi yang berisi bahwa ia pada hari ini tak dapat join dalam latihan rutin kami. Setibanya di rumah nia, seperti biasa kami langsung latihan, saat latihan kami hampir siap. “Tok…tok…tok” terdengar ketukan pintu utama. Saat nia buka ternyata pak marno dan isno dateng sore-sore begini. “Wah pada ngapain nih?” tanya pak marno.

Aku yang selama latihan hanya mengenakan baju kaos lengan panjang sebagai atasan, langsung mengambil jaket milikku dan lekas kukenakan. “Lagi latian pak, mau ngapain sore-sore kesini pak?’ ucap nia seraya menahan pak marno agar tidak masuk.”Mau liat kamu lah manis, kalian latihan apa nih?” ucap pak marno seraya memaksa masuk diikuti pak isno. “Kayaknya wajahmu ndak asing disini” ucap pak marno seraya mendekatiku yang masih sibuk menaikkan resleting jaketku. “Maaf pak” ucapku seraya menghindar dari hadapan pak marno. “Oh mbak yang temennya si nia loh itu pak” ucap pak isno.

“Iyaaa yaa…dari aroma tubuhnya…kamu pasti ika kan?” ucap pak marno seraya menyeringai menatapku. Aku merasa seperti dihakimi dengan tatapan dua bandot ini. “Lanjut aja lah latiannya” ucap pak marno. “Su..sudah….kami sudah siap pak” ucapku terbata-bata. Kulihat pak isno mendekati nia lalu langsung meremas pantat nia, “Aih!” pekik nia seraya menepis tangan pak isno. “Loh kok ndak mau?” tanya pak isno. “Jangan pak…” ucap nia ketakutan. Seketika pak marno dan pak isno menatap tajam kepadaku, “Kamu kesini latihan, atau ngajarin yang tidak-tidak pada nia hah?” bentak pak marno. “Ma..maksud bapak apa hah?” ucapku yang mulai menguasai diri.

“Lepaskan nia yang masih punya masa depan pak” ucapku bijak. Seketika pak marno mendekatiku dengan cepat lalu menubruk tubuhku sehingga kini tubuhku terhimpit oleh tubuhnya pada tembok. “Aduh” pekikku, “Kamu habis mendakwahi nia kan?! Ngaku kamu!” bentak pak marno di hadapanku. “Lepaskan saya pak!” pekikku seraya meronta agar pak marno melepaskan tanganku yang ia kunci. “Apa kamu gak ingat dulu kami entot kamu sampai mendesah-desah hah?!” bentak pak marno yang seketika membuatku tertunduk lesu.

“Sudah pak sudah….lepaskan ika pak” ucap nia seraya memeluk tubuh pak marno agar melepaskan dekapannya pada tubuhku. “Ka, pulang saja kamu, aku gak apa-apa ka” ucap nia seraya menarikku. Akupun yang sudah cukup ketakutan langsung pamit keluar dari rumah ika. Sepanjang perjalanan tepatnya di dalam angkot aku menahan tangis, aku benar-benar masih belum bisa menerima kenyataan bahwa nia rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan aku, walaupun pada masa lampau kami berdua dalah pemuas nafsu para pria bejat tadi, namun itu masa lalu. Aku berharap nia baik-baik saja.

-Sedikit flashback-

Rini

Selama beberapa waktu ini, aku selalu disibukkan dengan mengurus ponakan pertamaku di rumah. Ia selalu bertingkah lucu dan menggemaskan, sementara aku mengurusnya, mas boby lah yang mengurus dan menjaga kakakku pasca masa persalinannya. Kini tubuh kak rida terlihat lemaknya kemana-mana, kusarankan ia untuk olah tubuh supaya kembali seksi seperti sediakala namun setiap kusarankan akan hal itu ia selalu berkata “Halah dek dek….kamu nih ngomongnya udah begitu aja, padahal belum punya suami, jaga dirimu aja baik-baik dulu”. Karena selalu seperti itu tanggapannya, akhirnya membuatku malas untuk menasehatinya lagi.

Selama beberapa waktu ini pulalah tak kudengar deritan ranjang di kamar mereka, yang selalu kudengar hanyalah tangisan ponakanku, mungkin hal itu juga yang menyebabkan mas boby tidak menggarap kak rida. Aku sebenarnya ingin sekali meminta kepuasan, namun aku masih sadar akan harga diri sebagai wanita. Aku mengingat-ingat betapa nikmatnya saat diriku digauli oleh pak satpam yang bernama samsul itu, walaupun saat itu aku marah padanya namun aku cukup menikmati hal itu, iapun pada saat itu berjanji untuk tidak menggarapku lagi, karena ia kemarin hanya khilaf padaku. Sore ini saat perkuliahan usai, aku tidak langsung pulang dan iseng-iseng berkeliling kampus yang cukup megah dan luas ini, sampailah aku pada salah satu pojokan kampus.

Tempat ini begitu sepi, sama sekali tidak ada mahasiswa yang melintas ataupun hanya duduk sejenak, padahal disini tempatnya teduh dan banyak angin, disudut terdapat sebuah gudang kecil yang kurasa itu berisi perlengkapan untuk berkebun. Akupun akhirnya duduk sejenak pada salah satu kursi disana, sekedar menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, tak terasa aku malah tertidur. Sekitar kira-kira 1 jam, “Nak bangun nak udah sore” terdengar samar-samar suara seorang pria, saat kubuka mataku ternyata ia adalah pak samsul, satpam yang beberapa waktu lalu mencabuliku di ruang UKS. “eh bapak…ngapain pak?” tanyaku yang langsung melek dan bangkit. “Lah…kamunya yang ngapain toh…main sampai ke pojok sini, saya mah patroli” ucapnya. “Saya iseng jalan-jalan aja, yaudah saya mau pulang pak” ucapku. Namun pak samsul memegang dan menahan tanganku, “Ih ngapain pegang-pegang pak” ucapku kaget seraya melepaskan tanganku yang ia pegang. “Nak, boleh ndak sekali lagi” ucapnya memelas. “Sekali lagi gimana? Bapak janjinya cukup kemarin” ucapku jual mahal.

“Yaa kali ini aja deh nak, istri bapak setiap diajak gituan nolak mulu, lemes terus jawabannya” jelas pak samsul, aku terenyuh juga. “Hmm gimana ya….dimana emangnya pak?” tanyaku to the point. “Di gudang itu aja nak” ucapnya seraya berjalan ke gudang yang dimaksud. “Beneran pak aman disini, nanti di grebek gak?” tanyaku ragu. “Tenang aja nak, gudang ini jauh dari keramaian kok, buktinya tadi kamu bisa terlelap tanpa gangguan” jelasnya. Tanpa diperintah, aku langsung menurunkan cd krem yang kukenakan. Kulihat pak samsul hanya diam terpaku melihatku yang berlaku cukup berani. “Jadi gak pak?” tanyaku. “Eh iya jadi nak…jadi” ucapnya seraya bergegas membuka celana satpam berikut cd yang ia kenakan. Terlihat kontol pak samsul yang masih lemas dan menggantung cukup menggoda mataku. “Belum tegang nih nak” ucapnya.

“Jadi gimana dong pak?” tanyaku lugu. “Kocokin dong nak” ucapnya seraya menarik tanganku untuk menggenggam kontolnya. Aku langsung mengocoknya seraya memainkan buah zakarnya. “Kocokan kamu nikmat banget, apalagi kalau diemut” ucap pak samsul. Aku merasa tertantang, langsung saja kuhisap kontol pak samsul seperti saat aku menghisap kontol mas boby beberapa waktu lalu. “Ughh emutannya belum jago nih, kurang kuat emutannya…” desahnya, ia tak memberikan waktu lama bagiku untuk mengerjai kontolnya dengan mulutku. “Udahan ah nyepongnya… kamu nungging nak” perintahnya. Saat posisiku sudah menungging, ia menaikkan rok biru tua yang kukenakan dan langsung memasukkan kontolnya. “Aughh” desahku saat merasakan kontolnya masuk menggesek dinding memekku. “Ohhh nikmat banget memekmu nak” desah pak samsul. “Akhh sshh” aku tidak banyak mendesah karena aku berharap ini adalah terakhir kalinya beliau mencabuliku. Kurasakan pak samsul mulai mempercepat sodokan kontolnya yang gemuk itu di dalam memekku.

Tangannya tidak tinggal diam, kedua tangannya meraba dan meremas payudaraku yang masih tertutup gamis biru tua dan jilbab kremku. “Sshh ahh pakk” desahku menerima dua serangannya. “Akhh pak saya sampaiihh” desahku diiringi semburan cairan cintaku. “Yaahh baru bentar udahh muncrat ajjaah” desah pak samsul seraya menekan kontolnya lebih dalam walaupun sebenarnya gak guna sih karena kontolnya gak lebih panjang dari milik mas boby. Namun hal itu aku apresiasi dengan sesekali menggerakkan pinggulku mengikuti irama sodokannya. “Kamu biasahh ngentot dengan siapa nak?” tanya pak samsul, disela-sela ia menggempur memekku. “Uhh sshh….Dengan timun pak” jawabku berbohong, kuharap ia tak bertanya lebih.

“Kasian banget….kapan-kapan bapak siap kok puasin kamu nak” ucapnya yang seketika membuatku khawatir pada diriku sendiri, apakah aku akan takluk dengan kontol gemuknya ini dan menjadi akhwat lacur. “Kan iniihh terakhir pakkk” jawabku. “Yaahh manaahh tauuuhh kamuuhh pengen saya entot lagi, saya siap” ucapnya seraya melepaskan kontolnya dari memekku, aku cukup kecewa dengan tindakannya, saat aku menegakkan badan dan menoleh padanya. “Sini bapak gendong” ucapnya menuntunku untuk digendong depan olehnya, saat tubuhku telah ia gendong, langsung saja ia masukkan kembali kontolnya ke dalam memekku. “Akhh” desahku, ini adalah pengalaman pertama kali aku dientot dengan posisi di gendong seperti ini, kontol pak samsul terasa lebih masuk ke dalam karena tekanan beban tubuhku.

Ia menopang tubuhku dengan sangat kokoh, “Kuat banget bapak ahh” aku sudah tidak lagi sungkan mendesah dihadapannya. “Kuat genjotnya atau kuat ototnyaahh?” tanya pak samsul. “Kuatt dua-duanyaahh” desahku, aku tak peduli aku mau dicap akhwat lacur atau apapun itu, yang penting aku harus puaskan haus syahwat yang kutahan selama ini. “Akkhh pak teruss sshh” desahku. “Akkhh memekmu peret banget” desah pak samsul seraya mempercepat sodokannya. “Ughh peret mana punyakuuhh dengan punyahh istrinyaahhh bapakkk?” tanyaku menggodanya. “Perreeett punyaahh kamuhh….istriiihh cumaaah menang togee ajaahh” desahnya. “Togeehh apaan dah pak?” tanyaku bingung dengan kata ‘Toge’.

“Toket gede…ini nih toket” ucapnya seraya berusaha melumat payudaraku dari luar jilbab. “Ohh toket…kalau toket saya gimanaahh?” tanyaku. “Kalau toket kamuhh gak sebesar punya istri, tapi ini masih kencang….” Ucapnya yang mulai terengah-engah. Pak samsul lalu menurunkan tubuhku dari gendongannya tanpa melepaskan kontolnya, sehingga kini posisi kami berdiri berhadapan, alat vital kami beradu birahi dibalik rokku yang mulai turun. “Akhh pakk…akuuhh bentar lagiihh sampaiiihh” ucapku seraya tanpa malu memeluk erat pinggulnya yang masih maju mundur dengan cepat. “Iyaahh bapak juga bentar lagiihh” desahnya. “Akkhh akuuhh sampaiiihh” desahku diiringi semburan cairan cintaku yang seketika langsung mengucur ke pahaku. “Ughh deres banget” desah pak samsul seraya mengeluarkan kontolnya dari memekku. Ia memberi isyarat padaku untuk berjongkok dan menghisap kontolnya seperti tadi, tak berselang beberapa lama, ia menarik keluar kontolnya dari mulutku dan “Croott…croooot…crooott” ada sekitar 3 semburan peju hangatnya yang langsung membasahi wajahku dan jilbab krem yang kukenakan.

Setelah tetes terakhir keluar dari kontolnya, ia bergegas merapikan pakaiannya begitu juga denganku. “Yaahh pak lengket nih di muka sayaa” ucapku. “Yaahh maaf nak, emutanmu mantep banget sih” ucapnya seraya membantu membersihkan peju yang mulai mengering pada wajahku. “Wah sudah malam ya rupanya” ucapku dan dengan tergesa-gesa aku membuka hpku untuk mengecek apakah kak rida mencariku, ternyata benar, kak rida menelponku berulang kali. “Dicariin ya nak?” ucap pak samsul. “Iya nih pak, bapak sih pakai ajak ngentot dulu” ucapku seraya sibuk mengirim pesan singkat kepada kak rida mengenai keterlambatanku, aku beralasan bahwa ada kerja kelompok tadi.

“Yaudah bapak antarin kamu pulang deh, gak aman kalau pulang sendiri” ucap pak samsul. “Ya deh pak, tapi pejunya gimana nih?” tanyaku. Pak samsul lalu mendekat padaku dan tiba-tiba mencium bibirku, cukup sulit bagiku untuk melepaskan ciumannya. “Ugghh pak kok malah dicium…ehh ehh kok jilat wajah saya” ucapku panik saat lidahnya menyapu keseluruhan wajahku. “Yaa untuk ngebersihin peju saya, makanya saya jilat aja” ucapnya. “Yaahhh cari kesempatan si bapak, yaudah saya ke wc dulu deh bentar” ucapku. Setelah semuanya sudah rapi dan akhirnya aku diantar pulang oleh pak samsul

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part