. Mengalahkan Gadis Part 2 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 2

0
170

Mengalahkan Gadis Part 2

Ohh, What a Life

POV Ara


Tiara Dharma Saraswati
on wedding dress

Tiara Dharma Saraswati, atau lebih sering dipanggil Ara oleh kedua orang tuaku. Teman-temanku juga banyak yang manggil Ara, ada juga yang manggilnya Tia. Untung nggak ada yang manggil Saras, tinggal ditambahin 008, berubah deh meong meong, hehe. 24 tahun yang lalu terlahir dari pasangan R. Adiatma Wijaya dan Nurul Aini. Aku sebenarnya bukan anak tunggal. Aku punya seorang kakak perempuan, Elisa Putri Wardhani, aku manggilnya Kak Icha. Usianya 4 tahun diatasku, seorang kakak yang sangat baik dan sayang ke adiknya.

Namun sebuah kecelakaan tragis 15 tahun yang lalu merenggut kakakku untuk selamanya. Kak Icha yang saat itu pulang sekolah dijemput ayahku, dalam perjalanan pulang motor yang mereka tumpangi ditabrak oleh sebuah mobil yang akhirnya melarikan diri. Ayah terluka, kakinya patah, namun selamat. Kak Icha yang terlempar dari motor, helmnya terlepas dan kepalanya membentur pembatas jalan, dan akhirnya meninggal di tempat.

Sejak kejadian itu selama hampir setahun ayah sangat terpukul. Kami semua terpukul, namun ayah jelas lebih terpuruk, karena ayahlah yang membonceng Kak Icha. Keluarga besar kami nggak ada yang nyalahin ayah, karena itu memang kesalahan pengemudi mobil yang ugal-ugalan, namun ayah menghukum dirinya sendiri sebegitu beratnya. Beruntung kami memiliki seorang ibu yang begitu kuat dan tabah. Sempat terpuruk juga namun akhirnya mampu bangkit, dan kemudian secara terus menerus dan telaten memberikan dorongan kepada ayah agar bisa memaafkan dirinya sendiri.

Setahun kepergian Kak Icha, ayah mulai kembali seperti dulu, nggak lagi terpuruk dan mengutuk dirinya sendiri. Tapi ayah akan sangat marah sekali, entah saat tugas ataupun nggak, waktu lihat ada yang melanggar peraturan lalu lintas apapun itu. Bukan apa-apa, ayah hanya tidak ingin kejadian Kak Icha menimpa orang lain. Karena kecelakaan terjadi, sebagian besar disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri.

Setelah kepergian Kak Icha, kedua orang tuaku begitu protektif kepadaku. Terlihat over protected mungkin buat orang lain, tapi akunya asik-asik aja sih. Justru aku seneng bisa sedekat ini sama kedua orang tuaku, dimana mungkin banyak temen-temen yang lain kurang dekat dengan orang tuanya, atau malah ada yang justru sebel sekedar ditanya kegiatan di sekolah sama orang tuanya. Kok malah lebih senang diperhatiin sama orang lain daripada diperhatiin orang tuanya yaa, padahal kalo bukan karena orang tua kita kan kita nggak bakal ada.

Memang sedekat itulah aku sama orang tuaku. Semua curhatanku ya sama orang tuaku. Bukannya aku nggak punya teman atau sabahat, tapi aku memang lebih merasa nyaman aja kalo curhatnya tu sama orang tua. Semua hal aku curhatin, sampai ke masalah cowok sekalipun. Tapi jarang sih ada yang mau deketin aku, lha baru lihat ayahku aja mereka udah minder duluan, makanya sampai lulus SMA aku nggak pernah punya pacar.

Semasa kuliah ada beberapa cowok yang mendekatiku sebenarnya, tapi semua mentok waktu mengenal orang tuaku, terutama ayah. Entah apa mungkin karena ayah seorang polisi, atau apa aku juga kurang paham. Tapi buatku, yang mau ngejalanin hubungan sama aku ya harus tau orang tuaku juga, karena aku nggak mau cuma sekedar pacaran.

***
One day in September, 2011

Sampai akhirnya, suatu sore di food court kampusku, yang berdekatan dengan koperasi mahasiswa dan sebuah Bank BUMN. Aku sedang makan bersama temanku Marisa. Suasana food court sore itu masih cukup ramai. Aku lihat ada seorang cowok, dengan seragam Bank sebelah, sedang celingukan sambil membawa nampan yang berisi sepiring gado-gado dan segelas juice alpukat serta sebotol air mineral. Tampaknya cowok itu sedang mencari tempat duduk yang kosong, lalu cowok itu menuju ke arah kami.

“Permisi, maaf mbak, boleh saya duduk disini? Tempat lain udah penuh e,” tanya cowok itu.
Aku dan Marisa pun ikutan celingukan, dan memang meja-meja disini sudah terisi semua. Meja kami memang untuk 4 orang dan hanya kami berdua yang duduk disini.
“Oh iya mas boleh kok, silahkan,” jawab Marisa sambil bergeser duduknya ke sebelahku.
“Makasih ya mbak,” kata cowok itu, kemudian duduk di depanku.
“Iya mas sama-sama,” jawab kami bersamaan.

Hmm, cowok ini ganteng, orangnya tinggi, rapi, cukup putih untuk ukuran cowok, mungkin karena pekerjaan ya jadi penampilannya memang terlihat rapi dan menarik. Aku lihat ID cardnya, Tri Budi S.

“Oh iya, nama saya Budi, karyawan Bank sebelah,” ucap Mas Budi, sambil mengulurkan tangannya.
“Saya Ara mas,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya.
“Saya Marisa mas,” sambung Marisa.
“Kalian mahasiswa sini ya?” tanya Mas Budi.
“Iya mas, jawabku singkat.
“Ambil apa?”
“Kami berdua ambil ekonomi mas,” jawab Marisa.
“Owh, saya juga alumni sini kok, dulu ambil ilkom,” kata Mas Budi.
“Wah serius mas? Kok anak ilkom bisa masuk Bank?” tanyaku.
“Ya kan di Bank pake komputer, makanya butuh anak ilkom, kalo pake mesin ketik ya butuhnya anak itik, haha,” jawab Mas Budi ngasal, yang kontan membuat kami bertiga ketawa.

Cukup lama kami bertiga ngobrol, sampai akhirnya Mas Budi harus kembali ke kantornya. Nggak kerasa ngobrol sama dia, orangnya humoris, wawasannya luas, pinter nyari bahan obrolan yang bikin kita nggak bosen ngobrol sama dia, udah gitu ganteng lagi orangnya, hehe. Kamipun sempat bertukar pin sebelum Mas Budi beranjak dari meja.

“Ara, ganteng banget ya Mas Budi, hihi,” kata Marisa.
“Hmm, gantengan mana sama si Surya?” jawabku.
“Yaa, Surya emang pacarku sih, tapi hati kecilku mengatakan Mas Budi lebih ganteng Ra, haha,” kata Marisa sambil ketawa.
“Aah bilangin Surya aah,” godaku.
“Ihh Ara, jangan dong, kamu tau sendiri si Surya cemburuan banget gitu,” seketika Marisa manyun menanggapi godaanku.
“Hahahaha, aduh sakit Saa, hahaha,” giliran aku yang ketawa lebar sambil dicubitin Marisa.

Iya, Mas Budi emang ganteng, dan kelihatannya juga baik orangnya, udah ada yang punya belum ya, hehe. Aku kok malah jadi kepikiran sama dia yaa.

