. Black Circle Part 38 | Kisah Malam

Black Circle Part 38

0
125
kisah malam

Black Circle Part 38

Peringatan Yang Benar-Benar Terlambat

Di sebuah rumah mewah di pinggiran kota, sebuah mobil berhenti di halamannya. Dari mobil itu keluar 2 orang pria berbadan besar. Mereka kemudian menarik keluar seorang wanita yang diikat tangannya dan dibekap mulutnya dengan lakban. Wanita itu tampak mencoba meronta dan melawan, tapi sia-sia karena kalah tenaga dari kedua orang itu.

Sesampainya di dalam rumah, wanita itu terbelalak melihat apa yang terjadi. Seorang wanita yang sedang telanjang bulat tampak kepayahan menghadapi belasan pria yang juga sudah telanjang bulat. Tubuh wanita itu sudah basah penuh dengan keringat dan bercak sperma. Tapi meskipun sudah selemah itu, tetap saja para pria menggilirnya tanpa ampun.

“Mana boss Titus?” tanya salah satu pria yang menyeret wanita yang terikat itu.

“Ada di dalam, lagi asyik sama mainan barunya.”

Tanpa banyak bicara kedua pria itu beranjak ke dalam, tempat yang ditunjuk oleh temannya tadi. Sementara itu sang wanita yang sudah sangat kepayahan tadi terus saja digilir oleh para lelaki itu. Sampai di bagian yang lebih dalam lagi dari rumah itu, terlihat 2 orang pria sedang duduk santai sambil menikmati bir dan rokok mereka. Mereka agak terkejut juga dengan kedatangan kedua pria itu dengan menyeret seorang wanita. Kedua pria yang sedang duduk itu adalah Gavin dan Aldo.

“Loh kalian apain itu Mira? Kok sampai diikat gitu?” tanya Gavin.

“Ini boss. Kami tadi liat Mira keluar dari sebuah tempat makan bersama Haris. Sepertinya dia habis nemuin Haris.”

“Nemuin Haris? Coba bawa sini!”

Kedua pria itu menyeret Mira menghampiri Gavin. Gavin kemudian membuka paksa lakban di mulut Mira.

“Vin, lepasin aku!”

“Heh, ngapain lu nemuin Haris?” tanya Gavin sambil memegang kuat dagu Mira.

“Ngapain lagi? Tentu saja buat ngasih tau ke dia rencana busuk kalian!”

“Hahaha Miraa Mira, udah terlambat Mir.”

“Apa maksudmu?”

“Percuma kamu ngasih tau Haris. Anin sama Rani udah aku bawa kesini. Tuh, sekarang Rani lagi digarap sama boss Titus, di kamar itu, haha,” ucap Gavin sambil menunjuk ke salah satu kamar di dekat situ. Kamar yang dirancang kedap suara sehingga suara apapun dari dalam tak akan terdengar keluar, begitupun sebaliknya.

“Bangsat! Kalian memang biadab!!!”

“Haha, teruslah mengumpat Mira sayang. Sebentar lagi, giliran Aldo yang bakal dapetin Rani. Setelah itu, nanti aku juga bakal kebagian menikmati tubuhnya Anin, setelah boss Titus, haha.”

“Bajingan kalian Vin, bajingan!!!”

“Heh, mending kalian bawa lagi Mira kedepan. Kalian nikmati aja, jadiin kayak di Viona itu,” ucap Aldo.

“Beneran nggak papa buat kita boss?”

“Udah nggak papa bawa aja. Boss Titus juga udah bosen sama mereka. Sekarang udah ada Rani sama Anin. Udah kalian bawa aja.”

“Beres boss. Hahaha.”

“Bajingaan!! Lepasin aku!!”

Mira terus berteriak. Meskipun pernah dipaksa Titus untuk melayani anak buahnya, tapi melihat apa yang terjadi pada Viona di depan tadi membuatnya ngeri juga. Sebelumnya dia tak pernah melayani orang sebanyak itu sekaligus.

Sampai di ruang dengan, tanpa banyak bicara lagi kedua orang yang dari tadi menyeret Mira langsung saja merobek pakaian yang dipakainya hingga Mira telanjang bulat. Tangannya masih tetap dibiarkan terikat, sehingga Mira sangat sulit untuk melawannya. Pria-pria lain yang ada disana sempat terkejut.

“Loh heh, ini Mira kenapa dibawa kesini? Kok ditelanjangin? Dikasih buat kita?”

“Iya. Ini sebagai hukuman buat dia karena berkhianat. Malam ini kita bisa nikmatin dia. Ayo sini bantuin.”

Tanpa diperintah 2 kali beberapa orang sekaligus maju dan meringkus Mira yang sudah telanjang. Mira berteriak-teriak, memaki-maki para pria ini. Tapi makian Mira hanya mendapat balasan berupa tawa menjijikan dari mereka.

“Lepasin bangsat!!!”

“Haha teruslah teriak Mir, sama kayak Viona tadi. Tapi kami bakalan bikin kamu lemes kayak Viona, coba liat dia sekarang, haha.”

Mira sempat melihat ke arah Viona. Dia ngeri melihat kondisinya sekarang. Viona sudah hampir tak sadarkan diri. Di matanya hanya terlihat bagian putihnya saja. Dia juga sampai meracau tak jelas karena suaranya nyaris tak terdengar, tapi Mira bisa melihat bahwa Viona sangat menderita dengan apa yang dialaminya. Terlebih lagi dengan kondisi yang seperti itu, dia sedang digarap oleh 2 orang sekaligus, depan belakang.

“Aaaaaaaa lepasiiin!!!”

Mira yang masih melihat kondisi Viona dikagetkan saat tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh pria-pria itu. Mereka membawa Mira ke salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Begitu Mira didudukkan, tubuhnya langsung diserbu para pria itu. Ada yang memaksanya untuk berciuman, ada yang meremas dan menciumi payudaranya dengan kasar, ada juga yang membuka lebar kedua kakinya sementara satu orang lainnya menjilat-jilat bibir vaginanya.

Mira yang tangannya masih terikat, dan juga kalah tenaga dari para pria kasar itu sama sekali tak bisa melawan. Bahkan untuk teriakpun dia tak bisa karena menutup mulutnya rapat-rapat, tak rela diciumi oleh anak buah Titus itu.

“Hhmmmppphhhhhh…”

Tiba-tiba Mira memekik tertahan, karena dia merasakan lubang kemaluannya dimasuki dengan paksa. Salah satu pria yang tadi membawanya kesini telah memasukkan penisnya ke vagina Mira. Penis itu cukup besar membuat Mira begitu kesakitan karena vaginanya yang masih kering. Apalagi begitu masuk, pria itu langsung menghentak maju mundur dengan sangat kasar. Dia tak peduli dengan kesakitan Mira, karena dia merasakan kenikmatan yang sudah dia tunggu sejak lama.

Memang selama ini anak buah Titus banyak yang membayangkan bisa meniduri Mira. Tapi selama ini mereka tak pernah berani mengganggunya karena tahu status Mira, selain sebagai menantunya juga adalah pemuas nafsu Titus. Mereka tak pernah berani menyentuh wanita-wanita Titus jika belum mendapatkan ijin darinya.

Hanya beberapa orang saja yang beruntung pernah disuruh Titus untuk menikmati tubuh Mira, yang saat itu gagal menjalankan tugasnya menghasut Anin. Sebenarnya bukan gagal total, dia sudah hampir berhasil kalau saja Haris tidak datang saat itu. Mira sempat menyesali kegagalannya itu, tapi kemudian bersyukur karena dalam hatinya dia memang menentang rencana itu.

Tapi malam ini, kembali dia harus menyesalinya setelah tadi Aldo dan Gavin memberitahu kalau Anin dan Rani sudah berhasil dibawa kesini. Meskipun belum melihatnya langsung, tapi jika kedua wanita itu sudah ada disini, maka nasib mereka tidak akan lebih baik daripada dirinya. Bukan untuk dikerjai secara beramai-ramai oleh anak buah Titus seperti sekarang, tapi mereka pasti akan dijadikan budak pemuas nafsu Titus, menggantikan dirinya dan Viona.

“Aaarrrggghh udaaaahh hmmpphhh…”

Mira yang tak tahan dengan sakit di vaginanya akhirnya berteriak. Tapi begitu mulutnya terbuka malah langsung disambar oleh pria yang dari tadi memaksa untuk menciumnya. Mira tak bisa lagi berkutik. Satu orang sedang menyetubuhinya dengan kasar. Satu orang sedang melumat bibirnya dengan buas. Dan 2 orang masih menyusu di dadanya. Selain itu, masih ada beberapa orang lagi yang mengantri untuk mendapatkan giliran, sambil mereka memegangi dan mengelusi bagian tubuh Mira yang lain.

Tak jauh dari tempatnya, Viona sudah tak tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya. Kesadarannya sudah sangat menipis. Sudah sejak kedatangan Anin dan Rani tadi, dia digarap oleh para anak buah Titus. Sama seperti halnya Mira, setelah melihat Viona muncul keinginan dari para anak buah Titus untuk bisa merasakan tubuhnya. Tapi mereka juga belum berani sampai akhirnya diberi ijin oleh Titus.

Viona harus mengalami nasib seperti ini karena dia tadi melawan habis-habisan saat melihat Rani dan Anin. Viona mengenal Rani karena Haris pernah menunjukkan fotonya. Sedangkan Anin, Viona belum mengenalnya, hanya saja dia punya firasat kalau dia adalah istri Haris, karena sebelumnya sempet mendengar Aldo dan Titus membicarakannya.

Viona melawan Titus karena tak rela kedua wanita itu akan dijerat Titus juga, sama seperti dirinya dan Mira. Karena itulah Titus sempat menampar dan memukulnya tadi, sebelum akhirnya diberikan kepada anak buahnya untuk diperkosa beramai-ramai. Terhitung sudah lebih dari 2 jam Viona harus melayani nafsu para pria itu tanpa berhenti, karena itulah sekarang tubuhnya benar-benar lemas, tenaganya sudah habis, dan bahkan dia berharap untuk pingsan saja daripada merasakan penderitaan ini lebih lama lagi.

Posisi Mira saat ini sudah berubah. Pria yang menyetubuhinya kini berada di bawahnya, duduk di sofa, sedangkan Mira dipaksa bergerak naik turun di atasnya. Tak lama kemudian tubuh Mira didorong dari belakang, lalu dipeluk dengan erat oleh pria yang menyetubuhinya. Mira tahu apa yang akan terjadi. Dan ini bukan pertama kalinya. Tapi tetap saja hal itu terasa menakutkan baginya.

“Aaaaaaarrrrggghhhhh…”

Teriakan panjang Mira kembali terdengar saat satu lagi penis memaksa masuk ke lubang anusnya. Lagi-lagi tanpa persiapan dan dilumasi sama sekali, penis besar itu memaksa lubang anus Mira yang sempit untuk membuka selebar-lebarnya. Mira benar-benar merasa kesakitan, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena selain tubuhnya dipeluk erat, kaki dan tangannya juga dipegangi oleh pria-pria lain. Dia sama sekali tak bisa bergerak, hanya bisa berteriak menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Dan sama seperti pria yang pertama menyetubuhinya tadi, tanpa menunggu lebih lama agar Mira beradaptasi dengan penis besar itu, pria yang memperkosa lubang pantanya langsung menghentakkan penisnya maju mundur dengan kasar. Terasa sangat perih bagi Mira, namun terasa ngilu sekaligus nikmat bagi pria itu. Ditambah lagi penis yang berada di dalam vaginanya mulai kembali bergerak. Meskipun vaginanya sudah mulai basah, tapi tetap saja masih terasa sakit untuk Mira.

Jeritan dan pekikan kesakitan Mira sama sekali tak membuat pemerkosanya iba. Sama seperti saat mereka baru mulai memperkosa Viona tadi, jeritan dan rintihan itu malah membuat mereka semakin buas. Hanya tawa-tawa menjijikkan yang terdengar dari pria-pria itu, di tengah jeritan putus asa dan penuh rasa sakit yang dirasakan Mira.

Entah sudah berapa lama diperlakukan seperti itu, Mira tak tahu. Dia berharap mereka segera menyudahinya karena tadi sudah bermain-main dengan Viona. Tapi harapan Mira tidaklah terwujud. Kedua lelaki yang saat ini sedang memperkosa kedua lubangnya masih begitu kuat dan terus menggenjotnya tanpa ampun.

Bahkan sekarang 1 orang pria lagi memaksanya untuk mengulum penisnya. Mau tak mau Mira membuka mulutnya, membiarkan penis orang itu memperkosa mulutnya juga. Selama menjadi budak nafsu Titus, ini adalah kedua kalinya dia mengalami hal seperti ini. Yang pertama adalah sebagai hukuman atas kegagalannya menghasut Anin. Tapi saat itu, pria yang menikmati tubuhnya tidak sebanyak yang sekarang, sehingga meskipun mengalami rasa sakit, tapi tidak sesakit ini.

Waktu itu dia punya persiapan, tidak langsung main tusuk seperti sekarang ini. Dan waktu itu hanya ada 5 orang yang menyetubuhinya, sehingga semuanya cepat selesai. Tapi kali ini, ada belasan. Meskipun mereka tadi sudah menggarap Viona, bukan tidak mungkin mereka kembali bergairah setelah melihat Mira seperti ini. Penderitaan Mira belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Ketiga pria yang memperkosanya saat ini terus menggerakkan penisnya dengan kasar. Di vagina, di anus dan di mulutnya. Bahkan Mira bisa merasakan penis yang ada dimulutnya dipaksa masuk hingga pangkal tenggorokannya. Dia tersedak beberapa kali, tapi itu tak membuat pria pemerkosanya berhenti, malah terlihat semakin senang.

Beberapa saat kemudian pria yang dibawahnya mulai mengerang. Penis pria itu mulai terasa berkedut dan genjotannya semakin kasar. Mira tahu pria itu sudah akan orgasme, dia mencoba mengencangkan otot dinding vaginanya agar pria itu cepat keluar. Hal itu menyebabkan pria yang sedang menggarap anusnya juga merasakan hal yang sama, sehingga diapun ikut mempercepat genjotannya.

“Aaaahhh aku keluaaaarr…”

Pekik pria yang menyetubuhi vagina Mira, bersamaan dengan itu terasa semburan hangat sperma di rahim Mira. Pria dibawahnya kelojotan, sambil meremas kedua buah dada Mira dengan kasar. Mira sampai memekik kesakitan karenanya. Tapi kemudian pria yang menggarap anusnya juga mengejang, dia juga menyemburkan spermanya di dalam anus Mira.

Tak berselang lama, pria yang menggarap mulut Mirapun juga orgasme. Dia memasukkan penisnya dalam-dalam di mulut Mira saat mengeluarkan spermanya, memaksa Mira untuk menelan semua cairan kental itu.

Setelah ketiga pria itu mencabut penisnya, Mira tak punya banyak waktu untuk istirahat karena pria-pria lain sudah menunggu giliran. Sama seperti sebelumnya, ketiga pria itu menyetubuhi Mira tanpa belas kasihan. Mira yang sudah tak berdaya hanya pasrah saja, berharap semua ini cepat berakhir.

Satu hal yang ada di dalam benaknya adalah dia berharap Haris segera datang kesini setelah mengetahui kalau istri dan adiknya diculik. Mira sudah memberikan alamat rumah ini kepada Haris. Meskipun di kertas yang dia berikan tadi dia menuliskan 2 alamat, Mira berharap Haris langsung datang ke alamat ini, alamat kedua yang dia tuliskan.

Dia berharap lelaki itu datang untuk menyelamatkannya. Meskipun kondisinya sudah seperti ini, masih ada setitik harapan di hati Mira untuk bisa lepas dari semua ini. Dia tahu ini tidak akan mudah, tapi harapannya pada Haris, dan siapapun yang membantu Haris begitu besar.

Haris, cepatlah datang. Selamatkan kami, terutama istri dan adikmu, sebelum terlambat.

+++
===
+++​

Sementara itu Haris yang sedang dalam perjalanan terus bercerita pada Bagas tentang pertemuannya dengan Mira tadi. Bagas terlihat begitu terkejut mendengar cerita Haris. Dia juga ikutan menjadi semakin panik.

“Ris rumahnya yang nomer berapa?” tanya Bagas saat mereka sudah masuk ke area perumahan seperti yang alamatnya ditulis oleh Mira.

“Nomer 48 Gas.”

Bagas dan Haris berputar-putar mencari rumah nomer 48. Begitu sampai, betapa kecewanya mereka karena rumah itu dalam keadaan sepi, bahkan gelap.

“Sialan. Salah lagi. Kita ke alamat yang satunya Gas.”

“Oke. Semoga belum terlambat. Duh mana jauh lagi,” gerutu Bagas sambil memutar kemudinya.

Kedua alamat yang diberikan Mira memang terpisah cukup jauh. Alamat pertama yang mereka datangi ini ada di daerah timur, sedangkan alamat yang kedua berada di daerah barat. Mereka memilih untuk lewat ring road, karena jika lewat dalam kota akan semakin lama mereka terjebak kemacetan.

Setelah cerita pada Bagas tadi, Haris lebih banyak terdiam. Dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya. Dia benar-benar khawatir dengan nasib Anin dan Rani. Mendengar cerita dari Mira tadi, Haris membayangkan sesuatu yang sangat buruk terjadi pada keduanya. Dia tak akan bisa memaafkan Titus dan anak buahnya jika sampai berani menyentuh, apalagi menyakiti Anin dan Rani. Satu hal yang pasti, dia akan membuat perhitungan dengan Gavin yang telah menodai adiknya.

Saat sedang dalam perjalanan, tiba-tiba handphone Haris berdering. Sebuah pesan WA masuk ke handphonenya. Dari nomer yang tidak dikenal, belum disimpan oleh Haris.

“Siapa Ris?” tanya Bagas mengetahui Haris mendapatkan pesan.

“Nggak tau, cuma nomer doang.”

“Apa katanya?”

“Dia ngirim lokasi alamat, dan kayaknya sama dengan alamat yang mau kita tuju sekarang. Dia juga bilang, cepat kesini selamatkan Anin dan Rani, sebelum semuanya terlambat.”

“Apa mungkin itu Mira?”

“Bisa jadi. Tadi dia bilang mau ngabarin aku kalau ada apa-apa.”

“Ya udah, kita harus cepat sampai kesana.”

Haris mengira itu adalah WA dari Mira, seperti yang tadi dia bilang akan mengabarinya jika terjadi sesuatu. Mira mengatakan kalau sudah punya nomernya, tapi dia tadi tak sempat bertanya nomer Mira karena terburu-buru pulang.

Sayangnya perjalanan mereka sedikit terhambat, padahal jika dilihat dari peta tujuan mereka sudah tak terlalu jauh lagi. Ternyata baru saja terjadi kecelakaan yang membuat ruas jalan ring road tertutup. Mereka hanya bisa menggunakan jalur di sebelahnya yang diperuntukkan untuk kendaraan roda 2, tapi mereka harus mengantri lumayan panjang untuk bisa masuk ke jalur itu.

Sebenarnya tadi ada jalan memutar yang bisa membuat Bagas dan Haris memilih jalur lain, tapi sayangnya sudah terlewat. Apalagi mobil mereka sekarang sudah terlanjur terjebak, di belakang mereka sudah cukup banyak yang mengantri. Bagas beberapa kali memukul-mukul kemudi saking kesalnya. Disaat situasi genting seperti ini malah terjebak dalam kemacetan. Sedangkan Haris masih sama seperti tadi, lebih banyak diam. Tapi diamnya Haris, ini bagaikan api dalam sekam. Tenang di luar tapi mendidih di dalam.

Bayangan akan hal-hal buruk yang bisa saja menimpa Anin dan Rani membuat Haris begitu emosi. Tapi dia tak meluapkannya disini, percuma saja. Dia bahkan sudah berniat untuk maju menantang siapapun yang berada di tempat tujuan mereka, untuk menyelamatkan istri dan adiknya. Bahkan bila mungkin ada Viona dan Mira disana, sekalian dia akan menyelamatkan mereka berdua juga. Haris masih belum tahu caranya bagaimana, tapi itu sudah menjadi tekadnya.

+++
===
+++​

Sementara itu kembali ke rumah Titus. Disaat para anak buahnya sedang menggarap Viona dan Mira di ruang depan, juga Gavin dan Aldo yang sedang bersantai di ruang tengah, Titus saat ini berada di dalam kamarnya bersama dengan 2 orang wanita cantik. Siapa lagi kalau bukan Rani dan Anin.

Saat ini kondisi Anin masih terbaring tak sadarkan diri sejak dibawa oleh Gavin tadi. Anin memang diberikan obat tidur dengan dosis lumayan tinggi. Obat yang diberikan Gavin itu bukanlah obat yang dibeli di apotek. Memang mereka sempat mampir ke apotek tadi siang saat Gavin mengantar Anin pulang, dia juga membeli obat seperti yang pernah dibelinya dulu sesuai dengan resep dokter. Tapi yang diberikan kepada Anin beda. Sebuah obat tidur yang efeknya bisa membuat Anin tertidur cukup lama.

Buktinya sampai sekarang Anin belum juga terbangun. Bahkan sejak masih dirumahnya tadi, saat Rani digarap habis-habisan oleh Gavin di sampingnya, dia sama sekali tidak terganggu. Sampai akhirnya dia dibopong oleh Gavin ke mobilnya, hingga kemudian sampai di rumah ini dan dibawa masuk ke kamar ini, dia masih belum juga bangun.

Sedangkan Rani, kondisinya saat ini tersadar, tapi badannya lemah sekali. Sejak tadi siang dia disetubuhi oleh Gavin hingga menjelang sore, membuat tenaganya benar-benar habis. Dia sangat lemas dan pasrah saja ketika Gavin tanpa membersihkan tubuhnya dan memakaikan pakaian dulu, langsung membawanya ke tempat ini bersama dengan Anin juga.

Sesampainya di tempat ini Rani sempat dimandikan oleh Gavin. Tadinya Viona yang disuruh untuk memandikan Rani, tapi dia malah menolak karena tahu Rani adalah adiknya Haris. Akibatnya seperti sekarang, Viona dipaksa untuk melayani para anak buah Titus, dan diperkosa hingga nyaris pingsan saat ini.

Rani sendiri saat ini tubuhnya tak tertutup sehelai benangpun. Dia terbaring pasrah dengan kedua tangan dan kaki terbuka lebar. Wajahnya menoleh ke arah Anin yang berada disampingnya, yang masih tertidur dengan pulasnya. Saat ini Rani berharap bisa sama seperti Anin, bisa tertidur pulas sehingga tak perlu merasakan apa yang terjadi sekarang. Air mata Rani belum berhenti dari tadi. Mulutnya sedikit terbuka, mengeluarkan desisan lemah.

Sedangkan Titus, saat ini dia juga sudah telanjang bulat. Penisnya sudah sedari tadi keluar masuk di dalam vagina Rani. Sejak kedatangan Rani tadi sore yang tanpa busana sudah membuat penis Titus menegang tak karuan. Bentuk tubuh Rani yang langsing dengan buah dada yang tidak terlalu besar tapi masih kencang memang sangat disukai oleh Titus. Dulu Viona bentuk tubuhnya seperti itu, membuatnya sangat tergila-gila pada Viona. Begitu juga dengan Mira yang memiliki bentuk tubuh mirip dengan Rani.

Ditambah lagi kulit Rani yang putih bersih, dan wajahnya yang terlihat lugu menjadikan Titus semakin menyukainya. Wajahnya berbeda dengan Viona dan Mira yang terkesan binal. Wajah Rani yang kalem membuatnya semakin penasaran.

Sudah cukup lama Titus menggarap tubuh Rani. Dia sudah sempat sekali tadi mengeluarkan spermanya di dalam rahim Rani. Dia juga telah membuat Rani berkali-kali merasakan orgasme. Tubuh Rani menikmatinya, tapi batinnya menjerit. Dia sampai sekarang masih tak percaya Gavin yang dia cintai telah menyerahkannya kepada Titus. Dia benar-benar tak percaya bahwa Gavin ternyata bukan orang yang seperti selama ini dia kira.

Kini Rani yang sudah lemas hanya bisa pasrah vaginanya diobok-obok oleh penis besar Titus. Dia yang awalnya menjerit-jerit kesakitan dan sampai meronta, kini sudah habis tenaganya. Dia juga merasakan sakit di sekujur badannya karena Titus sempat memukulinya waktu meronta tadi. Karena itulah sekarang dia lebih memilih untuk diam, pasrah.

“Sssshhh aaahh.. memek kamu bener-bener nikmat Rani. Nggak kalah nikmat waktu aku merawanin Viona, haha.”

Sudah beberapa kali Titus mengucapkan kata-kata itu, dan membuat Rani semakin muak dibuatnya. Dia memang tak pernah bertemu dengan Viona, tapi dia mendengar dari Haris bahwa Viona adalah istri dari kakak sepupunya yaitu Aldo. Meski tak saling kenal tapi Rani jadi sakit hati mendengar ucapan Titus tadi. Lebih sakit lagi saat Titus kini dengan leluasa menikmati keindahan tubuhnya. Dan akan lebih sakit lagi jika dia membayangkan kakak iparnya yang sedang hamil itu akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya.

Plook… Plook… Plook…

Suara benturan pertemuan kelamin Titus dan Rani terus terdengar. Sementara itu kedua tangan Titus belum beranjak dari buah dada Rani. Dia benar-benar menyukai buah dada gadis itu. Mungil tapi padat dan kenyal. Kedua putingnya menjadi mainan bagi Titus. Permukaan buah dada Rani juga terlihat memerah banyak bekas cupangan dari Titus.

Penis Titus masih terus keluar masuk vagina Rani. Dia bergerak dengan tempo sedang, benar-benar ingin menikmati jepitan vagina gadis muda itu, sebelum nanti menyerahkannya pada Aldo. Sementara itu Rani yang meskipun vaginanya telah benar-benar basah, dia berusaha untuk mengingkari kenikmatan yang diberikan oleh Titus.

Beberapa kali tubuhnya tanpa sadar ikut bergerak. Kadang lenguhan juga terdengar dari bibirnya. Tapi hatinya terus berkata bahwa dia tidak menikmati momen ini, dia sangat membenci momen ini.

Perlahan Titus mulai mempercepat goyangannya. Berlama-lama menikmati vagina Rani membuatnya tak tahan juga. Dia meraih kepada Rani dan menariknya, memaksa untuk menciumnya. Rani yang memang sudah pasrah sama sekali tak melawan, membiarkan bibirnya begitu saja dilumat oleh Titus. Kedua tangan dan kakinyapun sama sekali tak bergerak, hanya pinggulnya saja sesekali bergerak dengan sendirinya mengimbangi goyangan Titus.

“Aaahh Rani sayaang, aku keluar lagi.. kuhamili kamu sayaaaangg… aaaaaahhhhh…”

Dan kembali ledakan sperma Titus memenuhi rahim Rani. Kembali Rani memejamkan matanya sambil terus menangis. Pikirannya kosong, bahkan untuk membayangkan seperti apa nanti masa depannya dia tak bisa. Dia biarkan saja tubuh Titus menindih tubuhnya, karena tadi Rani juga merasakan gelombang kenikmatan menghampirinya, yang sekali lagi coba untuk dia ingkari.

Setelah beberapa saat terdiam dalam posisi itu, Titus mencabut penisnya yang mulai melemas, namun masih terlihat besar. Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah meja untuk mengambil minum. Sedangkan Rani masih tak bergerak, membiarkan tubuh telanjangnya begitu saja. Lagipula, buat apa ditutupi, Titus sudah melihat semua, bahkan 2 kali menyiram rahimnya dengan sperma.

Setelah beristirahat Titus berjalan ke arah pintu, membukanya dan memanggil Aldo. Dengan sigap Aldo langsung menghampirinya.

“Udah beres boss?”

“Udah. Tuh bawa si Rani, kamu bersihin dulu kalau mau make dia. Kecuali kamu nggak keberatan ada maniku di memeknya dia, haha.”

“Haha, biar saya bersihin aja dulu boss.”

“Ya udah, bawa ke kamar samping sana, ada kamar mandinya juga.”

“Siap boss.”

Aldo kemudian berjalan menghampiri Rani. Rani masih terpejam, tak tahu siapa yang mendatanginya. Dia bahkan tak tahu kalau sebenarnya Aldo ada di rumah itu, karena sejak datang tadi Aldo memang tak nampak disana. Aldo terlihat tersenyum lebar melihat tubuh Rani yang sudah lemas.

Aldo sudah mengenal Rani sejak kecil, tapi tak pernah membayangkan adik sepupunya itu sekarang tumbuh menjadi gadis secantik ini. Dia melihat tubuh telanjang Rani membuatnya bernafsu. Dia tak lagi memandang Rani adalah sepupunya. Dia hanya melihat Rani sebagai seorang wanita dengan lubang-lubang yang siap memberi kenikmatan pada penisnya.

Tanpa diketahui oleh Rani, maupun Haris, kalau sebenarnya Aldo menyimpan dendam pada keluarga besar mereka. Dia marah saat ayahnya terusir dari keluarga besar. Dia tak peduli apa salah ayahnya, tapi membuat ayahnya terusir seperti itu membuatnya menyimpan dendam kepada semua keluarganya.

Selama ini dia hanya berpura-pura bersikap baik saja kepada Haris selama dia tinggal bersamanya. Waktu itu dia masih berpikir bagaimana cara untuk membalas dendam kepada keluarga besarnya. Namun begitu tahu Titus punya rencana jahat kepada Haris dan Rani, dia langsung setuju. Meskipun sempat kecewa karena Gavin yang beruntung mendapatkan keperawanan Rani, dan sekarang Titus yang mendapat jatah selanjutnya, tapi tak masalah bagi Aldo, karena Titus dan Gavin sudah menjanjikan satu lubang tersisa untuk bisa dia perawani.

Kini, Rani akan menjadi orang pertama yang merasakan balas dendam Aldo. Dia masih punya beberapa sepupu lagi, yang sekarang seumuran dengan Rani dan tak kalah cantiknya dengan Rani. Dia tadi sudah berdiskusi dengan Gavin untuk rencananya itu. Gavin yang memang penggila wanita, tentu saja menyambut baik usulan Aldo. Dia bersedia membantunya dengan syarat harus mendapat jatah juga, dan Aldo menyetujuinya.

Kini Aldo menghampiri Rani. Diusapnya kening Rani yang berkeringat. Rani yang masih terpejam mengira yang melakukan itu adalah Titus, sehingga dia membiarkan saja. Rani baru menyadari kalau orang yang menyentuhnya bukan Titus saat tubuhnya diangkat oleh Aldo. Rani merasakan kulitnya bersentuhan dengan kain kaos Aldo, padahal tadi jelas Titus tak memakai apa-apa. Begitu Rani membuka matanya, betapa terkejutnya dia melihat siapa yang menggendongnya.

“Mmaa.. mas Aldo???”

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part