. Pacarku Berubah Cantik Part 17 | Kisah Malam

Pacarku Berubah Cantik Part 17

0
13

Pacarku Berubah Cantik Part 17

Long Distance Relation-shit

“Aah… Ohh… Terus, Sayang, terus!”

Marsha berteriak kencang saat aku menggenjot vaginanya dalam posisi doggy. Dadanya yang bulat kencang mengayun dengan indahnya. Beberapa kali bahkan aku juga menampar pantatnya yang putih montok itu hingga kemerahan.

Saat penisku keluar masuk dari vaginanya, aku pun melihat ke bawah pada lubang analnya yang seolah mengintip, dalam hati ingin aku mencoblosnya sekalian, namun sepertinya belum saatnya. Aku hanya mengelus-elus lubang anusnya yang masih sangat sempit itu dengan jempol kiriku, mencoba menambah ransangan. Sementara tanganku yang kanan sesekali menampar pantatnya. 5 kali genjotan, sekali tamparan dipantat.

“Ahhhh….ahhhh….terus…..” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Padahal pantatnya lumayan kencang aku tampar, sampai meninggalkan tanda merah yang mungkin bisa hilang 2 hari.

“Aku mau keluar, Sayang…” kata pacarku yang sudah mulai ngos-ngosan.

“Sama, tahan dulu bentar…”

Aku menghujamkan penisku semakin dalam dan terasalah tubuh pacarku ini berkelejotan menerima orgasmenya yang entah untuk keberapa kali. Begitu dia ambruk, aku pun mencabut penisku dan menyemprotkan spermaku ke tubuhnya yang mengilap dengan keringat beberapa kali hingga wajah, dada, dan perut serta pahanya belepotan terkena sperma.

“Gila, banyak banget, Yang, tumben?” kata Marsha.

Aku hanya nyengir saja sambil merebahkan diri di sampingnya.

“Aku puas banget hari ini, Yang. Tapi, btw, kamu semangat banget ya, ampe pantatku ditampar2 begitu

Aku mendengus saja. Semenjak beberapa kali ngesex bersama Sherry, gaya bercintaku kurasakan menjadi lebih buas. Ya, setelah kejadian itu, Sherry sering sembunyi-sembunyi bertemu denganku untuk ngesex. Tentu saja bukan di kamar kosku, karena kalau Johan memberi tahu Marsha soal ini, bisa celaka aku. Lagian, aku juga takut ini akan dijadikan alasan bagi Johan untuk bertindak lebih jauh pada Marsha.

Bahkan, sebelum ini, aku dan Thomas, cowonya Sherry, pernah bertemu dan membicarakan mengenai tukar pasangan itu. Di luar dugaan, dia rupanya cukup gentle dan meminta maaf terlebih dahulu. Sama seperti Sherry, dia mengira aku dan Marsha menjalani open relationship juga

Aku sendiri mengutarakan bahwa aku sebenarnya tidak masalah dengan Marsha yang kini bersikap bitchy, hanya saja aku tidak suka dia berbohong padaku.

Tapi anehnya Thomas bilang kalau dia belum sampai ML dengan Pacarku. Katanya Marscha memang mengoralnya sampai keluar kala itu, dan minta disemprotkan diwajahnya. Tapi Marscha menolak ML dan buru-buru balik setelah membersihkan wajahnya.

Apakah aku percaya begitu saja? Apalagi dengan sikap “kerelaan” Thomas agar aku eksekusi Sherry pacarnya. Tapi bodo amatlah.

Sekalian dalam pertemuan itu juga aku meminta izin untuk sewaktu2 ngesex dengan Sherry. Dia tak masalah, malahan dia lega, karena Sherry jadi lebih terkontrol dalam hal ngesex. Selama ini dia khawatir kalau Sherry ngesex dengan sembarang orang, siapa tahu bisa timbul masalah. Dia pun tak keberatan aku meng-anal Sherry, berhubung dia sendiri tidak suka dengan anal sex. Malah dia menawarkan untuk threesome, yang kusetujui, namun belum tahu kapan.

“Ya, kan ntar lama bakal nggak ketemu, Say.”

“Kamu jadi ntar sore berangkat ke Surabaya?”
“Iya, jadi. Besok aku harus mulai penelitian, mungkin baru 1-2 bulan bakal balik ke Jakarta lagi.”

“Yah, ntar aku gimana, dong, Yang?”

“Sabar aja dulu, Say. Ini kan demi masa depan kita. Setelah lulus nanti, aku bisa cari kerja dan kita bisa nikah deh”

“Hihi, beneran ya?”

“Iya, Sayang, apa sih yang enggak?”

“I luv u, Sayangku”

Kami pun berciuman sambil berpelukan mesra. Aku sampai2 lupa bahwa badannya masih berlumuran spermaku (Yuck!)

Akhirnya kami pun mandi dan sekaligus aku bersiap2 untuk menunaikan kewajibanku. Marsha membantuku berkemas-kemas, dan ini menjadi momen kemesraan murni kami bersama. Pada saat2 inilah aku merasa amat bersyukur bisa mencintainya. Hanya saja… Yah, satu masalah itu masih mengganjal.

“Taksinya kapan datang, Yang?” tanya Marsha.

“Udah dipesan nih, Say. Paling 5 menit lagi nyampe”

“Oh ya udah, ati2 kamu di sana. Jangan macem2 ya, ingat, aku nungguin di sini”

“Kamu tuh yang jangan macem2. Tahu sendiri banyak cowo yang pengen deket. Jangan sampai kucing pergi tikus berpesta nih”

Marsha hanya melet saja.

“Oh ya, kan ntar kamu bakal pergi lama nih, kalau misal aku bosen boleh kan ya jalan ama temen2?”

“Boleh aja. Emang mau jalan ke mana?”

“Ya, buat refreshing aja. Ini Sherry weekend nanti juga mau ngajakin ke Pulau Seribu. Boleh kan ya?”

“Iya, tapi inget pesanku tadi”

“Iya, jangan macam2, kan? Ama aku paling kalau ngerjain tugas boleh kan ya pinjem kosan kamu, Yang?”

“Boleh aja, kan kamu juga pegang kuncinya ntar.”

“Sip…nnati aku bersihkan deh kamarnya. Biar ga berdebu”

“Oke, pakai aja, Say. Tapi inget…”

“Iya, iya, inget koq. Jangan macam2 kan?”

Aku mengangguk sambil mencium keningnya. Hmm, untung aku sudah memasang sebuah CCTV pada kamar. Kebetulan sekali. Kemarin, atas saran Thomas, aku membeli sebuah kamera CCTV. Berhubung harganya cukup mahal, maka aku cuman membeli satu, tapi resolusinya cukup bagus, dan bisa merekam suara pula, jadi tidak rugi aku membelinya walau hanya sebuah. Aku sudah menempatkannya di titik strategis sehingga akan bisa melihat sebagian besar tempat tidur dan sekitarnya, walau masih banyak sudut yang masih belum bisa terjangkau. Aku hanya berasumsi bahwa apabila ada sesuatu yang terjadi, maka utamanya akan terjadi di area yang aku sorot. Kameranya juga sudah kusembunyikan dengan rapi, sehingga Marsha tak akan tahu, dan memang kutaruh dalam sudut yang kutahu tak akan disentuh sama sekali oleh Marsha.

“Eh, Say, kayaknya taksinya udah datang deh, bisa kamu tungguin dulu di luar gak? Aku mau ngecekin barang2 dulu”

“Okay!”

Marsha keluar dari kamar, dan kumanfaatkan kesempatan itu untuk menghidupkan CCTV-ku. Semua sudah kusiapkan, termasuk dengan sensor gerak dan cahaya, sehingga CCTV hanya akan merekam bila ada gerakan di dalam cakupannya. Seharusnya memori awal yang kubeli cukup untuk hingga aku kembali lagi nanti.

“Yang! Taksinya udah datang, tuh!” teriak Marsha.

Buru-buru aku menyembunyikan kameranya, kemudian membawa koper dan ranselku keluar kamar. Saat sedang berjalan ke luar, aku bertemu Johan yang baru keluar dari kamarnya.

“Eh, Bro, jadi berangkat hari ini?” tanya Johan.

“Iya, Bro. Nitip jagain kosan ya”

“Tenang, Bro, beres. Marsha gak dititipin dijagain sekalian?”

“Ngarep lo!”

Johan lalu menyalamiku, mendoakan semoga berhasil, walau aku menebak dia sepertinya senang aku akan ke luar kota. Aku pun menemui Marsha yang menunggu di depan taksi, kemudian kami berdua pun naik ke taksi. Ya, Marsha akan mengantarku ke stasiun sebelum nanti pulang kembali ke rumahnya.

Setelah aku dan Marsha masuk ke taksi (di bangku tengah), barulah aku menyadari bahwa Marsha memakai t-shirt tipis warna hitam, ditimpali kemeja flanel yang tak dikancingkan, dengan rok kain sepaha yang saat Marsha duduk akan terangkat, sehingga memperlihatkan paha Marsha yang mulus. Karena koper dan ransel kutaruh di ujung tempat duduk dekat pintu, maka Marsha duduk tepat di tengah, dan sepanjang jalan tampak langsung tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku lalu merangkulnya sambil mengelus2 bahunya hingga aku sadar tak menemukan tali pengikat beha. Apa Marsha tidak pakai beha? Atau dia hanya memakai beha yang jenis strapless, sehingga tidak ada tali pada pundak?

Tiba-tiba sopir membanting setir saat ada kendaraan yang menyalip. Aku tentu saja terkejut.

“Waduh, Pak, hati2 dong.”

“Iya, Mas. Maaf, tadi agak meleng”

“Safety diutamakan, Pak. Jangan sampai meleng lagi”

“Iya, Mas, maaf ya”

Untungnya Marsha tidak bangun. Kelelahan mungkin. Aku saat itu melihat bahwa pak sopirnya sering curi2 pandang ke spion tengah. Apa dia melihat tubuh pacarku ini? Apalagi posisi kaki pacarku agak terbuka, jadi CD-nya pasti kelihatan dari spion. Dasar ini sopir edan.

Akhirnya kami pun sampai di stasiun kereta, Marsha membuka pintu yang berada di seberang koper dan ranselku itu. Karena posisinya, maka Marsha pun harus agak menungging ke arahku, hingga pantatnya nyeplak ketat pada roknya. Dan saat itulah kulihat tidak ada jejak CD pada rok Marsha. Jangan2…

Aku sampai di Surabaya sekitar pukul 10 malam. Berhubung aku sudah mengurus semua soal akomodasiku, termasuk kosan sementara untuk kutempati selama penelitianku, maka aku pun langsung saja ke sana. Kosan yang kutempati lumayan mahal, karena kalau menurut ibu kosnya, yang menempati di sini biasanya adalah mahasiswa yang sedang tugas penelitian saja, sehingga mereka tidak lama2 di sini. Mungkin karena itu ibu kos menerapkan tarif yang agak mahal, apalagi kosannya lumayan nyaman, dengan kamar mandi dalam dan AC, WiFi, serta, yang paling penting, tidak jauh dari tempat penelitianku.

Setelah mengurus segala keperluan untuk masuk, aku pun menggeletakkan barang2ku di dalam kamar dan merebahkan diri ke atas ranjang. Aku membuka HPku dan melihat ada pesan dari Marsha, menanyakan kabarku. Langsung saja aku meneleponnya.

M: “Udah sampai di Surabaya, Yang?”

A: “Iya, nih, sudah di kosan, Say.”

M: “Oh, syukurlah. Enak kosannya, Yang?”

A: “Iya, nyaman koq, Say, jadi bisa istirahat. Btw, kamu lagi apa, Say, di sana?”

M: “Lagi santai tiduran saja di kamar sambil main HP. Btw, kamu hebat banget tadi mainnya, Yang. Aku ampe keluar berkali2.”

A: “Pantes kamu di taksi ampe tidur gt ya, Say?”

M: “Iya nih, capek banget soalnya. Ampe sekarang juga masih agak ngantuk. Btw, kamu nggak capek, Yang, abis perjalanan”

A: “Agak2 tepar juga sih, Say. Hehehe”

M: “Ya udah, Yang, mending kamu istirahat dulu ya. Besok kamu mau langsung penelitian, kan? Jadi biar besok seger, nggak ngantuk”

A: “Iya deh, Sayang. Kamu mau bobo juga?”

M: “Kayaknya iya deh, masih capek nih, gara2 kamu tadi”

A: “Hehehe, tapi suka, kan?”

M: “Tauk ah. Bobo sana”

A: “Siap, Sayangku. Luv u!”

M: “Luv u too, bye2”

Aku mematikan telepon, berusaha untuk tidur. Tapi seperti orang bilang, walau seharian kita merasa ngantuk luar biasa, saat giliran sampai ke kasur, malah nggak bisa tidur. Akhirnya aku pun memilih bermain game online, sambil menunggu kantuk.

Foto di IGO

Sudah 2 minggu aku di kota S. Selama 2 minggu ini aku sangat sibuk dengan skrpsiku karena ingin cepet lulus, dapat kerjaan dan akhirnya melamar pacarku. Skripsiku yang ga kelar-kelar karena dosen pembimbing brengsek, sehingga akhirnya aku ganti judul dan ikut proyek dia. Kesempatan. Aku yang kerjaan proyek konsultan dia, tapi dengan imbalan laporan proyek bisa aku masukkan ke skripsi. Bar cepat beres ya sudah aku terima saja. Tapi dampaknya adalah mengharuskan aku harus sering bolak-balik keluar kota untuk penelitian karena proyeknya di luar kota.

Kesibukan skripsi yg sangat padat membuatku sedikit terobati dari ras akangen ke pacarku. Aku bahkan baru sadar bahwa sudah 2 minggu aku belum NGENTOTIN pacarku. Suaru rekor yang sangat panjang sekali. Mengingat aktivitas rutin kami menimati enaknya ML.

Apalagi sejak liburan di hotel pas ulangtahun tempo lalu, hampir tiap hari kami ML karena nafsu yang menggebu-gebu, dan perilaku Pacarku yang gampang hornian sejak mulai menjurus eksib karena suka berpakaian sexy. Bisa kebayang sakit kepala ini.

Pas di luar kota, aku hanya bisa video sex call dengan pacarku sambil aku coli. Benar-benar amsyong. Punya pacar cantik yang entot-able tapi bisanya masturbarsi. Apalagi Pacarku juga merasakan hal yang sama. Aksi-aksi eksibnya dan tatapan-tapan liar para cowo membuatnya sering horny katanya. Aku suka kasihan juga ke dia bagaimana dia melampiaskannya. Paling masturbasi saja. Atau….????

Selama diluar kota sekarang jadi lumayan sering mampir disitus semprot.com. Aku suka baca cerita-cerita sex disana sebagai bahan coli. Dan favoritku adalah kisah tentang perselingkuan dan juga….cuckload. Sangat sesuai.

Tak jarang aku kasih link cerita bokep cuckload ke pacarku. “Kamu mau aku dientot cowo lain dihadapan kamu?” Begitu tanggapannya tiap selesai baca.

Sesekali aku mampir ke forum foto-foto sexy cewe Indonesia. Cewe-cewe bening lokal lumayan sering muncul disana, belum lagi “kejahatan” para lekaki terhadap pacar dan mantannya. Banyak sekali porn reveange di forum IGO, walau sebagian besar masih tahu etika dengan memblur wajah cewenya. Ada satu fotografer yang aku follow, karena dia ada upload foto yang rasanya aku kenal foto itu, tapi aku lupa dimana.

