. Status Berkelas Part 8 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 8

0
55

Status Berkelas Part 8

Penasaran II, Scene 1

——-

POV Dana

“Om Dana….”, seorang gadis kecil turun dari mobil Toyota Vios berwarna merah maroon dan berlari ke arahku yang sedang merapikan lapak dagangan. Gadis yang cantik dan imut. Usianya masih sekitar 4-5tahun.

“Lho.. Putri sudah selesai les renangnya?, tumben kok agak siang.. “, kusapa ramah gadis imut yang beranjak salim padaku (mencium tangan). Aku sangat hafal betul pada langgananku yang satu ini. Ia dan ibunya selalu mampir setiap kali selesai berlatih renang di GOR Kertajaya.

“Guru les e(nya) sakit om..”, jawab gadis bernama Putri dengan nada girang. Sudah sangat umum bagi penuntut ilmu di negara ini akan berubah menjadi riang jika bertemu dengan kalimat ‘guru sakit’, ‘gurunya rapat’, ‘kelas ditunda’, dan sejenisnya.

“Hai Dan.. Yopo kabare? Sehat ta?”, (Hai Dan.. Gimana kabarnya? Sehat kan?) Seorang wanita cantik menyapaku dengan akrab. Dia adalah Dona Arimbi, Bundanya si lucu Putri Arumwaty. Dona adalah seorang wanita berusia 30 tahun. Ia telah bercerai dengan suaminya sejak satu tahun yang lalu. Sejak setahun itu pula Dona mulai aktif berlangganan gorengan buatanku. Entah apa penyebab perceraian Dona. Ia bilang sih karena suaminya adalah seorang pencemburu akut yang selalu mencurigai Dona punya kedekatan dengan pria ini dan itu. Akupun tak tahu pasti kebenaran cerita Dona tersebut.

Setahun berlangganan membuat Dona dan anaknya menjadi akrab denganku. Tak jarang Putri betah berlama-lama dalam gendonganku seolah ia merindukan sosok seorang ayah. Aku dengan senang hati mengajaknya bercanda dan bermain seperti keponakanku sendiri. Donapun seolah sudah seperti kakak bagiku karena saking akrabnya.

Kusambut kedatangan ibu dan anak tersebut dengan antusias mengingat bahwa mereka adalah orang yang kukenal dan dapat menemaniku mengisi kejenuhan di depan dagangan. Keadaan jenuh seperti sore ini memang sangat jarang terjadi karena biasanya Indra maupun Khusna rajin menemaniku berjualan. Tapi sudah dua hari ini kedua makhluk limited edition tersebut tiada menunjukkan batang hidungnya.

“Oh sehat mbak. Eh dungaren kok jek buru ketok. Sibuk ta mbak?”, (Oh sehat mbak. Eh tumben baru kelihatan nih. Lagi sibuk ya mbak?) mbak Dona yang telah berdiri di sisi samping dagangan nampak tertawa saat kujawab pertanyaannya.

“Lhoh pikun areke iki koen. Kan jek tas semingguan wingi aku tuku rene!”, (Lhoh pelupa nih anak. Kan baru semingguan kemaren aku beli disini!) mbak Dona tertawa renyah.

“Ohh iyo ta?, wadoo sori mbak, saking akehe wong tuku sampek lali hehe”, (Ohh iya kah?, waduh maaf mbak, kebanyakan pembeli sampai lupa hehe) aku ikut mentertawakan daya ingatku yang buruk.

“Halah gayamu Dan!, paling koen lagi kesengsem wedokan yo kok sampek ga fokus ngunu!?”, (Halah gayamu Dan!, kayaknya kamu lagi naksir cewek ya kok sampai ga fokus gitu!?) tebak Dona yang ternyata memang benar. Haha.. Ada Nada yang menguras habis pikiran dan jiwa..huhuii.

“Yo’opo dhagangane, larishh ta? Hufft..hadoh isih panas tibakno gedangmu Dan!”, (Gimana dagangannya, laris ta? Hufft..aduh masih panas ternyata pisangmu Dan!) Dona melanjutkan obrolan sembari mencomot sekaligus menggigit sebuah gorengan yang baru saja kutiriskan dari penggorengan.

“Yo ngene ki mbak.. Umat-umatan. Haha kapokk.. Lha sampean asal nyaplok aja sihh. Yo jelas panas, wong jek buru tak entas teko wajan!”, (Ya begini ini mbak.. Pasang surut. Haha rasainn. Kamu sih asal caplok aja. Ya jelas panas, kan baru aja ditiriskan!) Aku terkekeh melihat Dona megap-megap mulutnya karena kepanasan. Bibirnya jadi semakin terlihat sekseh abis.. Haha.

“Hehhe…. Tapi, Aku doyan kok karo gedang panasmu..!”, (Hehhe.. Tapi, aku suka kok sama pisang panasmu..!) Dona berseloroh sembari matanya melirik genit ke arah celanaku.

“Wooo.. wong ndramus. Angel ancene musuh rondo teles ngene ki.. Haha.. Ja’it”, (Wooo.. dasar ganjen. Emang susah ya kalau berurusan dengan janda muda kayak gini.. Haha.. Mukegile) aku yang pada dasarnya adalah pendiam bisa berubah bocor juga jika bertemu sahabat atau orang yang sudah kukenal baik.

“Eh Dan njaluk tulung, aku gorengno gedang panasmu 30 yo gawe engkok jam 7. Terno nang omah, gawe suguh!”, (Eh Dan minta tolong, gorengin pisang panasmu 30 biji buat nanti malam jam 7. Anterin ke rumah sekalian, buat suguhan tamu!) Dona masih dengan mata genitnya lagi-lagi menyebut ‘pisang panasmu’. Aku cukup terbiasa berbicara sedikit vulgar dengan Dona. Hanya sebatas obrolan saja tentunya.

“Siapp mbak.. Ojok lali ‘piringe’ disiapno gae wadah gedangku!”, (Siapp mbak.. Jangan lupa ‘piringnya’ disiapkan buat menampung pisangku!) kubalas dengan vulgar perkataannya. Sudah sering memang Dona memesan delivery gorenganku seperti ini.

——-

Prima kesayanganku sedang berjalan santai membelah keramaian jalan ibukota jawatimur menuju kawasan pantai kenjeran. Tepatnya menuju ke perumahan Pantai Mentari yang ada di sisi timur kenjeran.

Tett.. Tett..
Kutekan dua kali bel rumah yang saat ini tengah kuparkir motor prima di depannya. Rumah berukuran sedang, tipe 54 berwarna biru laut terlihat bersih dan tertata rapi.

“Wahh tepat waktu koen Dan.. Ayo mlebu sik.. Durung ganti klambi iki aku!”, (Wahh ontime kamu Dan. Silahkan masuk dulu.. Aku belum ganti baju nih!) Dona muncul dari balik pintu ruang tamu dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis transparan. Apakah ia memakai pakaian dalam?, aku tak tahu pasti. Tapi yang pasti, nightdress lingerie yang ia gunakan sungguh sangat terawang menyuguhkan lekukan berikut gundukan yang menggoyahkan jiwa.

“Aku diluk thok kok mbak. Totalnya 30 ribu”, (aku bentaran aja kok mbak. Totalnya 30ribu) kucoba mengesampingkan pikiran lain untuk berusaha fokus menyelesaikan pekerjaan dan segera pergi meninggalkan rumah Dona.

“Oh ngunu ta?, yo wes aku ga katik ganti klambi wes cek ga kesuwen. Lungguho diluk, tak jupukno duwik e!. Iku mau koncoku ga sido rene, dadi yo mesisan aku ganti klambi turu ae cek ga ongkep”, (Oh gitu kah?, ya udah aku ga jadi ganti baju deh biar ga kelamaan. Duduk aja bentar, aku ambilin uangnya!. Itu tadi temanku ga jadi kesini katanya, makanya aku ganti baju tidur sekalian biar ga gerah) jawab Dona tanggap saat melihatku mulai serba tidak enak berlama-lama melihatnya berpakaian seperti itu.

“Lho lek ga sido yo gak popo tak gowone balik gorengane mbak!, timbang sampean kakehan malah ga kepangan”, (Lho kalo emang ga jadi gpp mbak cancel aja gorengannya!, daripada kamu kebanyakan malah ga kemakan) dengan sopan kuarahkan Dona untuk membatalkan pesanannya mengingat daripada sia-sia jika dia pesan.

“Lambemu!, ga pantes rek wong wis diterno adoh-adoh kok tak batalno. Lungguho diluk Dan.”, (Ngawur!, ga pantas lah kalau dibatalkan, udah dianter jauh-jauh kok batal. Duduk bentar Dan.) Dona segera berlari ke dalam untuk mengambilkan uang pembayaran pesanan. Dari belakang, terlihat buah pantatnya yang kencang membulat sedang bergoyang ritmik ke kanan dan kiri seiring ayunan langkah kakinya yang sedang berlari kecil.

Aku duduk di kursi sofa ruang tamu sembari membuka notifikasi whatsapp di hpku. Sekian menit kemudian hpku berbunyi lagi menandakan ada pesan whatsapp yang baru masuk. Kubaca, ternyata pesan dari Dona.

“Dan, sori rodok suwe, iki Putri nglilir ngringik njaluk dikeloni. Enteni diluk yo. Mlebu nango pawon, wes tak sediyani sirup jeruk karo piring kosong gae wadah gorengan.” (Dan, maaf agak lama, ini Putri kebangun dan merengek minta di temani tidur. Tunggu sebentar ya. Masuk aja ke dapur, sudah kusediakan sirup jeruk dan piring kosong buat tempat gorengan) isi pesan itu kubaca. Aku beranjak ke dapur memenuhi permintaan Dona.

Kembali ke ruang tamu ku tata pisang goreng buatanku pada piring dan kulanjutkan menikmati es sirup jeruk yang terlihat segar menggoda.

“Huikk.. Masokk iki. Pas ngelak kemringet nang embong trus ketemu es seger ngene.. “, (Wah.. Cocok nih. Pas kehausan dan keringetan dijalan eh ketemu es yang segar gini..) gumamku menikmati es setenggak demi setenggak membasahi kerongkongan yang dilanda kekeringan.

10 menit berlalu.. 15 menit berjalan.. Dona belum juga muncul. Mata ini tiba-tiba sudah berasa berat dan mengantuk. Kepalaku sepertinya begitu ringan melayang. Pandangan mata terasa pudar dan semakin pudar. Kenapa aku seperti ini?, mirip orang mabuk saja. Dan yang lebih parah, gairah syahwatku tiba-tiba terasa begitu melonjak. Jantung berdegup kencang seirama dengan kedutan batang kejantananku yang lambat laun kian berdiri sempurna.

Aku sedikit bergidik dengan perubahan yang kualami. Merasa tak kuat menyangga kepala ini, kurebahkan tubuhku di atas sofa panjang. Suhu tubuhku meningkat drastis.

Kudengar Dona membuka pintu samping rumah menuju ke teras dan mendorong motorku masuk ke garasi. Tubuhku yang terasa melayang sangat enggan melangkah membantu Dona memasukkan motorku. Kubiarkan saja Dona melakukan itu, toh juga untuk keamanan motor juga pikirku.

Antara sadar dan tidak kurasakan sesuatu yang basah menempel di bibirku. Kupaksakan mata ini terbuka dan kudapati Dona dengan posisi duduk disamping sofa tengah mencium mesra bibirku. Tak ada upaya penolakan dariku, sebaliknya hawa panas tubuh seperti menuntun agar aku menikmati perlakuan Dona tersebut.

Seperti terhipnosis kuikuti tarikan tangan Dona yang menuntun menuju kearah kamar didepan ruang tamu. Aku hanya manut (nurut) seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Dalam kamar yang remang dan wangi terdudukku di atas kasur empuk. Sebentar kemudian nampak Dona melenggok striptis meliukkan gerakan gemulai sensual. Pinggulnya turun naik bergoyang, tangannya meremas kedua bukit ranumnya yang masih tertutup nightdress lingerie transparan berwarna pink muda.

Dalam sekejap nafsu birahi dalam dadaku memuncak. Jantung terasa semakin berdegup kencang. Rasa melayang di kepala berangsur-angsur menghilang digantikan naiknya libido yang membuncah.

Kesadaranku benar-benar telah pulih. Namun kesadaran tersebut seperti terenggut paksa oleh rasa ingin bercumbu yang mendesak-desak. Pikiran jernihku sudah tak berfungsi lagi. Yang tersisa hanya gejolak gairah.

Satu meter di depanku terlihat Dona semakin melenggok panas. Tanpa pikir panjang langsung ku sambar tubuh janda muda yang sangat sensual itu. Kucium bibirnya dengan begitu buas. Dona menggimbangi dengan belaian mesra di tengkuk dan punggungku.

“Ehmm Dana.. Puasin aku..”, Dona melenguh pelan di sela kuluman bibir kami.

Demi mendengar lenguhan binal tersebut aku semakin gahar menciumi bibirnya. Tanganku bergerak cepat meremas buah dada ranum yang membusung menantang dibalik lingerie.

“He’emm Dan bener gitu.. Sst..terusno”, (He’emm Dan benar gitu.. Sst..teruskan) Dona bertambah blingsatan saat kupagut lehernya sembari terus saja tanpa menghentikan remasan di dadanya.

Dengan sangat bergairah kutarik turun lingerie melewati buah dada Dona dan berhenti di atas perutnya. Dengan gemas kuemut putingnya yang sudah mencuat keras. Tak berhenti, kedua tanganku beraksi meremas buah sekal Dona dan mulai bergerak pula meraba selangkangan Dona.

“Haikk.. Dann..”, Dona memekik tertahan menerima triple attack yang kulakukan.

Belahan bukit gundul dan basah seketika terjamah oleh jemariku yang terus merangsek. Ternyata dibagian bawah lingerie Dona juga sudah tak berpenghalang sehingga semakin mempermudah jari-jariku melakukan eksplorasi. Kugosok konstan bagian tepi atas belahan yang bulat kenyal seperti kacang hijau setengah matang. Gosokan itu kuimbangi dengan tusukan pelan pada liang yang lebih dalam.

“Ouhh.. Koen apakno Dan kimpetku? .. Uenak seruu.. Ahh”, (Ouhh.. Kau apakan Dan memekku?.. Enak banget tau.. Ahh) kepala Dona mendongak hingga tubuhnya melengkung kebelakang menikmati rangsangan demi rangsangan.

Kuhentikan kegiatan di seputaran dadanya. Aku berjongkok menghadap bibir bawahnya yang berkedut. Kukonsentrasikan explorasi pada wilayah legit tersebut. Jari telunjuk dan jari tengah kudorong masuk menyusuri lobang daging bergerigi halus. Bagian jempol kugunakan untuk menggosok dan menekan kacang klito Dona.

“Hem.. Gendeng koenn.. Hufff sst”, (hem.. Gila kau.. Huftt sst) Dona berteriak cukup nyaring mendapati lobang surgawinya sedang diperlakukan asyik.

Kocokan jari pada mulut vegy yang awalnya pelan, dengan bertahap kutambah kecepatannya. Clepp.. Clepp suara kocokan yg kian cepat membuat Dona menggeliat tak terkendali. Dengan penuh nafsu kutambah jari manis untuk masuk membantu rekan-rekannya untuk bermain obok-obok nikmat. Kocokan dengan tiga jari dan satu jempol menghadap klito begitu membuat Dona bergetar hebat. Ritme yang semakin bertambah cepat semakin menghantar Dona mereguk kenikmatan yang tiada tara.

“Ouhh Dan.. Asu.. Aduhh Sttt.. Ahh”, Dona mengomel tak karuan tanpa terbendung. Hingga tibalah Dona pada titik kulminasi kenikmatan. Badannya mengejang kaku. Mulutnya mendesis seperti kepedasan.

“Ouchh ouch Ssttt eh Sttt..aku sampai Dan.. ahhh”, sepuluh detik Dona meliuk patah-patah dalam posisinya yang masih berdiri dan aku berjongkok menghadap selangkangannya. Pada detik belasan berikutnya Dona mulai merasa lunglai, tumpuan kakinya seakan goyah hingga ia terjatuh bertumpukan kedua lututnya.

Dengan posisi sama-sama berlutut, kami saling berciuman lembut kemudian semakin panas. Tubuh Dona yang bertelanjang dada kugamit erat. Sedotan yang panas tak menyisakan Dona untuk nyaman bernafas.

Beberapa menit berlanjut, kami hentikan ciuman tersebut dengan terengah-engah. Masing-masing mengatur nafas kembali demi memulihkan energi yang terkuras akibat minimnya asupan oksigen.

Dona menuntunku untuk berdiri sesaat setelah ia merasa cukup bugar kembali. Dengan mesra ia buka kaos oblong warna putih yang kupakai. Garis-garis datar tanpa lemak membentuk indah dada dan perutku. Six pack ala penjual gorengan hehe.

Guratan yang keras dan kokoh dipenampang dadaku ternyata membuat Dona sangat bernafsu. Direbahkannya wajah serta pipi untuk bersandar di dadaku. Tangannya menyusuri setiap lekuk didada dan perutku dengan perlahan dan lembut. Mulut dan lidahnya pun turut membantu dengan mencium serta menjilat kulit dadaku membuat aliran darah terasa berdesir.

Cukup lama Dona bermain di area dada favoritnya. Setelah puas, ia kembali berlutut dan mulai membuka ikat pinggang yang melilit di bibir celana jeansku.

Sekali tarik terlepaslah batangku dari sangkarnya. Dengan lembut dona melanjutkan melepas seluruh celanaku dan melipatnya rapi.

“Gendeng Dan.. kontolmu kok guede dowo ngunu.. Mosok cukup rekk??”, (Gila Dan.. Kontolmu panjang dan besar sekali.. Mana muat nih??) mata Dona melotot takjub pada batang pentungan yang kumiliki. Sudah 2 tahun ini aku dan kedua sohib sembretku mempelajari terapi kuno dalam membesarkan batang kelelakian. Waktu 2 tahun cukup untuk membuat batang kami bertiga meningkat pesat baik panjang maupun diameternya. Hal ini terbukti dengan terkesiapnya Dona saat melihatnya.

Nafsu yang sudah diubun-ubun tak mampu lagi menunggu lebih lama walau hanya sekedar menjawab ketakjuban Dona. Dengan sedikit memaksa kudorong kepala Dona untuk segera mencumbui konT menggunakan bibir lembutnya.

Bibir Dona melebar dengan susah payah untuk membuatnya muat menelan konT jumbo. Bibir tipis itu akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan ukuran konT ku. Setiap mulutnya mulai pegal karena terbuka penuh, ia ganti kuluman dengan jilatan ala cornetto. Tak lupa jemari lentiknya aktif memainkan skrotum yang ada dibawahnya. Titik penahan ejakulasi yang terletak diantara skrotum dan lubang dubay tak luput dari pijitan erotis Dona. Ehm.. memang beda ya kalau main sama cewek yang sudah berpengalaman! Hehe.

Lima belas menit Dona menserpis si konT namun belum juga meriam tersebut menunjukkan akan segera melontarkan mesiu lelehnya. Sebaliknya, Dona yang terlihat mulai kuwalahan dengan rahang yang kian kaku tak seluwes tadi.

“Ehmm say.. sedapnya kulumanmu..”, kenikmatan terasa menjalar di seantero selangkangan yang sedang ‘digarap’ Dona.

Beranjak menyerah, Dona menarik batang konT panjangku untuk mengikutinya ke ranjang cinta. Si janda muda nan ayu itu memposisikan diri rebahan menelentangkan diri. Aku yang tak ingin Dona merasakan elastisitas mendadak saat menerima ukuran konT segera berinisiatif untuk melumasi bibir vegy Dona dengan liurku.

Lingerie bagian bawah yang masih menutupi areal persetubuhan kudorong naik hingga sebatas perut dan mengumpul satu sama lain dengan lingerie bagian atas yang sebelumnya telah kugeser ke perut.

Kudekatkan wajahku menghirup wangi khas kewanitaan bercampur cairan kenikmatan orgasm di belahan bukit tak berbulu pubis Dona. Aroma yang sangah memabukkan jiwa. Aroma yang unik menggelitik tumpukan syahwat.

Lidahku menjulur kaku mengecapi labia mayora hingga menemukan tonjolan klito dibalik lapisan terluar tersebut. Gelitik lidahku yang menghajar habis klito Dona langsung memantik reaksi lentingan tubuh keatas seakan ingin mengejar julur lidah ini agar meronjok semakin kuat dan dalam.

“Auhh ssstt.. Ehhmm stt”, desahan beruntun Dona kembali membahana mengisi ruang kamar yang berukuran tak terlalu luas. Desahan indah kian menggema terpantul dinding-dinding kamar menghantarkan sihir semu sebuah melodi erotika.

Menjalar menyusuri tebing curam dibawah klito kutemukan sebentuk labia minora berwarna muda kemerahan lengkap dengan gelambir sayap tipis yang seolah menari-nari memanggil lidahku untuk bersinggah menyapu lelehan air cinta. Gerakan turun naik antara labia minora dan klito sungguh semakin membuat Dona mabuk kepayang. Kepalanya terlempar ke kanan dan kiri menikmati aliran kejut yang menjalar dari selangkangannya.

“Ouufh sayang.. Ssstt ahhh.. Geliii.. Pliss masukin ajah kontolnyah”, gejolak rasa geli kian menjadi-jadi menghempas Dona hingga sekujur tubuhnya serasa terkapar tak berdaya. Remasan pada kain sprei ranjang mengisyaratkan bahwa sang empunya vegy sedang dilanda gelombang hasrat yang tiada bertepi.

Permintaan Dona untuk menyudahi permainan lidah tak ku gubris. Bahkan jemariku telah siap di depan lobang surganya untuk memberikan ronjokan dahsyat dengan sensasi 4 jari sekaligus.

Perlahan kuposisikan 4 jari bersaudara yakni telunjuk, tengah, manis, dan kelingking untuk mulai menyeruak liang basah yang semakin lama semakin licin berlendir wangi. Kukocok semakin cepat keempat jari tersebut dan alhasil membuat Dona meronta-ronta tanpa bisa dicegah.

“Dannn.. Auhh sayangh.. Ufhh.. Ahh ahh ah.. Sssttt ehhh”, teriak sekseh Dona membuatku yang terkungkung hawa mistis birahi menjadi semakin ganas beraksi. Plekk.. Plekk.. Plek.. Kecipak suara telapak tangan beradu dengan kulit selangkangan Dona luar biasa terdengar. Aku semakin menggila, kecepatan kocokan semakin kutambah tak karuan.

“Auhh Dan ampunh.. Ampunn.. Ahhh ahh.. Aku ga kuat dhan.. Ahhss..”, Rintihan Dona berpacu dengan kocokan tanganku silih berganti terdengar.

“Ehhmm sst.. Dann.. Assu koenn.. Enakk.. Tapi geelii.. Aauhh hekk.. Hekk”, (Ehhmm sst.. Dann.. Anjrit kauu.. Enakk.. Tapi geelii.. Aauhh hekk.. Hekk”, entah sudah berapa kali Dona meraung nikmat kegelian namun tak kuhiraukan. Aku menjadi egois menuruti nafsu keinginanku saja. Nafsu apa ini? tak seperti aku yang biasa.

“Dan.. Dann..dann.. Akuu. Aahh akuh auhtt stt.. Ampunn.. Ga kuatt ahhahh Dan. Iniih mauh auuh nyampai lagii ahh auhh”, Paha Dona berusaha menjepit kepalaku saat gelombang orgasm keduanya bergulung-gulung siap meledak.

Settt..
Dengan sangat tiba-tiba kuhentikan semua aktifitas rangsanganku pada Dona. Otomatis mendadak pula gelombang orgasm yang akan segera hadir seperti terkebiri. Gejolak itu terhenti. Aku tersenyum menyeringai dengan puas karena telah berhasil membuat Dona terkatung-katung di lautan birahi tinggi tanpa eksekusi.

“Ohhhhhh. Shiiit Dan.. Mbencekno koenn.. Auhhh ga enak bangett koyok digebuki wong sak pasar.. Huufft.. Uhh uhh..haisst.. Hah hahh hah”, (Ohhhhh. Shiiit Dan.. Rese’banget sih kamu. Auhhh ga enak banget kayak digebukin orang sepasar.. Huufft.. Uhh. Uhh.. haisst.. Hah hahh hah) rasa aneh dan mengganjal terlukis jelas di wajah Dona yang memerah. Laksana pedang yang terhunus menebas mangsa, namun menyisakan luka tanpa meregangkan nyawa. Cukk.. Asli kentang ndeng..! (Anjrit.. Beneran nanggung be’eng..!).

Tak menunggu Dona menurun birahinya, aku langsung berdiri dan melesakkan batang kokoh berurat menembus vegy Dona. Setengah bagian langsung tertelan bibir berkedut tersebut.

“Dannnn… Damn..hekkkh”, Dona kontan mendelik luar binasa tatkala mulut imut nun jauh dibawah sana sekonyong-konyong disumpal oleh ‘pisang panas’ yang gede pun juga panjang.

Sisa setengah batangku ingin rasanya kulesakkan seluruhnya ke rongga berdaging lembut milik Dona. Namun sepertinya lobang nikmat bin vegy Dona masih cukup asing menerima benda berhelm dengan ukuran extra. Ia butuh beberapa saat lamanya untuk relaksasi penyesuaian.

Kudiamkan sejenak konT ku terbenam tanpa gerakan di dalam sana. Setelah beberapa menit berlalu kuamati wajah Dona mulai terlihat rileks dalam keadaan setengah batang berujung bundar berlogo ‘sedaap’ ada di dalam bibir berdaging lembabnya. Dengan perlahan kugoyang kembali torpedo ku untuk dapat beringsut masuk lebih banyak. Pelan tapi pasti liang Dona mampu menelan senti demi senti. Saat tersisa sekitar 2 sentian, kudorong keras konT menerobos masuk hingga terasa mentok se mentok-mentoknya.

“Hupppss.. Ehhhmm.. Stt”, Dona menahan nafasnya sejenak untuk merasakan siksaan nikmat saat batang perkasa kuhentakkan.

“Hemmmh.. Penuh bangeeth sayaang kontool kamuu dii anuku.. Owwhh gilaa.. Sampai mentok di rahimm.. Auuhh Dann..”, Saat Dona telah mampu merancau, maka telah tepat saatnya kuhidangkan menu utama sebagai titik puncak percintaan.

Kutarik dan dorong batangku menciptakan gesekan nikmat bagi kami berdua. Kupercepat tempo permainan. Posisiku yang bertumpu lutut tepat di depan bibir vegy Dona semakin mempermudah sodokanku. Formasi 31 yaitu berupa 3 kali tusukan pendek setengah batang disusul 1 sodokan batang penuh yang kupelajari dari buku Mr. Boyke kulakukan berulang-ulang seiring tempo sodokan yang semakin cepat dan berirama. Tak ayal Dona yang tergantung ditepian puncak orgasm dengan bibir rongga yang maksimal sensitif menjadi kelabakan menerima permainan indahku.

“Ehmm iyaa Dan..ehh ehh ehh.. Mantaaap..aku suk..suka gayaa mainn mu.. Ahh ahh aausstt ah”, kalimat-kalimat birahi terkumpul di benak Dona dan terlantunkan binal melalui mulutnya yang merintih.

Slepp slep sleppp blesss..
Irama permainan yang kubuat diikuti goyangan terlatih pinggul Dona yang bergerak berputar menciptakan perpaduan gerakan nikmat bersama.

“Ouhh Donaa.. Pinterr banget kamu goyangnya..ooufft”, aku bisikkan mantra mesra melambungkan hati pemilik tubuh sintal dihadapanku.

“Hhufftt Dann.. Akuu mauu nyampai.. Ahh ahhh aaahhhhhh”, baru beberapa menit sodokan kulakukan, namun Dona yang sedari awal menyimpan ‘tunggakan’ orgasm telah mencapai klimaks yang kedua. Kaki mulusnya mengunci erat kedua pinggulku dan berusaha menarik agar batang botak tersodok semakin mentok ketat. Kehangatan cairan orgasm mengulum hangat batang konT yanh masih tegak tanpa ada tanda-tanda akan meledakkan lahar.

“Uwiss.. Mandeg sik yooh Dann.. Lemessh banget rasanee.. Ehhm ehmm”, (Sudahh.. Berhwnti dulu yaah Dann.. Lemess bangett rasanya.. Ehmnn ehmm), sisa tetesan air cinta dalam liang kenikmatan Dona melemahkan stamina janda muda jempolan tersebut.

Aku tersenyum sejenak seolah mengiyakan permintaan Dona, namun perkiraan itu salah. Dengan paksa kuputar tubuh Dona membentuk gaya nungging ‘doggie style’ dan tanpa ampun kupompa lagi dengan rpm tinggi.

“Hoiistt Dann.. Ashhh aah asss ampunn hekkk.. Hekk lemess Dann..”, teriakan Dona tak pun aku indahkan, sebaliknya sodokan semakin kuat terhentak menghujam lobang basah berkedut Dona.

Orgasm kedua Dona yang baru saja usai memuncak dengan cepat segera disusul ngilu nikmat berikutnya menghantar gelombang orgasm yang ketiga.

“Daann.. Sayanghh.. Akuu ngiluu aahh auuhh ga kuatt uppss ahhh sayanhg aku nyammpai lagihh.. Ahahhhhhh”, teriakan Dona yang mencapai puncak tak mengurangi tempo tusukanku. Kecepatan maksimal menuruti dorongan syahwat yang menggebu ingin segera mendapati ejakulasi yang masih kucari.

Kulihat Dona sudah begitu lemas dalam kepasrahannya. Akupun merasakan kedutan halus pada batang konT yang menandakan aliran sperm akan segera menghambur keluar.

“Donaa.. Ayoo madep (menghadap) sini.. Ahhhhh”, kukocok batangku dengan cepat menggunakan tangan sembari mengarahkan ujungnya memasuki bibir Dona yang terbuka.

Croottt crottttt crottttt
Semburan sperm tak terbendung menyemprot dot com deras memenuhi mulut Dona. Ia seketika terkejut dan beranjak menarik bibirnya agak menjauh. Namun kupaksa kepala Dona kembali pada posisinya sehingga akhirnya Dona menerima saja cairan lengketku menyedak mulut dan kerongkongannya.

“Telan semua!”, perintahku pada Dona sembari cengkraman jari menekan kuat kedua pipinya. Dengan susah payah Dona menuruti permintaanku.

——-

Udara dingin terasa menusuk tulang. Suara kokok ayam jantan bersahutan di kejauhan menandakan pagi akan segera hadir menyapa penduduk Surabaya dan sekitarnya.

Aku terjaga dari tidur. Kulihat Dona masih bertelanjang bulat dengan posisi memeluk erat tubuhku. Kulihat jam dinding kamar menunjukkan pukul 4 dini hari. Oh.. Aku telah terlelap tidur setelah tadi malam kelelahan bertempur dengan wanita yang sekarang sedang memelukku.

Kesadaran seutuhnya telah kembali datang mengisi terumbu otak. Keningku berkernyit memikirkan hal janggal yang terjadi tadi malam. Sepertinya Dona telah memberikan suatu obat tertentu yang akhirnya membuatku hilang akal dan tak terkendali. Ehmm.. Aku baru ingat, kemungkinan besar Dona membubuhkan sesuatu pada es jeruk yang kuminum.

Tumbuh satu penyesalan dalam dada. Diluar itu, kepuasan syahwat turut kurasakan mengisi kerontang jiwa yang tak memiliki tambatan hati. Aku terdiam menerawang. Kupandang langit-langit kamar dengan pikiran kosong.

“Lho Dan kok kesusu?”, (Lho Dan kok buru-buru?) Dona terbangun saat aku beranjak berdiri mengenakan seluruh pakaianku. Tatapanku berubah menjadi dingin kearahnya. Aku hanya tersenyum tipis tanpa membalas ucapan Dona.

“Aku moleh sik..!” (Aku pulang dulu) ucapku pendek bernada kekecewaan. Dona hanya diam memandang tanpa berani menahan.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler