. Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 79 | Kisah Malam

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 79

0
265

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 79

SELAMAT TINGGAL

Hallo cookkk.. namaku cakra.. aku lahir didesa jati bening.. desa yang bertetangga dengan desa jati luhur tempat irawan lahir.. irawan adalah sahabatku mulai dari kami kecil.. kami sama – sama dibesarkan dari sumber air yang sama, sungai yang membelah desa kami..

Karena kami dulu sering bersama.. orang – orang sampai mengira kami adalah saudara kandung.. canda, tawa, suka dan duka kami lalui bersama.. aku dulu sering diselamatkan oleh irawan ketika kami tawuran dan aku juga sering melindunginya ketika dia lengah.. kami saling melindungi dan saling menjaga.. dan walaupun tidak ada ikatan darah langsung.. ikatan kami melebihi saudara kandung itu sendiri.. irawan jati.. sahabat yang sangat baik hati dan sangat setia kawan..

Mulai dari SMP, STM sampai masuk kuliah, kami selalu bersama.. karena kami dulu pernah berjanji.. kami akan menaklukkan propinsi ini dengan kepalan tangan kami..

Kehidupan yang begitu keras dijalanan, kami lalui bersama dengan persaudaraan yang kuat.. begitu kami berdiri dijalanan.. tidak ada satupun bajingan yang dapat mengalahkan duet kami berdua..

Aku yang menjadi penguasa pemuda didesa jati bening dan irawan yang jadi penguasa pemuda di desa jati luhur, pelan – pelan mulai merambat menguasai kabupaten tempat kami tinggal.. satu persatu desa tetangga kami kuasai.. dan kami berdua menikmati itu semua..

Setelah lulus dari STM.. kami berdua pergi kuliah bersama kekota pendidikan.. dan lagi – lagi duet ku dengan irawan, mulai mencari lawan.. dengan masuknya agus, totok, nawi dan tomo.. kami semakin kuat.. kami berenam mulai menguasai kampus teknik kita.. kami berenam membuat benteng yang kuat dikampus teknik kita.. sehingga tidak ada satupun preman dikota ini yang berani mengusik semua mahasiswa yang ada dikampus teknik kita.. kota ini sering terjadi tawuran antar geng pada waktu itu, dan itu tidak berimbas dikampus teknik kita karena adanya kami berenam..

Sebenarnya aku tidak diijinkan kuliah oleh ayahku.. tapi karena keinginanku yang kuat, akhirnya ayahku mengijinkannya.. ayahku itu lebih senang jika aku meneruskan bisnis hitam keluarga kami.. bisnis yang membuat ayahku dan bapak jati menjadi rival yang abadi.. aku dan irawan tidak terpengaruh dengan hal itu.. kami tetap bersahabat, walaupun kedua orang tua kami sering bergesekan..

Oh iya.. satu sifat irawan yang paling tidak aku suka.. playboy.. dengan wajah tampannya, dia sangat mudah menaklukkan wanita disekitar kami.. sebenarnya sih aku enjoy aja dengan sifat sahabatku itu.. karena bagaimanapun.. bagiku, persahabatan itu selalu menerima kekurangan dari sahabatnya dan saling menutupinya.. tapi ke enjoy an ku berubah menjadi ketidak suka’an, ketika tau irawan mencintai putri anjani ranajaya..

Putri anjani ranajaya.. kembang desa didesa jati bening.. semua laki – laki didesa ini dan desa sebelah, pasti akan langsung jatuh cinta ketika melihat senyum manis dan wajah cantik khas pedesaannya itu.. dan aku adalah salah satu laki – laki yang mencintainya.. anjani mengajarkan aku tentang cinta dan kasih sayang lewat senyum manisnya.. dia adalah segalanya bagiku dan dia belahan jiwaku..

Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan.. anjani rupanya mencintai irawan juga.. sebenarnya aku sudah belajar mengikhlaskannya ketika tau irawan mencintai anjani.. tapi sakit hatiku bergejolak ketika tau irawan mempunyai hubungan dengan damayanti kusuma.. hati sangat sakit sekali.. ketika aku sudah belajar mengikhlaskan anjani, tapi justru irawan menduakannya.. bangsattt..

Dan akhirnya, persahabatan kami berenam bubar dikarenakan cinta.. lebih tepatnya aku dan irawan.. sahabat yang melebihi saudaraku itu, mencintai orang yang sangat aku sayangi mulai dari kecil..

Akupun bertekad untuk merebut anjani dari irawan.. tapi anjani tetap kukuh dengan cintanya ke irawan.. bukan cakra namanya kalau mudah menyerah.. aku terus berusaha merebut cinta anjani.. tapi tidak dengan cara mengemis.. aku menggunakan kedua kepalan tanganku untuk merebut cintanya..

Dan satu lagi yang membuat hubunganku dengan irawan renggang.. ambisiku yang begitu besar ingin menguasai propinsi ini, berbanding terbalik dengan irawan.. dia sudah mulai jenuh dengan pertempuran – pertempuran.. dia lebih fokus kepada cita dan cintanya.. dan dia melupakan impian kami sejak dulu yang ingin menguasai propinsi ini.. bangsattt..

Karena sakit hatiku yang begitu besar kepada irawan.. kami berenam tidak sejalan lagi dan akhirnya bubar.. irawan dan keempat sahabatku, bergabung menjadi lima orang dan mendirikan kos pondok merah.. sedangkan aku keluar dari perkumpulan mereka dan juga keluar kampus.. aku pindah kekampus kuru dan disana aku mendirikan black house seorang diri..

Dan setelah aku mendirikan black hosue.. aku mulai merambat dengan menaklukan satu persatu kampus yang ada dikota ini.. lalu aku menaklukan beberapa daerah dikota ini bersama anggota black house dan anak buah ayahku.. ayahku sangat senang dengan perubahanku ini.. beliau selalu mendukungku untuk menjadi penguasa diprovinsi ini..

Dan ditengah ambisiku untuk menguasai provinsi ini, aku tidak melupakan cintaku kepada anjani.. aku tetap berusaha terus untuk mendapatkan cintanya.. penolakan – demi penolakan aku terima dari anjani.. tapi aku tidak putus asa.. aku terus mencoba manaklukan dan melunakan hatinya keras…

Cintaku kepada anjani begitu besar.. tidak ada yang bisa mengalahkannya.. semakin aku ditolak.. cintakupun semakin besar.. aku luapkan penolakan anjani dengan menghajar dan menaklukan satu persatu preman terkuat dikota ini.. aku membentuk iblis hitam untuk menguasai dunia hitam dikalangan kampus.. dan aku membentuk kelompok utama untuk menghancurkan preman – preman diluar sana.. dan terakhir incaranku adalah kampus teknik kita.. terutama pondok merah..

Dan ketika kekuatanku telah cukup, aku pun menghancurkan pasukan pondok merah bersama kelompokku.. dan aku mengalahkan irawan dalam suatu duel pamungkas..

Bahagia, senang, marah, sedih, benci dan menyesal.. menyatu dengan darahku dan darah irawan yang keluar.. aku telah membantai sahabatku sendiri.. sahabat yang melebihi saudara kandungku.. aku menangis ketika aku menumbangkannya.. aku teringat ketika kami sama – sama makan sebungkus nasi berdua disaat kami selesai tawuran.. aku menjerit ketika mengenang aku pernah diselamatkan olehnya.. tapi aku marah ketika bayangan anjani muncul dihadapanku..

Cintaku sangat luar biasa untuk anjani.. apa aku salah jika aku terlalu manyayangi anjani..? apa aku berdosa bila aku mencintainya dengan cinta buta ke anjani..? kalau aku salah.. berarti sang pencipta juga salah karena menciptakan cinta.. kenapa sang pencipta menciptakan cinta dihatiku..? kenapa..? apa karena Dia menciptakan ikhlas, jadi kita harus merelakan..? bangsaatttt..

Bagiku cinta adalah cinta, tidak ada yang namanya ikhlas.. karena itu hanya akan membuat dunia ini dipenuhi air mata penyesalan.. orang bilang ikhlas akan memberikan kebahagiaan.. bangsat yang bilang begitu.. bagiku ikhlas itu hanya kata lain dari penyesalan, karena kita tidak bisa memilikinya.. ikhlas itu juga bentuk dari seseorang pengecut.. pengecut yang tidak berani memperjuangkan sesuatu yang diinginkannya..

Siapa orang didunia yang benar – benar ikhlas jika cintanya dimiliki orang lain..? siapa..? tunjukkan satu kepadaku.. maka aku akan berguru kepadanya.. bajingaannn..

Aku memang memilih jalanku sendiri, dan aku selalu ditertawakan oleh orang lain karena aku berbeda dalam urusan percintaan dan ambisi.. tapi.. aku malah balik menertawakan mereka, karena mereka selalu memilih jalan yang sama.. assuuu..

Dengan berbekal kemenangan terhadap irawan.. aku kembali mengutarakan cintaku ke anjani.. ingat aku hanya mengutarakannya, bukan mengemis cinta darinya.. tapi kali ini bukan hanya penolakan yang kudapat.. anjani begitu marah kepadaku.. dia menangis dan kebenciannya terhadapku makin terlihat jelas dimatanya..

Apa aku menyerah..? tidak..

Cintaku berkurang..? tidak..

Marah dengan anjani..? tidak..

Cintaku semakin menjadi dengan anjani..

Aku pun berkata kepada anjani..

“seandainya irawan sudah pulih dan dia menantangku.. aku akan melayaninya dengan senang hati.. dan aku akan menumbangkannya untuk kedua kalinya.. dan terus akan menumbangkannya sampai kamu menerima cintaku.. kalau perlu aku akan membunuhnya..” ucapku lalu aku pergi meninggalkan anjani dengan air matanya yang terus keluar..

Sedih.. pasti.. hatiku terasa teriris ketika melihat wanita yang kucintai meneteskan air matanya.. bukan untuku tapi untuk orang lain.. kenapa dia begitu mencintai playboy macam irawan itu..? kenapa dia tidak mau mencintaiku..? padahal aku menjadikannya satu – satunya ratu dihatiku.. dan aku rela mengorbankan apapun demi dia..? kenapa..? bangsaatttt..

Dan duelku kedua dengan irawan terjadi beberapa bulan kemudian.. dengan dendam baru dihatiku karena ayahku dibunuh oleh bapak jati, dan ibuku meninggal beberapa bulan kemudian karena sakit memikirkan ayahku.. aku semakin benci terhadap irawan..

Dan untuk duelku yang kedua ini.. aku kalah telak dan aku tumbang oleh irawan.. pasukan ku pun hancur oleh kelompok pondok merah.. bajingaannn..

Kekalahan ini tidak menyakitkan bagiku.. tapi berita tentang pernikahan anjani dengan irawan yang justru menyiksaku.. dunia ini serasa kiamat.. sedihku dihari itu melebihi kesedihan ketika aku ditinggalkan kedua orang tuaku.. belum pernah aku meneteskan air mata.. tapi hari itu.. disaat aku mendengar gending (alat music pulau ini) diacara pernikahan anjani.. air mataku menetes.. gending yang terdengar merdu ditelinga orang lain, terdengar seperti irama kematian ditelingaku.. dan suara sinden yang bernyanyi, seperti menuntun kematian cinta di hatiku..

Mulai detik itu, tidak ada perasaan dihatiku dan tidak ada yang namanya cinta.. yang ada hanya kemarahan dan kebencian..

Aku mulai menyusun siasat lagi.. pelan – pelan aku mengumpulkan anggota ku yang tersisa dan mantan anak buah ayahku yang masih ada.. aku membangkitkan iblis hitam dengan dipimpin black.. aku juga membentuk aliansi selatan yang dipimpin oleh herman..

Tapi semua akhirnya hancur oleh irawan dan anaknya sisandi.. bangsattt.. aliansi selatan terlalu lemah bagi kelompok jati yang dipimpin irawan.. dan pondok merah yang panglima perangnya sandi terlalu kuat bagi iblis hitam..

Dan dihari tumbangnya black, aku sengaja menumbangkan sandi dan seluruh penghuni pondok merah, untuk memancing irawan keluar lagi..

Usahaku berhasil.. irawan dan semua kelompok pondok merah dari berbagai jaman datang untuk membalaskan dendam, karena aku menumbangkan generasi yang sekarang..

Baguslah kalau mereka kumpul semua.. aku jadi lebih mudah untuk menghabisi mereka semua satu persatu.. dan ini sudah aku nantikan sejak lama… setiap saat waktu penantianku hanya aku buat untuk latihan.. kepalan tanganku, injakan kakiku dan kekuatan tubuhku lainnya, aku persiapkan hanya untuk hari ini.. hari penghakiman bagi irawan dan keturunannya.. untuk setiap tetes air mataku yang mengalir dan setiap tetesan darah dari orang tuaku.. aku akan membantainya hari ini juga.. bangsatttt…

Aku berdiri tegak diatas panggung kekuasanku ini.. dan aku melihat irawan sudah mulai maju dan membantai satu persatu anggotaku.. dengan mata merah andalannya.. irawan menyerang dengan membabi buta…

Dan sekarang kami berdua telah berhadapan diatas panggung.. wajah irawan tampak berdarah – darah setelah melewati kuatnya pertahanan dari pasukan khususku.. matanya pun berubah seperti biasa lagi.. dan dibalik darah yang membasahi wajah irawan.. aku melihat sesuatu yang langsung membuat hatiku bersedih.. ada apa denganmu wan..? apa kamu sakit..? kenapa tubuhmu mengurus..?

Aaahhh.. bajingan.. apa perduliku.. dia mau sakit atau tidak.. aku harus membunuhnya malam ini…

“BUNUH DIA CAKRA.. BUNUH DIA…” suara almarhum ayahku mendengung dikepalaku..

“cakra.. hentikanlah semua ini.. aku masih menganggapmu sebagai saudara..” ucap irawan kepadaku.. dan kata – kata itu selalu diucapkannya ketika akan berduel denganku.. bangsat irawan ini.. kenapa dia selalu berkata seperti ini..? assuu..

“saudara..? mulutmu wan.. saudara itu ga akan merebut cinta saudaranya..” ucapku lalu aku menghisap rokokku.. aku sengaja memancing emosinya dan memancing emosiku sendiri yang entah kenapa langsung menurun ketika melihat tatapan sayu irawan..

“anjani memilihku cak.. dan kami saling mencintai..” ucapnya..

“cinta..? masih ada cinta dihati playboy macam kamu wan..?” ucapku sambil menatapnya dengan tajam.. bajingaann.. kenapa harus ada kata cinta disini..? aku muak mendengarnya..

“itu masa lalu cak.. dan cintaku hari ini hanya untuk anjani istriku.. tidak ada yang lain.. dia adalah ibu dari anak – anakku..” ucap irawan..

“jadi karena dia ibu dari anak – anakmu, makanya kamu hanya mencintai anjani seorang..? kalau anakmu semua aku bunuh, apa masih ada cinta untukmu buat anjani..? hehe..” ucapku dengan sinisnya..

“jaga ucapanmu cak.. aku masih menganggapmu saudara sampai detik ini.. tapi kalau sudah menyangkut istri dan anak – anakku.. aku ga akan segan untuk membunuhmu..” ucapnya dengan emosi yang mulai naik lagi..

“persetan dengan ancamanmu wan.. cintaku telah mati selama ini.. dan itu bisa hidup kembali jika disiram darahmu dan darah dari keturunanmu.. dan anjani menjadi permaisuriku..” kataku sambil aku merenggangkan kedua tanganku lalu memutarkan kepalaku..

“aku akan membuatmu menyesal wan.. karena kamu tidak membunuhku pada duel terakhir kita.. malam ini adalah malam kematianmu..” ucapku sambil membuang rokokku lalu menunjuk wajah irawan..

“baiklah cak.. kalau memang itu keputusanmu.. malam ini akan menjadi duel terakhir kita..” ucap irawan dan matanya langsung memerah..

“BANGSATTT KAMU WAN…” ucapku lalu berlari kearah irawan..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Pukulanku kearah wajah irawan masuk dengan telak dan injakan irawan didadaku pun masuk dengan telak juga.. kami sempat termundur beberapa langkah.. lalu kami saling maju lagi dan saling menyerang lagi..

TAPP.. TAPP.. TAPP.. TAPP.. TAPP.. TAPP..

Pukulanku kearah dada dan wajahnya dapat ditangkis oleh irawan.. lalu..

TAPP.. TAPP.. TAPP.. TAPP.. TAPP.. TAPP..

Balasan pukulannya yang cepat pun dapat aku tangkis..

Lalu disela aku menangkis serangan irawan, aku melihat ada ruang untuk menghantam wajahnya..

BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Dua upercutku mendarat dirahang dan pelipisnya.. lalu..

BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Dua pukulan beruntunnya pun masuk didadaku dan mulutku sampai aku terdanga.. dan darahku keluar bercampur air liur.. asuuuu… akhirnya darahku pun keluar juga dimalam ini.. bajingann..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Irawan terus menghantam wajahku sampai aku terdesak.. irawan menghajarku dengan tatapan yang tidak seperti biasa ketika dia menghajar musuhnya.. dia menatapku dengan tatapan yang sayu sekali.. terlihat jelas kesedihan dimatanya.. bajingaaannn.. lalu disaat irawan melayangkan sebuah pukulan kearahku lagi.. aku menghindar kesamping..

WWUUTTTT….

Pukulan irawan hanya mengenai angin saja.. dan tangan kanan irawan lurus tepat disamping wajahku.. lalu dengan cepatnya, aku memegang lengan tangan kanan irawan dengan tangan kiriku.. lalu dengan sikut kananku.. aku menghantamkannya bawah ketiak kanan irawan.. dan itu salah satu titik terlemah dari manusia..

BUUUHHGGG…

“ARRGGGHHHH..” jerit irawan dan tubuhnya sampai melengkung ke arah kiri.. tampak wajah nya terlihat sangat kesakitan sekali.. dan entah mengapa akupun merasakan sakit yang sama.. hatiku terasa sakit sekali melihatnya meringis kesakitan.. assuuu.. bunuh dia cakra.. bunuh irawan ini.. hilangkan semua ingatanmu tentang dia.. bajingaaannn..

Lalu aku putar pergelangan tangan kanan irawan itu kebelakang..

KRAAKKKK..

“ARRHHHGGGG…” lagi – lagi terdengar irawan kesakitan setelah pergelangan tangan kanannya itu aku patahkan.. assuuuu… jeritannya membuat hatiku menangis.. bangsat kamu irawan.. kenapa kamu memaksaku begini..? kenapa kamu membuat aku menjadi setega ini.. bajingan kamu irawaaannnn..

Lalu dengan tetap memegang tangan kanan irawan yang patah.. aku menghantam wajah irawan dengan tangan kananku secara bertubi – tubi..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Wajah irawan berdarah – darah.. dan dari mulutnya keluar darah bercampur liurnya.. bajingaannn.. air mataku pun akhirnya mengalir dengan derasnya.. sakitnya irawan terasa sampai diulu hatiku.. bajingaann.. ada apa denganku ini..? dadaku sesak dan tangisanku kali ini lebih deras dari pada saat pernikahannya dengan anjani waktu itu.. asssuuu..

“BUNUH DIA CAKRA.. BUNUH DIA.. JANGAN LEMAH KAU..” teriak ayahku lagi..

Lalu aku berputar dan melepaskan pegangan tangan kiriku ditangan kanan irawan.. dan aku mengarahkan tendangan balik menggunakan tumitku tepat diwajah irawan..

BUUUHHGGG… BUUMMMMMM..

Irawan pun langsung tumbang kebelakang.. bajingaaannnn..

Tumbangnya irawan langsung membuat jantungku berhenti sesaat..

DUG…

DUG…

DUG..

Lalu jantungku berdetak dengan lambat.. ingin aku meraih tangannya dan membantunya berdiri.. bajingaaannn.. kenapa pertarungan hari ini membuat aku lemah..? asssuuuuu.. kenapa aku tidak sekuat sebelumnya dan kenapa ada perasaan menyesal dihatiku..? kenapa..? bangsaatttttt…

“hey anakku cakra.. ada apa denganmu..? kamu lupa dengan cintamu yang kandas..? kamu lupa dengan tetesan darahku yang keluar ketika jati membunuhku..? apa kamu juga lupa dengan setiap tetesan air mata dari ibumu setelah kepergianku, sampai dia menyusulku..? ayolah anakku.. bantai dia.. bunuh dia..” ucap ayahku yang selau terngiang dikepalaku…

“iya.. aku akan membunuhnya yah.. aku akan membunuhnya…” dan emosiku pun perlahan naik kembali..

Dan kulihat irawan sudah mulai berdiri lagi sambil menunduk dan memegangi tangan kanannya yang patah dengan tangan kirinya.. lalu irawan memegang sikut kanannya dan diurut sampai pergelangan tangan kanannya dan memutarnya dengan tangan kiri dengan kuatnya..

KRAAKKKKK..

Bangsaattt.. rupanya dia masih bisa mengembalikan pergelangan tangannya yang patah.. lalu irawan mengangkat wajahnya yang penuh darah dan dengan tatapan yang sangat mengerikan kearah ku.. irawan pun terlihat tersenyum dengan bengisnya sambil membersihkan darah yang keluar dari mulutnya… hem.. rupanya emosi sudah mulai menguasai kepalanya akibat tangannya kupatahkan dan aku tumbangkan tadi..

Aku hanya tersenyum.. lalu dengan emosi yang mulai menguasai kepalaku lagi.. aku maju sambil mengarahkan tendangan kearah wajah irawan..

WUUTTTTT..

Irawan menunduk dan cepat berputar sambil mengarahkan tendangan balik dengan tendangan yang lurus kearah bagian samping leherku..

BUUUHHGGG…

Aku oleng kesamping kanan.. lalu irawan berputar lagi dan mengarahkan tendangannya lagi kearah wajah sebelah kanan ku dengan tumitnya..

BUUUHHGGG…

Wajah ku terdanga dengan darah yang menyembur dari mulutku.. lalu sambil meloncat.. irawan mengarahkan kepalan tangan kanan dan kepalan tangan kiri secara bergantian kearah wajahku..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Aku termundur dan terdesak dengan pukulan beruntun irawan.. dan ketika aku sudah berdarah – darah.. aku melihat air mata menetes dikedua mata irawan bercampur dengan darah diwajahnya.. bangsaattt.. apa dia sakit juga ketika memukulku..? assuuuu..

Lalu

DORRRRRRR…

Aku mendengar satu bunyi letusan dari bawah sana..

“ARRGHHHHHHH..” teriak anak dari irawan..

“SANDIIIIIIIIII..” teriak orang – orang dibawah sana..

Bangsaattt.. siapa yang menembak..? apa anak buahku..? bajingaannn.. kenapa dia tidak mendengar perintahku tadi..? aku kan memerintahkan supaya tidak ada senjata diruangan ini..? bajingaaannnn..

Dan irawan yang berdiri dihadapanku langsung menoleh kearah suara tembakan tadi.. wajahnya terlihat terkejut dan langsung memucat…

“sa.. sa.. sa.. sandi..” ucap irawan dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

“sekarang waktunya nak.. bunuh dia.. bunuh dia.. balaskan dendam ayahmu ini dan rebut kembali kekasihmu..” ucap ayahku yang mendengung dengan keras diruang kepalaku..

“tidak ayah.. cukup sudah…” ucapku didalam hati..

“kenapa cakra..? apa hatimu sekarang sudah lemah..? apa cintamu kepada anjani sudah luntur..? kamu tidak ingin membalas setiap sakit hatimu..? kamu tidak ingin membalas kematianku dan ibumu..?” ucap ayahku yang terus memancing emosiku..

“bu.. bukan begitu yah..” ucapku terbata – bata..

“kamu ternyata sekarang jadi pecundang seperti irawan nak.. hehehe..” ucap ayahku mengejekku..

“aku bukan pecundang yah..” ucapku dengan tegas..

“P E C U N D A N G …!!!!!!!” ucap ayahku pelan dan tegas..

“aku bukan pecundang yahhh..” ucapku dengan emosi yang mulai naik lagi..

“C A K R A P E C U N D A N G….!!!!!!!” ejek ayahku dan kali ini lebih nyaring terdengar

“AKU BUKAN PECUNDANG YAHHHHHH..” teriakku dan aku langsung mengepalkan kedua tanganku..

“kalau bukan pecundang.. habisi dia dan bunuh dia sekarang juga.. demi cintamu dan demi ayah ibumu..” perintah ayahku dengan tegasnya..

“BANGSAAATTTTTTT..” teriakku didalam hati.. lalu..

BUUUHHHHHGGGG..

Sebuah pukulanku yang sangat telak menghantam rahang irawan yang masih sok melihat anaknya tumbang.. dan pukulanku yang sangat keras itu langsung membuat nya roboh kebelakang..

POV irawan

Inilah kehidupanku sekarang.. hidup bahagia dengan seorang istri yang sangat cantik bernama putri anjani ranajaya.. seorang wanita yang bisa menerimaku dengan segala kekuranganku dan wanita yang sangat luar biasa yang selalu mendampingi aku.. walaupun dengan darah dan air mata, aku rela mendapatkannya.. memang perjalanan hidupku dengan anjani tidak mudah.. terlalu banyak pilihan, pengorbanan dan kesedihan.. tapi itu kami lalui bersama sampai kebahagian datang dan menaungi kehidupan kami..

Aku dan anjani mempunya tiga orang anak.. anak pertama kami seorang laki – laki yang gagah dan sangat keras kepala, sandi purnama irawan.. anak kedua kami seorang wanita yang sangat anggun dan cantik, eliana rumi irawan.. anak ketiga kami seorang wanita yang tomboy, manis dan agak manja, suhita maharani irawan..

Kami berlima hidup dengan cinta dan kasih sayang dipulau seberang.. ya.. aku merantau kepulau seberang tepat setelah kelahiran putri kedua kami.. aku sengaja meninggalkan pulau ini dan ingin hidup dengan tenang tanpa terlibat bisnis hitam bapakku.. dan ini semua juga demi sandi anakku..

Cukup sudah aku terlibat dengan hingar – bingarnya kehidupan bajingan dipulau ini.. aku tidak ingin anak – anakku terlibat dengan bisnis hitam bapakku.. aku ingin anakku terutama sandi, hidup selayaknya anak – anak muda lainnya yang bisa menikmati hidupnya tanpa ada perkelahian, minuman dan perebutan kekuasaan..

Tapi mungkin garis dari sang pencipta terhadap keturunanku, yang harus berhadapan dengan kerasnya dunia.. sesuatu yang seharusnya aku hindari dipulau kelahiranku.. dipulau seberang, sandi kecil berubah menjadi aku yang dulu.. sandi sering berkelahi, mabuk dan berurusan dengan bajingan jalanan dipulau seberang..

Dan itu semua bermula karena kecewa dan sakit hatinya terhadap seorang wanita yang tidak menemuinya waktu kecil dulu.. memey..

Gila.. rasa kecewanya yang dipendam, diluapkan dengan berkelahi dan dia semakin menjadi ketika STM.. sandi mabuk – mabukan dan sering tawuran.. puncaknya ketika dia berurusan dengan dua orang penguasa kota ini dan juga rekan bisnisku.. mamat dan gunawan..

Aku sendiri yang membebaskannya dari sekapan dua bajingan penguasa kota ini di gudang dekat pelabuhan.. dan hatiku terasa sakit sekali ketika melihat putra tersayangku yang berada diinjakan kaki mamat.. kondisinya yang terluka parah dan wajah penuh darah.. serta kepalanya diinjak.. membuat emosiku menggila dihari itu.. emosi yang sudah lama tidak pernah datang dikepalaku.. hari itu langsung meluap sejadi – jadinya.. putra tersayangku yang tidak pernah aku pukul, jangankan aku pukul.. memarahinya pun aku tidak sanggup.. tapi dihari itu dia diperlakukan seperti binatang oleh mamat dan gunawan.. bajingaannn..

Aku menghabisi semua anak buah mamat dan gunawan.. termasuk mereka berdua pun aku hajar tanpa ampun.. dan setelah hari itu, aku memutuskan kerjasama dengan kedua bajingan itu..

Sandi purnama irawan.. anak laki – lakiku satu satunya.. aku ingat sekali dulu ketika dia dilahirkan..

Tepat dimalam bulan purnama yang sedang melingkar dengan sempurna.. disebuah rumah sakit di pulau itu.. bapak jati, ibuku, bapak ranajaya, ibu mertuaku serta saudara – saudaraku dan saudara anjani.. menantikan dengan cemas kelahiran sandi..

Sedangkan aku.. aku menguatkan hatiku dan selalu mendampingi istriku untuk persalinan anak pertamaku itu.. aku selalu menggenggam tangan istri tercintaku.. belum pernah aku merasakan takut dan setegang ini.. pertempuran sehebat dan sekeras apapun, tidak bisa mengalahkan kondisiku ketika melihat istriku berjuang melahirkan anakku.. air matanya terus mengalir dan keringat deras membasahi seluruh tubuhnya.. bahkan anjani hampir pingsan ketika sandi sudah akan keluar dari rahimnya..

Tapi aku terus mengenggam tangannya dan memberikan dia semangat.. doa – doa pun tidak lepas dari mulutku.. sampai akhirnya sandi lahir.. aku sangat terkejut ketika tidak mendengar tangisan dari anakku itu.. ada apa ini..? apa anakku tidak bisa bicara..? dan aku lihat anakku lahir dengan keadaan terbungkus… aku pun makin terkejut melihat sandi masih terbungkus selaput itu.. dengan refleknya, aku melepas pegangan tanganku di anjani lalu merebut sandi dari tangan suster dan menggendong anakku itu.. aku langsung membawanya keluar dari ruang persalinan menemui kedua orang tuaku dan mertuaku..

Melihat kondisi sandi yang terbungkus.. bapak memerintahkan gito untuk mengambil jerami padi yang mengering.. lalu bapakku membawaku dan anakku kesebuah ruangan dirumah sakit yang sengaja dikosongkan secara paksa oleh ji’i adikku.. dan setelah bungkusan selaput ditubuh sandi telah dibuka oleh bapak.. tangisan sandi terdengar dengan nyaringnya.. bapakku mencium kening sandi lalu menyerahkan sandi kecil kepadaku..

“lantunkanlah ayat – ayat sang pencipta dikedua telinganya wan.. biarkan anakmu mendengarkan kebesaran sang pencipta untuk pertama kalinya.. ” perintah bapakku..

Ditengah tangisnya yang mengeras.. aku pun melantunkan ayat – ayat sang pencipta dikedua telinga anakku.. dengan bibir yang bergetar dan tetesan air mataku, aku menggendong sandi dan terus mengucapkan ayat – ayat yang membuat siapapun pasti akan merinding ketika mendengarnya.. tangis sandi pun langsung terhenti setelah mendengar kalimat – kalimat yang terucap dari bibirku.. dia seolah menikmati setiap ayat yang terucap.. dan setelah selesai.. aku mencium kening bayi mungilku ini dan dilanjut mencium kedua pipinya..

“siapa nama anakmu ini wan..?” tanya bapakku..

“sandi purnama irawan..” ucapku dengan tegas sambil menatap lembut wajah anakku..

“sandi adalah pelindung pak.. purnama itu terang dan irawan adalah namaku.. semoga anakku bangga memakai namaku dan semoga anakku menjadi kebangganku.. seorang yang menerangkan dan menjadi pelindung bagi orang lain disekitarnya..” ucapku dan kukecup lagi kening bayi mungil kesayanganku ini..

“bawalah anak ini ke ibunya dulu wan.. setelah itu kamu kemari lagi..” perintah bapakku..

“wan.. jarang terjadi kelahiran seperti ini.. anakmu lahir tepat dibulan purnama dan lahir dengan kondisi terbungkus..” ucap bapakku setelah aku meyerahkan anakku kepada istriku..

“maksud bapak..?” tanyaku..

“cucuku ini akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, bahkan melebihi aku dan kamu.. jadi jagalah dia dengan baik.. jangan sampai hawa jahat menaunginya..” ucap bapakku sambil menepuk pundakku..

Gila.. kalau memang seperti ini, aku harus membawanya keluar dari pulau ini.. aku harus merantau ke daerah lain.. aku ga mau anakku dinaungi hawa jahat sesuai ucapan bapakku barusan.. aku ingin dia menjadi anak yang menyalurkan semua bakatnya ke hal yang positif..

Tapi rencanaku itu selalu ditolak oleh bapak dan ibuku.. bapakku beralasan, sandi masih bisa dilindungi dipulau ini.. jadi tidak perlu keluar pulau..

Sampai ketika sandi berumur empat tahun..

Sandi yang hari itu berebut mainan kesukaannya dengan seorang anak tetanggaku yang usianya sekitar sepuluh tahun.. mengamuk dan memukul anak itu.. kemarahannya sangat luar biasa, tubuhnya memerah dan suhu tubuhnya sangat panas sekali.. matanya sangat tajam ketika mengejar dan menghantam anak yang jauh lebih besar darinya itu..

Dan ketika aku tangkap dan aku tenangkan pun.. sandi meronta dan menangis sejadi – jadinya.. tangisnya parau dan sangat memekakan telinga.. matanya memerah dan terus mengeluarkan air mata sambil terus berteriak.. sampai akhirnya dia dipeluk oleh anjani.. belaian lembut dikepala sandi.. lambat laun membuat tangisnya mereda dan tatapannya kembali seperti semula.. suhu tubuhnya pun mendingin.. gila.. aku dan anjani sampai dibuatnya ketakutan…

Dan mulai detik itu juga aku bertekad untuk keluar dari pulau ini.. dengan bisnis hitam yang dimiliki bapak.. ga menutup kemungkinan sandi akan terlibat dan akan menggila kalau aku terus menetap didesa ini.. dan setelah ana, anak kedua perempuanku lahir.. aku pun meninggalkan pulau ini..

Aku yang hanya bermodalkan nekat, semangat dan selembar ijazah kampus teknik kita, berangkat kepulau sebarang.. aku meninggalkan dunia yang membesarkan namaku.. dunia hitam..

Banyak kenangan yang aku tinggalkan dipulau ini.. mulai dari cintaku dengan damayanti yang telah aku kubur setelah aku menikahi anjani.. terus aku menolak secara halus cinta adeknya yang masih SMP pada waktu itu, jenny kusuma.. dan satu lagi, gadis.. seorang wanita yang sangat misterius dan selalu datang pada saat aku mandi disungai yang membelah antara desa jati luhur dan jati bening..

Belum lagi aku harus meninggalkan para sahabatku pendiri pondok merah tanpa berpamitan kemereka.. kakanda agus, totok, nawi dan tomo.. aku tau mereka pasti marah aku tidak pamit dengan mereka, tapi apa mau dikata.. aku ingin meninggalkan pulau ini tanpa ada yang tau dan aku sengaja tidak memberi alamat kami kepada siapapun.. (dan hanya pandu sepupuku yang akhirnya aku beritahu dikemudian hari.. itu semua karena selain bisnisku yang berkembang.. pandu juga sangat pintar dalam permasalahan dilapangan.. aku sering melibatkannya dalam beberapa proyek dipulau seberang.. )

Dan setelah belasan tahun, aku meninggalkan pulau ini.. aku balik, karena putraku lagi – lagi kritis dirumah sakit karena ditikam kelompok dari desa utara.. anjani sangat marah kepadaku.. tapi wajarlah anjani marah.. karena putra kesayangan kami itu sedang kritis.. dan sebenarnya anjani melarang keputusanku untuk mengirim sandi untuk kuliah dipulau ini.. tapi aku yakin keputusanku ini sangatlah baik untuk kebaikan sandi.. aku ingin dia menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri..

Aku termakan oleh omonganku sendiri.. aku merantau supaya anakku terhindar dari hiruk pikuk bajingan dikota ini.. tapi aku justru mengirimnya kembali setelah dewasa kepulau ini untuk kuliah.. keputusan yang sangat sulit dan aku telah memikirkan masak – masak segala resikonya.. aku berkeyakinan.. dengan sikapnya seperti ini.. hanya dengan kuliah dikampus teknik kita dan kos dipondok merah, akan membentuk pribadinya menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.. tapi aku tidak melepasnya begitu saja.. ada pandu sepupuku yang menjaganya dan ada juga beberapa mata – mataku yang selalu mengawasi sandi..

Dan setelah sandi mulai sadar dari kritisnya.. aku pun kembali kepulau seberang.. dan aku kembali lagi kepulau ini setelah mendengar kabar adanya pertempuran keluargaku dengan aliansi selatan dan sandi terlibat didalamnya.. bajingaann..

Kenapa aku terlibat.. aku ingin memberikan shock terapi bagi siapa saja yang berani mengusik keluargaku dan aku menjaga kalau ada sahabatku yang sekarang membenciku terlibat dipertempuran waktu itu.. cakra..

Karena aliansi selatan ini bentukan dari cakra.. aku mengetahuinya dari mata – mataku yang ada dipulau ini..

Cakra.. sahabat yang seperti saudaraku.. tapi sekarang kami saling bermusuhan.. aku sudah berkali – kali mengajaknya berdamai tapi dia selalu menolaknya.. dia sudah terlalu membenciku karena aku menikahi anjani.. cinta sejatinya..

Hubunganku dengan anjani pun tidak semulus seperti apa yang kami inginkan.. putus sambung sudah biasa waktu kami berpacaran.. perselingkuhan pun aku jalani.. kenapa..? factor cakra.. ketika aku tau cakra begitu mencintai anjani.. aku sempat mundur dan akan menjodohkan mereka berdua.. tapi tentu saja.. keinginanku ini tidak aku sampaikan ke anjani dan cakra..

Dan disanalah awal mula aku bermain hati dengan damayanti.. aku hanya ingin mengalihkan pikiranku dari anjani.. tapi aku terjebak dengan permainanku sendiri.. aku yang awal mulanya bermain hati, akhirnya benar – benar terjatuh di dekapan damayanti.. gila.. dan disaat seperti itu.. anjani yang akan aku tinggalkan, justru memberikan segala perhatian dan kasih sayangnya kepadaku.. dan akhirnya kalian tau sendiri kan..? aku bingung dengan dua hati yang ada dipikiranku.. aku terlalu menyayangi damayanti dan aku mencintai anjani..

Cakra yang tau aku mendua.. marah dan menjauhi aku.. dia makin menggila dengan ambisinya untuk menguasai provinsi ini.. sebenarnya ambisi itu milik kami berdua.. tapi kampus ini mengajarkan.. “jangan mengejar ambisi dengan kepalan tanganmu.. tapi gunakan otakmu.. karena dengan otak, bukan hanya kota atau provinsi ini.. tapi dunia ini akan bisa kamu taklukkan..”

Dengan semangat itu pun aku bersemangat melanjutkan kuliahku.. dan aku melupakan sejenak masalah cintaku.. aku ingin fokus kepada cita – citaku.. karena didalam pikiranku, jika cita – citaku tercapai.. maka cintaku akan kugapai.. entahlah kenapa aku bisa berpikir seperti itu.. apa karena permasalahan dua hati dihatiku.. entahlah..

Dan disaat aku fokus dengan kuliah.. cakra yang telah pindah kuliah dan berhasil membentuk black house, mulai mengganggu ketenangan pondok merah.. aku sudah mengingatkan cakra berkali – kali tapi dia makin menjadi.. sampai akhirnya cakra dan kelompoknya bertempur dengan kami penghuni pondok merah.. kami semua tumbang dan kalah.. duelku dengan cakra pun dimenangkan olehnya dengan sangat telak..

Aku sangat terpukul hari itu.. bukan karena kekalahan dengan cakra.. tapi karena sahabatku sendiri sekarang menjadi musuhku.. bajingaannn..

Cakra semakin membenciku karena pengaruh ayahnya yang bisnis hitamnya kalah bersaing dengan bapakku.. dan suatu kejadian yang sangat memukul cakra selanjutnya adalah kematian ayahnya ditangan bapakku.. sebenarnya bapakku tidak ingin membunuh ayahnya cakra.. tapi dipertarungan terkahir bapak dengan ayahnya cakra.. harusnya tidak ada senjata.. tapi entah kenapa, ayahnya cakra mengeluarkan belati.. dan dengan kemampuan bapakku dalam berkelahi.. akhirnya belati itu menusuk tubuh ayah cakra sendiri..

Dan beberapa bulan kemudian, ibunya cakra meninggal karena sakit – sakitan akibat memikirkan ayah cakra yang telah meninggal…

Cakra semakin menggila.. cintanya dengan anjani tidak terwujud dan kedua orang tuanya tiada..

Dan disaat seperti itu, justru aku menantangnya bertarung.. aku harus menghentikan cakra dan kelompoknya .. bukan karena aku ingin membalas kekalahan.. tapi ini demi sahabatku.. aku ingin mengalahkannya dan membuatnya sadar..

Dan dihari itu aku bersama teman – teman dari pondok merah, berhasil mengalahkan cakra dan kelompoknya.. dipertarungan terakhirku pun, dengan hati yang begitu sedih dan terluka, aku menumbangkannya.. dan setelah melihatnya tidak berdaya aku mengajaknya berdamai.. tapi kebenciannya kepadaku yang begitu besar.. membuatnya memilih lebih baik mati dari pada berdamai denganku..

Aku bisa saja membunuhnya hari itu.. tapi entah kenapa, aku sangat yakin suatu saat nanti cakra akan sadar dan kembali menjadi cakra seperti yang dulu.. cakra sahabatku..

Dan aku melepaskan cakra hari itu..

Rumit ya..? aku aja bingung dengan kondisiku pada waktu itu.. tapi dengan berjalannya waktu, akhirnya aku memilih anjani untuk menjadi teman hidupku.. aku meninggalkan damayanti.. aku tau keputusan ini akan mengecewakan damayanti dan cakra.. tapi hidup adalah pilihan.. kita ga bisa memaksakan sesuatu yang sudah menjadi garisNya..

Dan disaat aku mengucapkan janjiku sebagai suami anjani dihadapan ayahnya.. hatiku menangis memikirkan damayanti dan cakra.. bukan aku menyesali pernikahan ini.. bukan.. tapi aku merasakan sakitnya mereka berdua..

“mas.. kita bukan manusia yang sempurna.. kita ga bisa membuat bahagia semua orang.. yang bisa kita lakukan, hanya berbuat yang terbaik..”

“dan yang terpenting, kita harus yakin.. pertemuan kita dan menyatunya kita hari ini, tidak salah tempat apalagi salah orang.. karena sang pencipta telah merencanakan ini semua mas..” ucap anjani ketika kami berganti pakaian dikamar untuk menyambut tamu – tamu kami.. dan sepertinya anjani tau tentang isi hatiku yang sedang bersedih ini..

“maafkan aku de.. maafkan aku.. aku sangat mencintaimu..” ucapku lalu mencium kening istriku ini..

“mas.. aku ga pernah ragu dengan cintamu.. aku tau, mas bukan manusia yang sempurna.. dan aku juga bukan manusia yang sempurna.. tapi.. mari kita jemput kesempurnaan kita, dengan senyum anak – anak kita kelak.. ” ucap anjani sambil menyandarkan kelapanya didadaku..

Itulah anjani.. dia selalu menjadi penyejukku ketika hatiku sedang gundah dan ditempa banyak masalah.. aku seperti menjadi laki – laki yang sempurna ketika berada didekatnya..

Kita kembali dengan pertempuran ketiga ku dengan cakra dan kelompoknya.. setelah cakra tidak muncul pada saat kami membantai aliansi selatan.. sekarang dia bangkit lagi dengan iblis hitamnya.. walaupun akhirnya iblis hitam bisa ditumbangkan oleh anakku dan semua penghuni pondok merah generasi yang sekarang.. cakra mencorengnya dengan menumbangkan semua penghuni pondok merah termasuk anakku.. aku tau dia ingin memancingku untuk datang lagi..

Dengan kondisiku yang lagi sakit.. aku pun terbang kepulau ini.. aku yakin cakra akan datang kali ini.. dan entah kenapa, aku yakin ini adalah pertarungan kami yang terakhir.. entah siapa yang akan tumbang diantara kami berdua.. atau siapa yang akan menumbangkan kami berdua.. dan sekali lagi, aku yakin.. ini adalah akhir dari pertempuran panjang kami.. semoga..

Dan sekarang aku berdiri dihadapan cakra sambil menunduk dan memegangi tangan kananku yang patah dengan tangan kiriku.. lalu aku memegang sikut kananku dan aku urut sampai pergelangan tangan kananku dan memutarnya dengan tangan kiriku dengan kuatnya..

KRAAKKKKK..

“HUPPPPPP..” aku menahan sakit yang luar biasa..

Ya.. aku sekarang sudah memulai duelku dengan cakra.. setelah aku berhasil menerobos semua pasukan cakra.. aku berduel dengannya diatas panggung.. dengan perasaan yang kalut dan kondisiku yang sakit.. tatapan cakra berbeda dari seperti biasa saat dia bertarung.. biasanya tatapan matanya tajam dan menghitam.. tapi kali ini hanya hitam.. aku melihat dia seperti bergulat dengan batinnya.. aku merasakan dia sangat sedih dan memendam perih yang teramat sangat..

Bagaimana kabarmu kawan..? setelah belasan tahun, hari ini kita bertemu lagi.. bukan kebencian yang ada dihatiku.. tapi kangenku sebagai sahabat..

Tapi semesta tidak mengijinkanku berdiri sebagai sahabatmu lagi.. aku berdiri sebagai lawanmu..

Aku menatap cakra dan kedua tanganku terkepal.. kulihat cakra tersenyum.. lalu dia berlari kearahku sambil mengarahkan tendangannnya kearah wajahku..

WUUTTTTT..

Aku menunduk dan aku langsung memutarkan tubuhku dengan cepat sambil mengarahkan tendangan balik dengan tendangan yang lurus kearah bagian samping leher cakra..

BUUUHHGGG…

Cakra langsung oleng kesamping kanan.. lalu aku berputar lagi dan mengarahkan tendanganku lagi kearah wajah sebelah kanan cakra dengan tumitku..

BUUUHHGGG…

Wajah nya terdanga dengan darah yang menyembur dari mulutnya.. lalu sambil meloncat.. aku mengarahkan kepalan tangan kanan dan kepalan tangan kiri secara bergantian kearah wajah cakra..

BAJINGAAANNNN..

Tega ga tega.. aku harus tega.. aku harus menyadarkan cakra dari kesalahannya..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Aku terus menghajar wajah cakra.. dan cakra termundur lalu terdesak dengan pukulan beruntun ku.. dan ketika wajah cakra dipenuhi darah.. air mataku menetes dikedua mataku.. assuuuu.. maafkan aku cak.. maafkan aku..

Lalu ketika aku akan mengahajarnya lagi…

DORRRRRRR…

Aku mendengar satu bunyi letusan dari bawah sana..

“ARRGHHHHHHH..” teriak seorang anak yang aku kenal sekali suara anak itu.. bangsaattt.. itu suara sandi.. apa sandi tertembak..?

“SANDIIIIIIIIII..” teriak orang – orang dibawah sana..

Jiancookkkk.. kenapa tubuhku langsung kaku seketika..? tanganku pun masih terkepal dihadapan cakra.. aku langsung menoleh kearah suara tembakan tadi.. dan tubuhku yang tadinya kaku.. langsung lemas seketika..

Aku melihat sandi roboh dengan luka tembak didadanya..

“sa.. sa.. sa.. sandi..” ucapku dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

Lalu tiba – tiba..

BUUUHHHHHGGGG..

Sebuah pukulanku yang sangat telak menghantam rahang ku.. tubuhku yang lemas karena melihat sandi terkapar.. langsung roboh seketika…

Aku tidak merasakan sakit sama sekali.. dipikiranku hanya ada sandi yang terkapar.. apa dia masih hidup atau dia sudah mati..? bajingaannn.. aku paling tidak bisa melihat anakku terkapar seperti itu.. biasanya aku pasti akan emosi sekali.. tapi entah kenapa, sekarang aku justru tidak ada tenaga sama sekali..

Aku roboh kebelakang dan terlentang..

Cakra lalu menginjak dadaku dan perutku dengan kuatnya..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Aku hanya melengkungkan tubuhku keatas.. dan sekali lagi aku tidak merasakan sakit sama sekali.. tatapanku kosong dan aku tidak bertenaga sama sekali..

Lalu cakra menendang bagian samping tubuhku tepat di tulang igaku dengan kuat sampai aku terputar dan tengkurap dilantai..

BUUUHHGGG…

KRAAKKKKKK..

Aku merasa tulang igaku ada yang patah.. dan dengan posisiku yang tengkurap ini.. aku bisa melihat kehadiran bapak jati diruangan ini.. beliau dengan santainya berdiri dan menghisap rokok kelobotnya.. lalu beliau jongkok didekat sandi yang telah didudukan dan bersandar didinding.. lalu bapak mengoleskan ramuan keluka bekas tembakan didada sandi..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Dalam kondisi yang tengkurap seperti ini.. cakra terus menginjak punggungku dan sesekali menendang tubuh bagian sampingku..

Lalu cakra menjambak rambut belakangku sampai aku berdiri.. setelah itu kepala belakang ku dipegang tangan kiri cakra.. sedangkan tangan kanan cakra yang terkepal, langsung menghajar wajahku yang sudah dipenuhi oleh darah..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Aku tidak melawannya sama sekali dan tubuhku masih sangat lemas sekali… lalu cakra mendekatkan wajahnya kewajahku dan menatapku dengan tajam sekali.. kali ini tatapannya kembali menggila.. dia seperti emosi sekali dan ingin membunuhku..

“kenapa kamu ga melawan wan..?” bisik cakra kepadaku..

Aku hanya tersenyum sambil memiringkan sedikit wajahku… tetesan darahku pun semakin banyak jatuh dilantai..

“BANCIIII..”

“PENCUNDANGG..”

“HAHAHAHAHAHA..”

Ucap cakra sambil tertawa lalu menghajar ku lagi..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Dia terus memancing agar aku melawannya… lalu cakra memegang kepala belakangku lagi dan membanting kepalaku menghadap kelantai dengan kerasnya..

BUUUHHGGG…

BUUUMMMMM…

KRAAAKKKKK..

Hidungku patah.. darahpun menggenang disekitar wajahku… kepalaku tertelungkup dilantai.. lalu dengan sisa tenagaku aku memiringkan kepalaku.. pandanganku sedikit kabur.. tapi samar – samar aku masih bisa melihat sandi telah sadarkan diri.. dia begitu emosi sekali melihat kondisiku seperti ini.. senyuman ku pun langsung tersungging dibibirku.. anakku.. kamu selamat ya..

Lalu aku mendengar cakra berjalan mendekatiku dan menginjak wajahku..

BUUUHHGGG…

Lalu cakra menahan injakannya itu diwajahku..

Kembali aku tersenyum.. ini bukan cakra.. semarah – marahnya cakra kepadaku.. dia tidak mungkin menghinaku seperti ini.. ini pasti pengaruh dari mata hitam dari desa jati bening..

Mata hitam.. jika kita dibawah pengaruhnya.. kita akan jahat.. seperti ayahnya cakra dan turun ke cakra.. tetapi, ketika siapapun bisa mengendalikan mata hitam.. orang itu akan menjadi kuat dan mempunyai aura yang menyejukan.. seperti bapak mertuaku, ranajaya..

Dan itu sama seperti mata merah yang dimiliki orang – orang pilihan didesa jati luhur.. dan menurut tetua kami, ketika mata merah dan mata hitam bersatu serta bisa mengendalikannya.. orang itu akan sulit ditandingi.. dan sampai hari ini.. aku belum pernah melihat ada orang yang seperti itu..

“ANJANIIIIIIIIIIIIIII.. SUAMIMU SEKARANG ADA DITELAPAK KAKIKU.. DAN SEBENTAR LAGI DIA AKAN MATI DITANGANKU.. TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENGHALANGI CINTA KU KEPADAMU.. HAHAHAHAHAHAHA..” teriak cakra lalu tertawa dengan kerasnya..

“setelah ini.. giliran putramu yang aku bunuh.. kamu milikku anjani.. kamu milikku.. HAHAHAHAHAHA..” ucap cakra lalu tertawa dengan kerasnya sambil menguatkan injakannya diwajahku..

Pandanganku pun kembali tertuju kepada putraku sandi.. aku lihat dia berdiri berlahan – lahan dengan kepala yang tertunduk.. dan sandi langsung mengangkat wajahnya pelan sekali.. pandangannya lurus kedepan dan menatap cakra dengan tajamnya.. darah yang memenuhi wajahnya pun, semakin membuat wajahnya terlihat garang..

Tubuhnya sedikit bergetar.. kedua tangannya terkepal.. tiba – tiba matanya memerah.. sandi sangat emosi sekali.. seluruh bola matanya berwarna merah darah…

“AYAH…” ucap sandi dengan suara yang parau dan berat, serta bibir yang bergetar..

Astaga.. anakku bisa mengerikan seperti ini..? dia emosi sekali ketika aku diinjak oleh cakra..

Jangan melawan nak.. cakra bukan tandinganmu.. dia lawanku.. tapi lagi – lagi tubuhku sulit untuk bergerak.. bagaimana caranya aku menahan sandi..? dan aku kembali melawan cakra..?

Memang aku tadi memancing sandi,.. jika aku kalah hanya darah dagingku yang boleh melawan cakra.. tapi itu tadi.. sebelum sandi tertembak dan cakra tidak seemosi sekarang ini.. bajingaannn..

“maju sini kau anak bau kencur..” ucap cakra sambil terus menekan injakan kakinya dikepalaku.. cakra memancing anakku itu untuk maju kearahnya..

Sandi pun berjalan kearah panggung dengan kepala yang sedikit menunduk dan tatapannya yang makin tajam kearah cakra.. kenapa sandi dibiarkan maju..? kenapa bapak tidak menghalanginya..?

“AKU AKAN MEMBUNUHMU CAKRA.. AKU AKAN MEMBUNUHMU..” ucap sandi dengan bibir yang bergetar..

BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG…

Cakra menginjak kepalaku dengan kuatnya sebanyak tiga kali.. lalu menahannya lagi diwajahku..

“HAHAHAHAHAHAHAHA..” lalu cakra tertawa dengan kerasnya..

“AYYAAAHHHHHHHH….” Teriak sandi lalu berlari kearah panggung sambil mengarahkan kepalan tangannya kesamping…

Dan ketika sandi sudah dihadapanku..

BUHHGGGG…

Cakra mengangkat kakinya dari wajahku dan menginjak dada sandi.. langkah sandi langsung terhenti seketika.. lalu..

BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG…

Cakra mengahantam wajah sandi dengan ganasnya.. dan sandi sampai termundur kebelakang.. bajingaaannnn…

BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG…

“kubunuh kamu.. kubunuh..” ucap cakra sambil terus menghantam wajah sandi.. dan sandi tidak bisa melawannya.. lalu cakra memutarkan tubuhnya dengan kuat dan mengarahkan tendangan balik kearah wajah sandi..

BUHHGGGG…

BUUUMMMM..

Sandi terlempar kebelakang dan dia langsung terduduk tersandar didinding.. bajingaannn.. perlahan emosiku naik lagi.. tanganku pun terkepal.. aku melihat sandi tersandar didinding dengan wajah berdarah – darah dan menunduk.. bajingan kamu cakra.. bangsaatttt..

Ruangan ini pun menjadi sangat tegang.. semua mata memandang kearah sandi dan cakra.. teman – temanku sebenarnya ingin membantu.. tapi mereka sudah aku larang tadi..

Dan ketika aku akan mengangkat tubuhku yang masih lemas..

“he.. he.. he.. cuman segitu aja kemampuanmu cakra.. hehehehehe..” ucap sandi dengan sinisnya dan tetap menunduk.. dan dia sempat tertawa mengejek… gila anakku ini.. masih kuat dia.. aku kira dia pingsan lagi..

“masih bisa bersuara kamu..? jangan berdiri ya.. biar aku kesitu dan kupatahkan lehermu..” ucap cakra dengan sadisnya..

“cukup cak.. cukup.. ini masalahmu denganku bukan dengan anakku..” ucapku menahan supaya cakra tidak mendatangi dan menghajar putraku lagi..

“tenanglah disitu wan.. biarkan aku membunuh anakmu.. baru aku akan membunuhmu.. hahahahaha..” ucap cakra lalu tertawa..

“apa kamu mau membunuhku..?” ucap sandi lalu mengangkat wajahnya pelan..

“HAHAHAHAHAHAHA..” lalu sandi tertawa dengan kerasnya.. tawanya terdengar sangat mengerikan dan membuat bulu kuduku berdiri.. teman – temanku yang lainpun terlihat sangat terkejut.. sedangkan bapak masih saja santai melihat sandi tertawa..

Lalu berlahan aku melihat bola mata sandi yang semuanya memerah seperti darah.. tiba – tiba ada lingkaran hitam kecil muncul dikedua bola mata sandi.. lingkaran itu pun makin lama makin membesar.. dan mata sandi terlihat hitam pekat ditengah dan merah darah disekitarnya.. bajingaaaannn.. apa sandi bisa menaklukan mata hitam dan mata merah..? gilaa.. apa ini yang dibilang bapakku ketika sandi lahir dulu..? sandi akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa melebihi kekuatanku dan bapak sendiri.. luar biasa anakku ini..

Sandi lalu berdiri perlahan sampai seluruh tubuhnya tegak…

“cukup sudah cakra.. cukup.. malam ini adalah malam terakhirmu.. HAHAHAHAHAHA..” ucap anakku dan diakhiri dengan tawa, yang lagi – lagi terdengar menyeramkan..

“ka.. ka.. kamu..” ucap cakra dengan bibir yang bergetar..

“aku iblis pencabut nyawamu..” ucap sandi lalu bergerak maju dengan cepatnya.. dan..

BUHHGGGG…

Sebuah hantaman didada cakra langsung membuat cakra muntah darah segar yang sangat banyak…

“HUEEKKKKKK…”

BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG…

Sandi lalu menghajar cakra dengan kepalan tangan kanan dan kepalan tangan kirinya bergantian.. dan cakrapun tidak bisa membalas serangan sandi yang cepat dan kuat..

BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG…

Sandi terus menghajarnya..

BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG… BUHHGGGG…

Wajah, dada dan perut cakra dihajar oleh sandi.. lalu sandi berdiam diri sejenak dan mundur beberapa langkah.. lalu dia berlari sambil memutarkan tubuhnya dan mengarahkan tendangan balik yang sangat kuat..

BUHHGGGG…

BUUMMMMM..

Cakra langsung tumbang dan roboh terkena tendangan balik sandi.. saking kerasnya tendangan balik sandi tadi.. tubuh cakra sempat melayang dan berputar lalu jatuh tertelungkup.. wajahnya pun menghantam lantai dengan kerasnya…

Cakra jatuh tepat dihadapanku.. tubuhnya mengejang kesakitan.. keringat dinginpun langsung keluar dari tubuhku.. aku merasakan sakit yang sangat luar biasa.. sahabatku mengerang kesakitan tepat dihadapanku.. dan anakku yang merobohkannya..

Dengan sisa tenaganya.. cakra memiringkan kepalanya dan menatap wajahku dengan sebuah senyuman.. senyuman yang telah lama tidak keluar dari bibirnya kepadaku.. senyuman seorang sahabat yang sangat kurindukan… matanya pun berubah menjadi hitam dan putih seperti biasa..

“HUEEKKSSSS…” lagi – lagi cakra memuntahkan darah segar..

“wan.. aku bahagia hari ini.. aku tumbang ditangan anak sahabatku dan ditangan anak dari wanita yang sangat kucintai.. aku tidak menyesali ini wan.. ini adalah jalan yang kupilih.. dan aku akan mati dengan kebanggaan.. aku mati dihadapan sahabat dan saudaraku..” ucap cakra pelan sambil meneteskan air matanya..

Bajingaaannn.. air matakupun menetes melihat sahabatku yang sudah tidak berdaya itu.. dia sahabatku dan dia adalah saudaraku…

Tanganku pun mencoba meraih tangannya… tapi tiba – tiba sandi berlari dengan kencangnya lalu meloncat dan mengarahkan lututnya kearah leher cakra yang tidur tengkurap…

“JANGAN.NAAAAKKKKK..” teriakku kepada sandi.. tapi..

BUHHGGGG…

KRAAKKKKK..

“HOOGGRRRRR…”

Leher cakra patah.. matanya melotot kearahku.. darahpun keluar sangat banyak dari mulutnya.. tubuh cakra mengejang.. dan dia meregangkan nyawa tepat dihadapanku…

“TIDAAKKKKKK…” aku berteriak sekencang – kencangnya dan air matakupun mengalir dengan derasnya…

Sandi lalu mengangkat lututnya dari leher cakra.. tubuhnya terlihat gemetar dan kepalanya mendanga keatas…

“ARRRGGGHHHHHHHHHHH..” teriak sandi lalu dia menjatuhkan kedua lututnya kelantai dan sandi langsung roboh kedepan…

BUMMMMMMM…

Sandi tidak bergerak lagi.. bangsattttt..

Suasana diruangan ini kembali hening.. tidak ada suara teriakan, tertawa, pukulan dan tendangan seperti beberapa menit yang lalu.. semua orang terdiam dan terpaku dengan duel yang mereka saksikan tadi..

Aku lalu mengangkat tubuhku dan berdiri, lalu aku berjalan dengan gontai.. air mataku terus mengalir melihat cakra sudah tidak bernyawa dan sandi yang menggila barusan.. dan ketika aku akan mendekati sandi..

“kamu urus sahabatmu itu nak.. biar sandi, aku yang mengurusnya..” ucap bapak kepadaku..

“boleh aku aja yang merawatnya kang mas..?” ucap seseorang masuk dan berjalan kearah kami.. kami langsung menoleh kearah orang yang baru masuk itu..

Bapak ranajaya.. mertuaku.. tubuhnya yang menua tapi tetap tegap berjalan..

“dia cucuku juga kangmas.. dulu waktu sandi lahir.. kangmas yang merawatnya.. sekarang ijinkan aku untuk merawatnya ya..” ucap bapak ranajaya dengan tenangnya..

Bapakku pun mengangguk.. setelah itu, bapak ranajaya membungkuk dan mengendong putraku itu dengan kedua tangannya.. darah dari tubuh sandi langsung mengenai baju putih yang dikenakannya..

“nak.. baliklah kepulau seberang.. kasihan, istrimu cemas menantimu..” ucap bapak ranajaya kepadaku.. setelah itu beliau berjalan keluar ruangan ini sambil menggendong putraku..

Aku hanya bisa menatap kepergian beliau sampai beliau berlalu dari pandanganku.. setelah itu aku mendekati tubuh cakra yang tergolek dilantai.. aku lalu bersimpuh dengan kedua lututku.. kubalikkan tubuh cakra yang tengkurap dan aku angkat kepala cakra lalu kuletakkan dipahaku..

“sampai bertemu lagi kawan.. kita akan bertemu lagi dengan suasana yang penuh persaudaraan disana.. semoga tidurmu kali ini, membawa jiwamu lebih tenang..” ucapku lalu aku menutup kedua matanya yang melotot.. air mataku masih menetes dengan derasnya, mengiring kepergian sahabatku ini..

“terimakasih untuk kalian semua..” ucapku dengan bibir yang bergetar kepada teman – teman yang mengelilingiku..

#cuukkk.. apa yang kudapat dari pertempuran kali ini..? kemenangan..? tidak.. justru genangan air mata dan darah.. apa ini demi cinta..? tidak.. cinta membawa kebahagiaan, bukan kesedihan.. selamat tinggal kawan, sahabat dan saudara..