. Status Berkelas Part 16 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 16

0
59

Status Berkelas Part 16

Kesempitan dalam Kesempatan

—–

Himpitan tubuh dua insan nampak begitu rapat. Meski pakaian masih melekat pada tubuh keduanya, namun pergesekan ketat tubuh akan melahirkan letupan-letupan hasrat yang mendidih. Panas merasuk menyusup kuatkan alur laju darah mengisi setiap saraf kejut dibalik lipatan kulit.

Indra maupun Najar masih terdiam membisu dalam posisi Indra memeluk Najar dari belakang. Kedua lengan Indra melingkar menggamit erat pinggang Najar. sokongan sekal buah pantat Najar terasa mendesak dalam himpitan pelukan. Pun juga batang tempur Indra terasa kian pejal menekan-nekan mencari ruang. Tak pelak, keduanya tentu sama-sama merasakannya.

“Ehmm mas In, aku oleh jujur ta?, tapi aku isin sakjakno”, (Ehmm mas In, aku boleh jujur kah?, tapi aku malu) Najar membuka percakapan setelah sekian saat berselang dalam diam.

“Hemm..iyo onok opo?, ga usah isin lah Na..”, (Hemm..iya ada apa?, tak perlu malu lah Na..) jawaban lembut dan tenang dari seorang Indra yang biasanya lebih terkenal ngocol bin cablak.

“Yopo yo.. Ehhm..anu..ehm..mas kok aa..aku koyoke ..enn..nn..naksir pean yo??!!”, (Gimana ya.. Ehmm..anu..ehm..mas kok aa..aku koyoke..en..nn..naksir kamu ya??!!) susah payah Najar berusaha agar bisa berani mengungkapkan perasaannya. Kalimat ucapan Najar tersendat terbata seiring dengan hiruk pikuk dalam benaknya yang penuh kecamuk malu, grogi, takut, rasa bersalah, cinta, benci, nafsu, rindu, dan berbagai pikiran lainnya. Sejenak wajah Dion melayang melewati nanar tatapan mata. Sekilas kemudian berganti wajah Indra yang melayang membawa kebimbangan.

“Aku yo ngeroso podo Na. Mosok kok iyo aku nggendengi bojone uwong?. Tapi yo yo’opo yo jenenge seneng. Trus iki yo’opo terusane cobaa??”, (Aku juga merasakan hal yang sama Na. Apa iya aku suka sama istri orang?. Tapi ya namanya suka mau gimana lagi. Lalu ini gimana kelanjutannya??) Indra menanggapi serius ucapan Najar. Nampaknya rasa cinta yang tumbuh bersemi di hati Najar tak bertepuk sebelah tangan.

“Aku mudeng mas lek posisiku ancen angel. Tapi lek misale aku milih pean, yo jelas aku kudu njaluk pegat sik nang bojoku. Yo iku resiko ku mas..hahhh”, (Aku paham mas kalau posisiku memang sulit. Tapi kalau misal nih aku pilih kamu, ya jelas aku harus minta cerai ke suamiku. Ya itu resiko ku mas..hahhh) helaan nafas Najar menandakan ia sedang menghadapi satu kerumitan. Jalan perjodohan manusia memang penuh misteri. Tak sedikit didapati dua insan sejoli menemukan jodoh sejatinya setelah ia melewati jalur harus menikah dengan orang lain dahulu. Yaa tentu jangan diniatkan mempermainkan pasangan. Jika merasa tidak ada kecocokan satu sama lain, mungkin jalan perpisahan akan lebih baik buat keduanya.

“Sek ta Na. Lha koen njaok pegat iku duwe tuntutan opo?, lek rumah tanggamu adem ayem ae yo jelas angel diproses hakim”, (Sebentar Na. Kamu minta cerai itu punya tuntutan apa?, jika rumah tanggamu baik-baik saja ya jelas akan sulit diproses oleh hakim) kernyit kening Indra seperti sedang merisaukan apa yang ada di benak Najar.

“Ngene lho mas.. Bojoku iku ancen wes kenemenen mas. Pean ae sing ga eruh. Aku blas gadhas ga tau diblanjani. Iku seng pertama. Seng kedua, bojoku iku pol egois e lek masalah kelonan. Aku dianggep koyok wedokan ndoly ae. Ditumpaki, metu, wes ditinggal. Gau tau de’e iku mikir perasaanku. Opo maneh de’e iku pasukan peot. Ngerti a pean peot iku opo? Nemplek Moncrot!!”, (Gini lho mas.. Suamiku itu memang sudah kelewatan mas. Kamu aja yang ga tahu. Aku tak pernah sama sekali dinafkahi. Itu yang pertama. Kedua, suamiku itu egois banget di ranjang. Aku hanya seolah dianggap pelacur Dolly. Dikangkangi, nge-crot, lalu pergi. Tak pernah sekalipun dia memikirkan perasaanku. Apalagi dia termasuk pasukan peot. Kamu tahu apa itu peot? Nempel Ngecrot!!) Najar yang kalem seperti berubah 180 derajat. Suaranya berapi-api mengungkapkan rasa sesak yang selama ini menekan di dada. Kesabarannya seperti telah sirna. Lemah lembutnya terkebiri sikap pongah suami.

“Iyoo iyo.. Tapi tulung mikir o sing tenang Na. Hakim iku yo duduk wong ******. Kudu onok pertimbangan lengkap gae mutusno perkoro”, ( Iyaa iya.. Tapi tolong berpikirlah dengan kepala dingin Na. Hakim bukan orang bodoh. Harus ada pertimbangan lengkap untuk bisa memutuskan suatu perkara) Indra berusaha memberikan pemahaman mendasar pada Najar yang telah terlanjur tersulut api amarah.

“Yoo tak pasrahno nang Gusti ae mas yopo terusane. Paling ga aku iso ngeyel njaluk pegat nggae alasan bojo ga pokro, manuke sak emprit. Iku isok digae tuntutan tidak mampu memenuhi kebutuhan seksual suami istri.”, (Yaa aku pasrahkan Kepada Yang Maha Kuasa saja mas gimana kelanjutannya. Setidaknya aku bisa memberikan tekanan bahwa dia itu suami tak becus, burungnya mungil. Itu bisa dipakai tuntutan tentang ketidakmampuan suami memenuhi kebutuhan seksual suami istri) masih juga Najar bersikeras pada pendiriannya. Dibelakang Najar, nampak Indra tersenyum jenaka, ia sangat ingat betapa mungilnya perabot suami Najar saat mengintip bersama Dana dan Khusna waktu itu.

“Mass..wis yo ojok mbahas bojoku maneh saiki. Nggarai tambah sumpek. Dilakoni ae sik lah. Mugo-mugo cepet onok solusi gae masalah ku. Sing penting pean tetep gelem cedek ambe aku karo ngenteni palune hakim. Aku sayang pean mas..tulung ojok ngadoh teko aku”, (Mass..sudahlah jangan membahas suamiku lagi sekarang. Merusak suasana aja. Kita jalani aja dulu. Semoga segera ada solusi untuk masalah ku. Yang penting kamu tetap bersedia dekat sama aku sambil menunggu putusan hakim. Aku sayang kamu mas..pliss jangan menjauh dariku)

“Hemm.. Iya. Love u too..mwuahh”, dengan penuh rasa sayang, Indra mencium lembut rambut belakang Najar. Lilitan tangan Indra terasa semakin kuat melingkar di pinggang Najar seperti tak ingin ia kehilangan pujaan hatinya.

Disisi lain, Najar yang mendapat kecupan lembut di kepala merasa menemukan satu kenyamanan tersendiri. Perasaan Najar kembali tenang. amarahnya menjauh terbang tinggi dan digantikan oleh derai hasrat cinta yang mulai hadir kembali menyusupi hati. Perlahan Najar mulai bergerak lembut. Buah pantat sekal yang berhimpit dengan batang tempur ia goyangkan. Gerakan yang sangat pelan namun berirama. Gesekan demi gesekan tercipta dari goyangan tersebut. Hembusan angin asmara kedua insan dimabuk cinta itu terpompa. Batang kekar Indra yang serupa besarnya dengan milik Dana maupun Khusna mulai mengembang sempurna. Najar belum menyadari bahwa meriam Indra akan berbanding terbalik terhadap meriam suaminya. Ukuran yang super diatas rata-rata pastinya akan membuat Najar terpana, terpesona, ternganga, dan tergila-gila.

Tak ingin diam begitu saja, Indra bergerak untuk berani mengimbangi gesek rangsangan Najar. Kedua belah telapak tangan yang sebelumnya mengunci pinggang perlahan menjalar menanjak menyusuri bukit tinggi yang basah oleh ulah Indra.

Sedikit pelan Indra meremas kedua bukit membusung nan basah. “Ehmm.. “, Najar mengerang pelan. Hawa kenikmatan beranjak mendekati Indra dan Najar dalam kepasrahan mengikuti gerak tuntun jiwa. Hasrat menjalar menyusuri pematang hati, menuai benih harapan keindahan.

Mendapat respon erang Najar, Indra semakin berani memperketat serang remasan. Gerakan mengelus dan meremas ia kombinasikan sedemikian rupa untuk menciptakan rangsangan yang mengalun syahdu laksana nyanyian bait puisi cinta membelah keheningan belantara.

“Ehmm mass..sst”, rintihan Najar yang berawal pelan kian lama terdengar semakin nyata jelasnya. Gelegak nafsu yang tengah terpenjara seperti sedang menemukan kebebasan dari kungkungan.

Lama juga mereka saling menggesek, meremas, dan meraba. Pada menit kesekian, Najar berbalik badan menghadap kekasih barunya. Ia kalungkan mesra kedua bilah lengan putih di tengkuk lelaki yang kini hadir di antara kisah cinta Najar.

Indra bukan lelaki bodoh yang tak tahu apa keinginan Najar saat itu. Dengan keyakinan tinggi dan sangat lembut Indra mendaratkan kecupan di bibir seksi Najar. Tepat sesuai perkiraan Indra, Najar menyambut kecupan Indra dengan memberikan kecupan balik. Dari saling mengecup hadirlah perciuman bibir penuh penghayatan dua makhluk dilanda cinta tersebut. Kuluman nan lembut menyisakan lirih lenguh dan kecipak liur.

“hemm.. Ehm.. Slupp sklep” seperti itulah irama nada perciuman Najar dan Indra. Mata mereka saling menatap seperti sedang berbicara satu sama lain. Tak lama kemudian mata Najar sedikit terpejam menyisakan satu garis putih seiring dengan naiknya tempo perciuman.

Kecipak liur perciuman semakin kerap terdengar. Irama yang meninggi semakin memacu pula geliat hasrat mereka berdua. Ciuman French kiss ala internasional terjadi juga akhirnya.

Sedotan, kuluman, jilatan, dan lilitan lidah silih berganti dilakukan. Sengal nafas mulai terdengar saat asupan oksigen beranjak menurun terdesak gelora french kiss ysng terjadi. Sejenak mereka berhenti untuk menata pernafasan. Kembali mata beradu pandang. Tatapan penuh rasa cinta dan kasih.

“Na, ehmm lek tibakno anu ku cilik koyok tek e bojomu yopo?, sido ta bojomu koen pegat ? heheh..”, (Na, ehmm kalau ternyata anu ku juga kecil seperti punya suamimu gimana?, jadikah kamu minta cerai ke dia? heheh..) candaan ringan dilontarkan Indra mengisi jeda istirahat perciuman.

“Ihh..apaan sih!!??. Ga tau ah”, Najar merajuk manja dan kemudian membuang wajah kesamping menyembunyikan rasa malunya.

“Eh mas, stop sek yo. Iku masakane bapak wes mateng. Tak kongkone pak Radi budal ngeterno saiki cek ga curiga ambe awake dewe kok suwe men masak e. Pean ngleseto sik nang kamarku kono karo nyetel tipi. Mari ngene kene yo kudu rodok cepet mbalik RS cek ga kesuwen”, (Eh mas, stop dulu ya. Itu masakan buat bapak udah matang. Aku suruh pak Radi sekarang untuk berangkat ngantar biar tidak curiga dengan kita kok lama banget masaknya. Kamu rebahan dulu aja di kamar sambil lihat tivi. Setelah itu kita balik ke RS biar ga kelamaan) Najar yang telah diliputi gelora nafsu ternyata masih juga memiliki kesadaran multi tasking untuk mengamati situasi yang bisa jadi akan berubah tak kondusif jika mereka terus menerus mengarungi biduk cinta tanpa batas waktu. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan nalar Najar cukup tinggi. Wanita seperti ini biasanya sangat cocok untuk memanage pekerjaan kantoran, disamping harus pula gemulai di ranjang.

——-

Kekasihku sayangku
Ku ingin kau tahu
Hati ini ‘kan selalu
Menantikan cintamu

Kaulah yang pertama
Yang memberi arti cinta’tuk selamanya tetap di hatiku
Ingin memelukmu
Mendekap hangat cintamu’tuk selamanya tetaplah di hatiku

Kuberi semua untukmu
Dengan kesungguhanku
Tak akan ku berbagi meskipun engkau jauh

Ku kan s’lalu merindukanmu
Ku kan tetap selalu menjagamu
Jangan ada kata berpisah
Pegang erat janjiku (janjimu)
Yakinkan di hatimu (selalu untukku)

Tak akan ku berpaling
Hanya kau satu di hatiku
Ku akan selalu disampingmu
Tak ku biarkan kau jauh’tuk selamanya ku tetap di hatimu

Kaulah yang pertama (yang selamanya)
Yang memberi arti cinta (untuk dirimu)’tuk selamanya tetap di hatiku
Ingin memelukmu
Mendekap hangat cintamu’tuk selamanya (‘tuk selamanya)
‘tuk selamanya (‘tuk selamanya)
‘tuk selamanya tetaplah di hatiku
Tetaplah di hatimu…
‘tuk selamanya
Ku tetap di hati…mu…

(Tetaplah kau dihatiku – BCL feat Christian Bautista)

10-15 menitan Indra menunggu di dalam kamar Najar sembari mendengarkan CD video lagu besutan artis cantik Bunga Citra Lestari berjudul Tetaplah Kau Dihatiku yang sempat booming diawal 2015. Pas banget lirik lagu tersebut meronjok relung hati Indra. Serius sekali ia menyimak tiap bait lirik BCL hingga tanpa ia sadari Najar telah masuk ke dalam kamar.

“Aku akan tetap ada dihatimu..”, bisik Najar ditelinga Indra yang spontan membuat Indra sedikit tersentak kaget.

“hemm..makasih ya Na”, senyum tersungging pada bibir Indra. Senyum penuh misteri. Senyum yang masih tersekat jurang yang memisahkan kondisi mereka berdua.

Indra bangkit dari duduknya. Ia datangi Najar yang berdiri bebas. Sebuah pelukan erat tertumpah. Tubuh indah Najar terengkuh kuat seolah Indra tak ingin kehilangan Najar. Sebuah harapan sulit terpecahkan mengingat Najar yang telah bersuami. Namun asa tak pernah sirna. Baik Indra maupun Najar yang kini seiya sekata berhasrat terwujudnya maghligai diremang-remang. Merubah semua menjadi nyata, menumbuk pilu menjadi ceria, menyatukan gita kisah kasih menjadi soneta merdu berdendang syahdu.

Pelukan erat beringsut mengendur. Berganti dengan saling tatap mata ungkapan rasa cinta. Tatapan mata menuntun wajah-wajah dimabuk cinta kian mendekat membunuh jeda. Kembali tautan bibir bertemu. Kecupan hangat menyatu. Lidah terjulur menari mengusuri rongga bibir, berbelit dan bertemu untuk saling menghisap.

“Ehhm..”, mata Najar terpejam menikmati permainsn bibir yang srmakin memanas.

tak menunggu lama, Indra langsung beraksi melanjutkan PR nya mengeksplorasi penampang dada berdaging montok milik Najar.

“Auhhmm..” suara desah akibat rabaan di bukit ranum Najar tertahan aksi ciuman yang belum juga usai. Ia akhirnya hanya mampu merek-melek tanpa bisa leluasa bersuara.

Ciuman Indra terhenti. Kenyal daging dada Najar begitu menyedot perhatiannya. Dengan perlahan jemari Indra menyusur kebawah untuk menemukan bibir bawah kaos putih yang dikenakan Najar. Isyarat anggukan kepala Najar mewakili persetujuan Najar untuk bolehnya Indra menanggalkan pakaian terluar Najar tersebut.

Dalam beberapa detik muncullah gugusan bukit besar berlereng curam. Buah dada putih terekspos begitu jelas meski sandaran bra masih menutup sebagian dada. Tak puas dengan hanya melihat, Indra berinisiatif membuka kaitan bra.

“Wuihh..uapik soro susumu Na. Putih, resik, menthek, ga mlorot”, (Wuihh..bagus banget susu kamu Na. Putih, bersih, montok, tidak kendor) decak kagum Indra saat berhasil melepaskan buah dada Najar dari sangkarnya.

“Ihh opo seh mas kok ditontoki ae. Isin aku..”, (Ihh apaan sih mas kok diliatin mulu. Aku malu..) Najar merajuk manja. Pipinya menyemu merah menahan rasa malu bercampur birahi.

“Slurupp sllup..lek ga oleh ditontoki, njaluk dingenekno ta??”, (Slurupp sllup..kalau ga bolek diliatin, minta diginiin??) mulut Indra menyosor rakus pada puncak bukit berputing jingga. Najar terkejut menerima rangsangan mendadak tersebut.

“Aaaihh..nakal yo.. Auhhh stt”, rintihan dan rajukan terucap penuh kemanjaan membuat Indra semakin rakus melumat buah montok nan penuh keindahan. Dua bukit bergantian dilibas mulut buas Indra tanpa ampun. Sembari merintih, Najar mengarahkan Indra untuk sejenak melepas kaos atas yang dikenalan pria sporty itu.

Dada bidang lengkap dengan tatanan perut sixpack Indra melelehkan pandangan mata Najar. Bayangan kegagahan pria macho tergambar dalam benaknya. “Uhh..gagahnya Indra iniih”, ungkap hati Najar terpesona.

Tak sabar, Indra bergegas melucuti jeans yang membalut g-string kuning kontras dengan warna kulit Najar. Nampaklah kini bidadari bertelanjang indah dengan hanya mengenakan g-string mini yang hampir-hampir tak mampu lagi menutupi helai halus bulu pubis hingga beberapa tersembul seksi.

Dengan penuh kelembutan, Indra menuntun Najar bertelentang di ranjang yang pernah digunakan bergumul bersama Dion sang suami dari Najar. sekejap kemudian Indra menyusul disisi rebahan Najar untuk mengejar kembali buah dada montok yang benar-benar membuat liur Indra menetes tiada henti.

Untuk kesekian kalinya, bibir Indra mendekati buah montok Najar dan kemudian menyergapnya dengan jilatan berikut kuluman bertubi-tubi. Kepala Najar terdongak keras mendapati perbuatan nikmat disemua sisi dadanya.

“Auhh mas, aihh sst ahh mas”
“Ihh aaah eehmmm ahh”
“Oohhh mass sssthh”
Ribuan desah dan rancau berhamburan keluar dari bibir mungil Najar.

“Ooihh..auuh mas”, kenikmatan menyita seluruh sel kesadaran Najar hingga ia telah lupa bahwa pria yang sedang asyik mencumbui bukanlah suaminya.

“Ehh..jare balik nang RS Na?”, (Ehh..katanya mo balik ke RS Na?) sejenak Indra menghentikan semua aksinya membuat Najar berasa terkatung di tengah lautan nafsu.

“Ihh bentar lagi mas..nanggung nih..pliss puaasin aku mas”, Najar lagi-lagi merajuk manja membuat Indra tak berdaya untuk menolak permintaan enak tersebut.

“ooihhh sssshh”, tanpa aba-aba kembali Indra menerjang ke arah puting-puting Najar yang masih bergetar sensitif akibat rangsangan sebelumnya. Tak hanya itu, jemari Indra mulai menjalar menyibak garis tali g-string Najar dan digesernya sedikit agar memiliki cukup ruang untuk dapat menyentuh langsung bibir vegy yang merekah lembab.

“Ahhhh… mas mas diapakann anukuh auhh ennnak mass ahh ahh”, desah Najar merasakan gelitik jemari Indra yang menyusup dibalik labia mayora berikut explorasi kearah buah kacang kenyal yang ada diatasnya.

“Emmhh sstf ahh masssh”, desahan Najar semakin menggila saat sensitifitas pada liang senggama maupun areola meningkat akibat explorasi terus menerus di daerah tersebut. Kuluman bibir pada puting dan permainan jari di liang nikmat Najar begitu melambungkan libido.

“Ohh auuh ssth ah”, kepala yang awalnya hanya terdongak, kini terlempar ke kanan kiri tak tentu arah. Terlebih saat dua jari Indra menyusup masuk melintasi labia minora mencari area g-spot. Najar semakin hilang kendali.

“Ohhh mass aahh iyah ituhh mas terussh ahh terusinn disituhhh ahh” rancau bibir Najar sarat kian terdengar tatkala wilayah g-spot tergapai.

“Ouuuh mass ahhh”, kedua tungkai kaku Najar kelojotan tiada terkira.

Hingga kemudian tercapai puncak klimaks dimana Najar melenguh panjang diikuti semburan squirt deras membasahi kain sprei dibawahnya.

“Ooouhhhhhh… Aaah sssth”, teriak Najar menggapai ujung puncak pendakian. Badannya mengejang hebat mengikuti 4-5 semburan hangat.

“Ooh makasih mas Indra. Aku belum pernah merasakan senikmat inihh”, mata sayu Najar menyiratkan binar kepuasan.

Sekian menit beristirahat, Najar nampaknya telah kembali pulih kebugarannya.
“Sik mas coba nontoki manukmu sak piro hihi”, (Coba mas aku lihat burungmu seberapa sih hihi) Najar meminta Indra untuk berdiri. Indra hanya tersenyum penuh arti.

Dengan duduk ditepian kasur menghadap Indra yang tengah berdiri, Najar bergerak membuka kaitan gesper yang melilit di pinggang Indra. Tak ketinggalan Najar juga menarik turun CD Indra setelah sukses sebelumnya menurunkan celana panjang.

“Lhuuuuukk masss.. Iki opoo mass?? Duhh Gusti Pengeraaann.. Guedee ndlondeng koyok ngenee..”, (Lhoooooh mass.. Ini apaaa mass?? Duh Tuhannn.. Gedee panjang giniii..) Najar ternganga se ternganga-ternganganya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa batang mesiu Indra akan segila itu ukurannya. Najar hampir-hampir tak mampu membayangkan rasa nikmat yang meledak-ledak saat nanti liangnya tersumpal erat batang cowboy tersebut. Rasa takjub, heran, senang, geli, ingin, dan binal menjalari hati.

“Stop Na, aku ga siap nontok kenyataan maringene. Iyo lek awakmu sido pegatan. Lek ga sido? Iso gendeng aku kedosan nyoblos konokanmu”, (Stop Na, aku ga siap menghadapi kenyataan setelah ini. Iya kalau kamu jadi cerai. Lha kalau tidak? bisa gila aku katena merasa berdosa telah menyetubuhimu) Indra menahan hasrat Najar untuk melangkah lebih jauh. Perasaan risau berkecamuk dalam dada.

“Ssst.. Ojo ngomong ngunu maneh. Molai dino iki aku janji, bakal ngrumat manuk gede iki sampek tuwek hihi. Aku tak mroses bojoku sak cepet-cepet e. Ga onok maneh sing isok tak karepno teko de’e”, (Ssst.. Jangan ngomong gitu mas. Mulai hari ini aku janji, akan merawat burung gedr ini sampai tua hihi. Aku akan segera memproses suami secepatnya. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan darinya) jari telunjuk ditempelkan oleh Najar ke bibir Indra.

Melihat Najar hendak mengulum konT jumbo, Indra segera menghentikannya.
“Wes ga usah dikenyot barang. Langsung ae blosokno. Selak kesuwen”, (Sudah ga usah dikulum segala. Langsung saja hujamkan. Kelamaan) ucap Indra.

“Hhhekkk ooorhh”, Najar mendesah tersedak. Posisi telentang dengan kedua kaki terentang belum juga membuat liang Najar bisa menerima. Liang imutnya berasa tersumpal kuat. Padahal roket tersebut baru masuk 1/3nya.

“Ooouuhhghh penuhh mashh.. Duhhh Gustiiii.. Aaaduhhh ahh” Najar merancau parah. Nampaknya Najar sangat menyukai benda baru yang hadir menyedak kerongkongan rahimnya.

Sett.. Seett slepp
“Orrrgh.. Ohh ohhh ohh”, tusukan-turukan ringan pembuka jalan terus terpompa menggesekkan rasa geli yang tiada terkira.

Jlllebb..
Satu dorongan kuat Indra mampu melesakkan jauh batang konT hingga habis.
“Ooooorghhhh… “, Najar mengerang hebat. Dahaganya bagai tengah terobati sudah.

Indra mulai memompa konstan batangnya yang telah terlumat. Tarikan dan dorongan menimbulkan gesekan kuat yang begitu menggetar birahi.

“Hhoo Ohh ihh Sstt ehhhs” entah berapa kali sudah Najar menggeliat sembari mendesah gahar. Ia begitu terlena oleh timangan kasih Indra.

Belum lama Indra memompa, Najar telah mendekati orgasm lagi. Mungkin karena rasa yang sangat luar biasa membuat Najar tak mampu bertahan lebih lama lagi.
“Ouuh mass.. Akuuhh muncratt manehh katenee ahh ahhh”, Ouhh mass.. Akuuuhb keluar lagi nihh bentar lagiih ahh ahhh) ucap Najar terbata. Memang liang Najar saat ini masih terlalu Kesempitan meski Indra telah memiliki Kesempatan meronjokinya. Butuh waktu adaptasi lebih banyak agar kedua kelamin saling mengenal lebih akrab.

“Akuuhh ga kuatt masshh.. Ahhh.. Tempikkku guateeell.. Ashhh ahh.. Aauuuuh. Oooooooohh….. “, tubuh Najar berubah kaku. Dari perutnya terpantul semacam kejang patah-patah. Najar mencapai klimaks yang keduanya. Kepuasan tersungging dalam senyuman.

“Wes Na, ayok ndang mbalik nang RS. Kono aduso sik cek seger!!”, (Sudah Na, ayo kita segera balik ke RS. Sana buruan mandi biar seger!!) Indra berbisik lembut di telinga Najar setelah beberapa saat Najar tergolek menikmati sisa getaran halus di liang senggamanya.

“Lho.. Pean lak durung metu mas??”, (Lho.. Kamu kan belum ejakulasi mas??) tanya Najar merasa iba terhadap pangeran cintanya.

“Itu menjadi PR mu untuk kembali hadir mengisi hari-hariku.. Selamanya!!!” ucap Indra datar.

—–

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler