. Mengalahkan Gadis Part 6 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 6

0
105

Mengalahkan Gadis Part 6

Everything Has It Price

POV Mr-X

Akhirnya aku tiba di kota ini, sudah cukup lama sejak terakhir aku kesini. Kota yang penuh dengan kenangan, baik dan buruk, kebahagiaan dan kehancuran. Mengingatnya saja darahku sudah mendidih. Ahh tapi aku harus bersabar dulu, rencana ini butuh proses yang tidak sebentar, aku tidak mau mengacaukan rencana yang sudah kubuat sendiri.

Marto sudah mengabariku, dia sudah menunggu dengan mobilnya di parkiran. Hmm, anak buahku yang satu ini, unik, aku benar-benar harus berhati-hati. Bukannya aku takut dia akan berkhianat, tapi justru aku lebih khawatir dia kalah lagi dengan nafsunya seperti yang sudah-sudah, yang akhirnya malah menyusahkanku saja.

Dia sekarang sudah diberhentikan dari tempatnya bekerja. Setelah dibuang ke luar pulau karena ketahuan ngentot seorang polwan di kantornya, di tempat pembuangannya, bukan berubah malah makin menjadi. Lagi-lagi dia kepergok memperkosa seorang gadis, yang ternyata adalah calon istri dari anak seorang pejabat daerah yang cukup berpengaruh disana. Kali ini habislah karir Marto, dipecat, bahkan diusir dari sana.

Untung sebelum kejadian itu, aku sempat mengirimkan orang kepercayaanku untuk mengelola bisnisku disana, sehingga bisnisku masih berjalan lancar sampai sekarang. Malah sekarang menjadi tempat yang kuandalkan, bukan hanya karena pasarnya yang potensial, tapi juga daerahnya yang aman sehingga pusat produksi bisa aku bangun disana.

Demi menghargai jasanya yang sudah membuka jaringan di timur, dan beberapa keahlian yang bisa aku andalkan, dia kutarik lagi kemari. Kujadikan kacungku untuk menjalankan misi balas dendamku. Terlebih Marto punya dendam pribadi juga kepada Wijaya, membuatnya langsung mengiyakan ketika aku menghubunginya.

Sangat mudah, tak perlu membujuknya dengan iming-iming yang muluk. Dia kini butuh tempat tinggal dan uang, terlebih wanita. Seorang yang brilian seperti diapun dengan mudah kujadikan kacungku. Kalau tidak terjaga betul, pria memang akan dengan mudahnya kalah oleh 3 hal, harta, tahta dan wanita.

Sejauh ini Marto masih mengikuti perintahku dengan baik, tidak ada pergerakannya yang melenceng dari rencanaku, kecuali beberapa kali dia curi-curi waktu untuk mengikuti wanita yang telah membuatnya dibuang dulu. Hanya mengikuti, tidak lebih, karena itu aku masih membiarkannya saja.

Tak lama kemudian aku sudah berada di mobil, menuju ke rumahku di salah satu perumahan elit di seputar ringroad utara Jogja, yang menurut Marto menjadi 1 komplek dengan rumah anak Wijaya. Baguslah, justru semakin mudah anak buahku ini mengawasi target.

Aku membeli rumah ini dulu untuk anakku yang berkuliah di kota ini, tapi baru 2 bulan dia malah memilih untuk kost saja. Entahlah aku tak paham jalan pikirannya, dikasih fassilitas lebih malah nggak mau, ya sudah aku turuti saja kemauannya. Dibiarkannya rumah ini kosong tak berpenghuni, hanya sesekali saja dikunjungi untuk dibersihkan, atau ketika aku bertandang ke kota ini.

“Silahkan masuk boss, kamar utama untuk boss sudah disiapkan,” ujarnya saat aku turun dari mobil.
“Bagaimana pesananku kemarin?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Beres boss, dia sudah saya hubungi, tapi baru akan kesini nanti sekitar jam 8 karena masih ada urusan pekerjaan,” jawabnya.
“Hmm, baguslah kalau begitu,” jawabku singkat. Hari masih sore, aku ingin beristirahat sebentar.

Malam harinya aku dan Marto sudah duduk di ruang tengah rumah ini, membicarakan perkembangan rencana kami. Belum ada yang menarik menurutku, tapi masih berjalan sesuai rencana. Hanya sedikit tambahan mengenai anak Wijaya serta kedua kakak perempuan si Budi. Rupanya benar kata kolegaku, Marto bersemangat kalau mengikuti wanita, infonya jadi lumayan lengkap. Obrolan kami terhenti saat seorang gadis memasuki rumahku dan langsung menghambur ke arahku.

“Haii om, wah udah lama nggak ketemu masih gagah aja,” sapanya genit sambil memelukku.
“Haha, kamu juga sayang kok makin cantik aja,” balasku.
“Ahh om bisa aja deh,” jawabnya tersipu.

“Sini duduk dulu sayang, kamu mau minum apa?” tawarku.
“Udah nggak usah om, udah kebanyakan minum aku tadi,” jawabnya sembari mengambil kursi dan duduk di depanku.

Kami bertigapun terlibat obrolan ringan, tentang kegiatannya sehari-hari. Gadis ini masih tetap menarik, aku sudah beberapa kali merasakan kehangatan tubuhnya, tapi untuk malam ini aku sedang tidak bernafsu untuk menidurinya, karena ada hal lain yang lebih penting yang ingin aku bahas.

Obrolan kamipun mengarah ke hal yang lebih serius. Aku menceritakan kembali rencana yang sudah kubuat kepada gadis itu, dan meminta bantuannya untuk turut mengambil peran dalam rencana ini. Dia tak banyak menolak, karena sebelumnya telah kujanjikan sesuatu yang cukup menggiurkan baginya.

“Jadi gimana sayang? Kamu mau kan bantuin om?” tanyaku.
“Siap om, Tata bakal bantuin om kok, tenang aja, tapi inget ya om, yang om janjiin kemarin, hehe,” jawabnya.

“Kamu tenang aja sayang, sesuai janji om kemarin, dan itu sudah bisa kamu nikmatin mulai sekarang, asal urusan kita lancar, you got it all,” jawabku meyakinkan.

“Hehe makasih deh om, kalau gini kan urusan bisa lancar. Aku sih nggak peduli kenapa om ngelakuin itu, yang penting aku dapat bagianku, dan nantinya jangan libatin aku kalau ada apa-apa ya om,” ujarnya memastikan.

“Beres, kamu tenang saja sayang,” jawabku.

“Hmm, udah ini aja, atau ada yang lain lagi om?” tanyanya. Aku mengerti maksudnya, tapi maaf ya Ta, malam ini aku lagi nggak mood.
“Ini aja dulu Ta, kami bisa pulang sekarang, nanti kalau om butuh om telepon kami,” jawabku.

“Yaudah deh, Tata balik dulu kalau gitu om, mari Pak Marto,” pamitnya.
“Eh iya neng Tata, ati-ati,” jawab Marto, sementara aku hanya menjawabnya dengan sedikit senyum dan anggukan.

Tata, gadis itupun pergi meninggalkan rumahku. Gadis yang kini bekerja di sebuah Wedding Organizer yang beberapa bulan lalu menjadi WO untuk pernikahan anak Wijaya, sebuah kebetulan, yang menguntungkan buatku. Selepas Tata pergi aku kemudian membahas kembali rencanaku dengan Marto. Dia nampak masih kurang percaya dengan Tata.

“Boss, apa nggak berlebihan ngasih subsidi sebanyak itu ke Tata?” tanyanya.
“Kenapa? Kamu masih nggak percaya?” tanyaku balik.

“Ya bukan nggak percaya gitu boss, tapi kan kita belum tahu banyak soal dia,” jawabnya.

“Kamu yang belum tahu To, aku udah tahu anak itu jauh sebelum aku kenal dengan kamu. Sudahlah, gadis itu urusanku, kamu nggak usah ikut campur, kamu urusi saja urusanmu!” perintahku.

“Baik boss, maaf,” ujarnya, sambil membereskan berkas-berkas di meja, dan sepertinya bersiap untuk pergi.

“Mau kemana kamu?” tanyaku.
“Hehe, biasa boss, mau ke rumah Safitri dulu,” jawabnya.

“Haah dasar, tapi ingat ya, jangan macam-macam dulu!” aku mengingatkannya.
“Siap boss, tenang aja, saya pergi dulu boss,” pamitnya.

Tak lama kemudian Marto pergi. Aku tahu selain dengan Wijaya, dia pasti punya dendam tersediri dengan wanita ini. Aku nggak mau kecolongan, dia sendiri memang harus diawasi. Segera kuraih ponselku untuk menghubungi anak buahku.

“Hallo, si Marto pergi ke rumah cewek itu lagi, awasi dia, kalau macam-macam, habisi saja!” perintahku.
“Baik boss,” jawabnya.

Sudah dua kali dia merugikanku cuma gara-gara wanita, aku nggak mau sampai terulang untuk ketiga kalinya. Sebelum itu terjadi, dia sendiri yang harus dilenyapkan. Begitulah caraku bekerja. Aku hanya akan bekerja sama dengan orang yang mendukung apa yang aku lakukan, jika orang itu sudah nggak berguna lagi, atau justru merugikanku, cukup sampai disitu dia bisa melihat matahari.

Drrrttt.. Drrrttt.. Drrrttt..
“Hallo.”
“Hallo, kamu sudah di Jogja?” tanya seorang pria di seberang telepon.
“Ya, baru sampai tadi sore,” jawabku.
“Berapa lama disana?” tanyanya lagi.
“Entahlah, mungkin agak lama,” jawabku.
“Sepertinya kamu sudah tidak sabar menghancurkan sahabatmu itu, kawan? Hahaha,” ujarnya.
“Tentu saja, aku ingin cepat-cepat menghabisinya,” jawabku.
“Hei santailah sedikit bung, kamu sedang di Jogja ini, nikmatilah dulu,” ujarnya.
“Santai? Aku sudah terlalu lama bersabar, sudah setahun lebih aku menunggu saat ini,” jawabku sedikit emosi.
“Hahaha, sabar kawan, tenang saja, kita akan sama-sama melihat kehancuran Wijaya, aku akan dengan senang hati membantumu sobat,” ucapnya mencoba menenangkanku.
“Ya terserah lah, yang penting kamu pastikan wilayahmu itu nggak ada masalah,” ujarku.
“Beres kalau itu. Kamu pikir aku mau kehilangan pundi-pundi rupiahku? Dan jangan lupa kawan, sertakan aku dalam pestamu bersama wanita-wanita itu, haha,” jawabnya, sembari menutup telepon.

Aku kembali termenung. Orang ini sudah lama menjadi partnerku. Salah satu orang yang memegang peranan penting dalam bisnisku di pulau Jawa ini. Dan beruntungnya dia berada di pihakku saat aku 2 kali dihancurkan oleh Wijaya. Kali ini, rencanaku harus berhasil. Dengan bantuan orang seperti dia, pasti akan berhasil.

Wijaya, nikmatilah saat-saat bahagiamu ini, karena tidak lama lagi, kebahagianmu akan berubah menjadi saat tersuram dalam hidupmu! Aku akan mempermalukanmu dengan caeaku! Apa yang telah kamu lakukan, harus kamu bayar, dengan sangat mahal!

***

POV Budi

Siang ini aku akan berangkat ke Surabaya untuk mengikuti training. Badanku masih agak letih sebenarnya, karena semalam bercinta habis-habisan dengan istriku, sampai-sampai kami bangun kesiangan. Tapi siang ini kami berdua sudah berada di bandara, sedang menunggu Mas Ramon untuk berangkat bersama.

Aku sebenarnya agak khawatir meninggalkan istriku sendirian, karena beberapa kali aku diteror oleh orang misterius yang mengatakan istriku sedang dalam bahaya. Entah bahaya apa yang sedang mengincarnya, dan siapa yang sedang mengincarnya. Tapi beberapa hari kedepan dia juga akan ada acara kantornya di Kaliurang, dan aku menyarankannya untuk menginap disana saja, karena kurasa akan lebih aman disana.

Aku belum bisa memberitahukan kepada istriku perihal kekhawatiranku ini, karena aku sendiripun belum bisa memastikan bahaya yang sedang mengincarnya. Untuk itu, tanpa sepengetahuan siapapun aku meminta bantuan seseorang untuk mengawasinya selama aku pergi, dan bila melihat istriku dalam bahaya agar segera menolongnya.

“Mas beneran nyuruh aku nginep di Kaliurang aja?” tanya istriku.
“Iya dek, mendingan kamu disana, kan temen-temenmu pada nginep disana juga kan?” jawabku.

“Belum tahu sih mas entar siapa aja yang nginep. Tapi apa aku nggak sebaiknya pulang aja mas?” tanyanya lagi.
“Biar kamu nggak repot bolak balik dek, kasihan kamunya entar malah capek, lagian entar kamu dirumah sendirian lho dek,” jawabku mencoba mencari-cari alasan.

“Ya udah deh, adek manut mas aja,” ujarnya sambil tersenyum.
“Nah gitu dong, hehe,” jawabku lega.

Paling nggak, dengan Ara menginap disana, dia tidak sendirian selama 3 hari aku tinggal. Kalau ada apa-apa bisa minta tolong temannya, dan orang yang aku mintain tolong bisa lebih gampang bertindak kalau terjadi sesuatu di tempat itu.

Kami saat ini sedang duduk menyantap hidangan di sebuah rumah makan padang di bandara ini, maklum kami berdua belum makan. Pembantuku ijin hari ini, sedangkan istriku bangunnya sama aku sama-sama kesiangan, jadilah kami makan disini saja. Aku sudah mengabarkan ke Mas Ramon keberadaanku.

Tak berapa lama datanglah Mas Ramon bersama istrinya. Setelah bersalaman, mereka duduk semeja dengan kami, tapi hanya memesan minuman saja, sudah makan katanya.

“Udah lama Bud?” tanya Mas Ramon.
“Baru 15 menitan kok Mas,” jawabku.
“Check in nya masih lama ya?” tanyanya lagi.
“Udah dibuka sih pak, tapi flight kita masih sejam lebih kok,” jawabku.

Akhirnya selama setengah jam kami habiskan dengan ngobrol-ngobrol ringan, terutama kedua istri kami yang hanya saling berkenalan, karena memang belum pernah kenal sebelumnya. Sedangkan tanpa kusadari, ternyata beberapa kali Mas Ramon ini melirik ke arah istriku.

Setelah itu akupun berpamitan dengan istriku, begitu juga Mas Ramon. Kami segera masuk ke ruang tunggu. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, kamipun sampai di Surabaya. Kami segera naik taksi menuju ke salah satu hotel yang dipakai untuk acara training kami.

“Bud, nanti kita booking kamar masing-masing aja ya?” ujar Mas Ramon.
“Lho kenapa mas?” tanyaku heran.

“Ah biasa, saya ada sedikit urusan, masak kamu nggak paham? Haha,” ucapnya.
“Oh ya ya, saya paham pak, haha,” jawabku tertawa, dasar sudah punya istri cantik masih saja mau jajan.

Akhirnya kamipun sampai, dan Mas Ramon langsung memesan kamar sendiri, yang beda lantai dengan kamarku. Aku sih nggak masalah, mau ngapain dia toh bukan urusanku, yang jelas aku dipesani olehnya, agar jangan sampai bilang ke istrinya, yah terserahlah mas, aku cuma geleng-geleng kepala saja.

Terus terang, aku dulu juga seperti itu sebelum menikah. Tapi sekarang aku sudah punya istri yang luar biasa cantiknya, dan aku benar-benar mencintainya. Aku sudah nggak mau lagi berbuat yang aneh-aneh, aku ingin setia kepada istriku.

Akupun segera mengabari istriku kalau aku sudah sampai di hotel, dan terpaksa berbohong kalau aku sekamar dengan Mas Ramon, supaya istriku nggak berpikir yang aneh-aneh. Dia ternyata sedang berada di rumah orang tuanya, yah karena rumah kami memang sedang sepi, tidak ada orang sama sekali. Setelah itu aku beristirahat dulu, memulihkan kondisi, karena rasa capek sisa-sisa semalam masih agak terasa.

Sore harinya, setelah mandi aku putuskan untuk turun ke lobby, bosan juga di kamar sendirian. Sampai disana aku mengambil sebuah koran, lalu mencari tempat yang nyaman untuk membacanya. Saat sedang membaca, tiba-tiba ada seseorang menghampiriku, salah seorang petugas hotel ini. Kamipun ngobrol ringan tentang tujuanku datang kesini, lalu tiba-tiba dia menawarkan sesuatu.

“Jadi teman bapak tadi ngambil kamar sendiri pak?” tanyanya.
“Iya mas, biasalah, haha,” jawabku.

“Bapak sendiri, apa mau dicariin teman juga pak?” tanyanya lagi.
“Maksudnya mas?” tanyaku.

“Kalau bapak mau saya bisa carikan teman. Saya bisa jamin pak, orangnya bersih, aman semua,” jelasnya.
“Oh, nggak lah mas, makasih,” tolakku sopan.

“Bapak lihat saja dulu ini pak, siapa tahu tertarik,” ucapnya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku. Kulihat disitu ada beberapa foto wanita. Cantik-cantik sih, masih muda semua, ada beberapa yang berkerudung. Tapi karena tidak berminat, aku berniat mengembalikan ponselnya, sampai tiba-tiba aku terkejut melihat sebuah foto, seorang wanita cantik berkerudung, yang wajahnya familiar buatku.

“Mas, ini juga?” tanyaku sambil menunjuk foto itu.
“Oh iya pak, dia juga, gimana bapak mau?”, tanyanya.

“Berapa?” tanyaku singkat.
“Kalau ini agak mahal pak. Dia mintanya 2,5 short time, tapi mungkin nanti bisa bapak nego sendiri kalau sudah ketemu, gimana pak?” tanyanya lagi.

“Oke, saya mau dia mas, malam ini ya,” ujarku.
“Baik pak, saya hubungi dulu orangnya,” jawabnya.

Kulihat dia segera menghubungi orang yang kutunjuk tadi. Aku memilih orang itu bukan karena aku mau main sama dia, tapi karena aku penasaran, dan ingin bertemu dengannya.

“Oke pak, dia bisa malam ini, nanti jam 8an, saya suruh langsung ke kamar bapak,” ujarnya.
“Oke, saya tunggu, makasih mas,” akupun segera kembali ke kamarku.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Aku sudah bersiap menyambut tamuku. Aku jadi deg-degan gini, entah mengapa sebagian dari diriku berharap, bahwa wanita itu bukanlah wanita yang pernah aku kenal dulu. Kalau misalnya benar, kenapa dia menjadi seperti ini sekarang.

Berbagai macam pikiran berkecamuk di benakku. Lebih pada rasa penasaran, ingin tahu apa yang terjadi pada wanita ini. Apalagi fotonya ada pada seorang pagawai hotel yang menawariku ‘teman’ yang berarti dia dan wanita-wanita lain di ponsel orang tadi, adalah seorang wanita panggilan. Jangan-jangan, fotonya juga ada di petugas-petugas di hotel yang lain.

Aku benar-benar nggak habis pikir. Wanita yang dulu kukenal cukup alim, kok sekarang bisa menjadi seperti ini. Pasti ada yang mendasari perubahannya. Karena itulah aku ingin bertemu dengan dia disini, bukan untuk menikmatinya, tapi untuk menuntaskan rasa penasaranku.

Tiiing toongg.. Bel kamarku berbunyi. Kuintip dari lubang pintuku, seorang wanita berkerudung, wanita yang aku lihat fotonya tadi, berdiri di depan pintu kamarku. Astaga, ini benar-benar dia. Akupun segera membuka pintu, dan kamipun bertatapan.

“Mas Budi??” ujarnya terkejut. Dia masih mengenaliku rupanya.
“Masuk Mil,” ajakku.

Dia masih tak bergeming. Masih terkejut bahwa ternyata pria yang memanggilnya kesini adalah aku, sahabat dari mantan pacarnya semasa kuliah dulu. Akupun segera menarik tangannya agar masuk ke kamar. Dia yang masuk syok hanya mengikuti saja tarikanku. Setelah itu akupun menutup pintu.

***

Waktu yang sama, hotel yang sama
Lantai yang berbeda

3[SUP]rd[/SUP] POV

“Mbak, aku tunggu di hotel, di kamar 911, sekarang ya,” ujar seorang pria.
“Gila kamu mas, masak aku disuruh kesitu? Nanti kalau adekku tahu gimana?” jawab seorang wanita di seberang telepon.

“Dia nggak bakal tahu mbak, tenang aja kami beda lantai kok,” jawab pria itu.
“Ah aku takut mas, nanti ketemu sama dia,” ujar si wanita

“Udahlah, adekmu paling juga lagi nyari cewek sendiri. Kamu mau cepet kesini atau video itu aku kirim ke suamimu?” ancam pria itu.
“Iya iya, baik, aku akan kesana,” jawab si wanita pasrah.

“Nah gitu dong, cepetan ya sayang, kontolku udah nggak sabar ketemu memekmu nih, hehe,” seringai si pria.
“Tuuut,, tuuut,, tuuut,” wanita itu telah menutup teleponnya.

Tiiing toongg.. Sekitar setengah jam kemudian, bel di kamar pria itu berbunyi. Pria itu tersenyum membukakan pintunya. Nampak seorang perempuan cantik berambut panjang berdiri di depan pintu. Dia mengenakan kaos berwarna biru dan celana jeans, rambutnya dibiarkan terurai.

“Masuk mbak Filli,” sambutnya. Wanita itu, Utami Filianingsih, kakak pertama Budi, masuk dengan wajah cemberut.

Utami Filianingsih

“Apa yang Mas Ramon mau?” tanyanya kepada pria itu, Benedictus Ramona, pria yang hari ini baru saja tiba di Surabaya bersama Budi, yang sedang menutup pintu.

“Buka bajumu, semuanya!” perintah Ramon.

Tanpa banyak membantah Filli segera menelanjangi dirinya. Dia lepaskan kaosnya, lalu celana panjangnya. Dia tahu, dia tak punya pilihan lagi untuk menolak, lelaki itu telah berhasil menguasai dirinya beberapa bulan yang lalu, sehari setelah pesta pernikahan adiknya. Dengan berbekal rekaman persetubuhan mereka, kini Filli diharuskan tunduk pada setiap perintah Ramon.

Dia melanjutkan melepaskan bra 34B nya, lalu melepaskan celana dalamnya. Kini dia telah telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Tubuh wanita 31 tahun ini masih indah, masih langsing, masih seperti seorang gadis remaja, tidak menampakkan bahwa dia telah memiliki 2 orang anak.

Kulitnya putih bersih, perutnya masih rata tanpa timbunan lemak sedikitpun. Payudaranya indah membulat, dan pantatnya masih kencang. Ramon sudah cukup merindukan tubuh itu, tubuh yang pernah dia nikmati sebelumnya.

Beberapa bulan lalu, setelah dari pesta pernikanan Budi dan Ara. Ramon memang telah mengincar Filli, atas perintah bossnya. Dia mencari tahu dimana Filli menginap, dan merencanakan untuk bisa menaklukan wanita itu.

Sehari setelah pernikahan adiknya, Filli beserta suami dan kedua anaknya masih berada di hotel. Pagi itu mereka sedang menikmati berenang di kolam renang hotel itu. Filli yang memang kurang hobby berenang hanya duduk saja di pinggir kolam. Saat itu Ramon sudah berada disana, mengawasi dan mencari kesempatan untuk dapat mendekati Filli, dan akhirnya kesempatan itu datang juga.

Filli meminta ijin untuk mengambil minum, dia menanyakan kepada suami dan anaknya mau minum apa. Suaminya memesan juice alpukat, sedangkan kedua anaknya memesan orange juice. Filli pun menuju restoran hotel untuk memesan minuman, dia sendiri memesan lemon tea.

“Maaf mbak, apa mbak semalam ada di pernikahan Budi dan Ara?” tanya Ramon.
“Eh iya mas, maaf mas siapa ya?” tanya Filli terkejut ketika tiba-tiba ada pria asing yang menghampirinya.

“Kenalkan saya Ramon, temennya Budi, mbak?” Ramon mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya.
“Oh, saya Filli mas, kakaknya Budi,” jawab Filli menyambut jabat tangan Ramon.

“Oh kakaknya tho, nginep sini mbak? Emang mbak darimana?” tanya Ramon.
“Iya mas, saya dari Surabaya, nginep sini sama suami dan anak-anak saya,” jawab Filli.

“Oh, kalau saya dari Jakarta mbak, nginep sini juga. Suami sama anak-anaknya dimana mbak?” tanya Ramon lagi.
“Itu mas, lagi berenang,” jawab Filli sambil menunjuk kolam renang.

“Oh ya udah kalau gitu, saya duluan ya mbak, sudah ditunggu temen-temen,” ujar Ramon berbohong.
“Oh iya mas silahkan,” jawab Filli tanpa curiga.

Ramonpun pergi. Tanpa disadari Filli, saat dia lengah Ramon telah memasukkan sesuatu ke dalam lemon tea, minuman pesanannya. Diapun kembali ke kolam renang dengan membawa minumannya tadi. Dia duduk di samping kolam renang sambil memainkan ponselnya mengambil foto anak-anak dan suaminya yang sedang berenang.

Sekitar 15 menit kemudian, Filli merasakan kepalanya agak pusing, badannya tiba-tiba saja terasa panas, dan melemas. Dia kemudian minta ijin suaminya untuk kembali ke kamar. Suaminya yang masih asik berenang dengan anak-anaknya pun mengiyakan saja tanpa melihat perubahan di diri Filli.

Filli berjalan menuju lift, dan saat memasuki lift, ternyata Ramon ikut masuk juga. Filli benar-benar tidak menyadari bahwa sedari tadi Ramon mengikutinya, merencanakan sesuatu yang buruk pada dirinya.

“Mau balik ke kamar mbak?” tanya Ramon.
“Eh iya Mas Ramon,” jawab Filli.

“Lantai berapa?” tanyanya lagi.
“Lantai 6 mas,” jawab Filli singkat. Ramonpun memencet tombol nomor 6.

“Kok kayaknya pucat gitu mbak? Lagi kurang sehat ya?” tanya Ramon.
“Iya nih mas kayaknya, kepala saya agak pusing,” jawabnya sambil memijit kepalanya.

Setelah lift terbuka mereka berdua keluar bersamaan. Filli berjalan menuju kamarnya agak sempoyongan, diikuti oleh Ramon. Saat kemudian Filli hampir terjatuh, Ramon berhasil menangkapnya, bahkan tangannya kini tepat menggenggam salah satu payudara Filli. Filli yang seharusnya dalam kondisi normal marah, justru mendesah ketika payudaranya tersentuh oleh Ramon.

“Mari mbak saya antar ke kamar,” ujar Ramon.
“Ssshh masss nggak perluuh mass,” ucap Filli sedikit mendesah saat tangan Ramon yang tak beranjak dari dadanya, memapahnya.

Kesadaran Filli semakin menurun, dia tidak tahu bahwa dia tidak berjalan menuju kamarnya. Sampai di depan pintu sebuah kamar, Ramon memencet bel, dan keluarlah seorang lelaki bertubuh kurus sedang telanjang bulat.

“Siapa lagi itu boss?” tanya pria kurus itu.
“Kakaknya cewek itu, yang lagi kamu garap,” jawab Ramon.

Merekapun masuk ke kamar itu. Ramon kemudian melemparkan tubuh Filli ke ranjang, dimana di ranjang itu sudah ada seorang wanita lainnya yang sedang telanjang bulat, dalam keadaan tak sadarkan diri. Wanita itu sudah sejak semalam digarap pria kurus yang membukakan pintu tadi. Wanita itu adalah Renata, adik Filli.

Renata Dwi Hapsari

“Kamu bersihkan dulu cewek itu, aku mau main sama mereka berdua, nanti kamu yang rekam, saatnya kita bikin film bokep, haha,” ujar Ramon.
“Baik boss,” jawab pria itu.

Pria kurus itupun segera mengangkat tubuh Renata ke kamar mandi untuk dibersihkan sisa-sisa pemerkosaan pada dirinya. Sedangkan Ramon mulai menelanjangi Filli. Ditarik lepas celana pendek dan celana dalam Filli, lalu diangkatnya kaos tipis yang membalut tubuh langsingnya. Tak lama kemudian bra yang menutupi payudaranya pun lepas.

Kesadaran Filli yang tinggal sedikit membuatnya tak mampu melawan Ramon, bahkan untuk berteriakpun tak sanggup. Kemudian pria kurus itu datang membawa tubuh telanjang Renata yang sudah dia bersihkan, lalu menggeletakannya di samping tubuh Filli. Ramon mempersiapkan handycam untuk merekam kejadian itu, lalu menyerahkannya ke pria kurus itu.

Setelah menelanjangi dirinya, Ramon mengarahkan penisnya ke mulut Filli. Wanita itu sudah tak bisa apa-apa lagi, dia hanya menurut saja saat penis besar itu melesak ke rongga mulutnya. Dia bisa merasakan tubuhnya yang telanjang sedang dilecehkan oleh Ramon, pria yang baru saja dikenalnya, namun badannya sudah lemas sekali.

Tak lama kemudian Ramon menarik penisnya, dan mengarahkannya di bibir vagina Filli yang sedikit lembab. Tanpa ampun langsung saja dilesakkan penis besar itu ke vagina Filli. Tubuh Filli mengejang merasakan batang itu memasuki lubang kewanitaannya. Mulutnya mendesah, air matanya turun perlahan.

Tangan Ramon juga mengerjai vagina Renata yang terbaring di samping Filli. Sementara itu bibirnya mencumbui bukit kembar kedua wanita itu bergantian. Seluruh kejadian itu tak luput dari sorotan handycam yang dipegang pria kurus tadi. Tubuh Filli dibolak balik oleh Ramon, berbagai macam gaya dia praktekan.

Diperlalukan seperti itu, meskipun dengan kesadaran yang tinggal sedikit, membuat liang vagina Filli membanjir. Meskipun nuraninya menolak keras, namun tubuhnya tak bisa dibohongi, dia mulai menikmati, bahkan beberapa kali mendapatkan orgasme sebelum benar-benar hilang kesadaran.

Kemudian beralih ke Renata, dia setubuhi juga habis-habisan wanita yang masih tak sadarkan diri itu. Satu jam lebih lamanya dia memompa kedua vagina indah itu sampai akhirnya disemprotkan cairan spermanya ke wajah kedua wanita itu. Saat dia beristirahat, giliran si pria kurus yang mengerjai tubuh Filli yang pingsan habis-habisan hingga menyemprotkan cairan spermanya di rahim Filli.

Beberapa saat kemudian kedua wanita itu mulai tersadar, dan langsung menangis berpelukan ketika menyadari situasi yang sedang mereka alami. Keduanya tak menyangka, kedatangan mereka ke kota ini untuk menghadiri pernikahan adiknya, justru berakhir seperti ini.

“Hmm, kalian sudah sadar rupanya, ini akan menarik,” ujar Ramon tersenyum.
“Hikss, aa,, apa-apaan ini mas?” tanya Filli dalam isaknya, sambil memeluk adiknya.

“Bukan apa-apa, cuma mau bersenang-senang aja. Selama kalian tidak sadar tadi, kita baru saja membuat sebuah film yang sangat erotis, haha,” jawab Ramon tertawa lebar.
“Apa maksud kamu?” jawab Renata terkejut, tak mengenali pria itu.

“Kasih liat ke mereka!” perintah Ramon ke pria kurus tadi.
“Oke boss,” pria itu kemudian menyambungkan kabel penghubung handycam dengan televisi di ruangan itu, dan begitu rekaman itu diputar, terbelalaklah mata kedua wanita itu. Bukan main terkejutnya mereka, melihat diri mereka sedang diperkosa Ramon dengan berbagai posisi, dan wajah mereka berdua nampak jelas dalam video itu.

“Aaa,, apaa mau mas?” tanya Filli.
“Haha, aku rasa kalian sudah mengerti, kalau kalian tak punya pilihan lagi,” ujar Ramon.

Kedua wanita itu sadar, bahwa dengan berbekal video itu, Ramon telah berkuasa atas diri mereka. Makin menjadi tangis kedua wanita, tak bisa membayangkan nasib mereka kedepannya.

“Aku hanya minta kalian menuruti semua perintahku, apapun itu, dan selama kalian menurut, video ini aman bersamaku,” ucap Ramon dengan tegas.

“Nah, berhubung kalian sudah sadar, ayo kita lanjutkan permainan ini, kita buat lebih panas lagi, hahaha.”

Akhirnya siang itu mereka berdua melayani kedua pria itu dengan kesadaran penuh. Dua orang wanita, ibu rumah tangga biasa yang selalu menjaga diri dan kehormatan mereka hanya untuk suaminya saja, kini sedang dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka, dengan lubang kemaluan yang tengah dijejali penis-penis asing.

Kesetiaan yang mereka bangun dan pertahankan selama ini hancur lebur siang itu. Mereka bahkan secara sadar, menggoyangkan pinggulnya dengan liar saat menunggangi kedua pria asing yang baru saja dikenalnya itu, untuk menjemput puncak kenikmatan masing-masing. Mereka juga secara sadar, membiarkan kedua pria itu melepaskan cairan spermanya di dalam rahim, dan juga mulut mereka, hal yang dengan suaminya saja belum pernah mereka lakukan.

Keempat orang itu bercinta dengan panasnya hingga kedua wanita lemas tak bertenaga. Persetubuhan inipun tak luput direkam oleh Ramon. Filli sempat menelepon kepada suaminya dia bertemu dengan Renata dan kini sedang berada di kamar Renata. Filli berpesan agar suaminya tidak menunggunya. Dia mati-matian menahan desahannya karena saat itu sedang menunggangi penis panjang seorang pria kurus.

Ramonpun tak lupa mengambil foto kedua wanita ini, kemudian mengirimkannya kepada seseorang, sebagai laporan bahwa misinya telah sukses.

“Lapor boss, mission complete
“Well done Ramon, very good job,” balas sang boss, Mr-X.

***

Mengingat kejadian itu Ramon kembali tersenyum. Kini dia berdiri tepat di depan tubuh telanjang Filli. Dia ingin menikmati sekali lagi tubuh Filli, mumpung dia sedang di Surabaya. Sebelum nantinya wanita ini, dan adiknya Renata, juga beberapa perempuan lain yang sudah diincarnya, diserahkan kepada bossnya.

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan?!” perintah Ramon.

Dengan penuh keterpaksaan, Filli pun perlahan melepas baju Ramon, kemudian celana panjang dan celana dalamnya, hingga keduanya kini telanjang bulat. Filli telah bersimpuh tepat dihadapan penis ramon yang sudah tegak mengacung, dan tanpa membuang waktu lagi segera mengocok dan mengulumnya.

“Aaahh, seponganmu makin mantap saja mbak,” desah Ramon menikmati kuluman Filli.

Tak lama kemudian Ramon menarik tubuh Filli dan mendorongnya hingga terbaring di ranjang, segera saja dia posisikan penisnya di gerbang kemaluan Filli, dan dengan sekali gerakan dia masukan penisnya hingga amblas menyentuh dinding rahim wanita itu.

“Aaahh, pelaan massshh,” desah Filli mengernyit, menahan sakit di selangkangannya, vaginanya masih kering.
“Sudah nikmati saja mbak,” jawab Ramon sambil menggoyangkan pinggulnya menyetubuhi Filli.

Dicumbuinya habis tubuh Filli. Tubuh indah itu hanya pasrah saja menerima setiap perlakuan dari Ramon. Tak ada rasa nikmat yang dia rasakan, hanya ada rasa sakit dan terhina. Sekali lagi tubuhnya dimasuki oleh pria lain selain suaminya. Tubuh yang dia jaga hanya untuk suaminya itu kini telah ditindih dan dikuasai pria lain.

Dada dan lehernya kini penuh dengan cupangan Ramon. Dia bersyukur suaminya baru saja pergi ke luar pulau tadi siang. Untuk beberapa hari ini dia tidak akan bertemu suaminya sehingga tak khawatir dengan cupangan Ramon. Ramon begitu bernafsu dengan tubuh indah Filli, dia menjilati seluruh permukaan leher, dada, ketiak dan perut Filli tanpa terlewati sedikitpun.

Ramon menelungkupkan tubuh Filli hingga tengkurap sempurna, lalu kembali memasukan batang berototnya itu ke lubang Filli yang sempit. Kembali digoyangkan pinggulnya dengan penuh nafsu sambil kembali menjilati sekujur permukaan punggung wanita itu. Hingga beberapa lama dia melepaskan bermili-mili cairan spermanya ke vagina Filli.

“Besok jumat, kamu berangkat ke Jogja!” perintah Ramon.
“Mau ngapain mas?” tanya Filli.

“Udah nggak usah banyak tanya, berangkat aja. Disana nanti kamu nggak akan sendiri, adikmu si Renata juga bakal ada disana. Ada yang mau ketemu sama kalian.”

Filli mulai menebak-nebak, apa yang akan terjadi di Jogja nanti, kalau itu melibatkan dia dan adiknya. Dia tentu tidak berharap sesuatu yang buruk, tapi dia tahu harapannya itu mungkin suatu hal yang terlalu muluk untuk sekarang ini. Dia juga tahu, tidak ada peluang baginya, maupun adiknya untuk menolak perintah itu, atau hidupnya akan semakin berantakan.

Setelah sekitar dua jam Filli di kamar itu melayani Ramon, diapun berpakaian tanpa boleh membersihkan dirinya terlebih dahulu. Bahkan bra dan celana dalamnya tidak boleh dia pakai lagi. Dengan terpaksa dia meninggalkan kamar itu tanpa pakaian dalam, dan lelehan sperma yang masih terasa di pahanya.

Setelah kepergian Filli dari kamarnya, Ramon segera menghubungi bossnya.

“Boss, pesan sudah saya sampaikan, paket dari Surabaya meluncur besok jumat.”
“Oke, kerjamu bagus Ramon
“Untuk yang di Solo gimana boss?”
“Gampang, anak buahmu aja udah cukup itu
“Terus si Marto gimana boss?”
“Sementara ini biarkan dulu, dia masih berguna untuk kita. Biarkan saja dia bersenang-senang dengan polwannya. setelah semua paket masuk ke gudang, dia sudah nggak berguna lagi, kamu mengerti kan
“Siap boss, dimengerti.”

***

POV Budi

Wanita itu masih terdiam, dia masih sangat syok mengetahui bahwa yang ‘membookingnya’ malam ini adalah aku, sahabat dari mantan kekasihnya. Aku menarik nafas, mencoba bertindak senormal mungkin meskipun detak jantungku lumayan terpacu.

“Sini Mil, duduk dulu,” ucapku kepadanya.
“Mas,, aku,,,” dia bingung, tak bisa menyelesaikan ucapannya.

“Sudahlah, duduk dulu sini, mau minum apa?” aku menarik tangannya untuk duduk di tepian ranjang.
“Apa aja,” jawabnya singkat.

Akupun mengambil minuman ringan dari kulkas kecil di kamar ini, lalu menyerahkan kepadanya. Dia menerimanya, tanpa membuka dan meminumnya. Wanita cantik ini hanya menundukkan kepalanya. Akupun bingung harus mulai dari mana, suasana menjadi hening.

“Mas, tahu kalau foto itu aku kan?” tanyanya lirih.
“Iya, karena itu aku manggil kamu kesini,” jawabku.

“Kenapa? Apa mas mau…?” tanyanya yang segera kupotong.
“Iya, petugas hotel tadi nanya apa aku butuh temen, terus dia nunjukin foto cewek-cewek, begitu lihat foto kamu langsung aku iyain aja,” jawabku.

“Baiklah mas,” dia menghela nafas, lalu berdiri dan hendak membuka bajunya.
“Tunggu, aku manggil kamu bukan untuk itu,” sergahku.

Dia terdiam kemudian menatapku dengan heran. Aku menatap matanya tajam, hingga dia memalingkan wajahnya.

“Lalu apa mau mas?” tanyanya lagi.
“Udah berapa lama kamu kayak gini?” tanyaku.

“Maksud mas?” dia kembali menatapku.
“Kenapa kamu melakukan ini Mil? Kemana Kamila yang aku kenal dulu?” tanyaku tanpa menjelaskan maksud pertanyaan pertama tadi.

“Mas mau aku datang kesini cuma mau nanyain itu? Aku pulang mas!” dia kemudian mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu Mila, aku mau bicara,” aku menahannya sesaat sebelum dia meraih handle pintu.

“Mau bicara apa sih mas?” ucapnya tanpa melihatku, tapi aku tahu dia sedang terisak.

Akupun menariknya kembali menuju ranjang dan mendudukkannya. Kuambil kursi dan kuletakkan persis di depannya. Aku menatapnya, dia menunduk, kemudian terisak, dan menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya. Kuletakkan kotak tissu di sampingnya, kubiarkan dulu dia menangis.

“Kenapa Mil? Kenapa kamu seperti ini? Sejak kapan Mil?” kuulangi lagi pertanyaanku.
“Hiks hiks,, baru hiks,, baru empat bulan mas, hiks,” jawabnya terbata.

“Kenapa? Kenapa bisa jadi seperti ini?” tanyaku lagi.
“Mas mau tau kenapa? Oke aku ceritain semuanya mas!” jawabnya sedikit emosi.

Milapun kemudian menuturkan kisahnya kepadaku. Awal kisah yang terus terang membuatku terkejut. Semua berawal dari beberapa tahun silam, saat dia berpacaran dengan sahabatku Ihsan. Setahuku mereka nggak pernah macam-macam selama pacaran, karena memang Mila dan Ihsan ini sama-sama alim, bahkan Ihsan adalah yang paling alim diantara kami (Aku, Ihsan, Dimas dan Sakti). Sering Mila main ke kost kami, dan nggak pernah berduaan di dalam kamar seperti halnya kami bertiga.

Hingga suatu hari saat dia main ke kost kami, hanya ada Sakti disana. Sakti, yang dasarnya seorang playboy kelas kakap mulai merayu Mila, meskipun hari itu berakhir tanpa ada kejadian apapun. Beberapa kali hal itu terjadi, sampai pada akhirnya, dengan kondisi yang sama saat kost sepi, Mila berhasil dirayu oleh Sakti, dan dibawanya ke kamar Sakti. Hari itulah Sakti berhasil memerawani pacar Ihsan.

Kejadian itu berlanjut hingga beberapa kali saat kost kami sepi, bahkan menurut pengakuan Mila, dia pernah melakukan itu bertiga, dengan pacar Dimas saat itu, yang juga berhasil diperawani oleh Sakti. Aku benar-benar nggak habis pikir dengan Sakti. Aku tahu dia seorang playboy sejati, tapi tetap nggak menyangka sama sekali, kalau pacar teman-temannya disikat juga. Aku jadi curiga, jangan-jangan pacarku dulu jadi korban Sakti juga.

Mila melanjutkan kisahnya. Selepas kami lulus, Sakti, Dimas dan Ihsan pergi menginggalkan Jogja, meninggalkan aku sendiri. Aku nggak pernah bertemu Mila lagi setelah itu. Saat Ihsan sendiri harus bekerja di Aceh, hubungannya dengan Mila pun berakhir karena ada beberapa hal. Dan setelah itu, Mila yang sudah lepas dari cengkraman Sakti bertekad untuk memperbaiki dirinya.

Setelah lulus, dia kebetulan diterima kerja di salah satu perusahaan di kota kelahirannya ini. Dan disini dia mendapatkan seorang kekasih yang menurutnya sangat baik, mirip dengan Ihsan. Mereka menjalani hubungan itu dengan baik sampai sekitar empat bulan yang lalu prahara menerpa kehidupan Mila.

Kedua orang tuanya, yang selama ini terlihat bahagia harus bercerai. Meskipun kini dia tinggal bersama ibunya yang masih sangat bisa mencukupi segala kebutuhannya, dia tetap saja merasa limbung. Disaat dirinya limbung dan butuh seseorang untuk mendukungnya, pacarnya justru mengambil kesempatan darinya, dan berniat untuk memerawaninya. Tapi betapa kecewanya lelaki itu saat mengetahui bahwa Mila ternyata sudah nggak perawan lagi, dan tiba-tiba meninggalkan Mila begitu saja.

Mila benar-benar terpuruk saat itu, dia benar-benar hancur, semua yang dia sayangi pergi satu persatu. Hingga akhirnya dia berkenalan dengan seorang pria, yang tak lain adalah petugas hotel yang bertemu denganku tadi sore. Pria itu kemudian menawari Mila pekerjaan ini, untuk menjadi wanita panggilan kelas atas, yang tidak melayani sembarang pria, dan bayaran yang nggak sedikit pastinya, mengingat paras cantik dan penampilannya yang tertutup.

Awalnya dia ragu, tapi kemudian pria itu menunjukkan beberapa foto wanita berpenampilan tertutup seperti dirinya, yang juga menjalankan pekerjaan ini. Akhirnya dengan kondisinya yang sedang sangat labil itu, dia menerima begitu saja tawaran itu. Menurutnya, selama empat bulan ini, belum banyak job yang ia terima, belum banyak pria yang menjamah tubuhnya.

Dia melakoni pekerjaan inipun sama sekali nggak menikmatinya, bahkan uang hasil dari melayani para tamunya ini sepeserpun belum pernah digunakannya. Dia ingin berhenti saja, tapi dia nggak tahu bagaimana harus berhenti. Diapun masih bingung apa yang kedepan harus dia jalani.

Aku mendengar kisahnya dengan seksama. Dia menuturkannya sambil berkali-kali menyeka air matanya. Tampak dari setiap kalimat yang dia ucapkan, terkandung kepedihan dan rasa sakit yang mendalam. Seorang wanita muda, harus menjalani ini semua tanpa adanya dukungan dari siapapun.

“Jadi karena itu kamu nerima pekerjaan ini?” tanyaku.
“Iya mas, aku bingung, nggak tahu harus gimana,” jawabnya.

“Trus, kamu puas dengan semua ini?” tanyaku lagi.
“…….” dia hanya terdiam, menyeka air matanya lagi.

“Nggak seharusnya kamu kayak gini Mil. Apa menurut kamu, kamu tubuh dan harga diri kamu bisa dihargai serendah itu Mil?” ujarku.

“2,5 juta Mil! Tubuh dan harga dirimu cuma kamu hargai 2,5 juta! Kamu itu jauh lebih berharga daripada itu Mil, kamu sadar nggak sih? Apa yang kamu lakuin ini justru bakal bikin kamu makin rendah, makin terpuruk. Kamu nggak kurang suatu apapun Mil. Kamu punya ibu yang menyayangi kamu, punya pekerjaan yang layak, punya penghasilan yang cukup, tapi kamu masih bisa-bisanya jual diri kamu?” ujarku panjang lebar, sedikit emosi.

“Hiks, udah mas, udah, hiks,” jawabnya, masih deras air matanya mengalir.

“Kamu tahu berapa banyak orang diluar sana yang lebih sial dari kamu? Yang sehari-harinya mereka cuma berpikir bagaimana bisa bertahan hidup hari ini, bahkan gimana besok pun mereka nggak sempet mikirin. Tapi kamu malah sia-siain apa yang udah kamu punya dengan melakukan pekerjaan ini,” lanjutku. Air mata Mila semakin deras.

“Mulai detik ini kamu janji sama aku, kamu akan berhenti. Nggak akan lagi melakukan pekerjaan rendahan ini lagi. Gimana caranya kamu berhenti? Ya berhenti aja, nggak usah banyak mikir lagi. Kamu temuin pria di bawah sana, bilang kalau kamu udah nggak mau lagi ngelakuin pekerjaan ini, dan minta orang itu buat ngehapus foto kamu dari daftar wanita panggilan itu!”

“Yakinlah semua akan indah pada waktunya Mil. Saat ini kamu sedang diuji, karena Tuhan ingin tahu, apa kamu sudah layak untuk naik kelas, menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Dan aku yakin, Tuhan sedang menyiapkan seseorang untukmu, untuk mendampingi hidupmu. Biarlah semua masa lalumu tetap menjadi masa lalu. Orang yang mencintaimu nanti, akan dengan lapang dada menerima semua masa lalu kamu, dan bersama-sama menyempurnakan masa depan kalian.”

Dia masih terdiam, masih terisak, air matanya belum mau berhenti. Tapi isaknya sudah mereda, nggak seperti tadi.

“Sekarang, hapus air mata kamu, dan berjanjilah padaku, mulai detik ini, kamu akan berubah. Menjadi Kamila yang lebih baik lagi. Ayo, lakukanlah,” ujarku sambil mengangkat dagunya, hingga matanya yang memerah kini menatap mataku.

Aku menatap matanya teduh, meyakinkannya kembali pada semua ucapanku tadi. Memberinya keyakinan dan semangat bahwa semuanya masih bisa berubah. Lalu tiba-tiba dia menghambur ke arahku, memelukku.

“Hiks, maafin aku mas, hiks, aku bingung, aku takut mas, hiks,” ucapnya.

“Kamu nggak perlu takut Mil, kamu nggak sendirian, kamu masih punya ibu kami, dan kamu masih punya Tuhan Mil, mintalah sama Tuhan, kalau niatmu baik, pasti akan dikasih jalan. Apa yang sudah terjadi sama kamu ini, anggap saja sebagai sebuah harga mahal yang harus kamu bayar, untuk menjadi orang yang lebih baik lagi” jawabku.

Dia masih menangis dalam pelukanku. Aku mengelus-elus punggungnya mencoba memberikan ketenangan. Lama dia seperti itu, hingga kurasakan nafasnya mulai teratur, isak tangisnya mereda, kemudian dia melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya masih berada di pundakku.

“Makasih mas, sepertinya memang ini yang aku butuhin, orang yang mau ngingetin aku, yang selama ini nggak pernah aku dapatin,” ujarnya. Aku hanya tersenyum saja mendengar ucapannya.

“Baiklah mas, aku akan ikutin kata-kata mas, aku akan berhenti menjalani pekerjaan ini, dan mencoba memperbaiki diri, mulai saat ini mas,” ucapnya sambil tersenyum, manis sekali.

“Jangan kamu berubah karena aku atau kata-kataku tadi ya Mil, berubahlah karena kamu ingin berubah, berubahlah karena kamu memang harus berubah,” ujarku.

“Iya, baik mas, cup!” tiba-tiba saja dia mengecup bibirku, tangannya kembali memeluk tubuhku. Lama dia mengecupku, sampai kurasakan bibirnya bergerak melumat bibirku. Wajah cantik dan pesonanya sempat membiusku, aku terbawa suasana dan membalas ciumannya. Kami masih berpelukan dan berpagutan dengan hangatnya. Dia memainkan lidahnya menghisapi lidahku, akupun membalasnya.

Tangan kami saling mengusap, membelai punggung masing-masing. Aku masih terhanyut, kami masih terhanyut dalam ciuman ini, sampai kemudian aku lepaskan bibirku, lalu kutarik kepalanya, kubenamkan di dadaku.

“Udah Mil, cukup, nanti keterusan,” bisikku lirih.
“Maaf mas, aku cuma mau berterima kasih,” jawabnya tak kalah lirih.

“Berterima kasihlah dengan cara yang lain,” ucapku.
“Dengan cara apa mas?” tanyanya.

“Berjanjilah padaku, jika kelak kamu udah nemuin kebahagiaan kamu, kamu harus kasih tahu aku, itu wujud terima kasih darimu yang aku mau,” ujarku.
“Pasti mas, pasti,” jawabnya seraya memelukku semakin erat.

Kami berpelukan erat sekali malam itu. Entah kenapa rasanya muncul rasa sayangku kepada Mila. Rasa sayang kepada seorang adik lebih tepatnya. Aku akan ikut merasa bahagia bila kelak Mila menemukan kebahagiaannya. Aku mencium kepalanya yang tertutup kerudung ini, menyampaikan pesan kasih sayang kepadanya.

Setelah itu kami masih melanjutkan obrolan ringan, sampai kira-kira jam 10 malam, dia kusuruh pulang.

“Udah malam Mil, lebih baik kamu pulang,” ucapku.
“Emangnya mas nggak mau Mila temenin? Tadi katanya butuh temen?” tanyanya tersenyum manis menggodaku.

“Tuh kan nakal lagi, katanya mau tobat?” ujarku.
“Ih siapa yang mau nakal, kan cuma nemenin doang. Hayoo tu mas yang nakal tuh, pasti mikir mesum yaa?” ucapknya kembali menggodaku.

“Haha kamu ini, makanya mendingan kamu pulang deh, daripada entar aku nakal beneran lho,” candaku.
“Ih ogah ah dinakalin Mas Budi, mending Mila pulang aja, week,” balasnya seraya memeletkan lidahnya. Aduh, tingkahnya ini kok malah bikin aku jadi gemes. Tahan Bud, tahan, inget istri di rumah.

Milapun kemudian mengemasi barangnya dan merapikan dirinya. Sebelum membuka pintu, dia sempat memelukku lagi. Dan kami berciuman sekali lagi. Kali ini ciuman yang panas, saling melumat, saling melilit, bertukar liur. Jago juga gadis ini berciuman, pikirku. Dia memelukku semakin erat, menggesekan dadanya ke dadaku, membuat darahku berdesir. Dia kemudian merenggangkan pelukannya, dan bahkan menarik kedua tanganku, dia letakkan di dadanya yang montok, dan sedikit bergerak seolah minta diremas.

Akupun meremas kecil kedua payudara montok itu, membuat ciumannya semakin panas. Darahku makin berdesir, saat tangannya meraba turun mendekati penisku yang mulai menegang, kemudian memegangnya, mengelus dan meremasnya. Penisku makin tegang, saat tiba-tiba dia menghentikan cumbuan kami, sambil tersenyum licik.

“Udah ah, entar aku nggak jadi pulang, daaah Mas Budi,” katanya sambil membuka pintu.
“Hahaha, sialan kamu Mil,” kataku menahan nafasku yang mulai memburu, birahiku dipermainkannya.

Kemudian dia membuka pintu dan berjalan menuju lift sambil menatapku, tertawa menggodaku. Ahh sialan wanita ini, malah bikin kentang. Haduuh gimana ini urusannya. Jadi kayak gini rasanya dibikin kentang? Aaaaarrggghh Ara. Akupun masuk kamar, sedangkan Mila menunggu lift yang turun dari lantai 9. Begitu terbuka, segera saja dia memasuki lift itu.

Di dalamnya ada seorang wanita dengan rambut yang agak berantakan. Dia tersenyum pada wanita itu. Kini di dalam lift itu hanya ada kedua wanita itu, turun ke lobby. Seorang wanita, yang berkerudung, tampak tersenyum simpul setelah bertemu dengan seseorang yang telah berhasil membangkitkan semangat hidupnya. Sedangkan seorang perempuan yang lain, sedang gelisah, karena saat ini dia mengenakan kaos dan celana jeans tanpa memakai pakaian dalam, bahkan di pahanya masih terasa lelehan sperma dari dalam liang kemaluannya, yang mulai mengering.

Aku segera mengambil ponselku, kemudian menghubungi Ara, sudah tidur belum ya istriku?

***

POV Ara

Aku tersenyum memandangi layar ponselku, ponsel lamaku. Kemudian mencabut headset dan meletakkannya bersama ponsel lamaku di meja di samping ranjangku. Malam ini aku hanya sendirian di rumah bersama pembantuku, jadi tak perlu menyembunyikan ponsel lamaku ini di dalam tasku.

Pembantuku baru kembali ke rumahku selepas maghrib tadi, sedangkan sudah sedari tadi siang sepulang mengantar Mas Budi ke bandara aku kembali ke rumah. Siang tadi seseorang datang ke rumah untuk menemuiku. Cukup lama dia disini, dan hingga sore hari menjelang maghrib barulah orang itu pergi meninggalkan rumahku. Aku mengantarnya hingga ke pintu, dan kemudian dia mengecup keningku sebelum pergi, dan melihatnya melangkahkan kaki, membuatku tersenyum, tersenyum puas.

Tapi aku mengatakan kepada suamiku kalau aku berada di rumah orang tuaku, supaya dia nggak khawatir. Karena sebelum berangkat ke Surabaya dia bersikeras agar aku menginap di Kaliurang saja selama acara koordinasi tempatku bekerja. Aku menangkap adanya kekhawatiran dari permintaan suamiku itu, tapi dia nggak mengatakannya padaku. Ya sudah aku turuti saja kemauan suamiku itu.

Tak lama ponsel baruku berbunyi, suamiku menelpon, rupanya dia belum tidur.

“Hallo assalamualaikum mas.”
“Waalaikumsalam, belum tidur dek
“Ini baru mau tidur kok mas, hehe.”
“Kok ngomongnya bisik-bisik dek
“Iya mas, nggak enak entar ngebangunin orang tuaku.”
“Oh iya ya, mas lupa adek di rumah ayah, hehe
“Mas kok belum tidur? Masih ngapain hayoo?”
“Hehe mas belum bisa tidur kalau belum denger suara adek
“Haha, gombalnya keluar deh, eh tapi sama mas, hihi.”
“Ciyee adek ikutan ngegombal nih, haha
“Hehe, siapa coba yang ngajarin?”
“Haha, ya udah dek, udah malem, bobok yuk
“Uuuu, kelonin.”
“Ya udah, mas kelonin dari sini ya, hehe
“Iya masku sayang. Mas jangan nakal ya disana, hehe.”
“Iya sayang, tak simpen dulu nakalnya, buat entar nakalin adek kalau udah pulang, hehe
“Hihi, beneran ya mas, entar adek dinakalin? Hehe.”
“Wooo siyaap, haha. Ya udah, met bobok sayang, love you, muuuuach
“Met bobok juga mas, love you too, muuuuuach.”

Kami akhiri perbincangan ini. Aku hanya tersenyum saja. Belum sehari tapi aku sudah rindu sekali dengan suamiku ini. Maaf ya mas kalau aku sudah mulai berbohong sama Mas Budi.

Akupun kembali menyiapkan perlengkapanku untuk menginap 2 malam di villa Kaliurang. Tadi aku diberi tahu oleh Pak Dede, besok akan ada Faisal, Eko, Kartika dan Wulan yang menginap disana, dan mungkin Pak Dede juga, sedangkan Riko, Nadya dan Aliya belum memberikan kepastian. Tapi tak apalah, yang penting ada temannya, meskipun aku lebih berharap Nadya dan Aliya juga ikut menginap. Selesai menyiapkan perlengkapanku, aku pun membersihkan diri, dan bersiap untuk tidur.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler