. Pacarku Berubah Cantik Part 18 | Kisah Malam

Pacarku Berubah Cantik Part 18

0
14

Pacarku Berubah Cantik Part 18

Pulang Ke Kost

Dering hape membangunkanku dari tidur. Setelah seharian penelitian kemarin, aku merasa amat lelah sehingga tertidur.

“Sayang, baru bangun?!” suara lembut Marsha terdengar dari seberang hp.

“Iya nih, capek banget. kamu mau berangkat ya? Pagi2 begini?”

“Iya, Yang, kan pesawatnya berangkat pagi, ini udah mau boarding”

“Ati2 ya, Sayang, kasih tahu kalau udah sampai”

“Iya, Sayang. Kamu kalau capek istirahat aja ya, jangan ke mana-mana. Besok minggu depan baru pulang, kan?”

“Iya, Yang”

“Jangan lupa makan, dadah Sayang, i love you”

“Iya, I love you too”

Dia memberikan ciuman jauh, kemudian panggilan ditutup. Marsha memang ada rencana untuk jalan2 ke pantai weekend ini, tak tanggung2, dia mau ke Gili di Lombok. Untuk ini aku sebenarnya agak tenang, karena dia akan pergi bersama teman2 cewek (yang sudah kukonfirmasikan juga dengan Sherry).

Perutku laper sekali. Maka aku pesan makanan online karena malas keluar. Sambil menunggu, untuk menghilangkan kantuk, aku pun browsing instagram dan melihat bahwa pacarku update story menjelang masuk pesawat. Kulihat mereka pergi berlima, cewek semua. Selain pacarku, ada juga Sherry (jelas), dan tiga sisanya adalah teman2 sekelas mereka, yaitu Vanessa, Chintya, dan Wulan. Aku memang pernah bertemu dengan mereka beberapa kali, dan boleh dibilang ketiga cwe ini adalah sahabat terdekat Marsha setelah Sherry.

Tiba2 sebuah pesan muncul dari Marsha. Aku membukanya dan terkejut karena itu gambar dia dalam posisi topless berada di depan cermin kamar mandi sambil satu tangan membentuk tanda peace.

“Jangan kangen ini ya, Yang” *emotikon melet*

Damn! Sejak kapan dia jadi bitchy seperti ini?

Aku hanya tersenyum saja melihat benda kenyal favoritku itu (yang ntah sudah berapa cowo yang pernah menydotnya. Hiks…).

Aku lalu browsing ke forum IGO tempat pacarku pernah dishare fotonya. Penasaran sama foto-foto fotogafer itu. Sudah lama aku ga memantaunya. Sempat aku trauma untuk buka, tapi rasa penasaran mengalahkanku. Persetanlah apa yang terjadi.

Baru saja log in, tiba-tiba aku dengar suara motor penanda pesanan onlineku sudah sampai. Aku pun segera saja menuju ke pintu keluar untuk menyambut datangnya si pengisi perut.

“Pesanan buat Billy, ya Pak?” Tanyaku

“Wah, bukan tuh, pesanan buat Putri, alamatnya bener di sini ya mas?”

Hah? Putri? Siapa itu Putri? Tapi kalau dilihat alamatnya sih bener.

“Kayaknya nggak ada yang namanya Putri deh, Mas…”

“Apa salah ya?”

Tiba2 saja, dari dalam kosan, keluarlah dengan tergesa-gesa seorang cewek yang bening sempurna. Tubuhnya nggak setinggi Marsha, juga boobs-nya pun nggak segede Marsha, tapi kulitnya putih, mulus, dengan rambut bob-nya yang membuatnya tambah imut. Dia memakai hotpants dan kaus yang ketat, namun karena dadanya yang kecil, sehingga tidak terlalu nyeplak. Ini bentuk body yang belum pernah dijamah sepertinya.

“Atas nama Putri, ya Pak?”

“Iya, Neng. Neng-nya bener Putri?”

“Iya, Pak”

“Wah, koq masnya ini bilangnya nggak ada yang namanya Putri tadi”

Cewek yang bernama Putri ini kemudian menatapku, mengangguk sebentar dan tersenyum dengan manis sekali. Pada saat itulah ojol yang membawa pesanan makananku juga datang. Kami pun sama2 membayar dan menerima pesanan kami.

“Namanya Putri? Baru ya?”

“Eh, iya, A’, saya baru di sini, baru kemaren masuk”

“Oh pantesan”

“Aa’nya orang Bandung juga? Namanya siapa?” Dia menebak dari logat sundaku.

“Saya Billy, iya, orang Bandung, kamu kuliah apa kerja, Putri?”

“Kuliah, A’. Ini saya lagi penelitian di sini”

“Oh? Kampus apa?”

“Universitas Dago Atas, fakultas ilmu komunikasi”

“Lha, sama dong kita?”

“Oh, Aa’ lagi penelitian juga?”

“Iya, sama, tapi saya koq gak pernah liat kamu ya? Kamu diajar sama asdos siapa?”

“Asdos saya Teh Isma”

“Oh, beda kelas berarti, pantes”

“Masuk yuk, A’, panas di sini”

“Oh iya, duluan, Putri”

Putri berjalan di depanku saat masuk, dan ternyata dari belakang, walau tocil, bodinya cukup bahenol juga, apalagi pantatnya yang kencang. Nggak kalah ini kalau sama Marsha. Pantat yang bakalan kendor pada waktuny, kalau terlalu sering ditunggangi.

Dia ternyata masuk ke dalam pintu kamar di sebelahku. Wah, kebetulan sekali.

“Masih belum dibongkar2in barang2nya, Put?”

“Iya nih A’, belum, kemarin Putri baru datangnya sore, capek banget”

“Aku bantuin mau gak?”

“Ah, jangan A’, takut ngerepotin”

“Udah, nggak papa, namanya juga tetangga”

“Ya udah deh, kalau gitu Aa’ sekalian aja makan di sini, ntar Putri sediain air”

Hehehe, lumayan nih. Kami pun makan di dalam kamar Putri, walau Putri tidak mengizinkan pintunya ditutup. Selama makan itu kami berbicara panjang lebar hingga akhirnya aku tahu bahwa Putri itu sebenarnya 2 tingkat di bawahku, tapi berhubung dia bisa ambil SKS ekstra, maka dia bisa langsung ambil penelitian. Dia juga katanya sudah memiliki pacar yang ada di Bandung, tapi aku tidak menanyai siapa pacarnya.

Setelah makan, aku pun segera membantu merapikan barang2nya. Awalnya aku hanya membongkar barang2 selain pakaian, tapi saat Putri permisi ke kamar mandi, aku pun iseng memeriksa pakaiannya. Dari situ kuketahui bahwa ukuran behanya adalah 32A, sementara ukuran CD-nya hampir sama dengan Marsha, karena pinggulnya memang agak besar. Dan waah, di balik pakaian itu ada beberapa celana dalam, tapi modelnya rata2 biasa, tidak ada yang terlalu seksi. Tidak kujelajahi lebih jauh karena takut Putri keluar dari kamar mandi dan memergokiku.

Saat membongkar barang lain itulah, aku menemukan sebuah bingkai foto. Di situ terlihat Putri yang sedang berpose mesra dengan pacarnya, bahkan si pacarnya itu tampak mencium pipi Putri. Tapi… Hei, bukankah ini si Ringgo??

“Put, ini pacar kamu?”

“Oh iya, A’, ini pacar Putri, namanya Aa’ Ringgo. Jangan dilihat2 A’, Putri malu”

“Cakep juga ya, pacar kamu”

“Iya lah A’, pasti”

Dalam hati aku ingin sekali berkata padanya bahwa pacarnya ini pernah menyusu pada pacarku. Tapi nanti saja, aku ingin tahu dulu mengenai si Putri ini.