“Hayoo senyum-senyum sendiri, ngebayangin dia yaa?” gantian Marisa malah godain aku.
“Ih apaan sih Saa, nggak kok aku nggak ngebayangin Mas Budi, weeek,” bantahku.
“Lhoh, siapa yang bilang Mas Budi? Aku kan nggak nyebut nama tadi. Ciee Ara mikirin Mas Budi ciee,” jawab Marisa yang langsung ngebuat aku salah tingkah.
“Ehh,, anu itu, ehmm kan kamu tadi lagi ngebahas Mas Budi,” jawabku agak gugup.
“Hahaha, mikirin Mas Budi juga nggak papa kali Ra, siapa tau masih single. Orangnya ganteng, udah mapan juga, cocok kok sama kamu Ra,” Marisa senyum-senyum ke aku.
“Hmm, udah ah Sa, balik yuk udah mau maghrib nih,” daripada makin digodain Marisa mending pulang aja deh.
“Hahaha, kok jadi salting gitu Ra? Beneran suka yaa sama Mas Budi?” tanya Marisa sambil pinggangku ditowel-towel sama dia.
“Haduuh Marisa ih geli tauu, malah nggodain terus deh, udah ah yuk pulang,” jawabku sambil menghindar.
“Hahaha, yaudah ayok pulang, biar bisa ngebayangin Mas Budi di rumah, sambil ntar chat ama dia yaa Ra, hehe,” tuh kan, masih aja ngegodain, “Udah sikat aja Ra, ganteng gitu kok, nggak rugi deh, aku dukung 100%, hehe.”

Haduh habis aku digodain terus sama Marisa, tapi kok malah aku kepikiran Mas Budi terus ya? Apa bener aku suka sama dia? Aku kepikiran terus sama dia, sama senyumnya, sama candaannya. Apa mungkin ini yang dinamain cinta pada pandangan pertama?

***
Sebulan Kemudian

Pria ini sedari tadi nggak ngelepasin pandangannya dari wajahku, membuat aku makin tersipu, rasanya wajahku makin memerah saja. Dia memandangiku sambil tersenyum. Setelah pertemuan pertama sebulan lalu, malamnya Mas Budi mengirim BBM ke aku, dan sejak itu, setiap hari selama 2 minggu terakhir ini kami rajin BBMan. Entahlah, ngobrol via chatting aja udah kerasa nyaman buatku, menyenangkan, bikin senyum-senyum sendiri.

Sampai ibuku bertanya kenapa aku kayak gitu, ya akhirnya aku ceritakan saja awal pertemuanku dengan Mas Budi. Keesokan harinya gantian aku diinterogasi sama ayah. Kedua orang tuaku sepertinya tertarik dengar ceritaku, dan menanyakan kapan aku bisa ngenalin Mas Budi ke mereka.

Terus terang aku bingung, aku takut kalo Mas Budi berkenalan dengan orang tuaku, bisa jadi seperti sebelum-sebelumnya, cowok-cowok yang mendekatiku mundur teratur. Padahal kami juga baru saja berkenalan, belum ada apa-apa, meskipun jujur kuakui aku menaruh simpati padanya.

Sejauh ini penilaianku kepadanya, dia orangnya baik, perhatian, dan selalu nyambung kalo ngobrol. Dia juga selalu ngingetin aku kalo terlalu asik chat dengannya, jangan sampai lupa nyelesain tugas-tugas kuliahku yang semakin banyak ini. Entah, tapi aku merasa mulai menyukainya, dan tidak rela jika nantinya dia mundur teratur. Tapi aku juga nggak bisa nolak permintaan orang tuaku, karena itulah aku putusin coba untuk nyampein ini ke Mas Budi.

“Dek, kamu kenapa kok kayaknnya lagi bingung gitu? Masalah kuliah?” tanya Mas Budi menangkap kegelisahanku.
“Nggak kok mas, bukan masalah kuliah,” jawabku.
“Trus apa dong? Mungkin aja mas bisa bantu,” tanyanya lagi.
“Hmm, gimana yaa.. gini mas, tapi mas jangan salah sangka atau marah dulu ya?”
“Kenapa tho? Mau nembak aku ya?”
“Ihh apaan sih mas ge-er banget,” jawabku sewot.
“Hehe, bercanda adeek.. gimana gimana mau ngomongi apa?” tanyanya, kali ini serius.
“Gini mas, seminggu lalu kan aku ditanyain sama ibuku, gara-gara ibu beberapa kali ngelihat aku asik BBMan. Aku emang dari dulu selalu apa-apa cerita sama orang tuaku mas, sejak kejadian kakakku yang kemarin aku ceritain ke mas itu,” jelasku.
“He’em, terus?”
“Ya aku ceritain ke orang tuaku akhirnya, dari awal kita ketemu sampai kita sering BBMan, terus ayah malah pengen langsung ketemu sama mas,” lanjutku.
“Owh gitu tho, mas udah langsung ditodong nih ceritanya?” tanyanya tersenyum.
“Tuh kan mas udah salah sangka duluan, langsung deh nyimpulinnya kesitu,” jawabku sambil nundukin kepala. Terus terang aku sangat malu bilang ini ke Mas Budi.
“Bukan salah sangka dek, aku paham banget apa yang dimaksud sama ayah kamu, seorang ayah, dan ibu juga sih, pastinya nggak mau kalo anaknya salah pergaulan, makanya ya wajar aja kan kok kalo orang tua kamu pengen tau temen-temen kamu?” tanya Mas Budi.
“Iya sih mas, tapi aku bingung juga, kita kan juga belum lama kenal, masak ayah udah mau ketemu aja sama Mas Budi.”
Dia tersenyum sejenak, sebelum melanjutkan, “Dek, sampein ke ayah kamu ya, besok malem minggu mas dateng ke rumah kamu,” ucap Mas Budi yakin.
“Lhoh tapi mas, kita kan nggak….” ucapku langsung dipotong Mas Budi.
“Nggak apa? Pacaran? Punya hubungan special?”
“Hmm, yaa,, yaa gitu lah mas,” jawabku malu.
“Aku justru nggak akan macarin kamu dek, kalo aku belum ketemu dan kenal sama orang tua kamu,” ucapan Mas Budi membuatku terkaget-kaget.
“Ma… maksud mas.. apa?” tanyaku terbata-bata.
“Aku mau serius dek, aku udah capek, udah nggak mau lagi pacaran main-main, udah saatnya aku memulai hubungan yang serius, makanya nanti aku bakal ke rumah kamu, biar orang tua kamu juga tau aku seperti apa orangnya, setelah itu, setelah dapat restu dan kepercayaan dari orang tua kamu, baru aku mau macarin kamu,” jelasnya panjang lebar, aku bahkan cuma bisa ternganga, nggak bisa jawab omongannya.
“Kok diem? Kenapa? Kamu emang nggak mau pacaran ama aku dek? Emang kamu nggak suka sama aku?” tanya Mas Budi, dia sambil tersenyum tapi ucapannya itu serius.
“A.. Aku,,, tapi ki,, kita kaan baru aja kenal mas.”
“Masalah? Kalo aku sih maunya cepet aja biar kamu nggak keburu disamber orang lain, hehe.”
“Emangnya apaan pake disamber segala?” kataku sambil melengos, memalingkan muka, karena aku nggak bisa menahan senyumku.
“Kamu tambah manis kalo senyum gitu dek.”
“Huuu gombalnya mulai lagi.”
“Yee siapa yang ngegombal coba, jadi gimana? Mau kan ya?” tanya Mas Budi lagi.
“Mau apa sih mas?” aku balik nanya, sambil tetep membuang muka, menahan senyum.
“Ya mau aku pacarin lah, aku yakin kamu pasti nggak mau kan kehilangan cowok sedahsyat aku?”
Tawaku langsung pecah, aku jadi teringat film Otomatis Romantis, Tukul persis ngomong gitu ke Wulan Guritno.
“Kok ketawa gitu?” tanya Mas Budi keheranan.
“Kamu kayak Tukul mas ngomong kayak gitu.”
Dia terdiam, lalu menepuk jidatnya sendiri, “Aduh iya, salah aku ngambil contoh yaa.”

Kamipun tertawa bersamaan. Aku yang selama ini jarang bisa dekat dengan lelaki, kali ini begitu nyaman dan bisa cerita macam-macam ke Mas Budi, begitu terbukanya. Aku memandang dia memang lain, kadang bisa bercanda seperti itu, kadang bisa serius sekali dan muncul kedewasaannya. Aku berharap apa yang dia bilang tapi bukan mengada-ada atau cuma candaan aja, dan masih sambil tersenyum, di dalam hati aku berkata, ‘iya, aku mau mas.’

***
3 hari kemudian, malam minggu

Sudah hampir 1 jam orang tuaku berada di ruang tamu bersama Mas Budi, sementara aku nunggu di ruang keluarga sambil memainkan ujung-ujung kerudungku. 15 menit terakhir malah yang sering terdengar adalah tawa ayah ibuku, sepertinya Mas Budi sukses berkenalan dan mengambil hati kedua orang tuaku, dan aku yang menunggu pun cuma bisa senyum-senyum sendiri mendengar percakapan mereka bertiga.

Nduk, Ara,” ayah memanggilku.
“Iya yah, ada apa?” jawabku.
“Sini nak, ini Mas Budi mau pamit ini lho.”

Aku segera menuju ruang tamu, nampak mereka bertiga sudah berdiri, sepertinya memang Mas Budi sudah mau pulang.

“Ini lho nduk, masmu mau pulang ini,” kata ayahku. ‘Masku?’, aku langsung tersipu malu mendengar ucapan ayah itu.
“Baiklah pak kalo begitu, saya permisi dulu. Ibu, saya pamit pulang dulu,” pamit Mas Budi sambil menyalami kedua orang tuaku.
“Iya nak, hati-hati di jalan ya,” ucap ibuku.
“Yowes, kamu hati-hati di jalan Bud, dan hati-hati juga ngejagain hati anak saya,” duh ayah ini bikin aku tambah malu aja.
“Hehehe, iya pak, Budi pasti jagain Ara,” jawab Mas Budi sambil ketawa ringan.
“Dek Ara, mas pulang dulu ya,” pamitnya sambil mengulurkan tangan menyalamiku.
“Iya mas, hati-hati di jalan,” jawabku sambil meraih tangannya, dan entah gimana aku menundukan kepalaku mencium tangan Mas Budi, yang membuatnya sedikit tersentak, terkejut.
“Eh, iii,, iyaa,, mari semuanya, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab kami bertiga.

Selepas Mas Budi pergi, ayahku merangkul pundakku dan berkata, “Dia anak yang baik, sepertinya kamu nggak salah milih orang nduk.”
Aku cuma bisa tersenyum tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku bahagia, dan tidurku nyenyak sekali malam ini, ditemani impian kami, aku dan Mas Budi.

***
May, 24[SUP]th[/SUP] 2014, di kamar pengantin kami

“Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu.”
“Aku juga mas, aku juga sangat mencintaimu.”
“Akhirnya kita dipersatukan, kamu adalah wanita pilihanku sejak aku mengenalmu, dan aku bersyukur bisa memilikimu sekarang, hari ini rasanya aku jadi pria paling bahagia di dunia.”
“Kamu juga adalah lelaki pilihanku mas, aku juga bahagia sekali hari ini, sangaaaat bahagia.”

Ini adalah saat-saat paling mendebarkan dalam hidupku. Untuk pertama kalinya satu kamar dengan seorang lelaki, dan akan menghabiskan malam cuma berdua saja dengan dia. Selama pacaran memang kami sering berduaan, namun tak pernah terjadi apa-apa, paling jauh yang kami lakukan cuma sekedar ciuman, dan kadang tangan nakal Mas Budi bergerak meraba daerah dadaku, yang aku tepis dan langsung aku jewer kupingnya. Itu adalah sentuhan lelaki paling jauh yang pernah aku terima, karena memang aku belum pernah pacaran sebelumnya.

Tapi malam ini, setelah resmi menjadi istrinya, akan aku serahkan semua yang aku punya, yang aku jaga selama ini untuk suamiku tercinta. Kami masih berpelukan. Dia menatap mataku tajam sekali, begitu juga aku. Betapa bahagianya kami hari ini. Suamiku kemudian mengecup kepalaku yang masih tertutup kerudung. Mataku terpejam, dapat kurasakan ada rasa sayang yang begitu besar bersama kecupannya itu.

“Aku cuci muka dulu ya dek, mukaku rasanya tebel banget ini,” kata suamiku.
“Haha, kan make up nya tipis aja mas,” jawabku geli.
“Ya sama aja dek, wong aku ga pernah di make up gini,hehe,” jawab suamiku.
“Yaudah sana, nanti gentian aku.”

Suamiku segera masuk kamar mandi, dan aku duduk didepan meja rias. Aku mulai melepas satu persatu aksesoris yang sedari tadi menempel di gaun pengantinku. Aku juga melepas kerudungku. Ini bukan pertama kalinya suamiku akan melihatku tanpa kerudung, tapi kali ini beda, karena bukan hanya kerudungku saja yang akan aku tanggalkan, tapi seluruh pakaianku, jelas hal ini membuatku sangat grogi, sampai gemetaran tanganku.

“Ah amaan,” tiba-tiba kudengar suara suamiku dari kamar mandi.
“Apanya mas yang aman?” tanyaku heran.
“Hehe, nggak dek, ini semua kan ditaburi bunga, aku lagi ngecek siapa tau di closet juga ada bunganya, ternyata nggak ada,” jawabnya sambil terkekeh.
Astaga, aku kira kenapa, “Hahaha, haduuh mas ini ada-ada aja.”

Tak lama kemudian suamiku keluar dari kamar mandi. Langkahnya sempat terhenti waktu ngelihat aku sedang membereskan pernak pernik yang menempel di gaun kebayaku. Setelah selesai aku berdiri dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan make up di wajahku.

“Kamu cantik sekali sayang, bener-bener bidadari yang nyata,” kata suamiku.
“Ah mas ini istri sendiri masih aja digombalin,” jawabku tersipu.
“Kalo itu tadi beneran dek, lagian buat nggombalin wanita secantik kamu, aku nggak bisa nemuin kata yang cukup pantas e,” duh bener-bener yaa suamiku ini.
“Tuh kan makin jadi gombalannya, hihi,” jawabku makin tersipu, “udah ah, aku mau cuci muka dulu mas, itu tolong bunga-bunga di kasur dibersihin yaa mas, hehe.”

Dengan wajah tersipu aku segera masuk kamar mandi. Membersihkan make up tipis yang sedari tadi menempel di wajahku. Setelah itu, sambil mengeringkan wajahku dengan handuk, aku melihat ke kaca. Terlihat dari wajahku betapa gugupnya aku malam ini. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

Kupejamkan mata, mengingat kembali artikel yang pernah aku baca soal hubungan suami istri. Aku memang masih sangat lugu untuk urusan ini, karena tak ingin mengecewakan suamiku aku mulai mencari referensi tentang malam pertama, tentang memuaskan suami. Setelah agak tenang akupun keluar dari kamar mandi. Tapi begitu melihat suamiku aku jadi terkekeh sendiri. Kulihat taburan bunga-bunga yang tadi memenuhi ranjang sudah tidak ada lagi, tapi berpindah ke lantai, sehingga lantainya malah jadi berantakan.

“Hihi, kamu ini ya mas, ngebersihin ranjang tapi ngotorin lantai malah.”
“Hehe, ndak papa kan dek, yang penting kan ranjang kita bersih.. sini sayang.”

Akupun mendekat. Tiap langkahku mendekati suamiku semakin gugup saja rasanya. Aku sudah berdiri di samping ranjang, menatap suamiku yang berdiri tepat dihadapanku. Tangannya bergerak, kearah belakang kepalaku, melepaskan ikatan rambutku. Dia bergerak mendekatiku, sangat dekat, sampai bisa kurasakan hangat hembusan nafasnya.

Kedua tangan suamiku sudah berada dipundakku, sedangkan tanganku memeluk pinggangnya. Dia masih menatap mataku, membuat wajahku menghangat, merona karena malu. Wajahnya mulai mendekat, bibirnya sedikit terbuka. Deg deg deg, rasanya jantungku berdetak semakin cepat, mataku terpejam, bibirku sedikit terbuka, sampai akhirnya, CUP, bibir kami bersentuhan.

Perlahan, bibir yang hanya bersentuhan mulai saling melumat. Bibir bawahku dikulum suamiku, menyapu basah dengan lidahnya, tak mau kalah, gantian aku yang membasahi bibir suamiku dengan sapuan lidah yang lembut. Semakin lama pagutan kami semakin membasahi bibir masing-masing.

Lidah suamiku mulai masuk ke dalam mulutku, bergerak-gerak liar mencari lidahku. Begitu bertemu, lidahku langsung dikait dan ditariknya, dihisapnya lidahku perlahan. Akupun mengait lidah Mas Budi beserta air liurnya masuk ke mulutku, aku hisap pelan, tak lama karena lidah kami kembali saling membelit.

Tangan kami tak tinggal diam. Punggungku mulai mendapat usapan-usapan lembut di dalam pelukan suamiku, begitupun aku, mencoba mengimbanginya dengan usapan yang sama. Aku sama sekali tidak punya pengalaman, hanya mengandalkan naluri dan sedikit meniru apa yang dilakukan suamiku, karena referensi yang pernah aku baca dan tonton seperti hilang begitu saja tak berbekas.

Ciuman kami semakin panas dan nafas kamipun semakin terasa berat, gairah dalam diriku mulai muncul. Hawa di badanku semakin memanas mengikuti permainan Mas Budi suamiku, jantungku berdetak lebih kencang lagi. Terlebih badan kami telah menempel, terasa detakan jantung suamiku juga semakin cepat.

Tangan suamiku mulai bergerak untuk melepaskan kebayaku. Hampir saja tanganku reflek menahannya kalo nggak ingat dia adalah suamiku sekarang, pria yang berhak atas tubuhku. Justru tanganku membantunya melepaskan kebayaku saat dia melepaskan kemejanya. Kami masih mengenakan baju dalam, tangan suamiku lalu mengusap menyusuri pundakku, hingga ke bagian leher. Aduuh kurasakan geli sekali di bagian leher, sampai aku menggelinjang dan mendesah tertahan.

Di bagian bawah telingaku kurasa sesuatu yang lembek dan basah, oohh lidahnya mulai menyapu dari bawah, beranjak ke belakang dan akhirnya lidahnya dengan nakal mengorek-ngorek kupingnya. Tubuhku semakin bergetar menggelinjang dan tanganku hanya bisa meremas-remas rambutnya. Awas kamu mas, aku balas nih.

Sedikit kubuka mataku, kemudian aku balas perlakuan suamiku. Kusapukan lidahku ke bagian belakang telinganya, sambil kugigit kecil daun telinganya. Kemudian usapan lidahku semakin turun ke lehernya, lalu menyusuri untuk kembali ke bibirnya. Dan kami kembali berciuman, kini lebih panas lagi. Lidah kami saling mengait tak mau kalah, saling bertukar liur. Aku sudah mulai bisa lebih rileks kali ini.

Kami terduduk di tepian ranjang, masih berciuman dengan panasnya. Tangan Mas Budi kurasakan semakin turun mendekati bukit payudaraku, dan, “ssssshhhhh aahh masss,” dia meremas pelan dadaku. Kurasakan getaran dari dadaku menjalar ke seluruh tubuh. Tapi tak berlangsung lama, karena tangannya semakin turun meraih ujung baju mansetku, dan perlahan menariknya keatas, hingga melewati kepalaku dan akhirnya terlepas.

Pertama kalinya aku seperti ini di depan orang lain, malu rasanya, sangat malu, meskipun dengan suami sendiri. Menutupi rasa maluku, akupun bergerak melepas kaos dalam suamiku. Tapi justru aku yang semakin tersipu kini memandangi badannya yang tegap dan berotot ini. Tak lama suamiku melanjutkan aksinya, kali ini bra 34B ku pun terlepas dan dibiarkan tergeletak di lantai.

Wajahku semakin terasa memanas. Tak bisa menyembunyikan malu aku hanya bisa menunduk. Tangannya lalu mengangkat daguku, kembali kami bertatapan sejenak sebelum akhirnya berciuman lagi. Beberapa saat berciuman, aku mulai bisa merespon, badanku mulai rileks.

“Aaaaahhh masssss,” tak bisa lagi kutahan desahanku, waktu puting mungliku dipilin olehnya. Pertama kalinya aku diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Bahkan bibirnya yang sedari tadi bermain dengan bibirku mulai turun perlahan, mengecup basah leherku, semakin turun dan akhirnya sampailah ke payudaraku.

“Ssshhhh, aaaaahhh maaass, geliiiiaaahh,” semakin menjadi desashanku.
“Nikmati aja sayang, yang rileks yaa,” ucap suamiku sesaat sebelum lidahnya mempermainkan putingku. Oh Tuhan, rasanya geli sekali.

“Oooohh maassshh, ssssshhhh aaahhhhm massss,” lidahnya menyentil-nyentil putingku, sedangkan puting yang satunya lagi nggak lepas dari pilinan jarinya. Setelah itu bergantian lidahnya menjilati putingku kiri dan kanan, mengecup dan menghisapnya perlahan, membuat tanda merah. Saat salah satu putingku dihisap maka sebelahnya diremas oleh tangan nakalnya, begitu terus bergantian.

“Hhmmpphh, aaaasshh massss,” desahanku semakin memenuhi kamar ini. Badanku tak bisa diam, terus menggeliat menahan geli bercampur nikmat yang luar biasa. Lalu kurasakan tangan Mas Budi turun, mencari resleting rok ku. Tak butuh waktu lama, tangan ahlinya menarik lepas rok yang aku pakai, dan dilanjutkan dengan cepat menelanjangi dirinya sendiri, hingga saat ini kami berdua hanya tinggal memakai celana dalam saja.

Aku pasrah saja, menunggu apa yang akan dilakukan suamiku. Dia masih betah bermain dengan kedua payudaraku. Mengecup, menjilat, menghisap, meremas, bahkan aku sempat terpekik waktu dia menggigit kecil putingku dan sedikit menariknya. Dia melakukan semua itu dengan lembut, membuatku merasa nyaman.

Mulut suamiku masih bermain di dadaku, sesekali naik ke leher terus turun lagi ke dadaku, Tangannya mulai turun, mengusap perutku, lalu semakin turun dan kini telah berada di gerbang kewanitaan yang selama ini aku jaga. Masih tertutup celana dalamku, jemari Mas Budi mulai menggeseknya.

“Aakkhhh, masssshhh,” badanku menegang, seperti tersengat listrik. Sentuhan yang sangat lembut, perlahan, mengusap turun, kemudian naik lagi, begitu seterusnya membuatku semakin blingsatan. Nafasku semakin memburu, peluh membasahi badanku. Aku merasa lubang kewanitaanku berkedut-kedut semakin kencang. Sesekali jarinya menekan lubangku disela usapannya, yang membuat badanku berkejat-kejat.

