. Adiknya Pacarku True Story Part 15 | Kisah Malam

Adiknya Pacarku True Story Part 15

0
174

Adiknya Pacarku True Story Part 15

Yunda sebenarnya anak yg menyenangkan, dia sangat cair bila diajak bercanda, belum lagi tawanya yg lucu menambah pesona dalam dirinya, sangat berbanding dgn Hana adikku yg cenderung serius & kaku. Ternyata memang sebenarnya Yunda anak yg ramai, hanya saja dia memilih diam didepan orang yg belum dikenal atau baru ditemuinya, jadi kalau kita bertemu watak seperti Yunda, kita harus rajin mengawali percakapan untuk mencari tau ketertarikan pribadi ini, atau menghilangkan sebisa mungkin menghilangkan suasana canggung yg membatasi. Nah buat Yunda, kejujuran & keterbukaan adalah kunci bagaimana bisa mendekatinya. Sebenarnya aku sendiri malu bila mengingat & menulis kejadian seperti di part 9C, aku & Yunda seperti dua tokoh sinetron Ftv yg awalnya bermusuhan lalu saling jatuh hati, namun memang demikian adanya yg terjadi, Yunda adalah wanita yg tak butuh trik, yg penting kita menjadi diri sendiri didepannya, selain itu Yunda bisa membaca kepura-puraan seseorang, ngomong-ngomong apa aku pernah cerita kalau Yunda adalah mahasiswa psikologi?
Sebelum pulang Yunda mengajakku makan sate bubur ayam, aku sempat mempertanyakan dietnya makan semalam ini, tapi dia Cuma bilang kalau dinginnya ruangan bioskop membuatnya sangat lapar. Aku mengiyakan ajakannya, kebetulan perutku jg sangat lapar.
Selama makan kami berdua ngobrol dgn santai, obrolan ringan seperti dua kawan yg sudah berteman lama, pembatas yg sebelumnya menghalangi kami kini benar-benar tak terasa lagi.
Apalagi aku melihat Yunda semakin cantik dgn keceriaannya, entah setelah kami menjadi cair aku semakin tertarik padanya, entah ini cinta atau bukan tapi yg pasti perasaan ku semakin ingin memilikinya. Ah, tampaknya perjodohan ini akan berjalan sukses.
“nda kalo gw boleh tau, perasaan lu k gw kaya gmn sih? Kataku disela candaan kami, Yunda diam sejenak sebelum menjawab,
“Gw sebenernya… tapi lu jgn ketawa ya dengernya Ar” dia menodong kepadaku dgn nada sedikit mengancam, “ketawa? Kenapa? Emang lu mau ngelawak nda. Hehehe” kataku
“bukan gitu, tapi yah.. plis ya Ar, gw serius lu jgn ketawa”
“okey okey, gw ga akan ketawa” aku menyetujui syaratnya, karena penasaran dgn jawabannya
“janji yah”
“janji nda”
“tapi dengerin sampe gw selesai, jgn dipotong”
“iya beres boss, apa lagi syaratnya?”
Yunda hanya tersenyum, lalu menyerput teh manis hangatnya, lalu menjawab pertanyaanku,
“gw udah cerita kan Ar, awalnya gw nolak banget rencana nyokap kita, emang bener gw mau ngejalanin ini dulu karena saran bokap gw, tapi sebenernya selain nasehat bokap ada lagi alesan lainnya yg bikin gw nerima, itu pas gw dikasih tau kalo cowok yg bakal dijodohin sama gw…. Ternyata elu..”
kata Yunda sambil menunduk, kali ini wajahnya merah padam. Aku sendiri melotot kaget mendengar penjelasan Yunda, muka ku tak kalah merah, jantungku seperti melompat, namun hatiku tak bisa tidak berbunga-bunga mendengarnya. Aku baru mau bereaksi sebelum Yunda melanjutkan penjelasannya,
“Lu jangan ge-er dulu yah Ar, jadi sebelum lu maen lagi ke rumah setelah lama ngilang, nyokap sering banget ngomongin lu, dia selalu ngomong gmn lu udah bs mandiri dari SMA, ga bergantung lagi sama orang tua, terus pas kuliah katanya lu sama temen-temen sempet bikin kafe, entah knp nyokap gw kaya seneng bget liat cowok bisnis sendiri kaya gitu, yah mungkin krn sama-sama otak dagang kali ya.. lama-lama gw jg jd penasaran, trus yaaah mau gak mau gw jg ketularan kagum sama lu kaya nyokap gw.. yah makanya, pas gw denger ternyata cowoknya elu, gw jd penasaran mau ngebuktiin bener apa enggak cerita-cerita manis tentang lu Ar..”
Aku Cuma bengong mendengar penjelasan dari Yunda, ternyata dia telah mendengar banyak hal tentangku, kepalaku ingin meledak karena malu & bangga, terlebih dia mengaku kagum padaku. Untungnya semua cerita yg dia dengar adalah hal yg baik.
Semua hal yg dikatakan Yunda memang benar, sejak SMA aku sudah terbiasa mencari uang sendiri, walau tetap mendapatkan jatah uang jajan, tapi honor manggung Band serta menjadi additional player & EO dibeberapa event sangat membantu menambah pemasukanku, walau tak seberapa memang. Ketika beranjak kuliah baru aku merasa uang yg diberikan orang tua ku sangat kurang, aku hidup di kota Paris Van Java, agar tidak diremehkan aku membutuhkan biaya gaul tambahan, jadi sejak semester tiga aku berbisnis kafe kecil-kecilan dgn kawan2 satu kostan, jadi memang aku biasa mandiri.
“udah gw bilang loh Ar lu jgn ge-er, tp kok muka lu merah gitu” Yunda menyadarkan ku
“hehehehe.. ya gimana dong ya, ternyata gw udah terkenal duluan dikeluarga lu. Hehehe”
“idiiih, ternyata lu orangnya ge-eran ya.. “ kata Yunda sambil memukul lenganku. Aku tak bisa tak merasa senang, sungguh aku menikmati waktu bersama Yunda malam itu, namun sayangnya waktu sudah menunjukan tengah malam lewat tiga puluh, aku harus mengantar Yunda pulang. “udah malem Nda, kita pulang yuk”

Sepertinya Yunda terlalu banyak tertawa saat kami makan, di dalam mobil dia tertidur disebelah ku. Walau sedang menyetir aku sempat memandang wajah Yunda yg tertidur, benar-benar cantik dia, seolah aura juteknya lenyap berganti dgn guratan innocent yg benar-benar menggemaskan. Wajahnya dalam balutan pashmina ini mengingatkan ku dgn penyanyi Malaysia, Siti Nurhaliza, hanya saja pipi Yunda lebih chubby, & terlihat lebih jutek, bahkan kesan pertama yg kalian dapatkan bila melihat wajahnya mungkin kalian akan memandang Yunda cewek galak, benar memang dia cukup jutek & galak, tapi menurutku itu lebih kpd disiplin, seumur hidup aku belum pernah melihat wanita yg begitu disiplin selain Yunda, bahkan dibanding Hana, jadi wajar prestasi selalu menghiasi dirinya. Aku biarkan Yunda menikmati mimpinya.
Tak terasa mobilku telah sampai didepan rumah Yunda, aku bangunkan dia dgn mengguncang pelan lengannya, dia terbangun sambil megucek pelan matanya,
“udah sampe Ar, sorry gw ketiduran”
“iya Nda, gak apa-apa, santai aja”
Dia merapihkan sejenak dirinya, mencoba mengembalikan kesadarannya seutuh mungkin & memeriksa apakah ada barang yg tertinggal dimobilku. Dia meraih kenop pintu mobil, tapi wajahnya menatapku kepadaku, lalu tiba-tiba dia mengecup pipi kiriku, “thanks buat malem ini Ar, gw enjoy.. semoga lu jg happy” & dia keluar dari mobilku langsung masuk ke rumahnya tanpa menoleh kepadaku.
Aku hanya bisa bengong sesaat didalam mobil, sungguh aku tak menduga malam ini akan mendapatkan kecupan dari Yunda, wajahku terasa panas sekali, sebelum akhirnya senyum mengembang dari wajahku. Akupun menjalankan mobilku untuk pulang.
Sampai dirumah aku langsung menuju dapur, mencari segelas air untuk menenangkan diriku, aku minum sambil terduduk kaku dimeja makan. Kecupan bibir Yunda pada pipiku benar-benar membuatku panas dingin serta nafas naik turun. Aneh sekali, sekali lagi aku pernah merasakan kecupan wanita pada pipiku, (ciuman pertamaku kuberikan pada adikku Hana) jadi harusnya ini familiar buatku, tapi mengapa kecupan ini terasa berbeda? Ah entahlah, tapi aku berfikir untuk mengajak Yunda jalan lagi nanti.
“Mas ko malem-malem ngelamun? Dari mana aja sih kok baru pulang”
Aku kaget sekali, Hana tiba-tiba sudah ada didapur. Bagaimana aku menjawab pertanyaannya, tidak mungkin aku langsung menjawab habis jalan dgn Yunda.
“ooh kamu dek, belum tidur?” aku menjawab agak geragapan “mas abis nonton sama temen-temen Mas, terus ngopi-ngopi dulu”
“oouh, yaudah..”
Hana mengambil segelas air lalu duduk bersama ku dimeja makan. Uurrgh, malam ini dia memakai daster hijau cerah tak berlengan dgn bagian dada yg cukup rendah sehingga belahannya tampak mengintip dibalik dasternya. Sebenarnya ini situasi yg tak kuharapkan, tapi siapa yg bisa menolak gairah yg tiba-tiba naik, apalagi paha hana yg mulus benar-benar membuat jakunku naik turun. Adikku benar-benar cepat membuat hasrat kakaknya membara.
Tiba-tiba aku sadar, selama kebersamaanku dgn Yunda tadi aku benar-benar melupakan Hana, sungguh aku tidak sengaja melupakannya. Bukan apa-apa, awal keberagkatan ku untuk jalan bersama Yunda adalah sebuah keterpaksaaan & beban sehingga pikiranku kacau, namun setelah suasana lebih cair & hangat aku sangat menikmati waktuku dgn Yunda. Aku menyesal juga tidak mengingat Hana tadi. Terbesit sekilas niatku untuk jujur tentang aku & Yunda pada Hana saat ini juga, namun akal sehatku sepakat dgn nuraniku, ini benar-benar bukan waktu yg tepat. Lagipula mengapa Hana mesti bangun ditengah malam begini & memakai baju seperti itu, apa dia ingin menggodaku? Andaipun itu benar, aku memang bisa mengerti, selama libur lebaran ini kami belum menyalurkan hasrat kami. Kalau aku masih punya pelampiasan dgn memainkan game atau keluar bersama teman-temanku, sedangkan Hana nihil, aktivitasnya hanya membantu pekerjaan rumah tangga. Adikku memang tidak punya hobby yg khusus, atau ada mungkin, tapi aku tak tahu apakah ini bisa dibilang hobby, yaitu membaca. Tapi bagaimana mungkin hanya membaca bisa melupakan libido yg naik. Kedua temannya silvi & metta sedang mudik ke kampung halaman masing-masing, jadi wajar juga dia berpenampilan menggodaku malam itu. Memang setelah permainan kami di Bandung, aku sering pulang ke rumah, walau ada ayah & ibu saat aku pulang di akhir pekan, tapi aku & adikku menyempatkan diri mencuri waktu untuk mencari kepuasan seksual. Kadang ketika mereka ada kegiatan RW aku masuk ke kamar Hana & memulai percumbuan kami, paling sering dimalam hari ketika seisi rumah tertidur kami bermain diam-diam, dibawah hidung orang tua kami, aku selalu ingin tertawa bila mengingat adikku terpaksa menutup wajahnya dgn bantal untuk menahan teriakannya ketika orgasme, sedang diriku dgn melumat bibirnya atau memainkan mulutku pada payudara melonnya sudah cukup menahan teriakan orgasme ku. Sejujurnya Hana semakin mahir dalam permainan handjob & blowjobnya, belakangan ini aku benar-benar sering dibuat KO dgn servis mulut & tangan adikku, ditambah kemontokan pantatnya membuatku semakin tak berdaya.
“Mas, kok tegang gitu? Abis berantem ya sama temen?” Hana memecahkan pikiranku
“enggak kok dek, emang mas keliatan tegang yah?” aku mencoba menjawab senormal mungkin
“keliatann agak aneh aja sih” Hana menatapku curiga, “mas lagi banyak pikiran atau ada masalah?”
“enggak kok dek, mas gak apa-apa” aku mencoba meyakinkannya
“ya sukur deh kalo gak apa-apa” kata adikku, lalu dia bangkit dari duduknya sebelum berjalan menuju kamarnya. Huuftthh selamat aku, kataku dalam hati. Namun ternyata itu belum berakhir, karena tiba-tiba Hana berheti disampingku lalu menundukan tubuhnya & mengarahkan mulutnya ketelingaku, “Mas, malem ini yuk? Sebelum mas balik ke kostan senin nanti” dgn nada penuh harap & langsung berlalu ke kamarnya.
Ooh, adikku memintaku melayaninya malam ini.. Gairah ku tiba-tiba naik lagi..

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part