“Aa’ udah punya pacar juga?”

“Udah, Put, namanya Marsha”

Aku pun memperlihatkan fotonya ke Putri.

“Oh ini ya, pernah Putri liat beberapa kali di kelasnya A’ Ringgo, temen sekelasnya kan yah?”

“Iya, bisa kebetulan gitu ya?”

“Iya, ini mah orangnya cantik pisan, Putri kadang takut kalau A’ Ringgo kesengsem ama dia. Tenang sekarang begitu tahu kalau ini pacarnya A’ Billy”

“Tenang? Koq bisa?”

“Ya tenang atuh, A’, kan udah pacaran, artinya udah gak bakal macem2 lagi, iya kan?”

Wah, ini bocah lugu amat ya? Yakin nih pacarnya si Ringgo beneran?? Bisa2nya dia dapet cewek selugu ini.

“Tapi cocok atuh kalau A’ Billy ama Kak Marsha, yang satu geulis pisan, satunya kasep pisan, jodoh ini mah”

“Beneran nih, A’ Billy cakep?”

“Cakep pakai banget banget. Misal Putri belum punya pacar sih mau kalau ama A’ Billy”

“Bener lho, mau ya?”

“Ih, A’ Billy ini apaan sih? Kan udah sama2 punya pacar juga”

“Ya, kali aja, Put”

Putri tidak menjawab, hanya seperti merajuk manja.

Hmm, hidup memang penuh misteri, begitu kata orang, tapi dalam hal ini sepertinya semesta memang sedang membantuku. Kalau memang takdirnya harus seperti itu, maka biarlah…

Setelah selesai makan dan membantu Putri merapikan kamarnya, aku pun meminta kontaknya, yang dia berikan dengan senang hati. Bahkan dia memintaku untuk mengantarnya mencari warung makan siang dan sore nanti.

Cukup sekian dulu obrolan terkait Putri. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku. Apakah aku mau menceritakan kalau ringgo selingkuh dengan pacarku? Ah nanti sajalah. Aku tiba-tiba keingat pacarku.

Aku segera kembali ke kamarku, dan setelah mengunci pintu, aku lalu browsing ke forum IGO yang tertunda tadi.

Forum IGO

“Mantap…hu…”
“Mau nyipin dong…”
“Beruntung banget…”
“Dianal ga?”

Aku baca lagi komen-komen di forum itu. Makin aku baca makin aku stress. Makin aku baca makin aku horny juga. Setelah aku refresh, ternyata ada komen2 baru yang masuk. Dan yang membuat mataku terbelalak dan jantungku berhenti adalah saat aku baca komen dari fotografer itu:

“Gue mau milih salahsatu dari kalian untuk partner. Soalnya gue sudah speak dia untuk mau difoto orang lain sementara gw yang ngentotin dia. Syaratnya punya basic skill fotografi”

“Yang minat PM ya dengan contoh foto yang pernah diambil…”

ANJISSSSS…..

Yang aku takutkan akhirnya muncul juga. Di 30 page selanjutnya (sudah berbeda hari), Fotografer sialan ini beneran ajak salah satu anggota forum ikutan. Ini terbukti dari hasil foto-foto yang dari jarak jauh (sebelumnya foto-foto jarak dekat). BANGSAT!!!!!

Aku emosi sekali. Sudah dikentotin pacarku sebelumnya, malah sekarang ajak orang lain juga. Kurasakan atap kost ku seperti rubuh. Tapi aku penasaran untuk membuka page selanjutnya. Dengan menahan nafas aku akhirnya buka page yang ada foto2 pacarku.

Foto 1: Fotografer yang wajahnya diblur (dikasih emotion smile) duduk diatas sebuah ranjang dengan celana sudah terbuka. Pacarku berlutut diatas lantai, sambil mengoral batangnya yang sudah tegang. Aku tak dapat melihat jelas wajahnya karena tertutup rambut (sepertinya pacarku masih malu-malu menghadap kamera). Caption fotonya: sepongannya mantap hu.

Hatiku hancur berkeping-keping menyaksikannya. Tapi otongku mulai bangun.

Banyak sekali yang komen. Aku buka-buka lagi page selanjutnya.

Foto 2 : Gadis itu telentang diatas tempat tidur. Masih pakai bra tapi CD nya sudah lepas. Pahanya mengankang lebar. Dan fotografer itu sedang mengoral memek pacarku. Tak terlihat ekpresinya karena wajahnya diblur. Tapi pasti sangat menikmati dioral begitu. Caption foto : Gurih.

Aku bisa bayangkan nikmatinya vagina pacarku yang fresh itu. Dan aku bisa tahu kalau pacarku saat itu pasti mendesah-desah kencang sambil menggerakkan kepala kekiri dan kekanan.

Aku kemudian buka page selanjutnya. Komen2 tak aku baca, fokus ke pencarian foto. Hingga akhirnya:

Foto 3: Fotografer itu duduk diatas kursi disudut kamar hotel (sudah telanjang bulat). Pacarku naik keatas penisnya yang sudah tegang maksimal. Sudut foto diambil dari belakang-bawah pacarku, sehingga kelihatan jelas bulatan pantat sampai lubang anus pacarku, dan batang fotografer itu masuk sepenuhnya kedalam vagina pacarku. Caption foto : Posisi Favorit Model saat dikontolin.

Posisi favoritnya doggy style ******. Makiku dalam hati.

Batangku makin keras. Aku sampai buka celana membiarkannya bebas.

Lagi asyik-asyiknya memantau TS fotografer itu, pintu kamarku diketok dari luar: “A……AA Billy…..” Anjis, itu ternyata si Putri. Ngapain dia cari aku. Aku diamkan saja ketokan pintunya. Ga mungkin aku buka dengan kondisi kontol tegang begini.

“A’ Putri bisa minta air minum ga. Belum beli aqua galon ini…”

Akankah aku buka? Mumpung aku horny, aku bisa perkosa saja gadis ini. Hitung-hitung balas dendam.

“A’ lagi tidur ya?”

Aku urungkan niatku memperkosanya. Aku akan cari cara bisa ngentotin pacar si ringgo kampret ini. Maka aku diam saja pura-pura tidur. Hingga akhirnya Putri pergi.

Aku kemundian melanjutkan browsingku. Sampai akhirnya terdapat beberapa foto yang buatku emosi se-semosi-emosinya.

Foto 4 : Fotografer itu menggenjot pacarku di jendela kaca. Pacarku setengah berdiri membelakangi. Toketnya yang ranum menempel di kaca.

Foto 5 : Adegan dikamar mandi. Fotografer itu menggenjot pacarku di atas bathup yang banyak busanya.

Ini adegen sesi foto pasti membuat berontak kontol fotografer yang sekarang ambil foto. Disugukan pemandagan live begini. Aku saja yang hanya lihat foto sudah tegang maksimal. Sampai akhirnya aku lihat Foto terakhir, yaitu sebuat kolase foto dengan caption : Bonus buat fotografer pendukung.

Pacarku yang lagi menungging diatas tempat tidur sambil mengoral temannya fotografer yang duduk bersandar didepannya. Kemudian foto kontol dengan sperma belepotan diwajah pacarku.

Shit! Fotografer ini beneran kasih bonus. Ini pacarku bitchy amat sih. Mau-mau saja oral penis cowo yang baru dikenal. Pakai ditumpahin di wajah segala.

Ternyata itu bukan foto terkhir. Foto penutup adalah foto dari belakang pacarku saat pacarku menungging mengoral penis teman fotorafer itu. Sangat sexy karena pacarku merenggangkan lebar pahanya, sehingga vaginanya terekpose jelas dari sudut kamera. Bahkan anusnya yang perawan itu terekspose dengan sempurna karena kualitas gambar yang hirise. Caption: ingin gw kontolin lagi, sekalian threesome. Tapi masih ada waktu.

BANGSAT!!!!

Dengan bersamaan muncrat spermaku diatas tempat tidur, tana bisa aku halangi saking konaknya.

Tiba-tiba, setelah melihat forum IGO itu dan sudah nge-crot, aku akhirnya memutuskan balik ke bandung juga saat ini. Sekalian aku ingin memeriksa CCTV dikamarku. Sudah se-liar apa pacarku selama aku tinggal. Sekalian juga mau mengganti baterai serta memori pada CCTV-ku. Sengaja aku tak bilang pada Marsha, karena aku tak ingin mengganggu rencana wisatanya.

Aku sudah berada di atas kereta saat Marsha memberi tahu bahwa dia sudah sampai. Aku hanya membalas seperlunya, karena dia bilang akan segera ke hotel lalu jalan2. Lepas dari Marsha, giliran Sherry yang menghubungi via WA

S: “Eh, lo lagi tepar ya?”

A: “Boro2, gw lagi balik ke Bandung nih”

S: “Lah? Lo balik ke Bandung?? Tau gt gw gk ngikut”

A: “Emangnya napa?”

S: “Biar bisa ngesex seharian ama lo, kedut2 nih pantat gw, minta disodok”

A: “Ciee, doyan ya sekarang?”

S: “Gara2 lo tuh, apa lagi si Thomas kan gak doyan maen belakang. Pokoknya balik ntar lo kudu tanggung jawab! Bakal gw kurasin tuh sperma ampe gak ada lagi yang bisa lo kasih ke Marsha”

A: “Ah, sial lo, trs Marsha dapet apaan?”

S: “Dapet dari yang lain lah, emang sumber sperma lo doang?”

A: “Sial lo”

S: “Hehehe, becanda, peace”

A: “Becanda lo gak lucu, tau gak”

S: “Iye, iye, jangan marah gt napa?”

A: “Udah lah, trs gimana, di sono bener gk ada cwo-nya sama sekali?”

S: “Ya iyalah gak ada cwo, cuman kita berlima kali, cwe semua, suer deh. Tapi…”

A: “Tapi apaan?”

S: “Tapi gk tau ya kl ketemu cwo di sana. Hahahahaha!”

A: “Basiiiii!”

S: “Cieee… Marah ya? Jangan dong, ntar kalo lo marah yang mau nyumpel pantat gw siapa coba?”

A: “Bodo amat, ntar gw genjot ampe pantat lo lower, dan ntar lo kentutnya bukan pret, tapi poh”

S: “Aww… Mau dong digenjot ampe lower” *emotikon melet n kedip*

Karena aku naik kereta tengah malam. Paginya aku sudah sampai di bandung. Beberapa menit kemudian, aku pun sampai di kosan naik ojol. Walaupun badan rasanya remuk luar biasa, aku tidak berencana untuk menginap. Dengan Marsha sering ke sini dan dia dekat dengan Johan, bahaya bila Johan melaporkan bahwa aku pulang tanpa memberi tahu.

Kebetulan sekali, rumah kosku sedang amat sepi. Aku tahu bahwa saat2 segini rumah kos memang bakalan sepi karena banyak yang mudik. Tadinya aku agak waswas karena Johan memang sering berada di kosan tiba2, tapi kekhawatiranku tak terbukti, karena kamar Johan tampak kosong dan terkunci rapat. Tempat sepatu yang biasanya penuh dengan sepatunya, kini kosong. Hanya dua pasang sepatu dan sepasang sandal milik Johan yang ada di sana. Apa Johan akhirnya pulang kampung ya? Atau ikut menyusul Marscha ke Lombok?

Kubuka kamarku, dan bau yang sudah sangat familiar itu menyeruak kembali. Marsha memang beberapa kali bilang pinjam kamar ini, tapi kulihat semuanya sudah rapi seolah rutin dirapikan. Bahkan debu2 pun sudah dibersihkan, dan ini yang bikin aku agak deg2an. Jangan2 pas Marsha membersihkan kamar, dia menemukan CCTV-ku?? Aku memeriksa tempat diletakkannya CCTV dan bernapas lega, karena kameranya masih ada di sana. Bahkan tumpukan debu yang menutupi penyamarannya pun masih ada, mungkin Marsha tak terpikir untuk membersihkan bagian ini, karena agak tersembunyi.

Dengan cepat, aku pun mengakses kamera, memindahkan semua isinya ke dalam laptopku, mengganti baterai, sekaligus memasangnya kembali. Proses paling lama, tentu saja, adalah menunggu loading saat semua data sedang dipindahkan. Berhubung resolusinya lumayan, maka jumlah datanya pun cukup besar, sehingga terpaksa aku mengorbankan game Assassin’s Creed-ku (*sedih*)

Karena kulihat keadaan masih sepi, sambil jemu menunggu, aku pun pergi ke warung yang ada di depan untuk membeli cemilan dan rokok.

“Mang, ada rokok?”

“Weh, ada Den Billy, lama nih gak kelihatan”

“Iya nih Mang, soalnya saya lagi ada penelitian di luar kota”

Mang Kosim memberiku rokok, kemudian kubuka satu dan kunyalakan sambil kuhisap pelan2. Kuperhatikan Mang Kosim menjadi agak ramah, mungkin karena akhir2 ini warungnya memang sepi.

“Mamang kira udah pada pindah, Den Billy”

“Emangnya sepi ya Mang?”

“Iya, sepi, apalagi semingguan ini”

“Mungkin lagi pada mudik Mang, kan biasanya hari2 gini emang jadwalnya anak2 mudik”

“Eh, Den Billy, Mamang mau nanya. Emangnya di tempat Dan Billy ada cewek yang ngekos ya?”

“Cewek ngekos? Nggak ada tuh, mang. Kan ini kosan cowok, Mang” aku mengira dia pasti membicarakan soal Marsha yang beberapa hari ini sering ke tempatku saat aku tidak ada. “Orangnya kayak gimana ya?”

“Itu, tinggi, putih, bodinya bagus. Dulu kalau nggak salah pernah ke sini beli minuman. Apa pacarnya Johan ya, soalnya Mamang pernah lihat dia jalan dianter ama Johan”

“Oh, nggak tahu saya” aku berbohong, karena jelas aku tahu itu Marsha.

“Gila, siapa ya itu cewek. Udah cantik, seksi lagi, bodinya bagus, apalagi susunya. Beuh”

Mang Kosim mengacungkan jempolnya, seolah berbangga. Memang biasanya Marsha kalau datang denganku selalu naik saat mobil masih di dalam tempat kos, jadi Mang Kosim tak bisa melihat bahwa dia ada di sana. Satu2nya saat Marsha naik mobil di luar adalah saat dia diantar oleh Johan waktu aku sedang bimbingan skripsi.

“Seksi emang ya, Mang?”

“Oh, seksi. Dan, jangan bilang2 ama Johan ya, tapi ceweknya dia binal banget”

“Koq bisa, Mang?”

“Jadi gini, tapi jangan bilang2 ya, kapan itu dia pernah beli minuman di sini. Dia pakai pakaian longgar, dan beuh, mamang ampe liat susunya. Putih banget, cakep”

“Oh terus?” aku berupaya tetap tenang

“Ya apalagi dia ramah, dan mau aja diajakin canda jorok ama si Asep tukang ojek itu. Serius, kalau bukan pacarnya Johan mungkin sudah Mamang lamar jadi istri ketiga, dan pasti mamang bakal entot seharian penuh hak-hak-hak! Orang duduk di dekatnya aja mamang gak kuat, ampe pengen coli”

Dadaku semakin panas mendengarnya.

“Memang becandain Jorok bagaimana mang?”

“Ya biasalah. Si Asep ga sekolah mulutnya. Awalnya muji-muji, terus bilang senang dong pacarnya punya pacar secantik dia. Asep mau jadi pacar kedua. Cewe itu bukannya marah malah tanya kalau jadi pacar kedua asep memang mau apa. Eh Si Asep bilang mau pelukan tiap hari. Terus bakalan remas-remas dan jilat susu besar cewe itu. Dan jilatin memeknya sampai banjir”.

“Wah masa tukang ojek berani ngomong begitu? Cewenya ga marah?” Tanyaku

“Iya den. Cewenya malah cekikikan sambil bilang : Wah enak dong mang. Begitu. Malah Si Asep bilang dia bisa muaskan cewe itu. Melebihi pacarnya Si Johan.“

“Terus..”

“Yang buat mamang makin heran saat si Asep bilang: sesekali rasakan kontol orang kampung dong neng. Pasti puas. Begitu.

“Terus…”

“Eh, malah si Asep kampret itu ngajakin dia pergi”

“Emang diajakin ngapain?”

“Jangan bilang2 Johan ya, tapi”

“Iyaa, Billy gak bakal bilang, Mang”

“Mamang nggak tahu sih ngapain, si Asep juga pas Mamang tanyain gak cerita jelas, tapi dia bilangnya, sedotannya mantap, ama susunya kenyel pas dikenyot. Kesel Mamang, si Asep-nya gak bagi2 mau enak2 gitu”

Aku hanya manggut2 saja.

“Tapi ada hiburannya juga sih, Den Billy mau liat gak?”

“Liat apaan, Mang?”

Mang Kosim lalu membuka hapenya dan memperlihatkan beberapa foto kepadaku. Fotonya sekilas tidak terlalu jelas, karena wajah cewenya di blur begitu. Tapi setelah aku zoom, aku kaget sekali karena ternyata itu foto pacarku Marsha dalam berbagai pose. Aku yakin sekali. Walau wajahnya di blur, tapi bodynya jelas aku tahu banget.

“Ini dari si Asep?”

“Iya, Den, mamang paksa sih berkali2, sambil ngancem bakalan ceritain ke pacarnya, baru deh dibagiin. Katanya sih cewe ini mau saja difoto sexy asal nanti diblur wajahnya. Takut kesebar kali ya.

“Iyalah…hari gini mang”. Kataku mencoba biasa, tapi hati terluka.

“Tapi walau diblur, mamang tahu mah ini pacarnya Johan. Kan pernah lihat susunya. Seksi ya den?”

Foto2 itu jelas bukan foto biasa, dan lokasi foto itu sepertinya ada di sebuah bedeng yang tak terpakai dan sepi, sepertinya di pojok taman, yang sering dipakai anak muda kalau mojok waktu senja. Foto2 awal adalah foto cewe yang berpose sensual, masih memakai pakaian lengkap.

Foto selanjutnya, cewe itu pelan2 mengangkat pakaiannya, awalnya memperlihatkan perutnya yang rata, lalu dadanya pun akhirnya terlihat. Kemudian di foto berikutnya pakaian itu sudah tidak ada di badannya, tapi teronggok di balai di bedeng itu, sehingga tinggallah cewe itu memakai celana pendek dan celana dalam saja. Itu pun celana pendeknya kemudian dipelorotkan, dan terlihat kaki indah yang terbuka kemudian tangannya merekahkan vaginanya, dan difoto dari bawah.

Lalu pada beberapa foto kemudian, dia sudah mengenakan kembali celananya, tapi berposisi sedang berlutut, diambil dari atas, sementara penis si Asep yang hitam dekil berada pada muka cewe itu. Kemudian ada adegan memegang penis Asep, dan puncaknya adalah ketika penis itu memasuki mulut cewe yang mungil itu.

Foto2 terakhir adalah dengan wajah dan dada yang belepotan sperma, lalu ada juga foto sperma2 itu dilap dengan… celana dalamnya sendiri!

Aku mulai pusing, walau tetap berusaha untuk tenang.

“Masih ada lagi lho den”

“Hah? Masih ada lagi, Mang?”

Mang Kosim tersenyum lalu membuka folder video, dan di situ hanya ada satu video saja dengan gambar Marsha di dalamnya (dengan wajah ke blur kayak film-film kriminal diwawancara). Saat video diputar, Marsha yang awalnya topless sedang memakai kausnya kembali, saat si Asep mendekat, dan dari depan megang kausnya.

“Ih, Mang Asep, mau apaan lagi?”

Tanpa menjawab, Asep pun langsung mengenyot dada pacarku dari balik pakaiannya.

“Apaan sih, Mang, kan tadi udah?”

“Ya mana puas cuman segitu aja tadi, Neng?”

“Emang dari luar kaus gitu puas, Mang?”

Asep nyengir saja, lalu menganggap itu sebagai lampu hijau, dia mengeluarkan susu Marsha dari lubang leher kausnya dan dikenyot sekali lagi. Tiba2 ada suara orang lewat, dan sontak Asep menghentikan kenyotannya, dan Marsha memasukkan kembali susunya ke dalam kaus.

“Udahan ya Mang, udah kelamaan nih, Marsha pasti dicariin”

Asep yang terlihat agak kecewa pun dengan enggan menurut, lalu saat pacarku berdiri, Asep menepuk pantatnya hingga pacarku menjerit.

“Lain kali Mamang minta yang ini ya”

“Enak aja, mahal kalau yang ini” Marsha pun melet ke Asep, dengan bajunya yang sudah basah dibagian dada.

Video kemudian berhenti. Perasaanku? Entah bagaimana menggambarkannya, campur aduk menjadi satu.

“Liat aja, ntar juga Mamang bakal ngerasain ini awewe” kata Mang Kosim, “apalagi udah gak ada lagi tuh si Asep kampret”

“Emangnya Asep ke mana?”

“Tauk tuh ke mana, tempo hari ketahuan ngewein pembantu rumah deket sini, akhirnya dikejar ama warga, kabur deh dia”

“Eh, Mang, Billy boleh minta gambar ama videonya?”

“Oh, boleh, Den. Tapi Mamang agak gaptek nih, gak tahu caranya”

“Biar Billy aja deh”

Dengan cepat kuambil semua foto dan video yang ada Marsha dari hape Mang Kosim, kusalin ke dalam hapeku sendiri. Mungkin aku akan memerlukannya nanti.

“Udah, Mang, berapa?”

“100 ribu, Den”

“Eh busyet! Rokok doang 100 rebu??”

“Rokok sih standar, Den, tapi biaya nonton ama ngopi itu mahal”

Dengan menggerutu, aku merogoh selembar uang warna merah dan kuberikan kepadanya, yang mengambil dengan senyum menyebalkan itu. Aku kemudian masuk kembali ke dalam kosan untuk mengambil semua rekaman dari CCTV itu untuk kulihat nanti di Surabaya.

Setelah menyelesaikan semua dan memanggil ojek online untuk membawaku kembali ke stasiun, aku melihat Mang Kosim tampaknya tengah kebingungan dengan sesuatu, mondar-mandir sambil menggaruk2 kepalanya. Aku hanya tertawa saja dalam hati sambil meninggalkan tempat itu. Rasain Mang! Hapemu sudah aku kasih virus! Makanya jadi orang jangan suka belagu. Hihihi.

Dan aku sekarang menuju surabaya dengan rekaman CCTV. Baru kali ini aku deg-dega luar biasa akan isinya. Antara ga mau terjadi apa2 dengan marscha , tapi berharap terjadi apa-apa.

BERSAMBUNG

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part