. Nirwana Part 7 | Kisah Malam

Nirwana Part 7

0
156

Nirwana Part 7

The Pain Carver

Siang itu jalan menuju pantai tampak tidak sanggup lagi menampung volume kendaraan berplat luar kota yang semakin padat dari tahun ke tahun. Beberapa wisatawan asing melintas buru-buru di atas trotoar di kiri dan kanan jalan, menghindari panas matahari di balik baju-baju dan cinderamata yang dipajang bergantung-gantung pada art shop di pinggir jalan.

Indira meliuk-liuk dengan skuter matic di antara kemacetan itu. Wajah blasterannya tampak berkerut-kerut melawan terik matahari. Siang itu benar-benar panas, angin yang berhembus juga angin yang benar-benar gersang, mengibarkan dress putih sepaha dan cardigans hitam yang dikenakannya untuk melawan terik.

Indira melengguh kesal. Ia benar-benar kesal hari ini. Kesal kepada kemacetan ini, kesal kepada ayahnya, kesal pada Dewa, pacarnya yang tidak bisa dihubungi, kesal kepada semua! Terlebih lebih kepada mas-mas brewokan yang bernama Mustava Ibrahim itu.

Sungguh, udara yang panas itu membuat kemarahan di dada Indira menjadi berlipat-lipat. Ia hendak memacu motor kencang-kencang, namun kemacetan itu membuat jarum speedometernya hanya berhenti di angka 10.

“Ummmh!” Indira benar-benar kesal. Mengapa semua orang tidak mengerti dirinya? Mengapa semua orang bertindak semaunya? Biarlah! Karena siang ini ia pun akan bertindak sesuka hatinya!

Sepasang lelaki berpelukan mesra, melintas tiba-tiba di depan Indira. Indira mengerem mendadak, sambil melotot ke arah mereka. Namun sepasang kekasih itu melenggang bebek dengan kemayu.

Indira kesal. Siang ini ia sangat kesal!

= = = = = = = = = = = = = = = = =​

Skuter matic yang dikendarai Indira bergerak memasuki Jl. Poppies II yang sempit -lebih mirip gang- dengan leretan toko yang menjual suvenir dan pub yang belum buka di kiri-kanannya. Hiruk pikuk taksi dan motor bebek yang dipasangi papan selancar membuat remaja itu terpaksa melambatkan motornya sambil terhuyung sesekali.

Menghubungkan jalan Legian dan jalan Pantai Kuta yang memanjang di tepian pantai paling tersohor di pulau Dewata, Gang Poppies II terkenal sebagai tempat singgah backpacker dari seluruh dunia. Penginapan murah meriah, rumah makan, bar, minimarket, toko souvenir, tempat massage, beragam distro. Semua tumpah ruah memenuhi gang sempit dengan lebar tak lebih 5 meter itu.

Sebenarnya Indira hanya berniat memintas jalan menuju Beachwalk, mall yang baru saja dibuka di pinggir pantai Kuta. Namun, ketika melewati sebuah Tattoo

Parlor bertuliskan “Angel With the Dragoon Tattoo”, ada sebuah dorongan tak kasat mata yang membuat remaja itu mendadak menepikan motornya. Ada sesuatu yang berbeda di antara foto-foto seni rajah kulit yang dipajang di etalase, namun dirinya tak tahu persis apa. Hingga tanpa sadar, perlahan amarahnya menyurut dan berganti sebentuk rasa penasaran yang menggelegak….

Janin bayi… tengkorak bidadari… pola-pola ganjil yang membentuk geometri yang membingungkan… Semakin lama Indira memandangi leretan gambar warna-warni di hadapannya, semakin hatinya tergerak untuk memasuki studio tato tersebut. Mungkin kebetulan, batin Indira, memberitahu dirinya sendiri. Meski ia sendiri mengerti, bahwa tak ada yang kebetulan dalam konstelasi alam semesta…

Fragmen 7
The Pain Carver
-Sheena-

”I don’t give a damn ’bout my reputation
You’re living in the past, it’s a new generation
A girl can do what she wants to do
and that’s what I’m gonna do…”

“And I don’t give a damn ’bout my reputation
Never said I wanted to improve my station
And I’m only doing good when I’m having fun
And I don’t have to please no one…”

“And I don’t give a damn ’bout my bad reputation
Oh no, not me, oh no, not me…”​

Hati-hati Indira membuka pintu, dan gendang telinganya seketika disambut bunyi dentum irama punk yang menyalak rancak. Seorang wanita berambut pendek sedang duduk di reclining seat di tengah ruangan, nampak sibuk merajah punggung tangannya sendiri dengan kurva dan berbagai warna.

“Hoi,” sapanya enteng begitu melihat Indira mendekat takut-takut. “Mau buat tato? Bentar ya, boleh nggak, gue nyelesain ini bentar? Elu lihat-lihat aja dulu gambarnya,” jawabnya cuek, lalu melanjutkan menyelesaikan memberikan titik-titik gradasi pada tato yang baru digurat di punggung tangannya. Suara denging elektrik keluar seiring pedal kaki yang diinjak sesekali, bercampur baur dengan suara Joan Jett yang berdentam dari speaker yang tertanam di sudut-sudut ruangan.

Indira menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang dicat dengan warna merah darah. Ada 3 buah poster film lawas dipajang di dinding dihadapannya, dipigura rapi bersama poster band Ramones, Sex Pistols, dan The Clash. Di dinding sebelah kiri adalah rak yang berisi buku-buku dan majalah musik, diletakkan di samping sofa abu-abu panjang dan kulkas yang berisi Bir Bintang dan beragam minuman ringan. Sebidang cermin raksasa menutupi dinding sebelah kanan, seolah sengaja dirancang agar memudahkan pelanggan untuk mematut-matut hasil karya sang seniman tato yang dirajahkan di atas kulit mereka.

Sebidang kaca etalase membatasi ruangan ber-AC itu dengan gang Poppies yang hiruk-pikuk, beberapa contoh gambar tato yang dipajang rapi untuk menarik mata calon pembeli. Mata Indira mengamati semuanya, sebelum akhirnya tertumbuk pada seniman tato, yang duduk tenang di reclining seat di tengah ruangan. Tubuh wanita itu dibalut oleh tank-top putih ketat dan skinny jeans belel. Rambutnya dipotong pendek seperti laki-laki, dan sepasang kacamata hitam bundar disangkutkan di kerah tanktopnya yang rendah, melengkapi sebentuk kecantikan dan keseksian yang demikian liar, batin Indira, diam-diam mengagumi.

Jengah melihat Indira yang hanya berdiri di ambang pintu, wanita berambut pendek itu mengulurkan sebelah tangan yang tadinya memegang jarum tato. “Sheena,” ucapnya singkat, dan langsung disambut dengan uluran tangan remaja blasteran itu.

“Indira.”

Pandangan Indira segera tersita oleh rangkaian gambar yang memenuhi lengan kiri Sheena. Tatoo itu sekilas berbentuk naga, namun sisik-sisiknya merupakan tumpukan manusia yang merangkak-rangkak dibalut nyala api berwarna merah darah. Jika diperhatikan lebih baik lagi maka akan nampak gradasi warna yang membentuk tulisan “Inferno”.

Indira bergidik, belum pernah dirinya melihat tato seperti itu. Lukisan hasil karya murid-murid ayahnya seolah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mahakarya yang dirajah di atas kulit manusia di depannya kini.

Mata bundar sang gadis remaja terus merunuti tulang punggung naga yang berwarna jade, terus mengular membelit lengan kiri sampai pergelangan Sheena dan membentuk tulisan “Purgatorio”. Indira tak henti terpana, karena bagian paling luar biasa justru ada di punggung tangan; ratusan, bahkan ribuan titik-titik kecil dengan gradasi ungu kebiruan, seolah seisi galaksi bimasakti dirajahkan ke atas kulit manusia, membentuk sebuah tujuan akhir: “Paradiso”

“Naksir? Bule-bule banyak yang naksir. Tapi yang ini nggak bisa dibikin lagi. Kalau mau yang lebih keren, banyak. Lihat-lihat saja dulu.”

Indira mengangguk, tapi mata bulatnya masih tak bisa berhenti menekuri tulisan di lengan Sheena; Inferno, Purgatorio, Paradiso, batin Indira berkali-kali, seperti mengeja. Sepertinya ia pernah membaca, tapi entah di mana.

“Divina Commedia,” Sheena menjawab tanpa ditanya. Sedikit jumawa, cewek berambut pendek itu kemudian menjelaskan bahwa ‘Divina Commedia’ adalah puisi karya penyair Italia, Dante Alighieri. Terdiri dari 3 babak; Inferno, Purgatorio, dan Paradiso,- ‘Divina Commedia’ bercerita tentang perjalanan sang penyair di alam ruh. Menembus lapis demi lapis Inferno, mendaki gunung Purgatorio, untuk menuju Paradiso.

Indira menyimak dalam diam. Ada sesuatu dari cerita Sheena yang mengusiknya, namun ia hanya bisa merasakannya samar-samar, entah apapun itu. Remaja blasteran itu memilih menunggu, duduk di sofa panjang lalu membuka-buka album foto yang berisikan berbagai macam jenis tato.

Beberapa halaman dibuka, dan Indira dibuat semakin terkagum-kagum. Ia tidak menemukan tato seperti yang biasa ia saksikan di tempat lain, melainkan bentuk-bentuk geometri dan gambar-gambar yang mengingatkannya pada lukisan mural postmodern di majalah ayahnya.

Sheena bak Tim Burton dari dunia seni rupa yang bisa mengubah gambar apapun menjadi murung dan gelap. Di tangan sang seniman tato, tokoh kartun Batman bisa menjadi tato satir tentang bocah yatim piatu yang kehilangan orang tuanya.

Keren bangeeeeeet! Indira membeliak, menjerit dalam hati. Ia memang sudah lama ingin membuat tato seperti yang dimiliki oleh kekasihnya, tapi selalu takut dimarahi oleh ayahnya, tapi… Huaaaaah! peduli amat? karena toh selama ini sang ayah sendiri juga selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya!

Huft! Remaja mungil itu menggembungkan pipi. Indira berpikir inilah saatnya menunjukkan pada mereka bahwa dirinyapun bisa melakukan tindakan serupa! Fufufufu… Kali ini ia sudah berada di dalam studio tato. Lagipula Sheena, sang seniman tato itu terlihast sangat ramah, tidak enak rasanya kalau dirinya tiba-tiba pergi!

“Duduk dulu aja, sambil baca-baca. Mau minum juga boleh. Gratis, buat komplimen. 5 menit lagi beres, aku tinggal kasih shadding sedikit lagi.” Sheena tersenyum manis, sehingga membuat Indira kembali tertegun. Ada sesuatu dari senyum itu yang membuatnya merasa bahwa mereka sudah pernah bertemu lebih lama dari yang seharusnya. Mungkin samsara mereka di kehidupan lampau, siapa yang tahu?

“Makasih.” Indira cepat membalas dengan senyum yang tak kalah manis. Terdengar suara tutup botol soda yang dibuka, disusul sepasang wanita yang mulai saling bertukar cerita. Tak sampai seperminuman Sprite, dua orang yang baru kenal itu sudah bercakap-cakap akrab bak sepasang sahabat yang lama tak berjumpa. Dari sini Indira tahu, bahwa sang seniman tato pernah kuliah di FSRD jurusan DKV, IKJ Jakarta. Pantas saja desain tato Sheena lebih terlihat seperti lukisan avant garde dibanding desain tato pada umumnya. Indira membolak-balik portofolio sang seniman tato, terdapat berbagai macam desain di sana, namun di mata Indira yang dari kecil sudah terbiasa melihat karya seni, dirinya tahu, ada sebuah DNA, cetak biru, atau apapun namanya. Yang pasti, ada satu ‘ruh’ yang sama yang menjiwai seluruh karya sang seniman tato. Dan Indira terlalu penasaran untuk tidak menanyakan hal itu kepada Sheena.

“Wow, buat ukuran anak SMA kamu ngerti banyak soal seni,” kali ini giliran Sheena yang tergerak bertanya. Dirinya benar-benar tidak menyangka betapa seorang gadis remaja imut seperti Indira bisa juga menjelma sebagai kurator dadakan.

Indira tercengir jenaka. “Turunan, kali.”

Sebelah alis Sheena terangkat mendengarnya, dan ia tidak bisa untuk tidak terkejut ketika di kalimat berikutnya Indira berkata bahwa calon kliennya itu adalah putri semata wayang Gede Subrata, seniman lukis terkenal idolanya.

“Serius kamu anaknya Pak De?” Wajah Sheena berubah antusias, lalu segera duduk di sebelah Indira.

Indira mengangguk lucu.

“Pantas, rasanya seperti pernah melihat mukanya,” Sheena kemudian mengatakan bahwa ia pernah melihat pameran lukisan Sang Maestro di Nusa Dua beberapa bulan yang lalu.

Wajah Indira mendadak terasa panas, karena yang dimaksud Sheena pastilah lukisan telanjang dirinya. Meski malu mengakui, namun terkadang mau tak mau ia merasakan perasaan ‘aneh’ ketika membayangkan tubuh telanjangnya telah ‘dinikmati’ oleh orang-orang asing meski hanya melalui medium lukisan.

“Oh iya, kamu mau bikin tato temporer?”

“Emang kalau anak SMA, musti bikin temporer, gitu?” sambar Indira cepat.

“Whoa, take it easy… nggak usah marah gitu, nona cantik…” Sheena tersenyum, menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan remaja yang darahnya dipenuhi dengan keinginan memberontak. Wanita berambut pendek itu lalu memperhatikan lekat-lekat wajah calon kliennya. “Jadi mau buat tato permanen, nih?”

“Tato permanen yah, hu-uh.” Indira menggigit-gigit bibirnya. “Sakit nggak, tapi?”

“Sakit, tentu saja sakit.” Sheena mengusap tato di lengan kirinya. “Tapi menjerit tidak akan menghilangkan rasa sakit, kan?”

Indira kehilangan kata-kata, ada bagian dari perkataan Sheena barusan yang menampar dirinya.

Kehilangan sosok kakak dan ibu selama ini membuat Indira tak ubahnya seperti bocah manja yang merasa paling menderita di seluruh dunia, selalu merengek-rengek dan menyalahkan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan kematian ibunya, termasuk Ava, pemuda aneh yang telah membuat hidupnya berwarna selama sebulan terakhir yang dengan biadab malah dituduhnya sebagai teroris.

Senyum getir membersit di bibirnya. Diam-diam Indira merasa bersalah pada Ava. Meski masih malu mengakui, bahkan kepada dirinya sendiri.

Menyadari mulai muncul jeda tak wajar di antara percakapan mereka, Sheena mengusap pundak Indira, lembut. “Lagipula ada yang lebih sakit dari ini, kok…” kata Sheena lagi.

“Apa, kak?” Indira mengangkat muka, mendapati sepasang mata Sheena yang menatapnya hangat.

“Masa lalu.”

Dada Indira seketika tercekat. Jelas sudah ‘sesuatu’ yang membuatnya tiba-tiba tergerak memasuki studio tato itu. Ruh yang menghidupi karya-karya sang seniman tato ternyata beresonansi dengan ‘sesuatu’ di alam bawah sadar Indira. Perasaan kehilangan orang yang paling disayangi. Untuk sesaat mereka berpandangan mata, seolah ingin saling berkata: ‘aku menemukan orang yang senasib.’

“Masa lalu memang menyakitkan…” desis Indira pelan.

Semua semakin jelas di matanya kini, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam sebuah sistem serba rumit bernama Semesta.

Mantap, Indira menutup album katalog di pangkuannya. “Kakak yang memilihkan,” ia berkata sekaligus menantang pandangan Sheena. “Kalau ditato memang sesakit itu, aku mau gambaran yang pahit, getir. Something painfull, something gloomy. Segetir orang yang mengejar orang terkasihnya ke alam kematian,” tandas Indira tegas sekaligus getir. “You’re the pain carver after all.”

Kali ini giliran Sheena yang kehilangan suara. Ratusan klien sudah ia hadapi. Namun, untuk pertama kalinya ia dibuat gentar oleh seorang gadis remaja. Ditatapnya balik pandangan Indira, lama. Sheena ikut merasakannya di dalam mata Indira, vibrasi yang saling beresonansi. Sebuah Inspirasi. Cepat-cepat Sheena mengambil pensil hektograf dan membuat sketsa di atas kertas stensil yang nantinya akan dijadikan cetakan stensil untuk tato yang akan dibuat. Jemarinya bergerak lincah, menguaskan beberapa garis, dan segera disambut mata Indira yang seketika membelalak.

Tato itu berbentuk bunga mawar berduri dengan kelopak berbentuk tengkorak, di mana tangkai-tangkainya tersusun dari ratusan huruf yang saling jalin menjalin layaknya kaligrafi Morrocan. Mata Indira bergerak takjub, merunuti kalimat demi kalimat yang akan dirajahkan ke atas kulitnya.

“Sunday is gloomy,
my hours are slumberless.
Dearest, the shadows
I live with the numberless
Little white flowers,

will never awaken you.
Not where the black coach
of sorrow has taken you.

Angels have no thought
of ever returning you.
Would they be angry
if i thought of joining you?”​

“Gloomy Sunday,” kata Sheena. “Nggak ada lirik lagu yang lebih murung dari ini. Konon orang yang dengar lagunya bisa tergerak untuk bunuh diri.” Diliriknya wajah Indira sekilas, berusaha meraba sesuatu di balik raut sang remaja. “Kamu masih yakin mau lanjut?”

Senyum lebar seketika mengembang di bibir Indira. “I’ll take the chance.”

= = = = = = = = = = = = = = = = =

Indira berkata bahwa dirinya menginginkan posisi tato yang cukup tersembunyi dari pandangan ayahnya, namun cukup seksi untuk dikagumi seorang diri. Punggung? Pantat? Dada? Sheena bertanya. Pemaparan sang seniman tato seketika membersitkan gagasan-gagasan gila di benak Indira. Tak ayal pipi Indira mulai merona kemerahan membayangkan apa yang bakal terjadi dalam beberapa menit berselang. Tak mudah memang, menundukkan gairah remaja yang penuh dengan lonjakan hormon.

“Perut?” terakhir kalinya, Sheena memberi saran. Perempuan berambut pendek itu kemudian menjelaskan bahwa nantinya lokasi kelopak bunga mawar yang berbentuk tengkorak akan mengelilingi pusar Indira. Namun resikonya, tangkai-tangkainya yang tersusun dari puluhan huruf nan saling jalin menjalin itu terpaksa digambar di bawah bikini line Indira.

Wajah blasterannya bersemu, ketika Indira akhirnya mengangguk, menyetujui saran sang seniman tato.

Berusaha tetap tenang, anak itu kemudian melepas cardigans hitamnya, sehingga menampakkan pundaknya yang membulat indah. Berdebar-debar, Indira berbaring di atas reclining seat yang sandarannya telah direbahkan. Dengan tangan gemetar, Indira menaikkan ujung dress putih yang dikenakannya sampai di atas perut, menyibak pemandangan menakjubkan berupa paha, pinggul, dan perut yang berlekuk Indah. Tak lupa, sebentuk bukit kecil di antara dua paha dengan belahan yang tercetak pada secarik segitiga hitam kecil yang dikaitkan dengan seutas tali.

Sheena tersenyum melihatnya, tak menyangka bahwa anak SMA seperti Indira akan mengenakan pakaian dalam seseksi itu. Indira ikut tersenyum. Timbul rasa berdesir di darah sang gadis remaja menyadar bagian paling pribadinya sedang diperhatikan sebegitu lekat.

“Dilepas sekarang?”

Sheena mengangguk, sambil menyiapkan peralatan tato di meja besi kecil di sebelahnya, Gel alkohol isopropil, jarum tato baru, serta sarung tangan plastik. Tangan Sheena meraih sebuah alat cukur yang masih terbungkus plastik.

“You know. Buat ditato nggak boleh ada rambut halus. Just saying.”

“Ng-nggak perlu,” jawab Indira, nyaris tanpa bersuara. Semburat warna merah sudah memenuhi raut wajahnya kini, menyadari bahwa ia harus melucuti penutup terakhir tubuhnya di hadapan orang yang belum ada sehari dikenalnya. Gemetar, Indira menaikkan sepasang pahanya, disusul gerakan tangan yang menarik lepas secarik kain cawat warna hitam dalam gerakan perlahan.

Helaan nafas panjang terdengar menyusul dari bibir Indira. Anak itu menggigit bibir, menyadari bahwa bagian intimnya kini sedang terpampang bebas ke udara.

Liang senggama Indira mulus tanpa bulu sama sekali. Anak itu agaknya memang rajin membersihkan rambut-rambut halus di antara kedua pahanya, sehingga hanya menyisakan gundukan putih indah dengan garis tipis merah muda di tengahnya.

Sang Seniman Tato menarik nafas panjang, berusaha melakukan tugasnya seklinikal mungkin, seprofesional mungkin. Diusapnya sekitar daerah intim Indira dengan kapas yang sudah dibasahi alkohol 70% dan cairan lubricant. Dengan hati-hati seniman tato itu menempelkan kertas stensil yang sudah berisi sketsa yang ditulis dengan pensil hektograf, diusapnya kertas itu ke dalam-dalam, dan di detik berikutnya stensilan pensil itu sudah berpindah ke atas kulit mulus Indira, siap ditebalkan dengan tinta dari jarum tato.

“Siap?” Sheena duduk di stool kecil, mengambil posisi di antara kedua paha Indira yang terbuka lebar mengangkangi perutnya. Cewek tomboy itu menggenggam jarum tato mantap, bersiap mengoperasikan mesin tato melalui pedal di kakinya. Terdengar denging elektrik ketika jarum berisi tinta itu perlahan-lahan dirajahkan di perut mulus Indira, diikuti rintihan-rintihan kecil yang terpaksa keluar dari bibir sensual Indira setiap kali jarum tato menembus kulitnya.

“Ditahan sedikit ya,” Sheena berkata.

Indira hanya mengangguk lemah, mencoba menyanggupi. Namun tetap saja pinggul ranumnya menggeliat setiap kali jarum tato merajah tubuhya. Dengusan-dengusan tertahan terdengar menyertai, menyelinap dari bibir sensual yang membuka setengah. Bulir-bulir keringat ikut mengaksentuasi, membasahi wajah Indira yang bersemu merah, menatap pasrah ke arah Sheena.

“Aduuh.., Sakit, kak… sakit… auuuuh…” rintih Indira. Penuh innuendo.

Melihat ekspresi itu, siapa yang bisa tahan untuk tidak tergoda? Baik Indira, ataupun Sheena sama-sama tahu bahwa beberapa jam ke depan akan menjadi ‘siksaan’ bagi keduanya.

= = = = = = = = = = = = = = =

“They’re piling in the back seat
They’re generating steam heat
Pulsating to the back beat
The Blitzkrieg Bop.

Hey ho, let’s go
Shoot’em in the back now
What they want, I don’t know
They’re all reved up and ready to go”​

Dibutuhkan waktu hampir 2 jam bagi sang seniman tato untuk menyelesaikan karyanya. Menghadapi rintihan Indira yang agak menjurus, memaksa Sheena berdendang-dendang kecil mengikuti lagu punk rock yang diputar kencang hanya agar pikirannya tetap fokus.

“Umh… kakak, suka…. Ramones?”

“Suka… dengar dari ayahku, kamu kira kenapa aku dikasih nama Sheena? Sheena is Punk Rocker? Pernah dengar?”

“Hehe… aku juga…”

Ah, boleh juga selera musik Indira untuk orang se-imut dirinya, batin Sheena.

“Ah, di pub di depan nanti malam ada acara.”

“Pub… apa?”

“Crossing Fate.”

“Oh…”

“Aku nyanyi, kamu boleh datang kalau mau… ajak teman-temanmu juga.” kata Sheena. Entah kenapa jantungnya ikut berdegup menunggu jawaban dari Indira.

Indira hanya tersenyum sayu, menatap nanar ke arah Sheena.

“Kenapa?”

“Kakak nggak kelihatan bisa nyanyi.”

Sheena terkekeh. “Makanya kamu harus datang.”

Indira menjawab dengan mendesah pelan. Namun di telinga Sheena, desahan itu terdengar lebih mirip rintihan orang yang sedang disetubuhi. Belum lagi bule-bule yang lalu lalang di gang Poppies di depan studio tato yang sesekali berhenti dan melihat tato yang dipajang di etalase, memberikan sensasi kepada Indira seolah-olah dirinya sedang ditontoni dalam posisi yang sangat memalukan. Campuran anatara rasa sakit, malu, dan tak berdaya mau tak mau membuat jantung Indira berdegup semakin kencang, memompakan darah segar ke klitorisnya yang mulai membesar, dan mengaktifkan kelenjar-kelenjar erotisnya untuk segera mensekresi cairan pelicin.

Astaga! Indira mengatupkan mata rapat-rapat, berharap Sheena tak memergoki labianya yang kini mengkilap seksi. Tapi apa lacur, karya seni Sang Seniman Tato kini sampai pada gambaran akar yang mengelilingi gundukan kecil halus tanpa bulu di pangkal paha. Itu artinya jari Sheena terpaksa menumpu pada belahan kewanitaan Indira untuk meregangkan kulit agar mudah diwarnai, sampai-sampai terkadang menguak kewanitaan Indira hingga menampakkan seisi liang merah mudanya yang dipenuhi cairan cinta berwarna putih keruh.

“M-maaf! A-a-aku… ng-nggak… ” jerit Indira panik, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Malunya luar biasa! Pastilah Sheena menyadari belahan tembemnya kini sudah mengkilap oleh lendir!

“It’s okay…” Sheena berbisik, lalu menyeka cairan cinta Indira dengan tisu basah. “Ini reaksi normal,” ucapnya memenangkan, namun nadanya juga terdengar bergetar seperti gerakan tangannya.

Padahal ini bukan kali yang pertama Sheena membuat nude tattoo semacam ini. Pantat, payudara, bahkan daerah di sekitar kejantanan pernah ia rajahi dengan hasil karyanya. Namun kali ini Sheena berhadapan dengan sesosok remaja belia yang menampilkan kepolosan sekaligus keliaran di saat yang sama, dan apa yang lebih berbahaya selain dua hal yang saling berkontradiksi?!

Setengah mati wanita berambut pendek itu berusaha menahan diri, namun reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuhnya tetap tidak bisa dibohongi. Selangkangannya mulai meremang tanpa bisa diantisipasi.

“It’s… a normal thing,” bisik Sheena gemetar, mengusap kewanitaan Indira dengan tissue basah. “A-aku lanjut lagi, ya…”

Indira mengangguk gugup. Ibu jari Sheena kini menumpu tepat di klitorisnya yang tengah berada dalam kondisi bengkak maksimal tanpa disadari oleh sang seniman tato.

Remaja blasteran itu hanya merasakan ibu jari yang semakin melesak ke dalam belahannya ketika sang seniman tato menyempurnakan bentuk duri di sekeliling bikini line. “Auuuuh…. ssssh…. ooooh…. kak… sakit…. aaaaah…. “ Desahan Indira terdengar makin erotis, namun dengan mudah ditenggelamkan oleh bunyi denging elektrik dan musik yang mengentak. Sementara jarum tato di tangan Sheena mulai bergerak mengitar, mengakibatkan ibu jari yang terbungkus glove karet di atas klitoris Indira ikut memijat dalam gerakan sirkular di atasnya.

“Auuuuh… ssshhh…. uuuungggghhh….”. Rasa geli nikmat seketika mendera. Tak ayal, sekujur tubuh remaja itu menggeliat diiringi rintihan panjang dari bibirnya yang termegap. Dan Indira hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat, sambil terus menikmati campuran antara sakit-geli-nikmat ketika ibu jari Sheena terus bergerak memijat-mijat klitorisnya.

“Sakit, kah?” bisik Sheena dengan ekspresi tak bersalah. “Sebentar lagi selesai, kok.”

Indira menggeleng lemah. Ingin rasanya ia menjawab, tapi bibirnya hanya mampu mengeluarkan dengusan-dengusan erotis yang terdengar kian jelas, bersahut-sahutan dengan denging suara elektrik mesin tato dan irama lagu yang menghentak rancak.

“Nngggggh…. nnnnh…. hhhh…. hhh-h…”

“Tenang, sudah hampir selesai,” bisik Sheena, sambil sesekali menyeka lendir Indira yang meleleh-leleh di jari tangannya (hal yang wajar ketika merajah tato di area genitalia). Aroma kewanitaan Indira yang kian semerbak ikut membuat sang seniman tato larut dalam birahi. Rasa merinding yang kian menggila di selangkangannya membuat Sheena kehilangan kejernihan pikiran, sehingga tanpa sadar ibu jarinya terus bergerak menggeseki bibir tembem di selangkangan sang gadis saat menebalkan garis yang digambarnya.

Lenguhan panjang menyusup keluar dari bibir Indira yang kini dikatupkannya erat-erat. Matanya seketika membeliak-memejam, dan pinggulnya mulai bergerak naik turun, seolah sedang ada tubuh tidak terlihat yang sedang menyetubuhinya. Sungguh mati, perpaduan rasa sakit dan geli karena tangan Sheena yang menyelip-nyelip di antara belahannya benar-benar menimbulkan sensasi yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh semua pujangga di muka bumi!

“Auuuuh… asuuuuuhh… sssh… HHhh… hh-hh… hhhhhh….” Terengah, Indira hanya bisa tergolek pasrah, menatap nanar ke arah Sheena. Sebentuk rasa nan purba itu kini menyebar-nyebar ke seluruh pembuluh darah Indira. Nafsu yang merebak dari liang senggama hingga ujung dadanya, membuat jantungnya menderap-derap, dan nafasnya memburu-buru hingga dadanya yang membusung naik turun dengan cepat. Indira mencengkeram peganganan reclining seat erat-erat. Walau malu, tapi ia tidak ingin Sheena berhenti, Indira benar-benar menikmati ini!

Terus…
Belai belahanku…
Masuki relungku….
Cumbui aku dengan usapanmu

Sheena baru menyadari bahwa ada sesuatu yang salah ketika tubuh Indira mulai gemetaran diiringi dengusan-dengusan yang tersenggal cepat seiring orgasme yang sudah berada di ambang pintu.

“Nnggggggh….. nggggghh….. hhhh…. h… h… ” Indira menggeliat erotis, mengeluarkan rintihan seksi ketika sekujur tubuhnya mendadak didera oleh gelombang kenikmatan yang datang bergulung-gulung.

Sheena buru-buru minta maaf dan menarik tangannya dari selangkangan Indira, namun remaja yang sedang dimabuk birahi itu secepat kilat melingkarkan kedua pahanya di pinggul Sheena, memeluknya erat-erat dengan tungkai-tungkainya seolah tak rela. Dan semua terjadi begitu cepat. Setiap belaian Sheena seperti memercikkan riak ke tubuh Indira. Riak itu segera menjadi gelombang yang datang dengan berguruh-guruh menyebabkan pinggul Indira terangkat dan terhempas. Pantat Indira menggeliat nikmat dan punggungnya melenting dengan indahnya. Remaja itu sampai harus mengatupkan bibir kuat-kuat agar erangan puncak kenikmatannya tidak sampai terdengar ke luar ruangan.

Enggahan nafas. Keheningan yang membekap. Hingga akhirnya akal sehat perlahan kembali merayapi benak keduanya.

“Sorry-“

“-Sorry,” bisik keduanya, nyaris bersamaan.

“Can’t control it,” desau Indira, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Indira tahu, tidak seharusnya ia melakukan ini dan tidak sepantasnya, namun semua sudah terjadi. Carpe diem.

“Nah… involuntary orgasm… is a normal… thing…” jawab Sheena dengan wajah bersemu. afasnya tercekat di tenggorokan. Ia pun tahu, dirinya telah menyalahi kode etik seorang seniman tato profesional.

Berusaha mengendalikan diri. Sheena mengganti sarung tangan yang penuh dengan lendir. Ia menyeka cairan cinta Indira yang sedikit melunturkan tinta hasil karyanya itu. Ah, ia harus mengulangi beberapa garis.

Indira terengah mengatur nafas. Dan kali ini, rasa jengah harus mengalah pada nyeri dan geli yang kembali mendera tubuh setengah telanjangnya. Ia memejamkan mata kuat-kuat, menahan nyeri yang kembali mendera…

“Tahan, ya. Sebentar lagi selesai.”

Indira hanya mejawab dengan rintihan.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Sheena untuk menyelesaikan beberapa garis di kulit Indira. Tak seberapa lama, tato di perut bawah Indira sudah selesai sepenuhnya, telah diolesi salep antibiotik dan ditutup perban transparan yang biasa disebut tattoo derm untuk mencegah infeksi.

“Mana? Ah! Bagusnya….” Mata Indira tampak berbinar.

Ia segera bangkit dan mematut-matut diri di depan cermin besar di Studio tato itu. Diangkatnya dress putihnya sampai setinggi dada. Sesosok tubuh yang berlekuk indah memantul segar di depan cermin, dengan tato mawar berkelopak tengkorak yang memanjang dari pusar hingga ke pangkal pahanya yang remaja.

Sheena tersenyum kecil. Membuka sebotol Bir Bintang dan segera ditandaskan untuk mengusir butir-butir pasir dari pikirannya. Botol kedua dibuka dan disodorkan pada Indira.

Keduanya lalu duduk di sofa panjang. Sambil mendengarkan lagu punk rock lawas, Indira dan Sheena menghabiskan satu jam ke depan dengan berbincang sambil membahas desain-desain tato Sheena. Hingga tanpa sadar, Indira menyandarkan kepalanya di pundak Sheena, membiarkan tangan si cewek tomboy melingkar di atas perutnya.

Indira tersenyum, membiarkan pundaknya dirangkul Sheena. Remaja itu merasakan kehangatan dan kenyamanan ketika berada dalam buaian wanita berambut pendek itu.

“Oh iya, aku penasaran. Jadi, gimana akhirnya Divina Commedia?”

Sheena mengangkat bahu. “Paradiso, Inferno… apalah artinya semua itu? Paradiso itu cuma simbol. Inti cerita sendiri adalah tentang bagaimana orang menghadapi kehilangan orang yang dicintai, melawan rasa sakit yang dilambangkan dengan 9 lapis neraka, sampai akhirnya mencapai Paradiso. Atau lebih gilanya, Divina Commedia sering dikatakan sebagai perjalanan ruh manusia untuk bertemu ‘Tuhan’.”

Indira terdiam lama. Sekujur tubuhnya merinding hebat mendengar penuturan Sheena.

“It’s not about destination…. it’s about the journey…”

To Be Continued

Daftar Part

Cerita Terpopuler