. Pacarku Berubah Cantik Part 19 | Kisah Malam

Pacarku Berubah Cantik Part 19

0
12

Pacarku Berubah Cantik Part 19

Rekaman CCTV

Aku menghempaskan badan ke kasur di kosanku di kota Surabaya setelah marathon balik ke Bandung hanya demi mengambil data dalam CCTV yang ada kosanku. Saking teparnya, sampai aku benar2 langsung tertidur begitu menyentuh bantal dan kasur.

Beberapa kali hp-ku berbunyi, kadang telepon, tapi seringnya pesan, dan aku tidak mampu mengangkatnya walau tahu, semacam lucid dream gitu deh. Baru pagi harinya aku pun terbangun dengan badan sakit semua.

Aku langsung membuka hape, dan terlihat banyak sekali pesan yang masuk, terutama dari Marsha, rata2 mengabari dan juga menanyakan kabarku. Bahkan Marsha sampai 3 kali meneleponku malam itu, tapi aku nggak bisa ngangkat. Langsung saja aku meneleponnya.

“Sayang? Kamu nggak papa kan?” tanya Marsha tak lama setelah kutelepon

“Iya, Sayang, maaf semalem gak bisa angkat telepon. Soalnya aku kurang enak badan, jadi minum obat, malah tepar”

“Tuh kan, sudah kuduga, kamu perlu istirahat tuh, kecapekan penelitian”

“Iya nih, badan sampai mau remuk”

“Tapi udah nggak papa, kan?”

“Udah lumayan enakan sih”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja ya, istirahat beneran tapi ya, ntar sore aja aku telepon lagi”

“Mau ada acara lagi hari ini, Yang?”

“Iya, kita mau jelajah nih, katanya ada pantai yang masih murni gitu, jadi kita mau eksplore ke sana”

“Oh gitu, ati2 aja ya sayang, kamu juga jangan capek2”

“Iya, Yang, luv u”

Aku meletakkan telepon di dekat bantal sambil kembali berbaring. Entah selang beberapa lama, ada pesan masuk. Ini dari Marsha. Saat kubuka, aku pun terkejut. Kini Marsha sedang berselfie dari cermin memakai bikini berwarna merah yang amat seksi, walau tak separah micro bikini, tetap saja masih lebih banyak tali daripada kainnya. Di situ terdapat juga caption: “Sayang, aku pakai ini cantik gak?”

Langsung kubalas saja: “Iya, cantik”

“Tengkyu, luv u!” *emotikon cium*

Hmm, mau ngapain ya dia pakai bikini seseksi itu? Tapi kan dia berangkatnya bareng ama cewe2, mungkin bukan buat apa2. Tak beberapa lama kemudian, ada sebuah pesan lagi masuk ke hapeku. Kulihat ternyata bukan oleh Marsha melainkan Sherry. Aku tambah terkejut karena di situ dia memakai string monokini, atau disebut juga sebagai slingshot monokini.

S: “Seksi gak?”

A: “Iya, seksi”

S: “Kayaknya kalau Marsha pake ini seksi juga ya?”

A: “Idih, mau lo suruh pake kayak gituan?”

S: “Who knows? Probably. I still have a pair”

A: “Hmm, jadi penasaran”

S: “Dasar cowok ya, otaknya di selangkangan mulu”

A: “Namanya juga cowok, hehehe”

S: “Ya udah, taruh nih otak lo di sini”

Agak lama, sebuah gambar masuk, dan aku terkejut karena kali ini Sherry mengambil gambar dirinya yang sedang menungging dengan tali renangnya digeser sehingga memperlihatkan vagina dan analnya yang merekah.

S: “Pokoknya besok ketemu lo kudu muasin gw”

A: “Oke, tapi ada syaratnya”

S: “Syarat apaan lagi? Ngawasin cewek lo msh kurang?”

A: “Ya ngawasin tetep, tapi gw pengen lo bujuk dia buat pakai itu baju renang”

S: “Ya ampun, kirain apaan, gitu doang?”

A: “Sementara itu aja”

S: “Gitu doang mah kecil. Gw bikin telanjang seharian juga bisa”

A: “Sombong lo. Emang bisa?”

S: “Serius ini. Ah iya, lo gw message semalem gk bisa2 sih, padahal mau cerita soal kemaren”

A: “Eh? Kemaren, ada apaan?”

S: “Dah, panjang lah pokoknya. Ntar aja gw ceritain, atau besok deh kalau kita ketemuan. Pastinya lo bakal horny berat kalau denger”

Hmm, pasti ada hubungannya sama Marsha. Jantungku mendadak berdebar tidak karuan. Ingin rasanya saat itu langsung mengorek keterangan dari Sherry, tapi sebaiknya kutunggu saja. Petualangan Marscha ini memang selalu buat cenat-cenut.

A: “Oke lah, ntar kalau kita ketemu”

S: “So, jadi nggak nih taruhan?”

A: “Soal monokini dan Marscha sampai telanjang? Oke, boleh, siapa takut. Kalau lo kalah, lu harus mau theresome sama Mang Kosim penjaga warung depan kost gw.

S: “Hah si tua bangka jelek itu?”

A: “Iya. Lu takut kalah?”

S: “Oke, tapi kalo lo kalah, lo kudu balik ke bandung sehari lebih cepet, trs kita kencan seharian penuh, nggak diganggu ama Marsha, hotel ama makan lo yg bayar”

A: “Wuih, kencan.. Emang Thomas ke mana?”

S: “Lagi gak pulang dia ntar, sibuk ngentotin manajer barunya yang tobrut n cakep gila. Ini aja barusan dia kirim foto kontinya lagi disedot ama si manajer itu. Kesel deh”

A: “Ciee.. Ada yang cemburu nih”

S: “Ih sebel”

A: *emotikon melet*

S: “Udah ah, mau berangkat nih, tunggu kabar baik dari gw dan siapin itu duit. Gw pengen lo servis gw abis2an nanti. Bye”

Memang Sherry ini sudah kecanduan sex. Padahal orangnya cantik dan sexy. Sangat gampang dapatkan partner sex. Tapi ya ga semua orang beruntung seperti aku.

Aku kembali merebahkan diri. Kemudian aku melihat ke arah harddisk yang memuat rekaman CCTV di kamar kostku. Ada perasaan ragu untuk melihat isinya. Aku takut jika didalam ternyata ada affair pacarku. Tapi kalau ga dilihat, jadi buat penasaran. Lieur.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku ambil juga hard disk itu. Lalu aku menyambungkan laptopku ke headset, kemudian mulai memutar rekaman CCTV yang kuambil dengan susah payah. Aku tark nafas dalam-dalam. Jantungku berbegup kencang. Akhirnya aku bisa menyaksikan hasil rekaman CCTV itu. Dari display, aku tahu bahwa rekaman ini terjadi dua hari kemarin.

Rekaman dimulai dengan Marsha yang lewat, setelah masuk dari pintu. Karena ini menggunakan sensor gerak, maka baru kalau ada yang lewat dari pintu saja kameranya akan mulai merekam, dan juga setelah tidak ada gerakan sama sekali, kamera masih akan tetap merekam selama 10 menit sebelum stop.

Awalnya biasa saja, Marsha masuk, meletakkan barangnya, dan kalau ditinjau dari suaranya, sepertinya kosan dalam keadaan sepi. Tiba2 saat itu Marsha membuka baju, kemudian celananya, hingga Marsha hanya memakai beha dan CD saja. Masalahnya, walau aku tak bisa melihat pintunya, dari berkas cahaya, aku tahu bahwa pintunya masih terbuka lebar. Marsha tampak celingak-celinguk, seolah memeriksa apakah ada orang.

Di luar dugaanku, bukannya langsung memakai baju ganti, dia malah mengambil laptop, lalu duduk di ranjang yang menghadap ke pintu yang terbuka sambil memainkan laptopnya. Gila! Itu misal ada orang lewat udah jelas bakal kelihatan lah, dan dari jaraknya, hampir mustahil dia bakal sempat menutup pintu seandainya benar ada yang lewat.

Setelah beberapa menit “mengerjakan tugas”, Marsha kembali celingukan, kemudian melepas behanya! Jadi kini pacarku ada di kamar kosan sendirian, hampir bugil! Kulihat jam pada display menunjukkan hampir pukul 4 sore. Biasanya sebentar lagi kosanku akan mulai ramai saat para penghuninya pulang kuliah. Dan Marsha dengan santainya memakai lotion ke seluruh badannya, tapi tampaknya terlalu banyak, sehingga dari CCTV pun terlihat mengkilap.

Benar saja, tak beberapa lama kemudian ada suara seseorang yang telah kembali. Dari reaksinya, Marsha tahu bahwa ada orang, tapi bukannya cepat2 menutup pintu atau memakai baju, dia malah memakai headset bluetooth. Astaga! Ada apa dengannya?

Dari suaranya, aku yakin bahwa itu adalah Johan yang pulang pertama kali. Aku pun juga yakin bahwa Marsha tahu itu suara Johan. Mungkin karena itukah dia tidak buru2 menutup ketelanjangannya? Suara langkah pun semakin mendekat, dan..

“AAAAHH!!”

“Ya Tuhan!! Astaga!!”

Marsha berteriak, sepertinya karena dia melihat Johan dari pintunya. Bukannya melompat atau mengambil selimut yang ada di dekatnya, dia malah merunduk, menutupi tubuh telanjangnya dengan layar laptop. Astaga, mana bisa layar itu melindungi tubuhnya??? Apalagi Johan juga agak tinggi, sehingga dia setidaknya bisa melihat punggung Marsha yang telanjang.

“Ya ampun, Marsha??!”

“Iya, Jo, tolong tutupin pintunya dong”

“Kamu ngapain di situ?”

“Aku lagi pinjem kamarnya Billy buat ngerjain tugas, tolong tutupin dong”

“Ya, ya, bentar”

Dari berkas cahaya, aku tahu bahwa pintu pun ditutup. Pacarku kemudian berdiri, seolah mengintip2, lalu tampak cekikikan. Apa dia sengaja?? Dari suaranya, Johan pun tampak membuka pintu kosannya, kemudian ada bunyi barang yang dijatuhkan.

Selang waktu itu dimanfaatkan oleh pacarku untuk mengambil baju, tapi bukannya memakai bajunya kembali, dia malah mengambil sweater hoodie-ku, yang bagian lehernya berbentuk V hingga ke bawah, dan meskipun ada kancing, namun pacarku memilih membiarkannya terbuka, sehingga bagian tengah dadanya terlihat. Tanpa mengenakan beha kembali, jelas dadanya akan terlihat, dan bila sedang dilonggarkan, maka kedua payudaranya pun akan menyembul keluar.

Dia tampak berpikir sejenak, kemudian di luar perkiraanku, dia pun melepas celana dalamnya, sehingga kini pacarku sudah bugil, hanya ditutup oleh hoodie-ku yang memang memanjang sampai ke pahanya, namun saat duduk, selangkangan pacarku pasti akan terlihat jelas. Apalagi saat ini dia kembali duduk di balik laptopnya dengan kaki bersila, yang jelas akan memperlihatkan vaginanya ke mana-mana. Layar laptop yang ada di depannya pun seolah menjadi penutup formalitas saja.

Terdengar kembali suara pintu terbuka, sepertinya di kosan Johan kembali, dan pacarku dengan gesit segera bergerak ke pintu, dia membukanya sedikit, dan dari kakinya yang dijulurkan masuk kamera, sepertinya dia hanya mengeluarkan kepala dan sebagian tubuh bagian atasnya dari pintu. Setidaknya dia masih memakai hoodie.

“Jo, mau jalan?”

“Iya, mau beli makanan ama camilan. Mau nitip, lo?”

“Iya, beliin juga dong. Suntuk nih, ama minuman juga gpp”

“Oke, tunggu ya”

Pacarku lalu kembali masuk dan menutup pintunya. Di dalam dia kemudian melepas hoodie-nya, kemudian bercermin pada cerminku, seolah ingin memeriksa apakah sudah oke. Dia bahkan meremas2 dadanya, dan juga menggesek2 kemaluannya, mendesah lirih sambil berkata sesuatu. Karena penasaran, kubesarkan volumenya, dan yang kudengar walau agak gak jelas adalah:

“Ayo Johan, iyah… Remas terus, Sayang. Mainin memek dong, yang keras… Uuh.. Aahh…”

Mendengar itu, aku pun semakin geregetan. Apalagi ini tidak ada aku di sana, bagaimana kalau terjadi yang tidak2?

Pacarku mengobel-ngobel vaginanya dengan cepat, vagina yang sudah cukup lama tidak aku nikmati, tapi mungkin sudah dimasukin batang lain. Hiks…

Setelah mencapai orgasme-nya, pacarku pun ambruk sebentar di kasur. Rekaman pun lapse sejenak, karena tidak ada gerakan sama sekali. Rekaman tampak dimulai kembali setelah pacarku menggeliat bangun, karena ada ketukan di pintu.

“Sha, ini Johan, makanan lo nih”

“Iyaa, bentar”

Pacarku kemudian segera mengambil hoodie dan memakainya tanpa dalaman seperti tadi, lalu tanpa merapikan rambut, dia sudah duduk pada posisi seperti tadi, bersila, di depan laptop.

“Masuk, Jo, gk dikunci”

Johan pun langsung membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Dia agak terkejut melihat pacarku cuman memakai baju yang minim, tapi kemudian bertingkah biasa.

“Nih, makanan lo”

“Tengkyu, Johan yang baik”

Johan berdiri di dekat pacarku saat meletakkan kantung berisi makanan. Dari posisi ini aku yakin dia bisa melihat dada dan vagina pacarku dengan jelas. Aku mengharapkan setelah ini Johan akan langsung keluar, tapi ternyata itu tidak terwujud. Dia malah duduk di kursi menghadap agak miring ke arah pacarku, sehingga ada sudut pandangnya ke arah vagina pacarku yang tak tertutupi layar laptopnya.

“Lagi pada sepi ya?” tanya Marsha.

“Iya, dari kemaren udah pada balik kampung”

“Wah, berdua doang dong kita di sini?”

“Gak juga sih, ntar paling agak maleman ada yang datang lagi, kan si Junus kerja malem tuh”

Pacarku hanya mengangguk2 saja dengan mata terfokus pada layar laptop.

“Bikin tugas apaan sih, Sha?”

“Tugas kalkulus 2, susah banget ini, kudu dikumpul besok pula. Makanya gw pinjem kamarnya si Billy, soalnya di rumah gw lagi rame banyak tamu, gak bisa konsen”

“Masih banyak?”

“Udah tinggal seperempat lagi sih”

“Bentar lagi lah ya”

Marsha hanya mengangguk. Kemudian mereka ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas, sementara Marsha terus mengetik di laptopnya. Kulihat Johan mulai gelisah karena terus menggaruk celana pada bagian kemaluannya.

“Gatel ya? Peler digaruk mulu” Kata Marscha.

“Iya, gatel lihat lo”

“Masa sih, gatel kenapa?”

“Lo gak pake CD ya??”

Marsha hanya nyengir saja.

“Gerah, Bos”

“Kalau gerah ya telanjang aja sekalian” Tantang Johan.

“Bener?”

“Iya, bener”

Aku terkejut karena setelah berkata begitu, Marsha langsung melepas hoodie-ku, sehingga kini dia benar2 telanjang di hadapan Johan. Lebih mengejutkan lagi karena pintunya masih terbuka.

“Duh, makin sekel aja tuh body”

“Iya dong, kan dirawat. Udah itu kalau gatel buka aja, kayak gw belum pernah liat aja”

Wait?? Marsha nantangin Johan untuk membuka celana?? Sepertinya ini juga bukan pertama kalinya mereka saling bugil.

Langsung saja si Johan menutup pintu, kemudian membuka celananya, lengkap dengan celana dalam, dan mencuatlah kemaluannya yang memang sudah tegak itu.

“Ih, udah tegang nih”

“Iyalah, lo bugil dr tadi, jelas aja tegang”

Marsha hanya cekikikan saja.

“Gak kangen?”

“Kangen apaan?”

“Ama si Junior” Johan berdiri sambil menggoyangkan penisnya.

“B aja tuh”

“Cih, B lo bilang?”

Pacarku hanya melet saja. Johan pun langsung bangkit dari tempat duduknya, dan duduk di kasur di samping Marsha sambil melihat layar laptop. Bajunya bergesekan dengan kulit telanjang Marsha.

“Ada yang perlu dibantu?”

“Iya, dibantu, tapi lepas lah itu baju, kasar nih kena kulit”

“Siap, Non”

Johan langsung melepas pakaiannya dan kini mereka berdua sudah telanjang di atas kasur. Johan kini berposisi di depan laptop, sementara Marsha mengubah posisinya dengan tidur tengkurap dengan kepalanya bersandar pada paha Johan.

“Yah, kecil ini mah, gampil banget”

“Sombong banget lo”

“Gini juga 5 menit kelar lah kalau ama gw”

“Ih, gitu ya… Awas lo”

“Ig ga percaya…. kalau bisa 5 menit gw kerjakan kasih hadiah ya”

“Gampang,,,,gw kasih hadiah spesial buat kang mas Johan” Kata pacarku.

“OK….Semangat jadinya..” Kata Johan mulai mengarahkan jarinya ke keyboard laptop.

Saat Johan mulai mengetik, tiba-tiba kulihat Marsha berbaring miring meringkuk ke arah Johan, lalu tangannya bergerak2 sepertinya dia sedang mengocok penis Johan.

“Duh.. Curang lo, Sha!”

“Biarin, suruh siapa sombong? Lihat aja, beneran bisa nggak selesai 5 menit?”

Johan pun mulai bekerja dengan Marsha mengocok penisnya, bahkan bukan hanya dengan tangan, kepala Marsha pun terlihat maju dan bergerak2. Aku tahu bahwa pacarku ini sangat jago saat oral.

“Aduuuh… Curang lo…”

Gerakan mengetik Johan pun menjadi kasar dan sembarangan saat Marsha semakin menelateni oralnya. Hingga akhirnya…

“Dah! Kelar!”

Setelah menekan tombol save dengan kasar, Johan langsung bermanuver dan menyerang selangkangan Marsha dalam posisi 69. Karena kameraku hanya menyorot setengah tempat tidur, maka yang terlihat hanyalah pinggul si Johan di atas dengan penis menggantung yang tengah dioral oleh Marsha di bawah. Berkali2 Marsha hanya bisa mengeluarkan lenguhan teredam, dan lama2 badan pacarku ini menegang sebelum akhirnya seperti orang kejang2 dan ambruk.

Johan kemudian berhenti, dan turun, memberi kesempatan Marsha untuk menarik napas. Tapi itu belum selesai, karena dia langsung memutar tubuh Marsha lalu diseret hingga kakinya menjuntai dari pinggiran tempat tidur. Dia kemudian berlutut, lalu kembali menjilat selangkangan Marsha sehingga dia kembali menjerit keenakan.

“Udah basah banget nih…”

Marsha hanya diam saja sambil mengatur napasnya. Johan kemudian mengangkat tungkai Marsha dari pergelangan kaki, kemudian diangkat hingga lututnya menyentuh ke dada. Aku tidak bisa melihat wajah Marsha, sehingga aku tak tahu apa yang dia rasakan. Johan pun menggesek2an penisnya ke vagina Marsha.

“Ada yang kangen masuk rumahnya nih…” goda Johan.

Marsha hanya tertawa saja. Namun saat Johan bersiap memasukkannya, tiba2 terdengar suara ketukan. Bukan dari pintu kamarku, tapi pintu kamar Johan.

“Jo! Lo di dalem? Kita tinggal nungguin lo nih”

Johan menyumpah serapah. Sepertinya dia ada janji dengan temannya, entah siapa. Dengan nada agak jengkel, dia pun berbisik kepada Marsha. Aku coba membesarkan suaranya, tapi masih tidak jelas terdengar, hanya kata2 seperti “ada perlu”, “nggak bisa”, “penting ini”.

Akhirnya Johan pun langsung memakai kembali baju dan celananya, sementara Marsha duduk di tepi tempat tidur dengan memakai hoodie-ku sebagai penutup. Setelah berpakaian, Johan pun membuka pintu, mengatur celahnya sedemikian rupa supaya yang di luar tidak bisa melihat ke dalam.

“Lah, kirain lo di kamar?”

“Ini nih, si Billy tadi WA, minta gw ngecekin kamarnya, takut ada bocor atau apa gt, kan tadi siang ujan”

“Jadi nggak nih? Kita tinggal nungguin lo soalnya. Bapaknya bilang kudu malem ini, kalau nggak dia baru ada waktu lagi minggu depan”

“Iye, bentar, gw ambil berkasnya dulu”

“Oke, gw tunggu di luar yak, temen2 udah pada di luar noh”

“Sip, Bro”

Marsha kali ini sudah memakai hoodie-ku, masih tanpa dalaman atau CD, tapi kali ini dia mengombinasikannya dengan salah satu celana panjang batik milikku. Kenapa dia tak memakai bajunya sendiri saja ya? Kemudian dia keluar dari kamar, sepertinya orang2 yang mencari Johan tadi sudah keluar. Marsha seperti tengah berbicara dengan Johan di balik pintu, di luar penangkapan CCTV. Karena lirih, aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi kemudian ada sebuah suara yang cukup khas terdengar. Yah, suara ciuman basah. Hanya sejenak, kemudian Marsha kembali ke dalam.

Dengan telaten, Marsha pun membereskan laptopnya, lalu merapikan kamarku, yang baru saja dia pakai sebagai tempat bergumul dengan Johan, tak lupa dia menyemprotkan penyegar ruangan supaya kamarku tidak berbau apek. Setelah semua selesai, sekitar 20 menit kemudian, dia pun keluar, sepertinya pulang. Setelah pintu ditutup, agak lama kemudian tak ada aktivitas, dan perekaman pun terhenti. Saat ini aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi dengan apa yang ada di videonya.

Aku hanya diam termenung saja, berusaha mencerna apa yang terjadi tadi. Apakah ini bukan pertama kalinya Marsha dan Johan melakukan tindakan seperti tadi? Memang aku ingin sekali hal ini terjadi, tapi saat benar terjadi, masih saja terasa sakit.

Pada saat itulah, tiba2 perekaman kembali menyala. Display pada waktu menunjukkan masih hari yang sama jam 12 malam, alias hampir 6 jam dari terakhir kali Marsha meninggalkan tempat ini.

Yang membuatku tambah terkejut adalah yang masuk adalah Marsha, dalam keadaan bugil! Hoodie dan celana batikku hanya dibawa dengan disampirkan di tangannya. Lho? Bukannya tadi dia pulang??

Kali ini Marsha tampak agak merengut, dan dengan segera mengambil beha, CD, dan bajunya yang tadi dia pakai saat datang. Yah, karena tadi aku sudah tidak konsentrasi, aku baru sadar bahwa Marsha pergi tadi tanpa membawa laptop dan tasnya, seolah tanda bahwa memang Marsha akan kembali. Tapi, dia dari mana?? Dan kenapa dia datang dalam keadaan bugil seperti itu??

“Sha!” kudengar teriakan memanggil, sepertinya dari Johan.

“Gw balik dulu!” kali ini nada Marsha agak ketus.

“Tadi itu…”

“Gw capek, Jo, gw balik dulu ya!”

“Gw anterin deh, Sha”

“Gak usah, gw udah pesen ojek, abangnya udah datang, ya. Bye-bye”

“Sha…”

Lalu sayup2 kudengar suara ojek online yang menanyakan Marsha, disusul oleh suara motor yang bergerak menjauh. Agak lama tak ada suara, kemudian kudengar Johan berteriak sambil memukul tembok.

Setelah itu perekaman benar2 berhenti. Aku hanya menghela napas, dan kini ada lebih banyak pertanyaan yang menggantung di kepalaku.

BERSAMBUNG

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part