. Wanita Idaman Part 13 | Kisah Malam

Wanita Idaman Part 13

0
79

Wanita Idaman Part 13

PENGALAMAN BARU

Aku pulang ke kota P dengan membawa kepuasan dan petualangan baru. Malam kedua dengan Mbak Rani tak kalah liar. Kami benar-benar mengeksplor fantasi masing-masing. Aku tak akan menceritakan detil, takut kalian bosan. Mbak Rani menjadi langganan berikutnya, Ia menenuhi janjinya untuk terus memacu nafsu. Selama dua bulan setelah peristiwa itu, kami bercinta 6x. Gila. Mbak Rani konsisten sekali kalau dia memang hypersex. Selama 2 bulan ini juga aku kembali melepas kangen dengan Dokter Ara meski hanya sekali. Semenjak tak bekerja di tempatku, kami susah sekali mengatur waktu bertemu. Kesempatan dengan Tiwi juga datang, kami dua kali memadu kasih. Ia masih sama, desahannya tetap menggairahkan.

Idiom bahwa laki-laki tak pernah puas itu akhirnya kubuktikan sendiri. Sudah memiliki tiga wanita yang bisa memuaskan kapanpun, tetap saja ada rasa penasaran mencoba wanita-wanita lain. Si Johny makin penasaran dengan kemampuannya. Ia makin ingin memperbanyak jam terbang. Keinginan itu yang nampaknya terus menggebu hingga akhirnya aku mencari-cari wanita melalui aplikasi kencan. Ini karena sampai sekarang aku tak menemukan rezeki di dunia nyata, maka mari kita cari di tempat lain.

Hampir sebulan berpetualang di dunia maya dan beberapa aplikasi, rezeki tak kunjung datang. Selama proses itu, Mbak Rani tetap berperan sebagai penampung setia spermaku. Sejak punya dua anak, ia memang memutuskan pakai KB. Jadi tak ada masalah mau disiram kapanpun dan berapa kali pun. Pagi itu, setelah selesai menggapai puncak birahi bersama Mbak Rani, notifikasi di ponselku menunjukkan ada yang merespon pilihanku di aplikasi tantan. Saking seringnya swipe kanan, aku sampai lupa wanita mana yang merespon balik. Karena masih bersama Mbak Rani, aku tak langsung membukanya. Ia sedang berkemas. Rampung, Ia mengucapkan salam perpisahan padaku. Kami berciuman sebentar. Ia keluar lebih dulu dari hotel. Perjanjian kami, ia akan mencegat bus lebih dulu. Aku akan menyusul kemudian. Setelah Mbak Rani menghilang dari pandangan, kubuka kembali ponselku. Kuamati benar-benar fotonya karena beberapa kali wanita yang meresponku di aplikasi tak sesuai ekspektasi. Kulihat lokasinya dia sedang tak jauh dariku. Dia masih di radius 4 kilometer dari tempatku. Kuputuskan tak cek out dulu. Mudah-mudahan rezeki.

Aku memakai nama samaran di Tantan. Demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Foto kuatur sedemikian rupa agar tak terlalu kentara. Mungkin itu juga yang membuatku tak laku di aplikasi ini. Kembali ke wanita yang kuceritakan tadi, kami akhirnya terlibat dalam sebuah percakapan.

“Halo-halo”

“Hai-hai”

“Asli sini atau lagi berkunjung?”

“Lagi kondangan ke nikahan temen ini di gedung x”

“Habis ini lanjut kemana?”

“Nggak tau, manut ke rombongan”

“Berapa banyak rombongannya? Satu RT?”

“Ya nggak laah. Cuma berempat ini”

“Mbok ya jalan-jalan disini dulu”

“Emang ada apa disini?”

“Banyak lah. Aku salah satunya”

“Belum-belum udah gombal”

“Ya siapa tahu rezeki hehe”

“Tinggal disini?”

“Nggak. Tinggal satu jam dari sini”

“Trus? Ngapain disini?”

“Lagi main. Ketemu temen kemarin”

“Temen apa ‘temen’?”

“Masih temen sih. Nggak tahu setelah ketemu kamu hari ini”

Aku nothing to lose saja. Iseng-iseng berhadiah. Kalau tak dapat juga tak masalah.

“Serangan kedua. Mau sampai berapa kali hari ini?”

“Sampai kamu mau aku traktir disini”

“Mau traktir apa disini? Aku pemilih lho”

“Kalau permintaanmu nggak ada disini, ya kita cari dimana yang ada”

“Bolehlah usahanya”

“Jadi?”

“Lets see”

“Sebutkan saja lokasinya”

“Nggak janji ya”

“Kutunggu sampai kamu bilang iya”

“See you”

“Kutunggu”

Percakapan selesai. Aku sedang terheran-heran dengan keberanianku. Ini pertama kali aku berbincang dan sepik-sepik orang random. Entahlah. Dapat ya lumayan, tidak dapat ya belum rezeki. Namanya juga usaha. Mbak Rani mengirim pesan kalau sudah naik bus menuju kotanya. Kubalas kalau aku sedang menunggu bus. Anggap saja aku menunggu bus yang bisa bicara.

Hampir 2 jam, tak ada tanda-tanda targetku membalas pesan. Aku mulai gusar. Sudah jam 10 pagi. Jam 12 harus cek out dari hotel. Aku masih berharap. Masih berharap.

Di tengah kegalauan. Ada pesan masuk. Aha! Ini namanya rezeki tak kemana.

“Kirim locationmu”

“Dengan senang hati”

“Nomor?”

“415”

Kukirim posisiku dimana. Ah aku harus siap siap. Entah apa yang terjadi nanti, aku harus memperpanjang waktu menginap dulu dan meminta petugas membersihkan secepat mungkin. Dalam setengah jam, kamar sudah seperti baru. Siap untuk tamu agung. Deg-degan juga ternyata. Kalau toh ini gagal, anggap saja sebagai bagian dari pengalaman. Aku pun tak tahu dia siapa. Kami tak menanyakan identitas masing-masing. Seperti sudah saling tahu bahwa di aplikasi ini kami sedang mencari teman bersenang-senang. Siapa dan dari mana adalah hal kesekian. Cocok, berangkat.

Aku mondar-mandir tak jelas. Rasanya seperti akan berkencan dengan gebetan untuk pertama kalinya. Gelisah, takut, dan penasaran bercampur jadi satu. Kulihat jam, sudah setengah jam semenjak dia mengirimkan pesan terakhir. Jangan-jangan dia tak jadi datang. Sebenarnya dia juga tak bilang akan datang. Dia hanya meminta posisi lokasiku. Bisa saja dia hanya iseng, memberikan harapan palsu. Mengerjai orang tak tak jelas yang baru saja dikenal lewat aplikasi yang tak jelas pula. Ah, sialan. Ekspektasiku terlalu berlebihan. Aku tak memikirkan kemungkinan terburuk bahwa dia hanya mempermainkanku. Sialan. Sialan. Aku mengutuki diriku sendiri. Kuletakkan harapanku serendah mungkin hingga tak terlihat. Kini aku pasrah. Lemas. Alu sudah tak menggebu-gebu lagi. Sialan.

Keputusasaan membuatkan lemas. Aku hanya tiduran dengan pakaian lengkap. Ponsel kubiarkan tergeletak tak tahu dimana. Aku sedang menikmati kebodohanku. Tahu gini aku hubungi Tiwi atau Dokter Ara saja. Siapa tahu satu diantara mereka sedang ada waktu untuk memadu cinta. Sialan.

“Tok tok tok”

Oh shit. Siapa yang tiba-tiba mengganggu kesendirianku. Cari perkara ini orang. Aku juga tak sedang memesan layanan kamar. Atau… Ah tak mungkin. Sudah hampir satu jam sejak terakhir menerima pesan. Mana mungkin wanita itu datang. Tapi apa salahnya juga dilihat dulu.

“Tok tok tok”

Ketukan lagi. Aku makin penasaran. Deg-deganku kembali.

Kuintip dulu memastikan siapa yang datang. Oh shit. Ini kejutan. Aku sepertinya kenal orang di luar itu. Gila. Aku tak pernah menduga akhirnya akan seperti ini. Ah. Kini aku pusing menyiapkan kalimat pertama yang akan kuucapkan. Ini memang rezeki tapi tak begini juga. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan. Aku harus siap. Semua sudah dimulai, bagaimanapun akhirnya, harus diselesaikan.

Kubuka pintu pelan-pelan. Aku tersenyum.

“Loh, ini kamar 415 kan?”

“Bener Mil, aku Galang”

Kujulurkan tanganku. Aku ingin tertawa tapi juga tak percaya yang terjadi seperti ini. Di aplikasi aku memang memakai nama Galang, ia Milly. Kami sama-sama terkejut. Ia tak kunjung menangkap tanganku untuk bersalaman, kuturunkan saja kalau begitu.

“Kalau mau langsung pulang silakan, kalau mau masuk dulu ya silakan” aku tersenyum lagi, mencoba serileks mungkin.

Okta, nama aslinya, memegangi kepalanya. Ia masih tak percaya. Aku pun. Tapi mungkin ia lebih tak percaya. Ada mungkin 5 menit lamanya kami terdiam, hingga tiba-tiba Ia memutuskan masuk dan duduk di kursi. Aku otomatis menutup dan mengunci pintu. Kubiarkan ia mengutuki dirinya sendiri. Aku sudah dari tadi. Aku sudah siap dengan segala kemungkinan. Apa boleh buat, kalau mau ya rezeki kalau tak mau ya pengalaman. Begitu saja.

Aneh juga ia akhirnya memutuskan masuk. Padahal bisa saja ia langsung pergi. Tak ada yang rugi. Hanya sedikit malu mungkin. Tapi siapa tahu apa yang Ia katakan pada teman-temannya. Kepalang malu mungkin. Mau langsung pulang malu, menerima ajakanku masuk juga malu. Aku tak tahu. Yang jelas, ia telah memilih masuk. Tinggal kami berdua di kamar. Aku tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kamar yang tadi malam penuh birahi bersama Mbak Rani, kini berganti suasana aneh bersama Okta alias Milly. Kuputuskan memanggilnya Milly saja, sebab aku kenalnya demikian. Kami disini sebagai Galang dan Milly.

Tak adaa suara apapun selain desah nafas kami dan angin dari AC. Aku mungkin sudah selesai dengan diriku sendiri, tapi sepertinya tidak dengan Milly. Ia nampak masih linglung.

“Mau kuantar pulang kapan?”

Pertanyaan yang sia-sia. Ia tak menjawab sama sekali. Menoleh pun tidak. Mungkin ia sedang menyesali kebodohannya. Menerima ajakan laki-laki random di sebuah aplikasi, dapatnya seperti ini lagi. Aku tahu Milly. Oh iya belum kuceritakan bahwa Milly adalah teman kuliahku. Ia bidadari. Ia salah satu yang tercantik di jajarannya. Seksi pula. Dalam sejarahnya, tak ada laki-laki biasa yang digandengnya. Minimal ya harus tinggi, tampan, maskulin, dan kaya sih. Itu hasil dari pengamatanku. Bagaiamana tak malu jika kemudian yang ia temui kini teman kuliahnya yang pendek, kecil, jelek, dan tak punya uang. Ah, kenapa aku jadi menjelek-jelakkan diri sendiri begini. Jelek-jelek begini juga sudah membuat ampun-ampunan 3 wanita. Aku harus tetap percaya diri.

“Kamu sudah sering cari cewek kayak gini?”

Milly tiba-tiba membuka mulut dan mengajakku berbincang.

“Akhir-akhir ini saja. Baru kamu yang mau kuajak ketemu”

“Aku sebelumnya nggak pernah berani nerima ajakan ketemu”

“Lalu?”

“Entahlah”

“Kamu nyari apa disini, Mil?

“Kamu?”

Dia malah balik bertanya. Nampaknya, lebih baik jujur saja.

“Seks. Apa aku akan mendengar jawaban yang sama?”

Ia diam. Tak langsung menjawab. Entah kenapa aku ingin pamer jam terbang. Semoga saja sukses. Kalau tidak, aku tak merasa rugi.

“Aku lagi bosan. Aku punya 3 partner beberapa bulan ini. Nggak tahu kenapa ingin cari pengalaman baru dan dari orang random”

Ia masih belum bersuara.

“Ya inilah kenapa aku ada di hotel ini sekarang. Semalam aku sama salah satu partnerku. Tapi tenang aja, sudah dibersihkan kok sama petugas hotel”

“Menurutmu aku nyari apa disini?”

Akhirnya ia buka suara.

“Seks?”

“Mungkin kamu tahu kisahku, Lang. Pelampiasanku bukan cuma olahraga”

“Seberapa sering?”

“Sebulan sekali minimal”

“Kalau tidak?”

“Ya begini, cari orang random lewat aplikasi nggak jelas”

“Baru pertama kali?”

“Menurutmu?”

“Tinder?”

“Nggak. Terlalu berisiko”

“Lalu?”

“Kayaknya ini nggak populer di lingkaranku”

“Tapi malah nemu aku ya”

Ia tertawa. Aku juga. Suasana mulai mencair.

“Aku lagi apes kayaknya”

“Bisa jadi”

Kami tertawa lagi. Kali ini bersamaan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Syukurlah, suasana tak semengerikan tadi.

“Aku nggak enak mau nanya lebih lanjut”

“Kalau aku yang pengin cerita?”

“Aku siap mendengarkan”

Penanganannya berubah. Nampaknya, dia perlu meyakinkan diri dulu. Ilmu dari Dokter Ara, kalau wanita sudah ingin bercerita, berarti ia sudah nyaman denganmu. Kalau, mari kita jadi pendengar yang baik.

“Aku hampir gila setelah patah hati itu, Lang. Aku nggak tahu bagaimana cara mengobatinya. Akhirnya aku mulai workout. Aku sering liburan bareng teman-temanku. Aku coba segala hal biar cepet lupa. Tapi ternyata tak semudah itu”

Ia menghela nafas panjang. Kutatap matanya. Sayu. Ada kesedihan dan kekecewaan disana. Kini kugeser dudukku tepat di depannya.

“Mungkin salah satu yang bikin aku begitu kayaknya karena kami sudah have sex. Dan ya aku sudah kasih semuanya”

Ia mengambil jeda lagi.

“Kami bisa hampir seminggu sekali have sex. Makanya seks hampir jadi kebutuhan wajibku saat itu. Ketika semuanya selesai, aku bingung bagaimana harus memenuhi itu. Aku berpikir, jangan-jangan aku nggak ikhlas bukan karena cinta tapi seks”

Aku masih tetap mendengarkan dengan seksama.

“Akhirnya aku nekat cari kepuasan itu, Lang. Aku nekat buat one night stand dengan salah satu temanku yang bisa dipercaya. Dan kamu tahu? Bebanku agak turun ternyata. Setelah itu, kamu pasti tahu apa yang terjadi”

Ia berhenti.

Aku tak menyangka juga ternyata kisahnya seperti ini. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam sana. Kita hanya tahu permukaan. Dan setiap orang bisa memolesnya agar terlihat baik-baik saja. Pikiranku untuk bisa menikmati Milly jadi sedikit berkurang setelah mendengar ceritanya. Aku lebih tertarik menggali lebih dalam. Kalau ternyata dapat ya lumayan juga kan.

Kami ternyata malah asyik berbincang tentang pengalaman masing-masing. Dulu, di kampus, kami hanya sebatas kenal karena ya aku sadar diri. Tak mungkin juga kami lebih dari itu. Tapi ternyata setelah hampir sejam ngobrol hari ini, tak buruk juga ia sebagai teman bicara.

“Makasih ya Lang sudah mau mendengarkan”

“Nyantai saja lah, Mil. Kita malah jadi lebih tau masing-masing kan”

“Jadi, tujuan awalmu gimana? Masih mau dilanjutkan?”

Aku tersenyum. Kalau sudah diberi kode seperti ini ya pantang untuk mundur. Apalagi yang terpampang di depan begini bentuknya.

Aku mendekat, berdiri di sebelahnya. Sebenarnya tinggi kami tak terlalu beda jauh tapi ya tetap Milly lebih tinggi. Jadi, tak kuajak Ia berdiri agar semua terlihat baik-baik saja.

“Siapa yang bisa mengurungkan niat kalau sekamar sama wanita kayak kamu?” kubisikkan kalimat ini di dekat telinganya.

Ia tersenyum. Wajah kami mendekat. Yash! Aku rasakan juga bibir ini. Akhir pekan yang sempurna rasanya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler