. Status Berkelas Part 3 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 3

0
82

Status Berkelas Part 3

Goyah 2

POV Nada

Sehari setelah acara beli membeli gorengan dengan extra pelototan mata, aku mampir kembali kerumah Hajar karena kebetulan aku sedang ke supermarket membelikan kebutuhan dapur mama di bilangan jalan Dharmahusada (yang suka kluyuran di surabaya pasti tahu lah supermarket di pojokan jalan situ, iya bener yang arah kalikepiting). Rumah Hajar tidak terpaut jauh dari situ, di kawasan Dharmahusada Indah. Sebuah wilayah perumahan elite nan guede-guede.

“Gimana kabarnya jeng?, putra ne piro saiki?. Lama tidak ketemu ternyata njenengan sudah keriput ya…?! Hahaha”, selorohku kepada Hajar sesaat setelah menghempaskan buah pantat molek ini di kasur springbed Hajar yang empuk tapi bukan kapuk :p

“Wah.. Baik bu Nada, anak saya baru 1 lhoo..ohya, saya denger anak njenengan sudah selusin ya? Waww.. nyangkul terus kayaknya bu Nada ini !, tuh tetek gede sampe kendor gitu. Kebanyakan nenenin anaknya atau bapaknya yang rakus tuh???! Hihihi”, balas Hajar lebih sadis melebihi ledekanku.

“Ih ga papa lagi kalo cuman kendor, nah punya njenengan.. udah kecil, kendor, keriput lagii.!? Wkwkwk”, tak mau kalah ku ladeni balasan Hajar dengan lebih sengit.

“Yee ojok ngawur koen!, enak ae kecil, montok tauu!”, Hajar akhirnya menyerah. Hahaha.. Kamipun tertawa lepas mengingat kekonyolan kami barusan.

“Eh Nad, beneran deh gorengan yang kemaren itu sedap bener. Udah kriuknya ga alot, bumbunya juga berasa merasuk banget dan pas gitu komposisinya. Bonyok n adikku malah rebutan tuh semalem akyu sisain setong hehe”, Hajar bercerita tentang pengalaman sedapnya bersama gorengan yang kubungkus kemarin.

“Wihh tego koen yo, mosok ortu cuma disisain satu thokk..!”, ucapku menimpali.

“Yaa gimana atuh neng.. Abis enak bengit gitooh hehe”, lanjut Hajar membela diri dengan logat sok kejakarta-jakarta-an, padahal bagi orang jakarta sana tuh tetap aja kita ini dibilang udik. Fiuhh..

“Oya Jar, tuh penjual gorengan handal banget lho. Ilmu kanuragannya banyak kayaknya. Piawai banget dia menjalankan usahanya!”, kusampaikan penilaianku terhadap sang penjual gorengan tentang kemampuannya dalam berbagai hal yang kunilai diatas rata-rata penjual pada umumnya.

“Dia ahli silat dengan ilmu kanuragan bejibun gitu maksud kamu say??”, Hajar bertanya balik dengan wajah bengong yang memang beneran ga mudheng atau juga bisa jadi dia belaga bego buat ngisengin aku.

“Bukan itu paijem dodolll!, maksudnya tuh dia ahli banget di bidangnya!”, sergahku sedikit jengkel melihat aksi kebegoan yang dilakukan Hajar.

“Iyo iyo Markonahh.. Jangan marah gitu dong ning cantik. Bikin tambah bengkak tuh buah dada gede nya kalau kebanyakan marah!”, canda Hajar berusaha mengobati kejengkelanku.

“Ga ada hubungannya kalee hehe. Eh tapi beneran lho itu tadi si penjual menurutku. Sempat sih aku mikir kira-kira apa kita ambil aja ya dia jadi salah satu tim di perusahaan kita..??!”, kembali ku ajak Hajar untuk membicarakan hal yang kuceritakan ke dia dari awal tadi.

“Ehemm.. Ikii kiro-kiro ada tendensi pribadi ga yo??”, komentar Hajar yang seolah menyadarkanku bahwa aku kenyataannya terlalu jauh mengagumi kemampuan si panjual gorengan.

“Aduh kenapa aku jadi gini sih. Apa iya aku naksir si pangeran gorengan itu??, wah kalau bener kejadian begitu bisa terjadi huru-hara nih di rumah. Papa Mama mana setuju kalau ketemu cowok sederhana seperti ini.. Aduh pusing nih jadinya kepala”, lamunku menerawang mencari-cari apa yang sebenarnya sedang ku rasakan.

“Woyy, ngelamun aja!”, teriak Hajar ditelinga mengagetkanku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Kamipun melanjutkan obrolan kesana-kemari. Biasalah namanya cewek ketemu cewek pastinya segudang obrolan selalu ada dan selalu menarik untuk diobrolin. Apalagi Hajar adalah tipe cewek agresif yang selalu saja mempunyai inisiatif duluan untuk membuka obrolan ataupun menanyakan sesuatu. Yang dulunya aku ini tergolong agak pendiam, setelah akrab dengan Hajar eh ketularan juga akhirnya. Namun memang tak kupungkiri, kehadiran Hajar memberikan penularan ‘agresif’ ini telah merubah kehidupan personalku yang sebelumnya lebih murung dan kurang berwarna berubah menjadi ceria dan selalu asyik.

Dalam hal pekerjaanpun Hajar memberikan warna tersendiri. Agresifitas dan reaksi spontannya mampu membentuk sistematika kepemimpinan yang tegas dan korektif. Tentu saja hal itu sangat dibutuhkan mengingat para punggawanya adalah kaum adam semua kecuali kami yang mana memerlukan sedikit sentuhan ‘galak’ agar mereka segan. Tapi pastinya galak yang mendidik dan membimbing, bukan galak yang arogan dan sok bossy.

“Say, jujur kacang ijo.. sebenarnya aku juga seneng lho sama kualitas gorengan yang kemarin itu. Pas dan enak emang. Malahan ini papa minta tolong aku buat hubungi kamyu untuk minta tolong pesen gorengannya. Papa kan minggu depan ada reunian gitu di rumah sama beberapa teman kuliahnya..”, kembali Hajar membuka obrolan seputar gorengan gorengan dan gorengan. Sepertinya kami telah terbius gorengan hihihi.

“Woo..dikandani kok..! Ancen bener kataku soal gorengan itu kan?”, sambutku merasa menang.

“Iyo lek masalah gorengane!, tapi bukan penjualnya. Aku kan belum tahu tuh seperti apa modelnya dia! “, lanjut Hajar lagi yang akhirnya membuatku memiliki ide cer-mer-lang.

“Eh Ngene ae lek ngunu Jem.. Besok kita pesenin permintaan papa kamu sekalian kamu ikut buat kenalan sama dia.. Gimana?”, kuberikan satu ide dan Hajarpun menyetujuinya. Kamipun bersepakat untuk kesana besok pagi-pagi sebelum ke kantor.

“Mwuahh.. Makasih ya say cantik udah mau bantuan request keluargaku..Ihh kamu baik deh hihihi”, tiba-tiba Hajar yang duduk disebelahku mencium pipiku sambil mengucapkan terimakasihnya atas bantuanku.Tak berhenti disitu, Hajar dari arah belakang punggungku juga tiba-tiba melingkarkan tangannya, satu tangan masuk di sela ketiakku dan kemudian meremas kedua bongkahan dada indahku dengan gemas.

“Hoii.. Aku normal jem. Sori yo, ga lesbong aku iki!”, kuterkejut dan reflek sedikit membentak atas perlakuan Hajar yang kelewat aneh.

“Iya aku ngerti say. Mok kiro aku lesbong pisan ta? Sori eh, aku juga normal!”, jawab Hajar tidak mau disalahkan.

“Lha lapo kok nyemek-nyemek susuku barang?”, masih dengan nada sewot ku semprot lagi si Hajar yang nampaknya masih saja belum merasa bersalah.

“Sabar tooo. Koen normal aku yo paham kok. Iki cuman ungkapan rasa sayang sebagai sahabat. Gemes ngunu lho Nad ndelok susumu sing guede iku. Kudu nyuwol ae rasane hehe”, lanjut Hajar dengan terkikik sambil melihat solah polahku yang terlihat risih.

“Emang koen kadang ga ngeroso geli ta?, atau pernah membayangkan diraba cowok gitu?. Wis talah percoyo aku. Ayo kene tak bantu buat mengobati rasa geli mu. Sekalian biar kamu seneng. Kan nyenengno konco kuwi pahala too?”, ungkap Hajar lagi. Aku hanya tertegun tak bisa menjawab. Di satu sisi aku merasa aneh dan tidak biasa menghadapi situasi sesama cewek seperti ini, namun disisi lain aku juga mengiyakan kata-kata hajar bahwa memang aku kadang secara normal merasakan geli dan keinginan belaian.

“Wis talah, manut o ae yo nduk, aku ga bakal melakukan perbuatan yang melampaui batas. Nurut aja sini, aku cuman ingin menyenangkan kamu say”, ucap Hajar lagi. Akupun tak bergeming untuk melakukan penolakan dan secara naluriah menuruti apa yang diinginkan sahabat terbaikku itu.

Perlahan ia ajak aku berdiri di tepi ranjang namun dengan menghadap cermin. Aku hanya berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Dengan hati-hati Hajar membuka kancing kemejaku satu persatu hingga terbuka keseluruhan kancing itu.

Sesekali ia mencium pipi dan daguku dengan penuh rasa sayang. Aku mengartikan ini sebagai rasa sayang seorang sahabat sejati. Bersamaan dengan ciuman yang kesekian kali, ia meloloskan kemejaku hingga terjuntai ke lantai. Berdesir rasanya darah mudaku mendapati kejutan langka ini.

“Tuh say lihat ke cermin, kamu itu seksi dan montok.. Pede dong cari pacar sana. Mosok isih jombooo ae!”, bisik Hajar di telingaku. Rasanya sungguh geli meresapi sapuan nafas Hajar yang membelai lembut telinga dan tengkungku.

Kuperhatikan cermin di depanku. Tak salah jika Hajar berkata demikian, nun jauh di dalam cermin kulihat tubuhku yang menggunakan bra hitam pekat terlihat begitu menggembung indah dibagian dada. Balutan Bra cup C yang kupakai seperti tak kuasa menyangga bongkahan sekal yang ada di dalamnya. Meski di bagian bawah masih tertutup rok umbrella bermotif bunga-bunga yang sedikit diatas lutut, namun hal itu tak mampu menutupi keindahan tubuhku yang terlihat begitu menggiurkan syahwat.

Aku menyadari bahwa bentuk dan ukuran buah dada ku terbilang terlalu besar dan kurang proposional dibanding bentuk badanku yang ramping ini. Begitu juga bongkahan buah pantatku terkesan lebih membulat meski ujung kaki cukup jenjang dan ramping. Namun tetap kusyukuri ini sebagai anugerah yang Maha Hebat dan tentu saja memiliki kelebihan tersendiri.

Ceklikk..
Tanpa permisi Hajar membuka kaitan bra yang melingkar di punggung mulus putihku. Dan lagi-lagi aku hanya mampu terdiam terpaku.

“Sstt.. diam dulu ya sayang. Nikmati aja..!”, seakan tahu maksudku telunjuk Hajar ditempelkan ke bibir seksi yang sedikit terbuka dan dengan terbata akan kuucapkan sesuatu. Kuurungkan kembali niat dan kembali kututup bibir mentaati Hajar.

Sekali tarik terlepaslah buah dada ranum dari sarangnya. Kini buah besar itu menggantung bebas tak berpenghalang apapun. Tubuh semampai dengan kulit yang mulus, putih, dan lembut berpadu indah dengan tonjolan dua bukit montok terlihat jelas di cermin dan sungguh seksi.

Tanpa terkira ternyata Hajar menuntunku kembali ke ranjang dan kemudian mendorong lembut bahuku untuk tidur bertelentang. Dalam hitungan detik setelah direbahkan tubuh indah ini di ranjang tahu-tahu jemari Hajar telah hinggap di puncak bukit dadaku. Ehmm.. Aku mendesah pelan merasakan pijitan ringan di dadaku itu.

Dengan sangat lembut Hajar memposisikan jari telunjuk dan jempolnya tepat di puting dadaku dan kemudian memilinnya.
Sssst eh.. Seketika aku memekik halus merasakan rasa geli yang aneh menjalar dari dadaku dan merabat rasanya kesekujur badan.

Pilinan itu yang awalnya lambat semakin lama bertambah semakim cepat dan cepat.
Sttt.. Aihh.. Eh eh.. Mataku mendelik menerima rangsangan jemari Hajar. Punggungku terangkat-angkat keatas seiring dengan irama pilinan itu seolah tak ingin Hajar menghentikannya. Sepersekian detik berselang kurasakan puting sebelah kiriku seperti ada sesuatu yang basah dan menyedot-menyedot. Kulirik bagian dada dan kulihat bibir mungil Hajar telah singgah disana sambil tetap tangan kanannya memilin dengan tempo cepat buah dadaku bagian kanan.

“Ehmm.. Jar.. Sttt kaamu apakan putingku.. Gelii banget jar. Aduh rasane sttt eh.. ya’opo ngunu aku bingung.. Ehh tapi enak jar.. Stt”, bibir ini merancau tak karuan. Pikiran terasa begitu fly dan ringan. Seluruh aliran darahku terasa begitu lancar dan hangat.

Hajar berhenti sejenak. Aku tertegun seperti merasa tak ingin Hajar menghentikan semua ini. Dalam diamku, Hajar beringsut ke bawah. Ia dorong rok umbrella hingga naik sebatas pusar. Terlihat jelas bagian bawah tubuhku yang terbungkus celana dalam warna hitam senada dengan bra yang kupakai. Tanpa aba-aba Hajar menarik turun celana dalam itu hingga sebatas lutut. Aku terkejut seketika.

“Eh Jar, ojok ngawur koen. Aku isih perawan lhoo..!”, ucapku sedikit sengit karena khawatir Hajar melakukan hal yang terlampau batas.

“Husss..! Meneng ae talah. Tenang ae, aku ga duwe manuk kok Nad.. mosok yo iyo aku kate merkosa koen. Sante ae, ikuti permainan dan hiburan yang kusuguhkan”, jawab Hajar yang sedikit menenangkan sekaligus juga membuatku tersenyum geli mendengarnya. Diluar itu, aku pun masih sedikit was-was tentang apa yang akan dilakukan Hajar selanjutnya.

Hajar kembali ke posisi semula disampingku. Sekali ia mengecup bibirku dan kembali ia lumat puting gatal yang masih berkedut sensitif. Auhhh.. Aku melonjak kembali menerima rangsangan Hajar. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang bibir Hajar mengenyot dan dibantu dengan tangan kirinya ikut meremas bagian montok buah dada kiriku dan semakin membuat merem-melek blingsatan.

Masih menikmati kenyotan dan remasan, kurasakan tangan kanan Hajar menjalar ke paha dan seperti mendorong paha ini untuk lebih membuka satu sama lain. Kuturuti saja perlakuan Hajar dan tiba-tiba…

Hukk.. Sttt..
Hajar meraba liang kewanitaanku dan langsung menggosok tonjolan kecil yang ada di bagian bibir sebelah atas lubang itu.

Aduuhh.. Stt.. Ehh eh
Aku mendesis dan mengaduh keenakan tanpa rasa sungkan. Semakin lama terasa semakin geli dan menggairahkan sekali.
Hheeh uh.. Sstt…
Perpaduan hisapan puting, remasan, dan juga gosokan di tonjolan klit terasa begitu membuatku melambung tinggi. Pikiranku melayang tanpa arah. Kepalaku terlontar ke kiri dan ke kanan meresapi gelegak nafsu yang menjalari setiap inchi tubuh, terasa geli dan ngilu hingga ke tulang.

Hahh sst.. Auh..Jarr.. Ehmm eh.
Aku terus merancau tak terkendali. Suaraku terdengar begitu seksi dan binal.

Auhh auhh Jarr.. emmm mwwuhh
Tak menunggu lama, tubuhku mengejang dan mengejan. Dengan sigap Hajar meraih bibirku yang seksi dan melumatnya dengan penuh penghayatan. Bersamaan dengan itu kurasakan geli yang teramat sangat dibagian selangkangan. Tubuhku menegang kuat, mataku mendelik lebar, punggungku terangkat dengan tinggi. Sedetik kemudian selangkanganku terasa berkedut dengan cepat dan semakin cepat.
Ehh emmm emmm..
Aku tak mampu berteriak lebih banyak lagi karena bibir Hajar masih menyumpal erat bibirku. Srettt.. Serrr serr.
Kurasakan sesuatu memancar dibawah sana. Tubuhku melonjak tak terkendali. Kuresapi sekian detik berjalan dengan begitu nikmat.

Aku mengejan yang terakhir kalinya dan kemudian tertelentang lemas. Hajar menarik bibirnya menjauh dan kemudian duduk di sampingku dengan senyuman genitnya.

“Edann kamu Nad. Tuh lihat sprei ku jadi basah gitu. Kamu bisa squirt juga ya ternyata. Hebat..hebat..Itu tandanya kamu sebenarnya punya libido besar. Tapi kamu cukup hebat menyembunyikannya hihihi”, ucap Hajar dengan terkekeh. Aku hanya terdiam tersipu tanpa mengucapkan apapun. Kunikmati sisa-sisa tetes orgasme ini sampai habis.

“Jar, gantian yuk. Kamu pasti juga pingin di hibur kayak gini kan?, halahh.. Kamu juga jomblo gitu !”, kutawarkan hal serupa ke Hajar setelah kurasakan tenaga sudah pulih seperti sediakala.

“Wis talah mene-mene ae gak popo. Ini tadi kan aku pingin menyenangkan kamu. Lagian kita bukan lesbong kan?, jadi tak perlu lah gantian segala. Besok-besok aja lek aku butuh bantuan dan merasa libido lagi tinggi yo tak kandani. Saling bantu gitulah say namanya sahabat!”, tolak Hajar ketika mendengar tawaranku. Aku hanya bisa tersenyum sayang kepada sahabatku itu. Kami begitu bisa merasakan satu sama lain laksana saudara meski kami berasal dari keluarga yang berbeda.

——–

Ceria..
Adalah jalan yang kutemukan,
Kebersamaan itu kuraih,
Bagai satu tubuh,
Satu hati,
Saling..
Bergandengan bersama,
Bersaudara..

Sahabat..
Hanya bila dan jika,
Tertatih bersama,
Riang bersama,
Menyusun kerangka persaudaraan,
Tersenyum untuk saudaranya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler