. Status Berkelas Part 2 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 2

0
55

Status Berkelas Part 2

Goyah 1

POV Dana

Sunyi..
Sepi udara pagi,
Rendah rumpun padi,
Elegi sebuah imaji,
Rintih hati..

Sengau..
Sendu meranjau,
Kara sebatang pilu,
Samar pengayun kalbu,
Menyimpan rindu,
Bisik parau..

Gelegar..
Mata hati nanar,
Gerak gapai binar,
Merenggut bingar,
Sinar..
Jatuh turun membawa pijar,
Tak ingin kelakar,
Tak pun terkapar,
Hanya bersandar..

Lembut melati..
Semerbak hari..
Mengais mimpi.

(By : Nandana)

Guratan pena terlukis tegas di lembaran ke sekian dari buku kumpulan puisi karanganku. Pena ini terus menari menumpahkan isi relung jiwa, tertuang dalam bait-bait makna.

Yah.. Selain hobi bermain pingpong, dan tentu saja juga hobi memasak, satu lagi hobiku adalah menulis puisi. Berlembar-lembar kertas dalam buku ini telah kubanjiri deras aliran perasaan.

Berkaitan dengan lembaran itu, sebanyak lembar itu pula telah kutulis ragam resep masakan dari ibunda tersayang sebagai bentuk upayaku menekuni hobi.

Jangankan sekedar gorengan, pesanan ragam masakanpun siap ku lahap. Tak terkecuali pesanan suguhan kawinan kelas premium hingga kelas platinum, maupun event seremonial seperti Aqiqah.

Setiap harinya, aku melayani pesanan catering bulanan. Terkadang juga mendapatkan pesanan makanan mewah yang ku iklankan online di medsos-medsos. Sering pula datang pesanan kue untuk kebutuhan lamaran atau juga sekedar camilan keluarga. Kesemuanya itu kupelajari lama dengan cara terbiasa mendampingi dan membantu ibu mengolah berbagai bahan pangan sejak aku masih berumur SD. Untuk menyiasati waktu, biasanya ku atur jadwal masakan di pagi dini hari setelah subuh dan sore hari selepas berdagang gorengan. Namun itupun case by case dengan melihat sikon dan kondisional.

Kenapa bukan ibu yang mengerjakan?, ehmm.. Karena ibu adalah sosok mulia yang sepatutnya aku berbakti kepadanya. Biarlah ibu dan bapak duduk bersantai meredam lelah letihnya yang selama ini telah merawat dan membesarkanku serta adik hingga kini. Biarlah aku yang akan berjuang untuk mereka.

Kembali dalam renungan bait puisiku. Tak kupungkiri bahwa sejak pertemuan dengan si gadis cantik pembeli gorengan tempo hari telah membuatku terbayang-bayang. Meski telah kutepis mengingat strata sosial kami yang berbeda namun tetap saja rasa ‘ingin’ itu masih ada. Semakin kutepis semakin pula ia menghujam ke jiwa, membetot seluruh perhatianku, nalarku, perasaanku hingga terkapar tak berdaya terhempas ke lubuk kegundahan yang tiada bertepi.

“Duh Gusti.. Kawulo nyuwun pinaringan kuat”, rintih hatiku.

——-

Pagi menjelang, mentari belum terlalu terik menghantarkan sinarnya yang kekuningan. Aku telah bersiaga di depan daganganku seperti biasa. Pagi ini kusengaja berjualan lebih pagi daripada biasanya hanya untuk mencari kesibukan ketimbang terus menerus ku melamun dan berkhayal pada sang gadis pembetot sukma.

Belum lama berselang, suatu yang terjadi diluar dugaanku. Mobil Lexus putih yang berpengemudi dewi pembetot sukma tiba-tiba kembali berhenti di depan daganganku. Hatiku sontak berdegup kencang. Akupun juga bingung atas perubahan diri ini yang seakan berharap sesuatu namun seolah masih begitu jauh dan tinggi.

Si gadis yang kumaksud telah turun dari mobilnya, tapi ia sekarang tak sendiri. Ia ditemani seorang dara yang tak kalah cantik dan terkesan imut seperti boneka barbie. Kebat-kebit rasanya hati ini melihatnya melangkah semakin lama semakin dekat.

“Pagi mas.. “, ucap gadis pelangganku sambil tersenyum yang lagi-lagi menurutku sungguh muanisss sadubilah.

“Pa.. Pagi mbak, selamat datang.. Ada yang bisa saya bantu?”, sambutku agak tergagap dan sangat malu-maluin menurutku.

“Mas masih inget saya kan?, yang beli gorengan tempo hari itu lhoo.. “, Lanjutnya dengan mata berbinar. Plasss.. Hati ini rasanya mak plass melayang-melayang gimanaaa gitu melihat sorot binar matanya hehe.

“Ehmm yang mana ya? Sik sik sik.. Ohh..yang sendirian beli 7rb itu ya?.. Iya iya saya baru inget, maaf mbak kebanyakan yang beli jadi ga bisa ngenalin satu-satu hehe”, gayaku sok lupa-lupa ingat mirip lagu grup band kuburan. Padahal sebenarnya super grogi tingkat dewa.

“Jadi gini mas.. Eh sebelumnya kenalin, aku Nada.. dan ini temanku Hajar”, Kujabat tangannya yang woww hualus bener bro. Aduh puyeng jadinya.

“Saya Dana mbak.. “, balasku sembari saling berjabat tangan.

“He’eh.. Dana… Nada.. Kok mirip yaa?, haisst pasti akan jadi kisah panjang nih!”, gadis yang bernama Hajar tiba-tiba turut nimbrung berkomentar yang akhirnya membuatku agak tersipu. Mungkin kalau di foto, wajah ini sudah berubah warna dan berasap seperti kacang rebus kali yaaa..

“Hussst apaan sih?, udah deh jangan nyamber aja kayak gledek !”, tangkis si gadis cantik yang ternyata bernama Nada dengan sewot dan bermimik manyun. Lucu banget kelihatannya.

“Jadi begini mas, ini barbie dodol katanya kesengsem sama rasa gorengan yang saya beli dari sini kemarin, bahkan sisa 1 biji malemnya diserbu bokap nyokap dan adiknya. Katanya huenakk gitu. Nah terus ini rencananya besok minggu depan kan bokapnya dia mau ada acara reunian, yahh mau pesen ke mas gorengannya!”, Nada menyampaikan panjang lebar perihal maksud dan tujuan mereka pagi-pagi sudah nangkring di lapakku.

“Eh tapi kamyu aja say yang ngurusin pesenan ini yah.. Secaraaa kan gue punya kerjaan nih, nanti kena semprot si bos bawel kalau ane malah ngurusin gorengan!”, potong Hajar lagi yang kesannya memang tipe wanita yang lebih agresif dibanding Nada.

“Bawel apaan? Enak ajaa!, ya udah deh mas ini nomer hp saya tolong di save, ada wa nya juga kok. Misscall balik or ping wa saya ya. Nanti kita bicarakan lebih lanjut. Kami buru-buru soalnya, kerjaan lagi numpuk!”, dengan sewot nan jenaka Nada menyenggol tubuh Hajar hingga terhuyung dan hampir menggulingkan sepeda motor Prima ku dengan sukses, untungnya ia sempat menjaga keseimbangan diri serta terbantu posisiku yang mendorong balik sepeda motor agar tidak terjatuh. Tapi Hajar bukannya marah karena didorong hingga hampir jatuh, sebaliknya ia malah terlihat cengengesan sambil matanya pecical-pecicil meledek Nada dengan mata di genit-genitkan.

Nada semakin manyun tak terkendali. Sembari cemberut ia berkata “Yo wis lah mas saya pamit dulu, buru-buru nih mo mulangin dia ke kandangnya di Bonbin biar tidak meresahkan warga!”.

“Yee.. Boss kira gue ni kunyuk ape??!, ya deh pamit dulu ya mas, awas jangan lupa pesanan gorengan Hajar minggu depan!”, imbuh Hajar berpamitan sekaligus mengomentari statement Nada yang memperkunyukkan dia.

Mereka berbalik arah dan berjalan menuju mobil. Darah ini kembali berdesir berirama saat tanpa sengaja melihat bongkahan daging lembut di belakang mereka yang bersendul berirama seiring langkah kaki. Rok tipe umbrella berbahan ringan diatas lutut mereka juga melambai mempertontonkan warna-warna lembut kulit indah surgawi yang semakin membuat desiran darah terasa deras mengalir mengisi buah kejantananku hingga keras.

“Nadyan siro paribasan dumunung soko keraton solo, aku ora bakal leno”

Next.. Masih ada Scene 2 untuk Bagian 2 ini.. Comming su’un..

—–

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part