. Mengalahkan Gadis Part 5 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 5

0
119

Mengalahkan Gadis Part 5

A Little Secret


Tiara Dharma Saraswati


Nadya Agustina

POV Budi

Cuupp..!
Kurasakan sebuah kecupan ringan di keningku. Siapa lagi kalau bukan istriku. Beginilah cara dia membangunkanku setiap pagi. Entah ya, cuma dengan kecupan ringan di kening kok bisa aku langsung bangun. Padahal dulu, aku selalu pasang alarm jam 5, setiap bunyi pasti aku snooze terus, sampai akhirnya baru bangun jam 6.

“Heemmmm,, jam berapa ini sayang?” tanyaku.
“Jam 5 kurang 10 mas, ayo bangun, sana ibadah dulu, imamku,” jawab istriku.

“Kamu masih belum bersih?” tanyaku lagi
“Belum yakin sih mas, tapi pembalutku tadi udah bersih kok, nggak keluar lagi, aku juga udah keramas kok tadi” jawabnya.

Seperti inilah setiap hari. Aku merasa hidupku makin tertata dengan Ara ada disampingku setiap saat. Dari sejak pertama kali melihatnya, aku merasa kalau wanita ini memang adalah pilihan yang paling tepat. Yang nggak cuma bakal mendampingi selama sisa hidupku, tapi juga membuatku menjadi manusia yang lebih baik lagi, semoga.

Selepas menjalankan kewajiban, Ara langsung bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan untuk kami. Kami sebenarnya memiliki pembantu, tapi untuk urusan dapur, selama ini selalu Ara yang menjadi chef nya, baik itu sarapan, sesekali makan siang dan makan malam. Cuma sesekali saja kami makan diluar. Bukan karena bosan, tapi memang ingin mencari suasana lain saja.

Istriku ini ternyata sangat pintar memasak, persis seperti ibunya. Selama ini belum pernah sekalipun masakannya mengecewakanku. Sungguh salah satu anugerah yang setiap harinya aku syukuri. Selama pacaran dulu, aku mengenalnya sebagai gadis yang manja, maklum lah anak satu-satunya, sejak kakaknya meninggal dulu, sehingga pikirku dia tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak terbiasa melakukan hal-hal seperti ini. Ternyata aku salah besar.

Saat akhir pekan atau hari libur lainnya, kalau kami tidak bepergian, maka kegiatan kami adalah kerja bakti beres-beres rumah dan pekarangan, makanya kami tidak perlu lagi tukang kebun, hanya cukup pembatu kami seorang saja sudah cukup untuk mengurusi rumahku ini. Surprise? Jelas, tapi ini surprise yang menyenangkan bukan?

Menunggu Ara menyiapkan sarapan kami, aku sempatkan menonton berita olahraga favoritku sambil memainkan ponselku. Ternyata ada sebuah pesan wasap yang masuk. Dari sebuah nomor baru lagi. Setelah kubaca pesan itu membuatku sedikit termenung, tidak lagi fokus menonton tv.

Ini sudah ketiga kalinya dia mengirimkan pesan misterius ke aku, setelah yang pertama memperingatkan soal ada yang mengincar istriku, kemudian dia mengirim pesan lagi mengabarkan bahwa si pengincar istriku itu sedang keluar kota. Tapi kali ini isi pesannya semakin membingungkanku.

‘Sorry cing, ternyata gw salah. Ada orang lain lagi yg ngincer bini lu. Lu mesti lebih hati-hati lagi, apalagi orang yg gw bilang kemarin sekarang udah balik ke Jogja. Intinya lu harus lebih waspada aja. Sementar gw cari tau dulu orang lain yg lagi ikut ngincer bini lu. Gitu aja dulu, ntar lu gw kabarin lagi

Entah aku harus percaya atau nggak. Aku bahkan nggak tahu orang ini siapa. Sahabatku yang aku mintai tolong buat ngelacak orang itupun kesulitan, karena setelah mengirim pesan kepadaku, nomor itu pasti nggak pernah aktif lagi. Apa orang ini sebenarnya cuma iseng aja, atau memang bahaya benar-benar sedang mengincar istriku. Hmm, rasanya aku memang harus lebih waspada dan lebih menjaga istriku, entah itu cuma iseng atau memang benar.

“Mas,, Mas, kok bengong aja sih?” panggil istriku.
“Eh i,, iya, kenapa dek?” jawabku tergagap.

“Mas ini kenapa? Dari tadi dipanggil diem aja, disamperin, eh malah bengong, tak kirain lagi nonton tv taunya lagi ngelamun. Mas Budi kenapa tho?” tanya istriku panjang lebar.

“Hehe, nggak dek, lagi mikirin aja, besok weekend mau jalan-jalan kemana, mas lagi suntuk nih dek, kerjaan di kantor bikin pusing, kita refreshing aja yuk?” jawabku mengalihkan perhatian, agar istriku nggak curiga.

“Oalah mas mas, kirain kenapa. Hayuk deh kalau mau liburan, hehe,” jawab istriku tersenyum manis sekali.
“Oke deh, ntar mas pikirin dulu ya kita mau kemananya,” jawabku.

“Ya udah, kalau gitu mas mandi dulu gih, sarapannya udah mau siap tuh,” kata istriku.
“Oke sayang, cupp,” jawabku sambil mengecup pipina.

Akupun berlalu menuju kamar mandi. Masih sambil memikirkan wasap tadi. Memikirkan kira-kira apa yang harus aku lakukan. Aku harus memberikan proteksi lebih kepada istriku. Tapi aku juga nggak mungkin terang-terangan sama dia, nanti malah bikin dia ketakutan sendiri. Memasang alat sadap? Bukan hal yang sulit buatku sebenarnya. Tapi kok rasanya belum perlu, aku mempercayai istriku sepenuhnya, ya meskipun begitu tapi ancaman ini dari orang lain yang aku nggak tahu itu siapa. Aah, aku jadi bingung harus gimana.

Selepas mandi dan berganti pakaian, akupun menuju meja makan untuk sarapan bersama istriku, dia sudah menunggu disana. Rupanya dia juga sudah siap dengan seragam dinasnya. Hanya obrolan-obrolan ringan saja selama sarapan, seputar pekerjaan dan keluarga kami. Kami mencoba menekan sebisa mungkin untuk nggak ngomongin orang lain, alias bergosip ria.

Setelah selesai sarapan, kamipun bersiap-siap berangkat ke kantor masing-masing. Kami berangkat sendiri-sendiri. Sebenarnya bisa saja setiap hari aku mengantarnya dulu sebelum menuju kantorku, tapi jam pulangku yang nggak pasti ini membuat aku kasihan kalau nanti dia harus menunggu aku menjemputnya. Akhirnya kami putuskan untuk membawa kendaraan masing-masing saja.

Sampai di kantor, langsung kuparkirkan kendaraanku. Menyalakan rokok sebatang dulu sebelum masuk kantor. Sekarang rumahku sudah jadi area bebas rokok. Ara nggak melarang aku merokok, dia cuma melarang merokok kalau lagi sama dia, dan kalau lagi di rumah.

Setelah puas menghembuskan asap terakhir dari rokokku, akupun segera masuk kantor, memulai aktivitas hari ini.

“Selamat pagi pak,” sapa beberapa karyawan di kantorku.
“Selamat pagi,” akupun menjawabnya dengan tersenyum.

“Oh iya pak, barusan ada email dari pusat. Minggu depan ada jadwal training kompetensi di Surabaya, dan dari Jogja ditunjuk perwakilan Pak Budi sama Pak Ramon,” kata Triana, anak buahku.

“Oh iya makasih Na, nanti biar saya lihat sendiri emailnya,” jawabku.
“Baik pak kalau begitu,” ujarnya.

Aku lalu membuka email yang dimaksud Triana tadi. Hmm, trainingnya 3 hari, mulai besok senin, wah berarti minggu udah harus berangkat ini, kayaknya rencana liburan weekend ini harus ditunda dulu. Nanti ajalah aku kasih tahu Ara.

Hari ini berjalan biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada gangguan dari orang misterius itu lagi. Udah jam 7 malam, setelah menuntaskan pekerjaan, langsung saja aku tancap gas pulang ke rumah, udah kangen sama masakan Ara, perutku sudah bunyi-bunyi minta diisi. Hmm, kangen apa kelaparan ya, hehe.

Sesampainya aku dirumah, kuparkirkan mobilku di samping mobil Ara. Segera aku masuk mencarinya, tapi ternyata dia sedang mandi. Lhoh, kok jam segini baru mandi dia? Apa mungkin baru pulang? Tapi darimana? Dia nggak ada ngasih kabar juga tadi. Aku lihat di kamar ada ponsel yang lagi di charge, tapi ini ponselnya siapa ya? Kayaknya bukan punya istriku.

Tak lama Ara keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya hanya dibalut handuk, sementara rambutnya terlihat masih basah, harum. Meskipun sudah setiap hari melihat tubuh polosnya, tetap saja mataku nggak pernah bisa puas menikmati keindahan ragawi milih istriku ini. Benar-benar mempesonaku.

“Eh mas baru pulang? Maaf aku nggak denger tadi mas, hehe,” ujar Ara.
“Iya dek ini baru aja nyampe. Kok kamu jam segini baru mandi dek? Baru pulang?” tanyaku.

“Iya nih mas, aku baru pulang. Tadi sore tuh aku diajak Pak Dede sama Aliya ke Kaliurang mas. Kan minggu depan mau ada rapat koordinasi. Ada nanti perwakilan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mas. Tapi rapatnya nggak di kantor, makanya kami tadi ke Kaliurang survey villa disana mas,” jelasnya.

“Oalah, lha kok tadi nggak ngabarin dek?” tanyaku.

Tanpa menjawab Ara mengambil dan merogoh tasnya. Di tangannya nampak ponsel istriku yang sudah hancur, layar LCDnya pecah.

“Ini mas gara-garanya. Jadi tadi sebelum berangkat itu ponselku jatuh pas di tangga kantor. Aku kan mau ngabarin kamu mas, eh tanganku kesenggol sama Lia. Udah deh jatuh jadi kayak gini mas. Tuh, pas pulang tadi aku sempet mampir beli ponsel baru lagi, hehe,” jawabnya sambil menunjuk ponsel barunya yang sedang di charge.

“Hahaha, jadi ponselmu tu jatuh dek? Ya ampun jadi hancur gini, lagian udah gini ngapain dibawa pulang dek?” tanyaku tergelak melihat ponsel di tangannya.

“Hehe, lha nggak tahu mas mau diapain, ya udah tak bawa pulang aja, hehe,” jawabnya tersenyum.
“Haduuh, pengen ponsel yang lebih baru aja pakai dibanting gitu ponselnya, haha,” sindirku.

“Ihh, siapa yang ngebanting, sayang kali mas, yaa berhubung perlu beli lagi kan sekalian mas beli yang paling update, hehe. Udah sana mandi dulu, buruan kita makan mas, aku udah laper ini,” kata Ara.
“Iya mas juga udah laper banget, mas mandi dulu ya, hehe,” jawabku.

“Iya mas, aku ganti baju dulu,” katanya.
“Eh, kamu abis keramas dek? Bukannya tadi pagi udah?” tanyaku.

“Iya mas, tadi siang sempet keluar lagi, tapi ini udah bersih kok,” jawabnya.
“Oh gitu. Tapi yakin ini udah bersih? Berarti nanti bisa dong?” tanyaku lagi.

“Bisa apa? Huuu, udah sana mandi dulu, hehe,” jawabnya.

Akupun tak menjawab lagi, segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sudah seminggu ini aku nggak bergumul dengan Ara yang lagi kedatangan tamu, akhirnya malam ini bisa tempur lagi, hehe.

Malam itu istriku nggak masak karena memang pulangnya sudah malam, tapi dia sempatkan membeli makanan kesukaanku, bebek goreng. Kamipun menyantapnya dengan lahap. Setelah makan kami berbincang dulu sambil menonton tv. Ara sendiri juga sibuk dengan setingan ponsel barunya itu. Aku ceritakan hari minggu besok harus berangkat ke Surabaya untuk training, kamis baru pulang, jadi untuk rencana liburan kami harus tertunda. Dia mengerti dan kebetulan di hari yang sama dia ada rapat koordinasi juga di Kaliurang.

“Dek, pindah ke kamar yuk,” ajakku begitu Ara selesai dengan ponselnya.
“Hmm, hayuk deh,” katanya sambil tersenyum meliriku.

Akupun segera menggendongnya, membawanya menuju kamar kami. Dia menggelayut manja di dalam gendonganku. Tangannya dirangkulkan ke leherku. Akupun mengecup keningnya hangat. Masih tercium aroma shampoo di rambutnya yang masih agak basah.

Tak lupa kututup pintu kamar dengan menggunakan kakiku. Pelan-pelan aku rebahkan tubuh istriku di ranjang. Kurebahkan badanku disampingnya. Kami saling bertatapan, penuh kasih sayang. Jemariku membelai lembut rambut indahnya. Kuturunkan kepalaku memberi sekali lagi kecupan di keningnya, agak lama kali ini.

Dia hanya terpejam, meresapi kecupan yang kuberikan. Bibirku perlahan turun, menuju hidung mancungnya, kemudian turun membelai bibirnya yang kenyal. Kulumat pelan bibir bawahnya. Dia membalasnya. Ciuman kami, meskipun hanya saling melumat pelan, tapi kami begitu menikmatinya. Bukan hanya sekedar berciuman, namun juga mengirimkan pesan betapa perasaan kami yang begitu besar, semakin membuncah.

Tanganku juga sudah bergerak, membelai lembut pundaknya yang masih tertutup piyama. Turun ke lengannya, membelai kulitnya yang halus bak sutera, naik lagi ke pundaknya. Tangan kanan Ara yang memelukku juga mulai mengusap punggungku. Untuk beberapa saat kami masih bertahan dalam posisi itu.

Lalu ciuman kami tak hanya melumat ringan saja. Lidah kami mulai bergerak, saling membelit, saling bertaut dan kemudian saling menghisap. Ciuman kami semakin panas. Tanganku juga sudah mulai bergerak menuju kedua bukit payudara Ara yang indah. Kuremas pelan payudara yang terasa pas dengan tangkupan tanganku itu, membuatnya mengerang tertahan.

“Sluuurrpp,, eehmmm massh, sluuuurrpp,” suara merdu desahannya mulai terdengar di sela ciuman kami.

Dengan perlahan kubuka kancing piyamanya satu-persatu, hingga terlepas semua. Kusibakan ke samping kedua sisi piyamanya. Terpampanglah tubuh indah laksana bidadari. Entah apakah bidadari memang seindah ini, aku belum pernah melihatnya, dan aku nggak peduli, karena bidadariku ini sudah sangat sempurna buatku untuk menggambarkan kesempurnaan seorang bidadari.

Kuelus bagian perut istriku, perlahan, semakin naik, sampai terhalang oleh pinggiran bra tipis yang dipakainya. Dengan gerakan yang lembut aku melepaskan piyama yang dipakainya. Tubuh Ara bergerak-gerak membantuku mempermudah membuka piyamanya.

Kini kecupanku turun ke lehernya. Kuciumi gemas leher istriku yang masih kencang dan mulus tanpa kerutan ini. Kucucup mesra, kuhisap pelan, meninggalkan sedikit tanda merah di leher yang putih itu. Erangan dan desahan Ara kian terdengar oleh telingaku yang berada di dekat bibirnya.

Ciumanku merembet ke samping, ke arah telinganya. Kuciumi dan sedikit kujilat area itu, area yang memang menjadi salah satu titik rangsangan bagi istriku, membuat tubuhnya menggelinjang kegelian.

Tanganku tak mau tinggal diam. Kubuka kait branya, lalu dengan sedikit gerakan kutarik lepas bra itu. Sementara tangan Ara juga nggak mau kalah, dia melepaskan ¬jersey merah yang bergambar sesosok setan kecil di tengah logo yang tepasang di dada kiri.

Kini kami sudah bertelanjang dada. Kunikmati pemandangan indah ini sebentar. Sepasang bukit indah dengan puncaknya yang kemerah-merah mudaan. Tidak besar, tapi juga tidak kecil. Sangat proporsional dengan tubuhnya.

Tak tahan lama aku melihatnya, kudaratkan bibirku ke bukit indah itu. Kujilati perlahan daerah sekitar putingnya, berputar-putar mengelilinginya.

“Aaahh mass, eehhhmmm,” desahan Ara terdengar begitu merdu di telingaku.
“Cuup,, sluurrpp,, cuup,, cuup,” kukecup dan kucumbu mesra kedua putingnya bergantian, membuatnya menggelinjang dan tubuhnya sedikit tersentak ke atas.

Masih kulanjutkan cumbuanku di payudaranya saat tanganku mulai merangsek turun untuk melepas celana dan celana dalamnya sekaligus. Ara mengangkat pinggulnya mempermudah untuk menarik celananya. Setelah itu akupun menarik lepas sendiri celanaku.

Kami sudah telanjang bulat sekarang. Hawa dingin AC kamar kami seperti tak terasa, tak mampu mengalahkan hangatnya cumbuan kami. Hawa panas yang keluar dari kedua tubuh telanjang kami membuat butiran-butiran peluh malu-malu menampakkan dirinya.

Kutarik cumbuanku dari kedua payudara istriku, kegeser naik tubuhku agar sejajar posisi bibir kami. Lalu dengan panasnya kami saling berpagut, saling mengulum, saling menghisap. Tangan lembut istriku menyentuk ujung penisku, membelainya lembut, mengusap perlahan kepala kemaluanku. Membuat tubuhku bergetar mendapat perlakuan seperti itu.

Tangan istriku membelai seluruh permukaan penisku. Membuat gesekan permukaan tangan halusnya dengan permukaan berurat penisku. Sedangkan tangan kananku kembali meremasi kedua payudaranya bergantian disaat tangan kiriku memeluk lehernya.

Tak lama tangan kananku turun, perlahan membelai perut kencang istriku, semakin turun disambut oleh bulu kemaluannya yang tumbuh tipis, hingga akhirnya menemukan liang senggama istriku. Perlahan kugesek-gesek bibir kemaluannya, membuat tubuhnya tersentak menggelinjang, yang membuat remasan di peniskupun semakin terasa.

Kuselipkan jari tengahku masuk membelah bibir kewanitaannya dari bawah, perlahan naik ke atas, begitu terus kuulangi hingga saat aku menemukan biji kelentitnya, jariku berhenti disitu. Tidak, bukan berhenti dan diam, tapi berhenti untuk memainkan biji itu.

“Aaahh maasss,, geliiiii aahhh mmmppphh,” desahan istriku terhenti karena pagutanku.
“Tubuhmu indah sekali sayang,, sluurrp,, indah banget,, sluuurrpp,” ujarku di sela-sela kami berpagutan.

Kurasakan tangan istriku mulai mengocok penisku, kocokan lembutnya berubah menjadi semakin liar, mengikuti seberapa kencang permainan jariku di kelentitnya. Liang vaginanya sudah basah, menimbulkan bunyi kecipak di bawah sana. Sepertinya malam ini istriku juga sedang merindukan belaianku karena vaginanya begitu cepat basah.

Tanpa melakukan oral terlebih dahulu, karena memang sudah sama-sama birahi, aku menggeser tubuhku menindihnya, memposisikan pinggangku di hadapan pinggangnya. Masih bibir kami berpagutan, kugesek-gesekan kepala penisku di bibir kemaluannya membuat istriku semakin mendesah dan nggak karuan gerak tubuhnya.

“Aaahh mass mau ngapaaiiinnhhh,” desahannya, sungguh sangat merdu mambangkitkan birahiku.
“Mas masukin sekarang ya dek?” tanyaku memastikan kesiapannya.
“Iyaa mas, masukin, aku milikmu masss, aaahhhh,” baru selesai dia berkata, ujung penisku langsung menyeruak membelah bibir liang vagina istriku.

Lubang yang sudah sering aku masuki, tapi masih terasa begitu sempitnya, sungguh luar biasa memang istriku ini. Perlahan penisku menyeruak masuk tanpa penghalang. Cairan pelumas yang sudah membasahi rongga kemaluan istriku membantu penetrasiku, hingga akhirnya seluruh penisku tertanam, mentok di vagina istriku.

Aku diamkan sesaat sebelum kugoyangkan. Aku ingin menikmati bibir tipis istriku, yang saat ini sedang terpejam meresapi pertemuan kedua alat kelamin kami, merasakan setiap gesekan yang terjadi.

“Aaahh maass,, aaahhh enaak masss,” desahnya ketika aku mulai menggoyangkan pelan penisku.
“Aahh,, hmm,, kamu juga enak dek, vaginamu sempit banget, penisku kayak diremas sayang,” jawabku.

“Hmmpp,, masss suukhaaa aaahh?” tanyanya.
“Sukaaah bangeth deeek,oouuggghh,” jawabku.

Tiba-tiba kurasakan ada gerakan meremas dari dalam liang kemaluan Ara. Dia sedang berusaha memberikan remasan yang sangat nikmat pada penisku. Ooh ini rasanya luar biasa, membuatku semakin tak tahan, hingga gerakan dan sodokanku makin cepat.

Digoyang seperti ini membuat desahan istriku semakin kencang. Diapun ikut menggoyangkan pantatnya menyambut setiap sodokanku, hingga tak berapa lama kurasakan kedutan di liang vaginanya. Sepertinya dia akan segera mencapai orgasme pertamanya malam ini. Aku mempercepat goyanganku agar dia segera mendapatkan puncaknya.

“Aahh masss, terussss aaaahh akuu maau keluar mass,” goyangan pinggang Ara semakin liar menjemput orgasmenya.

“Aahh maass aahhh, akhuuuu aaahhhhh,” dia melenguh panjang, matanya terpejam, badannya mengejang memeluk badanku.

Kudiamkan penisku, memberinya waktu untuk menikmati klimaksnya, dan memberi waktu untukku sendiri, menikmati kedutan-kedutan liang vaginanya. Setengah menit berlalu, dia membuka matanya sambil tersenyum dan mengecup ringan bibirku. Aku yang masih mendekapnya membalikkan tubuh kami, sekarang dia yang menindih tubuhku.

“Giliran kamu yang diatas sayang,” ujarku tanpa dijawabnya.

Ditegakkan badannya, menumpukan kedua tangannya di dadaku, sedangkan tanganku memegangi pinggulnya yang indah. Kemudian dengan lembut dia menggerakkan pinggulnya maju mundur perlahan. Mataku merem melek, merasakan nikmatnya gesekan kemaluan kami.

Gerakan pinggul Ara semakin cepat, kuimbangi dengan menggerakan pantatku, membuatnya terpejam merasakan sodokan penisku di vaginanya. Kini gerakan Ara berubah, naik turun. Semakin lama semakin cepat gerakannya, menimbulkan suara akibat tumbukan alat kelamin kami.

“Aaah sayaang nikmat banget goyangan kamu yaaang, aahh.”
“Aah penis mass nikmaat banget mass, penuh bangeeet, aahhh,, aahhh.”

Plok,, Plok,, Plokk,, Kedua pantat kami bergerak seirama. Tanganku meraih kedua payudara istriku, yang tergantung menantang. Gerakan naik turun kedua bukit itu membuatku tak tahan untuk tak menjamahnya. Kuremas-remas payudara itu, membuat Ara semakin mendesah dan gerakan naik turunnya semakin liar. Rambutnya yang terurai berantakan sedikit menutupi wajah ayunya.

Sekitar 10 menit kami dalam posisi itu dan Ara menggoyangkan pinggulnya tanpa henti, hingga kini semakin cepat, semakin berkedut, semakin terasa becek vaginanya. Entah kenapa kurasakan malam ini sedikit berbeda, istriku begitu liarnya menunggangiku, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin karena sudah seminggu ini nggak bisa menuntaskan birahi, makanya dia malam ini begitu liar, dan aku benar-benar menyukainya.

“Aaaaaahhhhh,” desahan Ara ketika mendapatkan orgasmenya yang kedua malam itu. tubuhnya kembali mengejang, melengkung kebelakang, pantatnya mengejat-ejat. Kepalanya menengadah dan bibirnya terbuka lebar. Tak lama kemudian dia ambruk memeluk tubuhku. Masih kurasakan vaginanya berkedut meremasi penisku.

Segera kubalikkan lagi badannya, dan langsung memompanya dalam pelukanku. Kupeluk erat tubuhnya, begitupun dia. Kami saling berciuman lagi, saling mengulum bibir masing-masing. Kurasakan puncakku sudah semakin dekat, kupercepat sodokanku, dan Ara pun ikut menggoyangkan membantu menjemput orgasme kami.

“Aaahh sayang, sempitt banget vaginamuu yaang, aahh akhuu mauu keluaar yaang.”
“Terusss ahh mass, sodokin yang kenceeng maassh, addek juga mau kheluarr lagi.”

Crok,, Crok,, Crok,, Crok,, Bunyi tumbukan kedua kelamin kami semakin terdengar, apalagi vagina istriku memang sudah benar-benar basah. Aku tak tahan lagi, puncakku sudah berada di ujung penisku. Vagina Ara pun semakin berkedut. Dan akhirnya,

“Aaaaaarrhhh deekk mas keluaaarrrrrr,” teriakku sambil memeluk erat istriku, dengan sebuah sodokan kuat ke dalam vagina istriku, croot croot croot, beberapa kali semburan spermaku menghantam dinding rahimnya.

“Aadeeekk jugaa massss aaaaahhhh,” istriku pun erat memeluk tubuhku menikmati semprotan spermaku yang membuatnya orgasme lagi malam ini.

Kami masih berpelukan, nafas masih ngos-ngosan, masih terasa kedutan-kedutan di kedua alat kelamin kami. Pinggulku masih bergerak-gerak ringan, menuntaskan cairan spermaku agar keluar semua hingga tetes terakhir.

Kuangkat kepalaku, mencium kening istriku yang masih terpejam. Dia tersenyum saja mendapatkan kecupan di keningnya. Perlahan kulepaskan pelukanku dan menggeser tubuhku kesamping tubuh istriku. Malam ini kami hanya melakukannya sekali. Bukan karena sudah nggak kuat lagi, tapi memang sudah jadi kebiasaan kami, kalau besoknya hari kerja, kami hanya melakukannya sekali, tapi kalau besoknya hari libur, kami bisa bercinta habis-habisan sampai pagi.

Lagipula mataku sudah berat, aku sudah agak ngantuk. Hampir terpejam waktu kurasakan istriku menjilati kemaluanku, untuk membersihkannya. Sesaat aku tersentak, namun Ara menghentikan kulumannya dan tersenyum.

“Cuma dibersihin aja kok mas, masak mau tidur lengket-lengketan gitu, hehe,” ujarnya seraya beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.

Iya, kalau sedikit saja lebih lama dia mengulum penisku, mana bisa tidur lagi sebelum dituntaskan. Aku tersenyum melihatnya berlalu. Tak lama terdengar bunyi dari ponsel barunya, sebuah pesan Line masuk. Sempat kubaca sekilas, dari temannya Lia, menanyakan apakah sudah dapat villanya tadi sore.

Hmm, itu urusan pekerjaan Ara, biar saja lah. Eh, tadi dia cerita perginya sama Lia apa Nadya ya? Ah sama Nadya kayaknya, orang ini Lia yang nanya kok. Ah aku sudah ngantuk sekali, tak berapa lama aku terpejam. Masih sempat kurasakan belaian dan kecupan Ara dikeningku sebelum aku terlelap, dengan senyum tersungging di bibirku.

***

POV Ara

Baru saja aku keluar dari kamar mandi kulihat suamiku sudah memejamkan matanya. Aku menghampirinya, masih dengan tubuh bugilku, kemudian membelai dan mengecup keningnya mengucapkan selamat tidur. Dia hanya tersenyum saja.

Aku mengambil ponsel baruku, ternyata ada Line dari Lia. Sempat kulirik suamiku, apa dia sempat melihatnya tadi? Tapi rasanya nggak, kalau iya pasti dia bertanya padaku. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati. Setelah kupastikan suamiku terlelap, baru aku buka pesan itu.

‘Ara, gimana tadi udah dapet villanya
‘Iya udah kok Li, villa yang biasanya kita pake.’
‘Trus udah beres semua urusannya
‘Udah beres tenang aja, udah sama Pak Risman tadi semuanya.’
‘Oh ya udah deh kalau gitu. Eh kok belum tidur? Abis tempur ya? hehehe
‘Hehe apaan sih Li mau tau aja deh.’
‘Hehe gpp kali Ra udah gede ini, udah sama-sama tau
‘Lha kamu sendiri kok belum tidur?’
‘Ya abis tempur lah say, ini istirahat dulu, abis ini mau lanjut lagi, haha
‘Hadeeeh ya udah sana deh lanjutin gih, aku mau tidur.’
‘Oke deh say, bye’

Tak kujawab pesan terakhirnya, hanya kubaca saja, lalu kuhapus percakapanku dengan Lia ini. Sekali lagi aku pastikan suamiku sudah terlelap, kemudian aku mengambil tasku dan merogoh isinya. Mengambil sebuah ponsel. Ya, ponsel lamaku, ponsel yang sebenarnya tidak rusak. Ponsel yang rusak dan pecah tadi ponsel yang memang mirip dengan ponselku, tapi bukan punyaku, melainkan kudapat dari seseorang.

Aku lihat ponsel lamaku ini. Ada sebuah pesan wasap. Aku membacanya dengan hati-hati pesan yang cukup panjang itu. Sedikit senyum tersungging di bibirku setelah membaca seluruh isi pesan itu. Hhh, aku menghela nafas panjang, lalu kembali memasukkan ponsel lamaku ke dalam kantong tasku.

Kembali aku memandang suamiku yang sudah pulas tidurnya. Aku segera berbaring di samping suamiku. Masih dalam kondisi sama-sama telanjang, aku menarik selimut untuk menutupi tubuh kami, akupun memeluknya, dan mendekatkan kepalaku di dadanya sambil berbisik lirih, “Maaf mas,” kemudian kami terlelap.

***

POV Lia

Aku masih terbaring di ranjangku. Tubuhku sudah polos tak tertutup apa-apa lagi. Tubuh polos ini juga sudah penuh peluh sisa pertempuranku di ronde pertama tadi. Sisa cairan sperma masih terasa mengalir keluar dari liang kemaluanku. Sedangkan kedua bukit kembarku masih ada beberapa bekas tanda merah yang dibuat oleh suamiku tadi.

Kuletakkan ponselku di meja samping ranjangku setelah Ara nggak lagi membalas Line dariku. Suamiku masih merokok diluar, aku masih menunggunya untuk ronde selanjutnya. Kami baru saja selesai bercinta, dan seperti biasanya suamiku pasti meminta waktu untuk merokok dulu sebelum melanjutkan ke ronde selanjutnya.

Malam ini nafsuku memang menggelegak naik. Birahiku tinggi sekali. Ini semua gara-gara Pak Dede yang sepanjang jalan tadi menyuruhku untuk mengulum penisnya sambil dia meremasi kedua payudaraku, dan sesekali tangannya nakal mampir ke dalam rok dinasku, menyingkap celana dalamnya dan menggelitiki vaginaku dengan jarinya. Semua itu dilakukan dengan posisi dia masih mengemudikan mobilnya, sungguh gila.

Memang bukan pertama kali ini saja kami berbuat seperti itu di mobil, tapi biasanya foreplay di dalam mobil ini akan kami lanjutkan dengan perguluman panas mengadu kedua alat kelamin kami, entah dimanapun yang kami rasa aman, untuk menuntaskannya. Sampai kami berdua terpuaskan hingga kemudian kembali ke tempat masing-masing.

Tapi hari ini tidak sampai berlanjut, hanya di dalam mobil saja, hanya aku mengulum penisnya sampai keluar membasahi wajahku, dan diapun hanya memainkan vaginaku tanpa membuatku orgasme. Kalian tahu betapa menjengkelkannya perasaan seperti itu? Entah kenapa hari ini dia terlihat terburu-buru sekali, sampai-sampai tidak sempat menuntaskan permainan kami.

Aku dan Pak Dede memang sudah terlalu jauh berhubungan. Padahal keluarga kami baik-baik saja. Aku punya dua anak yang masih lucu, sedangkan dia kini kedua anaknya sudah mengenyam bangku pendidikan tingkat menengah. Tak pernah ada masalah antara aku dan suamiku, begitu pula dengan dia dan istrinya. Entahlah, nafsu birahi membawa kami sampai akhirnya ke titik ini, titik dimana aku dengan pasrah menyerahkan tubuhku yang seharusnya hanya milik suamiku ini, kepada seorang yang tak lain adalah atasanku di kantor. Titik dimana aku bersedia mengikuti kemauan dan fantasi-fantasi liarnya, yang bahkan tak pernah aku lakukan dengan suamiku.

Dah hal yang membuatku kaget, ternyata Pak Dede sudah berhasil menggaet Nadya, rekan kerjaku, untuk menjadi sepertiku memenuhi nafsu birahinya. Aku belum tahu, apakah hanya aku dan Nadya yang menjadi korbannya di kantor, mengingat masih ada beberapa perempuan muda cantik lainnya seperti Kartika, Wulan dan Tiara, yang kesemuanya sudah menikah.

Nama terakhir baru saja menikah, belum genap 3 bulan. Tapi gelagatnya Pak Dede juga mulai mengincarnya. Aku sebenarnya kurang setuju, kasihan Ara. Aku mengenalnya sebagai gadis yang lugu, baik dan alim. Rasanya kok nggak tega aja melihat dia dikejar Pak Dede dan nantinya menjadi seperti aku, mengkhianati suamiku.

Tapi aku bisa apa, aku nggak bisa melarang Pak Dede. Sejauh ini Pak Dede pun selalu baik kepada kami semua, kecuali untuk urusan selangkangan. Dia adalah sosok atasan yang berwibawa dan bertanggung jawab, selalu mau mendengarkan keluhan dari anak buahnya tanpa pilih kasih, selalu bersedia membantu siapa saja anak buahnya yang mengalami kesulitan. Itulah mengapa mungkin kami menjadi simpatik kepadanya, dan malah akhirnya aku dan Nadya kebablasan, pasrah memberikan tubuh kami.

Ara, yang masih pengantin baru, yang baru saja merasakan sentuhan lelaki di tubuhnya, sepertinya mengundang rasa penasaran bagi Pak Dede. Ara memang selama ini tampil tertutup dengan balutan kerudungnya yang membuatnya semakin anggun, dan aku sebagai seorang wanitapun, benar-benar mengagumi kecantikannya saat malam pernikahannya dia mengenakan gaun pengantin yang membuatnya semakin anggun.

Aku bahkan sempat melihat mata Pak Dede tak berkedip, tak bisa lepas dari pesona yang dipancarkan oleh Ara. Karena itulah aku berasumsi, bahwa lelaki separuh baya beranak 2 ini mengincar temanku itu, untuk dijadikan koleksi bagi birahinya yang memang besar.

Akhirnya siang itu, beberapa minggu yang lalu, saat kami selesai makan siang bersama untuk menyambut kembalinya Ara bekerja setelah cuti menikah, kamipun diajak karaoke oleh Pak Dede. Karena tidak semua bisa ikut, akhirnya hanya aku, Pak Dede, Nadya dan Ara. Kami menuju tempat karaoke langganan Pak Dede, dan meminta di room yang juga menjadi langganan Pak Dede, room yang sudah beberapa kali menjadi saksi kami memacu birahi, dan mungkin dia dengan orang lain juga, siapa tahu.

Awalnya semua berjalan biasa-biasa saja. Kami bernyanyi sebisa kami, meskipun ternyata suara Ara bagus juga. Kami masih duduk di sofa sambil memilih-milih lagu yang akan kami nyanyikan bergiliran. Setelah sekitar 1 jam, Pak Dede mulai berdiri dari sofanya ketika menyanyi. Mengajak siapapun pasangan duetnya untuk berdiri dan berjoget bersama.

Yang pertama diajak adalah Nadya. Langsung saja Pak Dede meraih tangan Nadya untuk mengajaknya berdiri dan menari bersamanya. Kami mendapatkan jatah masing-masing 3 lagu berturut-turut untuk berduet dengan Pak Dede, dimana lagu-lagu itu dia sendiri yang memilih.

Di lagu pertama, Nadya yang agak canggung berusaha menarik tangannya yang dipegang oleh Pak Dede, tapi nggak bisa lepas karena pegangan Pak Dede cukup kuat. Di pertengahan lagu, tiba-tiba Pak Dede menarik Nadya mendekat, lalu merangkulkan tangannya ke pundak Nadya, membuat temanku ini terlihat rikuh.

Nadya pastinya nggak nyaman dengan hal ini. Mungkin kalau hanya aku di ruangan ini selain mereka nggak akan seperti ini, kami sudah sama-sama tahu, tapi sekarang ini ada Ara. Aku sedikit melirik Ara, dia masih biasa-biasa saja, malah tersenyum melihat tingkah mereka. Tapi setelah itu tangan Pak Dede mulai nakal, mulai naik turun mengelus lengan dan punggung Nadya, membuatnya semakin jengah.

Sampai memulai lagu kedua, tangan Pak Dede hanya berputar-putar di lengan dan punggung Nadya, tapi mulai pertengahan lagu, tangannya semakin turun, di pantat Nadya, bahkan terlihat sedikit meremasnya. Nadya berusaha menepis tangan itu, tapi tak lama kembali lagi. Setelah beberapa kali di tepis dan kembali lagi, Nadya tampak mulai acuh saja.

Aku yang sedari tadi melihat Ara melihat perubahan di wajahnya, sedikit terkaget. Bahkan di lagu ketiga, lagu dari Judika dan istrinya Duma, Pak Dede menarik pinggang Nadya, menempatkan persis di depannya, lalu tangan kiri itu memeluk Nadya. Terlihat ada gerakan di pinggul Pak Dede, seperti menggesekan kemaluannya di pantat bulat Nadya. Ara semakin kaget dan melihat ke arahku, tapi aku pura-pura sedang mengotak atik ponselku.

Lagupun selesai, Nadya kembali duduk di sampingku, kulihat mukanya sedikit memerah, entah malu atau menahan sesuatu. Kini Pak Dede menarik tanganku untuk berdiri, meminta untuk menemaninya menyanyi.

Dan perlakuan yang sama aku terima. Memang benar rasanya risih sekali karena ada Ara disini. Bahkan beberapa kali aku rasakan remasan di pantatku lebih lama dan lebih kencang daripada yang aku lihat di Nadya tadi. Aku nggak bisa melihat ekspresi kedua temanku, karena aku sendiri merasa malu jika harus berbalik menghadap mereka.

Dan lagi-lagi di lagu ketiga, Pak Dede kembali memperlakukanku sama seperti Nadya, dia memelukku dari belakang. Bisa kurasakan batang penisnya yang sudah cukup akrab dengan liang kewanitaanku ini menggesek-gesek belahan pantatku. Bukan hanya gerakan yang tersamar, jadi pasti bisa dilihat oleh kedua temanku di belakang.

Lebih gilanya lagi, tangan yang memelukku ini tiba-tiba kurasakan sudah menangkup salah satu payudaraku, dan meremasinya. Aku yang sedang menyanyi sempat mendesah, tapi segera kusamarkan dengan melanjutkan nyanyianku.

Aku benar-benar tak mengira Pak Dede seberani ini memperlakukanku di depan kedua temanku. Tapi hal ini nggak berlangsung lama karena lagu kami sudah selesai, akupun duduk dengan wajah yang sedikit menghangat, mungkin sama memerahnya seperti wajah Nadya tadi.

Kini giliran Ara yang berduet dengan Pak Dede. Aku penasaran, apakah dia akan mendapat perlakuan seperti kami sebelumnya. Di lagu pertama, tidak terjadi apa-apa, bahkan memegang tanganpun tidak dilakukan Pak Dede. Tapi di lagu kedua, Pak Dede mulai bertindak, tidak memegang tangan, tapi langsung merangkul pundak Ara dan menariknya mendekat.

Sampai di pertengahan lagu masih hanya sebatas merangkul saja, itupun sudah terlihat membuat Ara merasa jengah. Memasuki akhir lagu, kulihat tangan Pak Dede mulai bergerak turun melewati punggung Ara yang sedang bernyanyi, dan berhenti tepat di atas pantat Ara, karena tangan kiri Ara sudah berada disana untuk menahan gerakan Pak Dede.

Lagu ketiga dimulai, tangan Pak Dede masih pada tempatnya, tapi kini bergerak mengelusi pinggang Ara, dan sesekali turun menyentuh bongkahan pantat Ara, yang segera ditepis oleh tangan Ara. Begitu terus yang terjadi, hingga mendekati akhir lagi, sepertinya Ara sudah menyerah menepis tangan nakal itu, kulihat Pak Dede akhirnya berhasil meremas pantat Ara.

Hal ini membuat badan ara tersentak kaget, dan berupaya menepis tangan Pak Dede, tapi tidak berhasil, malah terlihat tangan Ara memegangi tangan Pak Dede yang sedang meremas pantatnya. Aku yang melihat ini menjadi panas dingin sendiri, membayangkan Ara yang begitu lugu kukenal, yang baru saja menikah, kini dijamah tubuhnya oleh pria lain, meskipun hanya sebatas remasan di pantat yang masih terhalang oleh rok panjang dan celana dalamnya. Melihat itu, entah kenapa vaginaku terasa basah.

Tapi untung hal itu tak berlangsung lama karena lagu sudah selesai, dan Pak Dede menarik tangannya setelah sebelum sempat terlihat meremas pantat Ara dengan kencang. Kami berempat kembali duduk untuk menyelesaikan karaoke yang hanya tinggal 5 menit ini, tapi sekilas kulihat wajah Ara yang memerah terlihat kikuk dan malu kepada kami.

Aku mengingat kembali kejadian itu menjadi tersenyum sendiri, membayangkan apakah nantinya Ara akan menjadi seperti aku dan Nadya, dan mungkin beberapa wanita lain, yang akan ditaklukan oleh Pak Dede. Pria ini memang pemimpin yang baik di kantor, tapi kalau sudah urusan wanita, hmm entahlah.

Tak lama suamiku masuk ke kamar lagi, setelah menggosok giginya untuk menghilangkan bau rokok. Aku sudah menantinya, vaginaku sudah sangat basah, membayangkan kejadian tempo hari di tempat karaoke.

“Mulai lagi kita sayang?” tanya suamiku langsung mendekapku dan menciumiku.
“Sluuurpp, ayoo pah, mamah udah nggak tahan,” akupun merangkulnya dan membalas ciuman suamiku.

Malam inipun kami bergumul lagi dengan panasnya. Birahiku memuncak, vaginaku sudah gatal. Permainan kami begitu panas karena, terlebih aku membayangkan sesuatu yang membuatku semakin menikmati pergumulan malam ini, hingga akhirnya kami kelelahan dan tertidur pulas.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part