“Aah massshh,, maass ngapaiihhhmm,” desahku semakin terdengar, waktu jari-jari Mas Budi mulai mengait karet pembatas celana dalamku, dan menariknya turun, hingga kain penutup terakhirku lepas. Jarinya kembali mengusap liang kewanitaanku yang kurasakan makin basah. Semakin lama usapan jarinya semakin cepat, jari-jari itu juga semakin sering menekan gerbang vaginaku, membuat vaginaku semakin berkedut.

Tubuhku semakin menggelinjang, sampai tanganku beberapa kali tak sengaja menyenggol selakangan Mas Budi. Kurasakan ada sesuatu yang mengeras disana. Setiap menyenggol segera kutarik tanganku, sampai akhirnya Mas Budi menahan tanganku di selangkangannya, sambil berbisik, “pegang dek, itu punya kamu sekarang.”

Tanganku tertahan disana, memegang batang kemaluan suamiku. Hanya memegang saja, nggak ada gerakan sama sekali. Kurasakan batang itu keras, dan besar. Mas Budi melanjutkan rangsangannya di vaginaku.

“Aaakkkhh massssshh,” aku memekik, badanku mengejang, saat jari Mas Budi menemukan tonjolan kecil di vaginaku. Sementara bibirnya masih menghisap lembut payudaraku, jarinya memainkan klitorisku, menggeseknya semakin cepat.

Libidoku semakin naik, hingga tanpa sadar tanganku bergerak mengelusi batang yang sedari tadi aku genggam, yang kurasakan semakin keras, semakin besar. Kurasakan geli dan nikmat bercampur, semakin terasa, semakin geli, semakin nikmat. Badanku begerak tak karuan, jarinya bergerak semakin cepat, aku merasa sesuatu dalam diriku menyeruak ingin keluar, sampai akhirnya, “Aaaaaaaahhhhhhhh….” lenguhku panjang. Badanku mengejang sebentar, dan langsung lemas, ada cairan yang keluar dari lubang kewanitaanku. Aku mendapatkan orgasme pertamaku.

Aku masih terengah-engah, mencoba mengatur nafasku. Mas Budi melihatku sambil tersenyum, dan kemudian melepaskan celana dalamnya. Dapat kulihat batang kemaluannya yang besar dan panjang, sudah sangat keras berdiri menantang. Aku sempat bergidik, takut, apa batang sebesar itu bisa kutampung di vaginaku?

Mas Budi mengecup kembali bibirku, kami berciuman dengan panasnya. Jari-jarinya mulai beaksi lagi. Kali ini jari tengahnya berada tepat di bibir kemaluanku, menggeseknya perlahan. Kemudian kepala Mas Budi turun, mampir sebentar menghisap kedua payudaraku, lalu turun lagi hingga ke perut, berhenti disana, dijilatinya pusarku. Aku yang kegelian hanya bisa menggeliat sambil memegangi kepala suamiku.

Tak lama diturunkan lagi wajahnya, kali ini tepat didepan bibir kemaluanku, setelah kedua tangannya menekan melebarkan kakiku. Kulihat wajahnya, seperti memandang takjub bagian itu.

“Mass, jangan dilihatin gitu dong, Ara malu,” ucapku sambil berusaha merapatkan pahaku, namun ditahan tangan suamiku
“Malu kenapa dek? Masak sama suami sendiri malu?”
“Iyaa tapi jangan diliatin gitu dooong,” bibirku manyun, aku merajuk
“Hehehe, indah banget dek,” tawa suamiku

“Aaahhhh…massss, kamu apaaaain vaginaku oougghh, jangan aaakkhh kotor masssss,” tiba-tiba kurasakan lidah suamiku menyapu liang vaginaku dari bawah ke atas, lembut sekali

“Aaauugghh,, massshh aaaahhhhh geliiii maaashhhhhh,” bukannya berhenti, dia mengulangi lagi jilatan itu bibir kemaluanku, sesekali dihisap-hisap lembut, membuatku gerakan tubuhku semakin tak karuan. Tanganku semakin kencang meremas dan menjambak rambut suamiku.

“Aaarrrrghh,, massshh kamu ngapaaaiiin oouhhh maaashhhhhh,” kurasakan lidahnya menemukan tonjolan kecil di vaginaku, kemudian langsung dihisapnya lembut. Badanku tak bisa diam, terus menggelinjang, pantatku terangkat, rangsangan yang kurasakan di vaginaku menyebar cepat keseluruh tubuh, rasa geli yang teramat. Lama dia memainkan lidahnya di vaginaku.

“Sayaaanghhh, aaaahhh akhuuuu mauu keluaaarrhhhhh…” sret sret sret. Kurasakan cairanku keluar beberapa kali yang langsung disambut hisapan suamiku. Badanku menegang sesaat, lalu lemas. Dadaku naik turun seiring nafasku yang masih terengah-engah.

“Gimana dek? Enak?” tanya suamiku sambil tersenyum membelai rambutku.
“Hhhh, iyaa mas, enak, hhhh,” jawabku tersipu.

Mas Budi masih membiarkanku mengatur nafas, sambil terus membelai rambutku dan mengecup ringan keningku. Setelah nafasku normal, aku meliriknya sambil tersenyum, sambil berkata,

“Awas kamu ya mas, aku balas,” ujarku sambil tanganku menggenggam batang kemaluannya.
“Ehh dek kamu mau ngapain?” tanyanya kaget.
“Udah mas nikmatin aja,” jawabku.

Aku lalu membelai lembut batang itu, aku kocok perlahan. Suamiku mulai mendesah. Lalu aku turunkan posisi tubuhku perlahan. Aku ciumi lehernya, sedikit menghisap untuk membuat jejak disana, lalu turun lagi mencumbui dadanya yang bidang, hingga kepalaku sejajar dengan selangkangan suamiku yang saat ini sedang berbaring.

Sesaat kutatap batang besar dan panjang yang aku genggam ini. Takjub, inilah pertama kali aku melihat dan menyentuh langsung kemaluan seorang pria. Kuikuti naluriku, dan beberapa artikel yang pernah kubaca. Kocokanku sepertinya membuat batang itu semakin mengeras, dan disela kocokan itu aku mendekatkan kepalaku ke ujung kemaluan suamiku.

“Oouhh sayang,” desah suamiku, saat aku mengecup ujung penisnya. Kujulurkan ujung lidahku menyentuk lubang kecil di ujung penis itu. Kulirik wajah suamiku sambil terus menjilati kepala penisnya, dia tersenyum tertahan. Tangannya mengelusi kepalaku.

Aku beranikan diri untuk menjilati seluruh batang kemaluan ini. Mulai dari pangkal hingga ke ujung, kulakukan berulang-ulang, sambil tetap tanganku mengocok dan sesekali meremas penis panjang ini. Tatapan mataku terus melirik suamiku, ada rasa bangga, dan bergairah, saat kulihat suamiku merem melek menikmati jilatanku.

Setelah seluruh permukaan penis itu aku jilat, aku lalu membuka lebar mulutku, dan mencoba memasukan kepala penisnya, hingga terus ke dalam. Namun baru separuhnya saja sudah terasa mentok. Rasanya agak aneh, sempat sedikit mual saat penis itu masuk ke mulutku.

Mungkin memang karena baru pertama kali ini aku lakukan, jadi masih agak kesulitan mengulum kemaluan suamiku. Sekali lagi kuarahkan pandangan mataku ke suamiku, dia terlihat kaget, melihat istrinya yang lugu sedang mengulum kemaluannya.

Perlahan kunaik turunkan kepalaku, dan tanganku mengocok bagian penis yang tidak sampai masuk ke mulutku. Kukulum batang kemaluan itu sebisaku, kuhisap perlahan sambil lidahku kumainkan di ujung penisnya. Kucoba sebisa mungkin tidak terkena gigi. Aku tau, ini bukan pertama kali suamiku diperlakukan seperti ini, karena itulah aku mencoba sebaik mungkin.

“Ouughh sayang, enak banget yaaang,,” desahan suamiku sambil sedikit meremas kepalaku. Tak berapa lama aku melepaskan kulumanku dan mengecup mesra ujung penisnya.

“Kamu suka mas?” tanyaku.
“Suka banget dek, kamu belajar darimana?” tanya balik suamiku
“Ada deh, yang penting mas suka,” jawabku.

Aku merangsek naik mencium bibirnya. Lidah kami saling kait lagi. Suamiku membalikkan tubuhku dan menindihku. Mulai mencumbu lagi dari seluruh wajahku. Telingaku tak luput dari sapuan nakalnya. Lidahnya lincah menyusuri bagian bawah telingaku, menuju leher dan kembali menyapunya. Peluhku dan liurnya bercampur. Kurasakan dia membuat beberapa cupangan lagi di leherku.

Bibirnya semakin turun, mencaplok payudaraku. Kali ini dia menciuminya dengan bernafsu, sesekali digigit kecil di sekitar area areolaku, meninggalkan bekas-bekas merah disana. Jari-jari nakalnya menggesek bibir kemaluanku, hingga kurasakan kembali lembab oleh cairan pelumasku.

Dengan gerakan kakinya dia mengisyaratkan untuk membuka kakiku. Aku mengerti, kubuka kakiku lebar, lalu dia memposisikan dirinya merapat ke tubuhku. Dapat kurasakan batang pejal itu di atas vaginaku, menggesek-gesek menimbulkan rasa geli buatku. Dia menurunkan posisi tubuhnya, hingga ujung kepala penis itu kini bergesekan dengan bibir vaginaku.

“Ssshhh aahhh sayaangghhh,,” aku mendesah, geli sekali rasanya.
“Adek, mas masukin sekarang yaa?” tanya suamiku berbisik di telingaku.
“Hhmmp, masukin massh, ambil mahkotaku mas, yang selama ini aku jaga buat kamu.. ambillah Tri Budi Septianto,” jawabku penuh kepasrahan.

Ya, malam ini dengan penuh kepasrahan dan penerimaan, kuserahkan segala yang telah aku jaga selama 24 tahun ini untuk suamiku. Seorang lelaki yang amat aku cintai, seorang lelaki yang aku cintai semenjak pertama kali bertemu. Seorang lelaki yang mulai malam ini akan menjadi tempatku berbakti.

“Tahan ya dek, sedikit sakit di awal, kamu yang rileks, mas bakal pelan-pelan,” ucap suamiku.
“Iyaa mas, masukin aja, pelan pelaa,, oughh masss,” belum selesai aku bicara, kepala penis suamiku menyeruak masuk, membelah bibir vaginaku, yang selama ini belum pernah dimasuki benda apapun.

“Sakit dek?” tanya suamiku.
“Dikit mas, bentar, pelan-pelan mas,” jawabku terpejam, mencoba membiasakan diri.
“Mas mulai lagi yaa?” aku hanya mengangguk, masih terpejam.

Kembali kurasakan batang besar itu masuk, perlahan, sangat pelan, semakin masuk, mulutku terbuka tak bersuara, mataku semakin terpejam menahan rasa sakit di vaginaku.

“Oouhh masssh, tahaan dulu mass,” pintaku.

Kembali didiamkan penis itu untuk beberapa saat. Setelah melihat wajahku tak setegang tadi, dan jepitan di vaginaku yang sudah terbiasa, dia menarik mundur penisnya, kemudian mendorongnya maju, lalu mundur lagi, maju lagi, begitu seterusnya. Semua itu dilakukan dengan sangat perlahan, membuatku bisa menikmatinya dan tidak lagi terasa sakitnya.

“Aaahh mass, ouuh aaahh,, hhmmmphh,” mulutku mulai mendesis menikmati setiap gerakan-gerakan suamiku.
“Udah nggak sakit dek? Udah kerasa nyaman?” tanya suamiku memastikan.
“He’em, udahh enakan massh,” jawabku sambil mendesis.
“Mas lanjutin yaa?”
“Iyaa massshh.”

“Uuugghhh,, sshhhhh,, maaaasshhhhh,” pekikku pelan, saat penisnya semakin masuk dan tampak tertahan sesuatu, sepertinya selaput daraku.
Mas Budi mendiamkan lagi, sambil sesekali menarik penisnya maju mundur perlahan, membuat vaginaku beradaptasi dengan penis besarnya.

“Pelaan massh, penis mas besar banget.”
“Iyaa sayang, mas pelan-pelan kok, vagina kamu nikmat banget sayang,” Mas Budi mengecup keningku menenangkanku.

“Mas lanjut lagi ya sayang, ini akan terasa sedikit sakit, kamu tahan yaa sayang,” ucapnya.

Aku sekali lagi hanya mengangguk, inilah saatnya, aku lepas mahkotaku, kuberikan kesucianku untuk suamiku tercinta. Kemudian kurasakan Mas Budi menarik sedikit penisnya, dan, breettt…

“AAAAARRRGGGGHHHHH……….. maassssshhhhh,” erangku panjang.

Sakit. Kurasakan ada yang robek di dalam vaginaku. Sakit sekali, hingga tak terasa disudut mataku meleleh air mataku. Tanganku langsung memeluk erat tubuh kekar suamiku, kedua kakiku pun ikut membelit pinggangnya. Suamiku memelukku erat. Bibirnya mengecup bibirku, menahan rintihanku, memberikan sedikit cumbuan, agar aku lebih rileks.

Penisnya hanya didiamkan saja, menunggu. Seluruh batang penis suamiku masuk tertelan vaginaku yang sempit. Penuh sekali rasanya, hingga vaginaku berkedut-kedut dengan cepat, meremasi setiap inchi permukaan penis itu. Tak kusangka lubang mungilku bisa menampung batang besar itu.

Kami masih berpelukan. Masih terdiam tidak bergerak. Hanya bibir kami yang masih saling berpagutan. Kurasakan sakit di rongga vaginaku semakin berkurang. Mungkin suamiku merasakannya juga, hingga tak lama berselang, dia menggerakkan pantannya secara perlahan.

Dapat kurasakan, gesekan dinding vaginaku dengan permukaan penisnya, ketika penisnya ditarik keluar, hampir keluar dari vaginaku, kemudian dimasukan lagi perlahan hingga mentok, ditarik lagi, didorong lagi, hingga sama sekali tidak terasa sakit di vaginaku.

“Aaah,, uuughhhhh,, ooohhhhhh,, oohhhh,, hhmmmmpp,, oooohhhh,” aku semakin merintih menikmati sodokan demi sodokan penis suamiku. Dia melakukannya dengan pelan, sangat telaten, sehingga rasa sakitku kini tergantikan oleh sebuah kenikmatan yang luar biasa. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata, tapi sangat nikmat.

“Oouuuh sayang, nikmat sekali yaang,” ceracau suamiku.
“Aaah sungguh luar biasa vaginamu deekhh, oooohh.”

Mendengar itu, aku merasa bangga, dan juga bergairah, bisa memberikan kenikmatan kepada suamiku, hingga akhirnya secara naluriah, aku mulai sedikit menggerakan pinggulku mengikuti gerakan suamiku. Aku ingin total memberikan diriku padanya, aku ingin memberikan kenikmatan seutuhnya pada suamiku.

Kurasakan gerakan penis suamiku semakin cepat, menarik dan mendorong penisnya dengan bantuan carian pelumasku. Akupun semakin cepat mengikuti irama goyangannya. Kemudian melambat lagi, tapi menusuknya lebih dalam ketika lambat.

Ketika bergerak cepat tusukannya tidak terasa sampai dinding rahimku. Begitu terus gerakan suamiku seperti sebuah kombinasi yang sangat nikmat kurasa. Tanpa sadar goyangan pantatku mengikuti setiap irama sodokan suamiku.

“Ooouuhh masss,, aaahh,, aaahhh,, teruss mass,, adeek mau pipiss masss, aahh,” kurasakan didalam sana ada yang mau meledak seperti tadi saat kemaluanku dijilati oleh suamiku.

“Keluaarin aja dek, keluarin aja, bebasin diri kamu dek,” ucap suamiku seraya mempercepat goyangannya.

“Oooh teruss maasss,, oohh,, aahhh,, aaaahhh masss, adek keluar masssss, aaaaaahhhhh,” badanku mengejang, kaku, memeluk tubuh Mas Budi dengan sangat erat.

Oh Tuhan, ini jauh lebih nikmat daripada orgasmeku tadi, sangat nikmat. Aku masih memeluknya, dia pun masih mendiamkan saja penisnya memenuhi rongga vaginaku. Lubang itu masih terasa berkedut setelah baru saja mengeluarkan cairan cintaku. Nafasku masih ngos-ngosan. Ini sangat nikmat.

Suamiku mulai memaju mundurkan penisnya lagi dengan irama yang tidak beraturan, kadang perlahan, kemudian cepat, sangat cepat, lalu perlahan, sangat pelan, tiba-tiba cepat kembali. Selama sekitar 10 menit diperlakukan seperti itu, membuat tubuhku mengejang merasakan orgasme lagi.

Badanku sudah lemas, pelukanku mulai mengendor. Tiba-tiba tubuhku dibaliknya tengkurap hingga penisnya terlepas. Dibuka sedikit kakiku, pantatku sedikit diangkat olehnya, diarahkan lagi penis itu ke lubang vaginaku, kemudian digenjot lagi perlahan, sambil dia mengecup tengkukku.

“Aaaah,, aahhh,, geliii maasssshh aahhh,, ahhh,” terasa nikmat di selangkanganku bercampur dengan geli ditengkukku. Ditambah lagi tangannya mulai menggerayangi payudaraku, diremasnya pelan-pelan. Semakin nikmat kurasakan hingga aku hanya bisa mendesah dengan mata yang terpejam. Pantatku merespon dengan bergerak naik turun mengikuti gerakannya.

Dihentikan genjotannya itu, lalu pantatku ditarik semakin keatas. Aku menumpukan badanku pada kedua lutut dan siku. Mas Budi pun berdiri dengan bertumpu pada lututnya. Lalu dia mulai menggenjot lagi vaginaku dengan tempo pelan, tangannya memegang pinggulku erat. Gerakannya semakin cepat. Penisnya semakin terasa memenuhi rongga vaginaku. Pantatku maju mundur mengikuti gerakannya.

Plok plok plok plok. Sodokan demi sodokan yang kuterima semakin cepat. Sesekali tangan Mas Budi meremas pantatku yang sekal. Kali ini aku tak mampu bertahan lama, kurasakan cairan cintaku mulai terkumpul lagi serasa ingin keluar. Sodokan suamiku semakin kencang, hingga akhirnya tubuhku mengejang lagi, melengkung ke atas.

Wajahku pun terdongak, bibirku terbuka tanpa mengeluarkan suara membentuk huruf O. Tanganku bergerak memegang tangannya, memberi isyarat untuk menghentikan goyangannya. Aku klimaks lagi.

Setelah itu tubuhku lunglai tak berdaya, tulangku seperti dilolosi. Nafasku makin ngos-ngosan. Tapi belum ada tanda-tanda suamiku akan mencapai puncaknya, padahal aku sudah lemas sekali. Plop, dia mencabut penisnya, lalu membalikkan tubuh lemasku terlentang kembali.

“Gimana sayang? Lemes yaa?” tanyanya sambil tersenyum.
“Hhhsss,, hhhsss, iya mas, adek lemes banget, tapi,, nikmat banget mass,, hhhss,” jawabku terengah-engah.
“Mas kok kuat banget sih, adek aja udah lemes gini?”
“Hehehe, iyaa dong dek, suamimu ini kan perkasa,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum, bahagianya punya suami yang demikian perkasa.

“Lanjut yaa dek, masih kuat kan?” tanyanya setengah meledek.
“Iyaa mas lanjutin, adek masih kuat kok, weeek,” jawabku sambul memeletkan lidah.

Dia tergelak mendengar jawabanku, lalu membuka kembali kedua kakiku, mengangkatnya dan menaruhnya di kedua pundaknya. Kemudian mengarahkan kembali penisnya ke bibir vaginaku. Meski sudah begitu basah karena aku sudah berkali-kali orgasme, namun tetap saja agak sulit batang itu masuk, karena memang ukurannya yang menurutku sangat besar dan panjang.

Penis Mas Budi perlahan mulai memasuki vaginaku, dipentangkan lebar kedua kakiku, kemudian dia menggerakan pinggulnya menyodoki lubangku. Kali ini dengan tempo yang lebih cepat.

“Oooohh,, aaaahh,, enaak masssh,, ouugghh terusss masshh,” aku mendesah, kini tanpa malu-malu lagi. Genjotan suamiku semakin cepat. Kedua kakiku mengangkang. Tangannya menggenggam kedua tanganku. Payudaraku bergerak naik turun dengan cepat seirama dengan sodokan suamiku. Hampir 5 menit terus bergerak dengan irama yang konstan, aku merasa akan mencapai puncak lagi.

“Aaaahh,, aaahhh,, teruss mass, adek mau keluar lagi mass,, aahhh,, oouuggh,” pintaku tanpa malu-malu.
“Ahhh gimana dek? Enak bercinta sama mas? Aaahh,, ahhh,” tanya suamiku.
“Iyaaah massh, enaak bangetthhh, nikmaaatt masssshh,” jawabku disela desahanku.
“Mass,, aahhh adek mauu keluaar mass,, aahhh,, aaaahhh,, massss, adek keluaaaarrrrhhhh,” pekikku menyambut puncakku yang kesekian kalinya.

Tapi kali ini dia tidak mengentikan sodokannya, nampaknya Mas Budi sebentar lagi juga akan mencapai puncaknya. Akupun dengan sisa-sisa tenagaku mengimbangi gerakan suamiku dan juga menggerakkan otot-otot di dinding vaginaku, meremas-remas penis suamiku.

“Aaahh,, aaahh,, deek, mas juga mauu keluaar dek, teruss remes kontolku dek, ahh aaahhh,” ucap Mas Budi, goyangan pantatnya semakin cepat, hingga akupun merasakan aku akan mendapat klimaks lagi.
“Adek juga mau keluar rasanya maasssss, ooohhhh terus massh, aaahh,, aaahhh.”
“Tungguin mas dek, kita keluar barengan, aahhh.”
“Adeekk nggak tahan masssh, adeek keluaaarr massssshh.”
“Aaarrghhhh mas jugaa deeeek, mas keluaaaaaaaarrrgggghh.”

Crot crot crot crot crot. Mas Budi menancapkan sedalam-dalamnya penis itu ke vaginaku. Kurasakan dinding rahimku mendapatkan semburan yang kencang berkali-kali, entah berapa kali aku tak menghitungnya. Semburan yang sangat banyak, dan terasa hangat sekali, hingga akupun mendapatkan orgasmeku yang luar biasa, jauh lebih nikmat daripada yang sebelum-sebelumnya.

Tubuh kami berdua mengejang, kepalaku tengadah, mulutku terbuka lebar, menikmati apa yang baru saja aku dapatkan. Suamikupun begitu. Matanya terpejam, tubuhnya menegang, penisnya didalam vaginaku masih berkedut. Kami menikmati klimaks yang luar biasa kali ini.

Tak lama tubuhnya lemas, ambruk ke tubuhku, aku menyambutnya dengan pelukan hangat. Senyum tersungging di bibirku. Aku merasa sangat bahagia, bersyukur sekali, bisa membahagiakn suamiku, bersyukur bisa memuaskannya. Semoga selalu begini, semoga aku selalu bisa memuaskan suamiku, semoga bisa menjadi istri yang selalu membahagiakan suamiku, karena buatku, dia suami yang hebat.

***
POV Budi

Luar biasa. Malam ini aku menjalani malam pertamaku dengan luar biasa. Mendapatkan istri secantik bidadari, yang kini terbaring lemas dipelukanku. Tanpa busana, badan penuh peluh, leher dan dada yang penuh dengan cupanganku. Dan lubang sempit yang baru saja aku sembur dengan benih-benihku. Sungguh beruntung aku memiliki keindahan ini. Dia, Tiara Dharma Saraswati, istriku, yang sekarang boleh kalian panggil dengan sebutan Nyonya Budi.

Aku memang bukan sekali ini saja berhubungan badan. Dengan mantan-mantanku dulu aku sering melakukannya. Dan dimasa-masa pacaranku dengan Ara, aku juga masih melakukannya dengan seseorang. Well, aku nggak munafik, aku memang menjaga Ara agar tetap suci hingga kami disahkan menjadi suami istri. Tapi nafsuku yang tinggi butuh pelampiaskan. Dan seseorang yang sudah kukenal dan kugauli sejak sebelum aku mengenal Ara, masih menjadi tempatku memadu kasih melepas gairah.

Namun kini, aku merasa begitu puas dengan apa yang istriku berikan ini. Dia bisa melayani, dan mengimbangi urusan ranjangku dengan baik. Ini adalah pengalaman seks ternikmat yang pernah aku rasakan selama ini. Ara adalah wanita ketiga yang robek selaput daranya oleh penisku, dan orang kesekian yang merasakan penisku dalam kulumannya, namun kali ini beda, ini benar-benar nikmat. Memiliki pasangan seindah ini, apa mungkin aku masih mencari pelampiasan lain?

Penisku masih menancap di dalam vaginanya. Tubuh kami masih berpelukan, peluh yang saling menempel, turut merasakan juga nafas kami yang masih ngos-ngosan.

“Terima kasih istriku sayang, ini benar-benar luar biasa, nikmat sekali,” ucapku tulus.
“Iyaa mas, sama-sama. Awalnya sakit banget, tapi lama kelamaan aku bisa menikmati, aku benar-benar menikmatinya mas,” sambut Ara, dengan wajah tersipu yang ia tenggelamkan ke dada bidangku.

Kurasakan penisku semakin mengecil, dan akhirnya, plop, terlepas dari vagina Ara. Aku terduduk, kupandangi lembah indah milik istriku itu, merah merekah, begitu indahnya. Lalu cairan spermaku yang tadi aku semburkan banyak sekali, beberapa keluar melalui celah sempit itu, bercampur warna putih dan merah.

Kulihat di sprei putih di bawah selangkangan istriku, nampak beberapa bercak merah. Bercak darah keperawanannya. Aku tersenyum bangga. Bukan bangga karena mendapatkan perawan lagi, tapi bangga bahwa istriku adalah wanita yang benar-benar menjaga kesuciannya. Sebentar aku memandangi tubuh Ara yang masih terlentang dengan mata terpejam. Aku kemudian beranjak hendak ke kamar mandi.

“Lhoh mas mau kemana mas?” tanya istriku.
“Bentar dek, mau ke kamar mandi,” jawabku.

Tak ada jawaban dari istriku, akupun ke kamar mandi untuk buang air kecil. Di kamar mandi aku teringat sesuatu. Aku tadi berpesan kepada kakak keduaku untuk mengurusi masalah catering, kira-kira sudah apa belum ya? Aku melirik jam dinding, sudah jam 1 pagi, itu artinya aku sudah bergumul 1 jam lebih dengan istriku. Hmm, kira-kira kakakku sudah tidur belum ya? Ah sebaiknya aku coba telpon ajalah. Aku mencari handphone ku, dan segera menelpon kakakku. Istriku yang memperhatikan tingkahku diam saja.

Hallo,”
“Hallo mbak, assalamualaikum,” salamku
Waalaikumsalam,, kenapa Bud?” tanya kakakku
“Eh maaf mbak ngganggu, mbak udah balik hotel? Aku cuma mau nanyain masalah catering tadi udah belum yaa?” tanyaku lagi.
Eehhhmm, iyaa Bud ini lagi diurus Budh, ini mmmbak masih ditempatth acara kamuuh tadi,” kudengar suara kakakku kok agak aneh ya.

Belum sempat aku bertanya lagi, samar-samar terdengar suara aneh di belakang kakakku.
hhmmm,, ahhhh,, ouhhh.”
“Eh mbak masih disitu tho? Ntar pulangnya gimana?” tanyaku.
Mbak kan bawaahhh mobil sendiri tadi Budhh eeehhhhh,” jawab kakakku. Aku makin curiga dengan suara-suara itu, apalagi kakakku terdengar seperti mendesis.

“Mbak, Mbak Rena, itu suara-suara apa sih mbak?” tanyaku terus terang.
Suara apa thhoo Bud?,” kakakku bertanya balik.
“Ituu suara-suara dibelakang mbak itu,” jelasku.
Oouuhh enggak kok Bud, ituuh orang-orang catering lagi padaah beres-beres,” jawab kakakku.
Udaahh yaa Bud, kamu lanjutin aja belah durenmu, ahhhh, assalamualaikum,, tuut,, tuut,, tuut,” kakakku menutup telponnya.

Aku mengernyitkan dahi, suara apa itu tadi? Seperti suara orang bercinta. Apa mungkin kakakku sedang bercinta? Tapi sama siapa? Suaminya kan nggak ikut kesini karena ada dinas di luar pulau sana.

“Mas, ada apa? Abis telpon kok bengong gitu?” tanya istriku membuyarkan lamunanku.
“Ah nggak kok dek, ini abis nelpon Mbak Renata, masalah catering kita tadi kan aku minta tolong Mbak Renata yang mengurusnya,” terangku.
“Terus? Emang tadi ada masalah mas?” tanya istriku lagi.
“Nggak kok dek, aman-aman aja semuanya,” jawabku sambil memeluk tubuh istriku yang masih tergeletak telanjang.

Aku bisikan ke dia, “Gimana tadi dek? Nikmat nggak?” tanyaku ke istriku.
“Ih mas nanyain lagi, udah dibilang nikmat banget kok,nih sampai lemes gini aku?” jawab istriku sambil manyun bibirnya.

“Hehehe, masih lemes dek?” tanyaku sambil mengelus-elus pundaknya.
“Yaa masih lumayan sih mas,” jawab istriku. Wah dia belum paham apa yang aku maksud ternyata. Kubisikan di telinganya.

“Dek, lagi yook, masih kuat nggak?” tanyaku sambil meremas payudaranya.
“Hhmmm, mau lanjut lagi mas? Ayok, adek masih kuat kok,” jawabnya sambil melirik ke arahku dan tersenyum. Kombinasi sempurna, wajah yang ayu, dan senyuman yang cantik sekali.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part