Pacarku juga sekarang juga mulai sibuk. Katanya untuk mengobati kesepiannya. Dia sering hangout dan susah dihubungi. Info-info dari Sherry terkait aktivitas pacarku juga ga banyak aku dapat. Itu juga yang membuatku sedikit tenang

Atau apakah aku harus khawatir karena pacarku pintar menyembunyikan sesuatu? Bahkan dari sahabatnya sendiri.

Forum IGO (2)

Sampai suatu ketika aku mengunjungi forum dewasa favoritku. Belum ada cerita baru yang menarik. Semuanya cerita standard yang alurnya ketebak. Iseng-iseng aku bukan forum gambar IGO.

Aku melihat sebuah thread yang dimiliki seorang fotografer yang follower banyak dan postingannya selalu diatas karena banyak yang komen. Foto-foto yang dishare di forum itu adalah foto-foto sexy wanita yang dia sebut modelnya. Foto-fotonya bagus-bagus dan sexy, ntah bagaimana dia memperdaya para wanita itu untuk mau foto hanya pakai bra dan CD dikamar hotel, pakai lingerie, kemeja putih dengan tanpa dalaman, dan bahkan beberapa sampai telanjang.

Ntah konspirasi dunia apa sehingga aku bisa melihat sebuah foto yg ditampilkan TS tersebut, yang baru saja diupload. Aku dikejutkan oleh foto yang aku percaya 99,9% itu adalah Marscha pacarku. Walau wajahnya di blur tapi aku tahu dari kalung berbentuk hati yang dipakainya, karena itu adalah hadiah ulangtahunnya yang aku kasih. Nafasku berhenti sejenak. Kemudian aku menarik nafas dalam-dalam dan menyiapkan mental untuk menelusuri TS itu.

Saat itu pacarku berpose diatas tempat tidur (yang aku yakin itu sebuah hotel atau apartemen jam-jaman) dengan memakai lingerie hitam. Yang pasti itu bukan lingerie dia, karena semua lingerienya aku yang beli. Lingerie itu sangat sexy, bentuknya yang memeluk tubuh sehingga memperlihatkan lekukan-lekukan di dada dan pinggul. Siapapun lelaki pasti tergoda melihat pacarku memakai lingerie itu.

Wah beruntung sekali TS ini bisa menyaksikan tubuh indah pacarku. Aku scroll setiap page dan aku lihat ada sekitar 10 foto-foto pacarku disana dengan berbagai pose. Ada pose pacarku menungging dengan membelakangi kamera sehingga memamerkan pantatnya yang sexy menerawang dibalik lingerie itu. Ada juga foto saat pacarku menurunkan penutup dada atas, tapi tanganya memegang payudaranya. Sungguh amat sangat sexy. Kontolku tegang melihat foto itu. Pasti kontol fotografer itu juga tegang saat foto session.

Setiap TS post 1 foto yang like sangat banyak, dan beragam komen. Ntah kenapa itu membuatku bangga memiliki pacar secantik dan sexy Marscha. Aku tidak merasa marah sama sekali. Justru penisku tegang membayangkan sesi foto dikamar itu hanya mereka berdua. Pasti fotografer cabul ini tegang melulu.

Aku membaca tiap komentar member forum tersebut sambil membayangkan tubuh polos pacarku, dan penisku sudah sangat keras karenanya.

“Mantap hu, cantik banget”

“Beruntung banget hu”

“Ingin belajar jadi fotografer”

“Toketnya mengundang untuk dipejuhin!”

“Mulus…..enak dijilat”

“Foto pintilnya dong hu”

“Ditunggu foto polosnya”

“Memeknya botak atau ada jembut?”

“Sudah diapain saja hu?

Komentar-komentar itu membuat imajinasiku melayang hingga aku onani sendiri membayangkan pacarku digenjot sama fotografer itu.

Yang buat aku makin horni saat di page akhir TS itu membalas komen yang bilang: “Sudah diapain saja hu?”

TS: “Besok dishare pic nya hu. Kalau banyak yang request. Kan katanya No pic hoax”

Hmmmm….aku deg-dengan kira-kira pic apa yang dikasih fotografer cabul itu. Aku tak sabar menunggu sampai besok.

Keesokan Harinya.

Aku kebangun rada siang. Tadi malam sampai jam 12 aku pelototin forum IGO itu. Dan kecapean sehabis coli. Nasib memang. Punya pacar cantik yang bisa diapaian saja, tapi bisanya coli karena LDR. Aku buru-buru ke kamar mandi. Mandi dengan kilat, ganti pakaian dan keluar kamar untuk lanjut penelitian.

Ditengah-tengah kesibukan dengan penelitianku, pas lagi di jalan mau makan siang, akhirnya aku ingat (lebih tepatnya menduga) kalau fotografer yang upload foto kemarin adalah fotorafer yang dulu pernah foto pacarku di diskotik saat dugem merayakan ulangtahunnya. Pacarku memang kasih No. telpnya agar bisa dishsre foto-foto.

Dan aku ingat juga kalau nama fotografer itu Delvin. Pernah dulu pacarku bilang Delvin ajakin dia sesi foto karena lagi butuh model. Saat itu memang aku ijinkan, daripada aku larang dan akhirnya pacarku main belakang, mending ijinin saja. Asal dia jaga diri dan dengan syarat dia kasih tahu kemana saja nanti sama fotografer itu.

Pacarku sempat bilang bakalan difoto di apartemen, dengan konsep sexy yang dia minta ijin tapi aku ga jawab karena ketiduran. Apakah mereka jadi foto sexy? Dan hasilnya diam-diam diupload di fotografer cabul ini. Anjisss…beruntung banget dia bisa melihat tubuh pacarku dengan pakaian sexy dari jarak dekat. Baru membayangkan, seperti biasa, juniorku bangkit.

Aku sudah tidak konsentrasi penelitianku. Ingin cepat-cepat balik ke kost memantau forum itu denan bebas dari laptop.

Memantau Forum

Tepat jam 5 aku balik. Sesampai di kost, aku buka laptop dan kembali memantau forum tempat sang fotografer. Tak butuh waktu lama, aku sudah bisa baca kembali forumnya.

TS mereply komennya sendiri “Besok dishare pic nya hu. Kalau banyak yang request. Kan katanya No pic hoax” dengan tulisan :

“Berhubung banyak yang request. Jadi ane share buat suhu semua foto-foto terbaik”.

Dan yang membuat aku shock adalah saat ada satu foto yang sangat sexy. Foto tubuh telanjang cewe dengan memeknya mengangkang yang berusaha ditutupi tangannya. Buah dadanya terekpose dengan indahnya tanpa penghalang. Walau wajahnya di blur, tapi aku yakin banget itu pacarku. Aku kenal sekali dengan toket indah itu.

Batangku langsung naik menyaksikan tubuh setengah telanjang pacarku. Bagian paling vitalnya hanya ditutupi tangan. Banyak sekali yang komen foto itu. Semua memuji dada indah pacarku.

“Toketnya mulus hu…gmn rasanya?” Salahsatu yang komen.

Aku scroll ke page selanjutnya. Dan makin terbelalak meneyaksikan Foto kedua dimana itu adalah tubuh telanjang cewe terbaring pasrah diatas tempat tidur dengan buah dadanya sebelah kiri sedang diremas oleh tangan fotografer, sedangkan batang kemaluan lelaki itu tepat berada diatas vaginanya yang sudah dikangkangkan. Kelihatan jelas sekali vagina sempit yang berwarna merah itu. Sangat-sangat mengundang setiap kontol untuk masuk.

Batangku langsung berdiri tegang.

Foto ketiga yang membuatku marah, sekaligus horny, karena terihat batang cowo itu sudah menembus vaginanya. Kontol itu tertelan ¾ didalam vaginanya. Terlihat wajah cewe itu terdongak keatas (dan di blur). Aku sampai membuka celanaku karena batangku sudah maksimal. Aku bisa bayangkan rasa nikmat saat batang itu menembus vagina sempit pacarku.

Komentar-komnetar makin brutal, sambil memuji sang fotografer.

Aku lalu buka page selanjutnyauntuk cari foto keempat.

Foto keempat posisi doggy style, memamerkan pantat mulus dengan kontol masuk setengah. Aku yakin itu pacarku dari tahi lalat kecil dipantat kiri. Aku bisa bayangkan nikmatinya mendoggy pacarku itu. Suaranya yang mendesah sexy pasti membuat fotografer itu makin bernafsu menyodok-nyodoknya.

Foto kelima sperma yang berceceran diatas pantat cewe yang sedang menungging. Si fotografer klimaks. Pasti puas sekali. BANGSAT.

Yang aku bayangkan selama ini akhirnya terjadi. Pacarku dikentot orang.

“Mantap…hu…”

“Mau nyipin dong…”

“Beruntung banget…”

“Dianal ga?”

Dan banyak lagi komen-komen yang buatku makin stress.

“Gue mau milih salahsatu dari kalian untuk partner. Soalnya gue sudah speak dia untuk mau difoto orang lain sementara gw yang ngentotin dia”

“Yang minat PM ya…”

DHEGGG.

Setelah melihat foto-foto di forum itu, aku segera telp pacarku. Bermaksud untuk video call sex menuntaskan yang belum tuntas. Sampai 3x aku telp, dia ga ngangkat. Bete

Aku lalu telp Si Bitchy Shery.

“Halo….Billy Sayang….” Katanya menggoda.

“Lu bareng Marscha ga? Gw telp dari tadi ga diangkat”

“Hmmmm…gw mau jujur atau gmn ini?”

“Ya jujurlah…”

“Lagi jalan sama chem-chemannya tadi..”

“Ringgo?”

“Iyalah….”

Hatiku emosi. Aku langsug tutup telpon, dan tak aku hiraukan Sherry yang telpon balik berkali-kali. Untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatifku, aku lalu main game, dengan HP aku silent. Entah berapa lama aku bermain, mungkin sekitar 2 jam, dan aku lalu cek HP dan dikejutkan oleh sebuah pesan yang masuk. Kubaca itu dari Dido, salah satu sahabatku dari SMA yang bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga. Seharusnya di jam ini dia sedang bekerja, kenapa tiba2 mengirimiku pesan?

A: “Kenapa, Bro?”

D: “Bro, gw kirim foto bentar yak, ini pacar lo bukan?”

Aku tertegun. Saat itulah sebuah file foto masuk, dan ternyata memperlihatkan foto candid seorang wanita yang sedang berada di ruang tunggu bersama seorang pria. Hatiku mendidih, karena wanita itu benar adalah Marsha, sementara salah satu pria itu kukenali sebagai Ringgo. Oh ya, karena Dido ini teman SMA-ku dan beda kampus, maka Marsha sama sekali belum pernah bertemu dengannya (hanya pernah dengar namanya saja), tapi Dido ini pernah beberapa kali kuperlihatkan foto Marsha, sehingga dia tahu betul siapa itu Marsha.

A: “Gila, di mana itu, Bro!”

D: “Di tempat kerja gw, baru aja masuk ruangan mereka. Tapi bener itu si Marsha cwe lo?”

A: “Bener, Bro. Itu si Marsha”

D: “Wah, nggak bener nih. Mau gw tindak aja sekarang apa gimana?”

A: “Tunggu, jangan dulu. Jangan diapa2in, biarin aja mereka”

D: “Serius lo, Bro?”

A: “Iya, soal tindak menindak biar itu urusan gw. Saat ini gw lagi di luar kota nih”

D: “Udah panas gw, Bro. Gak rela gw lo dipermainin macem gini”

A: “Sabar, Bro. Ada saatnya ntar. Soal Marsha biar gw yg ngurus”

D: “Oke, trs gw kudu ngapain nih sekarang?”

A: “Lo bisa mantau mereka? Ama dokumentasi gt?”

D: “Bisa aja sih, ntar gw minta tekel ruangan mereka”

A: “Tengkyu, Bro. Tolong ya, gw perlu bukti buat ntar langsung ngadepin si Marsha”

D: “Siip, tenang aja, Bro. Ntar gw ceritain n dokumentasiin”

A: “Tengkyu ya Bro, ntar gw bales deh”

D: “Santai aja lagi, Bro. Gw udah banyak lo bantu, jadi saatnya gw ngebantu lo juga”

Aku diam, dan tiba2 aku sudah tidak mengantuk lagi. Pikiranku langsung melayang ke yang dilakukan oleh Marsha dan juga Ringgo.

Oh ya, sekadar info, saat itu Marsha mengenakan baby doll warna pink dengan tali pundak yang kecil, dan entah apakah memakai bawahan lagi atau tidak. Pastinya saat duduk itu pahanya benar2 tersingkap sempurna. Kemudian beberapa kali hapeku berbunyi.

D: “Mereka pesen alkohol Bro”

D: “Oke, itu ruangan gw yang handel, mereka kayaknya cuman berdua doang, tapi gw gak bisa masuk gt aja. Ntar deh coba gw colongin”

D: “Gw kirimin foto nih, tapi lo sabar ya Bro”

Beberapa saat kemudian Dido mengirim beberapa file foto. Dia sepertinya memotret dari luar dengan zoom saat pintunya tidak tertutup sempurna. Pada sebuah foto, aku bisa melihat Ringgo duduk mepet sambil merangkul Marsha. Mereka tampak seperti sedang bernyanyi bersama. Ruangan itu sendiri gelap dengan hanya cahaya dari TV yang menyinari.

Kemudian foto berikutnya membuat darahku semakin mendidih. Betapa tidak, posisinya hampir sama, tapi kali ini tali pundak baby doll Marsha di bagian kiri sudah lepas ke lengan, dan sedikit banyak memperlihatkan sebagian besar boobs-nya yang jelas tidak memakai beha sama sekali. Puncaknya adalah foto terakhir, karena di situ terlihat tangan kiri Ringgo yang sedang merangkul Marsha juga meremas dada sebelah kirinya.

D: “Sebentar, Bro. Pintunya ditutup, kayaknya udah pada nyadar kalau kebuka”

Agak lama, Dido kembali mengirim kabar.

D: “Gw tadi masuk ke ruangan, soalnya mereka pesen snack ama minuman tambahan gt. Gila, tu cwo celananya udah nggak diretsletingin, dan baju cwe lo udah melorot, dia megangin di dadanya pas gw masuk, tapi udah pasti gk pake beha tu.”

D: “Sorry ya Bro, tapi gw horny jg liat cwe lo gitu”

A: “Gpp, Bro. Normal tandanya. Artinya lu ga homo. Mereka terus ngapain?”

D: “Ya kayak agak mabok gt, Bro. Tahu deh abis ngapain. Tapi ya gw masuk mungkin pada berhenti dulu.”

A: “Oke, kabarin terus ya Bro”

D: “Siap, Bro! Oh ya, minta izin boleh?”

A: “Izin apaan?”

D: “Gw boleh coli bayangin cwe lo gak? Hehehe”

A: “Dasar mesum lo! Tugas dulu tunaikan, Bro!”

D: “Ahsiyaaaap!”

Pikiranku semakin melayang ke mana-mana, entah apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Tapi sekaligus aku merasa horny membayangkan pria itu mengerjai pacarku yang cantik jelita itu. Arrgh, pusing jadinya.

Waktu berjalan amat lama, dan Dido kemudian memberi update kembali.

D: “Bro, mereka udah selesai akhirnya. Kayaknya sih pada pengen balik. Tadi pas bayar gw denger cwe lo minta dianterin balik.”

A: “Trs dari tadi ngapain aja?”

D: “Bro. Gw cerita tapi lo jangan marah ya? Gw sorry banget nih”

A: “Emang kenapa Bro?”

D: “Janji dulu jangan marah, gw sorry banget, sorry-sorry-sorry banget”

A: “Udah, cerita aja, gak bakal marah gw”

D: “Jadi gini, gw kan iseng masangin bluetooth ke pen-cam, maksudnya biar kalau pas dipanggil masuk lagi bisa ada dokumentasi gt. Kan susah kalau motret pakai hp.”

A: “Trus?”

D: “Lo lihat aja deh”

Agak lama, dan akhirnya muncullah sebuah file video yang ukurannya agak gede. Sepertinya Dido kembali dipanggil ke dalam ruang karaoke itu oleh Rendy.

R: “Masuk, Mas, sini”

D: “Ada apa ya, Mas? Mau pesan snack atau minuman lagi?”

R: “Nggak, Mas, cuman mau minta tolong aja”

D: “Minta tolong apa ya?”

R: “Masuk dulu lah Mas, santai aja. tutupin pintunya”

R: “Sebelumnya kenalin dulu nih, Mas. Mas namanya siapa?”

D: “Dido, Mas”

R: “Oke, Mas Dido, saya Ringgo, dan ini pacar saya, Marsha”

Kampret! Berani2nya dia mengaku sebagai pacarnya Marsha! Kulihat Marsha sudah agak tipsy, dan bajunya sudah kusut berantakan, begitu pula rambutnya. Terlihat bahwa Marsha memakai celana senam leotard untuk menutupi bawahnya, namun dari kerutan2nya yang tidak rapi sepertinya celana itu baru dibenahi dengan terburu2.

R: “Jadi gini nih, kita mau minta tolong ama masnya. Kami tadi kan taruhan nih, siapa yang nilainya paling rendah pas karaoke bakal dapat hukuman. Dan ternyata, pacar saya ini kalah, Mas. Hukumannya apa, Beb?”

M: “Saya harus oralin Mas Dido ampe keluar”

Aku benar2 terkejut, begitu pula dengan Dido.

D: “Waduh, Mas, saya nggak berani saya”

R: Tenang saja. Lagian dari sejak masuk saya lihat mas sudah lirik-lirik pacar saya. Bahkan saya tahu mas curi-curi foto tadi.

D: “Maa…maaf mas…maaf…”

R: “Udah, nggak apa2 Mas, tenang saja.”

D: “Waduh, yang lain aja deh Mas, minta tolongnya?”

R: “Kenapa, Mas? Pacar saya kurang cantik ya, apa kurang seksi?”

D: “Bukan gitu, Mas, gimana ya…”

R: “Coba, Beb, kamu berdiri di depan masnya”

Marsha dengan menurut berdiri di depan Dido. Lalu dengan kurang ajarnya, Ringgo menarik baby doll Marsha hingga melorot ke perut, sehingga terlihatlah kedua dada Marsha. Marsha berusaha menutupinya, namun Ringgo segera menahan tangan Marsha.

R: “Beby, coba dong, Mas-nya digoda. Mungkin kalau kamu yang minta masnya mau”

M: “I-Iya… Marsha seksi kan Mas?”

D: “I-Iya, Mbak, seksi.. Eh…”

R: “Coba masnya disuruh pegang susumu, Beb. Biar ngerasain gimana susumu”

Dengan enggan, Marsha pun mengambil tangan Dido dan mengarahkan ke dadanya. Walau aku tersentak cemburu, aku merasa agak geli juga waktu melihat Dido salah tingkah dan tangannya gemetaran.

M: “Ih Mas, jangan gemetaran gitu dong. Pegang deh…”

Dido pun mulai pelan-pelan meremas dada Marsha. Tadinya takut2, lalu lama2 remasannya mulai bergantian dari kanan ke kiri hingga Marsha sedikit mendesah dan menggigit bibir bawahnya.

R: “Alus ya Mas? Sekel, kan?”

D: “I-Iya, Mas, mantap”

R: “Mau nyoba ngemut gk, Mas?”

D: “Heh? A-Apa?”

R: “Ayo, Beb, dirayu tuh”

M: “Iya, Mas, Marsha diemut dong, pelan2”

Bagai kerbau dicucuk, Dido pun mengikutinya. Awalnya takut2, tapi lama2 emutannya semakin ganas. Dasar Dido, runtuh juga kan lo kalau kena Marsha? Hahahaha

R: “Udah Mas, jangan dihabisin”

Dido sepertinya agak kecewa ketika Ringgo melepas emutannya dari dada Marsha, tapi matanya segera membelalak ketika Ringgo menyuruh tangan Marsha mengangkat baju baby doll-nya, kemudian dengan sekali tarik, celana sekaligus g-string Marsha ditarik turun hingga ke dengkul, memperlihatkan vagina Marsha.

R: “Bagus, gak?”

D: “I-Iya, bagus”

R: “Tapi yang ini nggak boleh dipegang, ya.”

D: “Yaah…”

Aku tertawa geli melihat Dido tampak kecewa, apalagi kemudian Ringgo menaikkan kembali celana Marsha setelah sebelumnya mengelus vaginanya.

R: “Gimana sekarang, Mas? Mau kan sekarang dioral ama pacar saya?”

D: “Eh, gimana ya?”

R: “Kalau nggak mau, saya panggil yang lain nih”

D: “Eh jangan, Mas. Ya udah deh, saya mau”

Ah, Do, tai lo! Tapi sikap Dido yang mau tidak mau itu membuatku geli.

R: “Oke, Beb, bukain celana masnya. Kasihan dia udah ngelayanin kita”

Marsha hanya mengangguk saja. Kulihat wajahnya tampak amat enggan luar biasa, tapi entah kenapa dia mau ikut saja. Dia lalu berlutut di depan Dido, dan pelan2 membuka retsletingnya. Wajahnya amat seksi saat terlihat terpaksa begitu, apalagi Dido sengaja agak membungkuk sehingga pencam-nya yang ada di saku bisa merekam wajah Marsha. Dalam sekejap, celana Dido pun sudah melorot oleh pacarku.

D: “Mas, saya boleh sambil duduk di sofa aja gak?”

R: “Oh, silakan, Mas, senyamannya aja”

Dido segera duduk di sofa dengan posisi agak senderan, sehingga bisa merekam dengan jelas apa yang ada di depannya. Penisnya yang berwarna agak kehitaman tampak mengacung. Memang tidak sebesar punyaku, tapi lumayan lah, tidak jauh berbeda ukurannya. Sepertinya Dido memang sengaja memilih posisi ini supaya dia bisa merekam saat Marsha mengoral dirinya.

Marsha kemudian berlutut di depan Dido, dan memegang penisnya, memainkannya pelan2 sehingga tegang sempurna sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam mulutnya. Dido tampak mulai mengerang saat Marsha mulai menaik-turunkan penisnya keluar masuk mulut.

R: “Enak, Mas?”

D: “I-Iya, Mas, ish…”

Menyaksikannya entah kenapa penisku malah ikutan berdiri, sehingga aku langsung melepas celanaku dan mengocok penisku sendiri yang sudah tegang.

Ringgo sangat menikmati pemadangan live dihadapannya. Puas dia bisa memanfatakan pacarku. Kulihat dia meremas-remas batangnya dari luar celananya.

B: “Bro, jangan lama2 lah, kita 15 menit lagi habis bookingnya”

R: “Ya udah, dicepetin aja deh”

Ringgo kemudian bergerak kebelakang Marscha, dari belakang menarik celana ketat Marsha hingga lepas. Sekarang pacar yang aku cintai itu sudha telanjang bulat. Benar-benar sexy.

Ringgo tatap vagina pacarku itu, menghirup sejenak lalu dengan sekali gerakan, Marsha diputar ke posisi 69 dengan Dido. Dido sekarang dihadapannya tersaji vagina indah pacarku. Tak butuh lama, lidah dido bekerja. Posisi mereka hanya membuatku bis amelihat perut Marsha dalam posisi close up sambil sesekali ujung dadanya yang berayun2. Suara sedotan Dido bercampur dengan erangan Marsha yang tertahan penis pada mulutnya, ditambah suara Ringgo yang seolah menyemangati. Gila. Suangguh Gila.

Hingga beberapa menit kemudian,

“AAAAHHH….”

Marsha keluar terlebih dahulu, karena kulihat tubuhnya kejang2, dan tak beberapa lama disusul erangan Dido. Layar menjadi gelap karena tubuh Marsha jatuh menimpa kameranya, lalu kemudian kembali terang, saat Marsha turun dari tubuh Dido. Dido pun berdiri dan terlihatlah kini muka Marsha yang belepotan sperma Dido. Kali ini wajah Marsha tampak merah padam menahan emosi, seolah ingin marah tapi tidak bisa. Dia langsung menuju ke toilet yang memang ada di dalam ruangan itu, membanting pintunya dengan kencang.

“POKOKNYA GW GAK MAU KAYAK GINI LAGI!!!”

Ringgo hanya tercengang, sementara Dido dengan cepat memakai celananya. Tampaknya Ringgo tak menyangka bahwa Marsha bakal marah seperti itu.

D: “Mas, saya keluar dulu ya”

R: “Oh iya, Mas, makasih, ya”

Ringgo menyalami Dido, lalu menyelipkan beberapa lembar uang warna biru ke saku Dido, menutupi pencam-nya.

Pencam pun kembali terbuka, dan kali ini terlihatlah wajah Dido yang penuh rasa bersalah, meminta maaf tanpa suara, bahkan sampai membungkuk.

D: “Jadi gitu, Bro, maaf ya, gw udah crot di muka cwe lo” *emotikon nangis*

A: “WKWKWKWK!! Kampret lo!! Tai!! Kena memek langsung lemah gitu lo ya!! Setan lo, Bangsat!!!

D: “Maafin gw, Bro!” *emotikon nangis beberapa kali*

A: “Tapi enak gak?”

D: “Enak sih…”

A: “TAAAIII LOOO!!!” *emotikon tertawa terbahak2*

BERSAMBUNG

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler