. Buku Harian Ari Part 11 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 11

0
329

Buku Harian Ari Part 11

Berita Duka Rumah Tangga

Satu bulan berlalu …

Ari

Tiga bulan sudah aku dan ika memandu bahtera rumah tangga kami, sejak ika sudah tidak lagi enggan berkata cabul, perlahan nafsu seksualku yang sebelumnya sempat memudar kini kembali menggelora. Hubungan seks yang kami lakukan sama-sama saling memuaskan, dan kami berdua berharap semoga lekas membuahkan hasil. Pagi ini saat kami hendak berangkat ke kampus, “Say udah siap belum?” tanyaku. “Bentar sayang, auuhh” ucap ika yang tiba-tiba terpekik.

Akupun bergegas ke kamar untuk melihat apa yang terjadi, kulihat ia memegang erat panggulnya sembari memijit-mijit. “Sayang kenapa?” ucapku seraya mengelus panggulnya. “Gak tau nih mas, nyeri banget” ucap ika. “Yakin bisa kuliah? Ke dokter aja ya kita?” tanyaku. “Ke dokter aja mas, nyeri banget” ucap ika memelas. Akupun dengan sigap menggendongnya bagaikan seorang pangeran dan tuan putri. “Malah di gendong” ucap ika kaget. “Hehe kan kamu sakit wahai tuan putriku” jawabku. Lalu akupun bergegas mengendarai mobilku ke rumah sakit terdekat.

Setibanya di rumah sakit…

Berhubung dokternya seorang akhwat juga, jadi aku diminta untuk keluar terlebih dahulu. Saat dipanggil masuk kembali, “Jadi begini pak, sepertinya ada yang bermasalah dengan organ dalam istri bapak” ucap sang dokter. “Organ apa bu?” tanyaku. “Dari hasil pengamatan saya, organ reproduksi istri bapak mengalami pendarahan berlebih, namun karena saya adalah dokter umum, maka saya tidak berani berbuat lebih” jelas dokter, mendengar penjelasan beliau, ika menyenderkan kepalanya ke bahuku, “Jadi bagaimana bu?” tanyaku yang mulai panik. “Istri bapak akan saya rujuk ke dokter spesialis kandungan atau yang sesuai bidangnya, namun kemungkinan biayanya akan sangat tinggi untuk sekali pemeriksaan, bagaimana pak?” tanya sang dokter. “Sila dirujuk bu, saya tidak keberatan dengan biaya tersebut, yang penting istri saya sehat kembali” ucapku lugas.

Setelah surat rujukan selesai, akupun langsung membawa ika ke rumah sakit yang dimaksud, setibanya disana. Tepat di deretan kursi tunggu dokter spesialis tersebut kulihat boby dan bu rida. “Hai apa kabar?” aku menyapa sepasang suami istri tersebut. “Oh mas ari dan ika, kabar baik mas” jawab boby. “Mau ngecek kehamilan juga ya ka?” tanya boby seraya tersenyum. Ika hanya mengangguk seraya tersenyum palsu. “Selamat ya nak, semoga kandungannya sehat yaa” ucap bu rida seraya memeluk ika. Pada situasi tersebut, aku dan ika terpaksa tersenyum palsu dan menahan perih di dalam hati. “Ibu ika” ucap suster memanggil ika masuk ke ruang dokter. Ikapun pamit dengan kami dan masuk ke ruang dokter. Sekitar 30 menitan kumenunggu, suster memanggilku untuk masuk ke ruang tersebut. “Jadi bagaimana hasilnya dok?’ tanyaku pada dokter.

Kulihat ika menangis tertunduk, dan sang dokter menghelas nafas lalu berkata “Saya mohon maaf pak, dari hasil pemeriksaan saya, istri bapak saya diagnosa mengidap kanker serviks, dalam arti kata kecil kemungkinan ia akan bisa hamil” jelas dokter yang seketika membuat bulu kudukku merinding. “Apa?! Tidak mungkin dok!” ucapku panik. Seketika ika menggenggam erat tanganku, “Apa tidak bisa diobati dok?” tanyaku lagi. “Bisa, namun bapak mohon bersabar ya, mari kita tunggu sejenak hasil valid dari laboratorium” jelas sang dokter. Akhirnya kami keluar ruangan, untungnya boby dan bu rida sudah pulang sehingga mereka tidak banyak bertanya tentang apa yang terjadi, saat kami duduk di bangku tunggu, ika menangis dibahuku. “Cup…cup…cup sabar sayang, mas yakin kamu bisa disembuhin kok” ucapku. “Gak mungkin mas, kanker serviks itu kanker ganas, aku takut mass” ucap ika tersedu-sedu. “Ayo kamu pasti bisa bertahan sayang, kan ada mas disini” ucapku menenangkannya.

Kurang lebih 1 jam kami menunggu, “Bu ika” kembali suster memanggil ika dan aku untuk kembali masuk ke ruang dokter. Kulihat wajah dokter lemas, dan aku bertanya “Bagaimana hasilnya dok!”, “Bapak…Ibu…maaf saya harus menyampaikan ini, dari hasil laboratorium menyatakan bahwa ibu ika menderita kanker serviks stadium 3 menjelang stadium 4” jelas sang dokter yang cukup membuat aku meneteskan air mata. “Apakah masih bisa disembuhkan dok? Saya mau istri saya sehat kembali dok” ucapku memelas. “Hanya ada satu cara” ucap sang dokter tidak melanjutkan penjelasannya. “Apa caranya dok? Berapapun akan saya bayar” ucapku. “Caranya adalah rahim bu ika harus kami angkat untuk menyelamatkan nyawanya” jelas sang dokter yang seketika membuat ika menangis sejadi-jadinya. Aku terdiam layaknya patung dan mulai menguasai diriku kembali, “Apa tidak ada cara lain dok?” tanyaku. “Terapi, namun kami tidak bisa memastikan umur bu ika akan bertahan lama” ucap sang dokter. “Eeee…beri kami waktu dulu ya dok” ucapku seraya memeluk ika keluar ruangan. Kamipun pulang dengan hati yang berduka.

Dua hari berlalu…

Sudah dua hari aku sama sekali tidak mau mengungkit masalah kanker ika, ikapun selama dua hari ini sangat murung. Hingga akhirnya pagi ini coba kumasakkan bubur ayam kesukaannya, dan kuantarkan ke kamar, dimana ia masih duduk selonjoran di ranjang. “Say, makan dulu ya kamu” ucapku. “Makasih mas” ucap ika hendak mengambil mangkuk bubur yang kupegang. “Gak usah, biar mas yang suapin kamu” ucapku. Sesendok, dua sendok ia lahap. “Mas, mas tidak akan ninggalin ika kan dengan kondisi ika yang seperti ini?” tanya ika memecah kesunyian. “Enggak sayang, mas akan jagain ika” ucapku. “Makasih mas” ucap ika.

Seketika ika tak bergeming, hanya menatap kosong, hingga akhirnya ika berkata “Mas, sepertinya ika sudah memutuskan untuk memilih rahim ika diangkat saja, supaya ika bisa terus bersama mas”. Disitu aku kaget dan berusaha untuk menahan agar air mataku tidak jatuh, “Apa kamu benar-benar yakin say?” tanyaku seraya menggenggam tangannya. “Iya mas, ika yakin” ucap ika. “Ikapun sudah menguatkan tekad ika mas, jika sekiranya nanti mas ingin memadu ika, ika juga siap, yang penting mas tetap sayang dan bersama ika” jelas ika yang cukup membuatku tak sanggup lagi menahan air mata. “Sstt…jangan bilang seperti itu dulu sayang” ucapku dengan mata yang telah basah dengan air mata. “Iya mas, ika sudah siap lahir dan batin dengan keputusan ika” ucap ika seraya menatap mataku dalam-dalam.

Setelah ika menghabiskan bubur yang kusuapkan, ika mulai berberes pakaian begitu juga aku yang mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke rumah sakit, untuk melakukan proses pengangkatan rahim ika, sesuai permintaannya tadi.

Setibanya di rumah sakit…

“Dok, saya sudah putuskan untuk rela rahim saya diangkat demi keselamatan nyawa saya, karena saya ingin tetap berada di dunia ini lebih lama bersama suami saya” ucap ika dengan yakin. Sang dokter melihat kami berdua secara bergantian dan berkata “Baiklah bu, mari kita doa bersama untuk keselamatan ibu” ucap sang dokter seraya mengkomandokan para perawat untuk membawa ika dalam persiapan operasi pengangkatan rahim. “Semangat ya sayang” ucapku seraya menggenggam tangan ika.

Kurang lebih 4 jam operasi berlangsung, akhirnya sang dokter keluar dan berkata kepadaku “Selamat pak ari, operasi pengangkatan rahim bu ika berjalan lancar, dan kini ibu sedang dirawat di ruang ICU untuk pemulihan”.

Empat hari berlalu…

Ika sudah mulai pulih pasca operasi pengangkatan rahimnya, dan hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Kulihat wajahnya jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya, ia terlihat sangat bersyukur sudah melewati masa terburuk dalam hidupnya. Walaupun sejujurnya aku kecewa dengan kenyataan ini, dimana aku tidak bisa mendapatkan keturunan dari istriku sendiri, aku berusaha mengingat pernyataan ika mengenai ia siap dimadu karena tak bisa lagi mengandung.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler