. Mengalahkan Gadis Part 18 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 18

0
20

Mengalahkan Gadis Part 18

Don’t Mess With The Princess

Beberapa Hari Sebelumnya
Di Rumah Ramon

Beti yang sedang berada di rumah, nampak sedang asyik membersihkan kebun bunga kecil-kecilan yang dia buat di halaman rumahnya. Jaman-jamannya booming tanaman hias hingga saat itu harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta per pot memang sudah lama terlewat, namun kegemarannya memelihara bunga tetap tak berubah sampai sekarang. Beberapa jenis tanaman hias hingga beberapa spesies anggrek langka dapat dijumpai di kebun kecilnya ini.

Sedang asyik menyirami bunga-bunga kesayangannya, terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumahnya yang memang cukup luas. Beti melirik ke arah datangnya mobil itu, ternyata Hendri, nampaknya dia bolos kerja lagi hari ini. Apalagi kalau bukan untuk bersenang-senang dengan dirinya. Memang sudah beberapa kali selepas Hendri mengantar istrinya ke kantor, namun dia tak meneruskan perjalanan ke tempat kerjanya, justru berbelok ke arah rumah Beti ini.

Ramon, suami Beti tahu hal ini, namun membiarkan saja. Semakin dibiarkan maka akan semakin Hendri masuk ke dalam pengaruh Ramon, hingga memudahkannya untuk dijadikan boneka penurut oleh Ramon maupun Beti. Dan datangnya Hendri pagi ini ke rumah Beti pun sudah mereka atur, untuk membicarakan sebuah rencana busuk yang akan mereka jalankan akhir pekan ini.

Sebelum berangkat bekerja pun Ramon sudah memberi tahukan kepada Beti apa-apa saja yang harus disampaikan kepada Hendri. Tentu untuk orang baru seperti Hendri, tak bisa semuanya disampaikan secara gamblang. Bagi Hendri yang penting adalah bagaimana dirinya bisa mendapatkan wanita yang telah dia targetkan sebelumnya, lebih dari itu bukanlah menjadi urusannya.

“Nggak ngantor lagi kamu Hen?” tanya Beti.

“Hehe, nggak mbak, lagi males, lagi pengen kelonan sama mbak aja,” jawab Hendri.

“Kamu ini udah dibilangin, kita ini kan seumuran, jangan manggil mbak mbak gitu ah,” ujar Beti.

“Biar aja sih mbak, kan biar ada kesan khusus gimana gitu tiap aku ngelonin Mbak Beti, haha,” jawab Hendri sekenanya.

“Ah dasar, terserah kamulah. Masuk dulu sana, aku mau beresin ini dulu, sekalian nanti ada yang mau aku bicarain.”

“Oke mbak, cup,” jawab Hendri, sambil mengecup pipi Beti sesaat sebelum meninggalkannya.

Hendri pun segera memasuki rumah dan duduk menunggu Beti di ruang tamu. Dia memainkan ponselnya, mengabari rekan kerjanya untuk ijin tidak masuk kerja karena kurang enak badan. Setelah itu dia membuka folder galeri, dan memandangi beberapa foto Lia yang sempat dia ambil dari ponsel istrinya secara diam-diam. Hendri tersenyum-senyum sendiri membayangkan tak lama lagi dia akan bisa menikmati tubuh indah sahabat istrinya itu.

“Udah gila ya kamu, senyum-senyum sendiri,” ujar Beti mengagetkan Hendri.

“Duh mbak, ngagetin aja tho,” jawab Hendri sewot.

“Lagian, liatin ponsel aja senyum-senyum gitu kamu, liatin apaan sih emang?” tanya Beti.

“Nih…” jawab Hendri sambil menunjukkan foto Lia di ponselnya.

“Oalaah, ada yang udah nggak tahan ini rupanya, haha,” sahut Beti.

“Haha iya ini mbak, jadi gimana rencana kita nanti?” tanya Hendri.

“Gampang, itu udah diatur semua. Kamu tinggal ngebujuk istri kamu supaya bisa ngajakin Lia dan Ara. Aku sih berharapnya mereka bakal pergi sendiri-sendiri tanpa suami mereka, tapi nggak tahu juga kalau suaminya nggak bisa, mereka boleh ikut apa nggak. Itu tergantung gimana istrimu bisa ngajak mereka.”

“Oh masalah itu, biar nanti aku omongin sama istriku mbak. Trus, disananya gimana?” tanya Hendri.

“Oke jadi gini. Kita berangkat sabtu pagi, kira-kira sampai sana sebelum jam 12 siang. Nah nanti nyampai sana, kita beresin dulu barang-barang, baru kita main-main di pantainya. Terserah deh mau sampai jam berapa, yang penting malemnya kita ngumpul makan malam bareng,” ujar Beti menerangkan rencananya.

“Nah di makan malam itu nanti, semua makanannya kita kasih obat tidur, dengan dosis yang bisa ngebuat mereka nggak bangun sampai keesokan harinya. Sedangkan kita bertiga, nanti kita minumm dulu obat ini (sambil menunjukkan beberapa butir pil warna putih), obat ini bakal ngebuat kita nggak terpengaruh sama obat tidur itu. Nah begitu mereka semua tertidur, terserah deh mau ngapain,” lanjut Beti.

“Oh jadi gitu, terus besoknya, waktu mereka udah bangun, gimana mbak?”

“Ya liat entar kalau itu, yang pasti sih bakal ada drama. Tapi tenang aja, kalau kamu pengen aman, ya kamu rekam lah waktu ngentotin si Lia, biar kamu punya senjata kalau nanti dia macem-macem,” jawab Beti.

“Oke deh, trus si Ara gimana mbak?” tanya Hendri lagi.

“Itu urusan Mas Ramon, aku juga belum tahu rencananya,” jawab Beti berbohong.

“Ya udah deh kalau gitu, yang penting aku bisa ngentotin Lia aja, siapa tahu Ramon mau bagi-bagi memeknya Ara, haha,” ujar Hendri.

“Halah, kamu ini maruk banget sih Hen, haha. Ya udah ah, aku mau mandi dulu, udah lengket semua badanku,” Beti beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi.

“Sini mbak, aku mandiin aja, sekalian mbak mandiin kontolku juga, haha,” Hendri pun segera menyusul Beti yang sudah berlari ke kamar mandi, sambil melucuti pakaian yang dia kenakan hingga telanjang bulat.

Beti jelas tahu semua rencana ini dengan jelas. Apa yang akan diperbuat Ramon kepada Ara, bagaimana nanti kelanjutannya setelah mereka sadar. Itu semua sudah mereka perhitungkan dengan matang. Ramon bahkan sudah merekayasa beberapa kondisi yang nantinya akan membuat suami dari Lia dan Ara tidak bisa mengikuti liburan mereka kali ini. Semua telah disiapkan dengan baik oleh Ramon, seperti biasanya, kecuali satu hal.

***

Nowadays

Perasaan Budi malam ini agak kurang tenang. Setelah tadi sempat dihubungi oleh istrinya dan saling berukar kabar sejenak, dia sudah ingin tidur sebenarnya, karena kegiatan hari ini yang cukup padat dan membuatnya lelah, fisik maupun pikiran. Namun baru saja tidur sebentar dia terbangun lagi, sesaat yang terpikir olehnya adalah istrinya. Ingin dia menghubungi istrinya lagi, tapi tadi Ara sempat bilang kalau mau istirahat lebih awal karena kelelahan bermain di pantai sesiangan.

Perlahan dipejamkan lagi matanya, namun tak dapat terlelap. Apakah terjadi sesuatu pada istrinya? Dia bangkit dari ranjangnya dan mengambil air minum untuk menyegarkan kembali tenggorokannya. Saat pikirannya sedang mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh istrinya tiba-tiba saja ponselnya berdering, dia berharap itu dari Ara. Diraih ponselnya, namun ternyata yang menghubunginya adalah Sakti.

“Hallo Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Cing, lu lagi di Jakarta ya

“Eh iya Sak, duh sorry aku lupa ngabarin.”
“Yee gimana sih lu. Ya udah ketemuan yuk, nginep dimana lu

“Oke deh, aku di hotel Orchard.”
“Ya udah tunggu di lobby aja, gua kesana sekarang

Budi pun meletakkan kembali ponselnya setelah Sakti menutup telepon. Dia berganti pakaian dan segera turun ke lobby. Tak lama kemudian Sakti sudah datang, ternyata saat menghubunginya tadi dia sudah berada di dekat hotel. Mereka pun bertemu dan saling sapa, lalu menuju ke sebuah kedai kopi yang tak jauh dari hotel tempat Budi menginap.

“Jadi kapan lu nyampe sini?” tanya Sakti membuka obrolan.

“Semalem sih, tapi ya langsung acara, makanya nggak sempat ngehubungi kamu,” jawab Budi.

“Trus, baliknya kapan?”

“Besok sore rencananya Sak. Oh iya, emang tadi darimana kamu kok bentar banget udah nyampe hotel?”

“Biasa brur malem minggu, jalan-jalan lah, haha,” jawab Sakti.

“Halah, paling nyari cabe-cabean kan?” tanya Budi.

“Wah nggak level lah gua main cabe-cabean, lu kira gua terong-terongan, haha.”

Mereka pun melanjutkan obrolan santainya. Tiba-tiba saja Budi kembali teringat dengan seorang wanita yang dia temui di Surabaya dulu. Kamila, mantan pacar sahabat mereka, yang mengaku dulu pernah diperawani oleh Sakti, dan karena berbagai macam sebab hingga jadi wanita panggilan, meskipun belum lama dia menjalani profesi sampingan ini.

Budi menimbang-nimbang sejenak. Haruskah dia menceritakan ini kepada Sakti, karena dengan menceritakan ini berarti mereka akan mengungkit kembali masa-masa kuliah mereka, dan bukan tidak mungkin rasa penasaran Budi akan muncul. Rasa penasaran apakah dulu mantan pacarnya juga sempat ditikung oleh sahabatnya ini. Tapi Budi memang sudah sangat penasaran sejak bertemu dengan Kamila waktu itu. Dia membulatkan tekat, dia harus menanyakannya kepada Sakti, hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya saja.

“Heh Cing, kok malah bengong sih lu?” ujar Sakti mengagetkan Budi.

“Hehe, eh Sak, kamu inget sama Kamila nggak?”

Mendengar nama itu disebut, Sakti terlihat agak tersentak, terkejut. Dia tak menyangka Budi menanyakan tentang Kamila. Sakti teringat kembali apa yang pernah terjadi beberapa tahun silam ketika mereka masih kuliah. Teringat kembali bagaimana Sakti telah berhasil membuat Kamila pasrah menyerahkan mahkotanya kepada playboy kampus ini.

“Kenapa emang Cing?” tanya Sakti penasaran.

“Beberapa bulan lalu aku ketemu dia di Surabaya.”

“Oh ya, terus? Gimana dia sekarang?

Budi terdiam sejenak, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dihisapnya dalam-dalam asap dari rokok itu, dan dihembuskannya perlahan. Budi menatap Sakti yang masih mencoba untuk nampak tenang meskipun dalam hati Sakti menduga-duga apa yang akan dikatakan oleh sabahatnya itu.

Budi lalu bercerita dengan gamblang apa yang dia alami beberapa bulan lalu. Mulai dari pertemuannya dengan salah seorang karyawan hotel tempatnya menginap, yang akhirnya menawarinya beberapa wanita panggilan untuk menemaninya, dan saat melihat salah satu foto yang familiar akhirnya Budi memilih wanita itu. Bukan dengan tujuan untuk menemaninya, tetapi hanya untuk memastikan bahwa wanita di dalam foto itu benar-benar adalah Kamila, wanita yang dikenalnya sebagai seorang wanita baik-baik.

Budi lalu menceritakan kedatangan wanita itu, dan ternyata benar-benar Kamila yang mereka kenal. Hampir semua apa yang terjadi malam itu dan yang dikatakan Kamila diceritakan oleh Budi kepada Sakti. Sebab kenapa kini dia menjalani pekerjaan kotor seperti itu, bahkan menceritakan pula masa lalunya ketika Sakti berhasil mengambil keperawanan Kamila. Juga cerita tentang wanita lain yang Kamila ketahui juga ditiduri oleh Sakti, yang tak lain adalah pacar dari para sahabatnya sesama penguni kost.

Mendengar Budi bercerita dengan gamblangnya membuat mulut Sakti ternganga. Dia memang seorang bajingan, seorang playboy yang sudah banyak sekali menaklukan wanita. Entah sudah berapa wanita yang dia robek selaput daranya. Dan selama itu belum ada sama sekali rasa penyesalan yang muncul dalam dirinya. Namun mendengar kisah Kamila yang seperti itu, entah kenapa tiba-tiba sebuah rasa penyesalan yang besar, sangat besar, tiba-tiba menghampirinya.

Selama ini banyak wanita yang dia tiduri memang wanita-wanita yang sudah rusak. Maksudnya mereka adalah wanita yang memang sudah pernah atau sudah biasa berhubungan intim. Sebagian kecil diantaranya adalah wanita-wanita yang baru mengenal seks, dan rela memberikan keperawanannya untuk Sakti. Namun dari sekian banyak wanita itu, setahu dia tak ada yang sampai menjual diri seperti yang terjadi pada Kamila, terlebih dia mengenal Kamila sebagai wanita yang baik, dari keluarga baik-baik.

Hatinya tertohok sebegitu kerasnya. Tak disangka kelakuan masa mudanya justru membuat seorang wanita alim harus tercebur dalam dunia penuh kenistaan seperti ini. Sakti sungguh menyesal, sangat menyesal. Sosok Kamila memang pernah terlupakan setelah dia lulus kuliah dan kembali ke Jakarta, yang kemudian meneruskan petualangan ranjangnya. Namun begitu sekarang dibahas oleh Budi, dia kembali teringat akan wanita cantik itu.

Teringat kembali memori indah di kamar Sakti waktu itu. Harus dia akui, dia bukan menaklukan Kamila hanya karena berdasar pada nafsu semata. Ada sesuatu yang berbeda, suatu perasaan yang tidak dia pahami, saat itu. Sebuah perasaan ingin membuat nyaman wanita itu, sehingga dia melakukannya dengan penuh kelembutan saat merobek keperawanan Kamila, dia tak ingin wanita itu merasa tersakiti karenanya.

Tapi kenapa justru wanita sebaik Kamila justru harus masuk ke dalam limbah nista seperti itu? Padahal materi bukanlah sesuatu yang sulit didapat oleh Kamila. Toh dirinya pun sudah memiliki pekerjaan yang baik juga. Sedikit sakit rasanya hati Sakti mengetahui hal ini. Namun yang sedikit melegakan adalah bahwa Budi mengatakan Kamila telah berjanji untuk berhenti dan secepatnya keluar dari kubangan dosa itu.

Budi yang melihat reaksi dari Sakti justru terkejut. Dia tak menduga Sakti akan bereaksi seperti itu. Apakah Sakti hanya teringat saja akan Kamila? Ataukan dia sebenarnya ada sesuatu yang lebih dengan Kamila? Budi hanya menduga-duga saja, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan sahabatnya itu. Kini malah tujuan awalnya untuk mengorek informasi apakah Sakti juga pernah meniduri mantan pacarnya terlupakan. Dia lebih tertarik dengan berbagai macam asumsinya terhadap Sakti dan Kamila.

Mereka masih terdiam dalam lamunannya masing-masing. Budi bahkan sudah menghabiskan batang rokok keduanya, dan kini mengambil yang ketiga. Sementara Sakti menerawang entah kemana. Ada rasa rindu yang hadir di dalam dirinya. Rasa yang sebelumnya sama sekali tak pernah dia rasakan. Tapi tak dapat dipungkiri kini, dia rindu, sangat rindu kepada Kamila.

“Kok diem aja Sak?”

“Guaa, mikirin Mila.”

“Kenapa?”

“Hhhh, gini Cing. Gua juga nggak tahu kenapa ya. Sebelum lu ceritain ini tadi, gua nggak pernah kepikiran sama sekali soal dia. Gua udah lupa sejak kita lulus dan gua balik ke Jakarta. Dan sekarang lu ceritain soal dia yang kayak gitu, terus terang gua ketohok banget, gua nggak nyangka Mila bisa kayak gitu Cing.”

“Tapi kan dia udah berhenti Sak, dia udah janji sama aku kok. Terus kenapa kamu ketohok?”

“Iya gua tahu dia berhenti. Gua emang belum liat langsung, tapi gua percaya lu nggak mungkin bohong sama gua soal beginian. Gua, gua kaget, nggak nyangka dia bisa jadi kayak gitu. Dan, gua,, gua nyesel Cing.”

“Nyesel? Kenapa nyesel?” tanya Budi menatap tajam ke arah Sakti, dan Sakti pun membalas tatapan sahabatnya itu. Dia tahu apa maksud Budi.

“Gua bingung dan gua belum bisa mastiin, kalau yang lu maksud itu tentang perasaan. Tapi jujur gua akui, ada yang beda dari Mila, ada sesuatu yang beda yang dulu gua rasain ke dia, yang nggak pernah gua rasain ke cewek-cewek lainnya.”

Budi mengangguk-angguk, paham apa yang disampaikan sahabatnya. Dan tiba-tiba Budi jadi teringat tujuan awalnya tadi.

“Ngomong-ngomong soal cewek lain, berarti kamu pernah dong nidurin cewekku?” tanya Budi to the point. Membuat Sakti kembali terkejut, lalu tertawa.

“Hahaha, pertanyaan lu asyik banget bro, to the point amat? Yah jujur aja lah Cing, gua emang pernah sama si Devi,” jawab Sakti berterus terang.

“Wah parah emang, cewek sahabatnya sendiri main embat aja.”

“Haha santai dulu bro. Gua juga tahu kali lu pernah sama si Melly, ngaku dah lu?”

“Haha tahu juga kamu Sak. Kita emang sama-sama bajingan ya dulu.”

Mereka pun justru menertawakan masa lalu mereka. Mungkin kalau Budi tahu dari dulu dia bakal marah sekali kepada Sakti. Tapi itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, dan kini dia punya kehidupannya sendiri, begitu pula dengan Sakti. Kehidupan mereka memang jauh berbeda kini, Budi sudah punya keluarga, Sakti sendiri sudah semakin sibuk dengan bisnis keluarganya.

Mereka masih melanjutkan obrolan tentang banyak hal. Namun satu yang menarik adalah, baru Budi mengetahui bahwa sahabatnya yang bajingan ini ternyata memiliki rasa yang terpendam kepada Kamila. Rasa yang ternyata tak pernah dipahami oleh seorang playboy seperti dirinya, yang terbiasa memainkan hati seorang, bahkan beberapa orang perempuan.

Ingin sebenarnya Sakti mengakui itu sebagai rasa sayang, namun egonya yang begitu tinggi menghalanginya, dan mencoba menganggap bahwa Kamila hanyalah satu dari sekian bunga yang mengisi pekarangan hidupnya. Namun kini, jelas terlihat dari wajah Sakti, sang playboy kelas kakap yang tak pernah mengakui cinta itu, betapa rasa penyesalan yang besar mendengar kisah dari Budi. Sebuah penyesalan yang kali ini berhasil mengalahkan egonya, untuk pertama kalinya mengakui rasa sayang yang tulus kepada seorang perempuan.

Budi tentu saja sangat surprise dengan hal ini. Dia benar-benar tak menyangka sahabatnya seperti ini terhadap Kamila. Budi tidak ingaat kapan terakhir kali mereka berbicara serius seperti ini. Dan rasanya ini adalah pertama kalinya Budi mendengar cerita Sakti tentang seorang wanita bukan dengan balutan seks, tapi lebih ke perasaan. Ada sedikit perasaan geli pada Budi sebenarnya melihat sahabatnya ini, tapi sekaligus dia bersyukur.

Waktu sudah cukup larut, hingga Budi dan Sakti beranjak menyudahi pertemuan mereka. Sakti kembali mengantarkan Budi kembali ke hotelnya, dan saat akan berpisah Sakti menitipkan salam untuk Ara. Dia juga bilang kalau nanti malam tahun baru akan benar-benar dia lewatkan di Jogja, dan untuk itu dia akan kembali menemui Budi dan Ara. Sakti pun sempat meminta nomor Kamila, dan berkata bahwa dia akan menghubunginya.

Sesampainya di hotel Budi sudah lebih lega. Paling tidak apa yang selama ini menjadi pikirannya sudah dia sampaikan ke Sakti. Memang cukup mengejutkan pengakuan dari Sakti tentang Kamila, namun dia berharap kalau Sakti benar-benar jujur tentang perasaannya itu. dia berharap lebih kepada sahabatnya agar bisa berubah menjadi lebih baik, dan dia juga berharap bahwa suatu saat nanti Sakti dan Kamila akan berjodoh.

Tapi Budi juga menyadari sesuatu. Kekhawatirannya tentang istrinya yang tadi sempat dia rasakan sedikit berkurang. Bukan hilang, hanya berkurang. Dia kembali terpikir untuk menghubungi istrinya, tapi malam sudah terlalu larut, dia berpikir istrinya pasti sudah tidur. Dia mematikan ponselnya, lalu merogoh ke dalam tas kerjanya, mengambil sebuah ponsel lagi, dan menyalakannya lalu menghubungi seseorang.

“Iya malam, ada kabar?”
“……..”

“Hah, terus gimana?”
“……..”

“Oh gitu, tapi bener udah aman?”
“……..”

“Oke kalau gitu, makasih ya.”
“……..”

Budi kembali mematikan ponsel itu dan memasukannya lagi ke dalam tas, lalu menyalakan kembali ponselnya tadi. Kini dia bisa lebih tenang terhadap istrinya, namun otaknya kini memikirkan sesuatu, sebuah rencana yang dia susun bersama dengan kedua orang yang selama ini membantunya. Terlalu beresiko sebenarnya, tapi dia yakin dengan kemampuan kedua orang itu. Kini dia sudah bersiap untuk tidur, paling tidak dia bisa lebih tenang untuk saat ini.

***

“Hallo malam mbak, apa kabar?”
“Kabar baik Re, kamu sendiri gimana

“Baik juga kok mbak. Mbak lagi sibuk nggak?”
“Nggak kok Re, lagi ngurusin lapak aja ini, hehe. Ada apa Re

“Tinggal beberapa hari lagi mbak, aku takut.”
“Hhh, yaa sama Re, mbak juga takut sebenarnya, tapi mau gimana lagi, kita nggak bisa apa-apa selain nurutin maunya mereka

“Iya mbak, tapi sampai kapan? Masak kita harus kayak gini terus?”
“Mudah-mudahan semua cepet berakhir Re. Mbak juga nggak mau kayak gini terus

“Iya mbak, moga-moga ada yang nolong kita nanti.”
“Iya Re, semoga ada yang bisa menolong kita nantinya

Renata menutup teleponnya. Baru saja dia bercengkrama singkat dengan kakaknya yang ada di Surabaya. Pikirannya sedang kalut, galau. Malam pergantian tahun tinggal beberapa hari lagi. Dia sudah mendapatkan ijin dari suaminya untuk pergi ke Jogja, dengan berbagai alasan tentunya, karena kebetulan sang suami juga ada acara sendiri. Begitupun kakaknya Filli, yang juga sudah mendapatkan ijin dari suaminya.

Mereka tak tahu apa yang akan terjadi pada malam pergantian tahun nanti, namun yang pasti itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk mereka. Tapi seperti yang dikatakan oleh Filli, apapun itu mereka hanya bisa mengikutinya, tanpa ada kesempatan untuk menolak apalagi melawan, atau semua rahasia mereka akan terungkap dan kehidupan mereka akan lebih hancur lagi daripada sekarang.

Renata menghela nafasnya. Dia sebenarnya merasa bersalah kepada kakaknya. Setiap mendengar suara kakaknya dia ingin menangis, menyesal karena meskipun dalam keadaan terpaksa dia sudah terlibat perselingkuhan dengan suami kakaknya. Renata yang sebelum peristiwa itu adalah seorang istri yang setia, yang tak pernah berhubungan dengan pria lain, harus merelakan tubuhnya menjadi pelampiasan nafsu beberapa pria.

Kilasan-kilasan peristiwa yang telah dia alami dalam beberapa bulan terakhir ini kembali hadir dalam benaknya. Bagaimana untuk pertama kali dalam hidupnya dia bersetubuh dengan pria selain suaminya. Bagaimana dia dikeroyok beberapa pria sekaligus, hingga merelakan lubang analnya diperawani. Bagaimana dia dan kakaknya diperdaya untuk melayani pria yang sama sekali belum mereka kenal sebelumnya, dan semuanya itu direkam dengan sebuah handycam. Bagaimana dia dan kakaknya datang ke Jogja untuk melayani pria-pria yang dipanggil boss oleh para bajingan itu. Hingga bagiamana dia akhirnya bisa ditaklukan oleh kakak iparnya sendiri.

Kejadian demi kejadian yang teringat olehnya tak ayal membuat air mata Renata meluncur tak tertahankan. Penyesalan demi penyesalan, terutama terhadap suaminya yang dia tahu adalah seorang lelaki yang baik, jujur dan bertanggung jawab pada keluarganya. Tak pernah suaminya ini macam-macam di belakangnya. Tapi justru Renata, yang meskipun dipaksa dan diperdaya harus rela menjadi budak nafsu oleh orang-orang yang bahkan dia hanya tahu namanya saja, tak tahu asal usul mereka seperti apa.

Dia hanya berharap mimpi buruk ini bisa cepat berakhir. Entah seperti apa, asalkan berakhir. Dia tak ingin berkhianat lebih jauh lagi terhadap suaminya. Dia tak ingin jatuh semakin dalam ke lubang kelam ini. Dan ketika semua ini berakhir nantinya, dia berjanji untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi untuk suaminya dan anaknya. Dia akan memperbaiki diri untuk menebus semua kesalahan-kesalahannya ini, meskipun itu sama sekali tak diketahui oleh suami dan anaknya.

***

Kepala Ramon sudah berada di antara kedua paha Ara. Dia memegangi paha itu, dan menggerakannya semakin melebar. Matanya nanar melihat pemandangan indah di pangkal paha Ara ini. Sebuah lubang kenikmatan yang akan segera dia nikmati. Terlihat dari celah bibir vaginanya, dindingnya yang berwarna kemerahan. Dia sampai tak ingat apakah ada perempuan lain yang dia nikmati memiliki vagina seindah ini, rasanya pasti nikmat sekali, batin Ramon.

“Beruntung banget kamu Bud, tiap hari bisa ngentotin memek seindah ini,” gumamnya.

Dia mulai menggerakkan kepalanya turun, hanya tinggal sejengkal jarak antara wajahnya dengan bibir vagina Ara. Dihirupnya bau kewanitaan Ara dalam-dalam, dinikmatinya bau itu sambil matanya terpejam. Wangi, sedikit berbeda dengan yang pernah dia ketahui dari pengalaman-pengalamannya. Kembali matanya terbuka, memandang kembali lubang kenikmatan indah itu.

Dia mulai mendekatkan lagi wajahnya, hingga kini bibirnya berada di sekitar bibir kemaluan Ara. Dikecupnya perlahan, dan disusurinya kulit lembut di sekeliling bibir kemaluan indah itu. Dia menjulurkan lidahnya, merasakan lagi kelembutan dan kehangatan dari pangkal paha wanita cantik itu.

Bibirnya kini menempel di bibir kemaluan Ara, dari bawah dia usapkan ke atas dengan sangat perlahan, lalu turun lagi ke bawah hingga hampir mencapai lubang analnya. Kemudian Ramon kembali menjulurkan lidahnya, menyusuri garis tipis di pangkal paha Ara, ke atas, lalu ke bawah lagi. Sesekali ditempelkan hidungnya tepat di bibir vagina Ara untuk kembali menikmati aroma alami yang dikeluarkan oleh lubang itu.

Lidah Ramon lalu menyeruak menjilati kemaluan Ara dengan begitu leluasa. Tak ada respon sama sekali dari Ara yang masih dalam pengaruh obat tidur. Lidah Ramon menjelajahi bibir vagina itu, mencoba menguak sedikit demi sedikit hingga agak terbuka, dan disitu lidahnya kembali bermain. Lidahnya bergerak ke atas, membuat bagian yang dilewatinya menjadi basah.

Kini lidahnya berhasil menemukan sebuah biji kecil, yang merupakan salah satu pusat rangsangan bagi wanita. Dia menggapai biji itu, lalu memainkan lidahnya seperti saat tadi dia memainkan puting payudara Ara. Ramon begitu menikmatinya, meskipun tak ada sama sekali respon dari Ara.

Puas memainkan lidahnya di kemaluan Ara, kini sudah saatnya Ramon menikmati menu utama, yang sudah lama sekali dia tunggu-tunggu. Meskipun ini tentu saja melanggar perintah dari bossnya, tapi dia tak peduli, toh tak ada yang tahu selain mereka yang ada disini sekarang. Sebelum wanita cantik ini dinikmati dan dijadikan gundik oleh sang boss, dia harus bisa merasakan dulu nikmatnya jepitan vagina Ara.

“Nah Ara sayang, sekarang waktunya memek kamu kenalan sama kontol yang lain ya, biar nggak bosen main sama kontol suamimu terus,” gumamnya lagi.

Ramon segera bangkit, memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Ara yang telah dia buka lebar-lebar. Penisnya telah mengacung tegak, nampak tak sabar sekali ingin segera memasuki sarang barunya, yang sepertinya akan lebih nikmat dibandingkan dengan sarang-sarang yang selama ini pernah dimasukinya.

Ramon memegang penisnya, lalu mengarahkan ke bibir vagina Ara. Kepala penisnya yang sudah sangat keras itu kini sudah menempel di bibir vagina Ara. Dia gesek-gesekan perlahan dengan sedikit tekanan berusaha membuka lubang vagina yang masih sempit dan agak kering itu. Sedikit dari kepala penisnya sudah menyeruak membelah bibir vagina Ara.

Ramon merem melek merasakannya. Baru kena bibirnya saja sudah begini enaknya, gimana kalau sudah dimasukin semua, ugh sungguh si Budi itu beruntung sekali, batin Ramon. Ramon membasahi telapak tangannya dengan ludah dan mengusapkan ke batang penisnya, mencoba membasahinya agar bisa membantunya untuk lebih lancar penetrasi ke lubang sempit Ara. Ramon kemudian memegangi kedua kaki Ara, membukanya semakin lebar, dan bersiap menekan pinggulnya dengan kekuatan penuh untuk memasuki tubuh Ara.

“Aaaaarrrggggghhh,” pekik Ramon.

Sial, apa ini, batinnya. Dia merasakan di tengkuknya seperti tertusuk sesuatu yang kecil, dan langsung menyebarkan rasa dingin ke otaknya. Seketika tubuhnya menjadi lemas, pandangannya semakin memudar. Brengsek, ini obat bius, suntikan obat bius, siapa yang melakukan ini, aaahhh, batin Ramon, dan seketia itu semua menjadi gelap.

***

Perlahan Ara membuka matanya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Dia mengurut-urut pelipisnya pelahan, sambil memandangi sekitar, hari sudah siang rupanya. Dia mengedarkan pandangannya, sepertinya familiar sekali ruangan ini, eh tunggu dulu, bukankan ini kamarnya? Iya benar, ternyata ini adalah kamarnya, berarti dia sudah berada di rumah sekarang. Dia melihat keadaannya, masih memakai pakaian yang semalam dia pakai, tapi ada sedikit keanehan di bibir dan pipinya. Seperti ada sesuatu yang menempel disana.

Ara bangkit dan duduk bersandar di ranjangnya. Dia menyentuh bibir dan pipinya. Terasa sesuatu yang mulai mengering menempel disana. Dari baunya, ini seperti, sperma? Ara kemudian menyentuhnya, dan benar, ini adalah sperma, tapi bagaimana bisa? Sperma siapa? Dia memeriksa alat vitalnya, tidak terasa ada keanehan disana, artinya tidak ada yang terjadi dengan vaginanya. Lalu bagaimana sperma ini bisa berada di di wajahnya? Dan siapa yang melakukan ini?

Ara segera beranjak dari ranjangnya, melepas kerudungnya lalu menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi dia segera mencuci mukanya untuk menghilangkan bekas sperma itu. Setelah itu dia menanggalkan pakaiannya satu persatu, hingga telanjang bulat. Dia merasa ada sedikit keanehan. Sepertinya ada bekas cupangan baru di dadanya, masih terlihat sedikit merah? Apakah orang yang menumpahkan sperma ke wajahnya sempat mencumbui bagian dadanya?

Wajah Ara memucat, itu artinya entah kapan ada yang telah berbuat tidak senonoh kepadanya. Untuk menghilangkan kegalauanya dia segera mandi dan membersihkan tubuhnya, kemudian setelah itu berpakaian dan beranjak menuju dapur. Dia membuat teh hangat dan membawanya ke ruang keluarga. Dia melirik jam dinding, jam 10 pagi.

Disana dia duduk termenung, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Semalam dia masih berada di penginapan pinggir pantai bersama teman-temannya, tapi kenapa sekarang dia sudah berada di rumah? Semalam dia masih bercanda dengan teman-temannya, tetapi setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. Apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga pagi ini dia sudah berada di rumahnya, dengan kondisi ada sperma di wajahnya, dan ada bekas cupangan di dadanya?

Lalu bagaimana dengan teman-temannya yang lain? Apakah teman-temannya juga sudah di rumah mereka masing-masing? Apakah ada dari teman-temannya yang mengingat sesuatu? Ataukah ada di antara mereka yang mengetahui apa yang semalam terjadi hingga saat ini dia sudah berada di rumahnya?

Ara kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi teman-temanya itu. Namun Lia maupun Nadya tak ada yang mengangkat teleponnya. Akhirnya dia mengirim pesan wasap saja menanyakan keberadaan teman-temannya itu. kembali dia termenung, memikirkan apa yang sudah terjadi padanya. Memikirkan siapa yang telah berbuat tak senonoh kepadanya hingga menumpahkan sperma di wajahnya.

Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah, lalu gerbang itu terbuka. Terlihat pembantunya masuk, lalu langsung menutup kembali pintu gerbang rumah itu, dan terdengar suara mobil yang menjauh. Saat pembantunya masuk ke dalam rumah dia pun terkejut melihat majikannya ini sedang berada di ruang keluarga, duduk disana sambil meminum tehnya.

“Loh Mbak Ara udah di rumah tho? Kapan pulangnya mbak?” tanya si pembantu.

“Lha masak mbak nggak lihat saya pulang? Emang darimana mbak?” tanya Ara.

“Ya saya nggak tahu mbak, kan saya semalam saya juga tidur cepat. Tadi pagi jam 6 Pak Sarbini kesini, jemput saya soalnya di panggil sama Nyonya Aini, disuruh bantuin bikin kue, ini tadi juga diantar sama Pak Sarbini lagi kok Mbak, tapi Pak Sarbininya langsung pulang itu tadi,” ujar si pembantu.

“Ya pas kamu pergi tadi saya pulangnya,” jawab Ara.

“Nah Mbak Ara masuknya gimana tadi? Kan gerbangnya saya kunci mbak,” tanya si pembantu.

“Saya kan punya kunci cadangan,” jawab Ara sekenanya.

“Oh ya udah kalau gitu mbak, saya ke belakang dulu,” pamit si pembantu, dan dijawab dengan anggukan saja oleh Ara. Tanpa disadari oleh Ara, seutas senyum tipis tersungging dari bibir pembantunya itu.

Ara sebenarnya tak memiliki kunci cadangan pintu gerbang rumahnya seperti yang dia katakan kepada pembantunya tadi, hanya suaminya yang punya karena beberapa kali harus pulang malam. Kalau memang gerbang terkunci, bagaimana dia bisa ‘diantarkan’ masuk ke dalam rumah, bahkan ke dalam kamarnya? Dan siapa yang mengantarkannya? Pembantunya saja tak tahu kalau dia sudah ada di rumah, berarti dia tak tahu siapa yang mengantarnya.

Di tengah kebingungan Ara terdengar ada pesan wasap masuk di ponselnya. Ada dua pesan, dari Nadya dan Lia. Namun isi pesan itu sama-sama membuat Ara terkejut dan semakin tak habis pikir, bagaimana ini bisa terjadi, dan siapa sebenarnya orang yang mengantarkan mereka. Kembali Ara membaca pesan baik dari Nadya dan Lia, yang isinya sama.

‘Ini udah di rumah kok Ra, tapi gimana aku pulangnya ya? Kamu sendiri dimana Ra

***

Lia yang baru terbangun bingung dengan kondisinya saat ini. Dia sudah berada di kamar tidurnya sendiri. Dia masih memakai pakaian yang dia ingat dipakainya semalam. Namun terasa sedikit ngilu di bagian selangkangannya, dia pun membuka celana dan celana dalamnya. Seketika dia terkesiap, ada semacam bekas lendir yang sudah agak mengering disana. Dia tahu pasti kalau itu adalah sperma. Berarti ada yang telah menyetubuhinya, tapi siapa?

Di tengah kebingungannya dia meraih ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam 10. Ada satu missed call dan satu buah pesan wasap. Ternyata dari Ara, yang menanyakan keberadaannya. Kenapa Ara tidak tahu keberadaannya? Apa Ara tidak tahu kalau dia sudah pulang? Tapi bagaimana dia bisa pulang, Lia sama sekali tak mengetahuinya.

Hal terakhir yang dia ingat adalah semalam mereka masih berada di penginapan pinggir pantai, dan sedang berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. Mereka sempat bercanda-canda hingga Lia tak bisa mengingat apapun setelah itu. Akhirnya dia membalas pesan Ara sekaligus menanyakan keberadaan Ara, dan bagaimana dirinya bisa pulang, siapa tahu Ara punya jawabannya.

‘Ini udah di rumah kok Ra, tapi gimana aku pulangnya ya? Kamu sendiri dimana Ra?’

Setelah menunggu sebentar tak ada balasan dari Ara, dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat dia menelanjangi dirinya, kembali terlihat bekas sperma di bibir vaginanya. Benar, ada yang telah menyetubuhinya, tapi siapa? Lia sama sekali tak bisa mengingatnya. Dia bahkan tak tahu apa yang telah terjadi padanya.

Dia pun segera menepis pikiran-pikiran buruknya dan segera mandi. Lia mengorek ke dalam vaginanya, siapa tahu ada bekas sperma di dalam vaginanya, dia harus membersihkannya. Selepas mandi Lia bergegas berganti pakaian dan mengambil ponselnya kemudian menuju ke dapur, perutnya sudah cukup lapar. Dia hanya memasak mie instant saja karena masih malas untuk memasak yang lain.

Setelah mie instantnya siap dia membawanya ke meja makan. Sambil menyantap makanannya itu dia kembali melihat-lihat ponselnya. Dan saat itu masuk balasan wasap dari Ara, yang membuat Lia semakin terkesiap, semakin bingung dengan kondisi yang dia, dan Ara alami. Dan apakah kondisi ini juga menimpa Nadya?

‘Aku juga udah di rumah ini Li. Aku juga nggak tahu, aku sendiri bingung gimana caranya sekarang aku ada di rumah

***

‘Ini udah di rumah kok Ra, tapi gimana aku pulangnya ya? Kamu sendiri dimana Ra?’

Nadya kembali meletakkan ponselnya. Kepalanya masih terasa pusing. Dia kebingungan, seperti orang linglung. Dia masih dalam keadaan telanjang bulat, dan ada bekas sperma mengering di pangkal pahanya. Namun sekarang dia berada di rumahnya, di kamar tidur yang sehari-hari dia tempati bersama suaminya, Hendri. Dan kini Hendri pun sedang berada di sampingnya, juga dalam kondisi tanpa pakaian sehelaipun, belum terbangun.

Pakaian yang mereka pakai semalam berserakan di lantai kamarnya. Sedangkan di dekat situ ada travel bag yang kemarin mereka bawa ke pantai. Semua lengkap ada di kamarnya. Namun pertanyaannya adalah, apa yang sudah terjadi? Kenapa kini dia berada di kamar tidurnya sendiri bersama suaminya? Bukankan semalam dia sedang bercinta dengan Beti dan Pak Yusri? Dan bukankah suaminya sedang bercinta dengan Lia? Lalu kenapa sekarang mereka ada di rumah, dalam keadaan seperti ini?

“Pah, papah bangun pah,” Nadya mencoba membangunkan suaminya.

“Eeeehhhmmm,” Hendri terlihat menggeliat, lalu perlahan membuka matanya.

Tiba-tiba saja tubuh Hendri tersentak dan dia mendadak terbangun dan terduduk. Dia mengamati sekitar. Ini kamarnya sendiri, dan dia sedang bertelanjang bulat dengan istrinya. Dia menatap istrinya dengan pandangan heran. Wajah istrinya pun tak jauh beda, menandakan bahwa Nadya juga sedang kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Mah, kok kita ada di rumah ya?” tanya Hendri mengusap-usap kepalanya sendiri.

“Mamah juga nggak tahu pah, semalam kan kita massih ada di pantai, kok sekarang udah di rumah ya?” jawab Nadya tak kalah bingungnya.

“Iya mah, semalem kan kita masih ada di penginapan. Mamah sama siapa semalam? Ingat nggak?” tanya Hendri.

“Mamah main bertiga pah sama Mbak Beti dan Pak Yusri, kalau papah?” Nadya bertanya balik.

“Papah juga lagi main sama Lia mah. Tapi kok kita bisa tiba-tiba di rumah?” kembali Hendri mengulang pertanyaan yang sama, yang mereka sama-sama tak tahu jawabannya.

“Nggak tahu pah, ini aja Ara barusan ngewasap mamah, dia nanya mamah dimana. Dia juga sama bingungnya kayaknya pah.”

Mereka berdua terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Pikiran tentang apa yang terjadi sebenarnya dan bagaimana mereka bisa sampai di rumah, membuat mereka melupakan bahwa mereka baru saja saling mengakui dengan polosnya apa yang mereka lakukan semalam. Hal yang tanpa disadari oleh Hendri maupun Nadya, menjadi titik balik kehidupan rumah tangga mereka kedepannya.

***

“Ouugh shit, pusing banget kepalaku.”

Ramon memijat-mijat keningnya. Rasanya pusing sekali, terasa berkunang-kunang. Dia mendiamkan dirinya sejenak, hingga sakit di kepalanya berangsur-angsur menghilang. Ramon perlahan membuka matanya, ternyata matahari sudah agak terik. Dia mencoba bangkit, menyandarkan tubuhnya di ranjang.

Ramon mengedarkan pandangannya sambil mengerjapkan mata beradaptasi dengan sinar mentari yang masuk dari jendela kamar yang terbuka lebar. Dia masih berada di kamar yang semalam dia pakai untuk menggarap Ara, hampir menggarap Ara maksudnya. Dia sendiri masih dalam keadaan telanjang bulat, namun Ara sudah tidak berada di kamar ini, dia hanya sendiri.

Di lantai hanya ada pakaiannya, tak ada lagi pakaian Ara yang dia lucuti tadi malam. Kemana perginya Ara? Ini seharusnya adalah kamar Ara dan Lia, tapi kenapa bahkan tas-tas mereka pun tak ada, bersih semuanya. Lalu dia edarkan pandanannya lagi, dan betapa terkejutnya Ramon ketika melihat ke arah cermin. Sebuah tulisan yang sepertinya ditulis menggunakan lipstik. ‘Don’t Mess With The Princess’. Apa maksudnya tulisan itu?

Ramon segera bangkit dan memakai kembali pakaiannya. Dengan sedikit sempoyongan dia menuju ke kamar yang semalam digunakan oleh Hendri untuk menggarap Lia, dan keduanya pun tak ada disana, bahkan tas bawaan Hendri dan Nadya juga tak ada. Ramon kemudian berjalan menuju kamar yang dipakai oleh istri dan pamannya bersama Nadya.

Ternyata hanya ada istri dan pamannya di kamar itu, tak nampak lagi Nadya. Istri dan pamannya masih tergolek tak sadarkan diri tanpa pakaian. Posisi pamannya tertelungkup dengan arah kepala membelakanginya, sedangkan istrinya terlentang di samping sang paman. Dan yang membuat Ramon terkejut kembali adalah, di cermin di kamar itu, terdapat tulisan yang sama dengan yang dilihatnya tadi.

“Ma, bangun ma,” Ramon menggoyang-goyangkan badan Beti, tak lama kemudian wanita itu terbangun.

“Eeerrhhmm, kenapa pa?” tanya Beti, belum menyadari yang terjadi.

“Nadya kemana ma?” tanya Ramon membuat Beti celingukan.

“Loh, kemana ya? Semalam kan disini main bertiga,” jawab Beti.

“Barang-barang mereka juga udah nggak ada ma,” ujar Ramon.

“Hah, masak sih pa?” tanya Beti, lalu bangkin dan memakai pakaiannya, kemudian beranjak untuk memastikan perkataan suaminya. Dan ternyata benar, mereka sudah hilang bersama dengan barang-barangnya.

Beti menjadi sama bingungnya dengan Ramon. Kini mereka berdua duduk di kursi ruang keluarga yang semalam mereka duduki sesaat sebelum Ara, Lia dan Nadya pingsan. Keduanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Apa mungkin mereka pulang sendiri sementara mobil Ramon masih berada disini?

“Mama liat nggak semalam ada orang masuk kesini?” tanya Ramon.

“Mama nggak tahu pa, tapi pas Nadya sama Om Yusri lagi main, kayak ada sesuatu yang nusuk di tengkuk mama deh, abis itu mama nggak inget apa-apa lagi pa,” jawab Beti.

“Sama, papa juga gitu ma,” jawab Ramon.

Mereka kembali termenung lagi. Ramon yakin, semalam ada yang masuk ke rumah ini tanpa dia sadari sama sekali, dan membius mereka. Entah bagaimana caranya, tapi kemungkinan dengan menembakkan peluru bius ke mereka. Jika benar seperti itu, pasti orang itu bukan orang sembarangan, karena dapat melakukan itu tanpa seorang pun bisa menyadarinya.

“Mama baca tulisan di cermin tadi nggak?” tanya Ramon.

“Tulisan apa pa?” Beti bertanya balik, karena memang dia tak sempat memperhatikannya.

“Don’t mess with the princess,” jawab Ramon.

“Don’t mess with the princess? Jangan main-main dengan sang putri, apa maksudnya pa?”

“Papa juga nggak ngerti ma. Tapi sepertinya, semalam ada orang yang masuk dan menyerang kita, dia yang menolong mereka. Mungkin lebih tepatnya menolong Ara,” jawab Ramon.

“Menolong Ara? Maksud papa, ada yang tahu kita bakal ngerjain Ara?” tanya Beti.

“Papa belum bisa mastiin, tapi kemungkinannya gitu ma. Papa sama sekali nggak menyadari kalau ada orang, tahu-tahu papa udah nggak inget apa-apa lagi, tapi kalau memang bener ada yang nolongin Ara, pastinya dia bukan orang sembarangan,” jawab Ramon.

“Bukan orang sembarangan gimana pa?” tanya Beti lagi.

“Ya, orang yang bisa menyelinap ke rumah ini tanpa seorang pun menyadarinya, dan membuat kita nggak sadarkan diri kayak gitu, pastinya itu bukan orang biasa-biasa aja kan?”

“Iya juga sih pa. Kalau emang bener begitu, kira-kira siapa orang itu pa?”

“Itu dia ma, papa juga belum tahu. Bisa-bisanya dia tahu kita ada disini, berarti orang itu udah ngikutin kita. Masalahnya, seingat papa kemarin selama perjalanan jalanan tu sepi banget, nggak ada yang ngikutin kita.”

“Kalau gitu papa harus cepet lapor sama boss pa. Kalau orang itu bisa sampai kayak gini nolongin si Ara, jangan-jangan dia tahu rencana kita yang lain,” ujar Beti.

Ramon tersadar, benar sekali perkataan istrinya. Kalau orang itu sampai bisa menolong Ara seperti ini, jelas dia punya akses informasi yang lebih. Atau mungkin ini adalah orang suruhan Wijaya? Atau mungkin saja Budi yang menyuruh orang untuk menjaga istrinya? Pesan yang ditulis di cermin itu sudah jelas, bahwa kini Ara sedang dalam lindungan seseorang yang hebat, seseorang yang diluar perhitungan mereka. Dia harus segera melaporkan ini kepada Fuadi.

“Ya udah, papa hubungi boss dulu, mama bangun Om Yusri dulu deh.”
Ramon segera mencari ponselnya. Sebelum menghubungi Fuadi dia membuka-buka dulu folder galerinya, dan betapa terkejutnya dia semua foto-foto Ara yang dia ambil semalam lenyap. Bahkan di chat history antara dia dan Fuadi juga sudah tak ada lagi. Sial, padahal ponsel itu sudah dikunci oleh Ramon, bisa-bisanya orang ini mengacak-acak sampai hampir semua data di ponselnya hilang.

“Huaaaaaa, papaaaaaaaaa.”

Ramon tersentak, istrinya tiba-tiba saja berteriak histeris. Bergegas Ramon menuju ke tempat istrinya. Dan Ramon semakin terkejut ketika melihat pemandangan di depannya. Tubuh Pak Yusri yang baru saja digulingkan oleh Beti kini terbaring terlentang. Matanya membelalak mengeluarkan darah, dari telinga, mulut dan hidungnya pun keluar darah, yang terlihat sudah mengering.

Ramon segera menghampiri dan memeluk istrinya. Beti tak bisa lagi menahan tangis histerisnya, yang kini semakin menjadi-jadi. Dia sempat terkejut ketika membangunkan pamannya, tubuhnya terasa dingin sekali. Dan ketika dibalikkan tubuh itu, dia mendapati pemandangan yang sangat mengerikan. Pamannya telah tewas, mengenaskan.

***

“Apa katamu? Kenapa bisa begitu?”
“Saya juga nggak tahu boss, kayaknya semalem ada yang masuk kesini. Kami sama sekali nggak ada yang menyadari. Kami semua dibius boss, sampai tadi kebangun tinggal saya, istri saya dan Pak Yusri. Yang lainnya udah nggak ada lagi boss, termasuk barang bawaan mereka semua. Bahkan, Pak Yusri udah nggak bernyawa boss

“Nggak bernyawa? Kok bisa?”
“Saya sendiri juga kaget boss, dari mata, telinga, hidung dan mulutnya keluar darah boss

“Apa? Sampai seperti itu? Lalu, ada petunjuk apa lagi?”
“Iya boss. Ada pesan dari orang itu, saya liat di cermin di kamar saya dan kamar Ara, ditulis pakai lipstik merah, isi pesannya, ‘don’t mess with the princess’, gitu boss

“Don’t mess with the princess? Apa maksudnya itu?”
“Sepertinya Ara sekarang dalam perlindungan seseorang boss. Dan saya yakin itu bukan orang sembarangan. Jangan-jangan dia malah sudah tahu rencana kita boss

“Bangsat, siapa yang sudah bermain-main denganku. Rasanya Wijaya saja belum menyadari hal ini.”
“Boss yakin Wijaya belum tahu

“Ya, disana ada informan yang bisa aku percaya. Sudah pasti ini bukan perbuatan Wijaya.”
“Atau mungkin, si Budi ya boss

“Entahlah, bisa jadi. Sekarang kamu lebih hati-hati, aku akan bahas ini dengan Baktiawan. Kamu urus dulu jasad si Yusri, jangan sampai ada yang curiga. Sementara jangan buat gerakan yang mencurigakan dulu, jangan gegabah, tunggu instruksi dari kami, dan bila ada apa-apa segera laporkan.!”
“Baik kalau begitu boss

“Oh iya, kalau memang ada yang melindungi Ara, kamu siapkan lebih banyak lagi anak buah untuk berjaga di tempat kita akan pesta besok. Sebagai imbalannya kasih mereka wanita-wanita kita dan kasih mereka obat-obatan itu gratis, biar aku yang bilang ke Bakti nanti!”
“Oke boss

***

“Hallo, ada apa Ad
“Hallo Bakti, kita ada masalah.”
“Masalah apa

Fuadi pun menceritakan apa yang sudah dilaporkan oleh Ramon. Bagaimana rencana mereka untuk menjebak Ara, justru berakhir mengenaskan dengan tewasnya Pak Yusri. Dia juga menceritakan tentang pesan yang ditulis oleh orang misterius itu di cermin kamar Ara, seperti sebuah peringatan untuk tidak berbuat macam-macam kepada Ara.

“Jadi rencana semalam gagal
“Ya, bisa dibilang seperti itu. bahkan foto-foto Ara yang semalam dikirim oleh Ramon di ponselku raib semua.”

“Kok bisa
“Entahlah, sepertinya seseorang memasukan virus ke ponselku, coba aku lacak tapi belum ketemu sampai sekarang.”

“Siapa yang kira-kira melakukan ini
“Orang yang memiliki kemampuan menyusup seperti ini, mungkin orang yang mempunyai kemampuan seperti Marto. Jadi sekali lagi kutanya, apa kamu sudah yakin Marto benar-benar sudah mati?”

“Hey sudahlah, itu tak mungkin Marto. Oke, kalaupun Marto belum mati, aku yakin dia masih sangat menderita sekarang, dan tak mungkin dia yang semalam menyelamatkan anaknya Wijaya. Itu pasti orang lain yang memiliki kemampuan setara dengan Marto
“Maksudmu, anggota Vanquish yang lain?”

“Bisa jadi kanApa ada anggota lain yang memiliki kemampuan menyusup seperti Marto
“Entahlah, sepertinya untuk kemampuan menyusup, Marto lah yang terbaik, tapi akan aku coba selidiki. Aku akan mencari bantuan lain. Kalau benar ada anggota Vanquish lain yang membantu Wijaya, ini gawat untuk rencana kita, kita perlu lebih banyak bantuan lagi.”

“Baiklah, kau atur saja untuk masalah itu, yang penting rencana inti kita jangan sampai gagal. Batalkan saja rencana-rencana lain yang riskan untuk kita
“Baiklah, akan aku urus semuanya.”

Fuadi menutup teleponnya, saat kemudian pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Setelah dipersilahkan masuk, ternyata itu adalah anak buahnya dari bagian cyber crime yang dia suruh melacak siapa yang telah menyabotase ponselnya hingga hampir seluruh datanya raib.

“Gimana hasilnya?”

“Lapor, kami sudah coba melacak siapa yang sudah meretas ponsel komandan, dan ternyata kita sedang berurusan dengan hacker yang selama ini kita cari-cari ndan. Hacker dengan kode nama E-coli

“Apa? E-coli

“Benar ndan, dan kami belum bisa melacak keberadaannya. Bahkan dia mengancam akan melumpuhkan sistem kita jika masih mencoba untuk melacaknya. Terakhir dia menuliskan pesan, don’t mess with the princess, saya kurang paham dengan maksud pesan itu ndan.”

“Baiklah, sudah cukup kalau begitu, tak usah dilacak lagi, bisa bahaya untuk kita. Terima kasih bantuannya, sekarang kembali ke posisimu!”

“Siap ndan!”

Fuadi termenung, kenapa seorang hacker kenamaan seperti E-coli sampai meretas ponselnya. Apakah semua ini ada hubungannya dengan Wijaya? Apakah E-coli punya hubungan dengan Wijaya? Pihak kepolisian memang sudah lama mencari E-coli, meskipun selama ini hacker itu tak pernah berbuat onar, bahkan membantu pemerintah mengatasi hacker-hacker nakal baik dari dalam maupun luar negeri.

Ini semakin rumit saja. Dengan bantuan seorang misterius yang memiliki kemampuan setara dengan Marto, dan seorang hacker dengan reputasi dunia seperti E-coli, akan semakin sulit untuk mewujudkan rencana jahat mereka kepada Wijaya dan keluarganya. Fuadi dan Bakti harus segera memutar otak untuk bisa mengatasi ini semua. Ini tak bisa lagi dianggap enteng, dan sepertinya, bala bantuan yang lebih besar benar-benar mereka butuhkan sekarang.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part