. Status Berkelas Part 1 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 1

0
110

Status Berkelas Part 1

Alam Bawah Sadar

POV DANA

“7rb mas”, ucap si gadis yang baru turun dari mobil keren itu. Aku ternganga, dia begitu indah dimataku.

“Uhh.. Cantik sekali makhluk yang satu ini”, ku berucap dalam hati. Dari sudut mataku terlihat Indro juga sedang memperhatikan dengan seksama cantik dan moleknya gadis tersebut.

“Siap mbakk”, sambutku tanggap menutupi kegugupanku yang sering terjadi setiap kali bertemu dengan wanita cantik.

Kucoba menyibukkan diri melayani pesanan gadis tersebut agar gelagat gugupku tak terbaca olehnya. Namun sesekali masih juga kucuri pandang paras ayunya. Dan tak dapat kupungkiri akan hasrat lelakiku yang juga memaksa mata ini melirik basah bibirnya nan seksi serta bulatan besar di dada si cantik yang begitu kentara teronggok aduhai, sempurna.

“Ehemm.. No, cewek cakep tuh hehe”, bisik Indro mengagetkanku. Namun dengan cepat segera kurespon agar Indro pun juga tak curiga dan mengetahui bahwa aku sedang gugup.

“Lambemu Ndro! Hehe”, jawabku merespon bisikan Indro sambil berusaha tertawa meski sebenarnya bibir ini terasa bergetar grogi.

Kuperhatikan mobilnya, dia sepertinya seorang wanita yang sukses. Atau bisa juga berasal dari keluarga yang kaya raya. Kemudian berbalik kupandang motor Honda Prima kesayanganku. Akupun tersenyum kecut.
“Dana.. mimpi ya kamu ??, dia bukan kelas rendahan sepertimu!”, bisik hati kecilku berusaha mengingkari kata hatiku yang sekian menit sebelumnya sempat kesengsem pada kecantikan pembeli daganganku.

Alam bawah sadarku seperti tiba-tiba mengambil alih keadaan gugup yang sebelumnya kurasa. Bisikan hati kecil yang sadar akan keadaan diriku seolah menjadi pemantik alam bawah sadar untuk memberikan respon sinis dan angkuh demi membatasi diri agar tidak terlalu jauh berenang dalam keterpukauan dan angan pelangi yang begitu imaji dan maya.

Dan ketika si gadis memberikan sisa kembalian untukku, secara reflek bilik kelambu hatiku yang sinis dan kaku menolaknya.

“Lho.. Ndak bisa mbak, kembalian ya tetap kembalian. Kalau mbaknya maksa ya saya juga akan maksa nambahin gorengannya!” ucapku terkesan ketus tanpa basa-basi.
Kulihat ia cukup kaget dan termenung sesaat ketika mendapati responku yang ternyata diluar dugaannya. Tapi sepertinya ia cukup tenang dan tanggap untuk segera menyesuaikan dengan situasi yang aku ciptakan. Ia langsung menarik kembali ucapannya dan kemudian menengadahkan tangan untuk menerima uang kembalian yang kami perselisihkan.

Dan sekarang sebaliknya, aku menjadi tertegun heran mengamati respon dari si gadis barusan. Kesimpulanku mengatakan bahwa ia memiliki kemampuan pemahaman yang cukup baik terhadap permasalahan yang timbul dan juga respon verbal dan non verbal yang cukup cepat dalam menyikapi.

Sekian menit ku berkutat dengan dagangan dan dinamika alam pikir membuatku tak sadar akan kehadiran Khusna alias Kasino.

“Galak be’eng bro lu ama cewek cakep ntu tadi. Lembut dikit napee?”, Kasino angkat bicara sembari meninju bahuku.

“Alergi man.. Aku alergi”, jawabku asal, karena jelas tak mungkin kujelaskan panjang lebar tentang perseteruan batin yang tadi sempat ku alami.

“Busyeet. Jangan-jangan lu Homsye bin Mahoni bro.. Idihh.. masa ama cewek cakep kinyis-kinyis begitu dibilang alergi!”, imbuh Kasino namun tak ku gubris dan aku memilih untuk menyibukkan diri membuat adonan tepung untuk gorengan selanjutnya.

Terlihat Kasino dan Indro menggeleng-gelengkan kepala sambil memandangku. Aku hanya cuek dan tak peduli meski pandangan mereka seperti menelanjangiku.. Toh mereka cowok kan, jadi aku juga ga bakalan gugup or grogi walau mereka memandang sampai mata berair sekalipun. hehehe.

——-

POV ANNADA

Ada-ada saja si Hajar ini. Sudah seperti orang ngidam aja dia. Belum juga sore, udah kepingin ngemil gorengan katanya.

“Say, sebelum ke rumah tolong mampir beli gorengan ya. Macemnya apa aja deh terserah, yang penting berjenis gorengan. Bukan kukusan hehe. Awas kalo ga bawa, kunci pagar di tanganku hehe. Tengkiu martengkiu sayy!”, demikian whatsapp yang dikirim Hajar kepadaku. Aku hanya bisa geleng-geleng setelah membacanya. “Ihh.. Nambah-nambahin kerjaan aja!”, batinku menggerutu.

Hajar adalah sahabat baikku. Dia dulu adalah teman semasa kuliah dan kemudian bekerja bersama juga di sebuah perusahaan kecil-kecilan yang ku buat. Perusahaanku bergerak di bidang design interior yang mana melayani jasa penggambaran design tata ruang rumah, kantor, maupun ruangan apapun. Selain itu juga melayani penjualan berbagai macam pesanan interior pengisi ruangan.
Karyawannya belum banyak. Hanya ada aku yang dibantu Hajar selaku wakilku di kantor, beberapa staff design dan staff lapangan. Dalam hal bermarketing dan promosi tetap aku dan Hajar pegang sendiri. Tentu saja kesemuanya itu kami lakukan buah dari materi kuliah yang dulu kami dapatkan. Saat inipun kami belum sepenuhnya resmi lulus dari bangku perkuliahan karena masih menunggu proses wisuda yang masih di agendakan pihak kampus.

Hajar tidak memiliki nama lengkap Hajar Jahannam seperti iklan-iklan obat kejantanan di media online. Nama lengkap Hajar adalah Hajar Maya Saridewi. Ia gadis yang menurutku sangat cantik seperti boneka barbie. Kecantikan dan keindahan tubuhnya adalah hasil kawin silang (hehe..emang ayam import??!), tepatnya hasil perpaduan dari ayah jawa yang masih keturunan tionghoa, dan ibu yang merupakan cucu dari seorang arab tulen. Badan Hajar cukup seimbang dengan BB/TB 50/160. Parasnya ayu mirip barbie mainan lengkap dengan hidung mancung, rambut panjang, dan kulit yang lembut licin tanpa noda. Mungkin jika aku pria, sudah kupacari dia. Tapi yang pasti aku bukanlah kaum lesbiola yang akan tertarik pada varietas sejenis meski ia cantik luar binasa :)

Lamunanku terhenti tatkala mobilku telah sampai di dekat lapak penjual gorengan yang dulu biasa menjadi tempat mangkal teman-teman kampusku. Katanya sih penjualnya masih muda dan ramah. Akupun belum tahu pasti akan berita itu karena selama kuliah aku lebih banyak diantar jemput oleh sopir kiriman papa sebagai bentuk proteksi overdosis menurutku.

“7rb mas”, ucapku santun pada mas penjual. Kuamati ia dan akupun membenarkan apa yang diberitakan teman-teman kampusku. Dengan senyum ramahnya ia berusaha melayani dengan sepenuh hati. Kutaksir usianya mungkin berkisar 1-2 tahun diatasku.
Sambil menunggu pesanan selesai kucoba membuka hp ku untuk sekedar memeriksa apakah ada notifikasi baru atau tidak. Dan benar saja, 3 notifikasi whatsapp bernama Hajar muncul disana.

“Kok lama neng??”
“PING !”
“PING !”
kubaca ketiga pesan tersebut sembari tersenyum simpul. Dengan jahil langsung ku saku kembali hp tanpa membalasnya dengan tujuan menambah penasaran si barbie bawel hehe.

Sedikit yang membuatku jengah dan kurang nyaman adalah tatapan pemuda yang duduk di atas motornya dan ia parkir di sisi belakang dagangan penjual gorengan.

“Uhh.. Risih banget ih diliatin sampai segitunya”, jengah hatiku menyuarakan ketidaknyamanan ini. Buru-buru kuperbaiki posisi berdiri sambil bersedekap menutupi dadaku yang sepertinya menjadi bulan-bulanan mata genit pemuda tersebut.

Sekilas kulihat si pemuda bermotor tadi membisikkan sesuatu kepada mas penjual gorengan sembari matanya menyipit mencurigakan seakan hendak menerkamku. Si mas penjual menjawab sekilas dan kemudian menyibukkan diri kembalu pada dagangannya.
“Pelayanan yang baik terhadap customer, tidak hanya sekedar mencari keuntungan semata, ngobrolpun ia batasi demi menghormati dan memberikan pelayanan prima kepada pembeli. Mantap juga kau mas!”, gumamku dalam hati merasa simpatik pada kinerja mas penjual gorengan yang menurutku cukup jempolan.

“Lhah.. siapa lagi nih sekarang??, main melotot aja tuh mata. Emang Nada gorengan apa?, ngeliatinnya kayak orang pingin nyicip gorengan aja!”, lirih suara hatiku merasa semakin tidak senang sesaat ketika ada sebuah mobil Honda Brio datang dan kemudian pengemudinya langsung menyapa akrab pada si empunya motor yang sedari tadi melihatku gimanaaa gitu. Cowok yang baru datang itu kelihatannya lebih modis, namun mata mereka tetaplah sama, tukang jelalatan tanpa permisi tanpa sopan santun.

“Sampun mbak, dan ini kembaliannya. Terimakasih sudah bersedia mencicipi dagangan saya..”, terdengar mas penjual berbicara mengagetkanku sembari mengulurkan sekantung plastik gorengan beserta uang receh kembaliannya.

“Sudahlah mas, kembaliannya buat mas aja !”, ucapku sembari tersenyum ramah mengimbangi keramahan sang penjual.

“Lho.. Ndak bisa mbak, kembalian ya tetap kembalian. Kalau mbaknya maksa ya saya juga akan maksa nambahin gorengannya!”, diluar dugaanku ternyata pemuda ramah penjual gorengan berubah sikap dan berbeda banget dengan keramahan sebelum-sebelumnya. Ku terhenyak, namun dengan cepat segera ku kuasai keadaan dan memilih mengalah dalam perdebatan kecil yang terjadi. Rasa kagumku kembali terbit pada mas penjual itu. Sebelumnya aku merasa kagum pada kepiawaiannya mengolah makanan yang seharusnya adalah keahlian milik kaum hawa, aku juga kagum pada ketulusan hatinya yang melayani pembeli sepenuh hati, menurutku itu adalah sebuah ilmu dasar salesmanship yang patut ditiru oleh semua pelaku jual beli nusantara yang mayoritas kurang peduli pada ‘first touch’ dan ‘before & after sales services’. Dan sekarang kembali aku terpukau pada ketegasan dan idealismenya yang bagiku lebih disebut sebagai harga diri.

Tanpa pikir panjang segera kuakhiri polemik ringan ini dan ku segera pula melangkah pergi mengingat ada makhluk-makhluk ganas di sekitaran lapak gorengan yang sejak awal sedang menelanjangi tubuhku dengan tatapan haus gol mereka (hihihi).

It’s a wonderful day, wonderful experience.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler