. Buku Harian Ari Part 16 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 16

0
359

Buku Harian Ari Part 16

Memadu Kasih

Satu bulan berlalu…

Ari

Tepat sebulan sudah aku berada di kampung halamanku ini, dan mengenali sang akhwat bercadar yang tak lain adalah aliyah juniorku di kota. Dalam pergaulan kami dulu, aliyah termasuk anak yang lugu dan enggan berinteraksi dengan ikhwan, namun entah kenapa saat ini ia mudah saja berinteraksi dengan ikhwan dan tidak keberatan diminta oleh ibuku berjalan berdua denganku. Jujur aku penasaran apa yang membuat ia kehilangan keperawanannya, tapi aku segan ingin menanyakan, biarlah hal itu menjadi rahasia masa lalunya. Setelah aku pikirkan matang-matang akan ketertarikanku pada aliyah, maka hari ini aku menyampaikan maksudku kepada kedua orang tuaku, ibuku berkata “Bagus kalau kamu jadinya tertarik padanya, alangkah lebih baik kamu hubungi ika terlebih dahulu, bagaimanapun ika adalah istrimu”.

Ika

Sudah satu bulan aku tidak bersua dengan suamiku sendiri, aku fikir sepertinya ia telah mendapatkan wanita yang bisa memberikan keturunan baginya disana, namun kenapa ia tidak memberitahuku. Hal-hal tersebut cukup mengganggu fikiranku akhir-akhir ini, kami memang ada sesekali ngobrol via telpon namun tidak ada menyinggung masalah itu. Senam kegel yang aku tekuni bersama ibuku sepertinya sudah membuahkan hasil, aku merasa bahwa otot memekku yang cukup terlatih kemungkinan akan memberi himpitan rapat pada kontol yang masuk ke dalam memekku. Sayang mas ari kini jauh dariku, andaikan dekat pasti sudah kupujuk ia untuk menikmatiku. Aku benar-benar rindu dibelai, walaupun aku sudah menahan dengan mengisi hari-hariku dengan aktifitas di rumah, namun namanya juga wanita yang sudah ditaklukan, pasti ingin terus dibelai dan dipuaskan. Siang ini aku menerima panggilan dari mas ari, “Ya halo, apa kabar mas?” ucapku.

“Kabar baik say, sibuk gak?” tanya mas ari. “Hmm ndak kok, kenapa mas?” tanyaku. “Jadi begini, mengenai keputusanmu bersedia dimadu kemaren sudah kamu pikirkan matang-matang sayang? Soalnya alhamdulillah mas sudah menemukan wanita yang cocok disini” jelas mas ari, yang seketika membuat jantungku berhenti berdetak. “I..insyaAllah ika bersedia mas, alhamdulillah mas sudah dapatkan wanita yang bisa memberikan keturunan untuk mas” ucapku sembari menahan tangis haru. “Iya sayang, terima kasih restunya” ucap mas ari. “Ya sama-sama mas, ika sayang sama mas” ucapku. “Iya sayang, mas juga sayang sama ika” ucap mas ari. Akhirnya panggilan tersebut usai, dan aku menangis sejadi-jadinya di kamarku, aku tidak mengerti dengan yang aku rasakan, aku ikhlas jika ia memadu diriku namun aku juga khawatir jika nanti ia enggan menyentuhku lagi.

Ari

Aku sudah mengabarkan ika mengenai keputusanku, dan alhamdulillah ia menerima keputusanku dengan lapang dada. Sehingga hari ini aku dan orang tuaku bersiap-siap menuju rumah aliyah untuk melamarnya. Proses lamaran yang berlangsung 2 jam cukup membuat hatiku berdebar, karena kini hanya aliyah lah pilihanku, aku khawatir lamaranku ditolak oleh orang tuanya. Namun semua kekhawatiranku terbantahkan dengan jawaban setuju dari kedua orang tua aliyah, kami akan melaksanakan pernikahan pada esok lusa.

Keesokan harinya…

Aku mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan aku dan aliyah pada esok hari, mulai dari keperluan dekorasi hingga administrasi di dinas terkait yang berada di kampungku. Saat jam tengah hari, aku menerima panggilan dari ika. “Halo…ya sayang?” ucapku. “Ramai banget suaranya disana, lagi ada acara ya say?’ tanya ika. “Iya, insyaAllah besok mas menikah dengan calonnya mas” ucapku. “Oooo alhamdulillah, selamat ya mas, ngomong-ngomong nama calonnya mas siapa?” tanya ika. “Namanya lili” jawabku menggunakan nama panggilannya aliyah, karena aku ingin memberi kejutan pada ika saat nanti kami berjumpa.

“Ooo lili, sampaikan salam ika ke calon istrinya mas ya” ucap ika. “Iya nanti mas sampaikan” ucapku seraya mengakhiri panggilan. Saat aku selesai beribadah dan makan siang, aliyah menghampiriku. Ia mengajakku berjalan keluar rumah sejenak dan dalam perjalanan ia bertanya “Mas, niatan mas ingin menikahi aliyah tidak karena terpaksa kan?” tanya aliyah. “Tentu tidak, kenapa bertanya seperti itu?” tanyaku. “Mas mungkin sudah tau latar belakangku dahulu, aku bisa dikatakan adalah wanita yang hina karena pernah berzina” ucapnya lugu. “Ssstt…jangan bicara seperti itu, mas terima aliyah apa adanya” ucapku. Dan terlihat matanya kembali sipit pertanda ia tersenyum.

Keesokan harinya….

Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagiku dan aliyah karena telah sah menjadi pasangan suami istri. Pernikahan ini tidak dihadiri oleh rekan dekatku karena jarak yang cukup jauh, namun aku sudah mengabarkan pada mereka semua bahwa aku akan menikah. Selama berada diatas pelaminan kami seolah canggung karena selama ini walaupun jalan berdua, kami tidak pernah duduk sedekat ini dan tidak pernah bersentuhan tangan. Acara bernuansa daerah kami cukup riuh dan sangat meriah, kedua orang tua kami saling sungkem.

Malam harinya…

Aku dan aliyah berbaring bersama di ranjang kesayangannya, aku jujur gugup saat hendak menggenggam tangannya, begitu juga aliyah yang tersipu-sipu saat aku menatapnya, malam ini ia mengenakan gamis berwarna biru tua dan jilbab serta cadar berwarna biru muda. “Mas buka ya cadarnya” ucapku. “Ih malu mas…” ucap aliyah seraya memegang cadarnya. “Loh kok malu? Kan mas udah jadi suami sahnya kamu” ucapku seraya mengelus pipinya yang tertutup cadar. “Jangan kaget loh mas kalau rupanya aliyah jelek, hihi” candanya seraya membantuku membuka cadarnya. “MasyaAllah…anggun dan manis istriku ini” pujiku seraya terpana menatap kecantikan aliyah nan lugu. “Ih mas nih, malu jadinya” ucap aliyah seraya menutup wajahnya. “Yah kok malu” ucapku seraya memegang kedua tangannya dan menyingkirkan dari wajahnya. “Ih mas nih maksa, jadi mau ngapain nih?” tanyanya lugu.

“Hahaha sok ndak paham kamu” ucapku terbahak seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya. Perlahan tapi pasti, kulihat ia memejamkan kedua matanya, saat bibir kami saling bersentuhan, terasa tubuhnya sedikit bergetar. Lidahnya masih diam saja seolah bingung apa yang harus dilakukan, sehingga mulai kumainkan lidahku, dan perlahan ia mulai terlarut dalam permainan lidahku, kami saling bertukar ludah. “Hhmm” terdengar suaranya, akupun mulai mendekatkan tubuhku dan mulai meraba tubuh bagian belakangnya, sementara tangan aliyah mengelus pipiku.

Kuturunkan pergerakan tanganku hingga menyentuh pantatnya yang tidak terlalu besar, sesekali kuremas, saat kubuka mata, ia juga menatapku seolah mempertanyakan “Ini ngapain?”. Namun aku tidak mau langsung melihat dan mengerjai memeknya, sehingga kuarahkan tanganku menuju gamis bagian atasnya, perlahan kusingkapkan keatas begitu juga jilbab yang ia kenakan. Kulepaskan ciuman kami, dan kuposisikan tubuhnya terlentang, dalam suasana remang-remang ini, kulihat tubuh bagian atasnya yang kini hanya toketnya yang masih tertutup bra, sungguh mempesona. Entah berapa kali aku menelan ludahku.

Ia yang seolah paham akan keinginanku, mulai berusaha membuka bra berwarna biru yang ia kenakan, kini terpampang sudah toket miliknya yang kutaksir berukuran 34B. Melihat kedua toketnya berayun pelan karena nafas aliyah yang sangat cepat pasca ciuman panas kami tadi, sungguh membuatku gemas. Sehingga seperti macan kelaparan, langsung aku remas pelan dan kuhisap pentilnya. “Ihh mass” desah aliyah menerima seranganku pada toketnya. Sesekali kepalanya mendongak keatas, kedua tangannya yang sedari tadi hanya tergeletak di ranjang, kini malah menekan dan memeluk erat kepalaku, seolah ia tak ingin aku menghentikan permainan mulut dan tanganku di toketnya. “Ihh ssh hhmm” desah aliyah. Setelah beberapa menit, akupun menghentikan aktifitasku pada toketnya, terlihat kini toketnya memerah dan mengkilap karena air liurku. Saat aku hendak menaikkan rok aliyah kepinggulnya ia menahan tanganku, aku menatapnya sebagai isyarat bertanya kenapa tidak boleh.

Namun apa yang dilakukannya membuatku terkejut sekaligus senang. Ia berusaha membuka kancing roknya sehingga kini aku hanya cukup menarik turun rok berikut cd yang ia kenakan. Kembali aku berdecak kagum melihat kaki dan paha aliyah yang putih mulus sama persis dengan tubuh bagian atasnya tadi, aku benar-benar menikmati pemandangan tersebut, saat mataku menyorot ke pangkal pahanya terlihat memek tanpa bulu, dan sepertinya baru ia cukur. Kudekatkan kepalaku kesana, aku memperhatikan memeknya dengan seksama, terlihat bibir terluarnya sudah mengelopak keluar, namun sepertinya cukup rapat. Kumainkan jemariku di bibir memeknya, kurasakan bagian terluar memeknya sudah becek pertanda ia tengah birahi. Akupun bergegas membuka celana panjang berikut cd yang kukenakan, dan seketika kontolku mengacung keras diatas tubuhnya.

“Ihh takut mas!” pekik aliyah. Akupun memegang kedua tangannya agar ia tak menutup wajahnya, kudekatkan kontolku dengan kepalanya, “Mas jangan” ucapnya ketakutan. “Sst jangan takut sayang, mas gak akan sakitin kamu” ucapku yang mulai tersadar bahwa aliyah memang memiliki trauma mendalam terhadap kontol. Ia masih memejamkan matanya, perlahan kumainkan dan kumasukkan jemariku ke dalam memeknya, “Sshh” desahnya. Aku yang tadi berharap ia akan bersedia untuk mengulum kontolku, namun semua itu terbantahkan dengan ekspresi ketakutannya.

“Iya..dia benar-benar disakiti di masa lalu” aku membatin serta turut prihatin padanya. Sehingga aku memutuskan untuk berlaku lembut padanya, padahal dalam batinku ingin bermain liar dengannya karena melihat reaksi pertamanya saat berpagutan tadi. Saat kurasakan memeknya sudah benar-benar becek, aku mulai posisikan palkonku di bibir memeknya yang telah lembab. Perlahan kumasukkan, “Ihh sakit mas…takut” ucap aliyah merasakan kontolku mulai membelah liang memeknya. Akupun langsung mencumbu bibirnya untuk menenangkan ia yang kini masih panik, sesekali kuremas lembut toketnya agar ia mulai rileks.

Dan teknik itu cukup berhasil, karena kini tubuhnya sudah mulai rileks dan kontol 17 cm ku kini sudah masuk sepenuhnya di dalam memek aliyah, himpitan memeknya hampir sama dengan himpitan memek bu rida saat aku perawani dulu. Aku sangat bersyukur dapat menikahi aliyah dimana memeknya benar-benar rapat seperti perawan, walaupun ia telah kehilangan selaput daranya jauh sebelum kunikahi, namun dengan rapat memeknya ini membuktikan bahwa hanya satu kali itu saja lah ia berbuat zina.

Perlahan kugerakkan pinggulku maju mundur, “Sshh masss” desah aliyah yang masih memejamkan matanya. “Kenapa sayang?” tanyaku. “Sesek banget sshh” desahnya. “Apanya yang sesek?” tanyaku seraya sedikit mempercepat sodokan kontolku. “Vaginanya akuuhh” ucapnya. “Vagina? Sebut memek aja lah sayang” ucapku. “Me..me..mem..sshh” ia terlihat ragu mengucapkan kata itu. “Memek sayang, sesek ya memekmu?” tanyaku. “I..ss…i..iyahh sesek memek akuhh” ucap aliyah terbata-bata. “Gak apa-apa, tapi nikmatkan?” tanyaku seraya meremasi toketnya bergantian. Aliyah hanya mengangguk. “Uhh besar banget shhh” ia mulai berani mendesah saat kupercepat tempo sodokan kontolku. “Apanya yang besar? Hhmm” tanyaku. “I..ihh…ituuhh kon…penissnya mas” ucap aliyah yang masih malu mengucapkan bahasa cabul kontol.

“Kontol sayang, ini kontolnya mas lagi puasin memeknya kamuuhh” ucapku tanpa ragu. “Iiyaahh nikmat kontolnya mass sshh” desah aliyah. Perlahan kurasakan tubuhnya yang sedari tegang kini sudah mulai rileks dan bergerak berirama dengan sodokanku. Tak berselang beberapa menit, “Akhh mass cepetin…akuh mau pipiss” ucapnya. Aku yang paham ia akan menggapai orgasme pertamanyapun mempercepat sodokan kontolku. “Akhh mass” desahnya diiringi semburan deras cairan cintanya. Kulihat ia mendongakkan kepalanya keatas. Kecepatan sodokanku tidak kukurangi, masih pada tempo yang sama, dan sesekali kuhentakkan sedikit dalam. “Aihh ahh mass ahh” desah aliyah menyadari suaminya sedikit beringas.”memek kamuhh nikmat” desahku. “Ehhem hhm iyaahh kontol mas juga” desah aliyah.

Aku bosan pada posisi missionary ini sehingga aku meminta aliyah untuk menungging, saat ia telah menungging, aku dapat melihat anusnya yang masih berwarna merah muda pertanda masih perawan, namun aku enggan memerawaninya saat ini, sehingga kembali kumasukkan kontolku pada memeknya. “Uhh” desah aliyah saat kontolku mulai bersarang dan menyodok memeknya lagi, toketnya yang bergantung bebas pun tak lepas dari jamahanku. Kutarik tubuhnya sehingga kini posisi kami tegak lurus, sesekali jilbab birunya turun menutupi toketnya namun itu sama sekali tak menggangguku, karena aku jujur lebih nafsu ngentotin akhwat yang masih berpakaian lengkap.

Perlahan kurasakan tanda-tanda kontolku akan segera menyemburkan pejuku, aku berusaha menahan desakan itu dengan memperlambat sodokanku. “Ahh ahh sshh enak” desah aliyah. Dengan posisi ini, tiga serangan dariku dapat ia nikmati, mulai dari sodokan kontol, remasan toket, hingga cupangan pada lehernya. “Akhh mass…akuhh mau lagiiihh” desah aliyah diiringi memeknya berkedut-kedut pertanda ia akan menggapai orgasmenya yang kedua. Akupun mencabut kontolku, seketika aliyah menoleh padaku seolah mempertanyakan kenapa aku mencabut kontolku.

Aku meminta ia kembali berbaring terlentang seperti semula, dan kembali kumasukkan kontolku. Dan kini kugenjot jauh lebih keras dan cepat, “Ihh uhh sshh mass” desah aliyah merasakan sodokanku yang kasar. “Akhh mass akuuhh sampaiii” desahnya diiringi semburan cairan cintanya yang memicu kontolku ingin segera berejakulasi. “Mau anak kah sayang? Uhh” tanyaku dengan masih menggenjot memek aliyah dengan keras. Kulihat ia yang masih keletihan mengangguk, “Akkhh nihh” desahku seraya membenamkan kontolku semuanya di dalam memek aliyah, “Croott..croott..croott” ada sekitar 4 semburan pejuku yang langsung bercampur aduk dengan cairan cinta aliyah di dalam sana.

Kulihat kepala aliyah mendongak keatas menikmati semburan demi semburan pejuku di dalam memeknya, bisa jadi ia mengalami short orgasm barusan. Saat semburan terakhir usai, lekas kukeluarkan kontolku yang sudah melemas dari memek aliyah, beberapa detik kemudian mengucurlah sisa cairan cinta kami yang tak dapat ditampung oleh memek aliyah, cairan tersebut membasahi sprei ranjang kami. Aku terbaring lemas disampingnya, kami saling bertatapan dan terpancar rasa terima kasih dan syukur yang begitu dalam dari tatapannya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part